Untitled: Chapter 1

>> Saturday, September 23, 2017

1



JUNAN ROI. Hm. Nggak ada yang nggak kenal dia. Laki-laki tampan, jangkung, six-packs, populer dan juga sukses.
Saat usianya baru 21 tahun, predikat Chef jenius berbakat telah disandangnya. Talentanya telah diakui hingga luar negeri, dan namanya sering disandingkan dengan beberapa Chef ngetop kelas dunia; George Ramsey, misalnya. Yang adalah Chef tangan besi, spesialis masakan Perancis dan Fine Dinning yang rating masakannya sudah setingkat 3 bintang Michelin. Ia dan Junan saling kenal, bahkan berteman baik. Perbedaan umur yang hampir 20 tahun jauhnya tidak membuat keduanya sulit bersosialisasi, Dan itu membuat reputasi Junan semakin tinggi. Mengantarkannya ke tempat-tempat eksklusif dan mewah, memasukkannya ke lingkungan kelas atas yang ‘high’, dan membuatnya berteman dengan banyak selebriti, sosialita, juga politikus berpengaruh di negeri ini. Masakan ciptaannya semakin terkenal, diminati, serta mahal, dan pastinya itu berpengaruh pada jumlah angka nol di rekening pribadinya.
He’s rich. Handsome. Elegant. Classy. And... Single! Setidaknya itu yang selalu dia bilang, pada siapa pun yang menanyakan perihal pasangan hidup dan sejenis itu kepadanya. One of eligible bachelors in town, yang pastinya amat diinginkan perempuan mana pun untuk dimiliki. Dengan wajah se-cool itu, kulit yang eksotis, plus postur badan sempurna, dia bagaikan hidangan bukan cuma 3, melainkan 5 bintang Michelin di mata kaum hawa—mungkin juga kaum Adam, yang sedang mencari pacar, suami, bahkan mungkin selingkuhan. Hahaha. And that’s the truth.

...

Reaksi itu; ekspresi wajah itu... Ia sudah memprediksinya.
Saat ia memutuskan untuk batal bertunangan dengan Dario, pacarnya selama tiga tahun di malam saat makan malam dua keluarga dihelat di rumahnya, ia paham sekali konsekuensi yang akan ia terima.
Orang tuanya; mamanya terutama akan sangat syok karena malu. Begitu pun orang tua Dario, serta kerabat dekat mereka. Soma dan Danae akan mengomelinya—atau diam seribu bahasa, entahlah. Dan Dario... Well, ia pasti lega, karena terlepas dari tanggung jawab menjadi laki-laki brengsek yang ingin membatalkan pertunangan demi perempuan lain yang ia cintai lebih dari calon tunangannya. 
Pengecut, ia membatin. Dario; dan juga Tina, sahabat baiknya yang ternyata telah Dario cintai jauh sebelum mereka bertemu. Keduanya pengecut, karena telah membohonginya selama ini. Sungguh menyakitkan.
Aku sudah ketemu Tina, sebelum aku ketemu kamu, Lea.” Dario mengatakannya dua hari sebelum makan malam keluarga diadakan. “Dan aku cinta sama dia, dan dia sebaliknya. Dia nggak mau bilang kamu, karena dia nggak mau nyakitin kamu; sahabatnya.”
“Lebih baik bilang, daripada aku tahu belakangan kalian selingkuh.”
No, Lea. Kami nggak selingkuh. Aku mungkin brengsek, tapi dia nggak. Dia hindarin aku, sejak pertama aku dikenalin sama dia oleh kamu. Dia nggak balas telpon atau pesan teksku. Dia suruh aku menjauh waktu aku bilang aku masih cinta sama dia. Dan aku coba. Demi Tuhan, Lea. Aku coba. Tapi... hati nggak bisa bohong, aku—”
“Kamu mau batalin acara pertunangan?”
“Aku... Bukan begitu. Aku cuma mau kamu tahu, gimana perasaanku sebenarnya. Aku tersiksa, Lea. Benar-benar—”
Dan Dario tidak lagi bisa meneruskan kalimatnya, karena Lea telah membungkamnya dengan tamparan keras penuh kemarahan dan sakit hati yang luar biasa. Dan langsung pergi meninggalkannya sendirian di balkon rumahnya.
Berat memang menyingkirkan sesuatu yang begitu amat ia cintai; kekasih dan juga sahabatnya. Namun ia tak mau hidup dalam rasa gundah dan sakit hati seumur hidup dengan suami serta sahabatnya saling mencintai. Ia bisa saja tutup mata, tapi... hatinya jelas tak bisa. Jadi ia memutuskan untuk mundur. Karena untuk maju, kakinya sudah tak lagi bisa berjalan.

...

“Kalau ini keputusan terbaik,” Danae yang memeluk Lea erat, berusaha menenangkan. “Kami berdua dukung kamu. Kami ngerti perasaan kamu.”
Lea tak berani menatap Soma yang sejak masuk kamar tadi hanya berdiri bersandar di dinding dekat pintu; walaupun tak sepatah-kata pun terlontar dari mulutnya. Soma, sebelumnya berusaha keras membujuknya untuk tetap melangsungkan pertunangan dengan Dario demi nama baiknya sendiri juga keluarga. Namun apa daya, ia tak mampu melakukannya. Sungguh tidak bisa.
Ketukan di pintu membuat Lea mengangkat kepala dari bahu Danae. Ia menduga itu mama atau papanya, yang mungkin hendak melampiaskan rasa kecewa atau mencecarnya dengan banyak pertanyaan perihal pembatalan pertunangan. Tapi ternyata saat Soma membuka pintu, yang muncul adalah Dario. Mukanya merah, ekspresinya campuran rasa bingung dan malu.
“Lebih baik kamu pergi,” suruh Soma dari ambang pintu, tak membiarkan Dario maju lagi. “Ini bukan waktu yang tepat untuk ketemu.”
Dario melempar pandang ke Lea dari seberang. “Aku mau minta maaf,” katanya pada Soma, lalu ke Lea dengan tatapan memelas. “Please.
Lea bergeming. Tak bicara. Ia tegak di ujung tempat tidur, balas menatap.
“Sudahlah, Dario,” Danae bicara dari sebelah Lea. “Kamu dan Tina sekarang bisa bebas. Jangan ganggu Lea lagi.”
“Tapi—”
Just go, Rio,” potong Soma. “Dan bilang sama keluarga kamu untuk nggak ngoceh di depan press tentang Lea. Karena aku bisa publish statement balik ke media alasan sebenarnya pertunangan ini batal. Kamu nggak mau kan, kalau fans, PH, dan sponsor tahu soal kamu dan Tina?”
Dario menatap Soma kesal, tapi tidak bisa membalas.
“Kamu bisa bilang sama mereka, kalau pertunangan batal atas kesepakatan kalian berdua, karena kamu masih mau serius berkarir, dan Lea masih mau melanjutkan studi. Tidak kurang, tidak lebih.”
Dario melengos, seraya mengembuskan napas tajam. “Aku nggak pernah bilang pertunangan ini batal,” gumamnya dalam suara serak. “Ini hanya ditunda.”
Lea mengerutkan kening.
“Dengar, Lea?” Dario mendongak dan menatap Lea lurus dari tempatnya. “Ini hanya sementara.”
Lea menggeleng. “Be happy with Tina, Dario. Aku akan baik-baik saja.”
Dario tersenyum simpul sinis, setelah itu berpaling. Pergi.

...

“Sampai kapan kamu di sana?”
“Nggak tahu. Sampai pikiran nggak penat lagi.”
“Bisa lebih spesifik?”
Junan mendengus geli dan menggelengkan kepala. “Tenang, Yu. Restoran akan baik-baik aja. Mau ada aku atau nggak, everything will be fine.”
“Nan. Kalau kamu nggak ada lama, resto bisa sepi.”
Junan menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu, dan berkata mantap, “Nggak akan sepi. Percaya sama aku. Selama rasa dan kualitas makanan tetap terjaga, nggak ada yang harus dicemaskan. Jadi pastikan feedback customer jalan. Lagian, aku punya Sous Chef andal kan?”
Ganti Yu yang menggeleng. Memandang sekeliling ruang tunggu bandara dengan jengkel. “Kenapa mendadak aja kamu mau pergi? Sekarang pula; pas lagi high season gini.”
Junan membungkukkan badan, memandang sepatu kets Nike di kakinya, dan menatap kosong tali yang berselang-seling membentuk simpul. “Aku capek kayanya,” jawabnya setengah menerawang. “Kayanya... aku mau gila.”
Yu memandang Junan dengan alis berkerenyit. “Ada masalah apa sih?”
Bahu Junan mengedik sejenak. “Aku juga nggak tahu. Aku cuma ngerasa... kegencet.”
Dengus geli Yu membuat Junan menoleh, dan menegakkan badannya lagi.
“Aku nggak tahu memang, apa yang buat kamu stres—”
“Aku nggak stress,” Junan menyela buru-buru. “Aku cuma ngerasa...” Ia memandang lurus ke depan; ke arah orang yang lalu lalang. “kosong.”
Yu menjingkatkan alis. Tak mengerti apa maksud kata-katanya, namun menahan niatan untuk bertanya. Dan Junan tak berkata apa-apa lagi setelah itu. Ia cuma tercenung menatap lurus ke depan dengan raut muka yang muram.
“Kamu nggak happy?” tanya Yu, menyandarkan punggung ke belakang.
“Nggak tahu.”
“Kamu punya semuanya.”
Bibir Junan membentuk kerucut kecil. “Aku tahu, tapi... ada yang kosong. Dan... Aku jadi jenuh. Aku nggak tahu, tujuan hidupku itu apa sebenarnya. Aku ngerasa... nothing.”
“Kamu cuma capek, Nan,” Yu menyimpulkan. “Kalau gini yah... Better take vacation. But, please, jangan lama-lama. Aku nggak bisa galak sama anak-anak, jadi... kalau restoran kacau—”
“Kamu leader yang jauh lebih baik dari aku, Yu,” Junan kembali menyela. “Jadi restoran nggak akan kacau whatsoever. Stop to underestimate kemampuan kamu sendiri. Atau kamu memang berusaha sombong dengan bersikap humble?”
Yu menatap Junan dengan putus asa. “Kamu salah. Aku nggak—”
Junan tertawa kecil. “Aku tahu.”
Yu mendengus sinis, sembari memutar mata. Tapi kemudian senyum simpul melengkung di pipi kanannya. Kepalanya tertunduk sejenak.
Setelah itu terdengar pengumuman boarding dari pengeras suara. Junan berdiri, dan menyandangkan tali tas beperrgiannya yang sebelumnya ia letakkan di bangku sebelahnya ke satu bahu. Merogoh tiket dari saku jeansnya.
I go,” ia pamit.
“Oke. Take care,” balas Yu.
Kedua laki-laki jangkung itu berpelukan sejenak, sebelum akhirnya melepaskan diri. Dan Junan berpaling, lalu berjalan pergi. Yu tetap di tempat, memandang punggung Junan menjauh, sampai ia bergabung dengan antrian pengecekan bagasi bersama calon penumpang lain. Baru setelah Junan menghilang dari pandangan, ia memutar badan. Hendak pergi.
Saat ia melangkah santai menuju pintu exit, perhatiannya mendadak saja teralih. Dan apa yang dilihatnya, entah kenapa membuat hatinya seolah berdesir manis sekaligus menyakitkan.  Seolah saja waktu berhenti, dan dunia di sekelilingnya membeku.
Perempuan itu; dengan rambut digelung di pucuk kepala, earphone di kedua telinga, tas besar di bahu, dan gagang travel bag yang ia tarik mengikuti langkahnya, kaus putih kebesaran yang hampir melorot ke satu bahu, leher mungilnya, rambut coklat kemerahannya, bibir merah mudanya—semua yang ada di dirinya, entah kenapa membuat Yu tertarik seakan saja ia adalah magnet, melangkah dengan wajah tegak dan tatapan lurus ke depan. Dia cantik, tapi bukan itu yang membuatnya memesona, melainkan wajah sendu dan mata besarnya yang memerah dan berair. Dia, kelihatan rapuh. Tapi juga..., kokoh.
Andai saja Yu punya sedikit keberanian untuk dianggap konyol, dia akan menyambar lengan perempuan itu, dan mengatakan, “Halo” yang menuntun ke lebih banyak kata dan kalimat setelahnya—mungkin juga tamparan. Tapi dia terlalu waras, tidak punya kualitas nyeleneh seperti Junan, jadi yang bisa ia lakukan hanya membiarkan perempuan itu melintas di sampingnya; memandangi punggungnya semakin lama semakin jauh dari jangkauan pandang.
Setelah itu ia mengempaskan napas dan tersenyum simpul. She’s out of my league, ia membatin. Kembali melanjutkan langkah.
 ...

Nareen, nama temannya yang akan memberikannya tumpangan tempat tinggal selama dia berada di kota Lake Tekapo, New Zealand. Perempuan Indonesia, yang menikah dengan Hans, pengusaha apparel yang berkebangsaan Belgia, dan akhirnya menetap di Selandia Baru bersama kedua anak mereka.
Lea amat beruntung mengenal Nareen dan Hans; terlebih karena Nareen adalah salah satu fans dan peminat lukisannya, yang kerap kali mengundangnya untuk datang dan tinggal bersama mereka beberapa waktu. Dan akhirnya, setelah 3 tahun, baru sekarang Lea dapat menjawab undangannya, dan merasa bersalah karena alasannya untuk datang bukan murni karena ingin menghabiskan waktu bersama Nareen dan keluarganya, melainkan karena ingin lari sejenak dari keadaan yang menyiksanya di rumah dan juga sekelilingnya, setelah keputusannya  untuk tidak melakukan pertunangan dengan Dario.
Namun kedatangannya bisa dibilang tidak tepat atau memang tepat, karena begitu ia masuk ke SUV hitam Nareen yang menjemputnya di Lake Tekapo Airport, ia langsung mendapatkan kabar, kalau Nareen dan keluarganya akan berlibur ke Brussel esok harinya, untuk merayakan ultah ibu Hans yang ke 68 tahun serta mengurus bisnis selama beberapa waktu di sana.
“Kamu bisa tinggal selama kamu mau,” kata Nareen, setelah permohonan maafnya diterima oleh Lea yang berusaha meyakinkannya kalau ia tak perlu cemas, dan akan baik-baik saja sendirian di rumah tersebut. “Dan, ada teman Hans yang juga akan stay selama beberapa hari. Jadi kamu nggak akan sendirian.” Itu tambahan informasi darinya.
Dan malam itu, Lea menghabiskan waktu dengan keluarga Nareen dan Hans yang hangat, dan membuatnya jadi emosional, hingga terpaksa pamit untuk beristirahat lebih dulu.
Melihat keakraban keluarga mereka, apalagi sampai berada di tengahnya membuatnya teringat Dario serta janji-janjinya di masa lalu. Semua imajinasi indah mengenai ia dan Dario yang menikah, memiliki anak kembar, dan tinggal nyaman di sebuah rumah yang penuh bunga krisan dan Lili kembali teringat dan menimbulkan perasaan sakit di ulu hati dan panas membara di sekujur badan.
Ia tidak tahu apakah kebencian yang sedang ia rasakan, atau kesedihan yang luar biasa besar. Tapi apa pun itu, terasa amat menyakitkan dan seolah sedang berusaha membunuhnya pelan-pelan. Ia tersiksa. Dan ingin sekali berteriak mengumpat Dario juga Tina. Namun tentunya tak bisa selama ia berada di rumah ini bersama Nareen serta keluarganya. Ia juga bimbang, apakah dengan membenci dan merasa malang terhadap dirinya sendiri akan membuatnya merasa lebih baik.

“Jangan lupa nyalakan penghangat, karena udara sudah mulai dingin. Bisa beku nanti,” sekali lagi—untuk keberapa kalinya, Nareen mengingatkan sebelum ia naik ke mobil penjemput yang akan membawanya dan keluarga ke bandara.
“Ini bulan Juli,” dengus Lea.
“Di New Zealand, bulan ini adalah bulan paling beku. Jadi, kalau kamu keluar jalan-jalan, jangan pernah lupa parka, syal, topi rajut, juga ear-puff. Jangan kaya gini.” Nareen menggerakkan tangannya naik-turun ke kaus dan rip jeans yang Lea kenakan. “Boot; juga jangan lupa. Kamu bisa pakai salah satu punyaku di lemari sepatu. Di Jakarta mungkin boot cuma buat gaya-gayaan, di sini, untuk mencegah kamu nggak sakit tulang.”
Lea terkekeh, sementara Nareen memandangnya putus asa.
“Aku serius, Lea.”
“Aku tahu.” Lea segera menarik Nareen ke pelukan, dan entah kenapa jadi merasa sedih sendiri. “Thank you. Safe journey.”
Nareen balas memeluknya; erat. “Sori, kamu harus sendirian.”
Lea menarik tubuhnya, dan meremas kedua bahu Nareen. “Don’t be sorry. It’s ok. Now,” ia memutar tubuh Nareen menghadap van perak yang pintu gesernya membuka, “go.”
Mau tak mau, Nareen memanjat naik ke van. Dan sebelum menggeser pintu menutup, ia memandang Lea lagi; tersenyum. “Take care, Lea.”
Take care you. And you all.”
Lea melambai riang ke Hans, dan dua anak Nareen, Shawn dan Eve. Setelah itu mundur sedikit ke belakang, ketika Nareen menutup pintu dan mobil van yang ia tumpangi menderum siap pergi. Kembali melambai, saat mobil tersebut melaju pelan diiringi derak roda yang melintasi pekarangan berkerikil menuju gerbang.
Ketika mobil van perak itu menghilang dari pandangan, Lea tetap berdiri sejenak di tempat. Menarik napas dan mengembuskannya perlahan; mengamati kepulan menyerupai asap yang keluar dari hidung dan mulutnya setiap kali ia mengempaskan napas. Dingin memang. Hidungnya mulai berair dan tubuhnya menggigil oleh udara basah yang melayang di sekitarnya. Namun ia senang; karena ia memang menyukai suasana seperti ini, yang menurutnya menenangkan. Juga ternyata, mengingatkannya pada perasaan cintanya pada Dario selama ini. Selama 3 tahun yang menurutnya indah dan membahagiakan, dan terpaksa harus kandas begitu saja.
Tak sadar air matanya menitik. Meluncur ke pipi, lalu dagu. Disusul bulir demi bulir lagi setelahnya. Dan tanpa bisa ia tahan lagi, ia menangis. Keras, dan terisak-isak.

...

Rumah dinding kayu. Lantai 2, dengan balkon di roof top menghadap ke danau.
Junan, memerhatikan foto rumah yang ada di instagram temannya, Hans. Menekan layar ponsel, dan kembali menekannya lagi. “Pekarangan hijau. Kerikil,” ia menggumam sendiri.
Matanya beralih ke rumah berdinding kayu di seberang tempatnya berdiri sekarang.  Menjelajahi lansekap yang mengelilinginya. Di malam hari seperti ini, sulit memastikan apakah rumah itu adalah rumah yang sama dengan rumah yang dimaksudkan Hans sebagai rumahnya. Namun melihat bentuk, terlebih lagi karena rumah itu adalah satu-satunya rumah yang paling mirip dibandingkan rumah lain yang telah ia lewati, ia memutuskan untuk masuk.
Kalau bukan, ia membatin, aku akan minta si pemilik rumah untuk numpang nginap di sini. Orang New Zealand terkenal dengan kebaikan dan keramahannya. So...
Junan mencengkeram tali duffle bag-nya sembari berjalan menyusur jalan setapak luas berkerikil. Hawa dingin mulai terasa membekukan seluruh badan, hingga ia mau tak mau memeluk tubuhnya serapat yang ia mampu. Merasa bodoh sendiri karena tidak mendengarkan saran temannya, Troy, saat masih di Christchurch, untuk menyewa mobil carteran, dan malah memutuskan mencari alamat sendiri dengan berjalan kaki. Stupid indeed, makinya. Sok petualang, sementara kamu belum siap untuk bertualang.
Lega rasanya, ketika ia sampai di depan pintu kaca rumah besar tersebut. Tirainya tertutup rapat; baik pintu maupun jendela, sehingga ia tak bisa melihat ke dalam rumah. Hans mengatakan, teman istrinya yang akan menyambutnya. Namanya siapa, ia lupa. Tapi toh bisa ia lihat di record perkapannya dengan Hans di pesan teks. Nanti saja ia lihat.
Tak berlama-lama, Junan mengetuk pintu kaca keras. Mencari-cari bel di dinding samping pintu, namun tak menemukannya. Ia mengetuk lagi, dan kali ini suara langkah kaki yang tergesa terdengar dari dalam. Tirai digeser sedikit, dan wajah seorang perempuan berkacamata bingkai hitam bundar dengan rambut gelap yang dikuncir kuda terlihat di balik kaca. Alisnya berkerenyit.
Junan mengangkat tangan, untuk menyapa. “Aku teman Hans—”
Belum Junan menyelesaikan kalimatnya, perempuan tersebut menyibak tirai pintu lebar-lebar, sehingga Junan dapat melihat keseluruhan tubuhnya yang mengenakan sweater pastel kebesaran, jins denim, dan kakinya yang terbungkus kaus kaki tebal.
“Juna?” Perempuan itu bertanya begitu pintu kaca di hadapan mereka telah digeser membuka.
Mulut Junan menganga, keningnya berkerut. “Ya. Ya. Hans... panggil aku begitu. Jun—”
Can you step inside?” Perempuan tersebut menyela. Menggeser badannya ke pinggir sembari meringis kedinginan ketika angin mendadak saja bertiup menerpa ke arah mereka. “It’s freezing,” gumamnya lagi, mendekap badannya erat-erat.
“Oh—ya. Sure.
Junan masuk ke dalam dan perempuan itu cepat-cepat menggeser pintu kaca menutup, Menguncinya, dan kembali menutup tirai. Setelah itu ia, masih menggigil, menyodorkan tangan kanannya pada Junan. “Aku Lea.”
Junan menyambut tangannya yang mungil dengan tangan kanannya yang masih mengenakan sarung tangan. “Aku Jun—Juna.”
Sebelumnya Junan ingin mengatakan nama lengkapnya pada Lea. Namun, entah kenapa membiarkan Lea untuk tahu namanya dengan ‘Juna’ saja sudah cukup, tanpa repot-repot berpikir apakah Lea tahu siapa dia atau tidak. Kalau pun tidak, menurut Junan lebih baik. Karena ia akan lepas dari sikap sopan dibuat-buat atau agresif yang biasa ditunjukkan perempuan lain terhadapnya. Dan sebaliknya, ia juga tidak perlu tahu siapa Lea, selain teman dari istri Hans, Nareen, yang Hans bilang sedang berkunjung ke rumah mereka dan akan menemaninya selama di Tekapo.
“Perapiannya sudah nyala,” suara Lea mengembalikan Junan dari lamunan. “Jadi... kayanya aman kalau kamu mau lepas parka sekarang.”
Junan mengangguk-angguk. Meletakkan duffle bag di lantai, melepas kedua sarung tangan rajut, serta parka navy gelap yang ia kenakan seraya memandang sekeliling ruangan yang bercahaya terang, ditambah dengan pendaran oranye dari perapian elektrik di tengah ruangan yang cukup menghangatkan badan.
“Kamar kamu yang itu.” Lea menunjuk ke arah pintu sebelah kanan Junan. “Kamu bisa taruh tas kamu di sana. Aku mau... siapin makan malam dulu.” Ia mengakhiri dengan senyum kikuk kemudian berlalu.
Junan mengamati sosok Lea yang berjalan membelakanginya selama sejenak, sebelum mengangkat travel bagnya lagi, dan berjalan ke arah pintu kamar yang Lea tunjukkan.
Syukurlah, ia tidak secantik perempuan-perempuan yang aku kenal, batinnya. Ia tidak mau main hati sama sekali selama ber’hibernasi’ di tempat ini.




2

TIGA HARI telah berlalu sejak kedatangan Juna, dan Lea tak berniat sama sekali untuk mengenalnya lebih jauh selain berbasa-basi sekadarnya. Ia lebih memilih menghabiskan waktu di kamarnya untuk menggambar di buku sketsanya kala salju jatuh, atau membaca buku di perpustakaan mini yang menyatu dengan ruang kerja Hans dan Nareen di ujung rumah, sementara Juna, begitu langit cerah, sepertinya lebih memilih untuk keluar rumah dan menghabiskan waktu sampai sore hari. Pertemuannya dengan Juna, hanya berlangsung saat makan malam saja, tanpa pembicaraan yang berarti.
Beberapa kali Juna berusaha membuka pembicaraan, namun Lea selalu menghindar dan beralasan. Menurutnya lebih baik begitu. Karena bagaimana pun Juna laki-laki; dan ia, Lea, sedang dalam kondisi rapuh dan impulsif. Jadi, menjauh dari lawan jenis baginya merupakan solusi terbaik saat ini. Apalagi dari lawan jenis yang cukup tampan dengan tubuh jangkung atletis seperti Juna, yang membuatnya sulit untuk mengalihkan pandang.
Namun di hari keempat, Lea tak bisa mengelak lagi, ketika Juna mendekatinya di ruang tengah, setelah makan malam, kala ia sedang membaca Pride & Prejudice di sofa dekat perapian.
“Dingin.” Juna berjongkok di depan perapian. Menarik naik leher sweater hijau botolnya lebih tinggi lagi. Berpaling sebentar ke arah jendela, dimana angin mengetuk-ngetuk seraya mendesah kencang.
Lea mengerlingnya sejenak dari balik kaca mata bundar yang ia kenakan; tersenyum kecil. Sambil membaca barisan kalimat di salah satu halaman novel di pangkuannya, menimbang-nimbang kapan sebaiknya ia pamit masuk ke kamar.
“Apa kamu selalu baca?” Juna mundur sedikit ke belakang. Duduk di atas permadani bulu di depan perapian.
Wajah Lea menengadah, dan langsung bertemu pandang dengan Juna yang mengamatinya. “Oh. Ini cuma...” Ia menutup buku buru-buru, “pengisi waktu luang.”
Ia menyelipkan dengan gugup rambut depannya yang menjuntai ke hidung.
It’s ok.” Juna mendengus geli. “Kamu nggak perlu berhenti baca.”
Pundak Lea mengedik. “Aku juga mau balik ke kamar. Ngantuk.”
“Apa aku bikin kamu nggak nyaman?”
Mata Lea membulat. Terkejut mendengar kesimpulan Juna, dan dengan gugup menjawab, “No. Of course not.” Ia menyandarkan punggungnya lagi ke belakang.
“Sori. Aku cuma... mikir aja. Karena kamu sepertinya selalu menghindar setiap aku berusaha ngobrol sama kamu.” Juna tersenyum simpul, sementara Lea menundukkan kepala; merasa tak enak hati. “Aku pikir..., kamu takut sama aku.”
Lea mendengus tersenyum. Mengangkat muka. “Sama sekali nggak. Aku... Well, aku cuma... I don’t know.” Ia memalingkan wajah ke perapian. Tetiba terbayang Dario. “I’m sorry.”
Lea menatap Juna lagi, dan laki-laki itu tersenyum. Mata hitamnya seolah bersinar oleh derak jingga api di hadapan.
No need. Kamu punya alasan, dan, aku berharap, alasan itu bukan karena aku.”
No,” geleng Lea. “Nggak sama sekali.”
Then it’s fine. Karena aku sempat kira kamu mungkin anggap aku psikopat atau semacamnya.”
Juna tersenyum. Dan untuk pertama kalinya, Lea tersenyum untuk membalas. Benar-benar tersenyum.
Hening beberapa waktu setelahnya. Keduanya memandang perapian yang berderak-derak mengisi kesunyian dengan pikiran yang memenuhi benak masing-masing.
“Aku kemari dengan alasan ‘merenung’,” kata Juna kemudian, tanpa mengalihkan pandang dari percikan api di hadapan. “‘Menyepi’—apa pun itu namanya. Karena belakangan ini aku ngerasa... ‘kosong’.”
Lea meletakkan novel Pride & Prejudice di meja kopi samping sofa tunggal berlengan yang ia duduki, dan memandang Juna dengan senyum muram. Ia tidak tahu respon apa yang harus ia tunjukkan atas pemberitahuan Juna yang tak ia duga sebelumnya.
“Aku ngerasa apa yang aku punya saat ini; segala pencapaianku... nothing. Walaupun, untuk itu aku sudah berupaya amat keras, bahkan sampai sekarang.” Juna mendengus, menggeleng kecil, dan menoleh pada Lea lagi. “Sori.” Ia kelihatan membodohi dirinya sekarang. “Aku nggak tahu kenapa aku jadi cerita sama kamu. Kayanya aku lagi melo.”
Lea mendadak mendengus geli. Membuat Juna langsung menjingkatkan alis melihatnya. Tapi kemudian ia turut terkekeh. Mengatakan kalau ia lega mengetahui kalau Lea bisa tertawa.
“Aku ketawa, kalau ada yang benar-benar harus ditertawakan,” timpal Lea.
“Jadi pengakuan ‘galau’ku itu patut kamu tertawakan?”
“Aku rasa gitu.”
Ganti Juna mendengus geli.
By the way...” Juna menyandarkan punggungnya ke meja kayu pendek di belakangnya. “Kita belum saling ngobrol tetang masing-masing sejak hari pertama. Basically, we don’t know each other.”
Mulut Lea membuka pelan. Perasaan tak nyaman mulai merambat naik mulai dari ulu hati. Sepertinya ini waktu yang tepat baginya berpamitan untuk masuk ke kamarnya sebelum Juna mulai mengorek-ngorek tentang dirinya yang membuatnya terpaksa harus bertanya kembali perihal Juna. Tapi, tidak tahu kenapa, separuh badannya masih ingin tetap berada di atas sofa. Menolak untuk menuruti kemauannya yang sepertinya juga tidak sepenuhnya.
So, Lea. Siapa nama panjang kamu?”
Here we go. Dan Lea susah payah memutuskan untuk mengatakan nama lengkapnya atau tidak. “Apa... kamu nggak masalah kalau... aku nggak mau kasih tahu kamu?”
Kedua alis Juna berjingkat, tapi kemudian ia menggeleng mantap. “Nggak. Itu hak kamu.”
Lea menyunggingkan senyum kecil dan menggumamkan ‘thanks’ pelan.
“Kamu nggak mau tahu namaku?” Juna menyipitkan sebelah mata, menyeringai menggoda Lea.
Better not.”
“Oke. Bagaimana dengan... kerjaan kamu? What do you do for money?”
Sepertinya nggak akan masalah untuk kasih tahu dia profesi kamu, Lea. “Aku...” Lea menelan ludah susah payah. Ragu untuk memberitahu Juna.
“Kamu selalu gambar di buku sketsa tebal itu, kalau nggak baca,” sela Juna mendadak. “Apa kamu... illustrator atau... pelukis, gitu?”
Lea bengong. “Kamu merhatiin aku?”
“Siapa lagi yang bisa aku perhatiin, mengingat cuma kita berdua di sini.”
“Aku rasa kamu benar-benar punya bakat psikopat.”
Juna menggigit bibir bawahnya sembari mengangguk. “Kayanya gitu. So, apa benar? Atau... kamu... Chef? Masakan kamu enak. Aku senang makannya.”—Lea memutar mata ke atas—“Atau, kamu juga nggak mau kasih tahu apa kerjaan kamu?”
Lea meringis, mengedikkan satu pundak.
“Oke. Kamu nggak mau tahu apa kerjaanku?”
“Tadinya aku pikir kamu pengangguran sebelum kamu curhat melankolis barusan.”
Juna membelalakan mata, dan Lea tertawa.
“Apa yang bikin kamu mikir gitu?”
“Kamu di sini. Di New Zealand. Santai. Kamu kelihatannya nggak khawatir soal apa pun. You just... relax. Tapi... I don’t know.” Lea mengakhiri dengan dengusan.
“Jadi kalau aku punya kerjaan, aku mesti kelihatan cemas gitu?”
Sort of.”—Begitu lah.
Juna mengangguk-angguk. “Besok aku akan kelihatan muram di depan kamu. I have job, kalau kamu mau tahu. Dan alasan aku ke sini, kamu juga udah tahu.”
Lea terkekeh pelan.
What about you?” Juna menyilangkan kedua tangan di dada. “Aku yakin kamu bukan pengangguran. Kamu kelihatan cerdas untuk nggak punya pekerjaan.”—Lea menggelengkan kepala, sambil mendengus geli—“Tapi kamu juga terlalu tegang, untuk vacation. Kamu nggak mungkin kriminal yang ngelariin diri ke sini; so, what are you doing here?”
Senyum simpul Lea tersungging tipis. Kepalanya tertunduk sejenak, dan ia menghela napas panjang. Dario lagi-lagi mengisi benaknya, dan ia jadi ingin menangis. Don’t, Lea, cetus suara di kepalanya galak. 
“Hm...” Juna kembali mengangguk-angguk. “Aku rasa kamu juga nggak mau kasih tahu soal itu.” Ia mengangkat kedua bahunya. “So, be it.
Lea tertawa kecil. “Aku ke kamar dulu.”
Dan ia menurunkan kedua kaki lalu berdiri. Merapatkan cardigan rajut selututnya di dada, mengambil Pride & Prejudice dari atas meja kopi, kemudian beranjak pergi.
“Selalu tidur jam 9?” Juna bicara, saat Lea hanya baru beberapa langkah menjauh.
Lea berhenti. Kepalanya ditolehkan ke arah Juna yang menengadah memandangnya.
“Jangan bilang, kamu merhatiin itu juga,” ujarnya dengan kening dikerutkan.
“Kamu selalu masuk kamar jam 9. Dan lagi-lagi, cuma aku sama kamu di sini. Sulit untuk nggak nganalisa.”
Lea mendengus, lalu terkekeh. Menggelengkan kepala tak percaya. “Aku masuk dulu.” Ia kembali melangkah.
Good night,” ucap Juna.
Lea memalingkan muka. Juna sudah menghadapkan kepalanya menghadap perapian kembali.  “Jangan lupa matikan perapiannya,” balasnya.
Setelah itu ia masuk ke kamar. Menutup pintu di belakangnya perlahan.
...

Junan merasa perempuan yang berada di dalam rumah bersamanya ini memendam sesuatu yang menyesakkan. Terlihat dari wajahnya yang seringkali muram secara tiba-tiba di tengah perbincangan mereka, bagaimana pun seru dan lucu topiknya (Lea sudah mulai mau berbicara dengannya sejak pembicaraan mereka dua malam lalu). Atau, mendadak saja ia membeku dan bernapas dalam selama sejenak di berbagai situasi yang tak semestinya. Seakan saja ada ingatan penting yang transit beberapa detik di benaknya, dan membuatnya berupaya keras menahannya. Atau mungkin sebaliknya; ia berusaha mengusir apa pun yang tetiba mengisi pikirannya. Junan ingin sekali menanyainya. Karena entah kenapa, semakin ia bersosialisasi dengan Lea, semakin ia ingin tahu banyak tentangnya. Bukan karena ia suka padanya—suka dalam artian ‘suka’ sebagai teman tentunya, melainkan karena ‘ketidakrumitan’nya.
Lea tidak banyak bicara. Ia melakukan sesuatu dalam diam, tanpa omongan tak perlu. Saat tak ada yang dikerjakan dalam rumah, ia membaca atau menggambar di buku sketsa sampul abu metaliknya—Junan benar-benar ingin melihat apa yang ia gambar.  Dia, anteng sekali. Tenang. Tapi bukan semacam tenang yang benar-benar tenang. Ada pergolakan yang berlangsung di tubuhnya yang kurus itu, yang sedang ia tahan sekuat tenaga, namun malah membuatnya terlihat rapuh karenanya. Dan Junan ingin tahu, apa alasannya.

“Terang hari ini.”
Junan berdiri di sebelah Lea yang sedang memandang kosong keluar jendela, sambil menyeruput kopi dalam mug yang dibawanya. Membuat Lea tersentak, menoleh sejenak, kemudian kembali menatap jendela dengan senyum simpul samar.  
Mereka baru saja selesai sarapan, dan Lea langsung pergi ke ruang depan bersama buku sketsanya setelah ia selesai mencuci piring dan merapikan meja makan.
We should go out.”
Dahi Lea berkerenyit, kembali menoleh. “We?
Junan nyengir. “Ya.” Ia meneguk sisa kopi di cangkir. “You and I.”
“Nggak ah.”
Lea memutar badan, lalu melempar badannya ke sofa panjang berlengan dekat jendela. Sementara Junan masih berdiri menghadap jendela meneguk sisa kopi sedikit-sedikit, seraya menikmati sinar matahari yang hangat.
“Cuacanya bagus.” Ia menempelkan pinggulnya di puncak kursi. “Bagus buat jalan-jalan.” Ia meminum kopinya lagi.
Lea tidak menghiraukan. Sudah mulai sibuk mencoret-coret pensil arang di salah satu lembar sketch book-nya. Junan memalingkan muka padanya, dan mengembuskan napas tajam.
“Kamu juga bisa cari inspirasi gambar di luar,” Junan masih berusaha mempersuasi. “Dan vitamin D bagus buat kulit.”
Tak ada suara.
Junan berdecak pelan. Berjalan memutari sofa, menaruh mug di permukaan meja, lalu menyambar kaca mata bulat Lea. Lea mendongak, membulatkan mata pada Junan tanda protes.
Matanya coklat dan besar-besar, batin Junan, baru menyadari. Alisnya pekat dan tertata rapi secara natural. Bibirnya yang mengerucut berwarna pink, dan kulit wajahnya pucat tanpa rona. Semua deskripsi tersebut terlintas di benak Junan, seolah saja ia baru pertama bertemu Lea. 
“Tolong kembaliin kacamataku,” pinta Lea judes.
Alih-alih memberikan kacamata rampasannya pada Lea, Junan malah mengenakannya sendiri. Dan baru tahu kalau kacamata tersebut tidak ada minus atau plusnya sama sekali.
“Ini bahkan bukan kaca mata baca.” Ia melepasnya dengan kedua tangan, dan mengamati dua kacanya dengan kening mengerut. “Apa perlunya kamu pakai ini?”
Just give it back.”
Lea mendorong punggungnya untuk menggapai kaca mata di tangan Junan, tapi gagal karena Junan mundur.
Go out with me.” Ia kembali mengenakan kacamata tesebut.
No.”
“Ayolah, Lea. Nggak bagus ada di dalam ruangan terus. Lagipula..., kamu di Selandia Baru. Tekapo Lake Town. Lot things yang bisa kamu eksplor dan lihat. Banyak pemandangan bagus.”
“Aku nggak tertarik. Aku lebih senang di dalam rumah di cuaca yang nggak bisa diprediksi kaya gini.”
Lea kembali mendesakkan pinggulnya ke lengan sofa. Berancang-ancang membuka sketchbooknya lagi. Tapi Junan sekali lagi merampasnya. “Kamu bisa gambar di luar nanti.”

Dan ia berpaling, berjalan pergi dengan sketchbook di tangan tanpa menghiraukan protes Lea. Sempat berseru sebelum ia menghilang ke kamarnya agar Lea segera mengganti bajunya. 

(Bersambung)

koalasplayground.com 2017 03 19 gong-yoo-warms-the-eyes-and-soul-in-everyday-spread-for-epigram
gambar dari sini

Read more...

The Adorables (New Plot): Chap 1 & 2

>> Sunday, November 27, 2016


1


Nice. Rain.”
Perempuan berambut ikal coklat sepunggung itu menengadahkan wajah ke arah langit kelabu dengan putus asa. Butiran air, awalnya satu-satu, dua-dua sampai akhirnya tak terhitung kini berjatuhan membasahinya.
Sambil melindungi kardus di dekapan, ia loncat ke tepi. Berlindung di bawah atap deretan ruko yang trolinya tertutup rapat. Dibenarkannya tali tas di pundak, diangkatnya kardus lebih ke atas agar lebih nyaman dibawa, setelah itu diam menunggu. Berharap hujan segera reda agar ia bisa pulang ke rumah secepat mungkin.
Payung-payung berbagai bentuk dan warna kini berlalu di hadapan bersama pemiliknya yang melangkah tergesa di trotoar basah. Air yang menggenang beberapa kali memercik ke arah kaki si perempuan yang cuma bisa berdecak kesal ke arah orang-orang yang tanpa sengaja mengotori sepatu putih berhak 2 sentinya.
Beberapa kali ia bergeser ke tempat yang dipikirnya bebas ciprat, namun sepertinya sia-sia. Jadi ia cuma bisa mendengus kesal dan berdecak saja setiap ada orang yang tak sengaja menyipratkan air ke arahnya.
Bad day?
Spontan, perempuan itu menoleh ke arah darimana suara berat yang didengarnya berasal. Mengejapkan mata begitu bertemu pandang dengan seorang laki-laki tampan yang mengenakan parka hitam yang berdiri tak seberapa jauh di sebelahnya.
Sejak kapan ia di sana?
Jujur saja, ia tak pernah melihat wajah setampan itu. Terutama wajah tampan yang tanpa alasan mendadak bicara dengannya. Badannya jangkung tegap. Kulitnya putih, dan rambutnya lurus gelap sebatas tengkuk. Ia sepertinya seumuran dengannya; mungkin lebih tua sedikit.
Tak mau geer, si perempuan menoleh ke samping. Berpikir mungkin saja laki-laki tersebut sedang bicara pada perempuan cantik yang berdiri di sebelahnya. Namun tak ada siapa pun, dan memang sejak tadi tak ada, jadi ia cukup yakin ketika memutuskan menjawab kikuk pertanyaan laki-laki tersebut.
“Sedikit.” Suaranya kedengaran agak parau di telinganya sendiri. Si perempuan berharap ada sebuah filter kasat mata yang membuat suara tak enaknya sampai dengan merdu di telinga si tampan.
“Kardusnya kayanya berat.”
“Lumayan.” Ia mencoba tersenyum kendati meringis.
“Perlu saya bantu bawa?”
Perempuan itu membeliakkan mata dan menolak buru-buru dengan menggeleng panik. Si laki-laki tertawa. Tawa yang renyah sekali.
“Saya Dai,” laki-laki itu memperkenalkan diri. Melambai sekilas.
“Saya…, Lea.”
Biasanya ia—Lea—tidak pernah sembarangan menyebutkan namanya pada orang asing. Namun entah kenapa untuk laki-laki ini ia membuat pengecualian. Seakan saja ia kena hipnotis atau memang ia tidak punya pikiran negatif apa pun pada laki-laki bernama Dai ini. Tapi ngomong-ngomong, namanya unik sekali?
“Apa isinya? That box?”
Lea menunduk sejenak ke celah kecil permukaan kardus yang didekapnya, baru kemudian menjawab lemah. “Barang-barang saya dari kantor.”
“Mau dibawa kemana?”
“Pulang.”
“Boleh, bawa barang-barang dari kantor pulang?”
“Hari ini hari terakhir saya kerja.”
“Oh. So…, udah dapat kerjaan baru kalau gitu?”
Senyum bingung dan gelengan kepala. Itu saja yang didapat Dai sebagai jawaban. Membuat keningnya berkerut, dan kemudian mengucapkan ‘sori’ yang kedengaran merasa bersalah.
No. But it’s fine. Yang penting sisa gaji dibayar full hari ini,” Lea bicara buru-buru untuk memperbaiki situasi.
“Kamu… dipecat?”
Susah menjawabnya, tapi memang begitu kenyataannya. Atasan Lea—mantan atasannya sekarang, mendadak saja memanggilnya pagi ini, dan mengatakan kalau ia tidak lagi dibutuhkan di perusahaan.

Maaf, Lea. Kami harus melepas kamu hari ini juga. Sulit, tapi saya sudah tidak bisa apa-apa lagi. Jadi, kamu bebas untuk meninggalkan kantor jam berapa pun. Tentu saja setelah kamu melakukan proses serah-terima dengan dengan baik dan lengkap.”
“Tapi… kenapa tidak ada pemberitahuan sebelumnya, Pak? Salah saya apa?”
“Maaf, saya tidak bisa memberitahu. Tapi ini sudah keputusan perusahaan. Kami akan memberikan Surat Keterangan Kerja dan membayar penuh gaji kamu bulan ini, serta gaji sisa masa kontrak kamu.”

That’s it. Itu saja. Pengabdiannya selama hampir tiga tahun lebih berakhir dengan membingungkan dan tanpa penjelasan yang masuk akal dari siapa pun di sana. Dan begonya, ia pun tak berusaha lebih keras untuk mendapatkannya.
Dan meskipun ia tahu kalau ia bisa saja menuntut dan mengadukannya ke Dinas tenaga kerja, ia memilih untuk diam. Pasrah. Ia pacifist—pencinta damai. Toh, gajinya dibayar penuh, berikut gaji sisa masa kontraknya. Ya sudahlah.
“Benar-benar ‘bad day’ kalau begitu,” Dai kembali berkomentar setelah mendengar cerita singkatnya.
“Ya. Sepertinya. Untuk saya.”
Don’t worry,” Dai memberikan senyum menawan yang menenangkan. “Badai pasti berlalu.”
Lea tak tahu harus membalas dengan kalimat apa. Saat ini kalimat seceria apa pun akan sulit menghibur hati sedihnya. Tapi dengan alasan kesopanan, ia tersenyum walau setengah hati.
Tak ada yang bicara setelahnya. Lea sekarang bengong dengan kardus di depan dada, memandangi jalan raya di depan yang mengilap basah oleh air hujan. Sementara Dai, ia memerhatikan Lea dari atas ke bawah seolah menilai selama beberapa waktu sampai akhirnya ia kembali bicara.
“Apa mata kamu benar-benar abu-abu?”
Itu pertanyaan yang tak Lea duga sama sekali. Matanya melebar pada Dai selama sejenak dan buru-buru ia normalkan saat ia berkata, “Kelainan genetik.” Semacam jawaban mudah yang biasa ia lontarkan untuk merespon pertanyaan sejenis itu.
“Berarti keluarga kamu… nggak ada yang punya bola mata kaya kamu?”
Lea menggeleng. “Sudah saya cek sampai ke cicit. Dan, nggak ada satu pun yang warna matanya kaya saya. Mendekati saja nggak.” Ia tidak mengerti kenapa ia gamblang saja bercerita pada Dai tentang hal yang sifatnya pribadi.
“Seenggaknya itu bikin kamu jadi lebih spesial. Dan… abu-abu cocok sekali buat kamu. Pretty.”
 Lea merona. Seluruh badannya sepertinya. Karena dinginnya udara yang menerpa tak lagi ia rasa seiring rasa hangat yang merambat turun dari kepala ke kakinya.
“Sori, kalau lancang,” Dai buru-buru menjelaskan. “Tapi—”
Lea mengibaskan kepala. “No. Cuma…, kamu orang pertama yang muji saya. Jadi perlu adaptasi sedikit.”
Dai terkekeh. Dia tampan sekali saat tertawa. Dan ketika ia bergeser mendekat, Lea tambah grogi. Mencengkeram kotak kardusnya lebih erat, mengimbangi denyut jantungnya yang seolah lebih semangat berpacu,
“Kalau kamu butuh kerjaan…, saya bisa kasih pekerjaan.”
Mata Lea seketika melebar. Namun ia cepat tersadar. Dengan cepat mengembalikan matanya ke ukuran semula.
“Pekerjaan apa?”
Dai memasukkan kedua tangan ke saku jins, dan bersandar ke troli di belakang. “Rumahan.”
“Maksudnya?”
“Sekarang ini kami sedang butuh Companion.”
Companion? Teman?” Lea juga ingin mengatakan hewan peliharaan, tapi urung. Meskipun ia tetap berpikir kalau titel Companion biasanya memang ditujukan pada binatang peliharaan. 
“Pendamping, lebih tepatnya. Untuk seseorang yang perlu ditemani oleh seseorang yang… sabar dan memang senang melayani orang lain. Mungkin kamu cocok.”
Cocok dari mananya? “Saya nggak punya pengalaman merawat orang sakit.”
“Siapa bilang dia sakit. Dia sehat, bernapas dan berjalan. Kamu nggak perlu kepikiran untuk memandikan atau mengantar ke toilet.” Dai terkekeh.
“Kenapa butuh pendamping?”
“Untuk menghiburnya. Biar nggak marah-marah terus.”
Lea mendengus, matanya sedikit membulat. “Orang tua kamu? Atau—”
“Adik.”
Kali ini mata Lea melebar sempurna. “Be—berapa umurnya”
“Sepertinya kalian seumuran.”
“Saya mau 21.”
“Sama. Shinji juga segitu.”
Namanya Shinji. Jepang banget. Cowok pastinya.
“Memang kenapa dia marah-marah?” Lea merasa dia harus menanyakannya.
“Karena dia harus stay di rumah terus. Nggak boleh kemana-mana. Dia alergi udara. Kami harus buat satu bangunan tambahan untuk dia tinggali. Karena dia tidak bisa tinggal bareng kami. Jadi interaksinya dengan manusia lain kurang, dan itu membuatnya stres kadang-kadang.”
“Dia nggak kerja?”
Dai kembali tertawa. Suara tawanya begitu merdu dan lembut bagai beledu. “Dia alergi udara kan?”—Lea meringis, membodohi diri. “Tapi dia melukis. Dan lukisannya sangat bagus. Kami mengirimkannya ke banyak galeri, dan dia sudah punya pelanggannya sendiri.”
Lea ber-oh panjang. “Tapi… saya sepertinya nggak cocok untuk pekerjaan itu. Saya bukan orang yang sabar-sabar banget.”
“Gajinya besar,” Dai mempersuasi. “Pekerjaannya santai.”
“Saya harus tanya kakak saya dulu,” Lea menggumam tak jelas.
“Hm. Oke. Saya harap ia mengijinkan dan kamu bersedia. Akan menyenangkan sekali, kalau kita bisa ketemu tiap hari di rumah.”
Ekspresi wajah Dai, kalau Lea tidak salah tangkap, benar-benar penuh pengharapan. Dan dari nada suaranya yang berubah lemah saat mengucapkannya, terdengar amat tulus. Dan itu membuat Lea tersanjung.
Ia tersenyum, mengangguk dan mengangkat bahu. Yang dibalas Dai dengan senyum simpul menawan, membuat Lea harus mengalihkan pandang untuk mengontrol perasaannya. Sumpah, ia sangat tampan. Membuat kakinya seolah kesusahan menopang berat tubuhnya sekarang.
Dai merogoh saku belakang jinsnya, menarik keluar dompet kulit mengilap dan membuka lipatannya. “Ini.” Ia menyodorkan kartu nama yang baru saja dikeluarkannya pada Lea. Warnanya hitam pekat, tulisan di permukaannya sedikit dan dituliskan dengan tinta emas. “Kartu namaku. Kalau aku nggak ada, kamu bisa ketemu Malini. Dia... tinggal denganku.”
Lea menerima kartu nama tersebut dengan gundah. Ternyata Dai sudah punya pasangan. Dan itu membuatnya sedikit kecewa, meskipun ia tidak tahu kenapa ia mesti kecewa. Ia menunduk dan langsung menemukan nama Dai di ujung kanan atas kartu: ‘Dai Tanaka’. Namanya Jepang juga. Tapi ia lebih pantas jadi orang Korea, mengingat perawakannya yang jangkung tegap.
Dan ia tinggal di…. Mata Lea membeliak begitu membaca alamat rumahnya. Board House?!
Lea membaca baik-baik alamat yang tertera, dan benar-benar tercengang setelahnya. Ia tahu rumah yang dimaksud. Dan ia tak habis pikir kalau Dai tinggal di rumah yang selama ini amat dijauhi orang-orang satu komplek perumahan dimana ia tinggal. Sejak ia kecil sampai sekarang.
Tapi sejak kapan Dai menghuni rumah itu? Tidak ada aktivitas yang menandakan perpindahan orang atau satu keluarga mulai dari kemarin sampai dengan hari ini. Bahkan saat ia berangkat ke kantor tadi pagi, tak ada apa pun yang terjadi di gang depan rumahnya. Jadi, ini mustahil.
“Rumah kamu… sepertinya dekat sekali dengan rumah saya,” katanya ragu.
“Oh ya?” Dai menelengkan kepala.
“Dekat sekali malah.”
“Sedekat apa?”
Well, sepertinya rumah kamu ada di ujung gang di depan rumah saya.”
Bibir Dai membentuk kerutan yang membuatnya kelihatan tambah menawan. “Kita tetangga kalau begitu?”
“Sepertinya… ya.”
Sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti mendadak di depan mereka. Pintunya terbuka cepat, mengantarkan seorang laki-laki berjas hitam turun dengan payung hitamnya yang ia buka sebelum menjejakkan kedua sepatu mengilapnya di trotoar. Satu lagi laki-laki tampan, Lea membatin.
“Dai san.” Laki-laki itu mengangguk hormat pada Dai. “Maaf, saya terlambat menjemput.”
Mata Lea bergerak dari Arata ke Dai lalu ke Arata lagi. Dia berpikir, dan yakin, kalau Dai bukan orang sembarangan.
“Nggak apa, Arata. Saya jadi bisa… kenalan dengan Lea.” Dai mengedipkan sebelah mata pada Lea. “Dan, dia ternyata tetangga kita.”
Arata tersenyum, mengangguk penuh sopan-santun pada Lea. Dan Lea, mengikuti teladannya, balas mengangguk meskipun grogi.
“Kita bisa antar dia pulang sekalian,” kata Dai lagi, yang segera direspon dengan gelengan panik oleh Lea.
“Nggak usah. Nggak perlu.”
Dai mengabaikan. Ia mengambil alih kardus yang dipegang Lea dan memberikannya pada Arata, yang menerimanya dengan satu tangan. Kardus itu memang nggak berat-berat amat sih. “Kamu pulang sama kami. Agar bisa cepat sampai di rumah tanpa harus kehujanan.”
Lea mengerling kardus yang disangga oleh tangan Arata. Menyadari kalau tak ada yang bisa ia lakukan lagi, selain menuruti saran Dai yang tak bisa dikompromi.
Arata menyerahkan payung pada Dai, dan Dai berkata, “Ayo,” pada Lea, yang dengan salah tingkah maju dan berjalan di samping Dai. Satu payung berdua. Lea tak tahu harus menganggapnya keberuntungan atau apa.
“Silakan,” ujar Dai, membiarkan Lea masuk lebih dulu ke bagian belakang mobil.
Lea menurut dan melompat masuk. Menempatkan dirinya di jok empuk. Agak ke ujung sebenarnya, sehingga sisi kanan badannya hampir menempel sempurna ke pintu. Jujur saja ia benar-benar gugup mengetahui kenyataan kalau ia benar-benar berada di dalam mobil mewah, duduk bersisian dengan laki-laki tampan, yang sekarang duduk nyaman di sampingnya. Berupaya menghindari kemungkinan kalau tak sengaja kulitnya menyentuh bagian mana pun dari badan Dai. Ia yakin, ia akan tersetrum kalau itu sampai terjadi.



2

RUMAH MEREKA dekat. Di komplek perumahan elit, yang sebenarnya wajar saja ditinggali oleh orang-orang seperti Dai, yang orang tua atau keluarganya, mungkin adalah pejabat tinggi, artis papan atas atau pengusaha sukses dengan kekayaan yang takkan habis tujuh turunan. Jauh beda dengan keluarga Lea, yang kebetulan saja beruntung mendapatkan hibah sebuah rumah di Board House dari seorang dermawan. Meskipun begitu, tetap saja ia penasaran perihal kepindahan Dai Tanaka beserta keluarganya ke komplek rumah yang sama dengannya. Ingin bertanya, namun sungkan. Lagipula ia tak mau Dai berasumsi kalau ia kepo dengan menanyainya hal-hal yang tak semestinya ia tanyakan.
“Rumah yang bagus.” Kepala Dai menengadah ke arah dua jendela loteng yang menjorok ke luar saat ia mengomentari rumah Lea. “White.”
Lea yang baru saja turun dari mobil, segera mengambil kardus di tangan Dai, lalu turut memandang rumah bercat putih—catnya sama sekali tak pernah lapuk sedikit pun dari dulu, dan masih berdiri kokoh serta elegan. “Ya. Kalau saja almarhum papa dan mama saya mengijinkan saya dan kakak saya mengecatnya dengan warna lain, tampilan rumah ini pasti akan lebih menyenangkan. Sayangnya mereka suka sekali putih.” Lea menunjukkan deretan giginya yang rata pada Dai.
“Orang tua kamu sudah meninggal?”
Lea mengangguk. Merengkuh kardus di depan perutnya erat. “Papa baru setahun kemarin. Mama, tiga tahun.”
“Sakit?” Dai kelihatan sekali prihatin.
Lagi, Lea mengangguk. “Papa jantung. Mama, kanker otak.”
“Maaf.”
It’s ok.” Senyum Lea mengembang lebar. Entah kenapa rasa groginya pada Dai hilang. “Sudah lama juga. Jadi nggak terlalu sedih. Kangen iya.”
“Orang tua saya juga sudah nggak ada,” tutur Dai, tersenyum menenangkan. “Jadi kita sama.”
“Sori.” Sekarang Lea yang merasa tidak enak. Tapi Dai terkekeh, dan mau tak mau ia juga ikut terkekeh. “Thanks, sudah antar saya,” ucap Lea setelah tawa mereka reda.
“Rumah kita dekat, jadi kewajiban tetangga untuk mengantar tetangga yang memerlukan bantuan.”
Tertawa lagi.
“Oke. Saya masuk dulu. Kamu mau mampir dulu?” Lea menawarkan, dengan alasan kesopanan.
Dai tidak langsung menjawab. Keningnya berkerut ke arah jendela loteng. “Lain kali mungkin,” gumamnya tanpa memandang Lea. “Lagipula,” senyumnya kembali mengembang, “Malini pasti sudah kemari membawakan bingkisan. Jadi, itu sudah cukup mewakili.”
Malini lagi. “Istri kamu pasti cantik sekali,” komentar Lea. Tak tahan.
Dai mendengus tertawa—Oh, dia tampan setengah mati. “Malini itu sepupu saya.”
Muka Lea merah padam, sekaligus lega. “Maaf.”
“Nggak apa-apa. Kamu berhak menyimpulkan begitu dan saya harus menjelaskan. Kalau kamu akan kerja di Black House, kita akan sering ketemu. Jadi lebih baik kalau kamu tahu dari awal.”
“Black House?”
“Kamu bisa lihat sendiri nanti.”
Lea memilih untuk meringis daripada merespon secara verbal.
“Oke. Silakan istirahat, Lea.”
“Oh, ya. Tentu. Thanks again.”
You’re welcome. See you tomorrow then?”
Lea kebingungan. “Saya…”
“Setidaknya datang saja dulu ke rumah,” sela Dai cepat. “Akan senang sekali menerimamu di rumah kami.”
Untuk pertama kalinya, Lea tersenyum lebar yang amat riang. Sejak tiga tahun lalu ditambah setahun saat papanya meninggal, dan hari-hari setelahnya saat ia dan Mina harus bekerja ekstra keras untuk melunasi hutang yang ditinggalkan papanya untuk mempertahankan rumah mereka agar tidak ikut disita oleh Bank, akhirnya sekarang ia bisa merasakan kebahagiaan yang sebenarnya. Hanya karena kalimat yang diucapkan Dai barusan.
Bye, Lea.” Dai membuka pintu mobilnya.
Bye.”
Dai masuk ke mobil dan menutup pintu. Sebelum mobil melaju, ia menurunkan jendela dan berkata lagi pada Lea, “Semuanya akan baik-baik saja, Lea. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.”
Lea tidak mengerti maksud Dai, namun ia menganggap apa yang diucapkannya adalah penghiburan atas dirinya yang kehilangan pekerjaan. Jadi ia mengangguk dan mengucapkan terima kasih tulus padanya, serta melambaikan tangan untuk melepasnya pergi.
Mobil sedan hitam itu kemudian berlalu. Berbelok ke gang besar di depan. Lea ingin melihat sampai sedan tersebut berada di depan pagar hitam karatan di seberang, namun tak ingin Dai berpikir kalau ia memata-matainya. Jadi ia berpaling. Membuka pintu pagar, dan menyusur jalan setapak dengan langkah santai. Hatinya senang. Sangat senang.

“Kak!”
Lea meletakkan kardus di atas buffet di ruang tamu. Di sebelah keranjang rotan hitam pekat berisi banyak penganan yang dibungkus plastik bening dan dihias dengan pita emas. Pasti bingkisan yang disinggung Dai tadi, pikir Lea. Kartu ucapannya juga berwarna hitam dengan logo ‘K’ besar timbul di permukaannya.  Sama dengan huruf ‘K’ yang ada di sisi lain kartu nama Dai. Apa artinya? Mungkin bisa ia tanyakan padanya langsung kalau mereka bertemu lagi.
“Kak,” ia memanggil kakaknya lagi, seraya melepas jaket dan menyampirkannya di puncak sofa. Melanjutkan berjalan ke ruang tengah, dengan bayangan kalau Mina, kakaknya, pasti sudah berada di dapur untuk masak makan malam saat ini.
Tapi ternyata tidak. Mina sedang duduk di sofa kulit berlengan di ruang tengah dengan kepala tertunduk. TV menyala, tapi tak bersuara. Ia juga masih mengenakan seragam bank tempatnya bekerja. Tidak biasanya.
“Kak?”
Mina seakan tersadar dari sesuatu yang sedang dilamunkannya. Kepalanya menegak kaget, dan langsung menoleh dengan ekspresi terkejut yang tak diduga. Matanya sembap, dan ia berusaha menyembunyikannya dengan memalingkan wajah buru-buru.
“Ada apa?” Lea duduk di sebelahnya.
Ia memandang sekeliling; ke arah buffet dimana TV 29 inci bertengger di tengah permukaannya; ke dinding putih kusam yang dipenuhi foto keluarga, jendela kaca besar yang bergorden motif bunga matahari yang sudah pudar, jam dinding merk Sharp, yang jarumnya sudah tak bergerak lagi, baru kemudian kembali ke Mina, yang telah bergeser menghadapnya.
“Gimana pekerjaan kamu?” Mina menanyai Lea dengan senyum yang kentara sekali dipaksakan untuk ceria. Menarik lepas ikat rambutnya dan membiarkan rambut lurus hitamnya terjurai menyentuh bahu.
“Ini hari terakhirku,” jawab Lea. Menyandarkan punggung ke belakang.
“Maksudnya?” Mina kelihatan syok. Dahinya berkerut amat kuat, sehingga menimbulkan lipatan-lipatan tegas di permukaannya.
“Ya…, mulai besok aku nggak kerja lagi di sana. Mereka bilang tidak bisa mempekerjakan aku lagi. Jadi aku dipersilakan pergi.”
“Kamu dipecat?”
Lea mengedikkan satu pundak, mengembuskan napas tajam dan berkata, “Anggap saja begitu,” tanpa ekspresi berarti.
Entah kenapa ia tidak terlalu cemas lagi dengan itu. Yakin, kalau semua akan baik-baik saja. Pertemuannya dengan Dai membawa sedikit harapan baru baginya.
“Kakak kenapa?” Lea menanyai Mina kemudian, teringat wajah sedihnya beberapa saat lalu. “Kakak kelihatan… sedih.”
Mina menggeleng pelan. Senyum simpul samar tersungging di wajah cantiknya. Ia melepas kaca mata minusnya, dan menekan-nekan tulang hidungnya. Matanya tampak lelah. Usianya masih dua puluh tujuh tahun, tapi dia kelihatan seperti perempuan paruh-baya sekarang.
Lea merasa bersalah sekali padanya.
“Apa… ada tagihan lagi?” Ia memberanikan diri bertanya. “Aku masih punya tabungan dan sisa gaji dari kantor, mungkin cukup—”
“Nggak.” Mina menjingkatkan alisnya sebagai penegasan. “Itu tabungan kamu. Untuk lanjutin kuliah. Dan mungkin ini saat yang tepat untuk kamu apply kuliah lagi. Kamu nggak mungkin dapat kerjaan secepatnya kan? Jadi Kakak mau kamu kuliah. Nggak usah kamu pikirin masalah tagihan atau apa pun.”
Setelah itu ia bangkit dari sofa, meraih amplop coklat di sebelahnya, menggapai tali sandang tasnya dan melintas di depan Lea dengan agak gontai. Lea buru-buru menyambar jemari Mina, memaksanya berhenti.
“Aku mau lamar kerja besok,” ia memberitahu. “Ada orang yang menawarkan—”
“Siapa?”
Lea ingin menyebut nama Dai, namun melihat kernyitan dahi Mina padanya, ia berpikir sebaiknya Mina tidak tahu dulu perihal Dai, dan kenyataan kalau ia tinggal hanya beberapa meter dari rumah mereka.
“Teman kantor.” Lea telah memilih jawaban. Berharap kalau Mina tidak akan bertanya lebih jauh. Tapi, Mina adalah Mina. Dan karena ia adalah seorang kakak, over-protektif tentunya wajar baginya. Jadi ia kemudian menanyakan, siapa teman kantor Lea itu? Dan pekerjaan apa yang ia tawarkan.
Lea menelan ludah. Bingung sendiri menyebut nama. Ia sendiri belum yakin benar pekerjaan apa yang ditawarkan oleh Dai. Apa benar menjadi Companion itu pendamping? Pengasuh? Atau apa?
“Kakak nggak tahu temanku itu. Dan aku masih bingung mau melamar posisi apa. Mereka akan wawancara aku dulu, baru aku ditempatkan di posisi yang cocok.”
Lea mendengar Mina mengembuskan napasnya dengan amat perlahan. Selalu dilakukannya kapan pun ia ragu akan sesuatu, dan sekarang dia pasti meragukan kata-katanya.
“Di mana… perusahaannya?”
“Aku… akan diinfo nanti.”
“Berarti nggak jelas.”
Lea tidak mengharapkan kata-kata tersebut. Dan dia belum menyiapkan kalimat untuk menangkisnya.
“Tapi… aku memang disuruh datang ke sana.” Dia memilih berkata jujur sekarang.
Mina menarik tangannya, membuat tangan Lea terjatuh tak berdaya ke pangkuan. “Kakak nggak ijinin kalau nggak jelas gitu. Mending kamu cepat browsing internet. Cek kapan jurusan sastra buka pendaftaran lagi.”
Mina hendak melenggang lagi, tapi Lea menghentikannya dengan bertanya, “Kakak kapan lanjut kuliah lagi?”
“Kenapa kamu tanya itu?”
“Kalau Kakak nggak tahu kapan mau lanjutin, aku juga nggak pasti mau lanjutin kuliah atau nggak.”
“Kalau Kakak kuliah, darimana bayar utang?”
Skak-mat.
Mina, memang sengaja cuti dari kuliah Kedokterannya untuk bekerja di salah satu Bank terkemuka di kota setelah papa mereka meninggal. Terpaksa, karena sepeninggal Almarhum papa, sebuah kabar tak enak langsung menyusul dari sebuah Bank, yang memberitahukan bahwa papa meninggalkan utang lumayan besar pada Bank yang digunakannya untuk menutupi utang perusahaannya yang pailit, dan bila tidak dilunasi rumah mereka akan ikut disita sebagai gantinya. Mina tak membiarkan itu terjadi, dengan alasan rumah ini adalah peninggalan satu-satunya orang tua mereka dan memutuskan untuk mencari pekerjaan.
Untungnya ia langsung mendapatkan pekerjaan; di Bank, yang cukup ternama di kota. Karena wajah cantik, otak cerdas dan penampilannya yang luwes, ia mendapatkan jabatan dan gaji lumayan besar, sehingga bisa disisihkannya untuk melunasi hutang di Bank dengan mengangsur.
Lea menyusul tak lama kemudian. Cuti kuliah dari jurusan sastranya, dengan tujuan membantu Mina. Awalnya Mina menolak mentah-mentah; mengomeli Lea habis-habisan ketika mengetahui Lea tetap nekat berhenti dari kuliah, namun seiring waktu—mungkin karena Lea tetap keras kepala—ia menyerah. Dan menyuruh agar Lea menabung sebagian gajinya untuk melanjutkan kuliah suatu hari, sementara sisanya ia boleh pergunakan untuk kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
Lea akui gajinya memang tak seberapa bila dibandingkan Mina, tapi dia sudah cukup senang dapat membantunya memenuhi kebutuhan rumah. Tapi sekarang, mengetahui ia tak bekerja lagi, ia jadi sedikit terintimidasi. Merasa tak berguna. Jadi ia harus mencoba tawaran Dai: melamar pekerjaan yang ia tawarkan.
“Sudah. Kamu ganti baju dulu,” Mina menyuruh. “Hari ini kita makan mi instant dulu ya? Kakak lagi nggak mood masak.”
Lea mengangguk paham, sedangkan Mina melanjutkan langkahnya. Tak lama kemudian setelah pintu kamar Mina terdengar menutup, Lea buru-buru merogoh tasnya. Mencari-cari kartu nama Dai Tanaka yang sembarang saja ia cemplungkan ke dalamnya beberapa jam lalu dengan panik.
“Dai Tanaka…” Lea menggumam pelan, sambil menarik keluar kartu nama berwarna hitam tersebut. “I will be there tomorrow…” katanya lagi dengan mantap pada dirinya sendiri. Masih dengan suara pelan, takut didengar Mina.

Tidak ada seorang pun yang pernah masuk ke areal rumah itu. Dan, tak seorang pun yang pernah melihat bangunan rumah di dalamnya.
Sejak Lea kecil, sampai dengan sekarang, tampilan rumah di tengah rimbun pohon dan penghuninya di balik tembok batu nomor 16 adalah misteri bagi warga Board House. Kendati begitu, tiada yang berniat untuk masuk ke dalamnya atau memanjat tembok yang mengelilinginya sekadar untuk mengintip apa yang ada di dalam. Bahkan kepala lingkungan pun, yang silih-berganti setiap tahunnya tak memedulikannya. Rumah itu seolah tak terpeta, dan yang pasti tak terjajaki oleh siapa pun. Untouchable. 
 Dan sekarang, Lea sedang berjalan melalui gang besar sepi menuju ke gerbang berpagar jeruji besi hitam di seberang. Untuk pertama kalinya, sebentar lagi, ia akan jadi orang pertama yang melaluinya dan melihat apa yang ada di baliknya. Jantungnya berdebar saking semangat dan cemasnya. Berharap tak ada pembunuh bertopeng Hokey, yang selama ini muncul di benaknya setiap kali ia menubrukkan mata ke antara jeruji pagarnya yang berujung lancip.
Oh, tentu saja tak ada, suara kecil di kepalanya mengejek. Hanya Dai yang akan ditemuinya, serta sepupunya yang bernama Malini, adiknya yang bernama Shinji. Arata, satu lagi. Dan Dai, jelas bukan serial killer. Dia terlalu tampan dan terlalu manis. Setidaknya itu yang Lea tanamkan di benaknya sewaktu ia memaksa dirinya mengenakan little dress salmon garis putih untuk wawancara hari ini, namun tidak cukup kuat untuk menggantikan converse putih favoritnya dengan ankle strap putih milik Mina.
Lea menoleh ke belakang, ketika jaraknya dan pagar besar itu hanya beberapa langkah. Rumahnya kelihatan begitu jauh dari pandangan dan terasa seperti fotamorgana. Kesunyian tak wajar yang ia rasa sejak ia menapakan kaki ke gang besar ini semakin kuat. Namun ia segera menepis pikirannya. Itu hanya sugesti. Tak lebih.
Akhirnya, ia sampai di depan pagar karatan—yang tak lagi karatan(?). Tumbuhan rambat yang sebelumnya memblokir total penglihatan siapa pun ke balik pagar pun sudah lenyap. Dan sekarang, mata Lea dapat melihat jelas semacam terowongan wisteria berbunga merah marun, ungu cerah dan kelabu yang menaungi sepanjang jalan setapak di belakangnya. Bunga-bunganya terjurai panjang, bergerumbul di atas, melayang kira-kira satu-dua meter dari tanah dengan disangga semacam patio besi beratap lengkung.
Tanpa sadar, saking terpananya, tangannya menyentuh jeruji pagar yang mendadak saja terdorong membuka dengan sendirinya. Lea mundur cepat-cepat. Tercenung kaku di tempat, sementara pintu gerbang berangsur mengayun ke arah dalam sampai akhirnya berhenti.
“Oke,” Lea bergumam sambil membeliakkan mata, campuran kaget dan takjub, “pintu gerbangnya kebuka sendiri. It’s weird.
Halo. Masuk saja.”
 Suara ramah seorang perempuan tiba-tiba terdengar nyaring dari arah kanan dan membuat Lea terlonjak kaget dengan tangan menekan dadanya yang berdebar seketika. 
Halo. Kamu Lea kan? Saya Malini. Saya bicara lewat speaker gerbang. Saya lihat kamu lewat kamera CCTV.” Ia menjelaskan cepat dan detail. Mungkin karena melihat Lea yang celingukan ke kanan dan kiri berusaha menemukan siapa gerangan yang berbicara padanya.
Lea berusaha mencari-cari speaker gerbang yang dimaksud Malini, yang ternyata terpasang di sebuah pasak besi di depan tembok batu di sisi kanan jalan—bagaimana bisa ia tidak melihatnya? Sementara kamera CCTV bertengger di atas masing-masing tembok yang mengapit pintu gerbang. Dia benar-benar tidak memerhatikan.
Masuk saja,” kata Malini lagi dalam suara yang agak terdistorsi. “Aku akan tunggu di depan.
Setelah itu hening.
Lea mau tak mau harus masuk ke dalam. Sambil melangkah, ia mencengkeram erat tali tas rajut yang menggantung di satu bahu untuk mengatasi kebingungan dan kegugupannya. Hawa sejuk langsung menerpa, bercampur hangat sinar matahari yang menyeruak di sela-sela rimbun bunga Wisteria. Tak lama, setelah kakinya menjauh kira-kira beberapa meter, gerbang kembali menutup. Ia menoleh sekilas ke belakang, sebelum melanjutkan berjalan lagi.
Semakin jauh ia melangkah, semakin kagum ia dengan pemandangan sekelilingnya. Dari kisi-kisi besi patio lengkung di kanan-kirinya, ia dapat melihat taman rumput yang terawat. Sebagian berisi petak-petak rapi tanaman hias berbunga warna ungu dan hitam (bukan Wisteria).
Bagaimana bisa taman indah seperti ini tak terlihat selama bertahun-tahun lamanya oleh orang-orang yang menghuni komplek perumahan Board House? Lea benar-benar penasaran. Dan bagaimana caranya keluarga Dai—kalau memang benar ia berada di dalam areal rumah ini sejak dulu, membuat taman ini tanpa mengundang perhatian. Tapi… Dai mengirimkan bingkisan ke rumah-rumah tetangga seperti halnya orang-orang yang baru saja menempati rumah di komplek perumahan baru. Berarti, ia memang baru saja pindah kemari. Lalu, bagaimana caranya semua tanaman ini tumbuh dalam waktu singkat?
Sejenak, Lea menepis rasa penasarannya dengan memandang ke atas; mengagumi bunga-bunga wisteria yang melambai lembut tak jauh dari atas kepalanya, dan kembali menganalisa kalau mereka sudah pasti takkan bisa ditumbuhkan hanya dalam hitungan hari. Namun, ia pun menyadari, bagaimana pun kuat analisanya, toh semua ini memang nyata. Bukan khayalan semata. Dia mau tak mau harus menerimanya.
Saat ia mencapai tengah terowongan, sesuatu mengalihkan perhatiannya. Sebuah celah kecil seukuran badan orang dewasa berada di sisi sebelah kiri, sepertinya memang diperuntukkan bagi siapa pun untuk lewat dan keluar dari terowongan kalau memang diperlukan. Penasaran, ia berbelok. Menghampiri celah tersebut, kemudian melongokkan kepala keluar. Matanya sekali lagi melebar, begitu menemukan lapangan rumput hijau luas yang terawat, dengan sebuah rumah kaca besar beratap kubah transparan di seberang.
Halo?
Suara berat dari belakang tersebut membuat Lea memekik karena kaget, dan spontan berbalik dengan napas tersengal.
Seorang laki-laki, berdiri kira-kira semester darinya. Menenteng keranjang rotan hitam pekat, berisi sesuatu yang sepertinya batang-batang tanaman merah dan oranye, serta sekumpulan daun-daun warna hijau yang memanjang. Satu tangannya di saku jins denimnya yang tercoreng tanah, sama dengan kaus v-neck abu-abu yang melekat di badannya. Sepatu botnya ditempeli serpihan rumput basah.
Ia jangkung, bertubuh kurus, dan berkulit pucat dengan rambut hitam kelam yang dicukur amat pendek. Dibilang tampan, tentunya relatif. Namun entah kenapa, membuat Lea tak bisa mengalihkan pandang darinya. Terutama setelah ia tahu kalau laki-laki itu adalah seseorang yang pernah diidolakannya.
“Kamu siapa?” laki-laki itu bertanya, dengan ekspresi curiga yang kentara. Kernyitan khas yang biasanya hanya bisa dilihat dari layar televisi kini dapat disaksikan secara ‘live’ oleh Lea. “Apa kamu memang seharusnya ada di sini?”
“La-lamar… kerja.” Lea tidak bisa memikirkan kata yang lebih baik dari itu. “Lewat gerbang.” Ia menutup dengan seringai menyedihkan, ditambah dengan telunjuk yang melambai lemah ke belakang.
Selama beberapa detik si laki-laki hanya mengamatinya dengan tampang menilai. Dan itu sangat mengintimidasi. Sehingga Lea mesti menelan ludah beberapa kali saking tegangnya.
“Siapa yang undang?” Juna menanyainya lagi. Dagunya terangkat angkuh.
“D—Dai. Dai Tanaka.”
“Yang buka pintu gerbang?”
“Malini. Dia bilang, dia akan tunggu saya di depan rumah.”
Lea melihat Juna menghela napas perlahan. Mata hitamnya masih terpancang padanya—menatap lurus ke kedua bola matanya. Pelan, Lea merendahkan pandangan.
“Oke. Ayo, kalau gitu.”
Juna berpaling, berjalan pergi. Dan Lea buru-buru menyusul dengan langkah kecil. Ia tidak ingin merendenginya. Jelas sekali, kalau laki-laki itu kelihatan tidak senang dengan keberadaannya.
Mereka kembali menyusur terowongan wisteria. Dan sekarang, satu-satunya pemandangan menarik bagi Lea tentunya punggung Juna yang lurus serta tengkuknya yang putih bersih. Kendati begitu, ia masih berpikir kalau ia sedang bermimpi sekarang. Menolak percaya kalau benar-benar Juna Rorimpandey-lah yang ada di depannya sekarang. Si Master Chef yang telah dua tahun menghilang tanpa kabar berita secara tiba-tiba.
Kenapa dia bisa ada di sini? Bagaimana bisa? Semua pertanyaan perihal Juna kini memenuhi kepala Lea.
Akhirnya keduanya sampai di ruang terbuka; ke sebuah halaman luas dengan kolam air mancur di tengah. Sebuah rumah besar berwarna hitam—seluruhnya hitam, mulai dari undakan, pilar, lantai marmernya, jendela dan sebagainya, menjulang di seberang. Dikitari oleh pohon-pohon besar berdaun rimbun serta tanaman lain sejenis bonsai berwarna gelap.
Black House, Lea menggumam dalam hati. Tentu saja. Suara Dai yang menyebut ‘Black House’ terngiang kembali di telinga.
Oh, kalian sudah ketemu rupanya?
Perhatian Lea beralih dari air mancur ke seorang perempuan yang mengenakan kaus hitam longgar dan harem pant kelabu gelap yang sedang berjalan menuruni undakan teras rumah. Perempuan cantik—amat cantik malah, yang tidak terlihat seperti sepupu Dai Tanaka, karena wajahnya terlihat lebih ke India daripada Asia-nya.
Gerakannya anggun dan indah. Seolah saja ia seringan angin. Bahkan kakinya yang beralas sandal beludru terlihat seperti melayang di udara ketika ia melangkah. Rambutnya lurus sebatas pinggul dan amat hitam, kontras dengn kulitnya putih pucat. Tapi tetap saja ia memesona, sehingga Lea bahkan tak kuasa berkedip. Meskipun begitu, Juna melewatinya begitu saja tanpa mengatakan apa pun, seakan saja perempuan itu kasat mata. Memanjat santai undakan dengan sepatu botnya yang basah dan belepotan tanah.
“Aku sudah bilang kalau kamu harus lepas sepatu botmu kalau masuk ke rumah,” seru si perempuan ke punggungnya dengan jengkel.
“Kalian nggak bilang padaku kalau akan ada tamu,” balas Juna dingin tanpa menoleh. Dan langsung menghilang begitu mencapai teras.  
“Oh. Ajaib,” gerutu si perempuan, lalu memalingkan muka pada Lea. “Hai. Aku Malini.” Ia menjulurkan tangan kanannya yang segera disambut Lea dengan jabatan erat, sembari menyebut nama. “Nggak usah ambil hati sama orang itu,” lanjutnya. “Dia memang agak… kaku.”
“Nggak apa. Dia… Chef Juna dan…, memang dia seharusnya begitu.”
“Hm?” Alis Malini berjingkat. “Baguslah kalau begitu. Jadi aku nggak perlu menjelaskan bagaimana dia.”
“Dia baik menurut saya.”
Lea langsung bungkam. Menyesali diri karena telah melontarkan opini tanpa diminta. Dan sekarang jadi salah tingkah sendiri, apalagi saat tahu kalau Malini mengamatinya dengan seringai tak terjelaskan.
“Kamu pasti salah satu fansnya?” Malini menyipitkan mata.
Mulut Lea hanya membuka dan menutup tanpa suara.
“It’s ok.” Malini mendengus tertawa. “Itu hak kamu. Aku tahu—semua tahu kalau dia cukup ngetop dulu.”
Kali ini Lea memilih untuk tersenyum saja.
“Oke. Mm… Dai sedang keluar. Tapi dia akan datang sore nanti,” Malini memberi tahu, memutar badannya dan bersiap menaiki undakan lagi. “Jadi aku akan kenalkan kamu langsung ke Shinji.”
“Saya… nggak perlu wawancara dulu?”
“Nggak perlu,” timpal Malini mantap. “Dai bilang kamu cocok. Dan aku percaya.”
“Tapi saya nggak tahu pekerjaan apa yang… harus saya lakukan.”
“Gampang.” Malini mulai menaiki undakan. “Cukup temani Shinji. Bawakan segala keperluannya—dia melukis,” ia menoleh pada Lea yang mengikutinya naik. “Dai sudah bilang pastinya.”
Lea mengangguk.
“Bawakan peralatan lukisnya. Pastikan ia makan teratur dan minum ramuannya,” lanjut Malini. “Itu saja. Simple kan?”
“Tapi… apa benar dia… suka marah-marah?”
Malini mendadak terbahak. Ia berbalik, menghadap Lea. “Ya. Aku nggak bisa bohong soal itu. Tapi… dia sebenarnya baik. Jadi kamu nggak usah khawatir. Sama dengan Juna, kata-katanya atau sikapnya nggak perlu diambil hati. Shinji punya good time dan bad time-nya sendiri. Kita cuma perlu membiasakan diri.”
Kaki Lea menjejak teras yang luas dan mengilap. Ia tersenyum dan mengedikkan pundak. “Saya nggak tahu apa saya cocok untuk pekerjaan ini atau nggak. Jadi… saya minta maaf kalau nantinya—”
“Tenang. Kamu pasti cocok,” Malini menyela. Tatapannya mengesankan keyakinan. “Anggap saja kalau pekerjaan ini memang ditakdirkan untuk kamu, jadi kamu nggak perlu ragu lagi.”
Lea tidak pernah berpikir kalau jadi ‘pendamping’ adalah takdir yang ia harapkan. Dia lebih memilih bekerja di kantoran, menginput data ke komputer atau memfiling arsip seperti yang biasa ia kerjakan di perusahaan sebelumnya. Tapi dia sudah di sini; di sebuah rumah besar yang pastinya bukan milik orang sembarangan, dan diterima dengan ramah oleh salah satu penghuninya. Sebaiknya ia mencobanya dulu sebelum menyerah. Dia cuma berharap gajinya cukup.
Malini berpaling, dan kembali berjalan menuju ambang pintu kayu besar yang membuka. Lea menurutinya, sambil memandang sekeliling dengan kagum.

Black House lebih cocok disebut istana, daripada rumah. Betapa tinggi langit-langitnya, betapa besar jendela yang berderet di sepanjang dinding hitamnya, betapa mewah perabotannya, betapa luar biasa, dan betapa-betapa lainnya yang Lea bahkan tak bisa deskripsikan dengan kata-kata.
Ia sekarang melewati ruangan yang sepertinya ruang tamu. Beberapa set sofa besar dari kulit, tidak perlu disebutkan lagi warnanya, diletakkan di sisi kanan, kontras dengan permadani putih polos sebagai alasnya. Di sisi kiri, berbagai furniture etnik khas Jepang—meja, patung, lemari, guci dan lain-lain sengaja diletakkan berkelompok untuk dipamerkan pada siapa pun yang ingin melihatnya. Jumlahnya sepertinya ratusan, dan Lea menebak, harganya pasti tak main-main.
“Koleksi,” Malini memberitahu Lea yang tampak tertarik pada patung Geisha yang terbuat dari porselen. “Keluarga kami suka benda antik. Vintage.”
Lea memilih untuk tak berkomentar. Terlalu penuh benaknya untuk memikirkan kalimat lain selain, ‘oh’ untuk menanggapi informasi dari Malini yang pastinya akan selalu membuatnya tercengang.
“Welcome to Black House,” Malini berputar sejenak, merentangkan tangan memberikan penyambutan yang terkesan dramatis. Ia berjalan lagi, dan bayangannya memantul di seluruh lantai marmer yang mengilap.
Sepi. Ruangan sebesar ini tak terlihat orang satu pun. Bahkan penampakan Juna sekali pun. Dia pasti ada di salah satu ruangan di dalam rumah ini. Ia berharap dapat  melihatnya lagi secara tak sengaja.
Malini berbelok ke kanan. di ujung batas dimana set sofa terakhir diletakkan. Sebuah pintu ganda kayu besar telah menunggu di ujung menuju ruangan lain yang pastinya sama ‘wow’nya. Malini menggapai gagangnya, dan memutarnya membuka. Ia mempersilakan Lea masuk lebih dulu, baru kemudian menyusul. Menutup pintu di belakangnya.
“Ini bagian tengah rumah, yang ditempati Shinji,” kata Malini. “Sengaja diberi banyak jendela agar cahaya matahari bisa masuk kemari dengan bebas. Sori kalau agak dingin.”
Bukan agak dingin, tapi memang dingin. Ruangan ini seperti kulkas. Suhunya sepertinya minus 0 derajat. Lea mendekap badannya sendiri, dan maju beberapa langkah. Ruangan ini tidak sama dengan ruangan lain yang ia lalui sebelumnya. Semua yang ada di sini berwarna putih—seputih salju, tidak ada yang hitam sama sekali, seakan saja ini ruangan ini bukanlah bagian dari Black House.  
Ruangan ini cukup luas dan langit-langitnya juga tinggi dan sebagian tertutup kaca transparan. Semua bagian menyatu dan dapat dijangkau hanya dengan berjalan. Ruang duduk dengan sofa dan televisi, ruang makan lengkap dengan meja makan dan kursi makannya, serta dapur bersih di seberang dengan perabot stainless yang terawat. Yang disekat hanya kamar tidur di sudut dan sepertinya kamar mandi.
Di atas, ada sebuah ruangan lagi, yang terhubung oleh tangga kayu. Pintunya tertutup rapat dan tak ada jendela di sampingnya. Malini kemudian memberitahu, kalau ruangan itu adalah studio dimana Shinji biasa melukis.
“Shin!” Malini berseru dari dasar tangga.
Tak ada jawaban atau suara apa pun dari dalam ruangan tersebut.
“Shinji,” panggilnya lagi.
Lea memandang ke arah pintu dengan grogi, dan semakin gelisah kala pintu tersebut tak bergerak sama sekali.
“Oh. Anak itu benar-benar menyebalkan.”
Malini menaiki undakan dengan tak sabar. Ketika ia akan meraih gagang pintu, mendadak saja pintu tersebut menggeser membuka. Dan seorang laki-laki muncul. Hanya mengenakan jins, sementara tubuh atasnya dibiarkan terekspos (apa dia nggak kedinginan?). Kulitnya tak seperti kulit kakak atau sepupunya yang putih, melainkan agak kecoklatan seperti terbakar. Meskipun begitu wajahnya tetap saja oriental, dan cukup menarik—setidaknya itu yang Lea pikir. Dan ia tinggi. Bahkan dari bawah sini, Lea tahu kalau ia lebih tinggi dari Malini.
“Ada apa?” ia bertanya gusar.
“Aku mau kenalkan kamu sama seseorang.”
Shinji memiringkan kepala, untuk melihat ke arah Lea di seberang ruangan. Tampangnya masam. “Siapa?”
“Sebaiknya kamu kenalan dulu,” Malini menyarankan. Berpaling, lalu menuruni tangga.
Shinji berdecak, kemudian berpaling. Saat ia muncul lagi, badannya telah tertutup T-Shirt putih v-neck yang agak kebesaran. Menuruni anak tangga dengan cepat tanpa alas kaki, menghampiri Lea yang tidak tahu harus bersikap bagaimana nantinya.
“Ini Lea,” Malini memperkenalkannya, ketika Shinji sudah berdiri di depannya. “Dai tentunya sudah kasih tahu kamu kemarin.”
Shinji tidak bicara. Ia diam, menatap Lea lekat-lekat. Sikapnya sama seperti yang diperlihatkan oleh Juna beberapa waktu lalu. Dan Lea menyimpulkan ia pun tidak suka dengan kehadirannya di rumah ini. Belum apa-apa ia sudah ditolak mentah-mentah secara non-verbal. Tapi, satu yang membuatnya agak mengesampingkan pikiran negatif tersebut; mata Shinji. Matanya berwarna abu-abu cerah, sama seperti matanya. Aneh.
“Bisa aku pegang tangan kamu?”
Lea tak menyangka ia akan mendengar kalimat sesopan itu dengan suara selunak itu dari Shinji yang baru saja bicara dengan keras pada Malini. Ia mengangguk bingung, dan perlahan mengangkat tangannya yang segera diterima oleh Shinji.
Tangannya dingin sekali, Lea membatin. Seperti es.
“Kamu hangat.” Shinji menyunggingkan senyum. Dan dia tak lagi menakutkan seperti yang Lea rasa sebelumnya. “Namaku Shinji. Shinji Tsubaki.”
Lea mengerutkan kening. “Bukan… Tanaka?”
Ia menggeleng. “Dai, kakak angkatku.”
Lea tersenyum lemah.
Tepat saat itu, pintu ruangan didorong membuka dan Juna masuk ke dalam dengan sebuah mug stainless tertutup di tangan. Sekarang ia sudah mengganti bajunya dengan yang baru; sweater rajut hitam dengan jins warna biru gelap dan sandal ruangan sama seperti yang dipakai Malini. Matanya terpaku ke tangan Shinji yang menggenggam tangan Lea di hadapan Malini, yang tersenyum penuh arti di antara keduanya. Baik Lea maupun Shinji buru-buru menarik tangannya dari masing-masing. Senyum Malini raib seketika.
“Apa aku mengganggu sesuatu?” tanya Juna heran, sembari berjalan mendekat.
 “Kami cuma kenalan,” jawab Shinji. Memutar badannya, dan berjalan menjauh.  “Kamu sudah kenal Lea tentunya?”
Juna menyusul Shinji yang menghampiri meja makan. “Belum sempat. Cuma ketemu di tunnel.”
Ia sama sekali tidak memandang Lea. Terus berjalan mendekat ke meja makan dan meletakkan mug di atas meja. “Ini minuman kamu,” katanya pada Shinji yang duduk di salah satu kursi. “Setelah itu kamu bisa jalan-jalan.”
‘Thanks.”
Juna menepuk-nepuk bahu Shinji dua kali sebelum berbalik dan melangkah pergi. Saat ia lewat di depan dua perempuan yang mematung memerhatikannya, ia berhenti dan berbelok. Berdiri di depan Lea dan menyodorkan tangan. “Kita belum berkenalan resmi tadi,” katanya tanpa ada kesan basa-basi. “Aku Juna.”
Lea menjabat tangannya dan menyebutkan namanya dengan suara pelan yang bergetar. Masih tak percaya kalau Juna yang ada di depannya dan sekarang berjabat tangan dengannya.
“Careful, Juna,” kata Shinji keras dari meja makan. “Dia ngefans sama kamu.”
“Shin!” Malini menegurnya.
Lea melongo, memandang ke arah Shinji yang sedang meneguk sesuatu dari mugnya; tak terpengaruh oleh hardikan keras Malini, lalu kembali pada Juna yang tersenyum simpul amat jail padanya.
Bagaimana Shinji bisa tahu kalau ia mengidolakan Juna? Mereka tidak sempat bicara perihal itu selain tangan Lea yang menurutnya hangat. Muka Lea terasa panas sekarang. Malu.

I take my leave, then,” pamit Juna setelahnya. Mengangguk sopan. Tak bicara apa-apa lagi. Kemudian, pergi.
(Bersambung)

gambar dari sini

Read more...
Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP