The Adorables (8): Black Lily

>> Sunday, September 27, 2015

Baca: The Adorables (7)

Black Lily


LIMA orang laki-laki duduk di atas lantai. Laki-laki tua, dengan rambut putih yang telah menipis di kepala. Mereka mengenakan kimono hitam polos, dan membungkuk serendah-rendahnya dengan penuh hormat. Di belakang mereka dua orang berbadan besar mengenakan baju zirah Jepang berdiri, dengan tangan siap di atas gagang samurainya, seakan waspada akan sesuatu yang sewaktu-waktu akan menyerang.
Siapa mereka, apa yang mereka lakukan, Lea jelas tak tahu. Dan dimana kejadian itu bertempat, jelas bukan di Black House. Namun, apa yang ia lihat begitu jelas, sampai-sampai ia bisa mengingat wajah lima pria tua itu serta detail ruangan dimana mereka berada. Dan salah satu dari mereka, yang rambut putihnya jauh lebih tebal daripada yang lain, Lea merasa pernah melihatnya di suatu tempat. Tapi ia lupa di mana. Kenapa bisa begitu? Kenapa, semua gambaran itu muncul begitu ia menyentuh tangan Shinji. Ini pertama kalinya. Dia tidak pernah mengalami hal seperti itu sebelumnya. Dan Shinji…, sepertinya tidak menganggap itu sebagai sesuatu yang aneh. Dia memang kelihatan kaget, tapi… tidak sekaget Lea.
Rasanya sudah lama sejak Shinji kembali ke ruang tengah dengan harum sabun dan rambut basahnya. Dan sejauh ini, setelah entah berapa jam kemudian, Lea cuma duduk di bangku taman belakang dengan majalah Home and Deco yang membuka di kedua paha, sedangkan Shinji melanjutkan lukisan perempuan yang sebelumnya ada di atas easel[1] dekat meja bundar di depan jendela besar di seberang ruang tengah dengan penuh konsentrasi. Sehingga membuat Lea sungkan menanyakan perihal kejadian beberapa waktu sebelumnya.
Tak ada pembicaraan lanjutan. Entah Shinji lupa, atau ia memang tak mau membahasnya. Mengenyakkan dirinya di bangku lipat yang ia bawa dari dalam rumah, membelakangi Lea. Sibuk menyapukan warna-warna muram di permukaan kanvas. Ekspresi mukanya masam, rahangnya mengeras. Tak mungkin Lea mengganggunya.
Suara langkah ditemani roda yang bergerak di lantai, mengalihkan Lea dari Shinji yang sedang mengerutkan wajah untuk berpikir. Dua orang perempuan, satu mendorong troli berisi makanan dan satunya lagi membawa nampan kayu bundar berisi mug stainless tertutup persis yang dibawakan Juna pagi tadi, muncul dari pintu, dan menyusur teras belakang.
Bukan cuma mereka berdua, ada beberapa orang lagi. Salah satunya Dai, kemudian Malini, lalu seorang laki-laki lagi yang tidak pernah Lea lihat sebelumnya.
Lea kecewa, Juna tak ada bersama mereka.
Ketiganya kini menuruni undakan, dan Lea langsung berdiri. Meletakkan majalah Home & Deco di alas bangku kayu, sembari mengerling Shinji, yang sama sekali tidak menoleh ke arah tamu-tamunya. Entah ia memang tidak tahu, atau sengaja mengacuhkan.
“Lea. Ini Eiji Kuroi.” Dai segera memperkenalkan Lea dengan laki-laki asing tersebut begitu mereka sampai di hadapan Lea. “Dia adalah penanggungjawab perusahaan Kuroi. Kakak sepupu Shinji.”
Lea mengangguk sopan; kikuk tapi berusaha untuk tetap tenang. Namun segera saja goyah begitu Eiji balas mengangguk, dan mengembangkan senyum simpulnya yang amat menawan. Dan saat kedua matanya bertubrukan dengan mata redupnya, seolah saja ada ribuan pisau yang menusuk ulu hatinya.
Eiji Kuroi, berbeda dengan Shinji, kulitnya jauh lebih terang, layaknya orang Asia Timur. Sementara Shinji agak kecoklatan. Sama jangkung, namun terlihat lebih kokoh. Seperti Dai, ia berpenampilan elegan dengan setelan jas mahal dan sepatu mengilapnya. Rambutnya pendek, tertata rapi.
 “Guré no me,”—mata abu-abu, Eiji berkomentar, mengamati kedua mata Lea. Dan Lea cuma bisa mengejap-ngejap karena tidak tahu apa yang ia katakan.
Kemudian Eiji mendekat, dan semakin dekat sampai akhirnya berdiri di depan Lea. Tangannya terangkat, menyentuh dagu Lea, dan menaikkannya perlahan. “Apa kamu pakai lensa?”
Lea tidak bisa menemukan kata untuk menjawab pertanyaanya, seolah saja itu adalah pertanyaan paling sulit yang pernah ia dengar. Mendadak saja, Eiji menarik tangannya. Mundur beberapa langkah, dengan dahi mengerut. Lagi, kelebatan muncul di kepala Lea. Kali ini agak kabur; tidak jelas. Pemicunya? Mungkinkah karena Eiji menyentuhnya? Ada apa sebenarnya?
Lea menunduk, tidak berani menatap mata Eiji. Kedua tangannya mengepal-ngepal, mengatasi kegugupannya.
“Malini.”
“Ya, Eiji Sama?”
“Bisa temani Lea ke dalam? Aku dan Dai akan bicara dengan Shinji.”
“Tidak perlu usir Yuujin-ku kalau mau bicara padaku,” Shinji berseru lantang dari tempatnya berdiri.
Semua sekarang terpaku ke punggung lurus Shinji. Memandang Shinji yang masih sibuk dengan lukisannya. Tidak menoleh.  
“Kalian mempekerjakannya untuk melayaniku. Dan sekarang kalian menyuruhnya pergi hanya karena kalian ingin bicara denganku.”
Shinji berpaling. Melempar pandang ke arah Eiji, dengan kuas dan palet di masing-masing tangan.
“Malini,” Eiji memanggil lagi.
“Ayo, Lea,” ajak Malini segera, yang segera dipatuhi oleh Lea.
“Lea! Tetap di sana,” teriak Shinji, mengurungkan niat Lea untuk melangkah. “Kalau kalian ingin bicara, bicara di depannya.”
Shinji meletakkan palet dan kuas, menyeka tangannya yang belepotan cat di ujung kaus lusuh yang ia kenakan. Setelah itu berjalan santai mendekat.
Lea memandang Malini. Memberikan tatapan seolah minta saran apa yang seharusnya ia lakukan pada situasi seperti sekarang. Namun Malini sepertinya juga bingung, cuma tersenyum meringis yang kentara sekali bimbang.
Ani wa watashi o shiraberu tame ni, koko ni kimashita no?”—Kakak datang kemari, untuk mengecekku?, Shinji bicara pada Eiji, dalam bahasa Jepang.
“Bukan hanya mengecek, tapi juga memastikan kalau kamu baik-baik saja,” balas Eiji, ditemani senyum simpul yang tenang.
Shinji mendengus sinis. “Memastikan kalau aku tidak kabur?”
Meskipun tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, tapi Lea merasakan ketegangan yang nyata berputar-putar mengelilingi mereka. Ia dapat menerkanya dari ekspresi wajah Malini dan juga Dai yang terlihat tidak nyaman dengan pembicaraan keduanya.
Lea benar-benar ingin pergi dari sini. Berharap Shinji mengijinkannya pergi.
“Lea,” panggil Eiji. “Bisa kamu ambilkan ramuan yang disiapkan Juna untuk Shinji? Melihat dia seperti ini sudah jelas dia tidak minum ramuannya pagi ini.”
Lea mengangguk ragu. Tidak menjawab, tapi langsung menggerakkan kaki pergi. Tapi sekali lagi terhenti. Tangan Shinji menyambar lengannya dan menariknya ke belakang, sehingga posisinya sekarang berada di belakangnya.
Watashi wa futatabi sore o nomu hitsuyō wa arimasen!”—Aku nggak perlu minum itu lagi, tukas Shinji. “Ramuan itu… tidak baik untukku. Aku baru menyadarinya setahun ini. Apa yang ingin kalian lakukan padaku sebenarnya?”—(Sekali lagi, gambar-gambar berkelebat di mata Lea. Membuatnya mual. Amat mual. Tangan Shinji yang masih menjepit kulit lengannya mengantarkan getaran panas yang tak terjelaskan. Lagi-lagi ruangan itu muncul, dengan lima orang pria tua, dua Shogun, dan…)—“Kalian mengurungku di sini…, agar aku tidak tahu apa yang terjadi di luar sana. Agar aku tidak tahu siapa diriku sebenarnya?!”
Lea melihat dua keranjang. Keranjang anyaman. Isinya dua bayi. Lalu seorang laki-laki berkimono putih dan seorang perempuan paruh baya yang amat cantik dengan rambut panjang hitam menyentuh lantai. Ada tungku api. Dan besi panas.  Salah satu dari mereka mengangkat besi panas itu dari tungku. Si wanita mengangkat salah satu bayi. Menggendongnya dengan posisi menelungkup. Lalu…
Lea berteriak tiba-tiba. Bahu belakangnya mendadak saja perih luar biasa. Ia kesakitan, menepuk-nepuk bahunya untuk meredakan rasa panas yang menyengatnya. Membuatnya seolah ingin mati. Ia meronta-ronta, ingin melepaskan diri dari rengkuhan perempuan cantik itu. Lalu ada bisikan yang ia dengar di telinganya, mengatakan sesuatu yang asing, namun ia mengerti. Bagaikan untaian lagu yang menenangkan. “Futatabi jikan no. Sore ga ima no yō ni utsukushīdesu. Haiiro no me de, koreha ao ni henkō sa remasu. Watashi no utsukushī akachan wa, jikan no yogen-sha. Kuroyuri Hime.”Kembalilah lagi pada saatnya. Tetap cantik seperti sekarang. Dengan mata abu-abu yang akan berganti biru. Bayi cantikku, Sang Pelihat waktu. Putri Kuroyuri.

Ada pemandangan yang menyenangkan ketika akhirnya Lea membuka mata entah berapa lama kemudian. Juna ada di depannya, tersenyum menenangkan. Ia bergumam, “Hei,” pendek saat Lea mengejap-ngejapkan matanya yang silau oleh cahaya lampu di atas, dan memberikan usapan lembut di rambutnya.
Are you ok?” tanya Juna setelah mata Lea membuka sepenuhnya.
“Aku di mana?”
“Kamar tamu.”
“Kenapa aku di sini?”
“Kamu pingsan.” Kemudian Juna mendengus tertawa. “Kedua kalinya.”
Ya, kedua kalinya ia pingsan di Black House, dan lagi-lagi Juna yang pertama ia temukan saat ia tersadar. Dan alasannya, sama-sama tak terjelaskan. Konyol malah. Dan sekarang, ia bahkan tak tahu kalau ia pingsan.
“Shinji?” Lea berusaha menegakkan badan. Juna segera membantunya. Meletakkan bantal di belakang punggungnya.
“Dia… nggak usah kamu pikir. Kamu sendiri gimana? Pusing? Atau…”
“Pusing sedikit. Tapi… oke.”
“Hm. Kalau begitu…” Juna merentangkan tangan, meraih gelas berisi cairan berwarna hijau transparan yang baunya seperti jahe. “Minum ini. Kamu akan baikan.”
Lea memerhatikan gelas di tangan Juna. Teringat Shinji, yang menentang keras untuk minum ramuan yang Juna buat. Dan sekarang dia menyodorkan sebuah minuman asing padanya. Apa dia harus meminumnya?
“Tenang saja, ini cuma jasmine tea,” beritahu Juna, seolah tahu isi benak Lea.
“Sori, aku—”
“Takut?”
Lea menggelengkan kepala buru-buru. “Bukan itu. Aku… bingung.”
“Minum dulu.” Juna menyodorkan lagi gelas berisi Jasmine Tea pada Lea. “Setelah itu baru bicara.”
Lea nyengir. Menerima gelas tersebut, dan pelan-pelan mendekatkannya ke bibirnya. Menyesapnya sedikit, kemudian merasakan hangat segera mengaliri kerongkongan dan ulu hatinya. Membuatnya rileks.
Hangat dari teh jasmine tersebut seakan menyapu seluruh beban yang ia bawa di tubuhnya dan menjadikannya ringan. Dadanya terasa lapang, dan paru-parunya terasa bebas menghirup oksigen sebanyak yang ia mau. Wow!
“Kamu suka?” tanya Juna di sela kekehnya, melihat Lea meneguk habis cairan di gelasnya.
“Sangat. Enak sekali dan… Aku pernah minum teh jasmine, tapi rasanya nggak kaya yang Chef buat. Teh jasmine buatan Chef… ” Lea bahkan tak bisa menjelaskannya dengan kata-kata.
“Teh Jasmine ini spesial.” Juna mengambil gelas kosong di tangan Lea dan meletakkannya kembali ke atas meja kecil di sebelah tempat tidur. “Ada bahan tambahan yang aku sisipkan.”
Lea membulatkan mata. Menelan ludah susah payah.
“Kamu tahu herbal kan? Aku mempelajarinya beberapa tahun lalu di Jepang. Aku punya sertifikat, jadi kamu nggak perlu khawatir aku masukkan tanaman semacam Water Hemlock [2] ke dalamnya.”
“Chef nggak akan melakukan hal semacam itu,” timpal Lea. “Tapi… kalau boleh aku tahu, ramuan apa yang Chef buat untuk Shinji? Yang Chef bilang harus rutin ia minum?”
“Itu… Kamu tidak diperkenankan untuk tahu. Ada beberapa hal yang tidak perlu dikatakan di sini, Lea. Salah satunya itu,” ujar Juna. Menolak halus untuk memberitahu.
Lea tersenyum. Paham.
“Ngomong-ngomong, jam berapa sekarang?” ia bertanya. Celingukan mencari jam dinding di sekeliling kamar.
“Sudah hampir jam lima.”
“Aku pingsan selama itu?”
“Itu kenyataannya.”
“Dan nggak ada yang berusaha membangunkan aku?”
“Kamu kelihatan capek.”
“Dai nggak marah?”
“Kenapa dia harus marah?”
“Tuan Eiji?”
Juna tergelak. “Siapa pun yang kamu tanyakan setelahnya, mereka nggak punya alasan untuk marah sama kamu. Kamu pingsan, dan mereka khawatir.”
“Aku ngerepotin ya?”
“Oh, God. Semua baik-baik saja, Lea. Pertanyaannya, apa kamu baik-baik saja?”
Lea berpikir sebelum menjawab. Ia tidak merasa mual seperti sebelumnya. Ia cuma bingung, tapi itu pun sudah tak terlalu karena pengaruh teh jasmine yang Juna berikan. Jadi kesimpulannya ia baik-baik saja.
“Aku… baik-baik saja,” kata Lea. “Sudah mau jam lima, apa aku boleh siap-siap pulang?”
Juna duduk tegak. Mengamati wajah Lea selama beberapa saat. Lalu, setelah mengembuskan napas perlahan, ia berkata, “Tunggu sebentar, aku mau panggil Malini.”
Dia bangkit, dan meninggalkan kamar.
Sudah redup di luar. Tak ada lagi cahaya matahari yang masuk melalui celah gorden jendela. Senja mulai datang, malam mendekat. Siang telah berlalu, yang menandakan bahwa Lea tak sadar berjam-jam hari ini.
Kilasan kenangan yang tak ia kenali saat Shinji menyentuhnya adalah penyebabnya. Begitu muram dan menyakitkan. Seakan saja ia ada di sana dan mengalaminya sendiri.
Perlahan ia menurunkan kedua kakinya dari tempat tidur. Mencoba berdiri dan berjalan ke arah meja rias di sebelah kanan. Dilihatnya wajahnya yang lelah balas menatap dari balik cermin. Rambut ikalnya awut-awutan, dan pakaiannya lecak. Kacau sekali.
Kemudian ia teringat bahunya. Bahunya yang terasa sakit, oleh panas yang luar biasa ketika laki-laki berkimono di dalam ingatannya menekankan besi membara ke bahu bayi yang digendong si perempuan cantik. Kenapa bisa begitu? Ada apa dengannya hari ini? Pada siapa ia harus bertanya? Dan, apa ada yang akan memercayainya?
Malini masuk sejenak kemudian. Wajahnya muram, seakan prihatin. Ia langsung menggenggam kedua tangan Lea begitu ia ada di hadapannya.
“Kamu baik-baik saja?”
Lea mengangguk. “Kalau boleh aku mau pulang.”
“Tentu,” senyumnya. “Tapi… sebelumnya, boleh aku minta kamu melakukan sesuatu?”
Alis Lea berkerenyit. “Tentu. Apa itu?”
“Bisa aku lihat bahu kamu?”
Kali ini dahi Lea berkerut. Merasa aneh dengan permintaan Malini. “Untuk apa?”
“Kamu kelihatan kesakitan tadi, sebelum pingsan. Kamu… pegang bahu kamu dan…” Sepertinya Malini pun kesulitan untuk menjawab pertanyaan Lea. Menggantikan kalimatnya dengan helaan napas panjang. “Intinya…, aku mau memastikan kalau kamu nggak kenapa-kenapa.”
“Baiklah kalau begitu.” Lea tersenyum.
“Duduklah,” pinta Malini. Menunjuk bangku bulat di depan meja rias.
Aneh sekali, batin Lea. Tapi ia menurut. Duduk di bangku tersebut, membelakangi cermin.
Kemudian Malini mendekat, dan mulai melepas kancing kemejanya. Perasaan risih mulai muncul di benak Lea. Merasa tak nyaman, karena sebelumnya, tidak ada yang pernah menyentuhnya sepribadi itu. Dan saat ia perlahan menurunkan kemejanya, Lea merasa kalau wajahnya sudah merah karena terbakar malu. Oh, cepatlah, gumamnya dalam hati.  
 Sekarang kemejanya telah turun sebatas tulang punggungnya, dan Malini memandangnya melalui cermin di belakang Lea. Ia tercenung, semacam takjub. Lea merasakan jemarinya menyentuh bahu belakangnya yang sebelah kanan.
“Ini tato, Lea?” Ia bertanya.
“Oh. Itu… sudah ada sejak lahir.” Lea memandang tanda lahirnya yang berbentuk aneh melalui pundaknya. “Jelek memang, tapi yah… mau bagaimana lagi?” Ia nyengir pada Malini, yang ganti memandangnya dengan kening dikerutkan.
“Kamu tahu bentuk apa itu?”
“Nggak tahu. Lagian…, nggak ada bentuknya sama sekali kan? Tanda lahir… nggak pernah berbentuk sesuatu yang khusus. Ya kan?”
Malini tidak menjawab. Ia memandang Lea dengan senyum penuh damba, campuran antara rasa senang dan sedih yang bersamaan. “Kamu tunggu dulu, aku akan panggil Eiji ke sini. Tidak perlu naikkan kemeja kamu dulu,” cegahnya segera saat Lea berupaya menaikkan kemejanya. “Biar dia melihatnya.”
“Tapi—”
Malini berbalik, tak menghiraukan Lea. Ia menghilang di balik pintu, yang ia biarkan sedikit terbuka, dan kembali beberapa menit kemudian bersama Eiji Kuroi. Air muka keduanya benar-benar membuat Lea bertanya-tanya. Kelihatan cemas, tapi juga terlihat bersemangat.
“Bagaimana?” Malini menanyai Eiji, setelah ia selesai mengamati tanda lahir Lea. “Itu… tidak benar kan?”
Eiji tidak langsung menjawab. Ia menaikkan kemeja Lea, dan merapatkannya agar menutupi dadanya. Menatap mata Lea dengan tatapan amat lembut, dan mata yang kelihatan berkaca-kaca.
“Kita menemukannya,” katanya kemudian. “Dan dia kembali sendiri, tanpa harus dicari.”
Malini tampak syok, sedangkan Lea cuma bisa bengong. Ia tak mengerti sama sekali apa yang mereka bicarakan, namun tak berani bertanya.
“Kamu tahu apa bentuk tanda lahir di bahu kanan kamu, Lea?” tanya Eiji.
Lea menggeleng.
“Lili hitam. Kuro Yuri, dalam bahasa Jepang.”
“Dan…”
“Itu berarti, tempat kamu di sini; di rumah ini. Bersama kami. Klan Kuroi.”
Dibilang syok, tidak. Lea lebih merasa kalau Eiji sedang mencandainya dengan mengatakan kalau ia adalah salah satu dari keluarga Kuroi, seperti halnya Shinji. Ia terkekeh kikuk, seraya memandang Eiji dan Malini bergantian, seakan minta konfirmasi dari salah satunya kalau ini semua lelucon.
“Mulai hari ini,” Eiji kembali bicara, “kamu tinggal di sini.”
“Tapi—”
Eiji berpaling, dan pergi. Kalimat terakhirnya adalah final, dan menegaskan kalau ia serius dan tak ada lelucon yang sedang ia mainkan. Lea menoleh pada Malini, yang terpaku di tempatnya. Dari sikap tubuhnya, sepertinya ia pun tak percaya pada apa yang baru ia ketahui. Kalau Lea, adalah salah satu dari keluarga Kuroi yang harus ia layani.
“Malini, katakan padaku, kalau… ini semua bohong kan?” pinta Lea penuh harap. “Kalian cuma sedang mengerjai aku atau… semacamnya… kan?”
“Lea Sama.” Malini membungkuk hormat di hadapan Lea. “Mulai hari ini saya melayani Nona.”
Mata Lea seketika membundar. Napasnya memburu. Sikap penuh hormat Malini membuatnya tersadar kalau ini benar-benar bukan lelucon. Fakta yang tiba-tiba, dan menyambanginya dalam waktu hanya tiga hari setelah ia menginjakkan kaki di Black House.
Tapi…
“Aku mau pulang.”
“Maaf, Nona Lea. Anda tidak bisa. Anda dengar Tuan Eiji tadi, Anda akan tinggal di rumah ini.”
“Aku punya rumah, Malini. Dan kamu tahu itu. Jangan bersikap seperti ini padaku, aku bukan apa yang Tuan Eiji bilang tadi. Aku punya keluarga sendiri. Aku punya kakak yang menunggu di rumah.”
Lea gemetaran sekarang. Ia teringat Mina. Membayangkan kecemasannya kalau ia tidak pulang hari ini. Dia tidak bisa. Dia mau pulang. Mendadak saja ia rindu pada kakaknya. Dan juga Renan, sahabatnya.
“Aku harus pulang.” Lea cepat-cepat mengancingkan kemejanya sambil berdiri.
Malini bergeming. Menoleh sejenak, untuk memanggil seseorang di luar—Lea tak mendengar siapa yang dipanggilnya. Dan tetap berdiri dengan kedua tangan tertangkup di antara pahanya. Saat Lea menggerakkan kaki, Arata masuk. Ia menengok ke arah Malini, yang kemudian mengangguk seakan menyetujui sesuatu. Baru setelah itu ia mendekati Lea.
“Arata, tolong. Aku mau pulang. Antar aku ke rumahku,” pinta Lea, yang mulai banjir air mata.
“Maafkan saya, Nona Lea,” ujar Arata tulus. Mengangkat tangannya kemudian, dan menyentuhkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke bagian bawah telinga Lea.
Setelah itu gelap.



[1] Kayu penyangga dengan tiga kaki untuk  menyangga sesuatu biasanya untuk kanvas lukis
[2] Tanaman beracun dengan bunga kecil berwarna putih yang banyak dijumpai di Amerika Utara. Mengandung Racun cicutoxin yang terdapat di seluruh bagian bunganya. Mengakibatkan kram, muntah-muntah, gemetar dan akhirnya gagal jantung.

(Bersambung)

pic from here

Read more...

Juna & Lea (1)

>> Sunday, September 20, 2015

Step 1


RAMBUT coklat kemerahan itu, dengan sulur-sulurnya yang memanjang sampai ke perut, terjuntai di dada dan punggungnya. Ingin ia gelung, jalin atau kuncir, namun sia-sia saja, karena pada akhirnya helai-helai halus itu akan kembali terjurai bebas. Ia suka rambutnya. Bangga akan mahkotanya, sama seperti kebanyakan perempuan. Dan sekali pun tak pernah ia rubah dengan gaya apa pun. Cuma begitu-begitu saja, karena ia tahu, ia terlihat cantik dengan rambut ikalnya yang tak beraturan. Paham, orang-orang—laki-laki terutama—selalu melempar pandang penasaran padanya hanya dengan melihat rambutnya. She feels sexy with that hair. And she is.
Sekarang rambut itu basah. Habis ia cuci dengan sampo. Harumnya memenuhi ruang apartemen, dan ia suka. Tidak perlu menyalakan dupa aroma terapi hanya untuk membuatnya rileks. Bau lavender yang masih menempel di kepala cukup membuatnya tenang untuk menyelesaikan lukisan terakhirnya yang akan ia tampilkan di pameran minggu depan. Lukisan seorang perempuan, berbaju kuning cerah yang berlatar belakang senja di bukit. Lukisan yang sudah lama sekali ingin ia selesaikan, setelah lima tahun lamanya ia biarkan begitu saja di dalam studio tanpa tahu nasibnya.
Sekali lagi ia menaikkan ujung kerah kaus longgarnya yang jatuh dari bahunya. Mengekspos kulit kuning mulusnya yang mengilap. Tetap berkonsentrasi menorehkan gurat kuning di bagian atas kanvas.  
Lea. Cuma mau ngingatkan sekali lagi…” Suara Kenneth terdengar setelah nada ‘bip’ mesin penjawab telepon di kamarnya. Nadanya cemas. “lukisan terakhir sudah harus dicek kurator nggak lebih dari jam sepuluh pagi besok. Aku tahu kamu lagi sibuk dengan pernikahan ayah kamu, tapi please…, sempatkan untuk selesaikan. We’re depending on you.
Ia bergeming. Kuas di tangannya membeku beberapa inci dari kanvas. Ujung kerah kausnya yang kembali melorot tidak dipedulikannya. Kata ‘pernikahan ayah kamu’ yang ditangkap telinganya barusan membuat konsentrasinya seketika buyar. Kepalanya panas, dan dadanya seketika sesak. Gelombang amarah seolah menggulung badannya sekarang menjadi bola api murka yang siap melalap siapa saja.
Hari ini pernikahan ayahnya. Dan ia berada di sini, di kamarnya. Melukis. Satu-satunya hal yang selalu ia lakukan ketika ia ingin bersembunyi sejenak dari rasa gundah yang memburunya. Yang mencegahnya melakukan tindakan konyol yang dapat merugikan dirinya sendiri. Yang membuatnya larut, dan meninggalkan dunia di luar sana selama beberapa waktu saat ia inginkan. Seperti hari ini. Hari pernikahan ayahnya dengan istrinya yang baru. Perempuan paruh baya bernama Sasha, yang mendadak saja datang ke sisi ayahnya, dan bersikap seolah ia adalah pengganti ibunya yang telah meninggal. Ia, yang katanya adalah cinta pertama ayahnya sebelum akhirnya bertemu ibunya.
Tidak dipungkiri, ayahnya dan Sasha telah kembali berhubungan sepeninggal ibunya. Atau mungkin sebelum ia meninggal. Apa pun itu, Lea tidak akan pernah menerima perempuan itu sebagai bagian dari rumah ini. Apalagi menganggapnya sebagai ibu. Oh, tidak akan pernah. Ia benci perempuan itu. Ia benci suaranya. Benci semua sentuhan lembutnya. Ia benci apa pun yang ada padanya. Semua yang ia bawa ke rumah ini.
Suara ketukan di pintu menyentaknya sehingga kuas yang ia cengkeram terlepas dari jari-jemarinya dan meluncur ke lantai. Lea menoleh, dan melihat kepala melongok dari pintu.
Dia, gumam Lea dalam hati. Mau ngapain dia kemari?
Lea melengos, membungkuk untuk mengambil kuas di lantai, setelah itu kembali ke kanvasnya. Melanjutkan pekerjaannya. Dibiarkannya bahunya tak tertutup. Membiarkan kerah kausnya jatuh sebatas siku.
“Lea.” Suara laki-laki itu terdengar. Memecah ruangan kamarnya yang hening sempurna. Suara hak sepatunya yang menyentuh lantai membuat fokus Lea berantakan.
“Ada apa?” tanya Lea tanpa menengok. Dagunya terangkat, dalam upaya menunjukkan kekuatan pendiriannya di hadapan laki-laki yang dibencinya itu. Ia tetap menotolkan kuas ke kanvas, kendati ia tak tahu untuk apa ia melakukannya.
“Semua orang sudah kumpul di halaman belakang.”
“Hubungannya denganku?”
“Ayah kamu dan mamaku menikah hari ini—”
So?
“Kami mau kamu ada bersama kami—”
Lea mendengus sinis, membuat kalimat laki-laki itu segera terputus. “ ‘Kami’. Berarti aku orang luar kalau begitu?”
Ia menolehkan kepala ke belakang. Melihat sosok laki-laki di belakangnya yang mengenakan setelan hitam yang elegan.
“Aku nggak bilang begitu,” sanggahnya. “Don’t be so negative. Aku kemari, untuk jemput kamu. Turun ke bawah dan merayakan—”
“Nggak ada yang perlu aku rayakan.” Lea meletakkan palet cat dan kuas di atas meja kayu di dekatnya. Kemudian ia memutar badan menghadap laki-laki tersebut, dan baru menyadari kalau ia jangkung.
Ia tidak pernah berhadapan langsung dengannya sejak kedatangannya ke rumah ini. Selalu menghindar berpapasan dengannya, dan enggan untuk mendengar apa pun tentangnya apa lagi membicarakannya. Yang ia tahu, ia adalah anak dari Sasha. Yang baru kembali dari Amerika setahun ini. Berprofesi sebagai Chef di salah satu restoran ternama. Ngetop karena acara reality show-nya. Dan punya banyak fans karenanya.
Entah apa yang membuatnya digilai banyak fans perempuan. Cakep saja nggak. Wajahnya angkuh, suaranya terkesan sombong. Penampilannya biasa saja. Mamanya memanggilnya Juna. Semua orang memanggilnya Juna. Cuma Lea yang selalu menyebutnya dengan nama sebenarnya; Junior. Ya, dia Junior di rumah ini. Jadi sudah seharusnya dia tidak sok dengan popularitasnya di luar sana.
“Memang apa yang harus aku rayakan?” Lea menanyainya. Bersedekap.
“Tolong, Lea.” Juna memasukkan satu tangannya ke saku celana. “Untuk hari ini saja, aku mohon, mewakili ayah dan mama, kamu bergabung untuk merayakan pernikahan orang tua kita.”
“Dia bukan ibuku. Dan… ayahku, nggak pernah minta ijinku untuk nikah lagi. Jadi…, pada dasarnya…, aku nggak tahu apa pun soal pernikahan mereka. Aku nggak pernah setuju, dan menerima siapa pun untuk jadi ibu tiriku. Jadi nggak ada alasan aku turun dan merayakan pesta pernikahan itu.”
“Semua orang nanyain kamu.”
Lea tersenyum sinis, setelah itu berbalik. Menggerakkan kakinya mendekati tempat tidurnya yang masih acak-acakkan.
“Semua orang…” Kalimat Juna terpotong oleh napasnya yang tercekat. “Aku mohon.” Ia benar-benar memelas. “Keberadaan kamu akan sangat berarti untuk mamaku.”
Lea mengangkat kakinya satu persatu ke atas tempat tidur. Berjalan ke tengah kasur menggunakan lututnya, kemudian bersimpuh. Kedua pahanya terlihat dari balik kaus putih longgar yang dikenakannya.
“Mama kamu nggak perlu aku. Toh dia sudah berhasil merayu ayahku kan? Jadi aku ini buat apa?”
“Lea, tolong. Jangan menuduh mamaku seperti itu. Dan… dia sayang sama kamu. Sama seperti dia sayang sama aku. Aku tahu itu… She’s tried—”
Lea duduk dengan memeluk lutut, membiarkan kakinya semakin terekspos di depan Juna, membuat laki-laki itu mengalihkan pandang ke arah lain.
“Kamu sayang banget sama mama kamu ya?” tanya Lea, menelengkan kepalanya dengan senyum tersungging di wajah tirusnya. Ia puas melihat rekasi Juna. Dengan ia memalingkan wajah, menandakan kalau Juna berusaha mengatasi perasaannya melihat dirinya yang hanya mengenakan kaus longgar dan hot pant di atas tempat tidur. “You will do anything for her…”
Juna mengembalikan tatapannya ke Lea. Dahinya mengerut dan matanya menyempit. “What do you want?
“Maksud kamu?”
“Apa yang harus aku lakukan agar kamu selesai main-main, dandan dan turun ke bawah untuk ngerayain pesta pernikahan ayah sama mama?”
Lagi, senyum menawan melengkung di bibir Lea. Ia mendorong punggungnya ke belakang, dan bersandar di kumpulan bantal di ujung tempat tidur. “Make love to me?”
Juna menganga. Tampangnya seolah terguncang. “Kamu udah gila?”
Lea mengggeleng. “Aku mau kamu… bercinta denganku. Apa itu permintaan yang sulit untuk dikabulkan?”
Muka Juna memerah seketika. Kedua tangannya mengepal, sehingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras, tanda kalau ia marah. Tapi ia pastinya menahannya, dilihat dari cara ia menggigit bibirnya sekeras yang ia mampu.
“Kalau kamu nggak mau… ya, sudah.” Lea menarik selimut, untuk menutupi badannya. “Aku mau tidur lagi. Keluar dari kamarku, dan jangan ganggu lagi.” Ia membaringkan badannya dan memejamkan mata dengan damai.
Tapi kedamaiannya itu hanya bertahan sejenak saja. Karena tiba-tiba saja selimutnya disibak dengan kasar, lengannya dicengkeram paksa, ditarik sekeras mungkin untuk memaksanya kembali tegak, membuatnya menjerit ketakutan.
“Kamu nggak akan bikin mamaku nangis terus, Lea!” ancam Juna, mencengkeram kedua bahu Lea kuat-kuat. Matanya melotot menyeramkan. “Cukup kamu menghina mamaku, karena dia nggak pantas dapat hinaan kamu!”
“Mama kamu itu pelacur!”
“Kamu yang pelacur! Semua orang siapa kamu, dan kamu sendiri tahu apa kamu itu. Nalea Usara, pelukis cantik murahan!”
Lea ingin sekali menampar Juna. Ia berontak, berusaha melepaskan diri. Ingin menyakiti Juna dengan cara apa pun yang ia tahu. Tapi Juna tidak melepaskannya, dan ia tidak bisa melepaskan diri. Kalah tenaga dengannya. Sekarang tangan Juna malah menjambak rambut belakangnya sehingga wajahnya mendongak ke atas, persis di bawah wajahnya. Ia dapat merasakan napas panas Juna menerpanya.
“Jangan karena kamu cantik, kamu pikir semua laki-laki mau sama kamu,” ujar Juna dengan suara pelan yang geram. “Aku sedikit pun nggak tertarik sama kamu. Nggak sudi tidur sama kamu walau dikasih gratis.”
Setelah itu ia mengempaskan Lea ke tempat tidur. Membuatnya terjerembab keras di kasurnya.
“Sekarang dandan, pakai gaun kamu dan turun,” suruh Juna, serara merapikan jas, dan letak dasinya.
“Brengsek kamu!” Lea meneriakinya. Air matanya meluncur deras dari kedua mata besarnya. “Aku nggak akan turun!”
Juna tidak menghiraukannya. Ia memalingkan badan, dan berjalan meninggalkan kamar.
“Sampai kapan pun aku nggak akan nerima kamu atau mama kamu di rumahku! Kalian ular! Orang rendahan!”
BLAM! Pintu kamarnya dibanting di belakang Juna yang telah melalui ambang pintu.

Perempuan brengsek! Juna memaki dalam hati. Bikin kepala panas saja.
Andai saja Lea bukan putri Om Ben, suami mamanya, ia pasti akan menamparnya tadi. Tapi apa yang dilakukannya barusan saja sudah membuatnya menyesali diri, apa lagi sampai menamparnya. Jujur, Lea tidak berhak sama sekali menerima kemarahannya. Dia tidak penting. Sama sekali tidak penting. Cuma perempuan manja dengan otak kosong yang mulutnya tajam seperti pisau. Tidak pernah berpikir sama sekali efek tindakannya, baik untuk dirinya sendiri mau pun orang lain. Sudah sepatutnya ia dikasihani.
“Juna.”
Ceracaunya terhambat oleh suara seseorang di dasar tangga yang sedang ia turuni. Shinji Abhrams, sahabat Lea, bersama Pat, adik perempuannya, sedang memandanginya dengan tatapan tak terjelaskan. Tina, sepupu kandung Lea, ada bersama keduanya. Matanya membulat begitu melihatnya.
“Lea dimana?” Tina langsung menanyainya.
“Dia nggak mau turun.”
Jawabannya mengundang senyum sinis Pat, dan jingkatan alis Shinji. Dua orang ini pasti memihak pada Lea, tidak perlu diragukan lagi. Mereka langsung pamit ke atas untuk menemui Lea di kamarnya. Juna mengekori mereka, memandangi mereka berkasak-kusuk seraya menaiki tangga.
“Kenapa dia nggak mau turun?” Tina bertanya.
“Please, Tina. Aku nggak mau bahas apa pun soal Lea sekarang.”
Tina mengembuskan napas tajam. “Kalian bertengkar?”
“Aku…” Juna kesulitan menjelaskan. Ingatannya melayang ke wajah Lea yang beberapa waktu lalu ada beberapa inci di depan mukanya. Ia marah, tapi tidak bisa melupakan mata coklatnya yang berbinar, bulu matanya yang halus dan panjang, bibir merahnya yang mungil dan membuka sedikit. Harum lavender dari rambutnya hampir saja membuatnya lupa diri. Demi Tuhan.
“Lea… Tidak bermaksud begitu,” kata Tina, pelan. “Dia… Oh, Juna. Dia cuma… tidak mengerti…” Tina sepertinya kesusahan mengatakan apa yang ingin ia katakan pada Juna, sehingga memilih untuk diam beberapa saat. Ketika akhirnya ia bersuara, ia hanya mengatakan pada Juna untuk bersabar.
“Aku sudah cukup sabar. Mamaku juga. Tapi dia terus menghina kami. Merendahkan kami. Aku…”
“Sebaiknya kamu kembali ke kebun,” Tina mengusap-usap punggung Juna. Bilang saja Lea tidak enak badan. Stres, karena pamerannya tinggal beberapa minggu lagi. Semua orang akan mengerti.”
“Aku cuma nggak mau mengecewakan mamaku.”
“Aku paham. Tapi, nggak ada lagi yang bisa kita lakukan. Lea is Lea. Kalau dia tidak mau, maka dia tidak akan mau.”
“Bagaimana kamu bisa bersabar sama dia, Tina?”
Tina tersenyum. “Aku harus, karena aku menyayanginya. Cuma dengan menyayangi Lea, aku dapat membalas budi almarhum Tante Ariela. You’ve already knew the story. Kamu pasti mengerti.”
Napas Juna terempas pelan. Ia berusaha mengendalikan dirinya, meredam emosinya. Tidak seharusnya ia menanyakan alasan Tina selalu berusaha membela dan melindungi Lea. Ia telah menceritakannya beberapa minggu lalu padanya, menjelang persiapan acara pernikahan mama dan Om Ben yang ditolak mentah-mentah oleh Lea. Yang membuatnya berusaha keras menahan emosi dengan perlakuan Lea pada mamanya dan juga dirinya.  Cerita hidup Lea, membuat Juna bersimpati padanya. Mengesampingkan rumor negatif lain yang tersebar di luar sana mengenai kehidupan pribadinya. 
...
(Bersambung)

gambar dari sini
Family isn't always blood. It's the people in your life who want you in theirs. The ones who accept you for who you are. The ones who would do anything to see you smile, and who love you no matter what.

Read more...
Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP