Untitled: Chapter 4

>> Sunday, January 21, 2018

Baca: Untitled Chapter 3


4

“LEA. ISTIRAHAT, oke?” Junan membujuk, masih mengusap pundak Lea.
“Aku ke sini karena patah hati,” Lea mengabaikan. “Rio ternyata cinta sama Tina. Sa-ha-bat-ku.” Ia terkekeh hambar. “Dan jahatnya, dia bilang sama aku dua hari sebelum keluarganya ketemu keluargaku untuk ngomongin pertunangan. Aku—Aku hancur...”
Junan mengembuskan napas tajam. Ekspresinya prihatin.
“Aku... cinta banget sama dia.” Air mata Lea terus meluncur tanpa henti dari kedua mata. “Banyak rencana yang kami buat. Aku mau nikah sama dia; mau punya anak sama dia. Tapi ternyata... dia malah nyakitin aku. Dan rasanya... sakit sekali. Sakit sekali.”
Lea sesenggukan. Terisak. Seperti tangis anak kecil. Dan Junan tak kuasa. Rasa ibanya memuncak, dan ingin sekali meringankan kesedihan Lea. Spontan meraih kedua pundaknya, dan menariknya merapat ke tubuhnya. Memeluknya erat. Amat erat.
Lea balas memeluk Junan. Mengalungkan kedua tangan di sekeliling lehernya, masih terisak, bahkan semakin keras. Memecah kesunyian.
Junan memejamkan mata; mengeratkan pelukannya, hingga ia dapat merasakan degup jantung Lea di dadanya. Ia ingin turut merasakan kesedihannya; ingin ia membagi rasa sakitnya dengannya, kalau itu dapat sedikit menghilangkan rasa sedihnya. Tidak tahu kenapa; apa alasannya, mendadak saja ia seakan tahu apa yang membuat hidupnya selama ini serasa kosong. Ia merasa dibutuhkan. Untuk pertama kalinya.


Salju sudah menumpuk di tepi luar jendela, saat Lea akhirnya membuka mata keesokan hari. Semuanya seolah berwarna putih dan pucat. Namun semacam putih pucat yang menyenangkan untuk dilihat.
Waktu ia mengangkat kepala, pusing melanda. Bertanya-tanya kemudian, berapa banyak alkohol yang masuk ke kerongkongannya semalam hingga menyebabkan denyut tak nyaman di setiap inci kepalanya. Jujur, ia tak ingat apa pun. Memori terakhirnya adalah ia berbincang dengan Juna di depan meja bar, membicarakan bucket list-nya.
Mendadak, matanya membulat. Cepat-cepat menyibak selimut yang menutupi badannya untuk melihat ke baliknya. Lega, begitu mengetahui pakaian masih menempel di badannya. Termasuk juga lega, karena Juna benar-benar laki-laki yang bisa ia percaya. Tidak memanfaatkan situasi.
Tapi dimana dia sekarang?
Good morning.”
Lea terlonjak sedikit, dan langsung menoleh ke arah pintu darimana suara sapa itu berasal. Juna masuk, dengan nampan di tangan. Mengenakan sweat shirt marun dan celana jins denim robek-robek. Lea segera mengangkat punggungnya untuk duduk di kasur dan buru-buru merapikan rambutnya; entah kenapa.
Breakfast in bed.” Juna menyeringai pada Lea.
Ia meletakkan nampan kayu di atas kasur dengan hati-hati, dan duduk berhadapan dengan Lea dengan kaki disilangkan.
Lea menjulurkan leher untuk melihat isi di atas nampan tersebut; dua piring yang sepertinya berisi roti gulung coklat—tampilannya manis sekali dengan taburan gula bubuk dan beberapa irisan cherry dan strawberry di atasnya; satu gelas jus jeruk, satu cangkir kopi susu, dan semangkuk kecil anggur hijau. Satu lagi, adalah piring kecil berisi aspirin. Itu adalah yang pertama diambil oleh Lea.
“Kepalaku sakit sekali,” katanya, setelah ia menelah pil tersebut dengan jus jeruk. “Thanks.”
You’re welcome.”
Juna mengambil cangkir berisi kopi susu. Menyeruputnya pelan, seraya memandang salju yang berjatuhan di luar jendela. “Beautiful,” komentarnya.
“Ini apa?” Lea menunjuk piring berisi roti gulung.
French toast rolls up. Atau roti gulung, kalau ribet nyebutnya.”
Lea mengernyit. “Kamu bikin sendiri?”
“Nggak. Ada pelayan yang buat—ya jelas aku lah. Memang ada siapa lagi di sini?”
“Kamu nggak kelihatan seperti cowok yang bisa masak.” Lea mengambil piring berisi dua roti gulung. “Apa ini aman buat dimakan?”
Mata Juna menyipit berbahaya, dan Lea langsung mendengus geli. Diirisnya satu roti gulung tersebut, dan memasukkannya ke mulut. Tak lama ia membeliak; ekspresinya takjub.
“Enak.”
“Aku tahu.” Juna meletakkan cangkir kopi di nampan.
“Sombong.”
Juna terkekeh, dan Lea melanjutkan menyantap French toast-nya.
“Apa kamu... suka masak?” tanya Lea, dengan mulut penuh.
“Bisa dibilang gitu.” Juna menusuk irisan stroberi di piring roti gulung satu lagi, dan membawanya ke mulut. Ia tak mengunyahnya, melainkan menelannya langsung.
“Ini enak banget,” cetus Lea, tanpa memandang Juna. Kembali memasukkan potongan besar irisan roti gulung.
“Makan saja semua. Kalau kurang di dapur masih ada.”
“Tahu begitu, kenapa nggak dari kemarin kamu buat sarapan?”
Juna tertawa. “Aku lebih suka kamu yang masak. Rasanya campur-aduk. Aku belum pernah makan makanan seperti itu.”
Lea mengembuskan napas tajam dan memutar mata. “Aku memang nggak bisa masak. Aku cuma merasa itu kewajibanku untuk... nyiapin makanan.”
“Masakan kamu enak kok,” balas Juna, tersenyum menenangkan. “Kalau nggak, aku nggak bakal makan. Lidahku sensi.”
Sejenak, keduanya saling pandang. Lea, dengan pandangan yang diiringi kerutan di dahi, sedangkan Juna dengan pandangan yang ditemani cengiran jenaka. Lea memutus kontak lebih dulu, diiringi dengus geli dan gelengan kecil.
“Udah lebih dari seminggu.”
Lea mendelik penuh tanya pada Juna yang sekali lagi memandang keluar jendela kamar. Ia meletakkan garpu di piring, dan mengambil gelas jusnya. “Apanya yang ‘lebih dari seminggu’?”
Ia meneguk jus, dan menunggu Juna merespon dengan turut memandang ke arah salju yang berjatuhan di balik jendela. Setelah itu kembali mencomot roti gulung lagi dan mengunyahnya pelan.
“Aku sudah di sini lebih dari seminggu.” Juna menatap Lea, dengan senyum simpul yang sedikit muram.  “Ninggalin banyak hal di Jakarta.”
Lea menelan roti di mulutnya buru-buru sampai-sampai kerongkongannya panas. “Kalau kamu mau curhat, mendingan stop. Aku nggak mau dengar.”
“Kenapa?”
“Lebih baik kaya gitu. It’s better we don’t know about each other, so...” Lea meraih kembali gelas jusnya, “kita nggak perlu baper tentang sesuatu yang nggak seharusnya.”
Ia mengucapkan semua kalimat tersebut dalam suara kumur-kumur yang ditutup dengan jus jeruk yang diteguknya banyak-banyak, sementara Junan memandanginya kernyitan bingung yang kentara.
But,” Junan mendengus, “kamu curhat sama aku semalam.”
Mata Lea membundar. “Curhat apa? Aku nggak ngerasa.”
“Soal cowok kamu itu; Dario—”
Lea dengan panik langsung berusaha membekap mulut Juna dengan tangan. Membuat Juna yang tidak menduga respon hebohnya, ambruk ke belakang. Nampan berisi seluruh perabot dan makanan berantakan di atas kasur dan sebagian lagi terguling ke lantai. Cairan kopi dan jus jeruk menodai sprai dan berceceran kemana-mana.
My—God,” gumam Juna dengan tampang tak percaya. Ia menelentang pasrah dengan kedua tangan membuka di permukaan kasur dengan kepala Lea berada persis di atas perutnya.
Lea yang menyadari betapa ganjil posisinya sekarang, cepat-cepat mendorong naik badannya. Tapi karena rasa malu dan grogi, tak sengaja ia menekan lututnya di betis Juna, membuat laki-laki itu langsung mengeluarkan suara jeritan persis cewek dan reflek menaikkan punggung dan menekuk kakinya, menyebabkan Lea hilang keseimbangan, terguling ke samping dan... dahinya terbentur dinding lumayan keras. Setelah itu bergeming.
Ganti Juna yang panik. Buru-buru menggeser badan mendekat, merengkuh bahu Lea dan membalik badannya menelentang seraya menanyakan apa Lea tidak apa-apa.
“Lea?” Juna memanggilnya lagi, karena Lea tidak menjawab sama sekali, melainkan diam dengan ekspresi muram seolah menahan tangis. Dahinya yang terbentur merona merah. “Sori, oke? Aku nggak sengaja.”
“Aku cerita apa aja?” tanya Lea dengan nada cemas sekaligus bimbang.
Juna tak menjawab. Bertukar pandang dengan Lea di sebelahnya selama beberapa saat, sampai akhirnya berguling ke sisi. Berbaring di sebelah Lea, dan mengempaskan napas tajam.



Sambil membersihkan sisa-sisa kekacauan di atas kasur yang terjadi sebelumnya, Junan memberitahu Lea, apa saja yang Lea ceritakan padanya dalam keadaan mabuk semalam. Kebanyakan soal Dario, pacar Lea yang ternyata mencintai sahabat Lea, Tina, sebelum Dario bertemu dengannya; bagaimana Lea ingin menjadi istri Dario dan punya banyak anak dengannya; serta rasa bersalah Lea pada orang tuanya yang harus menanggung malu dikarenakan keputusannya membatalkan rencana pertunangan secara sepihak. Terutama pada mamanya, yang amat senang dan sudah menunggu-nunggu pertunangannya itu.
Untuk yang terakhir itu, Junan mendukung Lea dengan mengatakan kalau tindakan Lea sudah benar dengan memutuskan hubungan dengan Dario, karena tidak ada yang bisa menjamin apakah Dario akan tetap loyal pada Lea mengingat perasaannya pada Tina yang ia pendam sejak lama.
“Orang tua kamu pasti ngerti. Nggak ada orang tua yang mau anaknya menderita apa pun alasannya. Apalagi mama kamu,” tambah Junan, melipat sprai bernoda kopi, jus jeruk dan remah roti. “Mom is mom after all.”
I know,” timpal Lea lemah. Duduk bersila di atas lantai dengan punggung bersandar di tepi ranjang dengan nampan berisi perabot di sebelahnya. “Tapi...” Ia tersenyum muram. “Entahlah. Aku nggak tahu apa...mamaku bisa mengerti. Apalagi aku langsung ‘hilang’ setelahnya.”
“Tapi kamu kasih tahu papa mama kamu kan begitu kamu sampai sini? Setidaknya, mereka tahu kan kalau kamu di sini?”
Lea menggeleng. “Aku matikan ponselku sejak boarding pesawat. Aku nggak update apa pun jadinya. Terlalu takut untuk tahu reaksi orang; terutama dari mamaku.”
Junan menjepit seprai yang telah ia lipat rapi di perutnya menggunakan tangan. Ekpresinya pada Lea tak terjelaskan; antara bingung atau takjub. Selama beberapa waktu, ia cuma berdiri bengong memandang Lea yang duduk di hadapannya dengan kepala tertunduk sedih.
“Kenapa?” Lea mendongak ke arahnya. Mendengus tersenyum melihat ekspresinya. “Aku... lebay, ya?”
You know what? Aku juga nggak lihat ponselku sama sekali sejak aku di sini—di rumah ini maksudnya.”
Really?”
Junan mengangguk. “Ya. Tapi... komplikasi beberapa hal sebenarnya; karena ponsel mau lobat dan aku malas nge-charge—plus,” ia mendengus, “aku mau shut down dunia luar sebentar. But,” ia buru-buru menambahkan, saat Lea tersenyum muram padanya, “kayanya sekarang waktunya aku nyalakan ponselku lagi. Kamu juga.”
Lea mengedikkan bahu. Menggeleng lemah. “I don’t know.”
“Jangan jadi pengecut, Nona Lea,” tandas Junan. “Kamu udah minum bir semalam. Pergunakan sisa hang-over kamu untuk aktifkan ponsel.”
“Nggak sesimpel itu, Juna.”
Junan mengangkat sprai di tangannya lebih tinggi dan melangkah menuju pintu kamar. “Gampang,” timpalnya. “Tinggal ambil ponsel kamu—dimana pun kamu simpan, lalu tekan tombol ‘on’.”—Ia tak menghiraukan delikan putus asa Lea—“Aku mau masukin sprai ke mesin cuci, kamu bawa perabot ke dapur. Setelah itu kita lihat ponsel kita bareng.”
Ia menyeringai, setelah itu keluar dari kamar.

“Jadi...” Junan menyodorkan ponselnya pada Lea, setelah ia menerima ponsel milik Lea (diiringi tampang tak rela) di tangannya, “kita bersamaan nyalakan ponsel; kita saling kasih tahu notifikasi apa aja yang ada; dan pesan atau email apa saja yang kita terima, dan siapa yang kirim—”
Wait.” Lea menaikkan kedua tangan di depan Junan yang bersila di hadapannya. “Apa aku harus baca isi pesan atau email yang kamu terima?”
Jawaban Junan diwakili dengan anggukan mantap.
“Berarti kamu juga bakal baca semua pesan yang ada di ponselku?”
“Apa ada chat atau foto ‘aneh’ di sini?” Junan menggoyang-goyangkan ponsel Lea sambil tersenyum jail. “Kalau ya, pasti menarik.”
“Jangan ngaco,” sergah Lea. “Aku cuma” ia menelan ludah, “nggak nyaman pesan-pesanku dibaca orang.”
“Oke. Kalau gitu, aku akan kasih tahu dulu siapa yang kirim pesan atau email ke kamu. Dan kamu bisa tentuin, yang mana yang bisa aku bacain buat kamu. How ‘bout that?”
Lea menimbang-nimbang sejenak, kemudian mengangguk pelan. “Oke. Kalau gitu, aku juga kasih tahu kamu dulu siapa yang kirim pesan ke kamu.”
Deal.”
Deal.
“Kalau gitu,” Junan menggengam ponsel Lea erat, “kita nyalain sekarang.”
Lea membalas dengan anggukan. Bersamaan dengan Junan menekan tombol ‘on’ di iPhone milik Junan. Ponsel tersebut langsung menyala, dan langsung menampilkan layar utama. Junan sepertinya bukan orang yang private, pikir Lea. Ia tak menggunakan password apa pun untuk memproteksi telpon genggamnya.
“Kenapa ponsel kamu nggak nyala-nyala?”
Lea reflek mengangkat wajah, dan melihat Junan berupaya keras menekan tombol power Samsungnya yang bergeming tanpa kehidupan. Ia mencoba mengingat-ingat, dan tersadar kalau ponselnya itu benar-benar sudah nol baterainya sewaktu ia boarding, dan tak pernah sama sekali ia charge.
“Sepertinya harus di charge.” Lea meringis. “Benar-benar lobat.”
“Hm. Mana chargernya?”
“Di laci meja di kamar.”
Tanpa berkata apa pun Junan langsung bangkit, dan berjalan menuju kamar tempat Lea tidur. Tepat saat itu denting halus terdengar dari iPhone di tangan Lea.
“Ada pesan dari... Brie?!” Setengah berteriak Lea memberitahu Junan yang masih berada di kamar.
Abaikan saja!”
Lea mengerucutkan bibir. “Dari Arien?!”
Pass!”
Alis Lea berjingkat, dan bibirnya menggumamkan ‘oke’ tanpa suara. Sementara itu terdengar suara laci ditutup di dalam kamar, disusul oleh suara langkah mendekat; Junan sudah menemukan charger Lea.
“Yu?!”
“Apa katanya?” Junan keluar dari kamar dengan satu tangan menggenggam charger ponsel Lea.
Lea menekan pop up bar bertulisan nama ‘Yu’ di bawah nama Brie dan Arien untuk membaca pesan yang dikirimkannya pada Junan. Wajahnya mendadak berkerenyit; tampak bingung.
“Kenapa?” Junan menelengkan kepala.
Wajah Lea perlahan terangkat. “Restoran... Kebakar—”
Belum sempat Lea menyelesaikan kalimatnya, Junan menyambar ponsel dari tangannya. Lea yang sempat terlonjak karena kaget, memandang Junan berjalan menjauh dengan ponselnya.
Ini pertama kalinya Lea melihat raut muka Junan begitu serius dan cemas. Seolah saja ia bukan laki-laki yang seminggu ini menemaninya di sini; yang kelihatan begitu santai dan lepas. Tak lama ia mendengarnya bicara; ditolehnya sedikit, dan melihat Junan berjalan ke ruang depan sambil bicara dengan seseorang menggunakan ponselnya.
Dan itu adalah akhir pembicaraan mereka di hari itu, karena setelah selesai menelpon Junan masuk ke kamarnya, menutup pintu, dan tidak keluar sama sekali hingga lewat jam makan malam.


Lea sedang membaca buku di atas karpet depan perapian, ketika akhirnya pintu kamar Junan membuka, dan suara sandal yang diseret terdengar. Lea memutar kepalanya ke belakang sekilas, dan melihat Junan berjalan mendekat.
Kaki Junan berhenti di tepian karpet. Ia mengenakan kaca mata ‘rampasan’ dari Lea, dan kedua tangannya di saku celana trening abu-abunya. Mukanya yang biasanya ceria, agak lesu. Meskipun begitu ia menyunggingkan senyum kendati lemah.
“Aku pulang ke Jakarta besok.”
Lea yang baru saja ingin menanyakan ‘ada apa’ pada Junan, langsung mengatupkan bibir. Napasnya, tidak tahu kenapa tiba-tiba saja sesak. Kepalanya seakan saja dijatuhi oleh sesuatu yang berat namun tak berwujud. Bertanya-tanya kenapa, tapi sebenarnya ia tahu jawabannya. Namun, tentu saja ia menyangkalnya.
“A-ada apa?” Lea berusaha sekali terdengar biasa saja, meskipun badannya gemetaran. “Re—restoran siapa kebakaran?”
“Restoran... teman—so, aku harus balik. To support.”
Lea mengangguk-anggukan kepala. Teman yang penting pastinya, ia membatin. Juna, pastinya punya pacar di sana. “Oke,” timpalnya pendek.
Setelah itu hening dan bisa dibilang canggung. Di tengah-tengah keduanya yang berjarak hanya beberapa langkah, seakan saja ada tembok transparan yang membuat semuanya semakin jauh dan kabur. Lea, berupaya sekali untuk mengendalikan diri. Karena jujur ia tidak tahu, kenapa ia ingin menangis sekarang.
“Kenapa kita nggak pulang bareng?” suara Junan seolah menggelegar.
Ha?” balas Lea bingung. Ia tidak mendengar pertanyaan Junan barusan, karena kepalanya terlalu penuh.
Junan mendengus tersenyum, kemudian melepaskan kedua sandal kamarnya sebelum menjejakkan kakinya di atas karpet. Kira-kira 20 senti di depan Lea, ia tak lagi bergerak. Lea mendongak memandangnya, dan sebaliknya Junan memandang Lea yang wajahnya terlihat muram diterangi pencahayaan api perapian yang temaram.
“Kenapa kamu nggak pulang ke Jakarta bareng aku besok?” tanyanya lagi.
Lea menundukkan wajah perlahan. “Aku belum... mau pulang.”
Junan merendahkan badan dan berjongkok di depannya. “Kamu akan sendirian di sini. Dan aku... worry; jujur aja.”
Mata Lea kembali bertrubrukan dengan mata Junan yang hitam. “I’ll be fine,” senyumnya lembut. “Just, balikin kacamataku. I need that.”
Tangan Lea terangkat untuk menggapai kacamatanya yang bertengger di hidung Junan. Tapi Junan segera menghindar dengan menjatuhkan pantatnya di atas karpet bulu, sehingga Lea gagal menjangkaunya.
“Juna,” tegur Lea dengan nada putus asa.
“Aku akan balikin nanti.”
“Nanti kapan? Besok kamu udah berangkat; nanti malah lupa.”
“Pokoknya aku akan balikin. Aku janji.”
“Kapan?”
Junan memeluk kedua lututnya yang menyilang, sambil nyengir pada Lea. “Kalau aku mau balikin.”
Lea mengempaskan napas tajam. Menggeleng jengkel sambil menancapkan tatapan sebal pada Junan. “Ya sudah. Buat kamu aja.”
Ia kembali membuka buku novelnya lagi, menyandarkan punggungnya ke kaki sofa, dan kembali membaca. Meskipun yang ia lakukan hanya memelototi barisan huruf yang tak bisa ia eja sama sekali.
No.” Tiba-tiba, Junan menyambar buku ‘Eat, Pray, Love’ yang Lea pegang, dan—tidak menghiraukan protes Lea—meletakkan kepalanya di pangkuan Lea. “Aku pasti balikin.”
Ia membuka halaman pertama buku ‘Eat, Pray, Love’ dan mulai membacanya.
“Juna. What are you doing?” tanya Lea, lebih putus asa lagi.
Reading.”
“Maksudku, kenapa kepala kamu ada di pahaku? Get off.
“Apa kita bisa ketemu lagi nanti di Jakata, Lea?” tanya Junan, mengabaikan permintaan Lea.
Lea mengembuskan napas pelan. Ingin menjawab ‘ya’, tapi dia merasa itu bukan jawaban yang seharusnya ia ucapkan dengan mudah pada Junan. Keraguan dan kekhawatiran akan tersakiti merayap memenuhi otaknya. Bagaimana kalau ia jatuh cinta pada Junan, dan sama dalamnya seperti perasaannya pada Dario? Bagaimana kalau ternyata Junan, seperti dugaannya sudah memiliki kekasih di Jakarta? Memupuskan harapannya akan cinta, dan memperbesar rasa sakitnya juga karena cinta. Tidak. Ia tidak mau itu terjadi lagi.
Ia, belum siap.
“Lebih baik nggak usah.” Lea menolehkan wajah ke arah api yang berderak-derak di atas kayu-kayu yang membara di perapian. “Kamu juga mikir yang sama kan?”

Untuk beberapa saat, Junan diam. Kemudian dengan suara pelan ia menjawab, “Ya. Lebih baik nggak usah.”

(Bersambung)

Read more...

Untitled: Chapter 3

>> Wednesday, October 18, 2017

Baca: Untitled Chapter 1 & 2


3

“Kenapa kita nggak naik mobil aja sih?”
“Jalan itu sehat.”
“Ini jauh.”
Junan menghentikan langkah santainya untuk menunggu Lea yang tertinggal beberapa langkah di belakangnya. Saat Lea sampai di sebelahnya, ia melingkarkan satu tangannya ke bahu Lea. Lea mendelik tajam padanya, dan ia cuma nyengir.
“Teman itu berbagi masalah. Dan aku, dengan senang hati mendengarkan keluh kesah kamu,” ujar Junan ditemani cengiran jenaka.
“Aku butuh kendaraan yang bisa bawa aku kemana pun kamu mau ajak aku, Juna.” Lea menepis tangan Junan dari bahunya. Merogoh ransel yang ia bawa, dan menarik keluar botol minuman. “I need that, right now.”
Ia meneguk banyak-banyak air putih di dalamnya.
“Kita udah setengah perjalanan untuk balik lagi ambil mobil. Dan aku yakin kalau kita balik, kamu pasti nggak mau keluar lagi dengan sejuta alasan. Jadi,” ia menggamit tangan Lea dengan mendadak, dan membuat Lea yang masih minum tersedak karena kaget, “kita harus terus.”
Ia menarik Lea buru-buru, sementara Lea protes. Cepat-cepat memasukkan kembali botol air ke tas.
“Lagian,” sambung Junan lagi, memandang ke atas, ke rimbun daun-daun pepohonan yang menaungi mereka, “ini terlalu indah untuk dilewatkan.”
Ia melepas tangan Lea dan merentangkan kedua tangannya sendiri sambil terus berjalan. Mau tak mau Lea ikut mendongak. Dan kemudian memandang sekitar.
Mereka sudah sampai di jalan besar pinggir hutan rimbun yang hijau dan tenang, dengan danau besar berwarna biru di sebelah kiri yang memantulkan cahaya cerah matahari yang mendadak muncul setelah beberapa hari tertutup awan. Kesunyian begitu terasa, dan rasa tenang merayap perlahan ke lubuk hati. Membuat Lea bernostalgia kembali ke masa kecilnya, saat ia membuka-buka halaman demi halaman majalah berbahasa asing di ruang tengah rumah, yang menampilkan pemandangan-pemandangan indah dari seluruh belahan dunia, dan sudut-sudut rumah ideal berarsitektur barat yang dipamerkan di majalah tersebut. Membuatnya berjanji, kalau suatu hari ia akan pergi ke salah satu tempat asing tersebut. Dan menikmatinya habis-habisan. But, itu sebelum ia tahu, kalau patah hati itu menyakitkan.

Akhirnya sekitar 20 menit kemudian, mereka sampai di kota Lake Tekapo.
Sepi. Yah, karena memang populasinya cuma 369 penduduk saja. Plus, bulan Juli ini memang bulannya dingin. Jadi tidak banyak wisatawan yang berkunjung. Dan karena mereka sampai di pusat kota tepat jam makan siang, maka Junan langsung mengajak Lea ke satu-satunya restoran Jepang yang ada di sana; Kohan Restaurant.
“Sushinya enak,” beritahu Junan, ketika mereka sudah duduk di salah satu meja di dalam Kohan, dan Lea tampak bingung melihat menu.
“Kamu sering ke sini?” Lea memandang Junan dari balik menu.
“Sejak aku di sini, aku selalu kemari untuk icip-icip.”
“Nggak bosan?”
“Aku suka makanan Jepang; apalagi sushi. Kamu suka sushi apa?”
Lea tak langsung menjawab. Masih menggerakkan matanya ke daftar makanan di menu dari atas ke bawah. “Aku... Nggak pernah makan makanan Jepang. Nggak suka.”
Junan membeku. Dan Lea buru-buru berkata, “Oh, its fine. Makan makanan Jepang ada di bucket list-ku. Jadi” ia mengangguk-anggukkan kepala, “mungkin sekarang waktunya untuk coba.”
Ia nyengir pada Junan. Tapi kemudian cengirannya pudar melihat cara Junan memandangnya; separo-heran, separo-geli.
“Kenapa lihat aku kaya gitu?”
Bucket list? Bucket list apa? Salmon Sushi combination, please.” Junan bicara pada waitress yang segera mencatat pesanannya.
“Masa kamu nggak tahu ‘bucket list’? Teriyaki Chicken Don,” Lea menyebutkan pesanannya pada si waitress.
Si waitress membacakan ulang pesanan keduanya, dan setelah dikonfirmasi ia segera berbalik dan melesat menuju konter.
“Itu... daftar keinginan kan?”
Lea tersenyum lebar dan mengangguk. “Ya.”
“Kamu sekarat atau gimana?”
Lea mendengus putus asa. “Emang orang sekarat aja yang mesti punya bucket list? Kita yang sehat gini nggak masalah kan punya bucket list? Ngelakuin beberapa hal yang belum pernah sama sekali kita coba?”
“Oke.” Junan mengembungkan pipi, seraya mengangguk.
“Kamu... punya bucket list?”
“Bukannya kamu nggak mau tahu soal aku?”
Lea menyandarkan punggungnya ke belakang. Mengembuskan napas, menatap jengkel Junan yang sekarang terkekeh. “It’s a bucket list. Nggak masalah kan?”
Well. Aku nggak punya yang khusus sih.” Junan menggaruk-garuk dagunya sambil berpikir. “Karena aku sukanya spontan; jarang planning sesuatu. Apa yang mau aku lakuin ya aku lakuin.”
“Olahraga ekstrim, gitu?”
Junan tertawa. “Sepertinya seluruh olahraga ekstrim udah aku coba.”
“Serius?”
Tampang Junan kelihatan sekali bangga. “Name it.”
“Bungee jumping?”
“10 kali, dan love it.”
Lea mencibir. “Wall climbing?”—Panjat tebing?
Junan terbahak. “Setiap ada waktu aku ke wall climbing center, atau ke gunung untuk manjat.”
“Motor cross?”
Tawa Junan makin keras, dan Lea makin manyun. “Aku suka banget Motor cross, Lea.”
“Moto GP, gitu?”
“Aku suka balapan, tapi aku sepertinya kalah kualifikasi sama rider Moto GP.”
Lea kehabisan pilihan, dan Junan terkekeh.
“Apalagi yang ada di bucket list kamu selain ‘makan makanan Jepang’?”
Mata Lea berputar saat ia memikirkan jawaban pertanyaan Junan. “Minum bir atau minuman yang ada alkoholnya,”—muka Junan seolah baru diterpa angin dingin (“Kamu belum pernah minum bir?”—“Public fight,”—(“What a weird bucket list,” komentar Juna, terbahak)—“Dansa sama cowok ganteng di tempat yang nggak biasa—Eh, kamu ngapain?”
Junan menarik tangan Lea, memaksanya berdiri. “ ‘Dansa sama cowok ganteng di tempat yang nggak biasa’. Itu, akan terjadi sekarang.”
“Aku nggak mau. It’s Japanese Restaurant for God’s sake,” tukas Lea dengan tampang ngeri.
Exactly.” Junan memiringkan kepala dan tersenyum jail. “Ini tempat yang nggak biasa.”
“Banyak orang.”
“Hei. Ini tempat yang nggak biasa.”
“Nggak ada musiknya.”
“Bisa diatur.”
Dan Junan bergegas ke konter, berbicara dengan salah satu waiter di sana selama beberapa waktu dengan ekspresi serius. Saat ia kembali menghampiri Lea, tak lama kemudian terdengar intro manis yang amat Lea kenali; Dancing in the Moonlight-nya Top Loader, band asal Inggris tahun 90-an, yang jadi soundtrack film A Walk to Remember.
“Oh my God.”
Lea tersedak menahan tawa melihat Junan berjalan sambil menggoyangkan badannya dengan cara yang maskulin namun lucu. Ia juga turut menyenandungkan lirik lagunya dengan jenaka, tanpa peduli dengan tatapan bingung orang-orang ke arahnya.
Ia menggamit tangan Lea, dan merangkul pinggulnya rapat ke badannya. Dan Lea, yang sudah terkesima oleh aksinya, tanpa banyak kata mengikuti gerakan tubuh Junan ke kanan dan ke kiri; berdansa di tengah ruangan dengan tawa berderai.
She’s craving,”—Dia sedang ngidam, Junan menjelaskan pada seisi ruangan yang memandangi mereka berdua dengan tatapan kosong tak terjelaskan, sementara Lea menyembunyikan muka merahnya di pundak Junan sambil terguncang-guncang menahan tawa. “Want to dance here,” ia menambahkan.
Dan semua orang tertawa. Tatapan bingung mereka berganti tatapan ceria penuh damba ke arah keduanya.
See?” kata Junan pada Lea, yang masih menatapnya tak percaya. “Cuma butuh nekat sama tekad aja. Plus, skill ngeles yang mumpuni.”
Lea terbahak, dan memeluk Junan lebih erat. 

Lea makan sushi atas paksaan Juna, dan berjanji tidak akan makan lagi. 
Ia mual merasakan salmon mentah yang tak berasa sedikit pun, walaupun sudah dicemplungkan ke saus ini-itu. Membuatnya ingin muntah begitu mereka keluar dari Kohan 1,5 jam kemudian setelah aksi dansa mereka yang fenomenal.
Sekarang mereka berada di pinggir Lake Tekapo; duduk di tengah alang-alang dan barisan bunga Lavender. Junan duduk dengan memeluk lutut menghadap danau, dan Lea menggambarnya di sketch book. Matahari bersinar redup di atas, sehingga mereka tidak kepanasan. Angin berembus pelan menyejukkan.
“Lea?”
“Hm?”
What are you doing?”
“Aku lagi gambar.”
“Bukan.” Juna menoleh ke arahnya, dan Lea mengangkat mukanya dari kertas sketch book. “What are you doing here? Di New Zealand. Lake Tekapo. Sendirian.”
Lea kembali menekuni gambarnya yang tinggal sedikit, sekaligus menimbang-nimbang untuk mengatakan alasannya datang ke sini pada Juna. Tapi kemudian ia memutuskan untuk tidak mengatakan apa pun. Kalimat yang keluar dari mulutnya adalah permintaan pada Juna untuk tidak menanyakan itu lagi padanya.
“Kenapa?”
Lea bungkam. Menekankan pensil arang di bagian kerah solid v-neck warna abu-abu cerah Juna yang sedang ia gambar. Berusaha terlihat fokus, kendati isi kepalanya buyar ke segala tempat.
“Oke.” Juna menghadapkan mukanya lagi ke arah danau biru yang membentang di hadapan. “I’m here, kalau kamu mau cerita ala cewek.”
 Lea menahan geli mendengar kalimat Juna barusan. Berupaya terlalu keras menyembunyikan dengusnya, hingga ia seolah mengempaskan napas tajam dan membuat Juna mau tak mau mengarahkan pandang ke arahnya.
Let me see.”
Juna merangkak mendekati Lea, lalu duduk di sebelahnya. Menjulurkan wajah ke sketch book yang membuka di kedua kaki Lea yang menyilang, dan segera saja mendesis ‘wow’ kagum begitu ia melihat gambar tangan Lea.
“Aku sering kali bertanya-tanya, bagaimana caranya orang-orang bisa gambar atau ngelukis dengan bagus? Mereka kayanya dikasih Tuhan mata yang benar-benar spesial, dan tangan yang benar-benar luwes untuk itu,” ujar Juna, mengambil sketch book dari tangan Lea.
Ia membalik-balik halamannya. Dan kelihatan terkesima dengan semua sketsa tangan Lea di tiap lembarnya. “It’s very good,” pujinya.
Lea hanya tersenyum kecil. Ia sudah sering mendapat pujian serupa, jadi tidak lagi terlalu excited mendapatkannya dari Juna. Pandangannya ia alihkan ke arah danau; mengambil napas panjang, lalu mengembuskannya dengan mata dipejamkan.
Thank, God, aku ambil kacamata kamu.”
Lea langsung menoleh pada Juna, yang masih memandangi gambar-gambarnya di sketch book menggunakan kaca mata bundar miliknya. “Maksudnya?”
“Aku baru tahu kalau kamu cakep.”
Mulut Lea menganga. Merasa kalau ia mungkin salah dengar.
“Kamu... cantik ternyata,” Juna menjelaskan, memandang Lea dengan senyum simpul. “This thing,” ia menunjuk ke kacamata yang dikenakannya, “kill your face. Not good.”
Lea mengeluarkan suara seperti cegukan, lalu menarik sketch book-nya dari tangan Juna. “Kapan kamu mau kembaliin kacamataku?”
“Kalau aku memang merasa sudah waktunya mengembalikan.” Ia nyengir, lalu merebahkan badannya di atas rumput. Tangannya dipergunakan sebagai alas. “Lagian, aku ngerasa kacamata ini lebih cocok denganku daripada kamu.”
Lea memilih untuk memutar mata ke atas daripada menimpali kalimat-kalimat Juna yang terkesan narsis dan serampangan, namun selalu membuatnya ingin tertawa atau tersenyum. Setelah itu ia menghela napas panjang dengan mata memandang lurus ke danau lagi. Mengembuskannya perlahan, sambil menikmati embusan angin sejuk yang meniup lembut kulitnya.
And...”
Juna menarik ikat rambut Lea. Membuat gelungan asal di belakang kepalanya lepas, sehingga sulur-sulur ikalnya terjurai bebas di punggung. Mulut Lea menganga. Matanya melebar saking syoknya.
“Rambut kamu nggak seharusnya disiksa terus kaya gitu. It’s too pretty to be hide,” kata Juna, seakan saja itu menyelesaikan masalah.
Ia menyakukan ikat rambut Lea ke saku jinsnya, dan memejamkan mata.


Menjelang sore, Junan mengajak Lea mampir ke Lake Tekapo Tavern, sebuah pub lokal yang populer bagi penduduk Lake Tekapo. Ramai saat mereka masuk ke dalam. Dan Junan memberitahu Lea kalau tempat ini selalu padat di cuaca dingin seperti ini. Banyak orang merasa perlu keluar rumah untuk berada di sini; minum bir atau minuman beralkohol lain untuk menghangatkan badan , atau sekadar hang out dengan teman-teman.
Para turis juga sering berkunjung kemari untuk menghabiskan malam selama berada di Lake Tekapo.
2 beer and a glass of wine, please,” Junan berkata pada seorang laki-laki tinggi besar berambut pirang di balik meja bar yang segera tersenyum ramah begitu keduanya duduk di kursi tinggi. “And French fries.”
“Apa ada jus?” Lea berbisik pada Junan.
“Ngapain minum jus? Aku sudah order bir buat kamu.”
Lea mengerutkan dahi, tampak kesal. “Aku nggak minum bir.”
“Itu ada di bucket list kamu.”
“Aku nggak bilang aku harus lakuin itu sekarang kan?”
“Terus kapan?”
Lea tampak bingung menjawab. “Ya... Nant—”
Don’t waste the moment, Lea.” Dua gelas bir dan satu gelas kecil berisi wine datang, dan Junan langsung menyambar salah satu gelas bir dan meneguknya sedikit sebelum melanjutkan. “Kamu jauh banget dari Indonesia. Nggak ada yang kenal kamu di sini. Kalau kamu mau ‘minum bir’, better do it here.”
“Bukannya seharusnya kamu ngelarang cewek minum bir?” ujar Lea, setengah tertawa.
“Hei. Kamu yang buat bucket list kamu sendiri. Dan aku bantu kamu untuk ngewujudin yang aku bisa. Jadi aku ajak kamu ke sini. Kalau ternyata kamu jadi ‘coward’ begini, aku nggak akan ajak kemari.”
I’m not a coward.”
“Oh. Ya, benar. Kamu cuma nunggu sampai kamu benar-benar siap. Kaya mau hilang perawan aja.”
For God’s sake, Juna. Kamu ngomong apa sih?” Lea terbahak. “Apa kamu udah mabuk?”
I’m a social drinker, Darling. Aku bisa minum berapa pun dan masih tetap waras. Don’t know about you.” Junan mengedipkan mata, dan meneguk birnya lagi ditemani dengus tawa.
Untuk beberapa saat Lea cuma memandang Junan dengan mulut membuka dan tatapan tak percaya. “Apa alasan aku harus minum di sini? Aku bisa minum di Jakarta nanti. Atau di mana pun aku mau.”
“Di mana? Di kamar kamu? Ngumpet-ngumpet? Apa enaknya, daripada minum di bar kaya gini? Ditemani cowok ganteng yang siap ngelindungin kamu dari laki-laki yang akan memanfaatkan situasi.”
Dagu Lea terangkat. “Oh. Jadi kamu kira aku akan mabuk gitu?”
Touché.” Junan menyesap sedikit birnya lagi. “Itu akan terjadi. Sudah pasti.”
“Kamu benar-benar ngeremehin aku. Aku nggak akan mabuk semudah itu.”
Kepala Junan mengedik ke gelas bir di meja yang belum tersentuh. “Your bucket list is waiting, Madam.”
Lea menatap Junan dengan ekspresi tak terjelaskan. Bibirnya mengatup, dan napasnya tersengal seperti orang habis berlari jauh. Dikerlingnya gelas berisi bir yang hanya sejengkal darinya. Wajahnya kentara sekali bimbang.
“Oke. Nggak usah diminum,” Junan mengulum senyum. “Aku nanti yang habiskan.”
Ia meneguk birnya lagi banyak-banyak, dan hampir tersedak ketika Lea menyambar gelas bir di meja, dan langsung menenggaknya hingga hanya tersisa setengah dalam gelas.
“Oh, my God,” ucap Lea, separo-syok, separo-ngeri, setelah mengentakkan gelas birnya di permukaan meja. Lidahnya ia julurkan keluar seolah hendak muntah.
Junan melongo. Ia benar-benar tak menyangka kalau Lea akan meminum birnya sebanyak itu. Ia mengira, kalau Lea hanya akan menyesapnya sedikit saja.
“Apa... nggak enak rasanya?” tanya Junan takut-takut pada Lea yang sekarang bengong menatap rak berisi banyak botol cocktail di depan. “Are you okay?
“Aku nggak tahu.” Mata Lea bergerak ke kanan dan ke kiri seolah sedang berusaha mengingat-ngingat sesuatu. “Sebaiknya aku minum lagi.”
Junan ingin mencegah, namun Lea sudah lebih dulu menyambar pegangan gelas birnya dan menandaskan isinya dengan cepat. Setelah itu ia bersendawa, buru-buru meminta maaf pada Junan sambil tertawa ganjil. She’s drunk, Junan membatin. 
“Aku mau coba wine-nya.”
Tangan Lea sudah menggapai gelas kecil di depan Junan, dan Junan buru-buru mengangkatnya. “Aku rasa kamu cukup dengan bir saja.”
“Nggak.” Lea menggeleng-gelengkan kepala. Tangannya terangkat berusaha menggapai gelas kecil di tangan kanan Junan. “Aku harus coba wine juga.”
No, Lea. Bir sudah cukup buat kamu mabuk.”
Dahi Lea mendadak berkerut. Dan matanya mendelik tajam. “Aku nggak mabuk.”
“Tunggu sebentar lagi, dan kamu bakal ngoceh nggak jelas, atau tidur.”
Dan tidak butuh lama untuk membuktikannya. Karena kemudian Lea sudah meracau tidak jelas dalam bahasa Indonesia, dan menghabiskan seluruh French fries yang Junan pesan, serta setengah isi toples berisi kacang gratis di meja bar.
“Bucket list-ku yang lain; ikut kompetisi nyanyi; Indonesian Idol, atau X-Factor; terjun payung, bungee jumping,”—Junan mendengus-dengus geli mendengarnya—“dan—it’s wild actually,” ia cekikikan tak terkendali, “kissing a stranger.”
Dagu Junan terangkat. “Menarik. Kapan kamu mau lakuin itu? Kissing a stranger.”
Senyum Lea terlihat amat manis di mata Junan sekarang.
Now,” jawab Lea, menggigit bibir bawahnya seakan menggoda.
“Oh. Well...” Junan mencondongkan wajahnya lebih dekat ke Lea. “I don’t mind. Aku—hey! Lea?”
Junan memandang ngeri Lea yang mendadak saja bangkit dari kursinya, dan melesat ke sekumpulan laki-laki Caucasian yang berdiri di sudut dekat juke box. Menyambar kerah kemeja salah seorang dari mereka; laki-laki berambut coklat kemerahan yang sedang minum dari botol birnya, dan langsung mencium bibirnya dengan paksa.
“Oh... fuck,” gumam Junan putus asa.
Ia merogoh saku celana, dan meletakkan beberapa lembar dolar di meja bar. Menyambar ransel Lea, kemudian bergegas bangkit dari kursi, dan menghampiri Lea dan si rambut merah—yang sepertinya menikmati bibir Lea di bibirnya. Ia baru akan menggapai pundak Lea, ketika suara nyaring perempuan terdengar di belakangnya (“Why’s she kiss my boyfriend?!”) dan membuatnya—juga semua orang di dalam bar—menoleh.
Si laki-laki rambut merah langsung menarik wajahnya dari Lea, dan dengan gelagapan menenangkan perempuan tersebut. Junan buru-buru menarik pinggul Lea, untuk menjauhkannya dari pasangan tersebut. Namun Lea malah tertawa girang, dan membuat perhatian langsung beralih ke arahnya. Terutama si perempuan pirang, yang sedang marah-marah pada pacarnya.
She’s drunk,” Junan langsung menjelaskan pada si perempuan pirang yang kini maju mendekat. Menyembunyikan Lea di belakangnya. “Really drunk.”
She wasn’t seem drunk when she kissed my boyfriend.”—Dia nggak kelihatan mabuk waktu cium pacarku, balas si pirang galak.
Believe me she is,” Junan berusaha meyakinkannya.
Hey. Ini public fight!” seru Lea dari belakang Junan. Semringah. “It’s one of my bucket list!
Lea sempoyongan maju ke depan, menghampiri si perempuan pirang. Dan Junan dengan sigap menyambar pinggulnya. Tapi Lea yang jelas tidak mengerti gentingnya situasi berusaha kembali ke depan lagi, menggapai-gapaikan tangan pada si perempuan pirang.
Nope. It’s not public fight.” Junan kembali menarik Lea, dan memaksanya menjauh dari si perempuan pirang yang mendengus-dengus seperti banteng marah dan gerombolannya yang memandang dengan tatapan siap perang ke arah keduanya. “We’re leaving now. Peace. Ok?
Junan mendorong punggung Lea, menggiringnya ke pintu keluar. Angin dingin langsung mengempas ke arah mereka, dan membuat keduanya seketika beku di tempat.
“Kita harus cari taksi kalau gini,” gumam Junan pada Lea, kendati ia tak yakin Lea mendengar atau tidak. “Kita berdua nggak ada yang bawa parka.”
Junan menoleh, dan melihat Lea sedang menatapnya diiringi senyum bodoh. Hidungnya merah, karena diterpa angin dingin.
What?”
“Kayanya aku beneran mabuk,” jawab Lea cekikikan.
No doubt.”
Setelah itu Junan meraih tangan Lea, dan mengajaknya berlari ke salah satu taksi yang parkir tak jauh dari pub.

Lea tidur sepanjang perjalanan kembali ke rumah. Dan masih tidur waktu taksi yang mengantar keduanya memasuki pekarangan dan berhenti di depan teras. Junan berusaha membangunkannya, tapi sepertinya Lea terlalu mabuk untuk membuka mata, sehingga Junan terpaksa menggendongnya masuk.
You don’t have to do this,” ujar Lea pada Junan yang sedang membawanya meyeberangi ruang tamu menuju kamar.
Do what?”
“Gendong aku.” Lea nyengir, kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Junan. “Aku nggak pernah digendong kaya gini sama cowok. It’s so romantic.”
“Aku kira kamu nggak suka yang romantis.”
Junan mendorong pintu kamar Lea menggunakan satu kaki, kemudian masuk ke dalam, lalu hati-hati menurunkan Lea di atas tempat tidur. Lea langsung meletakkan kepala di atas bantal, berbaring miring dengan kedua kaki menggantung ganjil.
“Kepalaku pusing banget sekarang,” keluhnya, masih setengah terkekeh.
Junan mendengus geli, dan membantu Lea melepaskan kedua boot yang masih ia kenakan. Setelah itu ia membenarkan posisi kaki Lea; menggesernya agar seluruhnya berada di atas kasur, kemudian menarik selimut untuk menutupi kedua kaki Lea yang terasa amat dingin.
Sleep now. Aku nyalain perapian biar hangat sedikit.” Junan mengusap kepala Lea.
Setelah itu ia berpaling; hendak pergi. Namun tertahan saat Lea mendadak meraih satu tangannya. Membuatnya memutar badannya lagi, dan memandang Lea lagi, dengan ekspresi penuh tanya.
“Kalau aku lupa besok, aku mau bilang sekarang kalau aku... senang banget hari ini,” jawab Lea. “Udah lama banget kayanya, aku nggak sesenang ini. Thank you.”
You’re welcome.” Junan tersenyum. Senyum yang benar-benar tersenyum. “Aku juga senang kok.”
And...”
Tiba-tiba air mata Lea jatuh satu per satu ke pipi, dan mulai menangis. Junan yang tidak menduganya langsung bingung. Bergegas duduk di tepi tempat tidur dan mengusap pundak Lea.
“Ada apa?”
“Aku patah hati...”
Dahi Junan berkerut. Tak paham.

(Bersambung) 

Gambar dari sini
Main character: Junan Roi (Junan/Juna), Ophilea Usara (Lea/O), Yuric Andrei (Yu)
Supporting Character: Soma Saidan (Soma), Danaela Saidan (Dane/Dan), Dario Umbara (Rio/Dario), Brina Rasya (Brie)

Read more...
Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP