Juna & Lea (1)

>> Sunday, September 20, 2015

Step 1


RAMBUT coklat kemerahan itu, dengan sulur-sulurnya yang memanjang sampai ke perut, terjuntai di dada dan punggungnya. Ingin ia gelung, jalin atau kuncir, namun sia-sia saja, karena pada akhirnya helai-helai halus itu akan kembali terjurai bebas. Ia suka rambutnya. Bangga akan mahkotanya, sama seperti kebanyakan perempuan. Dan sekali pun tak pernah ia rubah dengan gaya apa pun. Cuma begitu-begitu saja, karena ia tahu, ia terlihat cantik dengan rambut ikalnya yang tak beraturan. Paham, orang-orang—laki-laki terutama—selalu melempar pandang penasaran padanya hanya dengan melihat rambutnya. She feels sexy with that hair. And she is.
Sekarang rambut itu basah. Habis ia cuci dengan sampo. Harumnya memenuhi ruang apartemen, dan ia suka. Tidak perlu menyalakan dupa aroma terapi hanya untuk membuatnya rileks. Bau lavender yang masih menempel di kepala cukup membuatnya tenang untuk menyelesaikan lukisan terakhirnya yang akan ia tampilkan di pameran minggu depan. Lukisan seorang perempuan, berbaju kuning cerah yang berlatar belakang senja di bukit. Lukisan yang sudah lama sekali ingin ia selesaikan, setelah lima tahun lamanya ia biarkan begitu saja di dalam studio tanpa tahu nasibnya.
Sekali lagi ia menaikkan ujung kerah kaus longgarnya yang jatuh dari bahunya. Mengekspos kulit kuning mulusnya yang mengilap. Tetap berkonsentrasi menorehkan gurat kuning di bagian atas kanvas.  
Lea. Cuma mau ngingatkan sekali lagi…” Suara Kenneth terdengar setelah nada ‘bip’ mesin penjawab telepon di kamarnya. Nadanya cemas. “lukisan terakhir sudah harus dicek kurator nggak lebih dari jam sepuluh pagi besok. Aku tahu kamu lagi sibuk dengan pernikahan ayah kamu, tapi please…, sempatkan untuk selesaikan. We’re depending on you.
Ia bergeming. Kuas di tangannya membeku beberapa inci dari kanvas. Ujung kerah kausnya yang kembali melorot tidak dipedulikannya. Kata ‘pernikahan ayah kamu’ yang ditangkap telinganya barusan membuat konsentrasinya seketika buyar. Kepalanya panas, dan dadanya seketika sesak. Gelombang amarah seolah menggulung badannya sekarang menjadi bola api murka yang siap melalap siapa saja.
Hari ini pernikahan ayahnya. Dan ia berada di sini, di kamarnya. Melukis. Satu-satunya hal yang selalu ia lakukan ketika ia ingin bersembunyi sejenak dari rasa gundah yang memburunya. Yang mencegahnya melakukan tindakan konyol yang dapat merugikan dirinya sendiri. Yang membuatnya larut, dan meninggalkan dunia di luar sana selama beberapa waktu saat ia inginkan. Seperti hari ini. Hari pernikahan ayahnya dengan istrinya yang baru. Perempuan paruh baya bernama Sasha, yang mendadak saja datang ke sisi ayahnya, dan bersikap seolah ia adalah pengganti ibunya yang telah meninggal. Ia, yang katanya adalah cinta pertama ayahnya sebelum akhirnya bertemu ibunya.
Tidak dipungkiri, ayahnya dan Sasha telah kembali berhubungan sepeninggal ibunya. Atau mungkin sebelum ia meninggal. Apa pun itu, Lea tidak akan pernah menerima perempuan itu sebagai bagian dari rumah ini. Apalagi menganggapnya sebagai ibu. Oh, tidak akan pernah. Ia benci perempuan itu. Ia benci suaranya. Benci semua sentuhan lembutnya. Ia benci apa pun yang ada padanya. Semua yang ia bawa ke rumah ini.
Suara ketukan di pintu menyentaknya sehingga kuas yang ia cengkeram terlepas dari jari-jemarinya dan meluncur ke lantai. Lea menoleh, dan melihat kepala melongok dari pintu.
Dia, gumam Lea dalam hati. Mau ngapain dia kemari?
Lea melengos, membungkuk untuk mengambil kuas di lantai, setelah itu kembali ke kanvasnya. Melanjutkan pekerjaannya. Dibiarkannya bahunya tak tertutup. Membiarkan kerah kausnya jatuh sebatas siku.
“Lea.” Suara laki-laki itu terdengar. Memecah ruangan kamarnya yang hening sempurna. Suara hak sepatunya yang menyentuh lantai membuat fokus Lea berantakan.
“Ada apa?” tanya Lea tanpa menengok. Dagunya terangkat, dalam upaya menunjukkan kekuatan pendiriannya di hadapan laki-laki yang dibencinya itu. Ia tetap menotolkan kuas ke kanvas, kendati ia tak tahu untuk apa ia melakukannya.
“Semua orang sudah kumpul di halaman belakang.”
“Hubungannya denganku?”
“Ayah kamu dan mamaku menikah hari ini—”
So?
“Kami mau kamu ada bersama kami—”
Lea mendengus sinis, membuat kalimat laki-laki itu segera terputus. “ ‘Kami’. Berarti aku orang luar kalau begitu?”
Ia menolehkan kepala ke belakang. Melihat sosok laki-laki di belakangnya yang mengenakan setelan hitam yang elegan.
“Aku nggak bilang begitu,” sanggahnya. “Don’t be so negative. Aku kemari, untuk jemput kamu. Turun ke bawah dan merayakan—”
“Nggak ada yang perlu aku rayakan.” Lea meletakkan palet cat dan kuas di atas meja kayu di dekatnya. Kemudian ia memutar badan menghadap laki-laki tersebut, dan baru menyadari kalau ia jangkung.
Ia tidak pernah berhadapan langsung dengannya sejak kedatangannya ke rumah ini. Selalu menghindar berpapasan dengannya, dan enggan untuk mendengar apa pun tentangnya apa lagi membicarakannya. Yang ia tahu, ia adalah anak dari Sasha. Yang baru kembali dari Amerika setahun ini. Berprofesi sebagai Chef di salah satu restoran ternama. Ngetop karena acara reality show-nya. Dan punya banyak fans karenanya.
Entah apa yang membuatnya digilai banyak fans perempuan. Cakep saja nggak. Wajahnya angkuh, suaranya terkesan sombong. Penampilannya biasa saja. Mamanya memanggilnya Juna. Semua orang memanggilnya Juna. Cuma Lea yang selalu menyebutnya dengan nama sebenarnya; Junior. Ya, dia Junior di rumah ini. Jadi sudah seharusnya dia tidak sok dengan popularitasnya di luar sana.
“Memang apa yang harus aku rayakan?” Lea menanyainya. Bersedekap.
“Tolong, Lea.” Juna memasukkan satu tangannya ke saku celana. “Untuk hari ini saja, aku mohon, mewakili ayah dan mama, kamu bergabung untuk merayakan pernikahan orang tua kita.”
“Dia bukan ibuku. Dan… ayahku, nggak pernah minta ijinku untuk nikah lagi. Jadi…, pada dasarnya…, aku nggak tahu apa pun soal pernikahan mereka. Aku nggak pernah setuju, dan menerima siapa pun untuk jadi ibu tiriku. Jadi nggak ada alasan aku turun dan merayakan pesta pernikahan itu.”
“Semua orang nanyain kamu.”
Lea tersenyum sinis, setelah itu berbalik. Menggerakkan kakinya mendekati tempat tidurnya yang masih acak-acakkan.
“Semua orang…” Kalimat Juna terpotong oleh napasnya yang tercekat. “Aku mohon.” Ia benar-benar memelas. “Keberadaan kamu akan sangat berarti untuk mamaku.”
Lea mengangkat kakinya satu persatu ke atas tempat tidur. Berjalan ke tengah kasur menggunakan lututnya, kemudian bersimpuh. Kedua pahanya terlihat dari balik kaus putih longgar yang dikenakannya.
“Mama kamu nggak perlu aku. Toh dia sudah berhasil merayu ayahku kan? Jadi aku ini buat apa?”
“Lea, tolong. Jangan menuduh mamaku seperti itu. Dan… dia sayang sama kamu. Sama seperti dia sayang sama aku. Aku tahu itu… She’s tried—”
Lea duduk dengan memeluk lutut, membiarkan kakinya semakin terekspos di depan Juna, membuat laki-laki itu mengalihkan pandang ke arah lain.
“Kamu sayang banget sama mama kamu ya?” tanya Lea, menelengkan kepalanya dengan senyum tersungging di wajah tirusnya. Ia puas melihat rekasi Juna. Dengan ia memalingkan wajah, menandakan kalau Juna berusaha mengatasi perasaannya melihat dirinya yang hanya mengenakan kaus longgar dan hot pant di atas tempat tidur. “You will do anything for her…”
Juna mengembalikan tatapannya ke Lea. Dahinya mengerut dan matanya menyempit. “What do you want?
“Maksud kamu?”
“Apa yang harus aku lakukan agar kamu selesai main-main, dandan dan turun ke bawah untuk ngerayain pesta pernikahan ayah sama mama?”
Lagi, senyum menawan melengkung di bibir Lea. Ia mendorong punggungnya ke belakang, dan bersandar di kumpulan bantal di ujung tempat tidur. “Make love to me?”
Juna menganga. Tampangnya seolah terguncang. “Kamu udah gila?”
Lea mengggeleng. “Aku mau kamu… bercinta denganku. Apa itu permintaan yang sulit untuk dikabulkan?”
Muka Juna memerah seketika. Kedua tangannya mengepal, sehingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras, tanda kalau ia marah. Tapi ia pastinya menahannya, dilihat dari cara ia menggigit bibirnya sekeras yang ia mampu.
“Kalau kamu nggak mau… ya, sudah.” Lea menarik selimut, untuk menutupi badannya. “Aku mau tidur lagi. Keluar dari kamarku, dan jangan ganggu lagi.” Ia membaringkan badannya dan memejamkan mata dengan damai.
Tapi kedamaiannya itu hanya bertahan sejenak saja. Karena tiba-tiba saja selimutnya disibak dengan kasar, lengannya dicengkeram paksa, ditarik sekeras mungkin untuk memaksanya kembali tegak, membuatnya menjerit ketakutan.
“Kamu nggak akan bikin mamaku nangis terus, Lea!” ancam Juna, mencengkeram kedua bahu Lea kuat-kuat. Matanya melotot menyeramkan. “Cukup kamu menghina mamaku, karena dia nggak pantas dapat hinaan kamu!”
“Mama kamu itu pelacur!”
“Kamu yang pelacur! Semua orang siapa kamu, dan kamu sendiri tahu apa kamu itu. Nalea Usara, pelukis cantik murahan!”
Lea ingin sekali menampar Juna. Ia berontak, berusaha melepaskan diri. Ingin menyakiti Juna dengan cara apa pun yang ia tahu. Tapi Juna tidak melepaskannya, dan ia tidak bisa melepaskan diri. Kalah tenaga dengannya. Sekarang tangan Juna malah menjambak rambut belakangnya sehingga wajahnya mendongak ke atas, persis di bawah wajahnya. Ia dapat merasakan napas panas Juna menerpanya.
“Jangan karena kamu cantik, kamu pikir semua laki-laki mau sama kamu,” ujar Juna dengan suara pelan yang geram. “Aku sedikit pun nggak tertarik sama kamu. Nggak sudi tidur sama kamu walau dikasih gratis.”
Setelah itu ia mengempaskan Lea ke tempat tidur. Membuatnya terjerembab keras di kasurnya.
“Sekarang dandan, pakai gaun kamu dan turun,” suruh Juna, serara merapikan jas, dan letak dasinya.
“Brengsek kamu!” Lea meneriakinya. Air matanya meluncur deras dari kedua mata besarnya. “Aku nggak akan turun!”
Juna tidak menghiraukannya. Ia memalingkan badan, dan berjalan meninggalkan kamar.
“Sampai kapan pun aku nggak akan nerima kamu atau mama kamu di rumahku! Kalian ular! Orang rendahan!”
BLAM! Pintu kamarnya dibanting di belakang Juna yang telah melalui ambang pintu.

Perempuan brengsek! Juna memaki dalam hati. Bikin kepala panas saja.
Andai saja Lea bukan putri Om Ben, suami mamanya, ia pasti akan menamparnya tadi. Tapi apa yang dilakukannya barusan saja sudah membuatnya menyesali diri, apa lagi sampai menamparnya. Jujur, Lea tidak berhak sama sekali menerima kemarahannya. Dia tidak penting. Sama sekali tidak penting. Cuma perempuan manja dengan otak kosong yang mulutnya tajam seperti pisau. Tidak pernah berpikir sama sekali efek tindakannya, baik untuk dirinya sendiri mau pun orang lain. Sudah sepatutnya ia dikasihani.
“Juna.”
Ceracaunya terhambat oleh suara seseorang di dasar tangga yang sedang ia turuni. Shinji Abhrams, sahabat Lea, bersama Pat, adik perempuannya, sedang memandanginya dengan tatapan tak terjelaskan. Tina, sepupu kandung Lea, ada bersama keduanya. Matanya membulat begitu melihatnya.
“Lea dimana?” Tina langsung menanyainya.
“Dia nggak mau turun.”
Jawabannya mengundang senyum sinis Pat, dan jingkatan alis Shinji. Dua orang ini pasti memihak pada Lea, tidak perlu diragukan lagi. Mereka langsung pamit ke atas untuk menemui Lea di kamarnya. Juna mengekori mereka, memandangi mereka berkasak-kusuk seraya menaiki tangga.
“Kenapa dia nggak mau turun?” Tina bertanya.
“Please, Tina. Aku nggak mau bahas apa pun soal Lea sekarang.”
Tina mengembuskan napas tajam. “Kalian bertengkar?”
“Aku…” Juna kesulitan menjelaskan. Ingatannya melayang ke wajah Lea yang beberapa waktu lalu ada beberapa inci di depan mukanya. Ia marah, tapi tidak bisa melupakan mata coklatnya yang berbinar, bulu matanya yang halus dan panjang, bibir merahnya yang mungil dan membuka sedikit. Harum lavender dari rambutnya hampir saja membuatnya lupa diri. Demi Tuhan.
“Lea… Tidak bermaksud begitu,” kata Tina, pelan. “Dia… Oh, Juna. Dia cuma… tidak mengerti…” Tina sepertinya kesusahan mengatakan apa yang ingin ia katakan pada Juna, sehingga memilih untuk diam beberapa saat. Ketika akhirnya ia bersuara, ia hanya mengatakan pada Juna untuk bersabar.
“Aku sudah cukup sabar. Mamaku juga. Tapi dia terus menghina kami. Merendahkan kami. Aku…”
“Sebaiknya kamu kembali ke kebun,” Tina mengusap-usap punggung Juna. Bilang saja Lea tidak enak badan. Stres, karena pamerannya tinggal beberapa minggu lagi. Semua orang akan mengerti.”
“Aku cuma nggak mau mengecewakan mamaku.”
“Aku paham. Tapi, nggak ada lagi yang bisa kita lakukan. Lea is Lea. Kalau dia tidak mau, maka dia tidak akan mau.”
“Bagaimana kamu bisa bersabar sama dia, Tina?”
Tina tersenyum. “Aku harus, karena aku menyayanginya. Cuma dengan menyayangi Lea, aku dapat membalas budi almarhum Tante Ariela. You’ve already knew the story. Kamu pasti mengerti.”
Napas Juna terempas pelan. Ia berusaha mengendalikan dirinya, meredam emosinya. Tidak seharusnya ia menanyakan alasan Tina selalu berusaha membela dan melindungi Lea. Ia telah menceritakannya beberapa minggu lalu padanya, menjelang persiapan acara pernikahan mama dan Om Ben yang ditolak mentah-mentah oleh Lea. Yang membuatnya berusaha keras menahan emosi dengan perlakuan Lea pada mamanya dan juga dirinya.  Cerita hidup Lea, membuat Juna bersimpati padanya. Mengesampingkan rumor negatif lain yang tersebar di luar sana mengenai kehidupan pribadinya. 
...
(Bersambung)

gambar dari sini
Family isn't always blood. It's the people in your life who want you in theirs. The ones who accept you for who you are. The ones who would do anything to see you smile, and who love you no matter what.

0 comments:

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP