The Adorables (7): The Touch

>> Wednesday, July 15, 2015

Baca: The Adorables (6)


The Touch


SUNGGUH canggung rasanya. Berada di dalam satu kendaraan tanpa bicara sepatah kata pun. Yah, meskipun Arata duduk di kursi depan mengemudikan mobil dan Lea duduk di belakang di kursi penumpang, tetap saja suasana jadi tidak nyaman karena keheningan janggal yang mengganggu. Seharusnya ada percakapan kosong yang bisa dibangun, atau mungkin…, beberapa pertanyaan ingin tahu yang dibalas dengan jawaban informatif yang diharapkan bisa berguna untuk menceriakan suasana. Namun tak ada satu pun yang berinisiatif. Bahkan Lea, yang kendati sangat ingin mengeluarkan suara, memilih untuk menutup mulut rapat-rapat karena tak tahu harus mengetengahkan topik apa yang menurutnya dapat menyambung komunikasi antara ia dan Arata. Ia ragu, Arata akan membalas perkataannya. Namun akhirnya, ketika mereka telah mendekati Board House, tepatnya di lampu merah terakhir dimana mobil mereka berhenti untuk kesekian kali berhenti, pertahanan Lea jebol. Ia membuka mulutnya, dan nama Arata terselip keluar dari tenggorokannya.
“Ya, Nona Lea?” sahut Arata, seraya mengerling Lea dari spion depan.
“Kenapa jadi kamu yang jemput?”
Arata menyunggingkan senyum. “Karena memang tugas saya menjemput Yuujin.”
“Nggak ada supir lain?”
“Ada. Tapi khusus untuk orang-orang tertentu di Black House, saya sendiri yang mengantar atau menjemput mereka kemana pun. Memangnya kenapa, Nona?”
Nggak sih.” Lea memiringkan kepalanya sedikit. “Cuma… sebenarnya aku bisa berangkat sendiri. Supaya nggak merepotkan.”
“Tidak merepotkan sama sekali, Nona,” senyum Arata. “Sudah pekerjaan yang harus saya lakukan.”
Lea mengangguk-angguk. Memalingkan muka sejenak ke arah jendela. Sementara itu Arata sudah kembali menginjak pedal gas mobil. Melepaskan diri dari lampu merah yang telah berganti hijau.
“Berapa Yuujin yang sudah pernah naik mobil ini?” lanjut Lea beberapa saat kemudian. Sengaja menyelipkan kekeh kecil sebagai isyarat kalau ia tidak serius menanyakannya. Dan saat Arata mengatakan, ‘tak ada’, dahinya seketika berkerut.
“Ini kali pertama saya ditugaskan untuk menjaga seorang Yuujin,” tambah Arata.
“Jadi… kamu nggak pernah lihat Yuujin yang sebelumnya?”
“Saya belum ada di Black House saat itu.”
“Di… mana?” tanya Lea takut-takut.
Melalui kaca spion, Arata memperlihatkan senyum manisnya. “Di suatu tempat, di mana saya seharusnya berada, Nona.”
Lea mengembuskan napas perlahan. Jawaban misterius Arata menandakan kalau ia tak ingin membicarakannya. Sekali lagi ia mengangguk, memberitahu dirinya sendiri untuk memahami kemisteriusan Arata.
“Berarti besok, kamu akan jemput saya lagi?”
“Ya, Nona.”
Lea tersenyum jenaka. “Besok…, kalau begitu, aku duduk di sebelah kamu ya? Rasanya nggak enak banget. Kita sama-sama kerja di Black House, tapi… aku duduk di belakang. Sepertinya saja…, aku orang penting.”
“Anda memang penting,” timpal Arata. “Anda adalah Yuujin Tuan Shinji.”
Lea menggigit bibir. Melempar pandang ke jendela mobil. “Aku… bahkan belum tentu menyandang sebutan itu…”
“Kenapa Nona punya pikiran begitu?”
“Kayanya Shinji nggak suka aku.”
Terdengar dengus geli dari Arata. Lea melihat ke spion depan dan menemukan kedua mata hitam laki-laki tampan itu menyipit memandangnya.
“Tuan Shinji, memang tidak suka semua orang,” ujar Arata. “Jadi Nona bukan satu-satunya. Kalau ia sampai menyukai seseorang, akan menjadi sesuatu yang tidak normal di Black House.”
Mau tidak mau Lea terkekeh. “Berarti, aku boleh duduk di sebelah kamu besok?”
“Kalau itu membuat Nona merasa lebih nyaman, tentu saja,” jawab Arata.
“Thanks…, Arata.”
“Sama-sama, Nona Lea.”
 Setelah itu, senyap lagi. Mobil sudah mencapai gerbang pertama Board House dan Lea mesti menempelkan ID card-nya ke mesin pemindai. Tak berapa lama kemudian mobil sedan hitam itu melaju kembali melalui gerbang dan memasuki area perumahan elit tersebut. Lea menempelkan bagian samping kepalanya di kaca jendela mobil. Memerhatikan satu demi satu rumah-rumah besar yang mereka lewati dengan mata mengejap pelan. Pikirannya tak tentu; setengah mengagumi kemegahan bangunan-bangunan tersebut, dan setengahnya lagi… kosong.
Entah bagaimana Black House telah membuat perasaannya campur aduk sejak pertama kali ia memasuki rumah tersebut. Tak ada hal lain yang mengisi ruang kepalanya selain itu. Kemisteriusannya, kerahasiaannya, penghuninya, memunculkan sesuatu yang meresahkan yang membuatnya menjadi amat penasaran sekaligus takut. Ada apa sebenarnya di sana? Siapa keluarga Kuroi itu sebenarnya? Dan Shinji… Oh, Lea bahkan tak bisa lagi berpikir tentang dia. Sikap angkuh dan kasarnya yang kemarin ia tunjukkan padanya, sudah cukup membuatnya pesimis atas kelangsungan pekerjaannya di Black House. Apa bisa ia bekerja dengan orang seperti itu? Apa yang membuat Dai begitu yakin, kalau ia akan menjadi Yuujin yang tepat untuk Shinji? Untungnya ada Juna, yang selalu berusaha menghiburnya. Selalu bersikap santai dan apa adanya setiap berhadapan dengannya, sehingga membuatnya lebih tenang. Bahkan sepertinya, cuma dia satu-satunya, yang peduli pada dirinya; yang benar-benar melihat keberadaannya di sana. Juna… baik. Kalau ia tak ada, Black House mungkin cuma hitam. Tak ada warna lain.
Nona Lea. Nona Lea. Nona!”
Lea tersentak. Segera menjauhkan wajahnya dari jendela, dan memandang Arata yang mengerutkan kening padanya. Kepalanya berpaling hampir sembilan puluh derajat demi menarik Lea dari lamunan.
“Kita sudah sampai,” Arata memberitahu. Tersenyum.
Lea celingukan. Mobil sudah berhenti—bagaimana bisa ia sampai tak tahu?—tapi bukan di depan Black House atau di belakangnya, melainkan di depan beranda rumah berdinding kayu putih kapur, dengan hiasan colorful yang kemarin sempat ia lihat saat mengikuti Dai ke dojo.
“Ini…, rumah siapa?”
“Tuan Shinji, tinggal di sini.”
Mata Lea membeliak. Ia ingin bertanya sesuatu pada Arata, namun Arata telah lebih dulu turun dari mobil. Dan tak sampai tiga detik, telah berada di sisi kiri mobil, membukakan pintu untuk Lea. Mau tak mau, meskipun ragu, Lea menurunkan kakinya satu per satu menjejak paving block. Mengeluarkan tubuhnya secara keseluruhan dari sedan hitam tersebut, dan berdiri menghadap rumah yang menjulang di depannya. Mengapit erah tali tas dengan kedua tangan untuk mengatasi kegugupannya. Ia sudah lupa, apa yang hendak ia tanyakan pada Arata.
The White House, ia membatin. Menjelajah seluruh sudut rumah yang tampak di matanya. “Apa kita nggak sebaiknya ke Black House dulu?”
“Tuan Dai minta Anda langsung diantar kemari, Nona.”
“Oh,” senyum Lea muram.
Pupus sudah harapannya bertemu Juna hari ini. Tapi bukan itu saja yang membuatnya gundah, melainkan penampilannya juga. Ia merasa under-dress; cuma mengenakan kemeja longgar bercorak Leopard dan celana jins saja. Mengingat protes Juna kemarin perihal pakaiannya yang terlalu formal, membuatnya berpikir ia sebaiknya mengenakan busana santai hari ini. Namun nyatanya, ia harus langsung bertemu Shinji. Dan ia tak tahu, bagaimana penilaian cowok itu begitu melihatnya nanti. Jujur saja, ia sebal dengan dirinya sendiri sekarang.
“Kalau Nona butuh sesuatu, Nona bisa telpon ke Black House,” kata Arata, mengalihkan pikiran Lea. “Tekan nol, dan akan ada yang datang kemari. Makan siang akan disiapkan jam setengah sebelas. Dan makanan kecil ada di dalam kulkas. Bila Nona mau memasak sesuatu, semua bahan makanan ada di dalam lemari di dapur. Nomor ponsel saya pastinya sudah ada di ponsel Nona, jadi Nona bisa hubungi saya bila Nona membutuhkan saya.”
Lea mengernyit. Seingatnya, ia tidak punya nomor ponsel Arata. Ingin memberitahu Arata, tapi mulutnya susah digerakkan. Cuma matanya saja yang mengejap bingung.
“Baik, Nona. Saya pergi dulu.”
“Ka—kamu…, nggak ikut masuk dulu…, Arata?” tanya Lea buru-buru, separo-kaget, separo-cemas. Napas dan jantungnya sekarang sama-sama tak keruan.
“Saya tidak diperkenankan untuk masuk, kecuali dalam keadaan darurat, Nona.” Arata tersenyum kecil, kemudian bicara lagi. “Nona tidak perlu khawatir, Tuan Shinji…, orang yang baik.”
Lea mengangkat wajah. Kemudian tersenyum; meringis.
“Saya pergi,” pamit Arata lagi. Mengangguk sopan.
“Oke.”
Arata kembali memutari mobil dan masuk ke dalam. Tak lama, mesin mobil menderu, dan roda-roda yang menyangganya berputar pelan. Perlahan tapi pasti menjauhi Lea dan rumah putih di belakangnya.
Lea mengempaskan napas tajam. Berbalik, dan kembali memandang rumah di depannya. Satu demi satu kakinya bergerak, menyusur jalan kecil menuju undakan teras kayu yang akan membawanya ke pintu kayu berkaca gelap di seberang teras.
Semakin dekat, Lea menyadari kalau rumah itu memang penuh warna yang ceria. Dinding kayunya yang bercat putih, seolah merupakan kanvas yang siap ditempeli oleh warna apa pun untuk mengisi bagian kosongnya. Mulai dari jendela-jendela ramping yang mengapit di kanan-kiri pintu masuk; kusennya diwarnai dengan warna lembut yang memanjakan mata. Dan saat ia mencapai puncak undakan, furnitur kayu gaya kuno—meja, kursi, lemari berlaci kecil—bertekstur kasar dengan warna berbeda didesakkan ke dinding di depan dua pasang jendela. Semua kursi dialasi semacam kain rajut motif bunga dengan warna cerah dan dilengkapi dengan cushion dengan sarung sama meriahnya yang disandarkan di masing-masing punggung kursi. Pot-pot tanah liat yang berisi tanaman hijau besar dan kecil, diletakkan di permukaan pagar pembatas, dan di plafon enam sangkar burung warna putih, kuning dan hijau yang alih-alih berisi burung digantikan dengan lampu di dalamnya menggantung, bergoyang-goyang lembut tertiup angin.
Di atas pintu masuk, ada kain berwarna hijau dengan motif bunga besar berwarna shocking pink yang ditempelkan sebagai hiasan. Beberapa kanvas berlukiskan gambar-gambar abstrak dengan pemilihan warna yang absurd turut menemani melengkapi kemeriahan warna. Unik, menurut Lea. Dan, mencerahkan mata.
Bohemian, Lea bergumam pada dirinya sendiri. Rumah ini bergaya Bohemian. Tapi ia ragu, kalau Shinji yang memilih gaya bohemian untuk rumah yang ia tinggali. Dia tidak kelihatan seperti orang yang… well,… santai dan ekspresif, seperti halnya para Hippies.
Lea mengetuk kaca di pintu, dan tak mendapatkan respon dari sisi lain di baliknya. Kembali ia mengetuk—agak lebih keras kali ini, dan lagi, tak ada yang menjawab atau setidaknya bergerak atau bergeser di dalam. Setelah ketiga kalinya, dan usahanya tak kunjung mendatangkan si penghuni rumah, Lea memberanikan diri masuk tanpa ijin. Memutar gagang pintu, dan mendorongnya membuka.
Saat ia masuk, yang pertama ia lihat adalah hammock berbahan kain tambang ungu berayun tenang di tengah ruang duduk. Bingkai kayu teratasnya dihubungkan oleh pasak yang tertanam di siku-siku kayu atap rumah oleh tali tambang putih yang kontras dengan warna hammock tersebut.
Pandangannya berlanjut ke sekeliling ruangan, yang hampir semua funiturnya didominasi oleh kayu bertampilan tua; etnik, bocel-bocel dengan cat tak merata, seakan saja siapa pun yang diberi tugas mengecatnya sedang dalam keadaan galau. Di tengah, di atas lantai kayunya yang berwarna putih pucat, dua matras lebar dengan permukaan empuk ditumpuk jadi satu, dan dijejali banyak bantal dengan motif dan warna berbeda yang mengitari tepiannya, menggantikan fungsi sofa. Sebuah lampu warna putih berbentuk cangkang kerang menggantung di tengahnya. Dan sepertinya adalah satu-satunya benda yang warnanya agak kalem dibandingkan yang lain.
Lea berjalan, dengan senyum takjub di wajah. Ia sangat menyukai rumah dengan interior bergaya bohemian, dan sekarang, ia benar-benar berada di dalam salah satunya. Perabotannya, hiasannya, lukisan-lukisan di dindingnya, suasana, bahkan baunya benar-benar amat bohemian.
Ia menghampiri salah satu dinding, yang ditempeli rak kayu susun tiga; rak atas untuk tempat-tempat foto—bukan foto Shinji atau orang-orang Black House, melainkan foto dari quote-quote favorit serta foto pemandangan alam atau hal-hal yang tak terkait dengan si pemilik rumah; rak kedua dan ketiga ditempati oleh barisan buku bersampul sama cerianya; dan rak keempat, dipenuhi oleh barang-barang kecil dari tanah liat seperti pot, guci, cangkir serta keranjang-keranjang anyam mini yang sarat dengan benda-benda entah apa. Di salah satu sisi, ada sepeda tua warna coklat kayu disandarkan asal di dinding bata di samping rak. Ia sentuh stangnya dengan satu tangan, tersenyum simpul ketika ingatan masa kecil menyambanginya; ia dan Mina yang sedang belajar naik sepeda bersama ayah.
“Sedang apa kamu?”
Lea terlonjak, menjauhkan tangannya dengan spontan dari sepeda tersebut, dan berpaling. Shinji bersandar di ujung kisi-kisi kayu yang membatasi ruang tamu dengan ruang di belakangnya. Dengan santai meneguk sesuatu yang mengepul dari cangkir yang dipegangnya.
Ia sepertinya baru bangun; masih mengenakan kaus oblong putih polos dan jogger pants abu-abu sebetis, plus rambutnya yang sedikit basah mencuat ke beberapa arah yang tak semestinya. Ditariknya cangkir dari bibirnya. Memperlihatkan wajah tampannya pada Lea yang masih terpaku di seberang ruangan. Berdiri kaku, tak tahu harus apa.
“Hei,” Shinji mengedikkan dagu. “Apa kamu bisu? Nggak bisa ngomong?”
Lea menelan ludah. Berusaha secepatnya mengendalikan diri dengan bernapas pelan dan teratur.
“Sori,” itu kata pertama yang dihasilkan oleh otaknya. “Saya kaget.”
Tak ada respon. Shinji kembali menyeruput kopi dari cangkirnya lagi. Kendati begitu matanya tak bergeser sama sekali dari Lea. Dan itu membuat Lea jadi bertambah grogi.
“Kamu suka rumahku?”
Well, itu bukan pertanyaan yang Lea duga. Bahkan ia tak berpikir Shinji akan bertanya apa pun, melainkan akan mengusirnya kembali ke Black House (jujur saja, ia mengharapkannya). Tapi, apa pertanyaan itu, sekadar pertanyaan untuk menjebaknya saja? Agar ketika ia salah menjawab, Shinji akan buru-buru menghinanya seperti kemarin, baru kemudian menyuruhnya pergi. Bisa saja kan? Tapi… entahlah.
“Saya… suka,” Lea berkata dalam suara pelan. “Suasananya… nyaman. Penuh warna.” Ia berusaha tersenyum, tapi jelas-jelas ia merasa kalau itu kelihatan seperti seringai aneh.
Lagi, Shinji diam. Sepertinya ia lebih tertarik memandangi Lea daripada mendengar jawabannya atas pertanyaannya barusan. Dari jauh, Lea dapat merasakan kedua mata kelabu Shinji mengekorinya. Tatapan dinginnya serasa menusuk sampai ke tulang. Ia merasa tak nyaman.
“Aku suka melukis.”
Lea berusaha keras tak membelalak. Lagi-lagi kalimat tak disangka. “Lukisan apa?”
“Apa saja. Yang menurutku pantas dilukis. Kau suka melukis?” Shinji menjauhkan badannya dari kisi ruangan. Berdiri tegak sekarang.
“Nggak. Aku… lebih suka menikmati saja.” Kali ini Lea benar-benar menyeringai.
“Kamu bisa bela diri? Sepertinya tidak.” Shinji menyimpulkan sendiri. “Terus apa yang membuat Dai bersikeras membuat kamu jadi Yuujinku?”
Dan sebelum Lea menjawab, Shinji sudah membuka mulutnya lagi. “Dari tampangmu, jelas kamu juga bingung soal itu.” Ia mendengus. “Mungkin kamu diperuntukkan untuk menghiburku?”
Lea memilih untuk mengabaikan pertanyaan Shinji. Mengembuskan napas amat pelan untuk menenangkan diri.
“Oke. Lepas sepatu kamu, dan taruh di rak sepatu. Ganti sama sandal rumah,” suruh Shinji sejenak kemudian. Langsung berbalik, dan berjalan masuk ke dalam. Meninggalkan Lea sendirian.
Setelah melepaskan sepatu ketsnya, dan menggantinya dengan sandal rumah yang telah tersedia di rak sepatu dekat pintu, Lea melangkahkan kaki masuk ke bagian dalam rumah dimana Shinji menghilang beberapa saat tadi. Menjejakkan kaki pelan menyusur koridor yang lantainya dialasi permadani dengan corak dan warna berbeda, yang mengantarkannya ke ruang bergaya boho lain yang lebih luas dan terang.
Atapnya yang miring berwarna putih cerah, membentuk segitiga sama kaki, yang terdiri dari kisi-kisi kayu yang dilapisi asbes plastik transparan yang memperlihatkan sedikit tampilan langit di atas.  Mempersilakan cahaya matahari masuk dengan bebas melalui celah-celahnya. Sebuah lampu besar bergaya Maroko bergelantungan di tengah, tepat di atas meja kayu bundar besar yang sepertinya adalah meja makan. Tanaman rambat, dibiarkan tumbuh melalui beberapa pasak kayu. Menjulurkan sulur-sulur hijaunya dengan bebas ke bawah. Sebuah rak sarat buku, satu set sofa—panjang dan tunggal (sepertinya terbuat dari kain-kain perca), buffet, dan benda-benda lainnya diletakkan di sisi lain ruangan dengan tatanan tak beraturan namun menarik. Mungkin karena warnanya yang amat ceria, atau juga karena bentuk-bentuknya yang tak biasa.
Shinji duduk di salah satu kursi kayu yang mengelilingi meja bundar. Menyantap roti panggang, seraya memandang halaman rumput di balik salah satu jendela kaca besar di seberang. Sebuah kanvas bersandar nyaman di stan kayu tak berapa jauh dari kursi yang ia duduki. Siluet perempuan yang diwakili oleh guratan beberapa warna cat minyak memenuhi permukaannya. Entah kenapa, lukisan tersebut mengesankan kesedihan yang tersembunyi.
“Duduk.”
Lea tersentak. Menarik matanya buru-buru dari lukisan dan duduk di salah satu kursi di seberang Shinji. Pandangannya sekarang terpaku ke arah sekumpulan roti panggang di atas piring pipih di tengah meja, segelas susu putih yang tak tersentuh dan boks anyaman berisi setangkap tisu.
“Umur kamu berapa?” Shinji bertanya, masih mengunyah sisa roti di mulutnya.
“Dua lima.”
“Seumuran denganku.”
Lea mengangguk. “Tanggal lahir yang sama, bintang yang sama—”
“Warna mata yang sama.”
Senyum simpul terhias di wajah Lea. “Kebetulan yang aneh.”
Ganti Shinji yang tersenyum simpul, sementara Lea berupaya menyembunyikan kekikukannya dengan meringis. Dan ketika dirasakannya tak berhasil, ia menundukkan kepalanya ke arah dada.
“Rule di rumah ini...” Mendadak Shinji bicara, setelah sebelumnya meneguk habis sisa kopi di cangkirnya.
Lea mengangkat muka. Mendengarkan dengan saksama.
No shoes. Sepatu cuma diperkenankan sampai foyer. Kalau masuk ke dalam, ganti dengan sandal rumah.”
Lea mengangguk paham. “Oke.”
“Karena kamu seumuran sama aku…, jangan terlalu banyak basa-basi.” Shinji menambahkan ringisan di sela kalimatnya, seolah menunjukkan rasa jijik tingkat tinggi. “Just be yourself. Bicara seperti apa adanya. Aku sudah cukup mendengar Dai dan semua yang ada di rumah depan itu ngomong dengan kata-kata yang tidak kumengerti, dan bertele-tele.”
Lea hampir saja mendengus geli.
“Apa pun yang aku katakan sama kamu, nggak bisa kamu sampaikan pada orang lain. What ever happen here, stay in here.”
Sekali lagi, Lea memberikan anggukan kecil.
“Apa ada keberatan?”
Lea menggeleng. “Nggak. Saya paham.”
“Ok. We’re on.” Shinji menjulurkan tangan. “Come on,” bujuknya, ketika Lea tampak ragu menyambut tangannya. “Kalau dua orang menyepakati sesuatu, harus berjabat tangan kan?”
Lea tersenyum kecil, dan mengulurkan tangan kanannya untuk menjabat tangan Shinji. Namun mendadak saja, entah bagaimana atau kenapa, sesuatu terjadi ketika jari-jemari mereka bersentuhan. Lea, langsung melompat ke belakang dan meremas tangan kanannya dengan tangan yang lain seakan melindunginya dari sesuatu. Sedangkan Shinji, masih berada di kursinya, namun punggungnya bersandar lemas tanpa daya. Baik mukanya, maupun muka Lea kelihatan syok, dan napas keduanya terengah.
“Apa itu?” tanya Lea. “Siapa orang-orang itu?”
“Kamu lihat?” Shinji mencondongkan badannya ke depan. Kedua tangannya mencengkeram paha. Ia kaget, tapi kelihatan antusias.
“Tentu saja aku lihat,” sergah Lea panik. “Tapi… Apa—?”
“Oh, my God.”
“Kenapa?”
“Apa… kamu pernah melihat sesuatu sebelumnya? Hanya dengan menyentuh orang lain?”
“Nggak. Ini… kali pertama. Dan…” Lea kehabisan kata. “Apa yang terjadi?” ia benar-benar panik.
Suara langkah terdengar memasuki rumah, saat Shinji baru saja akan mulai bicara. Seketika ia bungkam. Menyandarkan punggungnya lagi, dan menyilangkan tangan di dada. Dalam bisikan yang mendesis, ia berkata pada Lea yang masih menunggu jawaban untuk tidak mengatakan apa pun mengenai apa yang terjadi beberapa saat lalu pada siapa pun yang datang.
Lea tidak perlu sepakat dengannya, karena dia memang tidak punya niat untuk itu. Apa yang dialaminya barusan tidak masuk akal. Siapa pun yang mendengar ceritanya pastilah akan menganggapnya gila.
Hey, Guys.”
Lega rasanya Lea melihat Juna. Tampang paniknya seketika berubah ceria. Kehadiran Juna, apa pun tujuannya, membuatnya merasa aman dan tenang. Seakan saja tak ada satu pun bahaya yang bisa menyentuhnya. Selain itu, Juna yang hari ini mengenakan Chef jacket hitam, kelihatan lebih tampan dari biasanya. Sehingga membuat pikiran Lea benar-benar teralih.
“Aku membawakan… minum kamu, Shin. Seperti biasa.” Juna menyodorkan mug stainless yang tertutup rapat pada Shinji. “Minum. Jangan dibuang seperti kemarin.”
Ekspresi Shinji kentara sekali protes, tapi bibirnya mengatup sedikit mencibir. Ia menerima mug tersebut dengan enggan, dan menaruhnya di meja buru-buru.
“Sampai kapan aku harus minum itu?” Shinji mengedikkan muka ke arah mug yang berdiri nyaman di permukaan meja.
“Sampai kamu nggak perlu minum lagi,” sahut Juna.
“Apa itu obat?” Lea menanyai Juna.
“Bukan,” Shinji yang menjawab. “Cuma minuman sampah.”
“Dan,” Juna bicara pada Lea, “tugasmu memastikan kalau dia”—ia menunjuk Shinji—“menghabiskan minuman sampah itu. Karena dia harus minum setiap hari.”
Lea meringis. Tak tahu bagaimana harus menimpali kata-kata Juna. Meskipun begitu ia mengangguk. Menyanggupi.
“Ok. Aku tinggal kalian lagi,” ujar Juna. “Be nice to her, Shin. Bye, Lea.”
Bye, Chef.”
Lea memandang punggung Juna sampai menghilang dari jangkauan mata. Baru setelah itu ia kembali menghadapkan wajahnya ke arah Shinji, yang ternyata sedang mengamatinya.
“Kamu suka sama Juna?” tanyanya tanpa basa-basi.
“No. Aku cuma… kagum. Aku ngefans sama Chef Juna.”
“Kamu suka sama dia.” Shinji nyengir.
“Aku—”
“Ya, ya,” potong Shinji. “Kamu nggak suka dia, tapi cuma kagum. End of discussion.
“Jadi,” Lea teringat lagi perihal apa yang terjadi pada mereka setengah jam lalu. “Apa yang terjadi?”
“Apa? Yang mana?”
“Yang… tadi. Sebelum Juna datang. Semua kelebatan itu. Apa yang aku—dan kamu lihat. Apa itu?”
“Aku sendiri nggak yakin.”
“Tapi, kamu sepertinya tahu…”
“Sepertinya aku lupa sekarang.”
“Apa?”
Shinji berdiri dari kursi, memasukkan satu tangannya ke saku celana, dan berkata santai, “Easy, Lea. Ini hari pertama kita. Aku dan kamu bisa saja tegang dan akhirnya membuat kita merasakan sesuatu yang aneh. Anggap saja…, fenomena alam.”
Lea tampak kebingungan.
“Aku mau mandi dulu,” kata Shinji lagi. “Sementara itu, tolong siapkan minuman sampah itu untukku. Nanti kita ngobrol lagi, oke?”
Sebelum Lea sempat menjawab, Shinji sudah menyeret kakinya pergi keluar ruangan menuju koridor dan menghilang di balik tembok. 

(Bersambung)

gambar dari sini

Read more...
Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP