In Between (Chapter 1)

>> Sunday, August 13, 2017


1


DEMI NAMA BAIK KELUARGA, katanya. Dan mereka mengharuskan Lea untuk tetap menikah dengan laki-laki yang sejak di kandungan telah dijodohkan dengannya, walaupun si laki-laki melarikan diri dan menghilang entah kemana sebulan sebelum pernikahan resmi mereka dihelat.
Pasalnya keluarga Kuroi, keluarga yang akan meminang Lea, telah mendapatkan pengganti laki-laki tersebut, sehingga pernikahan tetap dapat dilakukan. Cuma pernikahan tidak akan dirayakan dengan besar seperti rencana sebelumnya, melainkan hanya penandatanganan perjanjian nikah di hadapan pejabat berwenang yang akan dihadiri keluarga saja.

“Apa bukan penghinaan namanya, dengan tetap menikah dengan orang yang bukan seharusnya?” Lea protes ketika papa dan mamanya menyampaikan berita bahwa pernikahannya tetap akan dilangsungkan. “Kenapa Papa sama Mama nggak nolak aja sih?”
Papanya memandangnya dengan mata sedih. “Ini janji yang harus ditepati, Lea. Dan keluarga Kuroi selalu menepati janji yang sudah terlanjur ada; begitu pun keluarga kita. Lagipula laki-laki yang menggantikan calon suami kamu itu, adalah anak dari keluarga tersebut juga. Ini menyelamatkan nama baik keluarga kita; kamu terutama. Tolong jangan sia-siakan semua hal yang sudah kita usahakan selama ini.”
“ ‘Semua yang kita usahakan’ yang Papa maksud, ‘pengekangan’ itu kah?” sahut Lea jengkel. “ ‘Papa dan mama larang aku ini-itu sejak kecil dan... aku harus patuh’ Itu maksudnya?”
“Kami nggak sepenuhnya ngekang kamu, Lea,” mama angkat bicara. “Kami dukung kamu waktu kamu mau jadi pelukis, walaupun kita semua tahu kalau pelukis—”
“Susah cari uangnya?” sambung Lea dengan mata disipitkan.
“Lea...” Mama memandangnya dengan ekspresi putus asa. “Bukan gitu. Kamu terbukti nggak begitu; kamu—”
“Papa Mama tahu, kenapa aku ngotot jadi pelukis?” Lea memotong. Bergantian memandang kedua orang tuanya yang duduk bersebelahan di sofa tunggal berlengan di hadapannya. “Karena aku nggak bisa kaya teman-teman perempuanku pada umumnya; ke mall rame-rame, ke konser, ke kafe, jalan-jalan, naksir cowok—sosmed pun..., aku nggak boleh sembarangan posting karena Papa dan Mama selalu ngingatin aku perihal pendapat orang yang mungkin negatif tentang apa yang aku share. Berteman pun harus lewat persetujuan Papa sama Mama dulu. I don’t have friends! Andaikan ada pun, mereka pikir aku aneh—keluargaku aneh! Karena itu aku jadi pelukis. Karena pelukis selalu sendirian; sibuk dengan dunianya sendiri. Karena aku nggak bisa hidup normal, tanpa wejangan ini-itu dari kalian berdua, untuk jadi perempuan sejati sesuai harapan keluarga Kuroi itu.”
Ruang tamu itu hening seketika setelah Lea mencurahkan kekesalan hatinya yang telah ia pendam bertahun-tahun pada orang tuanya. Mamanya menunduk. Berupaya keras tak memperlihatkan kegundahannya, sedangkan papa menyandarkan punggung ke belakang. Kedua tangannya kaku di atas lengan sofa.
“Papa sama mama nggak usah khawatir,” ujar Lea, setelah ia telah berhasil meredakan emosi dan menyadari ketidaksopanannya. “Aku akan tetap nikah, kalau memang itu yang papa sama mama mau.”
Setelah itu ia bangkit dari sofa panjang. Meninggalkan ruang tengah dimana papa dan mamanya masih duduk bersisian tanpa mencoba menimpali kalimatnya sedikit pun.
Lea tak mau ambil pusing, karena bagaimana pun ia mencoba meyakinkan mereka untuk tidak menyetujui pernikahan tersebut, toh akan sia-sia saja. Papanya, karena rasa hormatnya pada leluhur, serta nilai-nilai yang tertanam turun-temurun di keluarganya selama ratusan tahun, tidak akan pernah mengingkari janji untuk menikahkan keturunan perempuan keluarganya dengan keturunan laki-laki keluarga Kuroi.
Dan karena ia adalah anak perempuan pertama setelah puluhan tahun janji itu diikrarkan, maka ia punya kewajiban untuk menepatinya. Tak peduli situasinya; ia setuju atau tidak? Namun melihat keturunan laki-laki keluarga Kuroi sendiri yang mengingkari janji itu, apa tidak boleh ia memikirkan kembali kesediaannya untuk menjadi menantu mereka? Sayangnya tidak.
Jadi disinilah ia sekarang. Di rumah keluarga Kuroi. Berjalan berdampingan dengan Rheon, kakak laki-lakinya, yang menjemputnya dari kamar dimana ia menunggu menuju ruang tengah rumah besar dimana papa, mama, keluarga Kuroi, pengacara keluarga Kuroi, dan pejabat yang akan menikahkannya dengan laki-laki pengganti itu berada.
Lea belum bertemu sama sekali dengan laki-laki itu. Ia pasrah. Cuma ingin agar semuanya selesai.
Ketika ia dan Rheon sampai, semua telah menunggu dengan tegang. Malini, istri dari Eiji Kuroi, kakak tertua dari 4 bersaudara Kuroi, langsung menghampiri Lea dan menggamit tangannya. Menuntunnya menuju meja dimana seorang pria berpakaian batik duduk, bersisian dengan seorang laki-laki sangat tampan bersetelan jas hitam, yang adalah pengacara keluarga Kuroi, Dai Tanaka. Melihat Lea, Dai tersenyum. Membuat Lea mau tak mau membalas kendati muram. Di hadapan mereka, duduk laki-laki ketiga berpunggung lurus yang Lea pastikan adalah orang yang akan segera menikah dengannya. Ia mengenakan batik coklat bercorak merak hitam dari bahan sutra.
Ia tak menengok sedikit pun.
Lea menduga, kalau laki-laki itu juga dalam situasi tertekan yang sama dengannya. Dan prospeknya untuk membenci Lea karena pernikahan ini pastinya amat besar di kemudian hari. Besar harapannya, laki-laki itu akan segera menceraikannya dalam hitungan hari atau minggu. Lebih cepat, lebih baik tentunya. Agar mereka bisa kembali ke kehidupan masing-masing tanpa ada beban.
Malini melepas tangan Lea begitu mereka sampai di depan meja, dan mempersilakannya duduk di kursi di samping laki-laki tersebut. Napas Lea tertahan, dan buru-buru mengendalikan diri ketika ia mengerling sekilas wajahnya. Ia terkejut—amat terkejut, hingga membuatnya sulit untuk bernapas. Seolah saja oksigen di sekelilingnya mendadak tersedot habis tak tersisa.  
Lea kenal laki-laki di sebelahnya. Junan namanya. Junan Roi. Atau lebih dikenal dengan ‘Juna’ atau Chef Juna, yang karirnya sedang melejit karena skill memasaknya, prestasinya di Restoran Bintang Lima di luar negeri, pertemanannya dengan Chef terkenal di dunia, Bolton Ramsay, ditambah wajah tampan, sikap dingin, serta kegarangannya saat memimpin kru dapurnya.
Tak disangka, ternyata dia adalah laki-laki yang menggantikan Shinji Kuroi; laki-laki yang seharusnya menikah dengannya. Bagaimana bisa? Dan kenapa, dia mau saja melakukannya? Dan lagi, apa benar dia adalah anak dari keluarga Kuroi? Karena dilihat dari perawakannya, tak ada kemiripan sama sekali dengan Eiji. Ia juga bukan orang Jepang. Jadi...

“Aku langsung pergi, Kak.” Juna segera pamit pada Eiji, begitu ia selesai membubuhkan tanda tangan di beberapa dokumen pernikahan yang disodorkan Dai dan si pejabat pernikahan kepada mereka berdua. “Weekend, dan ramai di Analogize.”
“Tinggal sebentar, Juna,” Eiji meminta dengan tenang, namun bernada penuh permohonan. “Kamu bahkan belum bicara sama Lea.” Ia mengedikkan dagu pada Lea yang berdiri canggung di belakangnya.
Mendengar namanya disebut, Lea buru-buru menunduk. Memalingkan pandang ke arah Dai yang masih berdiskusi dengan si pejabat pernikahan.
Juna berpaling, dan Lea spontan menghadapkan wajahnya kembali ke depan. Tatapan mata hitamnya begitu menusuk, sehingga Lea menyadari kalau dugaannya benar. Kalau Juna juga terpaksa melakukan pernikahan ini. But he’s handsome. Jangkung, postur sempurna, elegan, tapi... dingin. Ekpresinya yang garang, membuat Lea merasa kecil dan terintimidasi. Dan dia adalah laki-laki pertama yang membuat Lea merasa seperti itu. Takut. Dan juga waspada.
Lea menunggu Juna untuk mendekat; membuka percakapan sekadarnya untuk perkenalan. Namun ternyata ia kembali memutar badannya menghadap Eiji, dan berkata kalau ia harus segera pergi. Dan ia benar-benar pergi. Tanpa berpamitan pada siapa pun; tak memedulikan siapa pun. Termasuk Lea, yang baru saja jadi istrinya. Melangkah mantap meninggalkan ruang tengah rumah tanpa menoleh ke belakang diiringi  beberapa pasang mata yang menancap lurus ke punggungnya hingga menghilang dari pandangan.
(bersambung) 

gambar dari sini
Saat ini kita terpisah. 
Saat ini kita tidak mengenal satu sama lain.
Takdir seharusnya tak mempertemukan, 
namun takdir menentukan kita harus bersama.
Akankah kita mampu berjalan, bersama-sama menyusur hari?
Atau mungkinkah kita akan, terpisah di kemudian hari?
Hanya ada satu cara, untuk kita bertahan.
Biarkan cinta menyelinap, di antara ketidakpastian hati.
--Indar Meilita, original words.

3 comments:

Ria Findriati August 13, 2017 at 9:52 PM  

Mba Litaaaaaa.... Hadeeeh... Again... About Juna & Lea.... And i love it.... Semangaaat ya mba.... 😘😘😘

Novari August 13, 2017 at 11:52 PM  

aihhh... ditunggu mowenya ternyata muncul yg laen..ga apalah yg penting tetep ju-le..ciaayooo mba lita

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP