The Adorables (9): Good bye. For now

>> Sunday, November 1, 2015

Baca: The Adorables (8)

Good bye. For now

Mereka tidak membiarkan Lea meninggalkan kamar di mana ia ditempatkan sejak Eiji mengatakan kalau Lea adalah salah satu dari keluarga Kuroi, dan untuk itu ia harus tinggal di Black House bersama yang lainnya tanpa repot-repot bertanya pada Lea perihal kesediaannya terlebih dulu, seakan saja dia memiliki hak untuk menentukan hidupnya.
Dan laki-laki itu memang sungguh-sungguh dengan perkataannya. Karena sejak hari itu, Lea tidak diperkenankan pulang ke rumah. Tak peduli dengan tangisannya, kemarahannya, tindakan gilanya dalam usahanya untuk dapat keluar dari ruangan berukuran 7x7 tersebut. Menempatkan penjaga di depan pintu kamar dan luar jendela kamar selama dua puluh empat jam penuh, yang bergantian menancapkan mata ke segala penjuru dan celah yang memungkinkan untuk dilalui olehnya.
Ponselnya di sita, membuatnya tak bisa menghubungi siapa pun. Tak terkecuali Mina, yang benar-benar sangat ingin ia beritahu. Lea tak bisa membayangkan bagaimana respon Mina dengan ketakberadaannya yang mendadak.
Dan anehnya, selama beberapa hari yang membingungkan itu, tak ada siapa pun yang datang ke dalam kamar untuk menjelaskan pada Lea apa yang terjadi sebenarnya. Dai, Malini, Juna atau pun Kenneth, tidak kelihatan batang hidungnya. Bahkan Arata, yang adalah orang terakhir yang ia lihat sore itu.
Selain pelayan yang membawakan makanannya pagi, siang, malam—itu pun berganti-ganti, tak ada satu pun sosok yang Lea kenal masuk ke dalam.
Frustasi, dan semua perasaan negatif yang memuramkan pikiran dan hati Lea terus merundungi. Ia bahkan tak tahu waktu. Lupa hari, lupa tanggal, lupa jam. Waktu yang dia tahu adalah saat pelayan memasuki kamarnya untuk mengantarkan sarapan, makan siang, dan makan malam. Sampai akhirnya, suatu hari, entah di hari keberapa, setelah pelayan membawakan makan siang ke dalam kamar, seseorang yang tak terduga menyambanginya. Mina, kakaknya, masuk begitu saja ke dalam kamar, tanpa perlawanan apa pun dengan penjaga di depan pintu; tanpa ada yang mengikutinya. Rautnya cemas, namun pembawaannya tenang. Senyumnya kaku, namun diupayakannya untuk tetap terlihat normal di hadapan Lea. Tapi ketika akhirnya ia memeluk Lea, kedua tangannya gemetar hebat. Merengkuh adiknya seerat mungkin, seolah tak ingin dilepaskannya lagi.
“Kamu baik-baik saja kan?” Mina menanyai Lea setelah pelukan mereka lepas. “Kamu kelihatan kurus.” Ia mengusap pipi Lea yang penuh air mata. “Kamu pasti nggak makan teratur.”
“Aku mau pulang, Kak,” sembur Lea segera. Terisak. “Bawa aku pulang.”
Mina tidak menyahut. Cuma memandang Lea dengan sedih. Satu tangannya terus menyentuh wajah Lea; mengusap rambutnya, turun ke bahunya, lengannya, seolah bingung hendak menempatkannya di mana.
Please. Bawa aku pulang,” Lea sesenggukan.
Mina kembali merengkuh Lea. Mengusap punggungnya untuk menenangkan. Dan selama beberapa menit yang terasa berjam-jam bagi Lea, cuma itu yang dilakukan Mina. Ia tak bersuara, tak bicara. Membiarkan kesenyapan yang misterius menyiksa Lea.
“Kak.” Lea menarik tubuhnya. Menatap Mina memohon. “Kenapa Kakak diam? Kakak mau bawa aku pulang kan? Please, bilang, kalau Kakak mau bawa aku pulang. Kalau Kakak udah ngomong sama mereka kalau Kakak mau bawa aku ke rumah. Kalau mereka… salah ngurung aku di sini.”
Tak ada kata. Mina memejamkan mata, dan bulir air langsung meluncur turun melewati pipinya. Ia menunduk, menyembunyikan wajahnya. Tersedak oleh tangis tertahan.
Putus asa, itu yang Lea rasakan begitu melihat reaksi Mina. Menebak, kalau Mina tidak akan mengeluarkannya dari rumah ini. Seseorang pasti telah mengintimidasinya, dan itu pasti Eiji. Atau mungkin Dai, atau siapa pun yang ditugaskan untuk mengancamnya untuk menuruti kemauan mereka.
“Kalau Kakak diancam,” Lea bicara dengan suara bergetar, “Kakak nggak perlu takut. Aku akan—”
“Nggak ada yang ancam Kakak,” sela Mina, menggelengkan kepala lemah. Mata hitamnya yang berair menatap Lea dengan kesedihan yang mendalam. “Lea,” ia menggenggam kedua tangan Lea erat. “Kamu harus tetap di sini.”
Lea melongo. Tidak percaya dengan pendengarannya. “Apa, Kak?”
“Kamu… harus tinggal di sini. rumah ini adalah tempat yang terbaik untuk kamu.”
Napas Lea memburu. Bagaimana mungkin Mina bisa mengatakan hal itu padanya? Kalau dia tidak bisa lagi tinggal bersamanya. Lea adalah adiknya. Sejak kecil mereka selalu bersama. Melalui suka-duka bersama. Dan sekarang…
“Kenapa Kakak bilang begini?” Lea menarik tangannya dari genggaman Mina. Menarik menjauh badannya.
“Lea…”
“Aku ini adik Kakak. Aku… Kenapa Kakak mendadak memperlakukanku seperti… seakan saja aku ini orang asing? Apa salahku?”
“Lea dengarkan dulu…”
“Seharusnya Kakak marah. Seharusnya Kakak langsung membawa aku pergi dari sini. Seharusnya Kakak ngamuk sama mereka karena telah mengurungku tanpa sebab. Tapi…” Lea membenamkan wajah ke kedua tangannya yang gemetar. Tak bisa berbicara lagi. Membiarkan tangis mengungkapkan perasaannya saat ini.
“Lea.” Mina berusaha menyentuh Lea lagi, namun Lea segera menghindar. Mendorong badannya ke belakang hingga punggungnya membentur bingkai tempat tidur. “Kamu harus dengar dulu penjelasan Kakak. Tolong.”
Lea menggeleng lemah. Mamberikan tatapan seolah jijik pada Mina.
“Lea…”
“Aku nggak mau dengar apa pun, kecuali Kakak bawa aku pulang,” tukas Lea. “Kalau bukan itu, aku nggak mau dengar.”
Ia membuang muka.
Hening sesaat. Tak ada suara apa pun yang terdengar. Seakan saja waktu terhenti, dan membiarkan Lea atau Mina menentukan kapan harus berjalan lagi.
Lea benar-benar terpukul. Ia marah, sedih, bingung, namun tetap mempertahankan harapan walaupun kecil, kalau Mina akan membawanya pulang dengan cara apa pun; kembali ke rumah, dan melanjutkan hidup mereka seperti biasa. Tapi, harapan kecil itu pun luruh ketika Mina memutuskan memecah kesunyian yang mengambang di antara mereka, dengan mengatakan kalau ia telah membawa semua pakaian dan barang-barang pribadi Lea ke Black House. Dan Lea bisa meminta seseorang untuk mengambil barang-barang lain yang mungkin masih belum terbawa.
“Kakak pulang dulu,” pungkasnya dengan suara bergetar. “Kakak sayang sama kamu.”
Lea menggigit keras bibir bawahnya. Menahan mati-matian air matanya agar tidak tumpah lagi. Berusaha keras untuk tetap tidak memandang Mina di hadapannya. Bersedekap, atau lebih tepatnya memaku keras jari-jarinya di masing-masing lengannya untuk menjaga dirinya tetap tegar.
Dirasakannya beban di atas kasur berkurang, disusul oleh suara derit halus, tanda kalau Mina telah beranjak dari tempat tidur. Suara sandalnya bergesekkan dengan permukaan lantai keramik yang ia lalui. Tak berapa lama kemudian mencapai pintu, diam beberapa saat di tempat, lalu menggapai gagang pintu dan memutarnya membuka.
Lea tak tahan. Gambaran ia tidak akan bertemu Mina lagi menaklukkan keras hatinya. Terbang dari tempat tidur menyusul Mina yang langsung merentangkan tangan untuk menyambut Lea ke pelukannya.
Kedua perempuan muda itu berpelukan, bertangisan. Mina mengusap rambut Lea, mengusap punggungnya, menciumnya penuh sayang.
“Kenapa begini, Kak?” isak Lea dalam suara parau. “Kenapa jadi begini?”
“Mereka akan jelasin sama kamu. Kamu harus dengar…”
“Aku nggak mau dengar apa pun…”
Mina mencengkeram bahu Lea dengan tak sabar. Kali ini menatapnya dengan tajam. “Dengar,” katanya keras. “Dengarkan mereka. Bagaimana pun, kamu harus mendengarnya, karena apa yang akan mereka katakan penting untuk kamu.”
“Tapi—”
“Kakak mohon, Lea. Please.”
“Apa aku akan ketemu Kakak lagi?”
Mina tersenyum lemah namun tulus. Ia menarik Lea ke pelukan, dan berbisik, “Apa pun yang terjadi, aku tetap kakak kamu. Nggak ada yang berubah. Sampai kapan pun. Kakak sayang sama kamu. Nggak ada siapa pun yang bisa merubah itu.”
Setelah itu, ia melepaskan pelukannya. Berbalik, membuka pintu dan keluar dari kamar. Meninggalkan Lea yang masih bimbang dengan semua kalimat yang barusan ia ucapkan dengan tulus dan cepat.
Apa maksudnya? Lea bertanya-tanya. Apa itu berarti ia tidak akan bertemu Mina lagi setelah ini?
Lea memutar gagang pintu cepat separo-panik, separo cemas. Hendak menyusul Mina keluar. Namun pintu telah terkunci; tidak bisa dibuka. Ia menggedor-gedornya. Memanggil nama kakaknya dengan keras berulang-ulang. Menangis keras, meraung-raung, sama seperti hari pertama ia disekap. Ia ingin Mina kembali. Ingin ia ada bersamanya. Tidak meninggalkannya sendirian. Tapi Mina tak kembali. Tidak membuka pintu itu lagi dan masuk ke dalam. Kakaknya telah meninggalkannya; membuangnya. Tanpa sebab yang pasti.
Kelelahan dan juga teramat sedih, Lea merosot ke lantai. Terpuruk di depan pintu. Matanya panas, hidungnya panas, kepalanya berdenyut-denyut. Ia merasakan ada sesuatu yang berat manggantungi ujung kelopak matanya. Ingin sekali menutup mata; mati sekalian. Tak tahu lagi, bagaimana harus hidup.
Ia menelungkup. Membiarkan pipinya bertemu dingin lantai yang menusuk. Pandangannya nanar; kabur. Fokus pada kaki meja kecil tak berapa jauh di hadapannya yang mengantarkan ratusan ingatan yang tumpang-tindih di benaknya. Entah ingatan apa.
Ia tak peduli lagi. Tak mau tahu. Cuma ingin mengosongkan kepalanya. Bahkan saat pintu membuka dan membentur pucuk kepalanya ia tak peduli. Ia sudah pasrah. Lelah. Ingin tidur. Pingsan atau apa pun, dan tak lagi membuka mata dalam waktu lama.
Lea…”
Suara itu… Ia tahu suara itu. Tapi, ia tidak menghiraukannya. Semua sama saja. Cuma ingin menyakitinya.
Lea…”
Pergilah, Lea menggumam dalam hati. Tolong. Pergilah.
Tapi orang itu tak mau pergi. Malah menyentuhnya, merengkuhnya, kemudian mengangkatnya dari lantai. Membawanya pergi. Membaringkannya di atas tempat tidur. Terserahlah.
“Lea…”
Mata Lea mengejap lemah. Butiran bening masih menyelinap keluar dari matanya yang perih. Di hadapannya wajah Juna terlihat bagai siluet yang terdistorsi. Meskipun begitu, ia tetap tampan. Sangat tampan.
“Minum dulu.” Juna mendekatkan sesuatu yang seperti gelas dengan bau lavender yang langsung merebak penciuman Lea. Memaksanya meminumnya dengan lemah.
Setelah beberapa sesap, ia meletakkan gelas tersebut di meja samping tempat tidur, dan membiarkan Lea mengistirahatkan kepalanya kembali.
It’s ok,” kata Juna pelan, mengusap air di pipi Lea. “Semua akan membaik. Istirahatlah sekarang.”
“Chef… mau pergi juga?” tanya Lea terbata. Memelas.
“Nggak. I’ll stay.”
Setelah itu Lea menangis. Sepuasnya. Sesukanya. Tak peduli apa pikiran Juna tentangnya setelah itu. Biar saja. Dia punya hak untuk bersedih. Tidak seorang pun bisa melarangnya menunjukkan bagaimana hancurnya perasaannya. Dan Juna, benar-benar dengan janjinya. Ia tinggal. Menemani Lea melewati waktu; detik demi detik, menit demi menit, sampai akhirnya lelah menghantamnya, dan membuatnya tertidur.

(Bersambung)

5 comments:

ve_anne November 2, 2015 at 11:23 AM  

wow..it's still awsome kak..always love ur story..tapi saat itu loh..yang memegang tangan itu..aku mah jadi inget sama honey ku..maaf..hahahahahahaaa..always mised ur story..n ditunggu nanti saat "JUNA" jadi pilot jet..bukan cuma bawa heli..*itu mah gampang..upz..hahahahahahahahhaa..
betewe..thanks to write it kak..it's fun..n make me fresh..

Ussy Abrian November 4, 2015 at 11:33 PM  

Ya tuhan mba.. aku dibuat nangis nih malem2..
Mreka mu pergi kmna sih mba? Penasarran bgt... cepetan lanjutin mbaaaaaa😉😉😉

Lita November 5, 2015 at 1:06 PM  

@ve_anee: makasih juga udah baca, ya Ve... *peluk erat*
@ussy: Hehehe... Mudah2an cepet selesai yang 10... Sabar ya, Si. And Thank you so much

sarie December 17, 2015 at 10:12 AM  

waduuh mba ini mah bikin penasaran ..... ^_^

Anonymous,  December 21, 2015 at 1:55 PM  

I'm curious with the next story....u quite busy this time or no idea 4while? Come on Lita....I know u have good talent. Keep writing

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP