The Truth Untold (1)

>> Sunday, July 15, 2018

Chapter 1



SEKALI LAGI, ia menoleh ke arah pintu ganda kayu yang tertutup rapat di sebelah kanannya. Berharap, kali ini salah satunya akan membuka dan seseorang muncul untuk mengatakan kalau ia tak perlu menunggu lagi dan diperkenankan kembali ke ruang depan bersama ayah, ibu juga adiknya. Atau setidaknya, memintanya melakukan sesuatu—apa pun itu, selain menunggu tanpa kepastian.
Ia benar-benar benci menunggu; membuatnya tersiksa.
Tapi pintu ganda itu tetap tertutup. Sama seperti sejam lalu, saat ia pertama kali melangkahkan kaki ke dalam ruang tengah yang luas ini, diantar oleh seorang perempuan cantik bernama Malini, yang segera membawanya pergi begitu ia dan keluarganya tiba di teras depan rumah besar dimana ia berada sekarang.
Sayangnya, Malini atau siapa pun, tak memberitahu sama sekali alasan ia dibawa ke ruangan ini. Ia bahkan tak memperkenalkannya pada pemuda yang duduk di kursi berlengan yang sama di seberangnya yang sudah lebih dulu berada di ruang tengah sebelum ia datang. Namun tak seperti dirinya, pemuda itu tampaknya tak masalah tidak diperkenalkan padanya. Pemuda itu juga tak repot-repot memulai pembicaraan dengannya. Dari perawakannya—selain wajah tampan dan penampilan elegannya mulai dari ujung kepala sampai kaki, kentara sekali kalau ia bukan tipe orang yang gemar basa-basi.
Sebenarnya ia tak masalah dengan ruang hampa yang memisahkan mereka, namun ia tak nyaman dengan tatapan pemuda itu. Beberapa kali ia mencoba memandang ke arahnya, dan beberapa kali juga matanya bertumbukkan dengan kedua mata coklat si pemuda yang sedang mengawasinya.
Apa dia adalah salah satu dari keluarga Kuroi-sama? Ia berpikir. Salah satu anaknya mungkin? Ia mengenakan setelan hitam, dan mengenakan korsase lili hitam yang tersemat di dada sebelah kiri. Sudah pasti ia adalah salah satu anggota keluarga. Selain itu ia juga adalah satu-satunya orang yang ada di sini; menunggu bersama dirinya, sementara tamu yang lain seperti halnya ayah, ibu dan adiknya, menunggu di ruang depan. Apa mungkin dia…
Lea.”
Matanya yang coklat besar membeliak mendengar namanya disebut. Wajahnya spontan terangkat merespon suara berat yang berasal dari hadapannya.
“Ophelia. Nama yang bagus tapi… ada cerita tak bagus dibaliknya. Apa karena itu kamu pilih dipanggil Lea?”
Ia—Lea yang masih syok mengetahui pemuda itu mengetahui siapa dirinya sejak tadi, hanya mengerjap. Ia tak tahu harus menjawab apa. Kepalanya terlalu penuh, hingga tak lagi mampu menemukan kata apa pun yang bisa ia pergunakan untuk bicara.
Dengus sinis terdengar. Disusul oleh kalimat meremehkan setelahnya. “Kamu dan keluarga kamu pasti langsung kemari setelah mendengar ayahku sekarat.”—(Ia benar-benar anak dari Kuroi sama kalau begitu)—"Kalian jelas sudah tak sabar menerima kabar baik sepeninggal ayahku nanti kan?.”
Apa maksudnya? Lea membatin. Dahinya mulai mengerut samar. Tapi pemuda tersebut tak menyadari; terus bicara dengan sikap angkuhnya. “Kamu, tentu saja sudah mempersiapkan diri untuk menjadi menantu kecil di keluarga kami. Aku tahu, bagaimana sempurnanya ayah dan ibu kamu mempersiapkan kamu untuk itu.”
Itu benar. Pemuda itu tidak salah. Ia memang dipersiapkan jadi menantu di keluarga Kuroi. Namun itu bukan suatu kesediaan, melainkan keharusan. Atau tepatnya, kewajiban untuk merealisasikan kesepakatan yang terjalin selama puluhan tahun di antara keluarga Kuroi dan keluarga ayahnya untuk tetap menjalin silahturahmi dengan menikahkan keturunan laki-laki Kuroi dengan anak perempuan keluarga ayahnya, sekaligus membayar budi baik leluhur keluarga Kuroi yang membebaskan mendiang kaket cicit ayah Lea dari perbudakan di jaman penjajahan.
Sayangnya hutang budi itu tidak pernah bisa dilunasi selama puluhan tahun, karena entah bagaimana, tak ada satu pun anak maupun cucu dari kakek cicitnya melahirkan anak perempuan. Jadi saat akhirnya Lea lahir, hutang leluhur itu akhirnya bisa terbayar. Dan keluarganya dengan amat telaten mendidiknya untuk menjadi perempuan yang sempurna untuk menjadi menantu di keluarga Kuroi.
“Kamu… siapa?” Akhirnya Lea memberanikan diri bicara meski ragu. Menurutnya sangat patut menanyakan jati diri orang yang menghinanya juga keluarganya dengan kalimat sarkastik seperti itu.
“Shinji.”

Jantung Lea serasa mencelat ke kerongkongan. Matanya tak sadar membulat. Shinji Kuroi, adalah nama yang amat akrab di telinganya sejak ia beranjak umur 14 tahun. Saat kali pertama orang tuanya mengatakan kalau ia sudah dijodohkan sejak lahir dengan putra paling kecil keluarga Kuroi; Shinji Abhrams Kuroi, sekaligus menyampaikan alasan kenapa ia harus bersedia melakukannya.
Sejak itu, Lea selalu berusaha mencari tahu siapa Shinji. Namun hasilnya nihil. Sama sepertinya, Shinji tampaknya juga tidak diperkenankan menggunakan sosial media sama sekali.
“Kamu sudah tahu siapa aku kan?”
Lea mengempaskan napas tajam sebelum mengangguk.
Shinji mendorong punggungnya ke belakang, dagunya terangkat memandang Lea. “Apa kamu benar-benar mau nikah sekarang?”
I don’t have a choice. “Aku cuma nurutin kemauan orang tua,” jawab Lea lirih.
“Kamu 17 tahun, Lea. Dan aku... Aku 19 tahun sekarang. Aku punya cita-cita yang ingin aku wujudkan. Dengan nikah sudah pasti menghambat semuanya. Don’t you have any goal in life?”
Lea menundukkan kepala. Ya, Shinji. Aku juga punya cita-cita, gumamnya dalam hati. Tapi dia bisa apa? Menolak dan melihat keluarganya tercoreng malu? Dia tidak akan sanggup.
“Bagaimana kalau… kita nggak bisa saling cinta?”
Lea mengangkat wajahnya lagi dan kali ini menatap Shinji lekat-lekat.
“Kita berdua akan menyia-nyiakan waktu,” sambung Shinji, menyilangkan tangan dan memiringkan kepala. “Kita yang seharusnya mendapatkan cinta yang benar-benar sejati, tapi karena perjodohan tolol ini… membuat kita akan jadi sepasang suami-istri yang… boring.” Shinji mendengus lagi dan melengos.
“Kenapa kamu nggak tolak saja kalau begitu?”
Shinji mengerutkan dahi pada Lea. “Maksud kamu?”
“Kalau memang kamu keberatan nikah, kenapa nggak kamu tolak saja perjodohan ini?”
“Aku nggak akan mungkin bisa melakukan itu. Aku… harus menjaga nama baik keluarga.”
Lea menghela napas. Betapa angkuhnya laki-laki ini? “Jadi kamu mengatakan ini semua padaku agar aku membatalkan perjodohan ini duluan?”
Bahu Shinji terangkat sejenak. “Apa ruginya untuk kamu?”
“Nama baik keluargaku juga dipertaruhkan.”
“Kamu perempuan.”
“Jadi?”
“Akan lebih mudah untuk kamu mendapatkan pengganti.”
“Apa kamu pikir isi kepalaku cuma dipenuhi itu?”
Shinji diam, kendati mulutnya membuka sedikit. Ia sepertinya tak menduga respon Lea, juga mimik wajahnya yang kelihatan gusar.
“Jadi…, kamu memilih untuk mengorbankan semuanya—hidup kamu, karena ini?”
Lea memilih untuk tak menjawab.
“Atau, ada tujuan lain?” Cecar Shinji, dengan sebelah mata disipitkan.
“Tujuan lain apa?”
Shinji mengedikkan bahu. “You tell me.”
Belum mereka menikah, ia sudah sangat direndahkan dan merasa rendah karenanya. ‘Hanya ingin harta’; pasti itu anggapan Shinji tentangnya dan keluarganya. Ia sudah seringkali diingatkan soal itu oleh orang tuanya, mengingat status keluarga mereka yang tak seelit keluarga Kuroi yang kaya raya dan amat dihormati, dan pastinya akan mengundang spekulasi negatif kalau ia benar-benar menikah dengan salah satu pewaris keluarga tersebut.
Bagaimana pun, ia hanya keturunan salah seorang pembantu yang pernah mengabdi di keluarga tersebut. Yang karena hutang budi, berjanji akan memberikan salah satu anak perempuannya untuk kembali mengabdi di keluarga Kuroi sebagai seorang istri; atau gundik mungkin?
Saat Lea memenuhi pikirannya dengan segala macam hal terburuk yang mungkin saja terjadi bila ia menikah dengan Shinji, pintu ganda sebelah kanan darimana ia masuk tadi terdorong membuka. Seorang pemuda, menggunakan sawtooth jacket hijau botol dan jins belel lengkap dengan sepatu ketsnya yang tercoreng tanah, menyerbu masuk diikuti Malini yang tersengal di belakangnya.
Ia langsung menghampiri Shinji, dan mendorong kasar Shinji yang baru setengah bangkit dari duduknya begitu melihat pemuda tersebut masuk. Membuatnya terempas kembali ke kursinya, sementara kerah kemejanya tercengkeram keras di tangan si pemuda jangkung tersebut.
“Kenapa kamu nggak bilang papa sakit, Brengsek?!”
Lea membeku di kursinya; syok. Sementara Malini memohon di belakang si pemuda untuk melepaskan Shinji. Samar-samar Lea mendengar Malini memanggil pemuda itu dengan ‘Juna’, sambil berusaha menarik tangannya yang mencengkeram kerah kemeja Shinji.
“Apa kamu tanya?” Shinji membalas dengan santai. Mengempaskan tangan si pemuda dari kerah kemejanya, dan berdiri berhadapan dengan si pemuda dekat sekali. “Apa kamu peduli? Menurut kamu, apa papa masih ingin lihat muka kamu setelah perbuatan nggak tahu diri kamu? Bastard is still bastard.”—Anak haram tetap saja anak haram.
Meskipun cuma melihat punggungnya dari belakang, Lea dapat merasakan kemarahan menguasai pemuda tersebut. Setelah itu, semuanya seperti adegan slow motion yang mengawang di matanya ditemani suara menggaung tak jelas yang memusingkan.
Ia melihat Malini berusaha menghalangi si pemuda dengan memegangi tangannya yang terangkat siap dihantamkan. Namun sia-sia saja karena ia kalah kuat, dan akhirnya membuatnya terdorong ke sisi. Dan entah apa pikiran Lea, mendadak saja ia bangkit dari kursinya, bergegas menghampiri, dan sama seperti Malini, memegangi tangan pemuda itu. Dan ketika tak berhasil—pemuda itu memang kuat sekali, ia berusaha menghalangi dengan berdiri di tengah-tengah; di antara Shinji yang telah terduduk di kursinya, dan pemuda tersebut.
Please stop.” Itu kata pertama yang ia lontarkan dengan napas tersengal, sekaligus mengiringinya bertemu pandang dengan pemuda jangkung tersebut. Bertemu kedua bola mata hitamnya yang terlihat amat kelam seolah akan menenggelamkannya. Kedua tangannya di dada pemuda tersebut.
Si pemuda menurunkan pandangannya sejenak ke tangan Lea yang menahan dadanya. Setelah itu memandang Lea kembali, dan, “Minggir.”
Suaranya terdengar begitu dalam dan mengintimidasi.

Lea menggeleng pelan. “PleasePlease.
Keduanya saling bertatapan. Dan Lea merasa badannya menghangat; seolah meleleh di bawah tatapan tajam pemuda di depannya. Ia memang tak setampan Shinji, namun ada sesuatu di wajahnya yang membuatnya begitu menawan. Tapi Lea tak mau larut; berupaya keras menahan diri. Tetap mempertahankan kontak mata dengannya, berharap itu akan meredakan emosinya.
Ada apa ini?”
Gelegar suara berat seorang laki-laki, dan membuat Lea tersadar dan segera menarik tangannya dari si pemuda.
Ia, juga pemuda itu menoleh ke samping kanan, dan melihat seorang pria dewasa berjalan mendekat dengan gusar. Sama dengan Shinji, ia mengenakan setelan hitam dengan korsase Lili hitam tersemat di saku kemejanya. Wajahnya berkeringat dan merah. Matanya terlihat Lelah.
“Kak.” Pemuda di depan Lea menyapa dan segera membungkukkan badannya pada Eiji Kuroi, putra tertua dari keluarga Kuroi.
“Juna. What’s wrong with you?” kata Eiji, dengan nada marah yang tertahan. “Saat berduka seperti ini; apa yang kamu pikir?”
“Maaf.”
“Kenapa kamu nggak ganti baju dulu? Nggak sopan.”
Juna menunduk, wajahnya yang tadinya sangar kini kelihatan menyesal.
“Malini. Tolong kasih dia baju yang proper,” Eiji menginstruksikannya pada Malini yang sedari tadi berdiri tersembunyi di belakang mereka.
Malini mengangguk, dan segera menggamit lengan Juna, mengajaknya pergi. Juna mengikutinya tanpa protes. Keduanya dengan cepat menghilang dari balik pintu masuk. Meninggalkan Lea, bertiga saja dengan Shinji dan Eiji.
“Lea.” Eiji tersenyum padanya. “Maaf kamu harus lihat itu. Nggak seharusnya. Maaf.”
“Nggak apa-apa, Kak. Kakak nggak perlu minta maaf.”
Lea telah terbiasa memanggil Eiji dengan sebutan ‘Kakak’. Eiji, sudah sering berkunjung ke rumahnya, dan bisa dibilang ia cukup akrab dengannya. Jadi Lea bersyukur, ia adalah orang yang pertama kali dilihatnya dari pintu ganda yang menutup sejak 2 jam lalu. Sungguh sesak rasanya berada di tempat dimana tak seorang pun ia kenali.
Thank you,” senyum Eiji.
Lea balas tersenyum kendati muram, dan kembali ke kursinya. Shinji, yang masih terduduk di seberangnya, membetulkan kerah kemeja dan juga jasnya yang agak kusut. Meskipun begitu wajahnya biasa saja, seakan tak ada apa pun yang terjadi sebelumnya.
“Apa yang kamu bilang ke Juna barusan?” Eiji menanyainya.
“‘Bastard’,” jawab Shinji santai.
“Kamu harus berhenti menyebutnya begitu.”
Shinji tidak merespon. Membuang muka.
Eiji mengempaskan napas, dan mukanya kelihatan kecewa dengan prilaku adiknya. Ia diam beberapa saat untuk menenangkan diri, sebelum akhirnya pamit kembali ke dalam kamar. “Tolong tunggu sebentar, Lea,” ia menambahkan sebelum pergi.
Lea mengiyakan, dan setelah itu sunyi. Suasana kembali seperti semula; ke waktu sebelum Juna muncul dengan gusar di pintu masuk, dan ia hanya berdua saja dengan Shinji.
You don’t have to save my ass, you know.”
Lea mendengus, menyipitkan mata pada Shinji yang bersandar nyaman di kursinya. “Aku nggak ada maksud menyelamatkan siapa-siapa. Cuma nggak ingin suasana berduka seperti sekarang dicemari dengan insiden nggak jelas seperti tadi.”
Shinji terkekeh kecil. “Orang tua kamu benar-benar menyiapkan kamu jadi istri yang baik.”
Dahi Lea mengerut.
“Aku akan coba, kalau gitu.”
“Coba apa?”
“Nikah sama kamu.”
Lea memilih untuk tak bereaksi mendengarnya.

(Bersambung)

pic from here
Bloomed in a garden of loneliness
A flower that resembles you
I wanted to give it to you
After I take off this foolish mask
-The Truth Untold, BTS-

Read more...

Untitled: Chapter 4

>> Sunday, January 21, 2018

Baca: Untitled Chapter 3


4

“LEA. ISTIRAHAT, oke?” Junan membujuk, masih mengusap pundak Lea.
“Aku ke sini karena patah hati,” Lea mengabaikan. “Rio ternyata cinta sama Tina. Sa-ha-bat-ku.” Ia terkekeh hambar. “Dan jahatnya, dia bilang sama aku dua hari sebelum keluarganya ketemu keluargaku untuk ngomongin pertunangan. Aku—Aku hancur...”
Junan mengembuskan napas tajam. Ekspresinya prihatin.
“Aku... cinta banget sama dia.” Air mata Lea terus meluncur tanpa henti dari kedua mata. “Banyak rencana yang kami buat. Aku mau nikah sama dia; mau punya anak sama dia. Tapi ternyata... dia malah nyakitin aku. Dan rasanya... sakit sekali. Sakit sekali.”
Lea sesenggukan. Terisak. Seperti tangis anak kecil. Dan Junan tak kuasa. Rasa ibanya memuncak, dan ingin sekali meringankan kesedihan Lea. Spontan meraih kedua pundaknya, dan menariknya merapat ke tubuhnya. Memeluknya erat. Amat erat.
Lea balas memeluk Junan. Mengalungkan kedua tangan di sekeliling lehernya, masih terisak, bahkan semakin keras. Memecah kesunyian.
Junan memejamkan mata; mengeratkan pelukannya, hingga ia dapat merasakan degup jantung Lea di dadanya. Ia ingin turut merasakan kesedihannya; ingin ia membagi rasa sakitnya dengannya, kalau itu dapat sedikit menghilangkan rasa sedihnya. Tidak tahu kenapa; apa alasannya, mendadak saja ia seakan tahu apa yang membuat hidupnya selama ini serasa kosong. Ia merasa dibutuhkan. Untuk pertama kalinya.


Salju sudah menumpuk di tepi luar jendela, saat Lea akhirnya membuka mata keesokan hari. Semuanya seolah berwarna putih dan pucat. Namun semacam putih pucat yang menyenangkan untuk dilihat.
Waktu ia mengangkat kepala, pusing melanda. Bertanya-tanya kemudian, berapa banyak alkohol yang masuk ke kerongkongannya semalam hingga menyebabkan denyut tak nyaman di setiap inci kepalanya. Jujur, ia tak ingat apa pun. Memori terakhirnya adalah ia berbincang dengan Juna di depan meja bar, membicarakan bucket list-nya.
Mendadak, matanya membulat. Cepat-cepat menyibak selimut yang menutupi badannya untuk melihat ke baliknya. Lega, begitu mengetahui pakaian masih menempel di badannya. Termasuk juga lega, karena Juna benar-benar laki-laki yang bisa ia percaya. Tidak memanfaatkan situasi.
Tapi dimana dia sekarang?
Good morning.”
Lea terlonjak sedikit, dan langsung menoleh ke arah pintu darimana suara sapa itu berasal. Juna masuk, dengan nampan di tangan. Mengenakan sweat shirt marun dan celana jins denim robek-robek. Lea segera mengangkat punggungnya untuk duduk di kasur dan buru-buru merapikan rambutnya; entah kenapa.
Breakfast in bed.” Juna menyeringai pada Lea.
Ia meletakkan nampan kayu di atas kasur dengan hati-hati, dan duduk berhadapan dengan Lea dengan kaki disilangkan.
Lea menjulurkan leher untuk melihat isi di atas nampan tersebut; dua piring yang sepertinya berisi roti gulung coklat—tampilannya manis sekali dengan taburan gula bubuk dan beberapa irisan cherry dan strawberry di atasnya; satu gelas jus jeruk, satu cangkir kopi susu, dan semangkuk kecil anggur hijau. Satu lagi, adalah piring kecil berisi aspirin. Itu adalah yang pertama diambil oleh Lea.
“Kepalaku sakit sekali,” katanya, setelah ia menelah pil tersebut dengan jus jeruk. “Thanks.”
You’re welcome.”
Juna mengambil cangkir berisi kopi susu. Menyeruputnya pelan, seraya memandang salju yang berjatuhan di luar jendela. “Beautiful,” komentarnya.
“Ini apa?” Lea menunjuk piring berisi roti gulung.
French toast rolls up. Atau roti gulung, kalau ribet nyebutnya.”
Lea mengernyit. “Kamu bikin sendiri?”
“Nggak. Ada pelayan yang buat—ya jelas aku lah. Memang ada siapa lagi di sini?”
“Kamu nggak kelihatan seperti cowok yang bisa masak.” Lea mengambil piring berisi dua roti gulung. “Apa ini aman buat dimakan?”
Mata Juna menyipit berbahaya, dan Lea langsung mendengus geli. Diirisnya satu roti gulung tersebut, dan memasukkannya ke mulut. Tak lama ia membeliak; ekspresinya takjub.
“Enak.”
“Aku tahu.” Juna meletakkan cangkir kopi di nampan.
“Sombong.”
Juna terkekeh, dan Lea melanjutkan menyantap French toast-nya.
“Apa kamu... suka masak?” tanya Lea, dengan mulut penuh.
“Bisa dibilang gitu.” Juna menusuk irisan stroberi di piring roti gulung satu lagi, dan membawanya ke mulut. Ia tak mengunyahnya, melainkan menelannya langsung.
“Ini enak banget,” cetus Lea, tanpa memandang Juna. Kembali memasukkan potongan besar irisan roti gulung.
“Makan saja semua. Kalau kurang di dapur masih ada.”
“Tahu begitu, kenapa nggak dari kemarin kamu buat sarapan?”
Juna tertawa. “Aku lebih suka kamu yang masak. Rasanya campur-aduk. Aku belum pernah makan makanan seperti itu.”
Lea mengembuskan napas tajam dan memutar mata. “Aku memang nggak bisa masak. Aku cuma merasa itu kewajibanku untuk... nyiapin makanan.”
“Masakan kamu enak kok,” balas Juna, tersenyum menenangkan. “Kalau nggak, aku nggak bakal makan. Lidahku sensi.”
Sejenak, keduanya saling pandang. Lea, dengan pandangan yang diiringi kerutan di dahi, sedangkan Juna dengan pandangan yang ditemani cengiran jenaka. Lea memutus kontak lebih dulu, diiringi dengus geli dan gelengan kecil.
“Udah lebih dari seminggu.”
Lea mendelik penuh tanya pada Juna yang sekali lagi memandang keluar jendela kamar. Ia meletakkan garpu di piring, dan mengambil gelas jusnya. “Apanya yang ‘lebih dari seminggu’?”
Ia meneguk jus, dan menunggu Juna merespon dengan turut memandang ke arah salju yang berjatuhan di balik jendela. Setelah itu kembali mencomot roti gulung lagi dan mengunyahnya pelan.
“Aku sudah di sini lebih dari seminggu.” Juna menatap Lea, dengan senyum simpul yang sedikit muram.  “Ninggalin banyak hal di Jakarta.”
Lea menelan roti di mulutnya buru-buru sampai-sampai kerongkongannya panas. “Kalau kamu mau curhat, mendingan stop. Aku nggak mau dengar.”
“Kenapa?”
“Lebih baik kaya gitu. It’s better we don’t know about each other, so...” Lea meraih kembali gelas jusnya, “kita nggak perlu baper tentang sesuatu yang nggak seharusnya.”
Ia mengucapkan semua kalimat tersebut dalam suara kumur-kumur yang ditutup dengan jus jeruk yang diteguknya banyak-banyak, sementara Junan memandanginya kernyitan bingung yang kentara.
But,” Junan mendengus, “kamu curhat sama aku semalam.”
Mata Lea membundar. “Curhat apa? Aku nggak ngerasa.”
“Soal cowok kamu itu; Dario—”
Lea dengan panik langsung berusaha membekap mulut Juna dengan tangan. Membuat Juna yang tidak menduga respon hebohnya, ambruk ke belakang. Nampan berisi seluruh perabot dan makanan berantakan di atas kasur dan sebagian lagi terguling ke lantai. Cairan kopi dan jus jeruk menodai sprai dan berceceran kemana-mana.
My—God,” gumam Juna dengan tampang tak percaya. Ia menelentang pasrah dengan kedua tangan membuka di permukaan kasur dengan kepala Lea berada persis di atas perutnya.
Lea yang menyadari betapa ganjil posisinya sekarang, cepat-cepat mendorong naik badannya. Tapi karena rasa malu dan grogi, tak sengaja ia menekan lututnya di betis Juna, membuat laki-laki itu langsung mengeluarkan suara jeritan persis cewek dan reflek menaikkan punggung dan menekuk kakinya, menyebabkan Lea hilang keseimbangan, terguling ke samping dan... dahinya terbentur dinding lumayan keras. Setelah itu bergeming.
Ganti Juna yang panik. Buru-buru menggeser badan mendekat, merengkuh bahu Lea dan membalik badannya menelentang seraya menanyakan apa Lea tidak apa-apa.
“Lea?” Juna memanggilnya lagi, karena Lea tidak menjawab sama sekali, melainkan diam dengan ekspresi muram seolah menahan tangis. Dahinya yang terbentur merona merah. “Sori, oke? Aku nggak sengaja.”
“Aku cerita apa aja?” tanya Lea dengan nada cemas sekaligus bimbang.
Juna tak menjawab. Bertukar pandang dengan Lea di sebelahnya selama beberapa saat, sampai akhirnya berguling ke sisi. Berbaring di sebelah Lea, dan mengempaskan napas tajam.



Sambil membersihkan sisa-sisa kekacauan di atas kasur yang terjadi sebelumnya, Junan memberitahu Lea, apa saja yang Lea ceritakan padanya dalam keadaan mabuk semalam. Kebanyakan soal Dario, pacar Lea yang ternyata mencintai sahabat Lea, Tina, sebelum Dario bertemu dengannya; bagaimana Lea ingin menjadi istri Dario dan punya banyak anak dengannya; serta rasa bersalah Lea pada orang tuanya yang harus menanggung malu dikarenakan keputusannya membatalkan rencana pertunangan secara sepihak. Terutama pada mamanya, yang amat senang dan sudah menunggu-nunggu pertunangannya itu.
Untuk yang terakhir itu, Junan mendukung Lea dengan mengatakan kalau tindakan Lea sudah benar dengan memutuskan hubungan dengan Dario, karena tidak ada yang bisa menjamin apakah Dario akan tetap loyal pada Lea mengingat perasaannya pada Tina yang ia pendam sejak lama.
“Orang tua kamu pasti ngerti. Nggak ada orang tua yang mau anaknya menderita apa pun alasannya. Apalagi mama kamu,” tambah Junan, melipat sprai bernoda kopi, jus jeruk dan remah roti. “Mom is mom after all.”
I know,” timpal Lea lemah. Duduk bersila di atas lantai dengan punggung bersandar di tepi ranjang dengan nampan berisi perabot di sebelahnya. “Tapi...” Ia tersenyum muram. “Entahlah. Aku nggak tahu apa...mamaku bisa mengerti. Apalagi aku langsung ‘hilang’ setelahnya.”
“Tapi kamu kasih tahu papa mama kamu kan begitu kamu sampai sini? Setidaknya, mereka tahu kan kalau kamu di sini?”
Lea menggeleng. “Aku matikan ponselku sejak boarding pesawat. Aku nggak update apa pun jadinya. Terlalu takut untuk tahu reaksi orang; terutama dari mamaku.”
Junan menjepit seprai yang telah ia lipat rapi di perutnya menggunakan tangan. Ekpresinya pada Lea tak terjelaskan; antara bingung atau takjub. Selama beberapa waktu, ia cuma berdiri bengong memandang Lea yang duduk di hadapannya dengan kepala tertunduk sedih.
“Kenapa?” Lea mendongak ke arahnya. Mendengus tersenyum melihat ekspresinya. “Aku... lebay, ya?”
You know what? Aku juga nggak lihat ponselku sama sekali sejak aku di sini—di rumah ini maksudnya.”
Really?”
Junan mengangguk. “Ya. Tapi... komplikasi beberapa hal sebenarnya; karena ponsel mau lobat dan aku malas nge-charge—plus,” ia mendengus, “aku mau shut down dunia luar sebentar. But,” ia buru-buru menambahkan, saat Lea tersenyum muram padanya, “kayanya sekarang waktunya aku nyalakan ponselku lagi. Kamu juga.”
Lea mengedikkan bahu. Menggeleng lemah. “I don’t know.”
“Jangan jadi pengecut, Nona Lea,” tandas Junan. “Kamu udah minum bir semalam. Pergunakan sisa hang-over kamu untuk aktifkan ponsel.”
“Nggak sesimpel itu, Juna.”
Junan mengangkat sprai di tangannya lebih tinggi dan melangkah menuju pintu kamar. “Gampang,” timpalnya. “Tinggal ambil ponsel kamu—dimana pun kamu simpan, lalu tekan tombol ‘on’.”—Ia tak menghiraukan delikan putus asa Lea—“Aku mau masukin sprai ke mesin cuci, kamu bawa perabot ke dapur. Setelah itu kita lihat ponsel kita bareng.”
Ia menyeringai, setelah itu keluar dari kamar.

“Jadi...” Junan menyodorkan ponselnya pada Lea, setelah ia menerima ponsel milik Lea (diiringi tampang tak rela) di tangannya, “kita bersamaan nyalakan ponsel; kita saling kasih tahu notifikasi apa aja yang ada; dan pesan atau email apa saja yang kita terima, dan siapa yang kirim—”
Wait.” Lea menaikkan kedua tangan di depan Junan yang bersila di hadapannya. “Apa aku harus baca isi pesan atau email yang kamu terima?”
Jawaban Junan diwakili dengan anggukan mantap.
“Berarti kamu juga bakal baca semua pesan yang ada di ponselku?”
“Apa ada chat atau foto ‘aneh’ di sini?” Junan menggoyang-goyangkan ponsel Lea sambil tersenyum jail. “Kalau ya, pasti menarik.”
“Jangan ngaco,” sergah Lea. “Aku cuma” ia menelan ludah, “nggak nyaman pesan-pesanku dibaca orang.”
“Oke. Kalau gitu, aku akan kasih tahu dulu siapa yang kirim pesan atau email ke kamu. Dan kamu bisa tentuin, yang mana yang bisa aku bacain buat kamu. How ‘bout that?”
Lea menimbang-nimbang sejenak, kemudian mengangguk pelan. “Oke. Kalau gitu, aku juga kasih tahu kamu dulu siapa yang kirim pesan ke kamu.”
Deal.”
Deal.
“Kalau gitu,” Junan menggengam ponsel Lea erat, “kita nyalain sekarang.”
Lea membalas dengan anggukan. Bersamaan dengan Junan menekan tombol ‘on’ di iPhone milik Junan. Ponsel tersebut langsung menyala, dan langsung menampilkan layar utama. Junan sepertinya bukan orang yang private, pikir Lea. Ia tak menggunakan password apa pun untuk memproteksi telpon genggamnya.
“Kenapa ponsel kamu nggak nyala-nyala?”
Lea reflek mengangkat wajah, dan melihat Junan berupaya keras menekan tombol power Samsungnya yang bergeming tanpa kehidupan. Ia mencoba mengingat-ingat, dan tersadar kalau ponselnya itu benar-benar sudah nol baterainya sewaktu ia boarding, dan tak pernah sama sekali ia charge.
“Sepertinya harus di charge.” Lea meringis. “Benar-benar lobat.”
“Hm. Mana chargernya?”
“Di laci meja di kamar.”
Tanpa berkata apa pun Junan langsung bangkit, dan berjalan menuju kamar tempat Lea tidur. Tepat saat itu denting halus terdengar dari iPhone di tangan Lea.
“Ada pesan dari... Brie?!” Setengah berteriak Lea memberitahu Junan yang masih berada di kamar.
Abaikan saja!”
Lea mengerucutkan bibir. “Dari Arien?!”
Pass!”
Alis Lea berjingkat, dan bibirnya menggumamkan ‘oke’ tanpa suara. Sementara itu terdengar suara laci ditutup di dalam kamar, disusul oleh suara langkah mendekat; Junan sudah menemukan charger Lea.
“Yu?!”
“Apa katanya?” Junan keluar dari kamar dengan satu tangan menggenggam charger ponsel Lea.
Lea menekan pop up bar bertulisan nama ‘Yu’ di bawah nama Brie dan Arien untuk membaca pesan yang dikirimkannya pada Junan. Wajahnya mendadak berkerenyit; tampak bingung.
“Kenapa?” Junan menelengkan kepala.
Wajah Lea perlahan terangkat. “Restoran... Kebakar—”
Belum sempat Lea menyelesaikan kalimatnya, Junan menyambar ponsel dari tangannya. Lea yang sempat terlonjak karena kaget, memandang Junan berjalan menjauh dengan ponselnya.
Ini pertama kalinya Lea melihat raut muka Junan begitu serius dan cemas. Seolah saja ia bukan laki-laki yang seminggu ini menemaninya di sini; yang kelihatan begitu santai dan lepas. Tak lama ia mendengarnya bicara; ditolehnya sedikit, dan melihat Junan berjalan ke ruang depan sambil bicara dengan seseorang menggunakan ponselnya.
Dan itu adalah akhir pembicaraan mereka di hari itu, karena setelah selesai menelpon Junan masuk ke kamarnya, menutup pintu, dan tidak keluar sama sekali hingga lewat jam makan malam.


Lea sedang membaca buku di atas karpet depan perapian, ketika akhirnya pintu kamar Junan membuka, dan suara sandal yang diseret terdengar. Lea memutar kepalanya ke belakang sekilas, dan melihat Junan berjalan mendekat.
Kaki Junan berhenti di tepian karpet. Ia mengenakan kaca mata ‘rampasan’ dari Lea, dan kedua tangannya di saku celana trening abu-abunya. Mukanya yang biasanya ceria, agak lesu. Meskipun begitu ia menyunggingkan senyum kendati lemah.
“Aku pulang ke Jakarta besok.”
Lea yang baru saja ingin menanyakan ‘ada apa’ pada Junan, langsung mengatupkan bibir. Napasnya, tidak tahu kenapa tiba-tiba saja sesak. Kepalanya seakan saja dijatuhi oleh sesuatu yang berat namun tak berwujud. Bertanya-tanya kenapa, tapi sebenarnya ia tahu jawabannya. Namun, tentu saja ia menyangkalnya.
“A-ada apa?” Lea berusaha sekali terdengar biasa saja, meskipun badannya gemetaran. “Re—restoran siapa kebakaran?”
“Restoran... teman—so, aku harus balik. To support.”
Lea mengangguk-anggukan kepala. Teman yang penting pastinya, ia membatin. Juna, pastinya punya pacar di sana. “Oke,” timpalnya pendek.
Setelah itu hening dan bisa dibilang canggung. Di tengah-tengah keduanya yang berjarak hanya beberapa langkah, seakan saja ada tembok transparan yang membuat semuanya semakin jauh dan kabur. Lea, berupaya sekali untuk mengendalikan diri. Karena jujur ia tidak tahu, kenapa ia ingin menangis sekarang.
“Kenapa kita nggak pulang bareng?” suara Junan seolah menggelegar.
Ha?” balas Lea bingung. Ia tidak mendengar pertanyaan Junan barusan, karena kepalanya terlalu penuh.
Junan mendengus tersenyum, kemudian melepaskan kedua sandal kamarnya sebelum menjejakkan kakinya di atas karpet. Kira-kira 20 senti di depan Lea, ia tak lagi bergerak. Lea mendongak memandangnya, dan sebaliknya Junan memandang Lea yang wajahnya terlihat muram diterangi pencahayaan api perapian yang temaram.
“Kenapa kamu nggak pulang ke Jakarta bareng aku besok?” tanyanya lagi.
Lea menundukkan wajah perlahan. “Aku belum... mau pulang.”
Junan merendahkan badan dan berjongkok di depannya. “Kamu akan sendirian di sini. Dan aku... worry; jujur aja.”
Mata Lea kembali bertrubrukan dengan mata Junan yang hitam. “I’ll be fine,” senyumnya lembut. “Just, balikin kacamataku. I need that.”
Tangan Lea terangkat untuk menggapai kacamatanya yang bertengger di hidung Junan. Tapi Junan segera menghindar dengan menjatuhkan pantatnya di atas karpet bulu, sehingga Lea gagal menjangkaunya.
“Juna,” tegur Lea dengan nada putus asa.
“Aku akan balikin nanti.”
“Nanti kapan? Besok kamu udah berangkat; nanti malah lupa.”
“Pokoknya aku akan balikin. Aku janji.”
“Kapan?”
Junan memeluk kedua lututnya yang menyilang, sambil nyengir pada Lea. “Kalau aku mau balikin.”
Lea mengempaskan napas tajam. Menggeleng jengkel sambil menancapkan tatapan sebal pada Junan. “Ya sudah. Buat kamu aja.”
Ia kembali membuka buku novelnya lagi, menyandarkan punggungnya ke kaki sofa, dan kembali membaca. Meskipun yang ia lakukan hanya memelototi barisan huruf yang tak bisa ia eja sama sekali.
No.” Tiba-tiba, Junan menyambar buku ‘Eat, Pray, Love’ yang Lea pegang, dan—tidak menghiraukan protes Lea—meletakkan kepalanya di pangkuan Lea. “Aku pasti balikin.”
Ia membuka halaman pertama buku ‘Eat, Pray, Love’ dan mulai membacanya.
“Juna. What are you doing?” tanya Lea, lebih putus asa lagi.
Reading.”
“Maksudku, kenapa kepala kamu ada di pahaku? Get off.
“Apa kita bisa ketemu lagi nanti di Jakata, Lea?” tanya Junan, mengabaikan permintaan Lea.
Lea mengembuskan napas pelan. Ingin menjawab ‘ya’, tapi dia merasa itu bukan jawaban yang seharusnya ia ucapkan dengan mudah pada Junan. Keraguan dan kekhawatiran akan tersakiti merayap memenuhi otaknya. Bagaimana kalau ia jatuh cinta pada Junan, dan sama dalamnya seperti perasaannya pada Dario? Bagaimana kalau ternyata Junan, seperti dugaannya sudah memiliki kekasih di Jakarta? Memupuskan harapannya akan cinta, dan memperbesar rasa sakitnya juga karena cinta. Tidak. Ia tidak mau itu terjadi lagi.
Ia, belum siap.
“Lebih baik nggak usah.” Lea menolehkan wajah ke arah api yang berderak-derak di atas kayu-kayu yang membara di perapian. “Kamu juga mikir yang sama kan?”

Untuk beberapa saat, Junan diam. Kemudian dengan suara pelan ia menjawab, “Ya. Lebih baik nggak usah.”

(Bersambung)

Read more...
Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP