The Adorables (11): Snow, water, and fireflies

>> Sunday, March 27, 2016

Baca: The Adorables (10)

Snow, Water, and fireflies

RUMAH itu sepi. Dan Lea tak mau mengganggunya sedikitpun. Memijakkan kaki satu per satu di undakan teras sepelan yang ia bisa, kendati lantai kayu yang ia lewati kala menyeberangi teras tetap saja berderit menahan beban tubuhnya. Pintu yang ia tuju tertutup rapat, dan ia tahu seseorang bisa aja muncul dari dalam untuk menyambutnya. Namun sampai akhirnya ia tiba di depannya, pintu tak terbuka. Tak terdengar suara apa pun dari dalam sana. Sama seperti sebelumnya, saat kali pertama ia datang ke rumah ini.
Diketuknya pintu beberapa kali sebelum memutuskan masuk tanpa diundang ke dalam rumah. Orang yang ada di dalamnya jelas tak mendengar atau terlalu malas untuk menerima tamu. Atau mungkin, sedang berlatih jurus baru, seperti yang dikatakan Kenneth beberapa jam lalu. Tapi, Dojo kosong. Pintu dan jendela menutup rapat. Tak ada seorang pun di dalam. Lea telah melewatinya tadi.
Sekarang ia ada di ruang tamu, menukar sepatu conversenya dengan sandal kamar di rak sepatu. Sekali lagi memandang sekeliling ruangan yang masih sama seperti ingatannya di awal. Hammock ungu masih menggantung di tengah ruangan. Sepeda putih masih disandarkan di dekat rak kayu susun di salah satu dinding. Hm. Sepertinya sudah lama sekali sejak ia berada di sini. Ya. Sudah lama sekali.
Diteguknya cairan di dalam mug yang dibuatkan Juna untuknya. Rasanya seperti teh, hanya saja bearoma lemon dan sedikit asam. Hangat, dan amat menenangkan ketika melewati kerongkongan. Meskipun pikirannya masih penuh, namun ia merasa semua akan baik-baik saja—setidaknya untuk saat ini. Sepertinya Juna, selain memasak, juga ahli dalam membuat ramuan sejenisnya. Bakatnya datang dari dalam, sehingga dia bisa membuat sesuatu untuk dicerna oleh orang lain dengan sempurna tanpa perlu mengikuti pendidikan akademis. Natural born cook, sebutannya. Seakan saja alam telah membentuknya sendiri. Memilihnya.
Hm. Lea teringat kembali kalimat Eiji beberapa saat lalu, perihal ‘pilihan alam’ atas orang-orang yang terpilih untuk mengusung kemampuan istimewa. Apakah Juna salah satunya? Energi apa yang ia miliki? Air mungkin? Atau api? Tapi—ah, Juna bukan Kuroi. Dia… hanya bekerja di Black House, dan kebetulan punya talenta untuk memasak dan meramu. Dan Eiji mengatakan bahwa, hanya beberapa dari tiap generasi di keluarga Kuroi yang mempunyai kemampuan tersebut. Jadi tidak mungkin. Dia bahkan, tidak kelihatan seperti orang Jepang. Kulit putihnya tidak cukup membuatnya kelihatan seperti laki-laki yang berasal dari sana.
Bah! Kenapa dia jadi memikirkan Juna?
“Shin…” Panggilnya seraya menggerakkan kaki ke arah koridor. Memasuki ruang tengah—yang penuh kanvas lukisan, memandang sekeliling dan meyakini kalau ruangan tersebut benar-benar kosong.
Ia memanggil lagi, dan kembali tak mendapati jawaban. Melangkahkan kakinya lagi menyusur koridor, sempat berpikir untuk menuruni anak tangga di sisi kanan, tapi dengan cepat diurungkannya dan terus berjalan masuk ke dalam. Tak sampai dua detik ia sampai di ruangan lain; ruang duduk dengan sofa besar empuk yang menyatu dengan dapur, dan jauh lebih terang karena cahaya matahari yang masuk tanpa hambatan melalu jendela-jendela besar menghadap pekarangan rumput di belakang. Tapi, sosok Shinji tetap tak ada di mana pun.
Apa dia ada di ruangan bawah itu? Pikir Lea. Haruskah ia ke sana? Tapi… apa sopan? Bagaimana kalau ruangan di bawah itu adalah ruangan yang benar-benar pribadi untuk Shinji, dan tidak seorang pun diperkenankan ke sana? Tapi—Apa lebih baik ia kembali saja ke Black House?
Masuk ke rumah orang tanpa ijin itu tindakan kriminal.”
Lea tersentak saking kagetnya. Melempar mugnya, terhuyung mundur dan hampir jatuh kalau saja tangan Shinji tidak mencengkeram lengannya tepat waktu dan mengembalikannya ke posisi tegak berdiri. Refleknya luar biasa. Tampangnya bahkan datar saja saat menarik Lea tadi.
“Apa kamu selalu muncul mendadak begitu?” sembur Lea mengelus-elus dadanya yang naik-turun. Tampang sewotnya langsung berganti dengan jengitan begitu melihat kacamata hitam yang bertengger di depan mata Shinji. Apa-apaan dia, pikirnya.
“Apa kamu selalu masuk tanpa ijin?” balas Shinji, memasukkan satu tangan ke saku jins denimnya. Sementara tangan satunya lagi membuka kancing atas polo shirt merah yang ia kenakan.
“Aku sudah ketuk pintu tadi, tapi nggak ada yang jawab.”
“Kamu bisa tekan bel.”
Eh. Memang ada bel? “Aku nggak lihat.”
Lea buru-buru melangkah ke arah mug yang sekarang tergeletak di lantai tak jauh darinya. Isinya berceceran  di mana-mana. Ia membungkuk mengambilnya, menegakkan badan lagi, dan berpaling. “Ada lap? Aku mau bersihkan lantai.”
“Juna sering kasih ramuannya ke kamu?”
“Ya. Tapi kalau memang aku harus minum saja.”
Karena pertanyaannya tak dijawab, Lea melenggang ke dapur dan menaruh mug di bak cuci piring. Setelah itu ia menyambar lap dari counter, dan kembali ke ruang duduk. Melewati Shinji yang bengong memandangnya, kemudian berjongkok. Mulai membersihkan cairan dari dalam mug yang tumpah.
“Lalu… apa yang kamu rasakan setelah minum ramuan yang dia kasih?”
“Biasa saja,” jawab Lea acuh tak acuh. “Cukup menenangkan. Kamu sendiri, ngapain pakai kacamata hitam begitu?”
Shinji menghampiri sofa, kemudian duduk di salah satu sofa tunggal berlengan tak jauh dari Lea. “Mataku sakit.”
Lea berdiri, memandang sekitar lantai untuk mengecek kalau masih ada sisa ramuan yang tercecer. “Sakit bagaimana?”
Shinji tak menjawab. Mukanya lurus ke arah jendela, walaupun tidak bisa dipastikan apakah matanya juga turut lurus ke depan. Lea tak mau mendesaknya bicara. Ia mengedikkan bahu, kemudian berdiri dan berjalan ke dapur untuk mengembalikan lap serta mencuci mug yang ia tinggalkan di bak cuci.
“Ngapain kamu kemari?” Suara Shinji mengatasi bunyi air yang menyembur dari keran ke mug yang sedang Lea cuci. “Bukannya seharusnya kamu ketemu Eiji siang ini?”
Hm. Rupanya pertemuannya dengan Eiji merupakan berita yang harus diketahui semua orang di Black House. “Eiji bilang kamu khawatir padaku, dan dia menyarankan aku untuk ketemu kamu.” Lea meletakkan mug yang sudah bersih di wadah sebelah bak cuci. “Jadi aku kemari.”
Shinji mendengus sinis. “Eiji orang paling manipulatif yang aku tahu,” ujarnya. “Jangan sampai dia memanipulasi kamu juga. Aku nggak pernah khawatir pada orang yang nggak ada hubungannya denganku. Jadi bohong, kalau dia bilang aku mencemaskan kamu.”
Lea menelan ludah seraya menyeka tangannya yang basah dengan tisu, kemudian melemparnya ke tempat sampah di samping konter. Ia tidak marah mendengar kalimat Shinji, melainkan jengkel karena memaksakan diri kemari hanya untuk melihat sikap arogan dan mendengar kata-katanya yang satir.
“Kalau gitu aku balik ke Black House saja. Dan aku akan bilang Chef Juna untuk buatkan ramuan untuk mata kamu.” Lea berjalan santai keluar dapur.
“Aku nggak akan minum atau konsumsi apapun dari dia.”
“Kenapa begitu? Nggak ada yang salah kan sama ramuannya”
Shinji menolehkan mukanya ke arah Lea yang bersedekap. “Eiji belum memberitahu kamu rupanya? Soal siapa kamu,”—(“Sudah,” sela Lea)—“Black House, dan orang-orang di dalamnya? Termasuk Chef Juna kesayangan kamu itu?”
“Eiji akan memberitahuku nanti,” tutur Lea kalem, berusaha tidak kelihatan terganggu dengan perkataan Shinji. “Masih banyak waktu untuk itu.”
Shinji mendengus tertawa. Menundukkan kepala sejenak seraya menggeleng. “Setelah mereka menemukanmu…, setelahnya adalah membuatmu untuk memercayai semua kata-kata mereka, kemudian mereka akan menyuruhmu melakukan sesuatu yang tidak akan pernah kamu bisa lupakan seumur hidup. Dan waktu akan berjalan begitu cepat tanpa kamu sadari, dan ketika akhirnya kamu sadar, sudah begitu terlambat untuk kembali. Dan kamu akan menyerah. Pasrah.”
“Aku nggak ngerti apa yang kamu bicarakan,” ujar Lea dengan kening dikerutkan.
“Kamu nggak kangen kakak kamu?”
“Eiji bilang Mina boleh berkunjung kemari.”
Lagi, Shinji tertawa sinis. “Dengan waktu yang ditentukan olehnya. Dan… tanpa ada kesempatan untuk kamu keluar dari Black House.”
“Pasti ada alasannya kenapa.”
“Sudah sebegitu percayanya kamu sama dia?”
“Aku nggak ada pilihan.” Lea mengempaskan napas tajam. “Yang penting…, aku bisa ketemu Mina lagi. Itu saja cukup. Andaikan aku nggak percaya…, aku akan coba memercayainya. Aku lelah.”
Ujung-ujung bibir Shinji tertarik membentuk senyum. Ia menghela napas panjang, mengembuskannya perlahan, kemudian bangkit dari sofa.
“Apa Eiji sudah bilang…, siapa aku?” Ia memutar badan menghadap Lea, dan pelan melangkah mendekat.
“Aku cuma tahu… kalau kamu bukan…”—Lea menelan ludah susah payah—“Kuroi.”
“Ya, memang.” Jarak Shinji dengan Lea semakin dekat. “Nama belakangku bukan Kuroi seperti nama belakang kamu dan Eiji.”
Lea mundur sedikit. Entah kenapa jadi merasa terintimidasi. “Tapi… kamu adalah pewaris Kuroi. Dai bilang padaku.”
“Itu cuma kamuflase.” Shinji berhenti beberapa senti di depan Lea. “Agar…, nggak ada seorang pun tahu aku di sini selama ini. Kalau aku… hidup.”
Lea menengadahkan muka. Alisnya berkerenyit. Tapi bibirnya tak bergerak; tak mau menanyai Shinji maksud dari perkataannya.
“Selama pewaris Kuroi yang sah belum muncul,” Shinji melanjutkan, “status itu tetap akan melekat padaku. Begitu pun ciri-ciri khas yang ia miliki. Tapi…, begitu ia muncul, aku adalah diriku sendiri, begitu pun nama belakang dan ciri-ciri asliku. Seperti ini.”
Yang dimaksud ‘ini’ oleh Shinji adalah ketika ia menarik lepas kacamata hitamnya, dan menunjukkan fakta yang disembunyikannya dari Lea. Matanya tidak ‘sakit’ seperti yang ia katakan; keduanya baik-baik saja. Hanya saja kedua manik matanya yang sebelumnya kelabu cerah sekarang hitam. Membuat penampilannya jauh lebih berbeda dari sebelumnya, dan mengingatkan Lea atas penglihatannya beberapa jam lalu, kendati mata Shinji tak sepenuhnya hitam seperti yang ia rekam di ingatan.
“Kenapa… kenapa mata kamu jadi… beda?”
“Karena apa yang ditanamkan padaku satu per satu terangkat begitu kamu menjejakkan kaki di Black House. Dan ketika kamu sentuh aku tempo hari untuk kali pertama, hal itu mengesahkan semuanya.”
Lea masih tak mengerti. “Maksudnya?”
“Kamu mulai bisa melihat sesuatu dengan jelas hanya dengan menyentuh seseorang sejak kita berjabat tangan waktu itu kan?”
Lea tidak yakin, dan dia tidak berusaha meyakinkan diri. Menggiti bibirnya untuk mengatasi kebingungannya. Sama sekali tak menduga kedatangannya ke rumah Shinji malah menguak kenyataan lain yang tidak pernah terpikir sedikit pun olehnya.
“Aku… benar-benar tidak mengerti,” ia menggeleng.
Shinji mendengus. “28 April nanti semua planet akan berada sejajar dengan matahari. Kamu akan tahu nanti… siapa kamu yang sebenar-benarnya. Dan aku pastinya tahu, apa yang mesti aku putuskan untuk diriku sendiri.”
Tetap, Lea tak paham semua kalimat yang Shinji ucapkan. Namun ia tak mau bertanya. Rumit untuk mencerna apa pun saat ini.
“Kenapa tidak sentuh aku saja?” cetus Shinji tiba-tiba.
Reflek, Lea mundur. “Untuk apa?”
“Agar kamu bisa tahu apa siapa aku. Setidaknya kamu bisa mulai dari situ.”
“Nggak perlu nyentuh kamu, cuma untuk tahu betapa menyebalkannya kamu, Shin.”
“Coba saja.” Kaki Shinji bergerak maju.
Lea mundur dengan panik. Ia tidak mau Shinji menyentuhnya. Ia tidak mau melihat apa pun; masa lalu atau masa depannya. Ia tidak siap. Tapi terlambat, Shinji telah menyentuhnya. Menarik tangannya dan menempelkannya ke salah satu pipi. Dan, tentunya bisa dipastikan apa yang terjadi selanjutnya.
Lea melihat ruangan gelap dan lembap berdinding kayu yang telah lapuk dimakan rayap. Dingin, ia merasakannya. Tubuhnya menggigil hebat, namun badannya terasa panas. Kerongkongannya serasa terbakar setiap kali ia terbatuk, dan seluruh sendinya nyeri. Ia mengangkat tangannya, namun kesulitan karena tenaganya nyaris tak ada. Dan saat ia berhasil, ia terkejut melihat kurusnya jari-jarinya, melihat tulang pergelangan tangannya yang menonjol—seperti tengkorak. Tangannya lunglai ke permukaan selimut tipis dimana ia berbaring, dan ia berharap sangat kematian menjemput secepatnya. Namun tiba-tiba pintu menjeblak terbuka, dan gelap berganti terang yang muram. Seseorang masuk ke dalam, dan berjalan mendekat. Laki-laki, jangkung, tertutup mantel bulu tebal. Ia duduk di tepi dipan reyot, membuka tudung kepalanya, memperlihatkan wajah yang telah dikenalnya. Ia memanggil namanya, dan berbicara pelan yang tak mampu ia dengar. Laki-laki itu memejamkan mata, menyatukan kedua tangannya, membuka matanya lagi, kemudian menekankan ibu jarinya ke dahinya. Hangat, segera saja menjalar ke seluruh tubuhnya; terasa begitu nyaman dan menenangkan. Memberikan harapan hidup yang bertahun-tahun tak berani ia bayangkan. Kemudian, laki-laki itu mengangkatnya dari dipan. Merapatkan tubuhnya yang ringkih ke tubuhnya, menyembunyikannya di balik mantel bulu yang dikenakannya. Dalam bahasa Jepang ia berbisik, “Shinji. Mulai saat ini kau akan baik-baik saja,” dan ia berdiri. Menggendongnya, dan membawanya keluar dari ruangan reyot tersebut.
Salju. Salju sejauh mata ia memandang. Namun, badannya tidak merasakan dingin sama sekali. Dari penglihatannya yang terbatas, ia kemudian melihatnya. Beberapa orang tergeletak sepanjang langkah laki-laki yang membawanya menjauh. Darah mereka, menodai salju. Merah, gelap, mengerikan. Tapi ia tak merasa takut. Semua hal yang telah ia alami selama ini, tidak lagi membuatnya takut akan kematian.  
“Oke, cukup!” Lea limbung ke belakang. Punggungnya menghantam dinding kaca, sementara Shinji, yang berusaha menjaga tubuhnya tetap berdiri, tersengal sambil menekan dadanya yang naik-turun.
“Aku…”—Lea berusaha menegakkan badannya, “aku kembali ke Black House.”
“Kamu tidak mau bertanya apa-apa padaku?” Shinji menanyainya di sela napasnya yang memburu. “Kamu nggak mau tahu siapa aku, dan kenapa aku berada di tempat mengerikan itu?”
Lea melipir ke sisi. “Aku… aku pergi.”
Dan Lea melesat. Berlari meninggalkan Shinji dengan perasaan galau dan pikiran yang carut-marut. Terus berlari menyusur koridor dan ruangan tanpa menoleh ke belakang lagi, sampai akhirnya ketika kakinya mulai lemas dan napasnya habis, ia melambat, membungkukan badannya, lalu muntah. Persis di seberang dojo.
Mengerikan, ia membatin. Mengelus-elus dadanya yang masih berdebar. Tak habis pikir kalau Shinji menunjukkan semua itu padanya. Apa pun tujuannya, tidak seharusnya dia mengajak Lea masuk dalam memorinya yang kelam. Tapi… apakah bocah laki-laki yang digendong Eiji itu adalah Shinji? Kenapa ia seperti itu? Kenapa harus ada yang mati? Kenapa semua yang dilihatnya adalah kebrutalan? Apa andil Eiji? Siapa sebenarnya Eiji atau kuroi itu? Lea masih tak mengerti. Dan meskipun ia dikatakan adalah keturunan dari keluarga tersebut, namun semua yang dia lihat hari ini dari orang-orang yang ia sentuh membuatnya amat syok. Rasa takut mengkontaminasi pikirannya. Ia ingin pergi dari tempat ini.
Di sela-sela rasa mual, dan pertanyaan yang mendesak-desak kepalanya tentang hal yang beberapa saat lalu ia lihat, telinganya sayup-sayup mendengar suara langkah-langkah berlari mendekat.
Lea mendongak sekilas dan melihat Sisi, pelayan Black House bersama dua orang laki-laki bersetelan hitam tergopoh-gopoh menghampiri. Tampang Sisi cemas, kedua laki-laki yang mendampinginya waspada. Oh, jangan sampai mereka menyentuhnya. Sudah cukup. Ia tak mau berurusan dengan ingatan getir siapa pun lagi.
“Nona Lea!”
Lutut Lea menghantam aspal sekarang, dan dengan sisa kekuatannya ia mengangkat satu tangannya ke depan. “STOP!” teriaknya, sebelum ketiga orang itu berada dalam jangkauan tangannya. “Jangan mendekat. Jangan sentuh.”
Sisi dan kedua pria di belakangnya langsung berhenti beberapa meter darinya. Sisi jelas ingin maju, namun Lea segera menggelengkan kepala lemah.
“Jangan. Tolong panggil Chef Juna. Mintakan saya sesuatu. Saya nggak enak badan.”
“Chef Juna tidak akan datang, Nona,” Sisi segera memberitahu. “Chef Juna sedang bersama Tuan Eiji sekarang. Saya tidak berani.”
Mulut Lea membuka, kedua tangannya yang kini menumpu badannya gemetar. Ia benar-benar mual, dan kepalanya juga berdenyut-denyut membuat pening. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Kakinya belum siap menyangga badannya; badannya terlalu lemah untuk bangkit. Otaknya seolah tak mau menstimulasi gerakan apa pun saat ini. Ia ingin berbaring; rebah.
“Biar kami menolong Anda, Nona,” kata Sisi dengan tampang memelas, saat Lea membaringkan tubuh di atas aspal. “Anda tidak boleh tidur di sana.”
“Lebih baik,”sahut Lea lemah. Menempelkan mukanya di atas kedua tangannya yang menempel di aspal. “Tolong, jangan sentuh saya. Siapa pun.”
“Saya akan panggil Tuan Arata.”
Dan suara langkah yang bergegas kembali terdengar, tanda Sisi telah beranjak pergi tanpa menunggu persetujuan Lea lebih dulu. Sendiri. Karena kedua laki-laki berjas hitam yang tadi datang bersamanya, tetap tinggal di tempat. 
Arata. Lea menggumamkan namanya dalam hati, dan langsung teringat hari itu. Saat Arata menempelkan jarinya di lehernya dan segera saja semuanya menghitam. Apa dia akan melakukannya lagi? Tapi sepertinya tidak perlu, karena tanpa Arata pun, Lea merasa tubuhnya sudah rileks dengan sendirinya. Ia benar-benar lelah, sehingga tak perlu lagi Arata untuk melakukan apa pun pada dirinya.
“Tolong… jangan sentuh saya,” gumamnya lemah. “Biarkan saya sendiri.”
Dia menutup mata. Dan langsung terlelap.
Lea tidak ingat, apa yang terjadi padanya saat ia terbangun dari tidurnya. Apa memang ia telah kehilangan ingatannya untuk sementara, atau memang tak terjadi suatu pun padanya sebelumnya? Yang ia rasakan saat matanya tersingkap pelan adalah perutnya yang ngilu karena lapar, serta kerongkongannya yang kering oleh dahaga. Dan ia berada di kamarnya, di atas kasur, mengenakan piyama. Sepertinya, memang tak ada apa pun terjadi padanya sebelumnya.
Ia bergeser ke tepi tempat tidur, dan menurunkan kedua kaki. Bangkit, memakai sandal kamar, dan menyeret kaki ke arah pintu di seberang. Sudah malam, batinnya saat menengok ke arah jendela yang hitam, terus menggerakan kaki mendekati pintu kamar.
Saat ia membuka pintu, tak ada seorang pun di luar. Eiji sudah tak lagi menempatkan penjaga di depan kamarnya sejak satu bulan lalu, dan para pelayan tidak pernah menungguinya lagi bila ia tidur.
Teringat Eiji, Lea seketika tersadar kalau ia telah bertemu dengannya hari ini—siang tadi. Tapi apa yang mereka bicarakan, itu yang tak dapat ia rekam. Ia berusaha mengingat, namun perutnya yang keroncongan sepertinya sudah protes keras minta diisi, dan otaknya pun menolak usahanya untuk mencoba mencari memori terkait itu.
Nanti saja, Lea menggumam dalam hati, sambil melangkahkan kaki menyusur lorong, menuju koridor membuka yang dibatasi pembatas pilar kayu menunju anak tangga yang membawanya ke lantai satu.
Sunyi. Tak ada suara kecuali jam antik yang berdetik di seberang ruangan. Lampu-lampu telah diredupkan yang berarti waktu telah bergulir menuju tengah malam. Tapi, Lea ragu semua penghuni Black House telah tidur, kendati selama ini dia tidak pernah keluar dari kamarnya menjelang larut malam. Tapi dia cukup yakin, Dai, Malini, atau pun Kenneth bukan tipe orang yang patuh pada jam tidur yang seharusnya. Entahlah.
Sekarang Lea telah berjalan menuju area belakang Black House. Berharap berpapasan dengan salah satu pelayan yang ia bisa minta bantuan untuk memberinya makanan. Namun sampai akhirnya kakinya berada di area belakang, tak ada seorang pun yang ia jumpai. Apa harus ia pergi ke dapur untuk mengecek apakah ada sesuatu yang bisa ia konsumsi untuk mengatasi laparnya? Bukan ide buruk, pikir Lea. Andaikan tak ada apa pun, ia bisa membuatnya sendiri. Mereka tidak mungkin menyembunyikan bahan makanan kan?
 Jadi ia berbelok ke kanan, menuju sebuah koridor yang tersembunyi di balik dinding. Ia pernah melihat Juna muncul dari sana, serta beberapa pelayan, saat mengantarkan makanan untuk disantap penghuni Black House. Mudah-mudahan saja ia tidak salah. Jujur saja, walau pun ia sudah sebulan berada di Black House, selain jalan menuju kamarnya atau ruang tengah, ia belum fasih benar area lain di dalam rumah besar ini. Dan tersasar di malam hari, dengan pencahayaan redup, tentunya bukan hal yang menyenangkan sama sekali. Lucu pun tidak.
Koridor yang Lea lewati, ternyata jauh lebih terang daripada ruangan sebelumnya. Meskipun begitu, karena dindingnya yang berwarna hitam pekat, tetap saja tidak menyiratkan keceriaan sedikit pun bagi orang yang melaluinya. Tak ada lukisan, atau hiasan dalam bentuk apa pun di dindingnya untuk sekadar menghibur mata. Untung saja kemudian jendela-jendela besar yang memantulkan cahaya lampu di luar muncul di pandangan; juga celah-celah berbentuk bujur sangkar terbuka di sisi kanan dinding, dengan meja sodor di masing-masing tepi bawahnya. Ia sudah sampai di dapur sepertinya. Dan semoga saja ada orang di dalam sana.
Tapi ternyata, di dapur juga tak ada siapa pun. Lea melongok ke dalam, dan hanya menemukan dapur yang dipenuhi peralatan stainless tersebut dalam keadaan kosong. Tak ada satu orang pun bahkan satu suara pun.
Lea baru saja akan menggapai gagang perak pintu dapur, ketika mendadak saja terdengar suara pintu lain yang ditutup dengan agak keras dari ujung koridor. Ia menimbang-nimbang untuk mengeceknya. Namun, lampu menuju ujung koridor tidak dinyalakan, sehingga hanya gelap yang ia lihat dan permukaan pintu yang mengilap di seberang. Jadi?
Kembali saja ke dapur, Lea. Dan masak sesuatu untuk perutmu, suara di kepalanya memperingatkan, saat ia berjalan melalui koridor gelap. Tapi tekadnya sudah bulat; ia ingin tahu apa yang ada di balik pintu tersebut. Lagipula berjalan di lorong gelap begini, tidak semenakutkan itu, selama kau tidak mengharapkan ada zombie atau makhluk sejenisnya yang mendadak muncul dan menyergapmu. Yang ada hanya dirimu dan pintu yang semakin lama semakin dekat jaraknya denganmu. Dan kemudian, ketika kau telah berada persis di depannya, kau tinggal meraih gagangnya, memutarnya, lalu menariknya membuka. Mudah kan?
Tapi apa yang dilihat Lea ketika akhirnya membuka pintu besi bukan suatu yang mudah untuk dipercaya. Karena begitu pintu itu membuka lebar, yang ia lihat adalah sesuatu yang bisa disebut… kebun. Bukan kebun biasa seperti yang ada di setiap pekarangan Black House, melainkan kebun yang sarat dengan banyak tumbuhan yang belum pernah sama sekali ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Ada pohon-pohon berdaun lebat yang tingginya tidak seperti pohon-pohon kebanyakan (bonsai-kah?), melainkan hanya setinggi orang dewasa. Buah-buahan yang sama sekali tidak ia kenali bergelantungan di beberapa batangnya. Bahkan ada salah satu pohon yang buah-buah di dahannya menyala-nyala mengatasi pencahayaan temaram dari lampu-lampu yang bertengger di beberapa sudut.  Lalu, bunga-bungaan yang bentuk dan warnanya tidak seperti bunga kebanyakan, tumbuh subur dan tertata rapi di beberapa sisi. Gemerecik air terdengar, berasal dari dari kolam air dengan air mancur mini di salah satu sisinya, yang berjarak beberapa meter dari tempatnya berada, mengalir turun ke parit-parit kecil yang membelah rumput berwarna ungu yang membentang di sepanjang kebun ini, mengairi seluruh tanaman dengan perlahan. Aroma di tempat ini… luar biasa. Harum, unik, tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Menenangkan dan… menghantui. Dan—Lea menutup mulut saking tercengangnya—kunang-kunang kecil berterbangan. Hinggap satu-satu, dua-dua atau berekelompok di beberapa tanaman atau benda, dengan membawa cahaya mereka yang berwarna-warni. Oh my God.
Dengan berjingkat, Lea menuruni undakan kayu kecil yang membawanya ke dasar. Ia tidak tahu, apakah ia diperbolehkan menginjak rumput-rumput ungu itu begitu saja, jadi ia melepas sandalnya buru-buru sebelum melangkah lebih jauh, dan meninggalkannya di salah satu anak tangga. Menengadahkan wajah ke atas sementara kakinya dengan hati-hati melangkah, dan menemukan langit-langit transparan berbentuk kubah menjulang di atas, menunjukkan langit penuh bintang.
Sepanjang jalan, Lea tidak henti-hentinya terpukau. Tak henti-hentinya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mengagumi tanaman-tanaman yang ada di tempat ini. Merasa sangat bodoh, karena tidak mengetahui ada tempat seperti ini di Black House yang seharusnya bisa ia kunjungi tiap hari untuk menenangkan diri.
Lalu, sampailah ia di tengah area, yang ditandai dengan kolam batu yang lebih besar dari kolam pertama. Tapi tak seperti kolam sebelumnya, kolam air yang ini tak ada air mancurnya. Cuma air yang beriak tenang, yang dasarnya kelam tak terlihat karena dinding-dindingnya yang terbuat dari batu-batu hitam pekat. Kendati begitu tampilannya tidak terlalu istimewa; tidak terlalu menarik minat Lea untuk mengaguminya.
Namun sesuatu yang tak terduga terjadi saat Lea hendak kembali melangkahkan kaki, untuk mengeksplor ke area di sisi lain kolam batu. Dan mungkin tak akan bisa dilupakannya sampai kapan pun. Sesosok tubuh—seorang laki-laki, tiba-tiba saja muncul dari dalam kolam, mempertontonkan punggungnya yang telanjang dan berwarna pucat, berhiaskan tato naga berwarna hitam yang memanjang mulai dari pangkal pinggul sampai ke belakang pundak kanannya. Dan kemudian, bagai adegan slow motion di film-film, menyapu air di rambutnya dengan kedua tangan besarnya. Lea kaku, tak tahu harus apa. Seluruh badannya sulit untuk digerakkan, karena otaknya terlalu syok dengan pemandangan di depannya. Separo, syok karena cemas, dan separo lagi, syok karena terpesona.
Meskipun ia tak melihat wajah si pemilik tubuh, ia mengakui laki-laki itu sempurna. Punggungnya yang lurus dan kekar sudah cukup membuktikannya. Lea tak tahu apa ia harus mengganggap situasi ini anugerah atau musibah. Tapi yang pasti, kalau laki-laki itu kemudian menoleh ke belakang dan melihatnya berdiri memandanginya, ia dengan terpaksa harus memakai cadar kemana-mana untuk menutupi muka malunya untuk berjaga-jaga kalau-kalau mereka kembali bertemu di situasi lain. Jadi, pergi secepatnya tanpa laki-laki itu menyadari kehadirannya adalah pilihan terbaik. Tak perlu kepo melihat tampangnya, sudah melihat punggungnya saja sudah cukup membahagiakan baginya. Apa sebenarnya yang ia pikirkan?
Namun baru saja ia akan berbalik, laki-laki tiba-tiba memutar kepalanya ke belakang, lalu berbalik sempurna menghadapnya. Lea kaget, begitu pun si laki-laki. Tangan Lea reflek menutupi matanya untuk mencegahnya melihat apa pun yang mungkin saja tampak setelahnya.
“Lea?” suara Juna, tidak mengesankan suara orang yang kaget sama sekali. “Ngapain—”
“Jangan keluar dari kolam,” Lea memotong kalimat Juna buru-buru, dengan satu tangan masih menutupi mata, sementara yang satu lagi ia kibas-kibaskan ke arah depan.
“Kenapa nggak boleh keluar dari kolam?”
Pertanyaan Juna itu disusul oleh suara air yang beriak dan berkecipak pelan kemudian.
Lea mengintip sedikit dari sela-sela jemarinya dan melihat Juna bergerak maju menuju tepian. Oh, dia pasti akan naik sekarang, pekiknya dalam hati. Kenapa sih, kamu nggak pergi aja, gerutu suara di kepalanya. Dasar bodoh. Oh, ngomel sih bisa saja. Tapi jujur, Lea merasa badannya menolak untuk pergi, meskipun pikirannya ingin sekali lari sejauh-jauhnya dari tempat ini. Badannya mengkhianatinya habis-habisan. Seakan menunggu Juna datang menghampiri, dan…
“Lea?”
Lea menurunkan tangannya, dan melihat Juna sudah berada di depannya. Tak seperti pikirannya, ia tidak telanjang bulat. Ia mengenakan celana kain hitam sebatas lutut untuk menutupi bagian tubuhnya ke bawah. Meskipun begitu tetap saja Lea salah tingkah. Wajah basahnya, rambut basahnya, lehernya, dadanya yang dipenuhi tato, pusarnya…, membuat kepalanya pusing dan mukanya panas luar biasa.
“Kamu oke?”
Juna mengangkat tangan, sepertinya hendak menyentuh Lea. Namun kemudian ia menurunkannya lagi. Dan Lea tahu alasannya.
“C-Chef… Saya… lapar dan nggak sengaja masuk ke sini. Maaf. Saya nggak tahu—”
“Kamu lapar?”
Lea mengangguk. “ Tapi sudah nggak lagi,” katanya buru-buru. “Saya mau—” (Lea menelan ludah susah payah) “—balik ke kamar saja.”
No, no.” Juna menggeleng cepat. “Kamu tunggu di dapur. Aku akan ke sana sebentar lagi. Aku akan buatkan sesuatu untuk kamu.”
“Nggak perlu.”
Just go, Lea. Aku menyusul.”
Lea tidak membantah lagi. Berpaling dan berlari menyeberangi kebun. Mati-matian menolak hasrat untuk memalingkan wajah sekali lagi ke arah pria yang tertinggal di belakangnya. Pria yang selama ini diidolakannya tanpa berharap akan bertemu dengannya suatu hari, dan malah menyaksikannya keluar dari air dengan bertelanjang dada di depan matanya sendiri beberapa saat lalu.
Ada apa dengan dunianya belakangan ini? Seolah saja jungkir balik 180 derajat, dan membuatnya tidak sempat mencari tahu sedikit pun karena cepatnya hal-hal terjadi padanya dan sekelilingnya. Haruskan ia berterima kasih? Atau haruskan ia bersedih? Namun bagaimana pun itu, melihat sosok dan wajah tampan Juna yang benar-benar berbeda malam ini, telah membangkitkan sesuatu yang selama ini terlelap di dasar hatinya. Hanya saja, ia belum menyadarinya seratus persen. Ia hanya…, merana. Dengan kunang-kunang berterbangan di sekelilingnya.

(Bersambung)

gambar dari sini
"Sometimes you fall in love with the most unexpected person at the most unexpected time."

Read more...
Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP