The Truth Untold (1)

>> Sunday, July 15, 2018

Chapter 1



SEKALI LAGI, ia menoleh ke arah pintu ganda kayu yang tertutup rapat di sebelah kanannya. Berharap, kali ini salah satunya akan membuka dan seseorang muncul untuk mengatakan kalau ia tak perlu menunggu lagi dan diperkenankan kembali ke ruang depan bersama ayah, ibu juga adiknya. Atau setidaknya, memintanya melakukan sesuatu—apa pun itu, selain menunggu tanpa kepastian.
Ia benar-benar benci menunggu; membuatnya tersiksa.
Tapi pintu ganda itu tetap tertutup. Sama seperti sejam lalu, saat ia pertama kali melangkahkan kaki ke dalam ruang tengah yang luas ini, diantar oleh seorang perempuan cantik bernama Malini, yang segera membawanya pergi begitu ia dan keluarganya tiba di teras depan rumah besar dimana ia berada sekarang.
Sayangnya, Malini atau siapa pun, tak memberitahu sama sekali alasan ia dibawa ke ruangan ini. Ia bahkan tak memperkenalkannya pada pemuda yang duduk di kursi berlengan yang sama di seberangnya yang sudah lebih dulu berada di ruang tengah sebelum ia datang. Namun tak seperti dirinya, pemuda itu tampaknya tak masalah tidak diperkenalkan padanya. Pemuda itu juga tak repot-repot memulai pembicaraan dengannya. Dari perawakannya—selain wajah tampan dan penampilan elegannya mulai dari ujung kepala sampai kaki, kentara sekali kalau ia bukan tipe orang yang gemar basa-basi.
Sebenarnya ia tak masalah dengan ruang hampa yang memisahkan mereka, namun ia tak nyaman dengan tatapan pemuda itu. Beberapa kali ia mencoba memandang ke arahnya, dan beberapa kali juga matanya bertumbukkan dengan kedua mata coklat si pemuda yang sedang mengawasinya.
Apa dia adalah salah satu dari keluarga Kuroi-sama? Ia berpikir. Salah satu anaknya mungkin? Ia mengenakan setelan hitam, dan mengenakan korsase lili hitam yang tersemat di dada sebelah kiri. Sudah pasti ia adalah salah satu anggota keluarga. Selain itu ia juga adalah satu-satunya orang yang ada di sini; menunggu bersama dirinya, sementara tamu yang lain seperti halnya ayah, ibu dan adiknya, menunggu di ruang depan. Apa mungkin dia…
Lea.”
Matanya yang coklat besar membeliak mendengar namanya disebut. Wajahnya spontan terangkat merespon suara berat yang berasal dari hadapannya.
“Ophelia. Nama yang bagus tapi… ada cerita tak bagus dibaliknya. Apa karena itu kamu pilih dipanggil Lea?”
Ia—Lea yang masih syok mengetahui pemuda itu mengetahui siapa dirinya sejak tadi, hanya mengerjap. Ia tak tahu harus menjawab apa. Kepalanya terlalu penuh, hingga tak lagi mampu menemukan kata apa pun yang bisa ia pergunakan untuk bicara.
Dengus sinis terdengar. Disusul oleh kalimat meremehkan setelahnya. “Kamu dan keluarga kamu pasti langsung kemari setelah mendengar ayahku sekarat.”—(Ia benar-benar anak dari Kuroi sama kalau begitu)—"Kalian jelas sudah tak sabar menerima kabar baik sepeninggal ayahku nanti kan?.”
Apa maksudnya? Lea membatin. Dahinya mulai mengerut samar. Tapi pemuda tersebut tak menyadari; terus bicara dengan sikap angkuhnya. “Kamu, tentu saja sudah mempersiapkan diri untuk menjadi menantu kecil di keluarga kami. Aku tahu, bagaimana sempurnanya ayah dan ibu kamu mempersiapkan kamu untuk itu.”
Itu benar. Pemuda itu tidak salah. Ia memang dipersiapkan jadi menantu di keluarga Kuroi. Namun itu bukan suatu kesediaan, melainkan keharusan. Atau tepatnya, kewajiban untuk merealisasikan kesepakatan yang terjalin selama puluhan tahun di antara keluarga Kuroi dan keluarga ayahnya untuk tetap menjalin silahturahmi dengan menikahkan keturunan laki-laki Kuroi dengan anak perempuan keluarga ayahnya, sekaligus membayar budi baik leluhur keluarga Kuroi yang membebaskan mendiang kaket cicit ayah Lea dari perbudakan di jaman penjajahan.
Sayangnya hutang budi itu tidak pernah bisa dilunasi selama puluhan tahun, karena entah bagaimana, tak ada satu pun anak maupun cucu dari kakek cicitnya melahirkan anak perempuan. Jadi saat akhirnya Lea lahir, hutang leluhur itu akhirnya bisa terbayar. Dan keluarganya dengan amat telaten mendidiknya untuk menjadi perempuan yang sempurna untuk menjadi menantu di keluarga Kuroi.
“Kamu… siapa?” Akhirnya Lea memberanikan diri bicara meski ragu. Menurutnya sangat patut menanyakan jati diri orang yang menghinanya juga keluarganya dengan kalimat sarkastik seperti itu.
“Shinji.”

Jantung Lea serasa mencelat ke kerongkongan. Matanya tak sadar membulat. Shinji Kuroi, adalah nama yang amat akrab di telinganya sejak ia beranjak umur 14 tahun. Saat kali pertama orang tuanya mengatakan kalau ia sudah dijodohkan sejak lahir dengan putra paling kecil keluarga Kuroi; Shinji Abhrams Kuroi, sekaligus menyampaikan alasan kenapa ia harus bersedia melakukannya.
Sejak itu, Lea selalu berusaha mencari tahu siapa Shinji. Namun hasilnya nihil. Sama sepertinya, Shinji tampaknya juga tidak diperkenankan menggunakan sosial media sama sekali.
“Kamu sudah tahu siapa aku kan?”
Lea mengempaskan napas tajam sebelum mengangguk.
Shinji mendorong punggungnya ke belakang, dagunya terangkat memandang Lea. “Apa kamu benar-benar mau nikah sekarang?”
I don’t have a choice. “Aku cuma nurutin kemauan orang tua,” jawab Lea lirih.
“Kamu 17 tahun, Lea. Dan aku... Aku 19 tahun sekarang. Aku punya cita-cita yang ingin aku wujudkan. Dengan nikah sudah pasti menghambat semuanya. Don’t you have any goal in life?”
Lea menundukkan kepala. Ya, Shinji. Aku juga punya cita-cita, gumamnya dalam hati. Tapi dia bisa apa? Menolak dan melihat keluarganya tercoreng malu? Dia tidak akan sanggup.
“Bagaimana kalau… kita nggak bisa saling cinta?”
Lea mengangkat wajahnya lagi dan kali ini menatap Shinji lekat-lekat.
“Kita berdua akan menyia-nyiakan waktu,” sambung Shinji, menyilangkan tangan dan memiringkan kepala. “Kita yang seharusnya mendapatkan cinta yang benar-benar sejati, tapi karena perjodohan tolol ini… membuat kita akan jadi sepasang suami-istri yang… boring.” Shinji mendengus lagi dan melengos.
“Kenapa kamu nggak tolak saja kalau begitu?”
Shinji mengerutkan dahi pada Lea. “Maksud kamu?”
“Kalau memang kamu keberatan nikah, kenapa nggak kamu tolak saja perjodohan ini?”
“Aku nggak akan mungkin bisa melakukan itu. Aku… harus menjaga nama baik keluarga.”
Lea menghela napas. Betapa angkuhnya laki-laki ini? “Jadi kamu mengatakan ini semua padaku agar aku membatalkan perjodohan ini duluan?”
Bahu Shinji terangkat sejenak. “Apa ruginya untuk kamu?”
“Nama baik keluargaku juga dipertaruhkan.”
“Kamu perempuan.”
“Jadi?”
“Akan lebih mudah untuk kamu mendapatkan pengganti.”
“Apa kamu pikir isi kepalaku cuma dipenuhi itu?”
Shinji diam, kendati mulutnya membuka sedikit. Ia sepertinya tak menduga respon Lea, juga mimik wajahnya yang kelihatan gusar.
“Jadi…, kamu memilih untuk mengorbankan semuanya—hidup kamu, karena ini?”
Lea memilih untuk tak menjawab.
“Atau, ada tujuan lain?” Cecar Shinji, dengan sebelah mata disipitkan.
“Tujuan lain apa?”
Shinji mengedikkan bahu. “You tell me.”
Belum mereka menikah, ia sudah sangat direndahkan dan merasa rendah karenanya. ‘Hanya ingin harta’; pasti itu anggapan Shinji tentangnya dan keluarganya. Ia sudah seringkali diingatkan soal itu oleh orang tuanya, mengingat status keluarga mereka yang tak seelit keluarga Kuroi yang kaya raya dan amat dihormati, dan pastinya akan mengundang spekulasi negatif kalau ia benar-benar menikah dengan salah satu pewaris keluarga tersebut.
Bagaimana pun, ia hanya keturunan salah seorang pembantu yang pernah mengabdi di keluarga tersebut. Yang karena hutang budi, berjanji akan memberikan salah satu anak perempuannya untuk kembali mengabdi di keluarga Kuroi sebagai seorang istri; atau gundik mungkin?
Saat Lea memenuhi pikirannya dengan segala macam hal terburuk yang mungkin saja terjadi bila ia menikah dengan Shinji, pintu ganda sebelah kanan darimana ia masuk tadi terdorong membuka. Seorang pemuda, menggunakan sawtooth jacket hijau botol dan jins belel lengkap dengan sepatu ketsnya yang tercoreng tanah, menyerbu masuk diikuti Malini yang tersengal di belakangnya.
Ia langsung menghampiri Shinji, dan mendorong kasar Shinji yang baru setengah bangkit dari duduknya begitu melihat pemuda tersebut masuk. Membuatnya terempas kembali ke kursinya, sementara kerah kemejanya tercengkeram keras di tangan si pemuda jangkung tersebut.
“Kenapa kamu nggak bilang papa sakit, Brengsek?!”
Lea membeku di kursinya; syok. Sementara Malini memohon di belakang si pemuda untuk melepaskan Shinji. Samar-samar Lea mendengar Malini memanggil pemuda itu dengan ‘Juna’, sambil berusaha menarik tangannya yang mencengkeram kerah kemeja Shinji.
“Apa kamu tanya?” Shinji membalas dengan santai. Mengempaskan tangan si pemuda dari kerah kemejanya, dan berdiri berhadapan dengan si pemuda dekat sekali. “Apa kamu peduli? Menurut kamu, apa papa masih ingin lihat muka kamu setelah perbuatan nggak tahu diri kamu? Bastard is still bastard.”—Anak haram tetap saja anak haram.
Meskipun cuma melihat punggungnya dari belakang, Lea dapat merasakan kemarahan menguasai pemuda tersebut. Setelah itu, semuanya seperti adegan slow motion yang mengawang di matanya ditemani suara menggaung tak jelas yang memusingkan.
Ia melihat Malini berusaha menghalangi si pemuda dengan memegangi tangannya yang terangkat siap dihantamkan. Namun sia-sia saja karena ia kalah kuat, dan akhirnya membuatnya terdorong ke sisi. Dan entah apa pikiran Lea, mendadak saja ia bangkit dari kursinya, bergegas menghampiri, dan sama seperti Malini, memegangi tangan pemuda itu. Dan ketika tak berhasil—pemuda itu memang kuat sekali, ia berusaha menghalangi dengan berdiri di tengah-tengah; di antara Shinji yang telah terduduk di kursinya, dan pemuda tersebut.
Please stop.” Itu kata pertama yang ia lontarkan dengan napas tersengal, sekaligus mengiringinya bertemu pandang dengan pemuda jangkung tersebut. Bertemu kedua bola mata hitamnya yang terlihat amat kelam seolah akan menenggelamkannya. Kedua tangannya di dada pemuda tersebut.
Si pemuda menurunkan pandangannya sejenak ke tangan Lea yang menahan dadanya. Setelah itu memandang Lea kembali, dan, “Minggir.”
Suaranya terdengar begitu dalam dan mengintimidasi.

Lea menggeleng pelan. “PleasePlease.
Keduanya saling bertatapan. Dan Lea merasa badannya menghangat; seolah meleleh di bawah tatapan tajam pemuda di depannya. Ia memang tak setampan Shinji, namun ada sesuatu di wajahnya yang membuatnya begitu menawan. Tapi Lea tak mau larut; berupaya keras menahan diri. Tetap mempertahankan kontak mata dengannya, berharap itu akan meredakan emosinya.
Ada apa ini?”
Gelegar suara berat seorang laki-laki, dan membuat Lea tersadar dan segera menarik tangannya dari si pemuda.
Ia, juga pemuda itu menoleh ke samping kanan, dan melihat seorang pria dewasa berjalan mendekat dengan gusar. Sama dengan Shinji, ia mengenakan setelan hitam dengan korsase Lili hitam tersemat di saku kemejanya. Wajahnya berkeringat dan merah. Matanya terlihat Lelah.
“Kak.” Pemuda di depan Lea menyapa dan segera membungkukkan badannya pada Eiji Kuroi, putra tertua dari keluarga Kuroi.
“Juna. What’s wrong with you?” kata Eiji, dengan nada marah yang tertahan. “Saat berduka seperti ini; apa yang kamu pikir?”
“Maaf.”
“Kenapa kamu nggak ganti baju dulu? Nggak sopan.”
Juna menunduk, wajahnya yang tadinya sangar kini kelihatan menyesal.
“Malini. Tolong kasih dia baju yang proper,” Eiji menginstruksikannya pada Malini yang sedari tadi berdiri tersembunyi di belakang mereka.
Malini mengangguk, dan segera menggamit lengan Juna, mengajaknya pergi. Juna mengikutinya tanpa protes. Keduanya dengan cepat menghilang dari balik pintu masuk. Meninggalkan Lea, bertiga saja dengan Shinji dan Eiji.
“Lea.” Eiji tersenyum padanya. “Maaf kamu harus lihat itu. Nggak seharusnya. Maaf.”
“Nggak apa-apa, Kak. Kakak nggak perlu minta maaf.”
Lea telah terbiasa memanggil Eiji dengan sebutan ‘Kakak’. Eiji, sudah sering berkunjung ke rumahnya, dan bisa dibilang ia cukup akrab dengannya. Jadi Lea bersyukur, ia adalah orang yang pertama kali dilihatnya dari pintu ganda yang menutup sejak 2 jam lalu. Sungguh sesak rasanya berada di tempat dimana tak seorang pun ia kenali.
Thank you,” senyum Eiji.
Lea balas tersenyum kendati muram, dan kembali ke kursinya. Shinji, yang masih terduduk di seberangnya, membetulkan kerah kemeja dan juga jasnya yang agak kusut. Meskipun begitu wajahnya biasa saja, seakan tak ada apa pun yang terjadi sebelumnya.
“Apa yang kamu bilang ke Juna barusan?” Eiji menanyainya.
“‘Bastard’,” jawab Shinji santai.
“Kamu harus berhenti menyebutnya begitu.”
Shinji tidak merespon. Membuang muka.
Eiji mengempaskan napas, dan mukanya kelihatan kecewa dengan prilaku adiknya. Ia diam beberapa saat untuk menenangkan diri, sebelum akhirnya pamit kembali ke dalam kamar. “Tolong tunggu sebentar, Lea,” ia menambahkan sebelum pergi.
Lea mengiyakan, dan setelah itu sunyi. Suasana kembali seperti semula; ke waktu sebelum Juna muncul dengan gusar di pintu masuk, dan ia hanya berdua saja dengan Shinji.
You don’t have to save my ass, you know.”
Lea mendengus, menyipitkan mata pada Shinji yang bersandar nyaman di kursinya. “Aku nggak ada maksud menyelamatkan siapa-siapa. Cuma nggak ingin suasana berduka seperti sekarang dicemari dengan insiden nggak jelas seperti tadi.”
Shinji terkekeh kecil. “Orang tua kamu benar-benar menyiapkan kamu jadi istri yang baik.”
Dahi Lea mengerut.
“Aku akan coba, kalau gitu.”
“Coba apa?”
“Nikah sama kamu.”
Lea memilih untuk tak bereaksi mendengarnya.

(Bersambung)

pic from here
Bloomed in a garden of loneliness
A flower that resembles you
I wanted to give it to you
After I take off this foolish mask
-The Truth Untold, BTS-

0 comments:

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP