Untitled: Chapter 3

>> Wednesday, October 18, 2017

Baca: Untitled Chapter 1 & 2


3

“Kenapa kita nggak naik mobil aja sih?”
“Jalan itu sehat.”
“Ini jauh.”
Junan menghentikan langkah santainya untuk menunggu Lea yang tertinggal beberapa langkah di belakangnya. Saat Lea sampai di sebelahnya, ia melingkarkan satu tangannya ke bahu Lea. Lea mendelik tajam padanya, dan ia cuma nyengir.
“Teman itu berbagi masalah. Dan aku, dengan senang hati mendengarkan keluh kesah kamu,” ujar Junan ditemani cengiran jenaka.
“Aku butuh kendaraan yang bisa bawa aku kemana pun kamu mau ajak aku, Juna.” Lea menepis tangan Junan dari bahunya. Merogoh ransel yang ia bawa, dan menarik keluar botol minuman. “I need that, right now.”
Ia meneguk banyak-banyak air putih di dalamnya.
“Kita udah setengah perjalanan untuk balik lagi ambil mobil. Dan aku yakin kalau kita balik, kamu pasti nggak mau keluar lagi dengan sejuta alasan. Jadi,” ia menggamit tangan Lea dengan mendadak, dan membuat Lea yang masih minum tersedak karena kaget, “kita harus terus.”
Ia menarik Lea buru-buru, sementara Lea protes. Cepat-cepat memasukkan kembali botol air ke tas.
“Lagian,” sambung Junan lagi, memandang ke atas, ke rimbun daun-daun pepohonan yang menaungi mereka, “ini terlalu indah untuk dilewatkan.”
Ia melepas tangan Lea dan merentangkan kedua tangannya sendiri sambil terus berjalan. Mau tak mau Lea ikut mendongak. Dan kemudian memandang sekitar.
Mereka sudah sampai di jalan besar pinggir hutan rimbun yang hijau dan tenang, dengan danau besar berwarna biru di sebelah kiri yang memantulkan cahaya cerah matahari yang mendadak muncul setelah beberapa hari tertutup awan. Kesunyian begitu terasa, dan rasa tenang merayap perlahan ke lubuk hati. Membuat Lea bernostalgia kembali ke masa kecilnya, saat ia membuka-buka halaman demi halaman majalah berbahasa asing di ruang tengah rumah, yang menampilkan pemandangan-pemandangan indah dari seluruh belahan dunia, dan sudut-sudut rumah ideal berarsitektur barat yang dipamerkan di majalah tersebut. Membuatnya berjanji, kalau suatu hari ia akan pergi ke salah satu tempat asing tersebut. Dan menikmatinya habis-habisan. But, itu sebelum ia tahu, kalau patah hati itu menyakitkan.

Akhirnya sekitar 20 menit kemudian, mereka sampai di kota Lake Tekapo.
Sepi. Yah, karena memang populasinya cuma 369 penduduk saja. Plus, bulan Juli ini memang bulannya dingin. Jadi tidak banyak wisatawan yang berkunjung. Dan karena mereka sampai di pusat kota tepat jam makan siang, maka Junan langsung mengajak Lea ke satu-satunya restoran Jepang yang ada di sana; Kohan Restaurant.
“Sushinya enak,” beritahu Junan, ketika mereka sudah duduk di salah satu meja di dalam Kohan, dan Lea tampak bingung melihat menu.
“Kamu sering ke sini?” Lea memandang Junan dari balik menu.
“Sejak aku di sini, aku selalu kemari untuk icip-icip.”
“Nggak bosan?”
“Aku suka makanan Jepang; apalagi sushi. Kamu suka sushi apa?”
Lea tak langsung menjawab. Masih menggerakkan matanya ke daftar makanan di menu dari atas ke bawah. “Aku... Nggak pernah makan makanan Jepang. Nggak suka.”
Junan membeku. Dan Lea buru-buru berkata, “Oh, its fine. Makan makanan Jepang ada di bucket list-ku. Jadi” ia mengangguk-anggukkan kepala, “mungkin sekarang waktunya untuk coba.”
Ia nyengir pada Junan. Tapi kemudian cengirannya pudar melihat cara Junan memandangnya; separo-heran, separo-geli.
“Kenapa lihat aku kaya gitu?”
Bucket list? Bucket list apa? Salmon Sushi combination, please.” Junan bicara pada waitress yang segera mencatat pesanannya.
“Masa kamu nggak tahu ‘bucket list’? Teriyaki Chicken Don,” Lea menyebutkan pesanannya pada si waitress.
Si waitress membacakan ulang pesanan keduanya, dan setelah dikonfirmasi ia segera berbalik dan melesat menuju konter.
“Itu... daftar keinginan kan?”
Lea tersenyum lebar dan mengangguk. “Ya.”
“Kamu sekarat atau gimana?”
Lea mendengus putus asa. “Emang orang sekarat aja yang mesti punya bucket list? Kita yang sehat gini nggak masalah kan punya bucket list? Ngelakuin beberapa hal yang belum pernah sama sekali kita coba?”
“Oke.” Junan mengembungkan pipi, seraya mengangguk.
“Kamu... punya bucket list?”
“Bukannya kamu nggak mau tahu soal aku?”
Lea menyandarkan punggungnya ke belakang. Mengembuskan napas, menatap jengkel Junan yang sekarang terkekeh. “It’s a bucket list. Nggak masalah kan?”
Well. Aku nggak punya yang khusus sih.” Junan menggaruk-garuk dagunya sambil berpikir. “Karena aku sukanya spontan; jarang planning sesuatu. Apa yang mau aku lakuin ya aku lakuin.”
“Olahraga ekstrim, gitu?”
Junan tertawa. “Sepertinya seluruh olahraga ekstrim udah aku coba.”
“Serius?”
Tampang Junan kelihatan sekali bangga. “Name it.”
“Bungee jumping?”
“10 kali, dan love it.”
Lea mencibir. “Wall climbing?”—Panjat tebing?
Junan terbahak. “Setiap ada waktu aku ke wall climbing center, atau ke gunung untuk manjat.”
“Motor cross?”
Tawa Junan makin keras, dan Lea makin manyun. “Aku suka banget Motor cross, Lea.”
“Moto GP, gitu?”
“Aku suka balapan, tapi aku sepertinya kalah kualifikasi sama rider Moto GP.”
Lea kehabisan pilihan, dan Junan terkekeh.
“Apalagi yang ada di bucket list kamu selain ‘makan makanan Jepang’?”
Mata Lea berputar saat ia memikirkan jawaban pertanyaan Junan. “Minum bir atau minuman yang ada alkoholnya,”—muka Junan seolah baru diterpa angin dingin (“Kamu belum pernah minum bir?”—“Public fight,”—(“What a weird bucket list,” komentar Juna, terbahak)—“Dansa sama cowok ganteng di tempat yang nggak biasa—Eh, kamu ngapain?”
Junan menarik tangan Lea, memaksanya berdiri. “ ‘Dansa sama cowok ganteng di tempat yang nggak biasa’. Itu, akan terjadi sekarang.”
“Aku nggak mau. It’s Japanese Restaurant for God’s sake,” tukas Lea dengan tampang ngeri.
Exactly.” Junan memiringkan kepala dan tersenyum jail. “Ini tempat yang nggak biasa.”
“Banyak orang.”
“Hei. Ini tempat yang nggak biasa.”
“Nggak ada musiknya.”
“Bisa diatur.”
Dan Junan bergegas ke konter, berbicara dengan salah satu waiter di sana selama beberapa waktu dengan ekspresi serius. Saat ia kembali menghampiri Lea, tak lama kemudian terdengar intro manis yang amat Lea kenali; Dancing in the Moonlight-nya Top Loader, band asal Inggris tahun 90-an, yang jadi soundtrack film A Walk to Remember.
“Oh my God.”
Lea tersedak menahan tawa melihat Junan berjalan sambil menggoyangkan badannya dengan cara yang maskulin namun lucu. Ia juga turut menyenandungkan lirik lagunya dengan jenaka, tanpa peduli dengan tatapan bingung orang-orang ke arahnya.
Ia menggamit tangan Lea, dan merangkul pinggulnya rapat ke badannya. Dan Lea, yang sudah terkesima oleh aksinya, tanpa banyak kata mengikuti gerakan tubuh Junan ke kanan dan ke kiri; berdansa di tengah ruangan dengan tawa berderai.
She’s craving,”—Dia sedang ngidam, Junan menjelaskan pada seisi ruangan yang memandangi mereka berdua dengan tatapan kosong tak terjelaskan, sementara Lea menyembunyikan muka merahnya di pundak Junan sambil terguncang-guncang menahan tawa. “Want to dance here,” ia menambahkan.
Dan semua orang tertawa. Tatapan bingung mereka berganti tatapan ceria penuh damba ke arah keduanya.
See?” kata Junan pada Lea, yang masih menatapnya tak percaya. “Cuma butuh nekat sama tekad aja. Plus, skill ngeles yang mumpuni.”
Lea terbahak, dan memeluk Junan lebih erat. 

Lea makan sushi atas paksaan Juna, dan berjanji tidak akan makan lagi. 
Ia mual merasakan salmon mentah yang tak berasa sedikit pun, walaupun sudah dicemplungkan ke saus ini-itu. Membuatnya ingin muntah begitu mereka keluar dari Kohan 1,5 jam kemudian setelah aksi dansa mereka yang fenomenal.
Sekarang mereka berada di pinggir Lake Tekapo; duduk di tengah alang-alang dan barisan bunga Lavender. Junan duduk dengan memeluk lutut menghadap danau, dan Lea menggambarnya di sketch book. Matahari bersinar redup di atas, sehingga mereka tidak kepanasan. Angin berembus pelan menyejukkan.
“Lea?”
“Hm?”
What are you doing?”
“Aku lagi gambar.”
“Bukan.” Juna menoleh ke arahnya, dan Lea mengangkat mukanya dari kertas sketch book. “What are you doing here? Di New Zealand. Lake Tekapo. Sendirian.”
Lea kembali menekuni gambarnya yang tinggal sedikit, sekaligus menimbang-nimbang untuk mengatakan alasannya datang ke sini pada Juna. Tapi kemudian ia memutuskan untuk tidak mengatakan apa pun. Kalimat yang keluar dari mulutnya adalah permintaan pada Juna untuk tidak menanyakan itu lagi padanya.
“Kenapa?”
Lea bungkam. Menekankan pensil arang di bagian kerah solid v-neck warna abu-abu cerah Juna yang sedang ia gambar. Berusaha terlihat fokus, kendati isi kepalanya buyar ke segala tempat.
“Oke.” Juna menghadapkan mukanya lagi ke arah danau biru yang membentang di hadapan. “I’m here, kalau kamu mau cerita ala cewek.”
 Lea menahan geli mendengar kalimat Juna barusan. Berupaya terlalu keras menyembunyikan dengusnya, hingga ia seolah mengempaskan napas tajam dan membuat Juna mau tak mau mengarahkan pandang ke arahnya.
Let me see.”
Juna merangkak mendekati Lea, lalu duduk di sebelahnya. Menjulurkan wajah ke sketch book yang membuka di kedua kaki Lea yang menyilang, dan segera saja mendesis ‘wow’ kagum begitu ia melihat gambar tangan Lea.
“Aku sering kali bertanya-tanya, bagaimana caranya orang-orang bisa gambar atau ngelukis dengan bagus? Mereka kayanya dikasih Tuhan mata yang benar-benar spesial, dan tangan yang benar-benar luwes untuk itu,” ujar Juna, mengambil sketch book dari tangan Lea.
Ia membalik-balik halamannya. Dan kelihatan terkesima dengan semua sketsa tangan Lea di tiap lembarnya. “It’s very good,” pujinya.
Lea hanya tersenyum kecil. Ia sudah sering mendapat pujian serupa, jadi tidak lagi terlalu excited mendapatkannya dari Juna. Pandangannya ia alihkan ke arah danau; mengambil napas panjang, lalu mengembuskannya dengan mata dipejamkan.
Thank, God, aku ambil kacamata kamu.”
Lea langsung menoleh pada Juna, yang masih memandangi gambar-gambarnya di sketch book menggunakan kaca mata bundar miliknya. “Maksudnya?”
“Aku baru tahu kalau kamu cakep.”
Mulut Lea menganga. Merasa kalau ia mungkin salah dengar.
“Kamu... cantik ternyata,” Juna menjelaskan, memandang Lea dengan senyum simpul. “This thing,” ia menunjuk ke kacamata yang dikenakannya, “kill your face. Not good.”
Lea mengeluarkan suara seperti cegukan, lalu menarik sketch book-nya dari tangan Juna. “Kapan kamu mau kembaliin kacamataku?”
“Kalau aku memang merasa sudah waktunya mengembalikan.” Ia nyengir, lalu merebahkan badannya di atas rumput. Tangannya dipergunakan sebagai alas. “Lagian, aku ngerasa kacamata ini lebih cocok denganku daripada kamu.”
Lea memilih untuk memutar mata ke atas daripada menimpali kalimat-kalimat Juna yang terkesan narsis dan serampangan, namun selalu membuatnya ingin tertawa atau tersenyum. Setelah itu ia menghela napas panjang dengan mata memandang lurus ke danau lagi. Mengembuskannya perlahan, sambil menikmati embusan angin sejuk yang meniup lembut kulitnya.
And...”
Juna menarik ikat rambut Lea. Membuat gelungan asal di belakang kepalanya lepas, sehingga sulur-sulur ikalnya terjurai bebas di punggung. Mulut Lea menganga. Matanya melebar saking syoknya.
“Rambut kamu nggak seharusnya disiksa terus kaya gitu. It’s too pretty to be hide,” kata Juna, seakan saja itu menyelesaikan masalah.
Ia menyakukan ikat rambut Lea ke saku jinsnya, dan memejamkan mata.


Menjelang sore, Junan mengajak Lea mampir ke Lake Tekapo Tavern, sebuah pub lokal yang populer bagi penduduk Lake Tekapo. Ramai saat mereka masuk ke dalam. Dan Junan memberitahu Lea kalau tempat ini selalu padat di cuaca dingin seperti ini. Banyak orang merasa perlu keluar rumah untuk berada di sini; minum bir atau minuman beralkohol lain untuk menghangatkan badan , atau sekadar hang out dengan teman-teman.
Para turis juga sering berkunjung kemari untuk menghabiskan malam selama berada di Lake Tekapo.
2 beer and a glass of wine, please,” Junan berkata pada seorang laki-laki tinggi besar berambut pirang di balik meja bar yang segera tersenyum ramah begitu keduanya duduk di kursi tinggi. “And French fries.”
“Apa ada jus?” Lea berbisik pada Junan.
“Ngapain minum jus? Aku sudah order bir buat kamu.”
Lea mengerutkan dahi, tampak kesal. “Aku nggak minum bir.”
“Itu ada di bucket list kamu.”
“Aku nggak bilang aku harus lakuin itu sekarang kan?”
“Terus kapan?”
Lea tampak bingung menjawab. “Ya... Nant—”
Don’t waste the moment, Lea.” Dua gelas bir dan satu gelas kecil berisi wine datang, dan Junan langsung menyambar salah satu gelas bir dan meneguknya sedikit sebelum melanjutkan. “Kamu jauh banget dari Indonesia. Nggak ada yang kenal kamu di sini. Kalau kamu mau ‘minum bir’, better do it here.”
“Bukannya seharusnya kamu ngelarang cewek minum bir?” ujar Lea, setengah tertawa.
“Hei. Kamu yang buat bucket list kamu sendiri. Dan aku bantu kamu untuk ngewujudin yang aku bisa. Jadi aku ajak kamu ke sini. Kalau ternyata kamu jadi ‘coward’ begini, aku nggak akan ajak kemari.”
I’m not a coward.”
“Oh. Ya, benar. Kamu cuma nunggu sampai kamu benar-benar siap. Kaya mau hilang perawan aja.”
For God’s sake, Juna. Kamu ngomong apa sih?” Lea terbahak. “Apa kamu udah mabuk?”
I’m a social drinker, Darling. Aku bisa minum berapa pun dan masih tetap waras. Don’t know about you.” Junan mengedipkan mata, dan meneguk birnya lagi ditemani dengus tawa.
Untuk beberapa saat Lea cuma memandang Junan dengan mulut membuka dan tatapan tak percaya. “Apa alasan aku harus minum di sini? Aku bisa minum di Jakarta nanti. Atau di mana pun aku mau.”
“Di mana? Di kamar kamu? Ngumpet-ngumpet? Apa enaknya, daripada minum di bar kaya gini? Ditemani cowok ganteng yang siap ngelindungin kamu dari laki-laki yang akan memanfaatkan situasi.”
Dagu Lea terangkat. “Oh. Jadi kamu kira aku akan mabuk gitu?”
Touché.” Junan menyesap sedikit birnya lagi. “Itu akan terjadi. Sudah pasti.”
“Kamu benar-benar ngeremehin aku. Aku nggak akan mabuk semudah itu.”
Kepala Junan mengedik ke gelas bir di meja yang belum tersentuh. “Your bucket list is waiting, Madam.”
Lea menatap Junan dengan ekspresi tak terjelaskan. Bibirnya mengatup, dan napasnya tersengal seperti orang habis berlari jauh. Dikerlingnya gelas berisi bir yang hanya sejengkal darinya. Wajahnya kentara sekali bimbang.
“Oke. Nggak usah diminum,” Junan mengulum senyum. “Aku nanti yang habiskan.”
Ia meneguk birnya lagi banyak-banyak, dan hampir tersedak ketika Lea menyambar gelas bir di meja, dan langsung menenggaknya hingga hanya tersisa setengah dalam gelas.
“Oh, my God,” ucap Lea, separo-syok, separo-ngeri, setelah mengentakkan gelas birnya di permukaan meja. Lidahnya ia julurkan keluar seolah hendak muntah.
Junan melongo. Ia benar-benar tak menyangka kalau Lea akan meminum birnya sebanyak itu. Ia mengira, kalau Lea hanya akan menyesapnya sedikit saja.
“Apa... nggak enak rasanya?” tanya Junan takut-takut pada Lea yang sekarang bengong menatap rak berisi banyak botol cocktail di depan. “Are you okay?
“Aku nggak tahu.” Mata Lea bergerak ke kanan dan ke kiri seolah sedang berusaha mengingat-ngingat sesuatu. “Sebaiknya aku minum lagi.”
Junan ingin mencegah, namun Lea sudah lebih dulu menyambar pegangan gelas birnya dan menandaskan isinya dengan cepat. Setelah itu ia bersendawa, buru-buru meminta maaf pada Junan sambil tertawa ganjil. She’s drunk, Junan membatin. 
“Aku mau coba wine-nya.”
Tangan Lea sudah menggapai gelas kecil di depan Junan, dan Junan buru-buru mengangkatnya. “Aku rasa kamu cukup dengan bir saja.”
“Nggak.” Lea menggeleng-gelengkan kepala. Tangannya terangkat berusaha menggapai gelas kecil di tangan kanan Junan. “Aku harus coba wine juga.”
No, Lea. Bir sudah cukup buat kamu mabuk.”
Dahi Lea mendadak berkerut. Dan matanya mendelik tajam. “Aku nggak mabuk.”
“Tunggu sebentar lagi, dan kamu bakal ngoceh nggak jelas, atau tidur.”
Dan tidak butuh lama untuk membuktikannya. Karena kemudian Lea sudah meracau tidak jelas dalam bahasa Indonesia, dan menghabiskan seluruh French fries yang Junan pesan, serta setengah isi toples berisi kacang gratis di meja bar.
“Bucket list-ku yang lain; ikut kompetisi nyanyi; Indonesian Idol, atau X-Factor; terjun payung, bungee jumping,”—Junan mendengus-dengus geli mendengarnya—“dan—it’s wild actually,” ia cekikikan tak terkendali, “kissing a stranger.”
Dagu Junan terangkat. “Menarik. Kapan kamu mau lakuin itu? Kissing a stranger.”
Senyum Lea terlihat amat manis di mata Junan sekarang.
Now,” jawab Lea, menggigit bibir bawahnya seakan menggoda.
“Oh. Well...” Junan mencondongkan wajahnya lebih dekat ke Lea. “I don’t mind. Aku—hey! Lea?”
Junan memandang ngeri Lea yang mendadak saja bangkit dari kursinya, dan melesat ke sekumpulan laki-laki Caucasian yang berdiri di sudut dekat juke box. Menyambar kerah kemeja salah seorang dari mereka; laki-laki berambut coklat kemerahan yang sedang minum dari botol birnya, dan langsung mencium bibirnya dengan paksa.
“Oh... fuck,” gumam Junan putus asa.
Ia merogoh saku celana, dan meletakkan beberapa lembar dolar di meja bar. Menyambar ransel Lea, kemudian bergegas bangkit dari kursi, dan menghampiri Lea dan si rambut merah—yang sepertinya menikmati bibir Lea di bibirnya. Ia baru akan menggapai pundak Lea, ketika suara nyaring perempuan terdengar di belakangnya (“Why’s she kiss my boyfriend?!”) dan membuatnya—juga semua orang di dalam bar—menoleh.
Si laki-laki rambut merah langsung menarik wajahnya dari Lea, dan dengan gelagapan menenangkan perempuan tersebut. Junan buru-buru menarik pinggul Lea, untuk menjauhkannya dari pasangan tersebut. Namun Lea malah tertawa girang, dan membuat perhatian langsung beralih ke arahnya. Terutama si perempuan pirang, yang sedang marah-marah pada pacarnya.
She’s drunk,” Junan langsung menjelaskan pada si perempuan pirang yang kini maju mendekat. Menyembunyikan Lea di belakangnya. “Really drunk.”
She wasn’t seem drunk when she kissed my boyfriend.”—Dia nggak kelihatan mabuk waktu cium pacarku, balas si pirang galak.
Believe me she is,” Junan berusaha meyakinkannya.
Hey. Ini public fight!” seru Lea dari belakang Junan. Semringah. “It’s one of my bucket list!
Lea sempoyongan maju ke depan, menghampiri si perempuan pirang. Dan Junan dengan sigap menyambar pinggulnya. Tapi Lea yang jelas tidak mengerti gentingnya situasi berusaha kembali ke depan lagi, menggapai-gapaikan tangan pada si perempuan pirang.
Nope. It’s not public fight.” Junan kembali menarik Lea, dan memaksanya menjauh dari si perempuan pirang yang mendengus-dengus seperti banteng marah dan gerombolannya yang memandang dengan tatapan siap perang ke arah keduanya. “We’re leaving now. Peace. Ok?
Junan mendorong punggung Lea, menggiringnya ke pintu keluar. Angin dingin langsung mengempas ke arah mereka, dan membuat keduanya seketika beku di tempat.
“Kita harus cari taksi kalau gini,” gumam Junan pada Lea, kendati ia tak yakin Lea mendengar atau tidak. “Kita berdua nggak ada yang bawa parka.”
Junan menoleh, dan melihat Lea sedang menatapnya diiringi senyum bodoh. Hidungnya merah, karena diterpa angin dingin.
What?”
“Kayanya aku beneran mabuk,” jawab Lea cekikikan.
No doubt.”
Setelah itu Junan meraih tangan Lea, dan mengajaknya berlari ke salah satu taksi yang parkir tak jauh dari pub.

Lea tidur sepanjang perjalanan kembali ke rumah. Dan masih tidur waktu taksi yang mengantar keduanya memasuki pekarangan dan berhenti di depan teras. Junan berusaha membangunkannya, tapi sepertinya Lea terlalu mabuk untuk membuka mata, sehingga Junan terpaksa menggendongnya masuk.
You don’t have to do this,” ujar Lea pada Junan yang sedang membawanya meyeberangi ruang tamu menuju kamar.
Do what?”
“Gendong aku.” Lea nyengir, kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Junan. “Aku nggak pernah digendong kaya gini sama cowok. It’s so romantic.”
“Aku kira kamu nggak suka yang romantis.”
Junan mendorong pintu kamar Lea menggunakan satu kaki, kemudian masuk ke dalam, lalu hati-hati menurunkan Lea di atas tempat tidur. Lea langsung meletakkan kepala di atas bantal, berbaring miring dengan kedua kaki menggantung ganjil.
“Kepalaku pusing banget sekarang,” keluhnya, masih setengah terkekeh.
Junan mendengus geli, dan membantu Lea melepaskan kedua boot yang masih ia kenakan. Setelah itu ia membenarkan posisi kaki Lea; menggesernya agar seluruhnya berada di atas kasur, kemudian menarik selimut untuk menutupi kedua kaki Lea yang terasa amat dingin.
Sleep now. Aku nyalain perapian biar hangat sedikit.” Junan mengusap kepala Lea.
Setelah itu ia berpaling; hendak pergi. Namun tertahan saat Lea mendadak meraih satu tangannya. Membuatnya memutar badannya lagi, dan memandang Lea lagi, dengan ekspresi penuh tanya.
“Kalau aku lupa besok, aku mau bilang sekarang kalau aku... senang banget hari ini,” jawab Lea. “Udah lama banget kayanya, aku nggak sesenang ini. Thank you.”
You’re welcome.” Junan tersenyum. Senyum yang benar-benar tersenyum. “Aku juga senang kok.”
And...”
Tiba-tiba air mata Lea jatuh satu per satu ke pipi, dan mulai menangis. Junan yang tidak menduganya langsung bingung. Bergegas duduk di tepi tempat tidur dan mengusap pundak Lea.
“Ada apa?”
“Aku patah hati...”
Dahi Junan berkerut. Tak paham.

(Bersambung) 

Gambar dari sini
Main character: Junan Roi (Junan/Juna), Ophilea Usara (Lea/O), Yuric Andrei (Yu)
Supporting Character: Soma Saidan (Soma), Danaela Saidan (Dane/Dan), Dario Umbara (Rio/Dario), Brina Rasya (Brie)

Read more...

Untitled: Chapter 1

>> Saturday, September 23, 2017

1



JUNAN ROI. Hm. Nggak ada yang nggak kenal dia. Laki-laki tampan, jangkung, six-packs, populer dan juga sukses.
Saat usianya baru 21 tahun, predikat Chef jenius berbakat telah disandangnya. Talentanya telah diakui hingga luar negeri, dan namanya sering disandingkan dengan beberapa Chef ngetop kelas dunia; George Ramsey, misalnya. Yang adalah Chef tangan besi, spesialis masakan Perancis dan Fine Dinning yang rating masakannya sudah setingkat 3 bintang Michelin. Ia dan Junan saling kenal, bahkan berteman baik. Perbedaan umur yang hampir 20 tahun jauhnya tidak membuat keduanya sulit bersosialisasi, Dan itu membuat reputasi Junan semakin tinggi. Mengantarkannya ke tempat-tempat eksklusif dan mewah, memasukkannya ke lingkungan kelas atas yang ‘high’, dan membuatnya berteman dengan banyak selebriti, sosialita, juga politikus berpengaruh di negeri ini. Masakan ciptaannya semakin terkenal, diminati, serta mahal, dan pastinya itu berpengaruh pada jumlah angka nol di rekening pribadinya.
He’s rich. Handsome. Elegant. Classy. And... Single! Setidaknya itu yang selalu dia bilang, pada siapa pun yang menanyakan perihal pasangan hidup dan sejenis itu kepadanya. One of eligible bachelors in town, yang pastinya amat diinginkan perempuan mana pun untuk dimiliki. Dengan wajah se-cool itu, kulit yang eksotis, plus postur badan sempurna, dia bagaikan hidangan bukan cuma 3, melainkan 5 bintang Michelin di mata kaum hawa—mungkin juga kaum Adam, yang sedang mencari pacar, suami, bahkan mungkin selingkuhan. Hahaha. And that’s the truth.

...

Reaksi itu; ekspresi wajah itu... Ia sudah memprediksinya.
Saat ia memutuskan untuk batal bertunangan dengan Dario, pacarnya selama tiga tahun di malam saat makan malam dua keluarga dihelat di rumahnya, ia paham sekali konsekuensi yang akan ia terima.
Orang tuanya; mamanya terutama akan sangat syok karena malu. Begitu pun orang tua Dario, serta kerabat dekat mereka. Soma dan Danae akan mengomelinya—atau diam seribu bahasa, entahlah. Dan Dario... Well, ia pasti lega, karena terlepas dari tanggung jawab menjadi laki-laki brengsek yang ingin membatalkan pertunangan demi perempuan lain yang ia cintai lebih dari calon tunangannya. 
Pengecut, ia membatin. Dario; dan juga Tina, sahabat baiknya yang ternyata telah Dario cintai jauh sebelum mereka bertemu. Keduanya pengecut, karena telah membohonginya selama ini. Sungguh menyakitkan.
Aku sudah ketemu Tina, sebelum aku ketemu kamu, Lea.” Dario mengatakannya dua hari sebelum makan malam keluarga diadakan. “Dan aku cinta sama dia, dan dia sebaliknya. Dia nggak mau bilang kamu, karena dia nggak mau nyakitin kamu; sahabatnya.”
“Lebih baik bilang, daripada aku tahu belakangan kalian selingkuh.”
No, Lea. Kami nggak selingkuh. Aku mungkin brengsek, tapi dia nggak. Dia hindarin aku, sejak pertama aku dikenalin sama dia oleh kamu. Dia nggak balas telpon atau pesan teksku. Dia suruh aku menjauh waktu aku bilang aku masih cinta sama dia. Dan aku coba. Demi Tuhan, Lea. Aku coba. Tapi... hati nggak bisa bohong, aku—”
“Kamu mau batalin acara pertunangan?”
“Aku... Bukan begitu. Aku cuma mau kamu tahu, gimana perasaanku sebenarnya. Aku tersiksa, Lea. Benar-benar—”
Dan Dario tidak lagi bisa meneruskan kalimatnya, karena Lea telah membungkamnya dengan tamparan keras penuh kemarahan dan sakit hati yang luar biasa. Dan langsung pergi meninggalkannya sendirian di balkon rumahnya.
Berat memang menyingkirkan sesuatu yang begitu amat ia cintai; kekasih dan juga sahabatnya. Namun ia tak mau hidup dalam rasa gundah dan sakit hati seumur hidup dengan suami serta sahabatnya saling mencintai. Ia bisa saja tutup mata, tapi... hatinya jelas tak bisa. Jadi ia memutuskan untuk mundur. Karena untuk maju, kakinya sudah tak lagi bisa berjalan.

...

“Kalau ini keputusan terbaik,” Danae yang memeluk Lea erat, berusaha menenangkan. “Kami berdua dukung kamu. Kami ngerti perasaan kamu.”
Lea tak berani menatap Soma yang sejak masuk kamar tadi hanya berdiri bersandar di dinding dekat pintu; walaupun tak sepatah-kata pun terlontar dari mulutnya. Soma, sebelumnya berusaha keras membujuknya untuk tetap melangsungkan pertunangan dengan Dario demi nama baiknya sendiri juga keluarga. Namun apa daya, ia tak mampu melakukannya. Sungguh tidak bisa.
Ketukan di pintu membuat Lea mengangkat kepala dari bahu Danae. Ia menduga itu mama atau papanya, yang mungkin hendak melampiaskan rasa kecewa atau mencecarnya dengan banyak pertanyaan perihal pembatalan pertunangan. Tapi ternyata saat Soma membuka pintu, yang muncul adalah Dario. Mukanya merah, ekspresinya campuran rasa bingung dan malu.
“Lebih baik kamu pergi,” suruh Soma dari ambang pintu, tak membiarkan Dario maju lagi. “Ini bukan waktu yang tepat untuk ketemu.”
Dario melempar pandang ke Lea dari seberang. “Aku mau minta maaf,” katanya pada Soma, lalu ke Lea dengan tatapan memelas. “Please.
Lea bergeming. Tak bicara. Ia tegak di ujung tempat tidur, balas menatap.
“Sudahlah, Dario,” Danae bicara dari sebelah Lea. “Kamu dan Tina sekarang bisa bebas. Jangan ganggu Lea lagi.”
“Tapi—”
Just go, Rio,” potong Soma. “Dan bilang sama keluarga kamu untuk nggak ngoceh di depan press tentang Lea. Karena aku bisa publish statement balik ke media alasan sebenarnya pertunangan ini batal. Kamu nggak mau kan, kalau fans, PH, dan sponsor tahu soal kamu dan Tina?”
Dario menatap Soma kesal, tapi tidak bisa membalas.
“Kamu bisa bilang sama mereka, kalau pertunangan batal atas kesepakatan kalian berdua, karena kamu masih mau serius berkarir, dan Lea masih mau melanjutkan studi. Tidak kurang, tidak lebih.”
Dario melengos, seraya mengembuskan napas tajam. “Aku nggak pernah bilang pertunangan ini batal,” gumamnya dalam suara serak. “Ini hanya ditunda.”
Lea mengerutkan kening.
“Dengar, Lea?” Dario mendongak dan menatap Lea lurus dari tempatnya. “Ini hanya sementara.”
Lea menggeleng. “Be happy with Tina, Dario. Aku akan baik-baik saja.”
Dario tersenyum simpul sinis, setelah itu berpaling. Pergi.

...

“Sampai kapan kamu di sana?”
“Nggak tahu. Sampai pikiran nggak penat lagi.”
“Bisa lebih spesifik?”
Junan mendengus geli dan menggelengkan kepala. “Tenang, Yu. Restoran akan baik-baik aja. Mau ada aku atau nggak, everything will be fine.”
“Nan. Kalau kamu nggak ada lama, resto bisa sepi.”
Junan menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu, dan berkata mantap, “Nggak akan sepi. Percaya sama aku. Selama rasa dan kualitas makanan tetap terjaga, nggak ada yang harus dicemaskan. Jadi pastikan feedback customer jalan. Lagian, aku punya Sous Chef andal kan?”
Ganti Yu yang menggeleng. Memandang sekeliling ruang tunggu bandara dengan jengkel. “Kenapa mendadak aja kamu mau pergi? Sekarang pula; pas lagi high season gini.”
Junan membungkukkan badan, memandang sepatu kets Nike di kakinya, dan menatap kosong tali yang berselang-seling membentuk simpul. “Aku capek kayanya,” jawabnya setengah menerawang. “Kayanya... aku mau gila.”
Yu memandang Junan dengan alis berkerenyit. “Ada masalah apa sih?”
Bahu Junan mengedik sejenak. “Aku juga nggak tahu. Aku cuma ngerasa... kegencet.”
Dengus geli Yu membuat Junan menoleh, dan menegakkan badannya lagi.
“Aku nggak tahu memang, apa yang buat kamu stres—”
“Aku nggak stress,” Junan menyela buru-buru. “Aku cuma ngerasa...” Ia memandang lurus ke depan; ke arah orang yang lalu lalang. “kosong.”
Yu menjingkatkan alis. Tak mengerti apa maksud kata-katanya, namun menahan niatan untuk bertanya. Dan Junan tak berkata apa-apa lagi setelah itu. Ia cuma tercenung menatap lurus ke depan dengan raut muka yang muram.
“Kamu nggak happy?” tanya Yu, menyandarkan punggung ke belakang.
“Nggak tahu.”
“Kamu punya semuanya.”
Bibir Junan membentuk kerucut kecil. “Aku tahu, tapi... ada yang kosong. Dan... Aku jadi jenuh. Aku nggak tahu, tujuan hidupku itu apa sebenarnya. Aku ngerasa... nothing.”
“Kamu cuma capek, Nan,” Yu menyimpulkan. “Kalau gini yah... Better take vacation. But, please, jangan lama-lama. Aku nggak bisa galak sama anak-anak, jadi... kalau restoran kacau—”
“Kamu leader yang jauh lebih baik dari aku, Yu,” Junan kembali menyela. “Jadi restoran nggak akan kacau whatsoever. Stop to underestimate kemampuan kamu sendiri. Atau kamu memang berusaha sombong dengan bersikap humble?”
Yu menatap Junan dengan putus asa. “Kamu salah. Aku nggak—”
Junan tertawa kecil. “Aku tahu.”
Yu mendengus sinis, sembari memutar mata. Tapi kemudian senyum simpul melengkung di pipi kanannya. Kepalanya tertunduk sejenak.
Setelah itu terdengar pengumuman boarding dari pengeras suara. Junan berdiri, dan menyandangkan tali tas beperrgiannya yang sebelumnya ia letakkan di bangku sebelahnya ke satu bahu. Merogoh tiket dari saku jeansnya.
I go,” ia pamit.
“Oke. Take care,” balas Yu.
Kedua laki-laki jangkung itu berpelukan sejenak, sebelum akhirnya melepaskan diri. Dan Junan berpaling, lalu berjalan pergi. Yu tetap di tempat, memandang punggung Junan menjauh, sampai ia bergabung dengan antrian pengecekan bagasi bersama calon penumpang lain. Baru setelah Junan menghilang dari pandangan, ia memutar badan. Hendak pergi.
Saat ia melangkah santai menuju pintu exit, perhatiannya mendadak saja teralih. Dan apa yang dilihatnya, entah kenapa membuat hatinya seolah berdesir manis sekaligus menyakitkan.  Seolah saja waktu berhenti, dan dunia di sekelilingnya membeku.
Perempuan itu; dengan rambut digelung di pucuk kepala, earphone di kedua telinga, tas besar di bahu, dan gagang travel bag yang ia tarik mengikuti langkahnya, kaus putih kebesaran yang hampir melorot ke satu bahu, leher mungilnya, rambut coklat kemerahannya, bibir merah mudanya—semua yang ada di dirinya, entah kenapa membuat Yu tertarik seakan saja ia adalah magnet, melangkah dengan wajah tegak dan tatapan lurus ke depan. Dia cantik, tapi bukan itu yang membuatnya memesona, melainkan wajah sendu dan mata besarnya yang memerah dan berair. Dia, kelihatan rapuh. Tapi juga..., kokoh.
Andai saja Yu punya sedikit keberanian untuk dianggap konyol, dia akan menyambar lengan perempuan itu, dan mengatakan, “Halo” yang menuntun ke lebih banyak kata dan kalimat setelahnya—mungkin juga tamparan. Tapi dia terlalu waras, tidak punya kualitas nyeleneh seperti Junan, jadi yang bisa ia lakukan hanya membiarkan perempuan itu melintas di sampingnya; memandangi punggungnya semakin lama semakin jauh dari jangkauan pandang.
Setelah itu ia mengempaskan napas dan tersenyum simpul. She’s out of my league, ia membatin. Kembali melanjutkan langkah.
 ...

Nareen, nama temannya yang akan memberikannya tumpangan tempat tinggal selama dia berada di kota Lake Tekapo, New Zealand. Perempuan Indonesia, yang menikah dengan Hans, pengusaha apparel yang berkebangsaan Belgia, dan akhirnya menetap di Selandia Baru bersama kedua anak mereka.
Lea amat beruntung mengenal Nareen dan Hans; terlebih karena Nareen adalah salah satu fans dan peminat lukisannya, yang kerap kali mengundangnya untuk datang dan tinggal bersama mereka beberapa waktu. Dan akhirnya, setelah 3 tahun, baru sekarang Lea dapat menjawab undangannya, dan merasa bersalah karena alasannya untuk datang bukan murni karena ingin menghabiskan waktu bersama Nareen dan keluarganya, melainkan karena ingin lari sejenak dari keadaan yang menyiksanya di rumah dan juga sekelilingnya, setelah keputusannya  untuk tidak melakukan pertunangan dengan Dario.
Namun kedatangannya bisa dibilang tidak tepat atau memang tepat, karena begitu ia masuk ke SUV hitam Nareen yang menjemputnya di Lake Tekapo Airport, ia langsung mendapatkan kabar, kalau Nareen dan keluarganya akan berlibur ke Brussel esok harinya, untuk merayakan ultah ibu Hans yang ke 68 tahun serta mengurus bisnis selama beberapa waktu di sana.
“Kamu bisa tinggal selama kamu mau,” kata Nareen, setelah permohonan maafnya diterima oleh Lea yang berusaha meyakinkannya kalau ia tak perlu cemas, dan akan baik-baik saja sendirian di rumah tersebut. “Dan, ada teman Hans yang juga akan stay selama beberapa hari. Jadi kamu nggak akan sendirian.” Itu tambahan informasi darinya.
Dan malam itu, Lea menghabiskan waktu dengan keluarga Nareen dan Hans yang hangat, dan membuatnya jadi emosional, hingga terpaksa pamit untuk beristirahat lebih dulu.
Melihat keakraban keluarga mereka, apalagi sampai berada di tengahnya membuatnya teringat Dario serta janji-janjinya di masa lalu. Semua imajinasi indah mengenai ia dan Dario yang menikah, memiliki anak kembar, dan tinggal nyaman di sebuah rumah yang penuh bunga krisan dan Lili kembali teringat dan menimbulkan perasaan sakit di ulu hati dan panas membara di sekujur badan.
Ia tidak tahu apakah kebencian yang sedang ia rasakan, atau kesedihan yang luar biasa besar. Tapi apa pun itu, terasa amat menyakitkan dan seolah sedang berusaha membunuhnya pelan-pelan. Ia tersiksa. Dan ingin sekali berteriak mengumpat Dario juga Tina. Namun tentunya tak bisa selama ia berada di rumah ini bersama Nareen serta keluarganya. Ia juga bimbang, apakah dengan membenci dan merasa malang terhadap dirinya sendiri akan membuatnya merasa lebih baik.

“Jangan lupa nyalakan penghangat, karena udara sudah mulai dingin. Bisa beku nanti,” sekali lagi—untuk keberapa kalinya, Nareen mengingatkan sebelum ia naik ke mobil penjemput yang akan membawanya dan keluarga ke bandara.
“Ini bulan Juli,” dengus Lea.
“Di New Zealand, bulan ini adalah bulan paling beku. Jadi, kalau kamu keluar jalan-jalan, jangan pernah lupa parka, syal, topi rajut, juga ear-puff. Jangan kaya gini.” Nareen menggerakkan tangannya naik-turun ke kaus dan rip jeans yang Lea kenakan. “Boot; juga jangan lupa. Kamu bisa pakai salah satu punyaku di lemari sepatu. Di Jakarta mungkin boot cuma buat gaya-gayaan, di sini, untuk mencegah kamu nggak sakit tulang.”
Lea terkekeh, sementara Nareen memandangnya putus asa.
“Aku serius, Lea.”
“Aku tahu.” Lea segera menarik Nareen ke pelukan, dan entah kenapa jadi merasa sedih sendiri. “Thank you. Safe journey.”
Nareen balas memeluknya; erat. “Sori, kamu harus sendirian.”
Lea menarik tubuhnya, dan meremas kedua bahu Nareen. “Don’t be sorry. It’s ok. Now,” ia memutar tubuh Nareen menghadap van perak yang pintu gesernya membuka, “go.”
Mau tak mau, Nareen memanjat naik ke van. Dan sebelum menggeser pintu menutup, ia memandang Lea lagi; tersenyum. “Take care, Lea.”
Take care you. And you all.”
Lea melambai riang ke Hans, dan dua anak Nareen, Shawn dan Eve. Setelah itu mundur sedikit ke belakang, ketika Nareen menutup pintu dan mobil van yang ia tumpangi menderum siap pergi. Kembali melambai, saat mobil tersebut melaju pelan diiringi derak roda yang melintasi pekarangan berkerikil menuju gerbang.
Ketika mobil van perak itu menghilang dari pandangan, Lea tetap berdiri sejenak di tempat. Menarik napas dan mengembuskannya perlahan; mengamati kepulan menyerupai asap yang keluar dari hidung dan mulutnya setiap kali ia mengempaskan napas. Dingin memang. Hidungnya mulai berair dan tubuhnya menggigil oleh udara basah yang melayang di sekitarnya. Namun ia senang; karena ia memang menyukai suasana seperti ini, yang menurutnya menenangkan. Juga ternyata, mengingatkannya pada perasaan cintanya pada Dario selama ini. Selama 3 tahun yang menurutnya indah dan membahagiakan, dan terpaksa harus kandas begitu saja.
Tak sadar air matanya menitik. Meluncur ke pipi, lalu dagu. Disusul bulir demi bulir lagi setelahnya. Dan tanpa bisa ia tahan lagi, ia menangis. Keras, dan terisak-isak.

...

Rumah dinding kayu. Lantai 2, dengan balkon di roof top menghadap ke danau.
Junan, memerhatikan foto rumah yang ada di instagram temannya, Hans. Menekan layar ponsel, dan kembali menekannya lagi. “Pekarangan hijau. Kerikil,” ia menggumam sendiri.
Matanya beralih ke rumah berdinding kayu di seberang tempatnya berdiri sekarang.  Menjelajahi lansekap yang mengelilinginya. Di malam hari seperti ini, sulit memastikan apakah rumah itu adalah rumah yang sama dengan rumah yang dimaksudkan Hans sebagai rumahnya. Namun melihat bentuk, terlebih lagi karena rumah itu adalah satu-satunya rumah yang paling mirip dibandingkan rumah lain yang telah ia lewati, ia memutuskan untuk masuk.
Kalau bukan, ia membatin, aku akan minta si pemilik rumah untuk numpang nginap di sini. Orang New Zealand terkenal dengan kebaikan dan keramahannya. So...
Junan mencengkeram tali duffle bag-nya sembari berjalan menyusur jalan setapak luas berkerikil. Hawa dingin mulai terasa membekukan seluruh badan, hingga ia mau tak mau memeluk tubuhnya serapat yang ia mampu. Merasa bodoh sendiri karena tidak mendengarkan saran temannya, Troy, saat masih di Christchurch, untuk menyewa mobil carteran, dan malah memutuskan mencari alamat sendiri dengan berjalan kaki. Stupid indeed, makinya. Sok petualang, sementara kamu belum siap untuk bertualang.
Lega rasanya, ketika ia sampai di depan pintu kaca rumah besar tersebut. Tirainya tertutup rapat; baik pintu maupun jendela, sehingga ia tak bisa melihat ke dalam rumah. Hans mengatakan, teman istrinya yang akan menyambutnya. Namanya siapa, ia lupa. Tapi toh bisa ia lihat di record perkapannya dengan Hans di pesan teks. Nanti saja ia lihat.
Tak berlama-lama, Junan mengetuk pintu kaca keras. Mencari-cari bel di dinding samping pintu, namun tak menemukannya. Ia mengetuk lagi, dan kali ini suara langkah kaki yang tergesa terdengar dari dalam. Tirai digeser sedikit, dan wajah seorang perempuan berkacamata bingkai hitam bundar dengan rambut gelap yang dikuncir kuda terlihat di balik kaca. Alisnya berkerenyit.
Junan mengangkat tangan, untuk menyapa. “Aku teman Hans—”
Belum Junan menyelesaikan kalimatnya, perempuan tersebut menyibak tirai pintu lebar-lebar, sehingga Junan dapat melihat keseluruhan tubuhnya yang mengenakan sweater pastel kebesaran, jins denim, dan kakinya yang terbungkus kaus kaki tebal.
“Juna?” Perempuan itu bertanya begitu pintu kaca di hadapan mereka telah digeser membuka.
Mulut Junan menganga, keningnya berkerut. “Ya. Ya. Hans... panggil aku begitu. Jun—”
Can you step inside?” Perempuan tersebut menyela. Menggeser badannya ke pinggir sembari meringis kedinginan ketika angin mendadak saja bertiup menerpa ke arah mereka. “It’s freezing,” gumamnya lagi, mendekap badannya erat-erat.
“Oh—ya. Sure.
Junan masuk ke dalam dan perempuan itu cepat-cepat menggeser pintu kaca menutup, Menguncinya, dan kembali menutup tirai. Setelah itu ia, masih menggigil, menyodorkan tangan kanannya pada Junan. “Aku Lea.”
Junan menyambut tangannya yang mungil dengan tangan kanannya yang masih mengenakan sarung tangan. “Aku Jun—Juna.”
Sebelumnya Junan ingin mengatakan nama lengkapnya pada Lea. Namun, entah kenapa membiarkan Lea untuk tahu namanya dengan ‘Juna’ saja sudah cukup, tanpa repot-repot berpikir apakah Lea tahu siapa dia atau tidak. Kalau pun tidak, menurut Junan lebih baik. Karena ia akan lepas dari sikap sopan dibuat-buat atau agresif yang biasa ditunjukkan perempuan lain terhadapnya. Dan sebaliknya, ia juga tidak perlu tahu siapa Lea, selain teman dari istri Hans, Nareen, yang Hans bilang sedang berkunjung ke rumah mereka dan akan menemaninya selama di Tekapo.
“Perapiannya sudah nyala,” suara Lea mengembalikan Junan dari lamunan. “Jadi... kayanya aman kalau kamu mau lepas parka sekarang.”
Junan mengangguk-angguk. Meletakkan duffle bag di lantai, melepas kedua sarung tangan rajut, serta parka navy gelap yang ia kenakan seraya memandang sekeliling ruangan yang bercahaya terang, ditambah dengan pendaran oranye dari perapian elektrik di tengah ruangan yang cukup menghangatkan badan.
“Kamar kamu yang itu.” Lea menunjuk ke arah pintu sebelah kanan Junan. “Kamu bisa taruh tas kamu di sana. Aku mau... siapin makan malam dulu.” Ia mengakhiri dengan senyum kikuk kemudian berlalu.
Junan mengamati sosok Lea yang berjalan membelakanginya selama sejenak, sebelum mengangkat travel bagnya lagi, dan berjalan ke arah pintu kamar yang Lea tunjukkan.
Syukurlah, ia tidak secantik perempuan-perempuan yang aku kenal, batinnya. Ia tidak mau main hati sama sekali selama ber’hibernasi’ di tempat ini.




2

TIGA HARI telah berlalu sejak kedatangan Juna, dan Lea tak berniat sama sekali untuk mengenalnya lebih jauh selain berbasa-basi sekadarnya. Ia lebih memilih menghabiskan waktu di kamarnya untuk menggambar di buku sketsanya kala salju jatuh, atau membaca buku di perpustakaan mini yang menyatu dengan ruang kerja Hans dan Nareen di ujung rumah, sementara Juna, begitu langit cerah, sepertinya lebih memilih untuk keluar rumah dan menghabiskan waktu sampai sore hari. Pertemuannya dengan Juna, hanya berlangsung saat makan malam saja, tanpa pembicaraan yang berarti.
Beberapa kali Juna berusaha membuka pembicaraan, namun Lea selalu menghindar dan beralasan. Menurutnya lebih baik begitu. Karena bagaimana pun Juna laki-laki; dan ia, Lea, sedang dalam kondisi rapuh dan impulsif. Jadi, menjauh dari lawan jenis baginya merupakan solusi terbaik saat ini. Apalagi dari lawan jenis yang cukup tampan dengan tubuh jangkung atletis seperti Juna, yang membuatnya sulit untuk mengalihkan pandang.
Namun di hari keempat, Lea tak bisa mengelak lagi, ketika Juna mendekatinya di ruang tengah, setelah makan malam, kala ia sedang membaca Pride & Prejudice di sofa dekat perapian.
“Dingin.” Juna berjongkok di depan perapian. Menarik naik leher sweater hijau botolnya lebih tinggi lagi. Berpaling sebentar ke arah jendela, dimana angin mengetuk-ngetuk seraya mendesah kencang.
Lea mengerlingnya sejenak dari balik kaca mata bundar yang ia kenakan; tersenyum kecil. Sambil membaca barisan kalimat di salah satu halaman novel di pangkuannya, menimbang-nimbang kapan sebaiknya ia pamit masuk ke kamar.
“Apa kamu selalu baca?” Juna mundur sedikit ke belakang. Duduk di atas permadani bulu di depan perapian.
Wajah Lea menengadah, dan langsung bertemu pandang dengan Juna yang mengamatinya. “Oh. Ini cuma...” Ia menutup buku buru-buru, “pengisi waktu luang.”
Ia menyelipkan dengan gugup rambut depannya yang menjuntai ke hidung.
It’s ok.” Juna mendengus geli. “Kamu nggak perlu berhenti baca.”
Pundak Lea mengedik. “Aku juga mau balik ke kamar. Ngantuk.”
“Apa aku bikin kamu nggak nyaman?”
Mata Lea membulat. Terkejut mendengar kesimpulan Juna, dan dengan gugup menjawab, “No. Of course not.” Ia menyandarkan punggungnya lagi ke belakang.
“Sori. Aku cuma... mikir aja. Karena kamu sepertinya selalu menghindar setiap aku berusaha ngobrol sama kamu.” Juna tersenyum simpul, sementara Lea menundukkan kepala; merasa tak enak hati. “Aku pikir..., kamu takut sama aku.”
Lea mendengus tersenyum. Mengangkat muka. “Sama sekali nggak. Aku... Well, aku cuma... I don’t know.” Ia memalingkan wajah ke perapian. Tetiba terbayang Dario. “I’m sorry.”
Lea menatap Juna lagi, dan laki-laki itu tersenyum. Mata hitamnya seolah bersinar oleh derak jingga api di hadapan.
No need. Kamu punya alasan, dan, aku berharap, alasan itu bukan karena aku.”
No,” geleng Lea. “Nggak sama sekali.”
Then it’s fine. Karena aku sempat kira kamu mungkin anggap aku psikopat atau semacamnya.”
Juna tersenyum. Dan untuk pertama kalinya, Lea tersenyum untuk membalas. Benar-benar tersenyum.
Hening beberapa waktu setelahnya. Keduanya memandang perapian yang berderak-derak mengisi kesunyian dengan pikiran yang memenuhi benak masing-masing.
“Aku kemari dengan alasan ‘merenung’,” kata Juna kemudian, tanpa mengalihkan pandang dari percikan api di hadapan. “‘Menyepi’—apa pun itu namanya. Karena belakangan ini aku ngerasa... ‘kosong’.”
Lea meletakkan novel Pride & Prejudice di meja kopi samping sofa tunggal berlengan yang ia duduki, dan memandang Juna dengan senyum muram. Ia tidak tahu respon apa yang harus ia tunjukkan atas pemberitahuan Juna yang tak ia duga sebelumnya.
“Aku ngerasa apa yang aku punya saat ini; segala pencapaianku... nothing. Walaupun, untuk itu aku sudah berupaya amat keras, bahkan sampai sekarang.” Juna mendengus, menggeleng kecil, dan menoleh pada Lea lagi. “Sori.” Ia kelihatan membodohi dirinya sekarang. “Aku nggak tahu kenapa aku jadi cerita sama kamu. Kayanya aku lagi melo.”
Lea mendadak mendengus geli. Membuat Juna langsung menjingkatkan alis melihatnya. Tapi kemudian ia turut terkekeh. Mengatakan kalau ia lega mengetahui kalau Lea bisa tertawa.
“Aku ketawa, kalau ada yang benar-benar harus ditertawakan,” timpal Lea.
“Jadi pengakuan ‘galau’ku itu patut kamu tertawakan?”
“Aku rasa gitu.”
Ganti Juna mendengus geli.
By the way...” Juna menyandarkan punggungnya ke meja kayu pendek di belakangnya. “Kita belum saling ngobrol tetang masing-masing sejak hari pertama. Basically, we don’t know each other.”
Mulut Lea membuka pelan. Perasaan tak nyaman mulai merambat naik mulai dari ulu hati. Sepertinya ini waktu yang tepat baginya berpamitan untuk masuk ke kamarnya sebelum Juna mulai mengorek-ngorek tentang dirinya yang membuatnya terpaksa harus bertanya kembali perihal Juna. Tapi, tidak tahu kenapa, separuh badannya masih ingin tetap berada di atas sofa. Menolak untuk menuruti kemauannya yang sepertinya juga tidak sepenuhnya.
So, Lea. Siapa nama panjang kamu?”
Here we go. Dan Lea susah payah memutuskan untuk mengatakan nama lengkapnya atau tidak. “Apa... kamu nggak masalah kalau... aku nggak mau kasih tahu kamu?”
Kedua alis Juna berjingkat, tapi kemudian ia menggeleng mantap. “Nggak. Itu hak kamu.”
Lea menyunggingkan senyum kecil dan menggumamkan ‘thanks’ pelan.
“Kamu nggak mau tahu namaku?” Juna menyipitkan sebelah mata, menyeringai menggoda Lea.
Better not.”
“Oke. Bagaimana dengan... kerjaan kamu? What do you do for money?”
Sepertinya nggak akan masalah untuk kasih tahu dia profesi kamu, Lea. “Aku...” Lea menelan ludah susah payah. Ragu untuk memberitahu Juna.
“Kamu selalu gambar di buku sketsa tebal itu, kalau nggak baca,” sela Juna mendadak. “Apa kamu... illustrator atau... pelukis, gitu?”
Lea bengong. “Kamu merhatiin aku?”
“Siapa lagi yang bisa aku perhatiin, mengingat cuma kita berdua di sini.”
“Aku rasa kamu benar-benar punya bakat psikopat.”
Juna menggigit bibir bawahnya sembari mengangguk. “Kayanya gitu. So, apa benar? Atau... kamu... Chef? Masakan kamu enak. Aku senang makannya.”—Lea memutar mata ke atas—“Atau, kamu juga nggak mau kasih tahu apa kerjaan kamu?”
Lea meringis, mengedikkan satu pundak.
“Oke. Kamu nggak mau tahu apa kerjaanku?”
“Tadinya aku pikir kamu pengangguran sebelum kamu curhat melankolis barusan.”
Juna membelalakan mata, dan Lea tertawa.
“Apa yang bikin kamu mikir gitu?”
“Kamu di sini. Di New Zealand. Santai. Kamu kelihatannya nggak khawatir soal apa pun. You just... relax. Tapi... I don’t know.” Lea mengakhiri dengan dengusan.
“Jadi kalau aku punya kerjaan, aku mesti kelihatan cemas gitu?”
Sort of.”—Begitu lah.
Juna mengangguk-angguk. “Besok aku akan kelihatan muram di depan kamu. I have job, kalau kamu mau tahu. Dan alasan aku ke sini, kamu juga udah tahu.”
Lea terkekeh pelan.
What about you?” Juna menyilangkan kedua tangan di dada. “Aku yakin kamu bukan pengangguran. Kamu kelihatan cerdas untuk nggak punya pekerjaan.”—Lea menggelengkan kepala, sambil mendengus geli—“Tapi kamu juga terlalu tegang, untuk vacation. Kamu nggak mungkin kriminal yang ngelariin diri ke sini; so, what are you doing here?”
Senyum simpul Lea tersungging tipis. Kepalanya tertunduk sejenak, dan ia menghela napas panjang. Dario lagi-lagi mengisi benaknya, dan ia jadi ingin menangis. Don’t, Lea, cetus suara di kepalanya galak. 
“Hm...” Juna kembali mengangguk-angguk. “Aku rasa kamu juga nggak mau kasih tahu soal itu.” Ia mengangkat kedua bahunya. “So, be it.
Lea tertawa kecil. “Aku ke kamar dulu.”
Dan ia menurunkan kedua kaki lalu berdiri. Merapatkan cardigan rajut selututnya di dada, mengambil Pride & Prejudice dari atas meja kopi, kemudian beranjak pergi.
“Selalu tidur jam 9?” Juna bicara, saat Lea hanya baru beberapa langkah menjauh.
Lea berhenti. Kepalanya ditolehkan ke arah Juna yang menengadah memandangnya.
“Jangan bilang, kamu merhatiin itu juga,” ujarnya dengan kening dikerutkan.
“Kamu selalu masuk kamar jam 9. Dan lagi-lagi, cuma aku sama kamu di sini. Sulit untuk nggak nganalisa.”
Lea mendengus, lalu terkekeh. Menggelengkan kepala tak percaya. “Aku masuk dulu.” Ia kembali melangkah.
Good night,” ucap Juna.
Lea memalingkan muka. Juna sudah menghadapkan kepalanya menghadap perapian kembali.  “Jangan lupa matikan perapiannya,” balasnya.
Setelah itu ia masuk ke kamar. Menutup pintu di belakangnya perlahan.
...

Junan merasa perempuan yang berada di dalam rumah bersamanya ini memendam sesuatu yang menyesakkan. Terlihat dari wajahnya yang seringkali muram secara tiba-tiba di tengah perbincangan mereka, bagaimana pun seru dan lucu topiknya (Lea sudah mulai mau berbicara dengannya sejak pembicaraan mereka dua malam lalu). Atau, mendadak saja ia membeku dan bernapas dalam selama sejenak di berbagai situasi yang tak semestinya. Seakan saja ada ingatan penting yang transit beberapa detik di benaknya, dan membuatnya berupaya keras menahannya. Atau mungkin sebaliknya; ia berusaha mengusir apa pun yang tetiba mengisi pikirannya. Junan ingin sekali menanyainya. Karena entah kenapa, semakin ia bersosialisasi dengan Lea, semakin ia ingin tahu banyak tentangnya. Bukan karena ia suka padanya—suka dalam artian ‘suka’ sebagai teman tentunya, melainkan karena ‘ketidakrumitan’nya.
Lea tidak banyak bicara. Ia melakukan sesuatu dalam diam, tanpa omongan tak perlu. Saat tak ada yang dikerjakan dalam rumah, ia membaca atau menggambar di buku sketsa sampul abu metaliknya—Junan benar-benar ingin melihat apa yang ia gambar.  Dia, anteng sekali. Tenang. Tapi bukan semacam tenang yang benar-benar tenang. Ada pergolakan yang berlangsung di tubuhnya yang kurus itu, yang sedang ia tahan sekuat tenaga, namun malah membuatnya terlihat rapuh karenanya. Dan Junan ingin tahu, apa alasannya.

“Terang hari ini.”
Junan berdiri di sebelah Lea yang sedang memandang kosong keluar jendela, sambil menyeruput kopi dalam mug yang dibawanya. Membuat Lea tersentak, menoleh sejenak, kemudian kembali menatap jendela dengan senyum simpul samar.  
Mereka baru saja selesai sarapan, dan Lea langsung pergi ke ruang depan bersama buku sketsanya setelah ia selesai mencuci piring dan merapikan meja makan.
We should go out.”
Dahi Lea berkerenyit, kembali menoleh. “We?
Junan nyengir. “Ya.” Ia meneguk sisa kopi di cangkir. “You and I.”
“Nggak ah.”
Lea memutar badan, lalu melempar badannya ke sofa panjang berlengan dekat jendela. Sementara Junan masih berdiri menghadap jendela meneguk sisa kopi sedikit-sedikit, seraya menikmati sinar matahari yang hangat.
“Cuacanya bagus.” Ia menempelkan pinggulnya di puncak kursi. “Bagus buat jalan-jalan.” Ia meminum kopinya lagi.
Lea tidak menghiraukan. Sudah mulai sibuk mencoret-coret pensil arang di salah satu lembar sketch book-nya. Junan memalingkan muka padanya, dan mengembuskan napas tajam.
“Kamu juga bisa cari inspirasi gambar di luar,” Junan masih berusaha mempersuasi. “Dan vitamin D bagus buat kulit.”
Tak ada suara.
Junan berdecak pelan. Berjalan memutari sofa, menaruh mug di permukaan meja, lalu menyambar kaca mata bulat Lea. Lea mendongak, membulatkan mata pada Junan tanda protes.
Matanya coklat dan besar-besar, batin Junan, baru menyadari. Alisnya pekat dan tertata rapi secara natural. Bibirnya yang mengerucut berwarna pink, dan kulit wajahnya pucat tanpa rona. Semua deskripsi tersebut terlintas di benak Junan, seolah saja ia baru pertama bertemu Lea. 
“Tolong kembaliin kacamataku,” pinta Lea judes.
Alih-alih memberikan kacamata rampasannya pada Lea, Junan malah mengenakannya sendiri. Dan baru tahu kalau kacamata tersebut tidak ada minus atau plusnya sama sekali.
“Ini bahkan bukan kaca mata baca.” Ia melepasnya dengan kedua tangan, dan mengamati dua kacanya dengan kening mengerut. “Apa perlunya kamu pakai ini?”
Just give it back.”
Lea mendorong punggungnya untuk menggapai kaca mata di tangan Junan, tapi gagal karena Junan mundur.
Go out with me.” Ia kembali mengenakan kacamata tesebut.
No.”
“Ayolah, Lea. Nggak bagus ada di dalam ruangan terus. Lagipula..., kamu di Selandia Baru. Tekapo Lake Town. Lot things yang bisa kamu eksplor dan lihat. Banyak pemandangan bagus.”
“Aku nggak tertarik. Aku lebih senang di dalam rumah di cuaca yang nggak bisa diprediksi kaya gini.”
Lea kembali mendesakkan pinggulnya ke lengan sofa. Berancang-ancang membuka sketchbooknya lagi. Tapi Junan sekali lagi merampasnya. “Kamu bisa gambar di luar nanti.”

Dan ia berpaling, berjalan pergi dengan sketchbook di tangan tanpa menghiraukan protes Lea. Sempat berseru sebelum ia menghilang ke kamarnya agar Lea segera mengganti bajunya. 

(Bersambung)

koalasplayground.com 2017 03 19 gong-yoo-warms-the-eyes-and-soul-in-everyday-spread-for-epigram
gambar dari sini

Read more...
Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP