Untitled: Chapter 3

>> Wednesday, October 18, 2017

Baca: Untitled Chapter 1 & 2


3

“Kenapa kita nggak naik mobil aja sih?”
“Jalan itu sehat.”
“Ini jauh.”
Junan menghentikan langkah santainya untuk menunggu Lea yang tertinggal beberapa langkah di belakangnya. Saat Lea sampai di sebelahnya, ia melingkarkan satu tangannya ke bahu Lea. Lea mendelik tajam padanya, dan ia cuma nyengir.
“Teman itu berbagi masalah. Dan aku, dengan senang hati mendengarkan keluh kesah kamu,” ujar Junan ditemani cengiran jenaka.
“Aku butuh kendaraan yang bisa bawa aku kemana pun kamu mau ajak aku, Juna.” Lea menepis tangan Junan dari bahunya. Merogoh ransel yang ia bawa, dan menarik keluar botol minuman. “I need that, right now.”
Ia meneguk banyak-banyak air putih di dalamnya.
“Kita udah setengah perjalanan untuk balik lagi ambil mobil. Dan aku yakin kalau kita balik, kamu pasti nggak mau keluar lagi dengan sejuta alasan. Jadi,” ia menggamit tangan Lea dengan mendadak, dan membuat Lea yang masih minum tersedak karena kaget, “kita harus terus.”
Ia menarik Lea buru-buru, sementara Lea protes. Cepat-cepat memasukkan kembali botol air ke tas.
“Lagian,” sambung Junan lagi, memandang ke atas, ke rimbun daun-daun pepohonan yang menaungi mereka, “ini terlalu indah untuk dilewatkan.”
Ia melepas tangan Lea dan merentangkan kedua tangannya sendiri sambil terus berjalan. Mau tak mau Lea ikut mendongak. Dan kemudian memandang sekitar.
Mereka sudah sampai di jalan besar pinggir hutan rimbun yang hijau dan tenang, dengan danau besar berwarna biru di sebelah kiri yang memantulkan cahaya cerah matahari yang mendadak muncul setelah beberapa hari tertutup awan. Kesunyian begitu terasa, dan rasa tenang merayap perlahan ke lubuk hati. Membuat Lea bernostalgia kembali ke masa kecilnya, saat ia membuka-buka halaman demi halaman majalah berbahasa asing di ruang tengah rumah, yang menampilkan pemandangan-pemandangan indah dari seluruh belahan dunia, dan sudut-sudut rumah ideal berarsitektur barat yang dipamerkan di majalah tersebut. Membuatnya berjanji, kalau suatu hari ia akan pergi ke salah satu tempat asing tersebut. Dan menikmatinya habis-habisan. But, itu sebelum ia tahu, kalau patah hati itu menyakitkan.

Akhirnya sekitar 20 menit kemudian, mereka sampai di kota Lake Tekapo.
Sepi. Yah, karena memang populasinya cuma 369 penduduk saja. Plus, bulan Juli ini memang bulannya dingin. Jadi tidak banyak wisatawan yang berkunjung. Dan karena mereka sampai di pusat kota tepat jam makan siang, maka Junan langsung mengajak Lea ke satu-satunya restoran Jepang yang ada di sana; Kohan Restaurant.
“Sushinya enak,” beritahu Junan, ketika mereka sudah duduk di salah satu meja di dalam Kohan, dan Lea tampak bingung melihat menu.
“Kamu sering ke sini?” Lea memandang Junan dari balik menu.
“Sejak aku di sini, aku selalu kemari untuk icip-icip.”
“Nggak bosan?”
“Aku suka makanan Jepang; apalagi sushi. Kamu suka sushi apa?”
Lea tak langsung menjawab. Masih menggerakkan matanya ke daftar makanan di menu dari atas ke bawah. “Aku... Nggak pernah makan makanan Jepang. Nggak suka.”
Junan membeku. Dan Lea buru-buru berkata, “Oh, its fine. Makan makanan Jepang ada di bucket list-ku. Jadi” ia mengangguk-anggukkan kepala, “mungkin sekarang waktunya untuk coba.”
Ia nyengir pada Junan. Tapi kemudian cengirannya pudar melihat cara Junan memandangnya; separo-heran, separo-geli.
“Kenapa lihat aku kaya gitu?”
Bucket list? Bucket list apa? Salmon Sushi combination, please.” Junan bicara pada waitress yang segera mencatat pesanannya.
“Masa kamu nggak tahu ‘bucket list’? Teriyaki Chicken Don,” Lea menyebutkan pesanannya pada si waitress.
Si waitress membacakan ulang pesanan keduanya, dan setelah dikonfirmasi ia segera berbalik dan melesat menuju konter.
“Itu... daftar keinginan kan?”
Lea tersenyum lebar dan mengangguk. “Ya.”
“Kamu sekarat atau gimana?”
Lea mendengus putus asa. “Emang orang sekarat aja yang mesti punya bucket list? Kita yang sehat gini nggak masalah kan punya bucket list? Ngelakuin beberapa hal yang belum pernah sama sekali kita coba?”
“Oke.” Junan mengembungkan pipi, seraya mengangguk.
“Kamu... punya bucket list?”
“Bukannya kamu nggak mau tahu soal aku?”
Lea menyandarkan punggungnya ke belakang. Mengembuskan napas, menatap jengkel Junan yang sekarang terkekeh. “It’s a bucket list. Nggak masalah kan?”
Well. Aku nggak punya yang khusus sih.” Junan menggaruk-garuk dagunya sambil berpikir. “Karena aku sukanya spontan; jarang planning sesuatu. Apa yang mau aku lakuin ya aku lakuin.”
“Olahraga ekstrim, gitu?”
Junan tertawa. “Sepertinya seluruh olahraga ekstrim udah aku coba.”
“Serius?”
Tampang Junan kelihatan sekali bangga. “Name it.”
“Bungee jumping?”
“10 kali, dan love it.”
Lea mencibir. “Wall climbing?”—Panjat tebing?
Junan terbahak. “Setiap ada waktu aku ke wall climbing center, atau ke gunung untuk manjat.”
“Motor cross?”
Tawa Junan makin keras, dan Lea makin manyun. “Aku suka banget Motor cross, Lea.”
“Moto GP, gitu?”
“Aku suka balapan, tapi aku sepertinya kalah kualifikasi sama rider Moto GP.”
Lea kehabisan pilihan, dan Junan terkekeh.
“Apalagi yang ada di bucket list kamu selain ‘makan makanan Jepang’?”
Mata Lea berputar saat ia memikirkan jawaban pertanyaan Junan. “Minum bir atau minuman yang ada alkoholnya,”—muka Junan seolah baru diterpa angin dingin (“Kamu belum pernah minum bir?”—“Public fight,”—(“What a weird bucket list,” komentar Juna, terbahak)—“Dansa sama cowok ganteng di tempat yang nggak biasa—Eh, kamu ngapain?”
Junan menarik tangan Lea, memaksanya berdiri. “ ‘Dansa sama cowok ganteng di tempat yang nggak biasa’. Itu, akan terjadi sekarang.”
“Aku nggak mau. It’s Japanese Restaurant for God’s sake,” tukas Lea dengan tampang ngeri.
Exactly.” Junan memiringkan kepala dan tersenyum jail. “Ini tempat yang nggak biasa.”
“Banyak orang.”
“Hei. Ini tempat yang nggak biasa.”
“Nggak ada musiknya.”
“Bisa diatur.”
Dan Junan bergegas ke konter, berbicara dengan salah satu waiter di sana selama beberapa waktu dengan ekspresi serius. Saat ia kembali menghampiri Lea, tak lama kemudian terdengar intro manis yang amat Lea kenali; Dancing in the Moonlight-nya Top Loader, band asal Inggris tahun 90-an, yang jadi soundtrack film A Walk to Remember.
“Oh my God.”
Lea tersedak menahan tawa melihat Junan berjalan sambil menggoyangkan badannya dengan cara yang maskulin namun lucu. Ia juga turut menyenandungkan lirik lagunya dengan jenaka, tanpa peduli dengan tatapan bingung orang-orang ke arahnya.
Ia menggamit tangan Lea, dan merangkul pinggulnya rapat ke badannya. Dan Lea, yang sudah terkesima oleh aksinya, tanpa banyak kata mengikuti gerakan tubuh Junan ke kanan dan ke kiri; berdansa di tengah ruangan dengan tawa berderai.
She’s craving,”—Dia sedang ngidam, Junan menjelaskan pada seisi ruangan yang memandangi mereka berdua dengan tatapan kosong tak terjelaskan, sementara Lea menyembunyikan muka merahnya di pundak Junan sambil terguncang-guncang menahan tawa. “Want to dance here,” ia menambahkan.
Dan semua orang tertawa. Tatapan bingung mereka berganti tatapan ceria penuh damba ke arah keduanya.
See?” kata Junan pada Lea, yang masih menatapnya tak percaya. “Cuma butuh nekat sama tekad aja. Plus, skill ngeles yang mumpuni.”
Lea terbahak, dan memeluk Junan lebih erat. 

Lea makan sushi atas paksaan Juna, dan berjanji tidak akan makan lagi. 
Ia mual merasakan salmon mentah yang tak berasa sedikit pun, walaupun sudah dicemplungkan ke saus ini-itu. Membuatnya ingin muntah begitu mereka keluar dari Kohan 1,5 jam kemudian setelah aksi dansa mereka yang fenomenal.
Sekarang mereka berada di pinggir Lake Tekapo; duduk di tengah alang-alang dan barisan bunga Lavender. Junan duduk dengan memeluk lutut menghadap danau, dan Lea menggambarnya di sketch book. Matahari bersinar redup di atas, sehingga mereka tidak kepanasan. Angin berembus pelan menyejukkan.
“Lea?”
“Hm?”
What are you doing?”
“Aku lagi gambar.”
“Bukan.” Juna menoleh ke arahnya, dan Lea mengangkat mukanya dari kertas sketch book. “What are you doing here? Di New Zealand. Lake Tekapo. Sendirian.”
Lea kembali menekuni gambarnya yang tinggal sedikit, sekaligus menimbang-nimbang untuk mengatakan alasannya datang ke sini pada Juna. Tapi kemudian ia memutuskan untuk tidak mengatakan apa pun. Kalimat yang keluar dari mulutnya adalah permintaan pada Juna untuk tidak menanyakan itu lagi padanya.
“Kenapa?”
Lea bungkam. Menekankan pensil arang di bagian kerah solid v-neck warna abu-abu cerah Juna yang sedang ia gambar. Berusaha terlihat fokus, kendati isi kepalanya buyar ke segala tempat.
“Oke.” Juna menghadapkan mukanya lagi ke arah danau biru yang membentang di hadapan. “I’m here, kalau kamu mau cerita ala cewek.”
 Lea menahan geli mendengar kalimat Juna barusan. Berupaya terlalu keras menyembunyikan dengusnya, hingga ia seolah mengempaskan napas tajam dan membuat Juna mau tak mau mengarahkan pandang ke arahnya.
Let me see.”
Juna merangkak mendekati Lea, lalu duduk di sebelahnya. Menjulurkan wajah ke sketch book yang membuka di kedua kaki Lea yang menyilang, dan segera saja mendesis ‘wow’ kagum begitu ia melihat gambar tangan Lea.
“Aku sering kali bertanya-tanya, bagaimana caranya orang-orang bisa gambar atau ngelukis dengan bagus? Mereka kayanya dikasih Tuhan mata yang benar-benar spesial, dan tangan yang benar-benar luwes untuk itu,” ujar Juna, mengambil sketch book dari tangan Lea.
Ia membalik-balik halamannya. Dan kelihatan terkesima dengan semua sketsa tangan Lea di tiap lembarnya. “It’s very good,” pujinya.
Lea hanya tersenyum kecil. Ia sudah sering mendapat pujian serupa, jadi tidak lagi terlalu excited mendapatkannya dari Juna. Pandangannya ia alihkan ke arah danau; mengambil napas panjang, lalu mengembuskannya dengan mata dipejamkan.
Thank, God, aku ambil kacamata kamu.”
Lea langsung menoleh pada Juna, yang masih memandangi gambar-gambarnya di sketch book menggunakan kaca mata bundar miliknya. “Maksudnya?”
“Aku baru tahu kalau kamu cakep.”
Mulut Lea menganga. Merasa kalau ia mungkin salah dengar.
“Kamu... cantik ternyata,” Juna menjelaskan, memandang Lea dengan senyum simpul. “This thing,” ia menunjuk ke kacamata yang dikenakannya, “kill your face. Not good.”
Lea mengeluarkan suara seperti cegukan, lalu menarik sketch book-nya dari tangan Juna. “Kapan kamu mau kembaliin kacamataku?”
“Kalau aku memang merasa sudah waktunya mengembalikan.” Ia nyengir, lalu merebahkan badannya di atas rumput. Tangannya dipergunakan sebagai alas. “Lagian, aku ngerasa kacamata ini lebih cocok denganku daripada kamu.”
Lea memilih untuk memutar mata ke atas daripada menimpali kalimat-kalimat Juna yang terkesan narsis dan serampangan, namun selalu membuatnya ingin tertawa atau tersenyum. Setelah itu ia menghela napas panjang dengan mata memandang lurus ke danau lagi. Mengembuskannya perlahan, sambil menikmati embusan angin sejuk yang meniup lembut kulitnya.
And...”
Juna menarik ikat rambut Lea. Membuat gelungan asal di belakang kepalanya lepas, sehingga sulur-sulur ikalnya terjurai bebas di punggung. Mulut Lea menganga. Matanya melebar saking syoknya.
“Rambut kamu nggak seharusnya disiksa terus kaya gitu. It’s too pretty to be hide,” kata Juna, seakan saja itu menyelesaikan masalah.
Ia menyakukan ikat rambut Lea ke saku jinsnya, dan memejamkan mata.


Menjelang sore, Junan mengajak Lea mampir ke Lake Tekapo Tavern, sebuah pub lokal yang populer bagi penduduk Lake Tekapo. Ramai saat mereka masuk ke dalam. Dan Junan memberitahu Lea kalau tempat ini selalu padat di cuaca dingin seperti ini. Banyak orang merasa perlu keluar rumah untuk berada di sini; minum bir atau minuman beralkohol lain untuk menghangatkan badan , atau sekadar hang out dengan teman-teman.
Para turis juga sering berkunjung kemari untuk menghabiskan malam selama berada di Lake Tekapo.
2 beer and a glass of wine, please,” Junan berkata pada seorang laki-laki tinggi besar berambut pirang di balik meja bar yang segera tersenyum ramah begitu keduanya duduk di kursi tinggi. “And French fries.”
“Apa ada jus?” Lea berbisik pada Junan.
“Ngapain minum jus? Aku sudah order bir buat kamu.”
Lea mengerutkan dahi, tampak kesal. “Aku nggak minum bir.”
“Itu ada di bucket list kamu.”
“Aku nggak bilang aku harus lakuin itu sekarang kan?”
“Terus kapan?”
Lea tampak bingung menjawab. “Ya... Nant—”
Don’t waste the moment, Lea.” Dua gelas bir dan satu gelas kecil berisi wine datang, dan Junan langsung menyambar salah satu gelas bir dan meneguknya sedikit sebelum melanjutkan. “Kamu jauh banget dari Indonesia. Nggak ada yang kenal kamu di sini. Kalau kamu mau ‘minum bir’, better do it here.”
“Bukannya seharusnya kamu ngelarang cewek minum bir?” ujar Lea, setengah tertawa.
“Hei. Kamu yang buat bucket list kamu sendiri. Dan aku bantu kamu untuk ngewujudin yang aku bisa. Jadi aku ajak kamu ke sini. Kalau ternyata kamu jadi ‘coward’ begini, aku nggak akan ajak kemari.”
I’m not a coward.”
“Oh. Ya, benar. Kamu cuma nunggu sampai kamu benar-benar siap. Kaya mau hilang perawan aja.”
For God’s sake, Juna. Kamu ngomong apa sih?” Lea terbahak. “Apa kamu udah mabuk?”
I’m a social drinker, Darling. Aku bisa minum berapa pun dan masih tetap waras. Don’t know about you.” Junan mengedipkan mata, dan meneguk birnya lagi ditemani dengus tawa.
Untuk beberapa saat Lea cuma memandang Junan dengan mulut membuka dan tatapan tak percaya. “Apa alasan aku harus minum di sini? Aku bisa minum di Jakarta nanti. Atau di mana pun aku mau.”
“Di mana? Di kamar kamu? Ngumpet-ngumpet? Apa enaknya, daripada minum di bar kaya gini? Ditemani cowok ganteng yang siap ngelindungin kamu dari laki-laki yang akan memanfaatkan situasi.”
Dagu Lea terangkat. “Oh. Jadi kamu kira aku akan mabuk gitu?”
Touché.” Junan menyesap sedikit birnya lagi. “Itu akan terjadi. Sudah pasti.”
“Kamu benar-benar ngeremehin aku. Aku nggak akan mabuk semudah itu.”
Kepala Junan mengedik ke gelas bir di meja yang belum tersentuh. “Your bucket list is waiting, Madam.”
Lea menatap Junan dengan ekspresi tak terjelaskan. Bibirnya mengatup, dan napasnya tersengal seperti orang habis berlari jauh. Dikerlingnya gelas berisi bir yang hanya sejengkal darinya. Wajahnya kentara sekali bimbang.
“Oke. Nggak usah diminum,” Junan mengulum senyum. “Aku nanti yang habiskan.”
Ia meneguk birnya lagi banyak-banyak, dan hampir tersedak ketika Lea menyambar gelas bir di meja, dan langsung menenggaknya hingga hanya tersisa setengah dalam gelas.
“Oh, my God,” ucap Lea, separo-syok, separo-ngeri, setelah mengentakkan gelas birnya di permukaan meja. Lidahnya ia julurkan keluar seolah hendak muntah.
Junan melongo. Ia benar-benar tak menyangka kalau Lea akan meminum birnya sebanyak itu. Ia mengira, kalau Lea hanya akan menyesapnya sedikit saja.
“Apa... nggak enak rasanya?” tanya Junan takut-takut pada Lea yang sekarang bengong menatap rak berisi banyak botol cocktail di depan. “Are you okay?
“Aku nggak tahu.” Mata Lea bergerak ke kanan dan ke kiri seolah sedang berusaha mengingat-ngingat sesuatu. “Sebaiknya aku minum lagi.”
Junan ingin mencegah, namun Lea sudah lebih dulu menyambar pegangan gelas birnya dan menandaskan isinya dengan cepat. Setelah itu ia bersendawa, buru-buru meminta maaf pada Junan sambil tertawa ganjil. She’s drunk, Junan membatin. 
“Aku mau coba wine-nya.”
Tangan Lea sudah menggapai gelas kecil di depan Junan, dan Junan buru-buru mengangkatnya. “Aku rasa kamu cukup dengan bir saja.”
“Nggak.” Lea menggeleng-gelengkan kepala. Tangannya terangkat berusaha menggapai gelas kecil di tangan kanan Junan. “Aku harus coba wine juga.”
No, Lea. Bir sudah cukup buat kamu mabuk.”
Dahi Lea mendadak berkerut. Dan matanya mendelik tajam. “Aku nggak mabuk.”
“Tunggu sebentar lagi, dan kamu bakal ngoceh nggak jelas, atau tidur.”
Dan tidak butuh lama untuk membuktikannya. Karena kemudian Lea sudah meracau tidak jelas dalam bahasa Indonesia, dan menghabiskan seluruh French fries yang Junan pesan, serta setengah isi toples berisi kacang gratis di meja bar.
“Bucket list-ku yang lain; ikut kompetisi nyanyi; Indonesian Idol, atau X-Factor; terjun payung, bungee jumping,”—Junan mendengus-dengus geli mendengarnya—“dan—it’s wild actually,” ia cekikikan tak terkendali, “kissing a stranger.”
Dagu Junan terangkat. “Menarik. Kapan kamu mau lakuin itu? Kissing a stranger.”
Senyum Lea terlihat amat manis di mata Junan sekarang.
Now,” jawab Lea, menggigit bibir bawahnya seakan menggoda.
“Oh. Well...” Junan mencondongkan wajahnya lebih dekat ke Lea. “I don’t mind. Aku—hey! Lea?”
Junan memandang ngeri Lea yang mendadak saja bangkit dari kursinya, dan melesat ke sekumpulan laki-laki Caucasian yang berdiri di sudut dekat juke box. Menyambar kerah kemeja salah seorang dari mereka; laki-laki berambut coklat kemerahan yang sedang minum dari botol birnya, dan langsung mencium bibirnya dengan paksa.
“Oh... fuck,” gumam Junan putus asa.
Ia merogoh saku celana, dan meletakkan beberapa lembar dolar di meja bar. Menyambar ransel Lea, kemudian bergegas bangkit dari kursi, dan menghampiri Lea dan si rambut merah—yang sepertinya menikmati bibir Lea di bibirnya. Ia baru akan menggapai pundak Lea, ketika suara nyaring perempuan terdengar di belakangnya (“Why’s she kiss my boyfriend?!”) dan membuatnya—juga semua orang di dalam bar—menoleh.
Si laki-laki rambut merah langsung menarik wajahnya dari Lea, dan dengan gelagapan menenangkan perempuan tersebut. Junan buru-buru menarik pinggul Lea, untuk menjauhkannya dari pasangan tersebut. Namun Lea malah tertawa girang, dan membuat perhatian langsung beralih ke arahnya. Terutama si perempuan pirang, yang sedang marah-marah pada pacarnya.
She’s drunk,” Junan langsung menjelaskan pada si perempuan pirang yang kini maju mendekat. Menyembunyikan Lea di belakangnya. “Really drunk.”
She wasn’t seem drunk when she kissed my boyfriend.”—Dia nggak kelihatan mabuk waktu cium pacarku, balas si pirang galak.
Believe me she is,” Junan berusaha meyakinkannya.
Hey. Ini public fight!” seru Lea dari belakang Junan. Semringah. “It’s one of my bucket list!
Lea sempoyongan maju ke depan, menghampiri si perempuan pirang. Dan Junan dengan sigap menyambar pinggulnya. Tapi Lea yang jelas tidak mengerti gentingnya situasi berusaha kembali ke depan lagi, menggapai-gapaikan tangan pada si perempuan pirang.
Nope. It’s not public fight.” Junan kembali menarik Lea, dan memaksanya menjauh dari si perempuan pirang yang mendengus-dengus seperti banteng marah dan gerombolannya yang memandang dengan tatapan siap perang ke arah keduanya. “We’re leaving now. Peace. Ok?
Junan mendorong punggung Lea, menggiringnya ke pintu keluar. Angin dingin langsung mengempas ke arah mereka, dan membuat keduanya seketika beku di tempat.
“Kita harus cari taksi kalau gini,” gumam Junan pada Lea, kendati ia tak yakin Lea mendengar atau tidak. “Kita berdua nggak ada yang bawa parka.”
Junan menoleh, dan melihat Lea sedang menatapnya diiringi senyum bodoh. Hidungnya merah, karena diterpa angin dingin.
What?”
“Kayanya aku beneran mabuk,” jawab Lea cekikikan.
No doubt.”
Setelah itu Junan meraih tangan Lea, dan mengajaknya berlari ke salah satu taksi yang parkir tak jauh dari pub.

Lea tidur sepanjang perjalanan kembali ke rumah. Dan masih tidur waktu taksi yang mengantar keduanya memasuki pekarangan dan berhenti di depan teras. Junan berusaha membangunkannya, tapi sepertinya Lea terlalu mabuk untuk membuka mata, sehingga Junan terpaksa menggendongnya masuk.
You don’t have to do this,” ujar Lea pada Junan yang sedang membawanya meyeberangi ruang tamu menuju kamar.
Do what?”
“Gendong aku.” Lea nyengir, kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Junan. “Aku nggak pernah digendong kaya gini sama cowok. It’s so romantic.”
“Aku kira kamu nggak suka yang romantis.”
Junan mendorong pintu kamar Lea menggunakan satu kaki, kemudian masuk ke dalam, lalu hati-hati menurunkan Lea di atas tempat tidur. Lea langsung meletakkan kepala di atas bantal, berbaring miring dengan kedua kaki menggantung ganjil.
“Kepalaku pusing banget sekarang,” keluhnya, masih setengah terkekeh.
Junan mendengus geli, dan membantu Lea melepaskan kedua boot yang masih ia kenakan. Setelah itu ia membenarkan posisi kaki Lea; menggesernya agar seluruhnya berada di atas kasur, kemudian menarik selimut untuk menutupi kedua kaki Lea yang terasa amat dingin.
Sleep now. Aku nyalain perapian biar hangat sedikit.” Junan mengusap kepala Lea.
Setelah itu ia berpaling; hendak pergi. Namun tertahan saat Lea mendadak meraih satu tangannya. Membuatnya memutar badannya lagi, dan memandang Lea lagi, dengan ekspresi penuh tanya.
“Kalau aku lupa besok, aku mau bilang sekarang kalau aku... senang banget hari ini,” jawab Lea. “Udah lama banget kayanya, aku nggak sesenang ini. Thank you.”
You’re welcome.” Junan tersenyum. Senyum yang benar-benar tersenyum. “Aku juga senang kok.”
And...”
Tiba-tiba air mata Lea jatuh satu per satu ke pipi, dan mulai menangis. Junan yang tidak menduganya langsung bingung. Bergegas duduk di tepi tempat tidur dan mengusap pundak Lea.
“Ada apa?”
“Aku patah hati...”
Dahi Junan berkerut. Tak paham.

(Bersambung) 

Gambar dari sini
Main character: Junan Roi (Junan/Juna), Ophilea Usara (Lea/O), Yuric Andrei (Yu)
Supporting Character: Soma Saidan (Soma), Danaela Saidan (Dane/Dan), Dario Umbara (Rio/Dario), Brina Rasya (Brie)

0 comments:

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP