The Adorables (10): Past

>> Sunday, February 14, 2016

Baca: The Adorables (9)

Past

EIJI Kuroi, jelas adalah laki-laki yang sangat sibuk. Ia jarang berada di Black House, karena selalu bepergian mengontrol projek bisnis di kota yang telah dimulai sejak beberapa bulan lalu.
Selain itu, ia juga pengambil keputusan utama di Black House—tentang apa pun. Termasuk apa yang harus dikatakan atau tidak dikatakan pada orang-orang tertentu di dalamnya; seperti Lea misalnya. Yang telah menunggu satu bulan lamanya hanya untuk bertemu dengan laki-laki itu, demi mendengar penjelasan perihal jati dirinya dan apa yang sebenarnya terjadi; alasan kenapa dia harus tinggal di Black House dan berpisah dengan Mina. Dai, Malini—bahkan Juna, semuanya bungkam, tak mau memberikan penjelasan. Kata seperti “Tunggu Eiji” atau “Hanya Eiji yang punya wewenang untuk memberitahu” dan semacamnya, telah amat familiar di telinga. Tak ada yang mau bicara, tak ada yang mau memberitahu, meski secuil pun. Tak peduli bagaimana pun Lea meminta.
Jadi, begitu Malini mengatakan—dengan bahasa dan sikap yang amat formal—pada Lea kalau Eiji akan menemuinya hari Jumat, 4 Maret jam 2 siang, Lea jadi cemas sekaligus bersemangat. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan atau tanyakan; atau mungkin harus marah lebih dulu begitu bertatap muka dengannya. Memakinya habis-habisan atau merengek minta pulang. Sungguh ia tidak tahu. Yang pasti ia ingin Eiji menjelaskan semuanya kepadanya. Sejelas-jelasnya.
Dan, di sinilah dia sekarang, hari Jumat, 4 Maret, jam dua kurang sepuluh menit. Duduk sendirian di kursi antik berlengan, di aula tengah Black House, menunggu dipanggil masuk ke dalam ruang kerja Eiji di balik pintu ganda Mahogany di sisi sebelah kiri, mengenakan tunic dress salmon favoritnya—dan satu-satunya baju terusan paling feminin yang ia punya, serta kets converse putih milik Mina yang ia temukan di dalam koper yang Mina bawakan waktu itu. Ia berpikir, sebaiknya ia terlihat lebih rapi untuk menemui Eiji, sesuai saran Malini beberapa hari sebelumnya. Tidak ada salahnya.
“Hai, Lea.”
Suara itu membuat Lea yang sedang tercenung memikirkan banyak hal yang tumpang-tindih, kaget bukan kepalang. Ia sampai terlonjak di kursinya, bersamaan dengan kepalanya yang serentak mendongak melihat si pemilik suara. Kenneth, yang sekarang memandangnya, sepertinya juga terkejut dengan reaksinya barusan. Langsung minta maaf karena telah membuat Lea kaget.
“Nggak apa,” timpal Lea, meringis tersenyum. “Aku yang melamun.”.
“Jangan sering bengong, Non.” Kenneth terkekeh. “Kamu bisa mati mendadak karena itu.”
Lea mendengus tersenyum. Ini kali pertama ia bertemu Kenneth tanpa orang lain di sekitar mereka, jadi ia sedikit grogi.
“Bukannya kamu ketemu Eiji sekarang?” Kenneth mengecek arloji di pergelangan tangan kirinya. “Kenapa nggak masuk?”
“Patrice minta aku menunggu sebentar. Eiji lagi sama Dai.”
Kenneth ber-oh pelan. Menarik naik satu lengan cardigan collar hijaunya yang melorot dari siku dan duduk di kursi berlengan lain di depan Lea. Dari dekat, luka sayat di pipinya kelihatan amat dalam dan mengilap. Lea bertanya-tanya, darimana Kenneth mendapatkan luka itu? Dan karena alasan apa?
“Kamu sudah baikan, Lea?”
“Oh… Ya. Lebih… baik.”
Kenneth melempar senyum. “Aku harap juga begitu.”
“Dan… akan lebih baik lagi kalau semua bersikap biasa padaku.”
“Maksudnya?”
Sosok Malini melintas di benak Lea. Perubahan sikapnya yang drastis malam itu, ketika Eiji mengkonfirmasi tanda lahir di punggung Lea. Sejak itu Malini tak lagi sama. Bersikap seakan saja Lea adalah majikan yang harus ia hormati. Membuatnya tak nyaman.
Lea lebih senang Malini yang dulu; yang dengan amat terbuka menerimanya dengan tulus dan berbicara tanpa ada batasan kepadanya. Tapi sepertinya Malini sudah kokoh dengan sikapnya yang sekarang. Karena bagaimana pun Lea mengatakan padanya untuk bersikap biasa, ia tetap tak menghiraukannya.
“Well…, ada beberapa orang yang bersikap terlalu formal dan… aku tidak nyaman,” Lea memberitahu Kenneth.
“Apa aku juga formal menurut kamu?” Kenneth nyengir.
Lea menggeleng buru-buru. “Kamu masih memanggilku dengan ‘Lea’ saja. Nggak pakai ‘nona’, seperti… seperti”—(Lea ingin menyebut ‘Malini’ namun ia mengurungkannya)—“para pelayan. Kalau bisa, sebaiknya mereka memanggilku dengan nama saja, aku akan… merasa lebih baik.”
Kenneth tertawa. “Ya ampun, Lea. Para pelayan memang diwajibkan menghormati siapa pun di Black House, apalagi orang-orang yang tinggal di dalamnya. Jadi wajar, kalau mereka menyebut kamu dengan ‘nona’. Mereka hanya bersikap sopan. Kamu nggak seharusnya memikirkan itu terlalu berat.”
“Ya. Mungkin… aku over-thinking.”
“Relaks. Jangan biarkan hal-hal kecil membebani kepala kamu. Karena akan ada hal-hal yang jauh lebih penting untuk kamu pikirkan ke depannya.”
Lea mengerutkan dahi. “Apa?”
“Banyak. Berlatih kendo salah satunya, mungkin? Atau, karate. Kamu butuh itu, agar nggak ada satu pun orang yang bisa macam-macam sama kamu.”
Tawa Lea berderai, sedangkan Kenneth nyengir. Untuk kali pertama sejak sebulan akhirnya ia tertawa lepas oleh komentar sederhana yang dilontarkan Kenneth. Mendadak saja, tidak tahu kenapa, ia teringat Shinji yang memang tidak pernah ia lihat sama sekali sejak kejadian itu. Ia pun menanyai kabar laki-laki itu pada Kenneth.
“Shinji baik.” Kenneth menyandarkan punggung ke sandaran kursi. Menaikkan satu kakinya bertumpu di pahanya yang lain. “Dia cuma sedang konsentrasi penuh mempelajari salah satu jurus kendo.”
“Aku… nggak pernah lihat dia selama di sini.”
“Ya. Karena kamu tahu Shinji…, dia nggak suka masuk ke Black House.”
“Dia nggak pernah masuk kemari?”
“Kadang-kadang, kalau memang harus. Tapi… ya, jarang.”
“Kenapa?”
Kenneth tersenyum simpul. “Mungkin kamu yang harus tanya langsung sama dia.”
Hening kemudian. Lea tersenyum kecil, menubrukkan mata kelabunya dengan mata hijau Kenneth di hadapannya. Sedangkan Kenneth, ia tersenyum simpul jenaka. Terkesan santai, seakan saja kalimatnya barusan sekadar kalimat kosong tanpa makna.
Suara pintu yang bergeser membuka mengalihkan perhatian keduanya. Dai muncul dari baliknya, langsung mengangguk pada Lea sebagai tanda agar Lea masuk ke dalam ruangan. Lea berdiri, diikuti Kenneth. Setelah itu melangkahkan kaki pelan. Dadanya berdebar, sama seperti saat ia meninggalkan kamarnya di lantai dua setengah jam lalu. Dan semakin kencang, seiring jarak yang mengecil antara dirinya dan Dai, serta pintu di belakang Dai. Ingin sekali ia menoleh pada Kenneth untuk sedikit membungkam kecemasannya, namun tidak ia lakukan.
“Kamu pucat,” komentar Dai, ketika Lea sampai di depannya. “Kamu baik-baik saja kan?”
Lea mengangguk cepat-cepat, tidak bersuara. Mulutnya terasa kering, dan lidahnya kelu. Kakinya bergerak pelan memasuki ruangan besar yang didominasi warna hitam di hadapannya. Tersentak, ketika suara pintu menutup di belakangnya.
Dai menyentuh pinggang Lea, dan dengan lembut mendorongnya maju ke tengah ruang kerja besar beratap tinggi yang bernuansa hitam kelam. Sinar matahari menyelinap masuk melalui kaca jendela besar yang tertutup rapat, menyorot langsung ke sosok laki-laki yang sedang duduk di belakang meja kayu lebar, sedang menulis sesuatu di permukaan salah satu kertas yang menumpuk di atas meja. Eiji Kuroi, sosoknya terlihat mengesankan dengan latar belakang tembok bata merah hati yang membentang. Tepat di belakang punggungnya, foto hitam putih besar seorang pria tua mengenakan kimono hitam, dengan rambut yang ditata seperti laki-laki jepang ratusan tahun lalu bertengger kokoh. Posenya duduk di kursi kayu khas Jepang, dengan ekspresi wajah garang. Tapi bukan potretnya saja yang menarik perhatian Lea, melainkan kelima lukisan kecil berpigura kayu antik yang di tata membentuk setengah lingkaran mengitari si pria tua. Lukisan tersebut sepertinya adalah simbol. Entah simbol apa.
Dai, menggiring Lea ke arah sofa di tengah ruangan, dan menyuruhnya duduk. Lea menurut, dan mengenyakkan diri di salah satu sofa panjang.
“Jangan tegang,” ujar Dai, duduk di sebelahnya. “We just talk.”
Aku tahu, Lea membatin. Tapi ‘bicara apa?’ itu yang menjadi pertanyaan. Karena sepertinya akan banyak sekali hal yang harus dibicarakan; banyak sekali pertanyaan yang akan ia ajukan. Banyak sekali yang Eiji harus jelaskan padanya.
Kira-kira sepuluh menit kemudian, dan Lea hanya bisa diam menggigiti kuku-kuku jarinya, Eiji mendorong kursinya ke belakang dan bangkit dari duduknya. Santai, ia melangkahkan kakinya mendekat, sambil menggulung lengan kemeja kotak-kotak kelabunya. Tidak lagi formal dengan setelan jas yang Lea ingat, melainkan semi kasual, dengan memadukan jins denim dan kets putih Nike.
“Apa kabar, Lea?” Ia bertanya, setelah sebelumnya membebankan badannya di salah satu sofa tunggal berlengan yang berseberangan dengan Lea.
“Baik.”
“Kamu pucat.”
“Kulit saya memang pucat.”
Eiji mendengus tersenyum. “Apa kamu diperlakukan baik selama di sini?” Ia tak menghiraukan jawaban Lea barusan yang bernada sinis.
“Lebih dari baik. Sampai saya bingung, bagaimana harus bersikap.”
“Lea,” tegur Dai pelan.
Kepala Lea langsung tertunduk. Menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan untuk mengendalikan emosinya yang merayap naik sedikit demi sedikit. Ingatannya yang menyusup pelan-pelan saat ia disekap, serta perpisahannya dengan Mina membuat kemarahannya pada Eiji muncul dan sulit untuk dikendalikan.
“Aku paham perasaan kamu,” Eiji bicara lagi. “Pasti banyak sekali pertanyaan yang ingin kamu ajukan terkait semua ini.”
“Ya. Banyak sekali,” balas Lea sinis. “Terlebih karena butuh satu bulan lamanya saya menunggu hanya untuk mendapatkan penjelasan; kenapa saya dilarang pulang, dan bertemu dengan kakak saya.”—Dai kembali memanggil Lea untuk memperingatkan, namun Eiji mengangkat tangannya, meminta Dai membiarkan Lea bicara—“Jelas akan banyak sekali yang saya tanyakan. Dan saya minta dijawab dengan detail. Tidak bertele-tele.”
Eiji tersenyum simpul. “Oke. Aku akan to the point saja kalau begitu.
Lea menelan ludah. Ada perasaan menyesal yang tiba-tiba saja muncul karena membombardir Eiji barusan, namun tidak mau diperlihatkannya. Tidak mau Eiji menganggapnya lemah. Bagaimana pun, laki-laki di depannya ini harus menjelaskan semua misteri perihal tindakannya padanya hari ini juga. Kalau tidak, ia bisa gila. Benar-benar gila.
“Mungkin aku bisa mulai dari… keluarga kamu, Lea,” Eiji memulai.
“Ada apa dengan keluarga saya?”
“Kamu harus tahu, kalau keluarga yang membesarkan kamu selama ini—termasuk kakak kamu, Mina, bukan keluarga kamu yang sebenarnya. Papa mama kamu, bukan orang tua kandung kamu. Dan Mina, tentu saja…, bukan kakak kandung kamu.”
“Jangan sembarangan. Anda tidak punya hak bicara seperti itu tentang keluarga saya.”
“Dokumen lengkap dan resmi perihal jati diri kamu—mulai dari kamu lahir sampai sekarang, ada di mejaku. Kamu boleh cek sendiri.”
Mata Lea berpindah dari Eiji ke arah meja kerja besar di mana Eiji duduk beberapa waktu lalu.
“Kenapa aku harus menunggu satu bulan untuk bertemu dengan kamu dan menjelaskan semuanya, karena aku… harus punya bukti resmi yang bisa buat kamu percaya, semua yang akan kujelaskan sama kamu. Untungnya dalam sebulan, semua bisa terkumpul.”
Kerongkongan Lea seakan tercekat. Ia tidak mau memercayai kata-kata Eiji, tapi, bagaimana kalau semua yang ia katakan padanya adalah benar? Kalau ia bukan anak kandung papa mamanya? Kalau ia bukan adik dari Mina? Lalu, kalau begitu, siapa dia?
“Anda… bohong,” sangkal Lea serak. “Saya…, adalah anak dari Adrian Riswara dan Ayu Riswara. Adik dari Minari Riswara.” Air matanya jatuh seiring kalimat demi kalimat yang ia ucapkan pada Eiji. “Saya orang Indonesia. Tidak ada keturunan Jepang. Saya bukan Kuroi, seperti yang pernah Anda katakan sebelumnya. Jadi…, nggak ada alasan untuk Anda mengurung saya di sini.”
“Kamu bisa baca semua berkas—”
“Persetan dengan berkas sialan itu!” sela Lea galak. Dan tindakannya itu langsung berbuah teguran keras dari Dai, yang anehnya tidak ia pedulikan sama sekali. “Semua berkas bisa dibuat dengan imbalan. Akan mudah sekali untuk orang seperti Anda untuk mendapatkannya, hanya dengan membayar beberapa juta.”
“Informasi mengenai dirimu, berharga leih dari beberapa juta, Lea” timpal Eiji tanpa diduga. Membuat Lea mengernyit, tanpa bisa membalas.
“Dan bukan dibuat, tapi ditemukan.” Eiji menopang satu kakinya di kaki yang lain, seiring badannya terdorong ke belakang. “Dikumpulkan, dijejaki, dipilah, satu demi satu di antara jutaan berkas. Bukan hanya di satu tempat, tapi di banyak tempat. Butuh banyak koneksi, banyak relasi, banyak orang, untuk dapat menemukan surat keterangan lahir dari bayi prematur tanpa orang tua yang lahir tanggal 28 April dua puluh lima tahun lalu, yang kemudian dinamakan Lili Armenia, dan sekarang bernama resmi Naulea Usara Riswara.”
Lili Armenia? Gumam Lea dalam hati. Apa… itu adalah namanya sebelumnya? Benarkah itu? Benarkah?
“Nama Lili Armenia, diberikan sendiri oleh Dokter yang menangani kelahiran kamu waktu itu. Karena tanda lahir kamu yang berbentuk Lili di bahu belakangmu.”
“Saya…” Lea bicara gugup, “bisa saja bukan orang yang Anda cari. Banyak sekali bayi yang lahir tanggal 28 April di tahun yang sama dengan saya, dan punya tanda lahir—”
“Ya. Memang banyak sekali. Tapi yang punya tanda lahir Lili hitam, cuma kamu saja,” potong Eiji. “Dan, tentu saja, Dokter dan para suster di rumah sakit kamu dilahirkan sangat mengingat papa kamu, Adrian, yang datang menanyakan, apa ada bayi tanpa orang tua yang bisa ia adopsi, untuk menggantikan putri keduanya yang meninggal dalam proses kelahiran dua jam setelah kamu lahir.”
Lea menggelengkan kepala. Membungkukkan badan, membenamkan wajah ke tangan. “Saya nggak mau dengar.”
“Istri Adrian, yang kamu sebut mama selama ini, sudah sangat sakit waktu itu. Namun tetap mempertahankan bayi di kandungannya, walaupun tidak diperkenankan oleh Dokter. Ia berjuang, untuk tetap dapat melahirkan bayinya, tapi sayangnya, bayi itu mati sebelum bisa dilahirkan. Dan kondisi Ayu, mama kamu, terlalu lemah untuk menerima kabar duka tersebut. Jadi papa kamu mencari alternatif lain; bayi lain, untuk lebih spesifiknya, sebagai pengganti anaknya yang meninggal.  Dan itulah kamu…, pengganti adik Minari Riswara. Bayi tanpa orang tua, tanpa keluarga satu pun.”
Lea merasakan sesuatu yang panas mengalir naik mulai dari kaki ke kepala. Memaksanya untuk menangis, memuntahkan kesedihannya atas apa yang baru saja ia dengar. Walaupun ia tidak mau percaya begitu saja semua kata-kata Eiji, namun mau tak mau ia harus percaya. Mina, juga telah memintanya untuk mendengarkan apa pun penjelasan yang diberikan oleh pihak Black House waktu itu, dan memintanya untuk percaya. Berarti, semua itu benar. Apa yang dikatakan Eiji… benar.
Demi Tuhan, batinnya amat terpukul. Karena ia, tak lain hanya pengganti, dari seorang anak yang bernasib tak seberuntung dirinya, yang meninggal saat mama—satu-satunya ibu yang ia tahu, berusaha mengantarkannya ke dunia. Dan yang amat sangat mengganggunya, apakah mamanya tahu, kalau dirinya, putri yang ia besarkan sampai masa-masa terakhir hidupnya bukanlah putri kandungnya? Apa papa pada akhirnya memberitahu mama? Kalau ia tahu, tentunya, ia tidak akan menyayanginya sebesar itu kan?
“Dai…” Eiji memanggil pelan, yang langsung direspon segera oleh Dai. “Tolong panggil Juna kemari.”
“Baik.”
Beban di sebelah sofa yang Lea duduki terangkat. Dai dengan cepat melangkah meninggalkan ruangan, dan menutup pintu di belakangnya.
“Kalau Anda memanggil Chef Juna untuk membawakan saya ramuan penenang atau apa pun, saya tidak akan mau minum.”
Eiji mendenguskan senyum, menggeleng sedikit dan berkata pada Lea kalau bukan itu tujuannya memanggil Juna. Ia hanya hendak meminta tolong sesuatu padanya. “Meskipun begitu,” ia menambahkan, “kamu harus secepatnya menenangkan diri. Kami sudah sangat terlambat menemukan kamu, jadi aku harus segera memberitahu apa yang semestinya kamu tahu.”
Apa maksudnya dengan ‘terlambat’?
“Ayah kamu, bernama Hidesuke Hiroi.”
“Stop!” tukas Lea, mengangkat satu tangan, untuk mencegah Eiji bicara. “Saya nggak mau tahu.”
“Kamu harus tahu.” Eiji bangkit dari sofa, dan berjalan ke meja kerjanya. “Karena semua ini adalah hidup kamu, dan siapa kamu.”
Ia meraih sebuah amplop coklat besar dari atas tumpukan kertas dan amplop yang meninggi di permukaan meja, lalu kembali ke sofa. Sedangkan Lea mengibaskan kepala ke kanan dan ke kiri. Menolak, mengatakan ‘tidak perlu’ dalam suara pelan yang parau.
“Ini,” Eiji meletakkan sebuah foto tua yang telah usang dan robek di ujung kanan bawahnya di atas meja di depan Lea, dan mendorongnya maju agar Lea bisa melihat lebih dekat. “adalah Hideaki Hiroi, dan istrinya Maura. Ayah dan ibu biologis kamu.”
Mau tak mau, mata Lea menghampiri foto tersebut, dan menemukan seorang laki-laki Jepang—tapi tidak terlihat seperti orang Jepang kebanyakan, duduk bersanding dengan seorang perempuan cantik berambut ikal duduk di atas pasir putih berlatar belakang pohon palem dan pantai berair biru. Keduanya tersenyum; kelihatan bahagia.
Si laki-laki, mengenakan kemeja pantai biru muda dengan corak bunga-bunga, memiliki senyum lebar yang ramah dan—Lea terkesima—mata kelabu cerah. Rambutnya amat lurus, hitam mengilap, kontras dengan perempuan di sebelahnya, yang berambut ikal, berwarna coklat kemerahan—Lea, meraih ujung rambutnya sendiri. Wajah Hideaki, tidak bisa dibilang tampan, tidak bisa juga dibilang jelek. Ada sesuatu di antara senyum dan matanya yang membuat dirinya tidak terlihat membosankan. Kulitnya kuning cerah, sementara Maura, kecoklatan seperti terbakar matahari.
“Ayah kamu meninggal dalam kecelakaan saat mengantar ibu kamu ke rumah sakit untuk melahirkan.” Eiji duduk lagi di sofa di seberang Lea. “Usia kandungannya waktu itu baru tujuh bulan.”
Jari Lea pelan menyentuh foto di atas meja. Ingin meraihnya, memerhatikan saksama wajah-wajah asing yang dibilang Eiji adalah ayah dan ibu kandungnya, namun ia ragu. Masih tak percaya, kalau ada dua orang lagi yang disebut sebagai orang tuanya selain papa mama yang selama ini membesarkannya dengan penuh cinta dan kasih sayang sampai ajal keduanya tiba. Tapi…, mata Hideaki, dan rambut ikal Maura, meruntuhkan pendiriannya. Sedikit banyak, ia melihat dirinya sendiri pada keduanya. Benar-benar melihatnya.
“Ayah kamu berusaha menghindari mobil lain yang mendadak melintas di depan mobilnya. Sehingga menabrak pohon dan… membuatnya tewas seketika. Ibu kamu kritis, namun ia bertahan, sampai akhirnya kamu berhasil diangkat dari kandungannya.”
Lea menyeka air mata yang kembali meluncur ke pipi dan mengambil foto tersebut dari meja. Mendadak saja, ia merasa kesepian. Dan juga merindukan kedua orang di dalam foto tersebut.
“Polisi, tidak menemukan identitas apa pun saat itu, jadi tidak ada yang tahu siapa nama mereka. Tidak ada keluarga yang bisa dihubungi, sehingga kasus kecelakaan tersebut tak dilanjutkan.”
“Dimana mereka dikuburkan?” Lea memandang Eiji penuh harap.
“Mereka tidak dikubur, tapi dikremasi.” Eiji membungkukkan badan, mencakupkan kedua tangan dan menopangkan dagu. “Abu mereka dibuang ke laut.”
Informasi itu membuat Lea merasa amat merana.
 “Hideaki, ayah kamu, adalah salah satu keturunan Kuroi. Tapi tak ada satu pun dari kami, yang tahu kalau ia telah meninggal. Aku pribadi, baru mengetahui kematian pamanku itu, saat mengumpulkan data-data kam. Dia meninggalkan Jepang bertahun-tahun lalu tanpa jejak yang bisa ditelusur Mengganti nama belakangnya, memalsukan semua latar-belakangnya dan tinggal di Indonesia, karena memang cuma di sini, keluarga kami tidak memiliki koneksi. Dan selama itu, ia hidup layaknya orang biasa. Berusaha dari bawah, dengan uang yang pas-pasan. Membuka restoran kecil di Pecenongan, bertemu ibu kamu, menikah—seperti orang lain pada umumnya. Sampai akhirnya meninggal, dalam kecelakaan itu.”
“Kenapa dia meninggalkan Jepang?” tanya Lea penasaran. “Kenapa dia meninggalkan keluarganya.”
Sebelum Eiji membuka mulut untuk menjawab, terdengar ketukan di pintu. Tak lama, pintu dibuka dan kembali ditutup, disusul suara langkah yang menggema ke seluruh ruangan. Lea buru-buru menyeka mata sembapnya, dan menoleh ke samping. Juna memandangnya sambil mengerutkan dahi, kelihatan heran. Sepertinya ia tak menyangka akan bertemu Lea di ruangan ini.
“Eiji san, Anda panggil saya?”
Pertanyaan itu segera dibalas anggukan oleh Eiji, yang langsung meminta Juna duduk di sebelah Lea. Lea memandang Juna, dan Juna sebaliknya, namun tak ada suara keluar dari mulut masing-masing.
“Lea,” Eiji bicara lagi, “setiap generasi dari Kuroi, selama lebih dari tujuh keturunan ini, beberapa di antaranya terlahir dengan kemampuan istimewa. Kemampuan, yang membuat mereka yang memilikinya, hidup bersama tanggung jawab yang cukup besar di pundak mereka. Dan bila mereka tidak sanggup, menyerah adalah solusinya. Seperti halnya ayah kamu, yang lebih memilih pergi.”
“Saya tidak mengerti…”

“Selama ini apa kamu pernah mengalami sesuatu yang… menurut kamu… aneh?”
Dahi Lea tertarik kuat. Ingatannya tentang apa yang dilihatnya kala ia menyentuh Shinji merangsak masuk ke benaknya seakan saja kejadian itu baru dialaminya kemarin. Apa itu yang dimaksud Eiji dengan kemampuan istimewa? Meskipun demikian ia menggeleng tanpa berkata apa pun, sambil mengusir memori irasional tersebut sejauh mungkin.
“Jadi, apa yang kamu alami satu bulan lalu, sampai membuat kamu pingsan, bukanlah sesuatu yang aneh untuk kamu?”
“Saya…, sering pingsan,” Lea beralasan. “Sebelumnya saya juga pernah pingsan di sini.”
“Sebelum kamu masuk ke Black House?”
“Maksudnya?”
“Bagaimana saat ulang tahun kamu yang keduapuluhsatu? Saat… gerhana bulan merah?”—Lea menelan ludah—“Tidak ada hal aneh terjadi? Mata kamu sakit misalnya? Atau… melihat sesuatu yang tidak logis?”
Kepala Lea tertunduk. Mengenang, 5 tahun lalu. Ketika gerhana bulan besar itu. Ada sesuatu waktu itu, yang tak ingin ia ingat kembali. Tidak mau.
“Saya tidak pernah mengalami apa pun.”
“Bahkan saat kamu menyentuh orang lain? Tidak ada yang kamu lihat atau rasakan?”
Lea mengangkat kepala, pandangannya beradu dengan Eiji yang satu matanya disipitkan. Ia tahu sesuatu, pikir Lea. Eiji pernah menyentuhnya, dan langsung kaget setelahnya. Sama seperti reaksi Shinji ketika pertama kali tangan mereka bertemu.
“Aku ingin kamu menyentuh Juna.” Eiji berdiri.
“Eiji san.” Nada suara Juna seolah memperingatkan. Badannya tegak lurus, tampak tegang.
Lea celingukan antara Eiji kemudian Juna. “Untuk apa?”
“Sentuh saja. Aku cuma ingin tahu sesuatu.”
“Eiji san, saya tidak bisa.” Juna benar-benar terlihat amat keberatan.
“Jabat tangan Juna, Lea.” Eiji tidak menghiraukan.
Lea memandang Juna dengan bingung, sekaligus ingin meminta tolong untuknya memutuskan. Tapi Juna, sama dengan dirinya, cuma menatap dengan tampang separo-bingung, separo-putus asa. Akhirnya, karena tidak tahu harus bagaimana lagi, Lea mengangkat tangan kanannya dengan grogi, berharap penuh Juna juga melakukan hal yang sama di luar keengganannya untuk menuruti kemauan Eiji. Akan canggung sekali, kalau Juna tidak balas menjabat tangannya. Untungnya, ia mau. Mengangkat tangannya, dan menyambut tangan Lea.
Awalnya tak ada yang terjadi, dan Lea hampir saja bernapas lega, tak melihat kelebatan apa pun saat jemarinya bertautan dengan jemari Juna yang besar. Namun kurang dari satu detik setelah tangan mereka bertemu sempurna, semua itu muncul dengan wujud pecahan gambar dan warna yang bertubrukan, berebut minta perhatian. Membuat matanya perih dan berair. Lalu, satu cuplikan, bagai potongan klip video singkat, muncul di depan mata dengan amat jelas; Juna tersenyum—“aku mencintaimu”; Juna memeluknya; Juna mencium keningnya; Juna mencium bibirnya; mereka bahagia, lalu semua kegembiraan itu beralih ke pemandangan yang menakutkan. Mayat—mayat dimana-mana. Ia melihat mayat-mayat bergelimpangan di dalam sebuah halaman pagoda besar berwarna merah dan hitam. Ia bersimpuh, memeluk Juna yang berdarah, dan dipenuhi luka; mati. Dan Shinji… ia berdiri di hadapannya. Matanya hitam. Benar-benar hitam. Pedangnya terhunus, darah menetes-netes dari ujungnya. Ia mengangkatnya dan mengayunnya…
Entah siapa yang menarik tangan lebih dulu, yang pasti itu tindakan paling bijaksana yang dilakukan. Lea tersengal, sementara Juna mengguncang-guncangkan bahu Lea dengan panik, seakan saja ada sesuatu yang buruk terjadi padanya
“Lea. LEA!
Juna memanggilnya dengan keras. Tapi Lea terlalu lemah untuk menjawab. Matanya berair banyak sekali, dan otaknya berdenyut-denyut keras di bawah tengkoraknya. Ia pusing, sangat pusing, sepertinya saja ia baru berputar keras tanpa henti.
“Juna.” Suara Eiji terdengar. “Lebih baik kamu buatkan ramuan penenang untuk Lea.”
“Tapi—”
“Sekarang.”
Perintah Eiji selalu di dengar. Bahkan oleh Juna, si Chef garang yang Lea kenal. Ia melepaskan kedua tangannya dari Lea, dan bangkit dari sofa. Berjalan gontai menuju pintu, lalu lenyap tak lama setelahnya.
“Apa… apa yang saya lihat tadi?” tanya Lea susah payah, di sela napasnya yang memburu.
“Apa itu masih bukan sesuatu yang aneh untukmu? Melihat apa yang terjadi pada orang lain yang kamu sentuh?”
Lea memejamkan mata lekat-lekat. Kerongkongannya terasa panas. Semua badannya malah. Napasnya juga sesak. Jantungnya memukul-mukul dari balik dadanya. Kesedihan melandanya, mengingat beberapa saat tadi ia melihat  Juna tergeletak di pangkuannya. Tak bergerak.
“Apa yang saya lihat, bukan kenyataan kan?”
Eiji mencengkeram punggung sofa dengan kedua tangan. “Sayangnya, Lea. Itu semua kenyataan.”
“Jadi… kalau saya melihat seseorang mati…”
“Maka orang itu akan mati.”
Lea melotot. “Nggak mungkin.” Ia menggelengkan kepala dengan keras. “Nggak mungkin. Anda salah… Itu cuma imajinasi.”
“Itu bukan sekadar imajinasi. Itu penglihatan masa depan, atau masa lampau orang yang kamu sentuh.”
“Saya nggak punya kemampuan semacam itu.”
“Kamu punya. Karena kamu adalah salah seorang dari kami, Kuroi. Itu diturunkan, dengan kemampuan yang berbeda, dengan kadar yang juga berbeda. Ayah kamu, punya kemampuan itu juga, tapi bukan seperti kemampuan yang kamu punya. Kemampuanmu, jauh lebih besar darinya.”
“Saya nggak mengerti.”
“Lea… Mereka yang memiliki kemampuan tersebut, mempunyai sensitifitas luar biasa untuk menyerap satu dari empat energi utama yang ada di alam ini; udara, air, tanah, atau api. Dan keempat energi tersebut, memberikan mereka semacam kekuatan yang dapat berguna untuk membantu banyak orang yang membutuhkan, dan untuk kelangsungan hidup banyak orang.”
Lea menyimak dengan saksama. Sejenak lupa dengan keraguannya.
“Dan, ada satu energi lagi, yang terpisah dari 4 unsur tersebut. Tak berwujud, tapi bukan udara. Mengalir, tapi bukan air. Panas, tapi bukan api. Padat, tapi bukan tanah. Orang yang memiliki energi ini disebut Reiki. Dan seorang Reiki dapat melihat masa lalu atau masa depan seseorang hanya dengan menyentuhnya. Ia juga… mampu melintasi waktu untuk mengetahui kejadian lalu maupun yang akan datang yang dapat memengaruhi kelangsungan hidup banyak orang di kemudian hari.”
“Jangan bilang kalau saya seorang Reiki. Sungguh, akan dramatis sekali kendengarannya.” Lea memijat-mijat dahinya yang berdenyut. “Kualitas diri saya jauh dari yang diharapkan sebagai seorang Reiki.”
Eiji duduk di lengan sofa, menyilangkan kedua tangan di dada. “Seorang Reiki, dipilih oleh alam itu sendiri. Dan kelahirannya ditandai oleh peristiwa alam yang fenomenal. Seperti kelahiranmu yang prematur tepat di bulan ketujuh, saat gerhana bulan biru terjadi, tepat di tengah malam, di pergantian malam ke pagi. Tanggal 28 April, dua puluh lima tahun lalu.”
“Saya nggak tahu bisa percaya atau nggak.”
“Bagaimana pun usaha kamu untuk menyangkalnya, Lea, kamu adalah kamu. Alam telah memilih, dan ia menandai kamu dengan tanda lahir yang ada di tubuhmu. Kelahiran kamu, telah diprediksi sejak dunia masih sangat muda, begitu pun ‘lili hitam’ itu. Reiki yang pertama, Yamada Kuroi,” Eiji mengedikkan kepala ke belakang, ke arah potret besar laki-laki Jepang di belakangnya, “telah mendapatkan penglihatan itu dan mencatatnya di buku hariannya, yang merupakan kitab berharga untuk keluarga kami. Sayangnya, dari tujuh Reiki yang lahir mulai dari masa sebelum masehi sampai saat ini, tak ada satu pun yang bertahan. Yang terakhir, tewas saat berusia dua puluh satu tahun. Satu-satunya, yang memiliki tanda lahir Lili hitam yang identik dengan tanda lahir di punggungmu, serta mata berwarna kelabu. Namanya Kuro Yuri. Ia meninggal menjelang dimulainya era modern di Jepang, atau mungkin kamu pernah dengar, zaman Edo. Kuro Yuri adalah bibi buyutku.”
Lea menengadah memandang Eiji. “Jadi Anda akan mengatakan pada saya kalau saya adalah Reiki?”
“Ya. Dan kamu, adalah reinkarnasi dari Kuro Yuri, yang sebenarnya amat mustahil.”
“Mustahil kenapa?”
“Seorang Reiki, hanya terlahir sekali, dan tidak akan pernah bereinkarnasi.”
“Berarti—”
“Bila ia memilih kembali, itu karena sesuatu yang belum tuntas di kehidupannya terdahulu.”
“Apa?”
Eiji menarik napas perlahan, dan mengembuskannya tajam. “Sepertinya cukup untuk hari ini. Kita akan ketemu lagi, saat kamu memang benar telah meyakini bahwa kamu adalah apa yang aku sebutkan tadi. Dengan senang hati, aku akan menjelaskan padamu saat itu.” Ia menutupnya dengan senyum.
Lea kecewa, tapi tidak kuasa untuk menuntut Eiji terus bercerita. Ia, seperti perkiraan Eiji, memang belum sepenuhnya percaya atas semua hal yang ia katakan. Konyol dan absurd, menurutnya, karena hal semacam itu tidak akan pernah eksis di dunia, terutama tentang kekuatan tertentu yang hanya ada di film-film.
“Mata Shinji juga abu-abu…” gumamnya, selang beberapa waktu, dan Eiji telah kembali duduk di belakang meja kerjanya. Sudah memegang penanya, dan mulai menulis sesuatu di atas kertas-kertas di depannya.
“Dia bukan Reiki, kalau itu yang kamu kira,” kata Eiji, tanpa memandang.
“Lalu?”
Eiji terkekeh, seraya memindahkan kertas di depannya, ke tumpukan kertas lain di sudut meja. “Kita akan bicarakan lain waktu.” Ia tersenyum simpul pada Lea yang memberengut. “Kamu boleh kembali ke kamar sekarang.”
“Anda akan susah sekali ditemui lagi.”
“Kamu bisa percaya, kalau itu tidak akan terjadi lagi.”
Lea mengejapkan mata, sedangkan Eiji masih dengan bibirnya yang melengkung manis. Ada sesuatu yang Lea rasakan mengalir dari diri laki-laki itu; semacam energi teduh dan menentramkan. Membuat dirinya perlahan-lahan tenang.
“Baik,” ujar Lea, bangkit berdiri. “Saya…, pergi sekarang.”
“Ada baiknya kamu menemui Shinji,” kata Eiji. “Setidaknya agar ia tahu kalau kamu baik-baik saja.”
“Kenapa?” Lea mengangkat sebelah bahu.
“Ia berpikir aku menyiksamu di Black House.”
Lea mendengus tertahan. “Oke. Dan… semisal saya percaya semua yang Anda katakan hari ini…, apa saya boleh ketemu kakak saya, dan pulang  ke rumah?”
“Mina akan diperkenankan secara rutin berkunjung ke Black House,” sahut Eiji. “Agar kamu tidak perlu bersusah payah pergi keluar. Aku yakin, kamu akan merasa canggung, kalau pergi dengan kawalan lengkap kan?”
Lea hilang kata. Kalimat Eiji menyiratkan larangan halus yang diungkapkan dengan manis. Dan untuk itu, ia hanya bisa mengangkat bahu. Setuju dengan terpaksa.
“Dan Lea,” panggil Eij lagi, sebelum ia berpaling, “mulai hari ini, panggil aku Kakak. Aneh sekali kedengarannya kamu menyebutku ‘tuan’ padahal sekarang kamu tahu kalau aku adalah sepupu kamu.”
Untuk itu, Lea tidak tahu bagaimana harus merespon. Ia cuma mengangguk, dan segera berbalik. Tak bisa memikirkan kemungkinan apa yang akan terjadi, saat ia menyebut Eiji Kuroi dengan sebutan ‘kakak’ seperti yang dimintanya. Dan bahkan masih tak percaya kalau ia dan Eiji punya hubungan darah. Kakinya melangkah dengan cepat menuju pintu, membukanya buru-buru, keluar dari ruangan secepat mungkin.
“Lea.”
Suara itu membuat Lea tersentak kaget, sehingga membuatnya tanpa sengaja menutup pintu perpustakaan dengan keras. Saat ia berpaling, Juna di depannya, membawa mug stainless tertutup.
“Eiji sudah selesai bicara?” Ia bertanya.
“Ya,” jawab Lea, salah tingkah. Ingatan mengenai Juna beberapa saat sebelumnya, membuatnya merasa kikuk berhadapan dengannya sekarang. Dan kata “Aku mencintaimu” terngiang kembali di telinganya. Benarkah itu, kalau Juna mencintainya? Membayangkannya saja ia tidak berani. Tapi kemudian… Juna bersimbah darah…
“Lea?” Juna kembali memanggil. Nada suaranya cemas.
“Ya?”
“Kamu baik-baik aja kan?”
Lea mengangguk buru-buru. “Ya, tentu.” Dia menyeringai.
“Ini minuman untuk kamu. Sebaiknya kamu minum.” Juna menyodorkan mug di tangannya pada Lea. “Kamu akan lebih baik setelah minum itu.”
Lea mengucapkan terima kasih dan menerimanya. “Aku mau ke rumah Shinji. Eiji bilang, aku sebaiknya ketemu dia.”
“Boleh aku antar?”
Lea mengangguk. “Thanks."

Tapi baru beberapa langkah ia dan Juna berjalan, Dai muncul dan memberitahu Juna, kalau Eiji ingin menemui ia dan Juna di perpustakaan. Juna tampak kecewa, dan meminta maaf pada Lea, dan Lea, meskipun sama kecewanya, mengatakan kalau ia tidak apa-apa dan segera pergi ke bagian belakang Black House. Tidak lagi menoleh ke belakang.
(Bersambung)
gambar dari sini

2 comments:

Elsa Gamaria February 26, 2016 at 8:36 PM  

Please lanjutannya jangan lama2 ya kaaaakkk
Semakin seru, ngga sabar buat baca lagi :*
Semangat kaaaak

Indar Meilita March 17, 2016 at 9:05 AM  

@elsa: Terima kasih ya.... Demi kamu deh, aku tulis lagi. Hehheh

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP