Untitled: Chapter 1

>> Saturday, September 23, 2017

1



JUNAN ROI. Hm. Nggak ada yang nggak kenal dia. Laki-laki tampan, jangkung, six-packs, populer dan juga sukses.
Saat usianya baru 21 tahun, predikat Chef jenius berbakat telah disandangnya. Talentanya telah diakui hingga luar negeri, dan namanya sering disandingkan dengan beberapa Chef ngetop kelas dunia; George Ramsey, misalnya. Yang adalah Chef tangan besi, spesialis masakan Perancis dan Fine Dinning yang rating masakannya sudah setingkat 3 bintang Michelin. Ia dan Junan saling kenal, bahkan berteman baik. Perbedaan umur yang hampir 20 tahun jauhnya tidak membuat keduanya sulit bersosialisasi, Dan itu membuat reputasi Junan semakin tinggi. Mengantarkannya ke tempat-tempat eksklusif dan mewah, memasukkannya ke lingkungan kelas atas yang ‘high’, dan membuatnya berteman dengan banyak selebriti, sosialita, juga politikus berpengaruh di negeri ini. Masakan ciptaannya semakin terkenal, diminati, serta mahal, dan pastinya itu berpengaruh pada jumlah angka nol di rekening pribadinya.
He’s rich. Handsome. Elegant. Classy. And... Single! Setidaknya itu yang selalu dia bilang, pada siapa pun yang menanyakan perihal pasangan hidup dan sejenis itu kepadanya. One of eligible bachelors in town, yang pastinya amat diinginkan perempuan mana pun untuk dimiliki. Dengan wajah se-cool itu, kulit yang eksotis, plus postur badan sempurna, dia bagaikan hidangan bukan cuma 3, melainkan 5 bintang Michelin di mata kaum hawa—mungkin juga kaum Adam, yang sedang mencari pacar, suami, bahkan mungkin selingkuhan. Hahaha. And that’s the truth.

...

Reaksi itu; ekspresi wajah itu... Ia sudah memprediksinya.
Saat ia memutuskan untuk batal bertunangan dengan Dario, pacarnya selama tiga tahun di malam saat makan malam dua keluarga dihelat di rumahnya, ia paham sekali konsekuensi yang akan ia terima.
Orang tuanya; mamanya terutama akan sangat syok karena malu. Begitu pun orang tua Dario, serta kerabat dekat mereka. Soma dan Danae akan mengomelinya—atau diam seribu bahasa, entahlah. Dan Dario... Well, ia pasti lega, karena terlepas dari tanggung jawab menjadi laki-laki brengsek yang ingin membatalkan pertunangan demi perempuan lain yang ia cintai lebih dari calon tunangannya. 
Pengecut, ia membatin. Dario; dan juga Tina, sahabat baiknya yang ternyata telah Dario cintai jauh sebelum mereka bertemu. Keduanya pengecut, karena telah membohonginya selama ini. Sungguh menyakitkan.
Aku sudah ketemu Tina, sebelum aku ketemu kamu, Lea.” Dario mengatakannya dua hari sebelum makan malam keluarga diadakan. “Dan aku cinta sama dia, dan dia sebaliknya. Dia nggak mau bilang kamu, karena dia nggak mau nyakitin kamu; sahabatnya.”
“Lebih baik bilang, daripada aku tahu belakangan kalian selingkuh.”
No, Lea. Kami nggak selingkuh. Aku mungkin brengsek, tapi dia nggak. Dia hindarin aku, sejak pertama aku dikenalin sama dia oleh kamu. Dia nggak balas telpon atau pesan teksku. Dia suruh aku menjauh waktu aku bilang aku masih cinta sama dia. Dan aku coba. Demi Tuhan, Lea. Aku coba. Tapi... hati nggak bisa bohong, aku—”
“Kamu mau batalin acara pertunangan?”
“Aku... Bukan begitu. Aku cuma mau kamu tahu, gimana perasaanku sebenarnya. Aku tersiksa, Lea. Benar-benar—”
Dan Dario tidak lagi bisa meneruskan kalimatnya, karena Lea telah membungkamnya dengan tamparan keras penuh kemarahan dan sakit hati yang luar biasa. Dan langsung pergi meninggalkannya sendirian di balkon rumahnya.
Berat memang menyingkirkan sesuatu yang begitu amat ia cintai; kekasih dan juga sahabatnya. Namun ia tak mau hidup dalam rasa gundah dan sakit hati seumur hidup dengan suami serta sahabatnya saling mencintai. Ia bisa saja tutup mata, tapi... hatinya jelas tak bisa. Jadi ia memutuskan untuk mundur. Karena untuk maju, kakinya sudah tak lagi bisa berjalan.

...

“Kalau ini keputusan terbaik,” Danae yang memeluk Lea erat, berusaha menenangkan. “Kami berdua dukung kamu. Kami ngerti perasaan kamu.”
Lea tak berani menatap Soma yang sejak masuk kamar tadi hanya berdiri bersandar di dinding dekat pintu; walaupun tak sepatah-kata pun terlontar dari mulutnya. Soma, sebelumnya berusaha keras membujuknya untuk tetap melangsungkan pertunangan dengan Dario demi nama baiknya sendiri juga keluarga. Namun apa daya, ia tak mampu melakukannya. Sungguh tidak bisa.
Ketukan di pintu membuat Lea mengangkat kepala dari bahu Danae. Ia menduga itu mama atau papanya, yang mungkin hendak melampiaskan rasa kecewa atau mencecarnya dengan banyak pertanyaan perihal pembatalan pertunangan. Tapi ternyata saat Soma membuka pintu, yang muncul adalah Dario. Mukanya merah, ekspresinya campuran rasa bingung dan malu.
“Lebih baik kamu pergi,” suruh Soma dari ambang pintu, tak membiarkan Dario maju lagi. “Ini bukan waktu yang tepat untuk ketemu.”
Dario melempar pandang ke Lea dari seberang. “Aku mau minta maaf,” katanya pada Soma, lalu ke Lea dengan tatapan memelas. “Please.
Lea bergeming. Tak bicara. Ia tegak di ujung tempat tidur, balas menatap.
“Sudahlah, Dario,” Danae bicara dari sebelah Lea. “Kamu dan Tina sekarang bisa bebas. Jangan ganggu Lea lagi.”
“Tapi—”
Just go, Rio,” potong Soma. “Dan bilang sama keluarga kamu untuk nggak ngoceh di depan press tentang Lea. Karena aku bisa publish statement balik ke media alasan sebenarnya pertunangan ini batal. Kamu nggak mau kan, kalau fans, PH, dan sponsor tahu soal kamu dan Tina?”
Dario menatap Soma kesal, tapi tidak bisa membalas.
“Kamu bisa bilang sama mereka, kalau pertunangan batal atas kesepakatan kalian berdua, karena kamu masih mau serius berkarir, dan Lea masih mau melanjutkan studi. Tidak kurang, tidak lebih.”
Dario melengos, seraya mengembuskan napas tajam. “Aku nggak pernah bilang pertunangan ini batal,” gumamnya dalam suara serak. “Ini hanya ditunda.”
Lea mengerutkan kening.
“Dengar, Lea?” Dario mendongak dan menatap Lea lurus dari tempatnya. “Ini hanya sementara.”
Lea menggeleng. “Be happy with Tina, Dario. Aku akan baik-baik saja.”
Dario tersenyum simpul sinis, setelah itu berpaling. Pergi.

...

“Sampai kapan kamu di sana?”
“Nggak tahu. Sampai pikiran nggak penat lagi.”
“Bisa lebih spesifik?”
Junan mendengus geli dan menggelengkan kepala. “Tenang, Yu. Restoran akan baik-baik aja. Mau ada aku atau nggak, everything will be fine.”
“Nan. Kalau kamu nggak ada lama, resto bisa sepi.”
Junan menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu, dan berkata mantap, “Nggak akan sepi. Percaya sama aku. Selama rasa dan kualitas makanan tetap terjaga, nggak ada yang harus dicemaskan. Jadi pastikan feedback customer jalan. Lagian, aku punya Sous Chef andal kan?”
Ganti Yu yang menggeleng. Memandang sekeliling ruang tunggu bandara dengan jengkel. “Kenapa mendadak aja kamu mau pergi? Sekarang pula; pas lagi high season gini.”
Junan membungkukkan badan, memandang sepatu kets Nike di kakinya, dan menatap kosong tali yang berselang-seling membentuk simpul. “Aku capek kayanya,” jawabnya setengah menerawang. “Kayanya... aku mau gila.”
Yu memandang Junan dengan alis berkerenyit. “Ada masalah apa sih?”
Bahu Junan mengedik sejenak. “Aku juga nggak tahu. Aku cuma ngerasa... kegencet.”
Dengus geli Yu membuat Junan menoleh, dan menegakkan badannya lagi.
“Aku nggak tahu memang, apa yang buat kamu stres—”
“Aku nggak stress,” Junan menyela buru-buru. “Aku cuma ngerasa...” Ia memandang lurus ke depan; ke arah orang yang lalu lalang. “kosong.”
Yu menjingkatkan alis. Tak mengerti apa maksud kata-katanya, namun menahan niatan untuk bertanya. Dan Junan tak berkata apa-apa lagi setelah itu. Ia cuma tercenung menatap lurus ke depan dengan raut muka yang muram.
“Kamu nggak happy?” tanya Yu, menyandarkan punggung ke belakang.
“Nggak tahu.”
“Kamu punya semuanya.”
Bibir Junan membentuk kerucut kecil. “Aku tahu, tapi... ada yang kosong. Dan... Aku jadi jenuh. Aku nggak tahu, tujuan hidupku itu apa sebenarnya. Aku ngerasa... nothing.”
“Kamu cuma capek, Nan,” Yu menyimpulkan. “Kalau gini yah... Better take vacation. But, please, jangan lama-lama. Aku nggak bisa galak sama anak-anak, jadi... kalau restoran kacau—”
“Kamu leader yang jauh lebih baik dari aku, Yu,” Junan kembali menyela. “Jadi restoran nggak akan kacau whatsoever. Stop to underestimate kemampuan kamu sendiri. Atau kamu memang berusaha sombong dengan bersikap humble?”
Yu menatap Junan dengan putus asa. “Kamu salah. Aku nggak—”
Junan tertawa kecil. “Aku tahu.”
Yu mendengus sinis, sembari memutar mata. Tapi kemudian senyum simpul melengkung di pipi kanannya. Kepalanya tertunduk sejenak.
Setelah itu terdengar pengumuman boarding dari pengeras suara. Junan berdiri, dan menyandangkan tali tas beperrgiannya yang sebelumnya ia letakkan di bangku sebelahnya ke satu bahu. Merogoh tiket dari saku jeansnya.
I go,” ia pamit.
“Oke. Take care,” balas Yu.
Kedua laki-laki jangkung itu berpelukan sejenak, sebelum akhirnya melepaskan diri. Dan Junan berpaling, lalu berjalan pergi. Yu tetap di tempat, memandang punggung Junan menjauh, sampai ia bergabung dengan antrian pengecekan bagasi bersama calon penumpang lain. Baru setelah Junan menghilang dari pandangan, ia memutar badan. Hendak pergi.
Saat ia melangkah santai menuju pintu exit, perhatiannya mendadak saja teralih. Dan apa yang dilihatnya, entah kenapa membuat hatinya seolah berdesir manis sekaligus menyakitkan.  Seolah saja waktu berhenti, dan dunia di sekelilingnya membeku.
Perempuan itu; dengan rambut digelung di pucuk kepala, earphone di kedua telinga, tas besar di bahu, dan gagang travel bag yang ia tarik mengikuti langkahnya, kaus putih kebesaran yang hampir melorot ke satu bahu, leher mungilnya, rambut coklat kemerahannya, bibir merah mudanya—semua yang ada di dirinya, entah kenapa membuat Yu tertarik seakan saja ia adalah magnet, melangkah dengan wajah tegak dan tatapan lurus ke depan. Dia cantik, tapi bukan itu yang membuatnya memesona, melainkan wajah sendu dan mata besarnya yang memerah dan berair. Dia, kelihatan rapuh. Tapi juga..., kokoh.
Andai saja Yu punya sedikit keberanian untuk dianggap konyol, dia akan menyambar lengan perempuan itu, dan mengatakan, “Halo” yang menuntun ke lebih banyak kata dan kalimat setelahnya—mungkin juga tamparan. Tapi dia terlalu waras, tidak punya kualitas nyeleneh seperti Junan, jadi yang bisa ia lakukan hanya membiarkan perempuan itu melintas di sampingnya; memandangi punggungnya semakin lama semakin jauh dari jangkauan pandang.
Setelah itu ia mengempaskan napas dan tersenyum simpul. She’s out of my league, ia membatin. Kembali melanjutkan langkah.
 ...

Nareen, nama temannya yang akan memberikannya tumpangan tempat tinggal selama dia berada di kota Lake Tekapo, New Zealand. Perempuan Indonesia, yang menikah dengan Hans, pengusaha apparel yang berkebangsaan Belgia, dan akhirnya menetap di Selandia Baru bersama kedua anak mereka.
Lea amat beruntung mengenal Nareen dan Hans; terlebih karena Nareen adalah salah satu fans dan peminat lukisannya, yang kerap kali mengundangnya untuk datang dan tinggal bersama mereka beberapa waktu. Dan akhirnya, setelah 3 tahun, baru sekarang Lea dapat menjawab undangannya, dan merasa bersalah karena alasannya untuk datang bukan murni karena ingin menghabiskan waktu bersama Nareen dan keluarganya, melainkan karena ingin lari sejenak dari keadaan yang menyiksanya di rumah dan juga sekelilingnya, setelah keputusannya  untuk tidak melakukan pertunangan dengan Dario.
Namun kedatangannya bisa dibilang tidak tepat atau memang tepat, karena begitu ia masuk ke SUV hitam Nareen yang menjemputnya di Lake Tekapo Airport, ia langsung mendapatkan kabar, kalau Nareen dan keluarganya akan berlibur ke Brussel esok harinya, untuk merayakan ultah ibu Hans yang ke 68 tahun serta mengurus bisnis selama beberapa waktu di sana.
“Kamu bisa tinggal selama kamu mau,” kata Nareen, setelah permohonan maafnya diterima oleh Lea yang berusaha meyakinkannya kalau ia tak perlu cemas, dan akan baik-baik saja sendirian di rumah tersebut. “Dan, ada teman Hans yang juga akan stay selama beberapa hari. Jadi kamu nggak akan sendirian.” Itu tambahan informasi darinya.
Dan malam itu, Lea menghabiskan waktu dengan keluarga Nareen dan Hans yang hangat, dan membuatnya jadi emosional, hingga terpaksa pamit untuk beristirahat lebih dulu.
Melihat keakraban keluarga mereka, apalagi sampai berada di tengahnya membuatnya teringat Dario serta janji-janjinya di masa lalu. Semua imajinasi indah mengenai ia dan Dario yang menikah, memiliki anak kembar, dan tinggal nyaman di sebuah rumah yang penuh bunga krisan dan Lili kembali teringat dan menimbulkan perasaan sakit di ulu hati dan panas membara di sekujur badan.
Ia tidak tahu apakah kebencian yang sedang ia rasakan, atau kesedihan yang luar biasa besar. Tapi apa pun itu, terasa amat menyakitkan dan seolah sedang berusaha membunuhnya pelan-pelan. Ia tersiksa. Dan ingin sekali berteriak mengumpat Dario juga Tina. Namun tentunya tak bisa selama ia berada di rumah ini bersama Nareen serta keluarganya. Ia juga bimbang, apakah dengan membenci dan merasa malang terhadap dirinya sendiri akan membuatnya merasa lebih baik.

“Jangan lupa nyalakan penghangat, karena udara sudah mulai dingin. Bisa beku nanti,” sekali lagi—untuk keberapa kalinya, Nareen mengingatkan sebelum ia naik ke mobil penjemput yang akan membawanya dan keluarga ke bandara.
“Ini bulan Juli,” dengus Lea.
“Di New Zealand, bulan ini adalah bulan paling beku. Jadi, kalau kamu keluar jalan-jalan, jangan pernah lupa parka, syal, topi rajut, juga ear-puff. Jangan kaya gini.” Nareen menggerakkan tangannya naik-turun ke kaus dan rip jeans yang Lea kenakan. “Boot; juga jangan lupa. Kamu bisa pakai salah satu punyaku di lemari sepatu. Di Jakarta mungkin boot cuma buat gaya-gayaan, di sini, untuk mencegah kamu nggak sakit tulang.”
Lea terkekeh, sementara Nareen memandangnya putus asa.
“Aku serius, Lea.”
“Aku tahu.” Lea segera menarik Nareen ke pelukan, dan entah kenapa jadi merasa sedih sendiri. “Thank you. Safe journey.”
Nareen balas memeluknya; erat. “Sori, kamu harus sendirian.”
Lea menarik tubuhnya, dan meremas kedua bahu Nareen. “Don’t be sorry. It’s ok. Now,” ia memutar tubuh Nareen menghadap van perak yang pintu gesernya membuka, “go.”
Mau tak mau, Nareen memanjat naik ke van. Dan sebelum menggeser pintu menutup, ia memandang Lea lagi; tersenyum. “Take care, Lea.”
Take care you. And you all.”
Lea melambai riang ke Hans, dan dua anak Nareen, Shawn dan Eve. Setelah itu mundur sedikit ke belakang, ketika Nareen menutup pintu dan mobil van yang ia tumpangi menderum siap pergi. Kembali melambai, saat mobil tersebut melaju pelan diiringi derak roda yang melintasi pekarangan berkerikil menuju gerbang.
Ketika mobil van perak itu menghilang dari pandangan, Lea tetap berdiri sejenak di tempat. Menarik napas dan mengembuskannya perlahan; mengamati kepulan menyerupai asap yang keluar dari hidung dan mulutnya setiap kali ia mengempaskan napas. Dingin memang. Hidungnya mulai berair dan tubuhnya menggigil oleh udara basah yang melayang di sekitarnya. Namun ia senang; karena ia memang menyukai suasana seperti ini, yang menurutnya menenangkan. Juga ternyata, mengingatkannya pada perasaan cintanya pada Dario selama ini. Selama 3 tahun yang menurutnya indah dan membahagiakan, dan terpaksa harus kandas begitu saja.
Tak sadar air matanya menitik. Meluncur ke pipi, lalu dagu. Disusul bulir demi bulir lagi setelahnya. Dan tanpa bisa ia tahan lagi, ia menangis. Keras, dan terisak-isak.

...

Rumah dinding kayu. Lantai 2, dengan balkon di roof top menghadap ke danau.
Junan, memerhatikan foto rumah yang ada di instagram temannya, Hans. Menekan layar ponsel, dan kembali menekannya lagi. “Pekarangan hijau. Kerikil,” ia menggumam sendiri.
Matanya beralih ke rumah berdinding kayu di seberang tempatnya berdiri sekarang.  Menjelajahi lansekap yang mengelilinginya. Di malam hari seperti ini, sulit memastikan apakah rumah itu adalah rumah yang sama dengan rumah yang dimaksudkan Hans sebagai rumahnya. Namun melihat bentuk, terlebih lagi karena rumah itu adalah satu-satunya rumah yang paling mirip dibandingkan rumah lain yang telah ia lewati, ia memutuskan untuk masuk.
Kalau bukan, ia membatin, aku akan minta si pemilik rumah untuk numpang nginap di sini. Orang New Zealand terkenal dengan kebaikan dan keramahannya. So...
Junan mencengkeram tali duffle bag-nya sembari berjalan menyusur jalan setapak luas berkerikil. Hawa dingin mulai terasa membekukan seluruh badan, hingga ia mau tak mau memeluk tubuhnya serapat yang ia mampu. Merasa bodoh sendiri karena tidak mendengarkan saran temannya, Troy, saat masih di Christchurch, untuk menyewa mobil carteran, dan malah memutuskan mencari alamat sendiri dengan berjalan kaki. Stupid indeed, makinya. Sok petualang, sementara kamu belum siap untuk bertualang.
Lega rasanya, ketika ia sampai di depan pintu kaca rumah besar tersebut. Tirainya tertutup rapat; baik pintu maupun jendela, sehingga ia tak bisa melihat ke dalam rumah. Hans mengatakan, teman istrinya yang akan menyambutnya. Namanya siapa, ia lupa. Tapi toh bisa ia lihat di record perkapannya dengan Hans di pesan teks. Nanti saja ia lihat.
Tak berlama-lama, Junan mengetuk pintu kaca keras. Mencari-cari bel di dinding samping pintu, namun tak menemukannya. Ia mengetuk lagi, dan kali ini suara langkah kaki yang tergesa terdengar dari dalam. Tirai digeser sedikit, dan wajah seorang perempuan berkacamata bingkai hitam bundar dengan rambut gelap yang dikuncir kuda terlihat di balik kaca. Alisnya berkerenyit.
Junan mengangkat tangan, untuk menyapa. “Aku teman Hans—”
Belum Junan menyelesaikan kalimatnya, perempuan tersebut menyibak tirai pintu lebar-lebar, sehingga Junan dapat melihat keseluruhan tubuhnya yang mengenakan sweater pastel kebesaran, jins denim, dan kakinya yang terbungkus kaus kaki tebal.
“Juna?” Perempuan itu bertanya begitu pintu kaca di hadapan mereka telah digeser membuka.
Mulut Junan menganga, keningnya berkerut. “Ya. Ya. Hans... panggil aku begitu. Jun—”
Can you step inside?” Perempuan tersebut menyela. Menggeser badannya ke pinggir sembari meringis kedinginan ketika angin mendadak saja bertiup menerpa ke arah mereka. “It’s freezing,” gumamnya lagi, mendekap badannya erat-erat.
“Oh—ya. Sure.
Junan masuk ke dalam dan perempuan itu cepat-cepat menggeser pintu kaca menutup, Menguncinya, dan kembali menutup tirai. Setelah itu ia, masih menggigil, menyodorkan tangan kanannya pada Junan. “Aku Lea.”
Junan menyambut tangannya yang mungil dengan tangan kanannya yang masih mengenakan sarung tangan. “Aku Jun—Juna.”
Sebelumnya Junan ingin mengatakan nama lengkapnya pada Lea. Namun, entah kenapa membiarkan Lea untuk tahu namanya dengan ‘Juna’ saja sudah cukup, tanpa repot-repot berpikir apakah Lea tahu siapa dia atau tidak. Kalau pun tidak, menurut Junan lebih baik. Karena ia akan lepas dari sikap sopan dibuat-buat atau agresif yang biasa ditunjukkan perempuan lain terhadapnya. Dan sebaliknya, ia juga tidak perlu tahu siapa Lea, selain teman dari istri Hans, Nareen, yang Hans bilang sedang berkunjung ke rumah mereka dan akan menemaninya selama di Tekapo.
“Perapiannya sudah nyala,” suara Lea mengembalikan Junan dari lamunan. “Jadi... kayanya aman kalau kamu mau lepas parka sekarang.”
Junan mengangguk-angguk. Meletakkan duffle bag di lantai, melepas kedua sarung tangan rajut, serta parka navy gelap yang ia kenakan seraya memandang sekeliling ruangan yang bercahaya terang, ditambah dengan pendaran oranye dari perapian elektrik di tengah ruangan yang cukup menghangatkan badan.
“Kamar kamu yang itu.” Lea menunjuk ke arah pintu sebelah kanan Junan. “Kamu bisa taruh tas kamu di sana. Aku mau... siapin makan malam dulu.” Ia mengakhiri dengan senyum kikuk kemudian berlalu.
Junan mengamati sosok Lea yang berjalan membelakanginya selama sejenak, sebelum mengangkat travel bagnya lagi, dan berjalan ke arah pintu kamar yang Lea tunjukkan.
Syukurlah, ia tidak secantik perempuan-perempuan yang aku kenal, batinnya. Ia tidak mau main hati sama sekali selama ber’hibernasi’ di tempat ini.




2

TIGA HARI telah berlalu sejak kedatangan Juna, dan Lea tak berniat sama sekali untuk mengenalnya lebih jauh selain berbasa-basi sekadarnya. Ia lebih memilih menghabiskan waktu di kamarnya untuk menggambar di buku sketsanya kala salju jatuh, atau membaca buku di perpustakaan mini yang menyatu dengan ruang kerja Hans dan Nareen di ujung rumah, sementara Juna, begitu langit cerah, sepertinya lebih memilih untuk keluar rumah dan menghabiskan waktu sampai sore hari. Pertemuannya dengan Juna, hanya berlangsung saat makan malam saja, tanpa pembicaraan yang berarti.
Beberapa kali Juna berusaha membuka pembicaraan, namun Lea selalu menghindar dan beralasan. Menurutnya lebih baik begitu. Karena bagaimana pun Juna laki-laki; dan ia, Lea, sedang dalam kondisi rapuh dan impulsif. Jadi, menjauh dari lawan jenis baginya merupakan solusi terbaik saat ini. Apalagi dari lawan jenis yang cukup tampan dengan tubuh jangkung atletis seperti Juna, yang membuatnya sulit untuk mengalihkan pandang.
Namun di hari keempat, Lea tak bisa mengelak lagi, ketika Juna mendekatinya di ruang tengah, setelah makan malam, kala ia sedang membaca Pride & Prejudice di sofa dekat perapian.
“Dingin.” Juna berjongkok di depan perapian. Menarik naik leher sweater hijau botolnya lebih tinggi lagi. Berpaling sebentar ke arah jendela, dimana angin mengetuk-ngetuk seraya mendesah kencang.
Lea mengerlingnya sejenak dari balik kaca mata bundar yang ia kenakan; tersenyum kecil. Sambil membaca barisan kalimat di salah satu halaman novel di pangkuannya, menimbang-nimbang kapan sebaiknya ia pamit masuk ke kamar.
“Apa kamu selalu baca?” Juna mundur sedikit ke belakang. Duduk di atas permadani bulu di depan perapian.
Wajah Lea menengadah, dan langsung bertemu pandang dengan Juna yang mengamatinya. “Oh. Ini cuma...” Ia menutup buku buru-buru, “pengisi waktu luang.”
Ia menyelipkan dengan gugup rambut depannya yang menjuntai ke hidung.
It’s ok.” Juna mendengus geli. “Kamu nggak perlu berhenti baca.”
Pundak Lea mengedik. “Aku juga mau balik ke kamar. Ngantuk.”
“Apa aku bikin kamu nggak nyaman?”
Mata Lea membulat. Terkejut mendengar kesimpulan Juna, dan dengan gugup menjawab, “No. Of course not.” Ia menyandarkan punggungnya lagi ke belakang.
“Sori. Aku cuma... mikir aja. Karena kamu sepertinya selalu menghindar setiap aku berusaha ngobrol sama kamu.” Juna tersenyum simpul, sementara Lea menundukkan kepala; merasa tak enak hati. “Aku pikir..., kamu takut sama aku.”
Lea mendengus tersenyum. Mengangkat muka. “Sama sekali nggak. Aku... Well, aku cuma... I don’t know.” Ia memalingkan wajah ke perapian. Tetiba terbayang Dario. “I’m sorry.”
Lea menatap Juna lagi, dan laki-laki itu tersenyum. Mata hitamnya seolah bersinar oleh derak jingga api di hadapan.
No need. Kamu punya alasan, dan, aku berharap, alasan itu bukan karena aku.”
No,” geleng Lea. “Nggak sama sekali.”
Then it’s fine. Karena aku sempat kira kamu mungkin anggap aku psikopat atau semacamnya.”
Juna tersenyum. Dan untuk pertama kalinya, Lea tersenyum untuk membalas. Benar-benar tersenyum.
Hening beberapa waktu setelahnya. Keduanya memandang perapian yang berderak-derak mengisi kesunyian dengan pikiran yang memenuhi benak masing-masing.
“Aku kemari dengan alasan ‘merenung’,” kata Juna kemudian, tanpa mengalihkan pandang dari percikan api di hadapan. “‘Menyepi’—apa pun itu namanya. Karena belakangan ini aku ngerasa... ‘kosong’.”
Lea meletakkan novel Pride & Prejudice di meja kopi samping sofa tunggal berlengan yang ia duduki, dan memandang Juna dengan senyum muram. Ia tidak tahu respon apa yang harus ia tunjukkan atas pemberitahuan Juna yang tak ia duga sebelumnya.
“Aku ngerasa apa yang aku punya saat ini; segala pencapaianku... nothing. Walaupun, untuk itu aku sudah berupaya amat keras, bahkan sampai sekarang.” Juna mendengus, menggeleng kecil, dan menoleh pada Lea lagi. “Sori.” Ia kelihatan membodohi dirinya sekarang. “Aku nggak tahu kenapa aku jadi cerita sama kamu. Kayanya aku lagi melo.”
Lea mendadak mendengus geli. Membuat Juna langsung menjingkatkan alis melihatnya. Tapi kemudian ia turut terkekeh. Mengatakan kalau ia lega mengetahui kalau Lea bisa tertawa.
“Aku ketawa, kalau ada yang benar-benar harus ditertawakan,” timpal Lea.
“Jadi pengakuan ‘galau’ku itu patut kamu tertawakan?”
“Aku rasa gitu.”
Ganti Juna mendengus geli.
By the way...” Juna menyandarkan punggungnya ke meja kayu pendek di belakangnya. “Kita belum saling ngobrol tetang masing-masing sejak hari pertama. Basically, we don’t know each other.”
Mulut Lea membuka pelan. Perasaan tak nyaman mulai merambat naik mulai dari ulu hati. Sepertinya ini waktu yang tepat baginya berpamitan untuk masuk ke kamarnya sebelum Juna mulai mengorek-ngorek tentang dirinya yang membuatnya terpaksa harus bertanya kembali perihal Juna. Tapi, tidak tahu kenapa, separuh badannya masih ingin tetap berada di atas sofa. Menolak untuk menuruti kemauannya yang sepertinya juga tidak sepenuhnya.
So, Lea. Siapa nama panjang kamu?”
Here we go. Dan Lea susah payah memutuskan untuk mengatakan nama lengkapnya atau tidak. “Apa... kamu nggak masalah kalau... aku nggak mau kasih tahu kamu?”
Kedua alis Juna berjingkat, tapi kemudian ia menggeleng mantap. “Nggak. Itu hak kamu.”
Lea menyunggingkan senyum kecil dan menggumamkan ‘thanks’ pelan.
“Kamu nggak mau tahu namaku?” Juna menyipitkan sebelah mata, menyeringai menggoda Lea.
Better not.”
“Oke. Bagaimana dengan... kerjaan kamu? What do you do for money?”
Sepertinya nggak akan masalah untuk kasih tahu dia profesi kamu, Lea. “Aku...” Lea menelan ludah susah payah. Ragu untuk memberitahu Juna.
“Kamu selalu gambar di buku sketsa tebal itu, kalau nggak baca,” sela Juna mendadak. “Apa kamu... illustrator atau... pelukis, gitu?”
Lea bengong. “Kamu merhatiin aku?”
“Siapa lagi yang bisa aku perhatiin, mengingat cuma kita berdua di sini.”
“Aku rasa kamu benar-benar punya bakat psikopat.”
Juna menggigit bibir bawahnya sembari mengangguk. “Kayanya gitu. So, apa benar? Atau... kamu... Chef? Masakan kamu enak. Aku senang makannya.”—Lea memutar mata ke atas—“Atau, kamu juga nggak mau kasih tahu apa kerjaan kamu?”
Lea meringis, mengedikkan satu pundak.
“Oke. Kamu nggak mau tahu apa kerjaanku?”
“Tadinya aku pikir kamu pengangguran sebelum kamu curhat melankolis barusan.”
Juna membelalakan mata, dan Lea tertawa.
“Apa yang bikin kamu mikir gitu?”
“Kamu di sini. Di New Zealand. Santai. Kamu kelihatannya nggak khawatir soal apa pun. You just... relax. Tapi... I don’t know.” Lea mengakhiri dengan dengusan.
“Jadi kalau aku punya kerjaan, aku mesti kelihatan cemas gitu?”
Sort of.”—Begitu lah.
Juna mengangguk-angguk. “Besok aku akan kelihatan muram di depan kamu. I have job, kalau kamu mau tahu. Dan alasan aku ke sini, kamu juga udah tahu.”
Lea terkekeh pelan.
What about you?” Juna menyilangkan kedua tangan di dada. “Aku yakin kamu bukan pengangguran. Kamu kelihatan cerdas untuk nggak punya pekerjaan.”—Lea menggelengkan kepala, sambil mendengus geli—“Tapi kamu juga terlalu tegang, untuk vacation. Kamu nggak mungkin kriminal yang ngelariin diri ke sini; so, what are you doing here?”
Senyum simpul Lea tersungging tipis. Kepalanya tertunduk sejenak, dan ia menghela napas panjang. Dario lagi-lagi mengisi benaknya, dan ia jadi ingin menangis. Don’t, Lea, cetus suara di kepalanya galak. 
“Hm...” Juna kembali mengangguk-angguk. “Aku rasa kamu juga nggak mau kasih tahu soal itu.” Ia mengangkat kedua bahunya. “So, be it.
Lea tertawa kecil. “Aku ke kamar dulu.”
Dan ia menurunkan kedua kaki lalu berdiri. Merapatkan cardigan rajut selututnya di dada, mengambil Pride & Prejudice dari atas meja kopi, kemudian beranjak pergi.
“Selalu tidur jam 9?” Juna bicara, saat Lea hanya baru beberapa langkah menjauh.
Lea berhenti. Kepalanya ditolehkan ke arah Juna yang menengadah memandangnya.
“Jangan bilang, kamu merhatiin itu juga,” ujarnya dengan kening dikerutkan.
“Kamu selalu masuk kamar jam 9. Dan lagi-lagi, cuma aku sama kamu di sini. Sulit untuk nggak nganalisa.”
Lea mendengus, lalu terkekeh. Menggelengkan kepala tak percaya. “Aku masuk dulu.” Ia kembali melangkah.
Good night,” ucap Juna.
Lea memalingkan muka. Juna sudah menghadapkan kepalanya menghadap perapian kembali.  “Jangan lupa matikan perapiannya,” balasnya.
Setelah itu ia masuk ke kamar. Menutup pintu di belakangnya perlahan.
...

Junan merasa perempuan yang berada di dalam rumah bersamanya ini memendam sesuatu yang menyesakkan. Terlihat dari wajahnya yang seringkali muram secara tiba-tiba di tengah perbincangan mereka, bagaimana pun seru dan lucu topiknya (Lea sudah mulai mau berbicara dengannya sejak pembicaraan mereka dua malam lalu). Atau, mendadak saja ia membeku dan bernapas dalam selama sejenak di berbagai situasi yang tak semestinya. Seakan saja ada ingatan penting yang transit beberapa detik di benaknya, dan membuatnya berupaya keras menahannya. Atau mungkin sebaliknya; ia berusaha mengusir apa pun yang tetiba mengisi pikirannya. Junan ingin sekali menanyainya. Karena entah kenapa, semakin ia bersosialisasi dengan Lea, semakin ia ingin tahu banyak tentangnya. Bukan karena ia suka padanya—suka dalam artian ‘suka’ sebagai teman tentunya, melainkan karena ‘ketidakrumitan’nya.
Lea tidak banyak bicara. Ia melakukan sesuatu dalam diam, tanpa omongan tak perlu. Saat tak ada yang dikerjakan dalam rumah, ia membaca atau menggambar di buku sketsa sampul abu metaliknya—Junan benar-benar ingin melihat apa yang ia gambar.  Dia, anteng sekali. Tenang. Tapi bukan semacam tenang yang benar-benar tenang. Ada pergolakan yang berlangsung di tubuhnya yang kurus itu, yang sedang ia tahan sekuat tenaga, namun malah membuatnya terlihat rapuh karenanya. Dan Junan ingin tahu, apa alasannya.

“Terang hari ini.”
Junan berdiri di sebelah Lea yang sedang memandang kosong keluar jendela, sambil menyeruput kopi dalam mug yang dibawanya. Membuat Lea tersentak, menoleh sejenak, kemudian kembali menatap jendela dengan senyum simpul samar.  
Mereka baru saja selesai sarapan, dan Lea langsung pergi ke ruang depan bersama buku sketsanya setelah ia selesai mencuci piring dan merapikan meja makan.
We should go out.”
Dahi Lea berkerenyit, kembali menoleh. “We?
Junan nyengir. “Ya.” Ia meneguk sisa kopi di cangkir. “You and I.”
“Nggak ah.”
Lea memutar badan, lalu melempar badannya ke sofa panjang berlengan dekat jendela. Sementara Junan masih berdiri menghadap jendela meneguk sisa kopi sedikit-sedikit, seraya menikmati sinar matahari yang hangat.
“Cuacanya bagus.” Ia menempelkan pinggulnya di puncak kursi. “Bagus buat jalan-jalan.” Ia meminum kopinya lagi.
Lea tidak menghiraukan. Sudah mulai sibuk mencoret-coret pensil arang di salah satu lembar sketch book-nya. Junan memalingkan muka padanya, dan mengembuskan napas tajam.
“Kamu juga bisa cari inspirasi gambar di luar,” Junan masih berusaha mempersuasi. “Dan vitamin D bagus buat kulit.”
Tak ada suara.
Junan berdecak pelan. Berjalan memutari sofa, menaruh mug di permukaan meja, lalu menyambar kaca mata bulat Lea. Lea mendongak, membulatkan mata pada Junan tanda protes.
Matanya coklat dan besar-besar, batin Junan, baru menyadari. Alisnya pekat dan tertata rapi secara natural. Bibirnya yang mengerucut berwarna pink, dan kulit wajahnya pucat tanpa rona. Semua deskripsi tersebut terlintas di benak Junan, seolah saja ia baru pertama bertemu Lea. 
“Tolong kembaliin kacamataku,” pinta Lea judes.
Alih-alih memberikan kacamata rampasannya pada Lea, Junan malah mengenakannya sendiri. Dan baru tahu kalau kacamata tersebut tidak ada minus atau plusnya sama sekali.
“Ini bahkan bukan kaca mata baca.” Ia melepasnya dengan kedua tangan, dan mengamati dua kacanya dengan kening mengerut. “Apa perlunya kamu pakai ini?”
Just give it back.”
Lea mendorong punggungnya untuk menggapai kaca mata di tangan Junan, tapi gagal karena Junan mundur.
Go out with me.” Ia kembali mengenakan kacamata tesebut.
No.”
“Ayolah, Lea. Nggak bagus ada di dalam ruangan terus. Lagipula..., kamu di Selandia Baru. Tekapo Lake Town. Lot things yang bisa kamu eksplor dan lihat. Banyak pemandangan bagus.”
“Aku nggak tertarik. Aku lebih senang di dalam rumah di cuaca yang nggak bisa diprediksi kaya gini.”
Lea kembali mendesakkan pinggulnya ke lengan sofa. Berancang-ancang membuka sketchbooknya lagi. Tapi Junan sekali lagi merampasnya. “Kamu bisa gambar di luar nanti.”

Dan ia berpaling, berjalan pergi dengan sketchbook di tangan tanpa menghiraukan protes Lea. Sempat berseru sebelum ia menghilang ke kamarnya agar Lea segera mengganti bajunya. 

(Bersambung)

koalasplayground.com 2017 03 19 gong-yoo-warms-the-eyes-and-soul-in-everyday-spread-for-epigram
gambar dari sini

1 comments:

fiyya shafarani February 5, 2018 at 3:59 PM  

Mbak Litaaa..
Semoga selalu sehat.. :)

#tibatibamampir
#kangentidakmampir

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP