The Adorables (8): Black Lily

>> Sunday, September 27, 2015

Baca: The Adorables (7)

Black Lily


LIMA orang laki-laki duduk di atas lantai. Laki-laki tua, dengan rambut putih yang telah menipis di kepala. Mereka mengenakan kimono hitam polos, dan membungkuk serendah-rendahnya dengan penuh hormat. Di belakang mereka dua orang berbadan besar mengenakan baju zirah Jepang berdiri, dengan tangan siap di atas gagang samurainya, seakan waspada akan sesuatu yang sewaktu-waktu akan menyerang.
Siapa mereka, apa yang mereka lakukan, Lea jelas tak tahu. Dan dimana kejadian itu bertempat, jelas bukan di Black House. Namun, apa yang ia lihat begitu jelas, sampai-sampai ia bisa mengingat wajah lima pria tua itu serta detail ruangan dimana mereka berada. Dan salah satu dari mereka, yang rambut putihnya jauh lebih tebal daripada yang lain, Lea merasa pernah melihatnya di suatu tempat. Tapi ia lupa di mana. Kenapa bisa begitu? Kenapa, semua gambaran itu muncul begitu ia menyentuh tangan Shinji. Ini pertama kalinya. Dia tidak pernah mengalami hal seperti itu sebelumnya. Dan Shinji…, sepertinya tidak menganggap itu sebagai sesuatu yang aneh. Dia memang kelihatan kaget, tapi… tidak sekaget Lea.
Rasanya sudah lama sejak Shinji kembali ke ruang tengah dengan harum sabun dan rambut basahnya. Dan sejauh ini, setelah entah berapa jam kemudian, Lea cuma duduk di bangku taman belakang dengan majalah Home and Deco yang membuka di kedua paha, sedangkan Shinji melanjutkan lukisan perempuan yang sebelumnya ada di atas easel[1] dekat meja bundar di depan jendela besar di seberang ruang tengah dengan penuh konsentrasi. Sehingga membuat Lea sungkan menanyakan perihal kejadian beberapa waktu sebelumnya.
Tak ada pembicaraan lanjutan. Entah Shinji lupa, atau ia memang tak mau membahasnya. Mengenyakkan dirinya di bangku lipat yang ia bawa dari dalam rumah, membelakangi Lea. Sibuk menyapukan warna-warna muram di permukaan kanvas. Ekspresi mukanya masam, rahangnya mengeras. Tak mungkin Lea mengganggunya.
Suara langkah ditemani roda yang bergerak di lantai, mengalihkan Lea dari Shinji yang sedang mengerutkan wajah untuk berpikir. Dua orang perempuan, satu mendorong troli berisi makanan dan satunya lagi membawa nampan kayu bundar berisi mug stainless tertutup persis yang dibawakan Juna pagi tadi, muncul dari pintu, dan menyusur teras belakang.
Bukan cuma mereka berdua, ada beberapa orang lagi. Salah satunya Dai, kemudian Malini, lalu seorang laki-laki lagi yang tidak pernah Lea lihat sebelumnya.
Lea kecewa, Juna tak ada bersama mereka.
Ketiganya kini menuruni undakan, dan Lea langsung berdiri. Meletakkan majalah Home & Deco di alas bangku kayu, sembari mengerling Shinji, yang sama sekali tidak menoleh ke arah tamu-tamunya. Entah ia memang tidak tahu, atau sengaja mengacuhkan.
“Lea. Ini Eiji Kuroi.” Dai segera memperkenalkan Lea dengan laki-laki asing tersebut begitu mereka sampai di hadapan Lea. “Dia adalah penanggungjawab perusahaan Kuroi. Kakak sepupu Shinji.”
Lea mengangguk sopan; kikuk tapi berusaha untuk tetap tenang. Namun segera saja goyah begitu Eiji balas mengangguk, dan mengembangkan senyum simpulnya yang amat menawan. Dan saat kedua matanya bertubrukan dengan mata redupnya, seolah saja ada ribuan pisau yang menusuk ulu hatinya.
Eiji Kuroi, berbeda dengan Shinji, kulitnya jauh lebih terang, layaknya orang Asia Timur. Sementara Shinji agak kecoklatan. Sama jangkung, namun terlihat lebih kokoh. Seperti Dai, ia berpenampilan elegan dengan setelan jas mahal dan sepatu mengilapnya. Rambutnya pendek, tertata rapi.
 “Guré no me,”—mata abu-abu, Eiji berkomentar, mengamati kedua mata Lea. Dan Lea cuma bisa mengejap-ngejap karena tidak tahu apa yang ia katakan.
Kemudian Eiji mendekat, dan semakin dekat sampai akhirnya berdiri di depan Lea. Tangannya terangkat, menyentuh dagu Lea, dan menaikkannya perlahan. “Apa kamu pakai lensa?”
Lea tidak bisa menemukan kata untuk menjawab pertanyaanya, seolah saja itu adalah pertanyaan paling sulit yang pernah ia dengar. Mendadak saja, Eiji menarik tangannya. Mundur beberapa langkah, dengan dahi mengerut. Lagi, kelebatan muncul di kepala Lea. Kali ini agak kabur; tidak jelas. Pemicunya? Mungkinkah karena Eiji menyentuhnya? Ada apa sebenarnya?
Lea menunduk, tidak berani menatap mata Eiji. Kedua tangannya mengepal-ngepal, mengatasi kegugupannya.
“Malini.”
“Ya, Eiji Sama?”
“Bisa temani Lea ke dalam? Aku dan Dai akan bicara dengan Shinji.”
“Tidak perlu usir Yuujin-ku kalau mau bicara padaku,” Shinji berseru lantang dari tempatnya berdiri.
Semua sekarang terpaku ke punggung lurus Shinji. Memandang Shinji yang masih sibuk dengan lukisannya. Tidak menoleh.  
“Kalian mempekerjakannya untuk melayaniku. Dan sekarang kalian menyuruhnya pergi hanya karena kalian ingin bicara denganku.”
Shinji berpaling. Melempar pandang ke arah Eiji, dengan kuas dan palet di masing-masing tangan.
“Malini,” Eiji memanggil lagi.
“Ayo, Lea,” ajak Malini segera, yang segera dipatuhi oleh Lea.
“Lea! Tetap di sana,” teriak Shinji, mengurungkan niat Lea untuk melangkah. “Kalau kalian ingin bicara, bicara di depannya.”
Shinji meletakkan palet dan kuas, menyeka tangannya yang belepotan cat di ujung kaus lusuh yang ia kenakan. Setelah itu berjalan santai mendekat.
Lea memandang Malini. Memberikan tatapan seolah minta saran apa yang seharusnya ia lakukan pada situasi seperti sekarang. Namun Malini sepertinya juga bingung, cuma tersenyum meringis yang kentara sekali bimbang.
Ani wa watashi o shiraberu tame ni, koko ni kimashita no?”—Kakak datang kemari, untuk mengecekku?, Shinji bicara pada Eiji, dalam bahasa Jepang.
“Bukan hanya mengecek, tapi juga memastikan kalau kamu baik-baik saja,” balas Eiji, ditemani senyum simpul yang tenang.
Shinji mendengus sinis. “Memastikan kalau aku tidak kabur?”
Meskipun tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, tapi Lea merasakan ketegangan yang nyata berputar-putar mengelilingi mereka. Ia dapat menerkanya dari ekspresi wajah Malini dan juga Dai yang terlihat tidak nyaman dengan pembicaraan keduanya.
Lea benar-benar ingin pergi dari sini. Berharap Shinji mengijinkannya pergi.
“Lea,” panggil Eiji. “Bisa kamu ambilkan ramuan yang disiapkan Juna untuk Shinji? Melihat dia seperti ini sudah jelas dia tidak minum ramuannya pagi ini.”
Lea mengangguk ragu. Tidak menjawab, tapi langsung menggerakkan kaki pergi. Tapi sekali lagi terhenti. Tangan Shinji menyambar lengannya dan menariknya ke belakang, sehingga posisinya sekarang berada di belakangnya.
Watashi wa futatabi sore o nomu hitsuyō wa arimasen!”—Aku nggak perlu minum itu lagi, tukas Shinji. “Ramuan itu… tidak baik untukku. Aku baru menyadarinya setahun ini. Apa yang ingin kalian lakukan padaku sebenarnya?”—(Sekali lagi, gambar-gambar berkelebat di mata Lea. Membuatnya mual. Amat mual. Tangan Shinji yang masih menjepit kulit lengannya mengantarkan getaran panas yang tak terjelaskan. Lagi-lagi ruangan itu muncul, dengan lima orang pria tua, dua Shogun, dan…)—“Kalian mengurungku di sini…, agar aku tidak tahu apa yang terjadi di luar sana. Agar aku tidak tahu siapa diriku sebenarnya?!”
Lea melihat dua keranjang. Keranjang anyaman. Isinya dua bayi. Lalu seorang laki-laki berkimono putih dan seorang perempuan paruh baya yang amat cantik dengan rambut panjang hitam menyentuh lantai. Ada tungku api. Dan besi panas.  Salah satu dari mereka mengangkat besi panas itu dari tungku. Si wanita mengangkat salah satu bayi. Menggendongnya dengan posisi menelungkup. Lalu…
Lea berteriak tiba-tiba. Bahu belakangnya mendadak saja perih luar biasa. Ia kesakitan, menepuk-nepuk bahunya untuk meredakan rasa panas yang menyengatnya. Membuatnya seolah ingin mati. Ia meronta-ronta, ingin melepaskan diri dari rengkuhan perempuan cantik itu. Lalu ada bisikan yang ia dengar di telinganya, mengatakan sesuatu yang asing, namun ia mengerti. Bagaikan untaian lagu yang menenangkan. “Futatabi jikan no. Sore ga ima no yō ni utsukushīdesu. Haiiro no me de, koreha ao ni henkō sa remasu. Watashi no utsukushī akachan wa, jikan no yogen-sha. Kuroyuri Hime.”Kembalilah lagi pada saatnya. Tetap cantik seperti sekarang. Dengan mata abu-abu yang akan berganti biru. Bayi cantikku, Sang Pelihat waktu. Putri Kuroyuri.

Ada pemandangan yang menyenangkan ketika akhirnya Lea membuka mata entah berapa lama kemudian. Juna ada di depannya, tersenyum menenangkan. Ia bergumam, “Hei,” pendek saat Lea mengejap-ngejapkan matanya yang silau oleh cahaya lampu di atas, dan memberikan usapan lembut di rambutnya.
Are you ok?” tanya Juna setelah mata Lea membuka sepenuhnya.
“Aku di mana?”
“Kamar tamu.”
“Kenapa aku di sini?”
“Kamu pingsan.” Kemudian Juna mendengus tertawa. “Kedua kalinya.”
Ya, kedua kalinya ia pingsan di Black House, dan lagi-lagi Juna yang pertama ia temukan saat ia tersadar. Dan alasannya, sama-sama tak terjelaskan. Konyol malah. Dan sekarang, ia bahkan tak tahu kalau ia pingsan.
“Shinji?” Lea berusaha menegakkan badan. Juna segera membantunya. Meletakkan bantal di belakang punggungnya.
“Dia… nggak usah kamu pikir. Kamu sendiri gimana? Pusing? Atau…”
“Pusing sedikit. Tapi… oke.”
“Hm. Kalau begitu…” Juna merentangkan tangan, meraih gelas berisi cairan berwarna hijau transparan yang baunya seperti jahe. “Minum ini. Kamu akan baikan.”
Lea memerhatikan gelas di tangan Juna. Teringat Shinji, yang menentang keras untuk minum ramuan yang Juna buat. Dan sekarang dia menyodorkan sebuah minuman asing padanya. Apa dia harus meminumnya?
“Tenang saja, ini cuma jasmine tea,” beritahu Juna, seolah tahu isi benak Lea.
“Sori, aku—”
“Takut?”
Lea menggelengkan kepala buru-buru. “Bukan itu. Aku… bingung.”
“Minum dulu.” Juna menyodorkan lagi gelas berisi Jasmine Tea pada Lea. “Setelah itu baru bicara.”
Lea nyengir. Menerima gelas tersebut, dan pelan-pelan mendekatkannya ke bibirnya. Menyesapnya sedikit, kemudian merasakan hangat segera mengaliri kerongkongan dan ulu hatinya. Membuatnya rileks.
Hangat dari teh jasmine tersebut seakan menyapu seluruh beban yang ia bawa di tubuhnya dan menjadikannya ringan. Dadanya terasa lapang, dan paru-parunya terasa bebas menghirup oksigen sebanyak yang ia mau. Wow!
“Kamu suka?” tanya Juna di sela kekehnya, melihat Lea meneguk habis cairan di gelasnya.
“Sangat. Enak sekali dan… Aku pernah minum teh jasmine, tapi rasanya nggak kaya yang Chef buat. Teh jasmine buatan Chef… ” Lea bahkan tak bisa menjelaskannya dengan kata-kata.
“Teh Jasmine ini spesial.” Juna mengambil gelas kosong di tangan Lea dan meletakkannya kembali ke atas meja kecil di sebelah tempat tidur. “Ada bahan tambahan yang aku sisipkan.”
Lea membulatkan mata. Menelan ludah susah payah.
“Kamu tahu herbal kan? Aku mempelajarinya beberapa tahun lalu di Jepang. Aku punya sertifikat, jadi kamu nggak perlu khawatir aku masukkan tanaman semacam Water Hemlock [2] ke dalamnya.”
“Chef nggak akan melakukan hal semacam itu,” timpal Lea. “Tapi… kalau boleh aku tahu, ramuan apa yang Chef buat untuk Shinji? Yang Chef bilang harus rutin ia minum?”
“Itu… Kamu tidak diperkenankan untuk tahu. Ada beberapa hal yang tidak perlu dikatakan di sini, Lea. Salah satunya itu,” ujar Juna. Menolak halus untuk memberitahu.
Lea tersenyum. Paham.
“Ngomong-ngomong, jam berapa sekarang?” ia bertanya. Celingukan mencari jam dinding di sekeliling kamar.
“Sudah hampir jam lima.”
“Aku pingsan selama itu?”
“Itu kenyataannya.”
“Dan nggak ada yang berusaha membangunkan aku?”
“Kamu kelihatan capek.”
“Dai nggak marah?”
“Kenapa dia harus marah?”
“Tuan Eiji?”
Juna tergelak. “Siapa pun yang kamu tanyakan setelahnya, mereka nggak punya alasan untuk marah sama kamu. Kamu pingsan, dan mereka khawatir.”
“Aku ngerepotin ya?”
“Oh, God. Semua baik-baik saja, Lea. Pertanyaannya, apa kamu baik-baik saja?”
Lea berpikir sebelum menjawab. Ia tidak merasa mual seperti sebelumnya. Ia cuma bingung, tapi itu pun sudah tak terlalu karena pengaruh teh jasmine yang Juna berikan. Jadi kesimpulannya ia baik-baik saja.
“Aku… baik-baik saja,” kata Lea. “Sudah mau jam lima, apa aku boleh siap-siap pulang?”
Juna duduk tegak. Mengamati wajah Lea selama beberapa saat. Lalu, setelah mengembuskan napas perlahan, ia berkata, “Tunggu sebentar, aku mau panggil Malini.”
Dia bangkit, dan meninggalkan kamar.
Sudah redup di luar. Tak ada lagi cahaya matahari yang masuk melalui celah gorden jendela. Senja mulai datang, malam mendekat. Siang telah berlalu, yang menandakan bahwa Lea tak sadar berjam-jam hari ini.
Kilasan kenangan yang tak ia kenali saat Shinji menyentuhnya adalah penyebabnya. Begitu muram dan menyakitkan. Seakan saja ia ada di sana dan mengalaminya sendiri.
Perlahan ia menurunkan kedua kakinya dari tempat tidur. Mencoba berdiri dan berjalan ke arah meja rias di sebelah kanan. Dilihatnya wajahnya yang lelah balas menatap dari balik cermin. Rambut ikalnya awut-awutan, dan pakaiannya lecak. Kacau sekali.
Kemudian ia teringat bahunya. Bahunya yang terasa sakit, oleh panas yang luar biasa ketika laki-laki berkimono di dalam ingatannya menekankan besi membara ke bahu bayi yang digendong si perempuan cantik. Kenapa bisa begitu? Ada apa dengannya hari ini? Pada siapa ia harus bertanya? Dan, apa ada yang akan memercayainya?
Malini masuk sejenak kemudian. Wajahnya muram, seakan prihatin. Ia langsung menggenggam kedua tangan Lea begitu ia ada di hadapannya.
“Kamu baik-baik saja?”
Lea mengangguk. “Kalau boleh aku mau pulang.”
“Tentu,” senyumnya. “Tapi… sebelumnya, boleh aku minta kamu melakukan sesuatu?”
Alis Lea berkerenyit. “Tentu. Apa itu?”
“Bisa aku lihat bahu kamu?”
Kali ini dahi Lea berkerut. Merasa aneh dengan permintaan Malini. “Untuk apa?”
“Kamu kelihatan kesakitan tadi, sebelum pingsan. Kamu… pegang bahu kamu dan…” Sepertinya Malini pun kesulitan untuk menjawab pertanyaan Lea. Menggantikan kalimatnya dengan helaan napas panjang. “Intinya…, aku mau memastikan kalau kamu nggak kenapa-kenapa.”
“Baiklah kalau begitu.” Lea tersenyum.
“Duduklah,” pinta Malini. Menunjuk bangku bulat di depan meja rias.
Aneh sekali, batin Lea. Tapi ia menurut. Duduk di bangku tersebut, membelakangi cermin.
Kemudian Malini mendekat, dan mulai melepas kancing kemejanya. Perasaan risih mulai muncul di benak Lea. Merasa tak nyaman, karena sebelumnya, tidak ada yang pernah menyentuhnya sepribadi itu. Dan saat ia perlahan menurunkan kemejanya, Lea merasa kalau wajahnya sudah merah karena terbakar malu. Oh, cepatlah, gumamnya dalam hati.  
 Sekarang kemejanya telah turun sebatas tulang punggungnya, dan Malini memandangnya melalui cermin di belakang Lea. Ia tercenung, semacam takjub. Lea merasakan jemarinya menyentuh bahu belakangnya yang sebelah kanan.
“Ini tato, Lea?” Ia bertanya.
“Oh. Itu… sudah ada sejak lahir.” Lea memandang tanda lahirnya yang berbentuk aneh melalui pundaknya. “Jelek memang, tapi yah… mau bagaimana lagi?” Ia nyengir pada Malini, yang ganti memandangnya dengan kening dikerutkan.
“Kamu tahu bentuk apa itu?”
“Nggak tahu. Lagian…, nggak ada bentuknya sama sekali kan? Tanda lahir… nggak pernah berbentuk sesuatu yang khusus. Ya kan?”
Malini tidak menjawab. Ia memandang Lea dengan senyum penuh damba, campuran antara rasa senang dan sedih yang bersamaan. “Kamu tunggu dulu, aku akan panggil Eiji ke sini. Tidak perlu naikkan kemeja kamu dulu,” cegahnya segera saat Lea berupaya menaikkan kemejanya. “Biar dia melihatnya.”
“Tapi—”
Malini berbalik, tak menghiraukan Lea. Ia menghilang di balik pintu, yang ia biarkan sedikit terbuka, dan kembali beberapa menit kemudian bersama Eiji Kuroi. Air muka keduanya benar-benar membuat Lea bertanya-tanya. Kelihatan cemas, tapi juga terlihat bersemangat.
“Bagaimana?” Malini menanyai Eiji, setelah ia selesai mengamati tanda lahir Lea. “Itu… tidak benar kan?”
Eiji tidak langsung menjawab. Ia menaikkan kemeja Lea, dan merapatkannya agar menutupi dadanya. Menatap mata Lea dengan tatapan amat lembut, dan mata yang kelihatan berkaca-kaca.
“Kita menemukannya,” katanya kemudian. “Dan dia kembali sendiri, tanpa harus dicari.”
Malini tampak syok, sedangkan Lea cuma bisa bengong. Ia tak mengerti sama sekali apa yang mereka bicarakan, namun tak berani bertanya.
“Kamu tahu apa bentuk tanda lahir di bahu kanan kamu, Lea?” tanya Eiji.
Lea menggeleng.
“Lili hitam. Kuro Yuri, dalam bahasa Jepang.”
“Dan…”
“Itu berarti, tempat kamu di sini; di rumah ini. Bersama kami. Klan Kuroi.”
Dibilang syok, tidak. Lea lebih merasa kalau Eiji sedang mencandainya dengan mengatakan kalau ia adalah salah satu dari keluarga Kuroi, seperti halnya Shinji. Ia terkekeh kikuk, seraya memandang Eiji dan Malini bergantian, seakan minta konfirmasi dari salah satunya kalau ini semua lelucon.
“Mulai hari ini,” Eiji kembali bicara, “kamu tinggal di sini.”
“Tapi—”
Eiji berpaling, dan pergi. Kalimat terakhirnya adalah final, dan menegaskan kalau ia serius dan tak ada lelucon yang sedang ia mainkan. Lea menoleh pada Malini, yang terpaku di tempatnya. Dari sikap tubuhnya, sepertinya ia pun tak percaya pada apa yang baru ia ketahui. Kalau Lea, adalah salah satu dari keluarga Kuroi yang harus ia layani.
“Malini, katakan padaku, kalau… ini semua bohong kan?” pinta Lea penuh harap. “Kalian cuma sedang mengerjai aku atau… semacamnya… kan?”
“Lea Sama.” Malini membungkuk hormat di hadapan Lea. “Mulai hari ini saya melayani Nona.”
Mata Lea seketika membundar. Napasnya memburu. Sikap penuh hormat Malini membuatnya tersadar kalau ini benar-benar bukan lelucon. Fakta yang tiba-tiba, dan menyambanginya dalam waktu hanya tiga hari setelah ia menginjakkan kaki di Black House.
Tapi…
“Aku mau pulang.”
“Maaf, Nona Lea. Anda tidak bisa. Anda dengar Tuan Eiji tadi, Anda akan tinggal di rumah ini.”
“Aku punya rumah, Malini. Dan kamu tahu itu. Jangan bersikap seperti ini padaku, aku bukan apa yang Tuan Eiji bilang tadi. Aku punya keluarga sendiri. Aku punya kakak yang menunggu di rumah.”
Lea gemetaran sekarang. Ia teringat Mina. Membayangkan kecemasannya kalau ia tidak pulang hari ini. Dia tidak bisa. Dia mau pulang. Mendadak saja ia rindu pada kakaknya. Dan juga Renan, sahabatnya.
“Aku harus pulang.” Lea cepat-cepat mengancingkan kemejanya sambil berdiri.
Malini bergeming. Menoleh sejenak, untuk memanggil seseorang di luar—Lea tak mendengar siapa yang dipanggilnya. Dan tetap berdiri dengan kedua tangan tertangkup di antara pahanya. Saat Lea menggerakkan kaki, Arata masuk. Ia menengok ke arah Malini, yang kemudian mengangguk seakan menyetujui sesuatu. Baru setelah itu ia mendekati Lea.
“Arata, tolong. Aku mau pulang. Antar aku ke rumahku,” pinta Lea, yang mulai banjir air mata.
“Maafkan saya, Nona Lea,” ujar Arata tulus. Mengangkat tangannya kemudian, dan menyentuhkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke bagian bawah telinga Lea.
Setelah itu gelap.



[1] Kayu penyangga dengan tiga kaki untuk  menyangga sesuatu biasanya untuk kanvas lukis
[2] Tanaman beracun dengan bunga kecil berwarna putih yang banyak dijumpai di Amerika Utara. Mengandung Racun cicutoxin yang terdapat di seluruh bagian bunganya. Mengakibatkan kram, muntah-muntah, gemetar dan akhirnya gagal jantung.

(Bersambung)

pic from here

2 comments:

mell cemell,  September 29, 2015 at 2:43 PM  

mb lita ...
ga ada keinginan untuk masukin cerita" mb ini ke wattpad tah ?
pasti dehh ..cerita mb nih langsung diserbu sama pembaca setia wattpad

Mrs. Don October 1, 2015 at 10:57 PM  

Wah aku juga mau nanya itu sama mbak lita... Hehehe pasti pembacanya banyak, aku salah satunya.. Hehehe

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP