The Adorables (5): Grey

>> Monday, May 18, 2015

Baca: The Adorables (4)


Grey


JUNA memberitahu Lea kalau ia mendapatkan pesan teks dari Dai pagi ini, meminta tolong padanya untuk menjemput Lea ke rumahnya yang kebetulan searah dengan apartemen Juna, agar ia bisa melewati gerbang Board House tanpa kendala.
Pass card-nya belum selesai, dan pastinya ia akan kesulitan untuk masuk ke Board House tanpa tanda pengenal.
“Komputer mereka sedang bermasalah kemarin,” kata Juna saat mereka akan berangkat. “Jadi email Dai nggak mereka terima. Dan kartu pass itu mutlak. Siapa pun nggak akan bisa masuk tanpa itu.”
Lea mengalihkan matanya dari jendela, dimana Mina dan Raenan sedang mengintip terang-terangan dari balik gorden. Mina masih tetap penasaran perihal hubungan tak terjelaskan antara dirinya dan Juna. Hingga sampai Lea berangkat masih terus mendesaknya untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
“Berarti nanti saya nggak bisa masuk…”
“Makanya Dai minta aku yang jemput.” Juna naik ke motor Ducati hitamnya dan menyodorkan helm warna hitam pada Lea. “Aku yang akan antar kamu untuk urus pass-nya sendiri.”
Lea ber-hm pelan. Menerima helm dengan ragu, seraya mengamati motor besar di depannya. Ducati memang keren, tapi dia takut naik. Lebih memilih motor bebek biasa yang lajunya lebih normal dibandingkan motor pembalap tersebut. Mungkin, sebaiknya dia bilang pada Juna kalau dia akan pinjam skuter Raenan dan mengekorinya dari belakang. Tapi, dia pun tidak yakin bisa mengimbangi kecepatan Ducati. Yang benar saja?
Are you ok?” tanya Juna, menangkap ekspresi ragu di muka Lea.
Lea cuma tersenyum, atau lebih tepat disebut meringis, setelah itu naik ke atas motor. Berjanji pada dirinya sendiri kalau dia tidak akan membonceng motor ini lagi—apa pun situasinya, karena jujur saja ia merasa tidak nyaman duduk di joknya.
Kenapa sih, dia nggak naik motor biasa aja? Gerutu Lea dalam hati, sembari mengenakan helm. Tapi dia Chef Juna, yang identik dengan motor gede a.k.a Harley Davidsonnya. Akan konyol sekali kalau dia naik motor bebek, dengan tampilan gahar lengkap dengan jaket kulit, jins belel plus sepatu bikers.
“Oke, Lea?” Juna menanyainya, sebelum menghidupkan motor.
“Ya,” jawab Lea. Satu tangannya berpegangan erat di bagian belakang motor, sementara tangannya yang lain mengapit shoulder bagnya.
“Oke.”
Juna mengenakan helm besar, lalu menghidupkan mesin motornya. Memperdengarkan raungan kencang di pekarangan rumah.
“Aku cuma menyarankan…” Juna melihat Lea melalui bahu, “sebaiknya kamu pegangan erat-erat di sini.” Ia menepuk area pinggangnya.
“Sudah,” balas Lea kendati ragu. “Saya sudah pegangan.”
Kepala Juna kembali ke asal. Dan dalam suara pelan yang hanya didengar Lea ia berkata, “Yang penting aku sudah kasih tahu.”
Setelah itu ia menginjak pedal gigi motornya, memutar gas, dan dalam sekelebat melesat dari pekarangan.
Oh, lebih baik aku mati saja, pikir Lea panik, tanpa berani melepaskan kedua tangannya dari pinggang Juna yang langsung ia peluk begitu motor melaju kencang tanpa peringatan.

Lea tahu kalau Juna sangat memfavoritkan motor besar sekelas Harley. Namun dia tak pernah menyangka, kalau ia juga sangat ahli mengendarai motor sekelas motor yang dipergunakan di kompetisi Moto GP. Dengan lihai menyalip kendaraan yang menghambat jalannya dengan luwes, seakan saja dia memang raja jalanan yang tak terkalahkan. Sementara Lea, yang sama sekali tak berani memandang ke depan, memilih menyembunyikan mukanya dari awal mereka keluar gerbang komplek rumah sampai akhirnya tiba di gerbang megah Board House dalam waktu yang bisa dibilang singkat.
Lea tak mau menebak, berapa kecepatan Ducatinya itu. Yang pasti mukanya sekarang kebas karena terterpa angin sepanjang perjalanan.
“Pagi, Chef,” salah satu petugas keamanan menyapa melalui microphone yang terhubung oleh speaker di luar pagar besi yang tertutup rapat. Sementara ia melongok ke arah mereka berdua dari balik kaca pos keamanan di baliknya. “Silakan, tunjukkan Pass-nya.”
Juna menarik turun risleting jaket kulitnya sedikit, untuk merogoh ke saku kaus di baliknya. Mengeluarkan sebuah kartu berbahan keras menyerupai kartu kredit berwarna hitam dengan bar code di permukaan, dan menempelkannya ke sebuah layar monitor kosong yang menyembul di tembok kanan gerbang. Orang awam seperti Lea pasti menyangka layar tersebut rusak atau cuma dipasang sebagai pajangan semata, kalau saja tidak terdengar suara tit dua kali sejenak kemudian, disusul suara perempuan mengatakan ‘verified’ dan pintu gerbang yang bergeser otomatis setelahnya.
Juna menjalankan motornya lagi, dan masuk melewati pintu pagar berteralis besi yang segera saja menutup begitu ia dan Lea telah berada di dalam. Di depan pos, ia berhenti, dan memperkenalkan Lea pada kedua petugas keamanan yang murah senyum, mengatakan kalau Lea adalah anggota baru Black House.
Petugas keamanan yang menyebutkan namanya dengan sopan pada Lea, meminta maaf atas masalah komputer yang membuat mereka tidak dapat memproses Pass Lea tepat waktu. Dan kemudian meminta Lea dengan tak kalah sopan, untuk menempelkan jari jemarinya di mesin scan portable serta menanyakan padanya kesediaannya untuk foto retina mata. 
Lea tentu saja tidak bisa menolak, kalau memang begitu prosedurnya. Hanya saja di benaknya ia berpikir kalau proses pembuatan kartu Pass-nya persis sama dengan proses pembuatan KTP. Hm.
Setelah kartu pass-nya jadi, ia dan Juna melanjutkan perjalanan. Kali ini Juna membiarkan motornya melaju santai menyusur jalan aspal komplek. Tak bicara, atau mungkin dia bingung ingin bicara apa. Sementara Lea sendiri, meskipun ingin sekali menanyakan banyak hal, memilih tutup mulut. Dia tidak mau Juna mencapnya sebagai cewek cerewet, sok akrab atau apalah, sementara mereka baru saling kenal dua hari ini.
Walaupun Juna bersikap baik padanya—di luar perkiraannya selama ini sebelum bertemu langsung, Lea tetap menjaga rasa hormatnya padanya. Bagaimana pun, baginya Juna tetap idolanya. Tak peduli akan seperti apa mereka ke depannya.
Sekali lagi, Lea melewati gerbang kokoh Black House yang menjulang tinggi. Sekali lagi, melewati jalan aspal sepi dengan padang rumput luas di kanan-kiri. Menemukan kuda-kuda yang sedang berlarian lagi, dan larut bersama embusan angin yang menyegarkan.
Mendekati Black House, ia membuka helm-nya. Tinggal sedikit lagi, sampai mereka tiba di depan teras megah rumah hitam tersebut. Namun ternyata, Juna tidak berbelok ke pekarangan berkolam air mancur tersebut, melainkan mengambil jalan lain, di sisi kanan rumah, dan membawa Lea menyusur jalan aspal yang terapit deretan pohon besar menjulang berdaun rindang.
“Kita lewat belakang saja,” kata Juna, setelah helm-nya sudah ia lepas dari kepala. “Aula depan hanya diperuntukkan untuk tamu.”
Lea mengangguk paham. Kedua mata abu-abunya tak bisa dialihkan dari  pemandangan sekelilingnya, yang semakin ke dalam semakin bernuansa Jepang. Pohon bambu dengan batang hijau kini mengapit di sisi kiri menggantikan pepohonan besar sebelumnya, sementara di sisi lain, kerikil-kerikil berwarna putih beserta lampu jalan yang menyerupai arca batu berderet di sepanjang jalan yang mereka lalui. Berpot-pot bonsai ditata apik berjauhan satu sama lain di beberapa tempat, melengkapi kesan negeri Sakura yang sepertinya memang diinginkan oleh si pemilik rumah.
Di depan, Lea melihat gerbang tinggi dari kayu bercat merah, yang pernah ia lihat di beberapa film Jepang, membuat mulutnya perlahan membuka lebar karena terpukau. Di kanan-kiri gerbang, arca batu dengan ukuran dan tinggi yang lebih besar terdiam kokoh seakan menyambut siapa pun yang akan melewatinya.
Breath-taking, untuk siapa pun yang pertama melihatnya,” ujar Juna, seakan mengerti perasaan Lea.
Motor melewati gerbang kayu tersebut, dan apa yang ada di baliknya membuat Lea bertambah takjub. Membuatnya merasa benar-benar sedang ada di Jepang. Tampilan depan Black-House mungkin ala Victoria Inggris, namun di bagian belakangnya, benar-benar Jepang. Taman air yang Lea lihat sekarang membuktikannya. Dan ia tak bisa berhenti menyebut, “Oh my God,” sementara matanya membulat menjelajah areal luas yang dikelilingi kolam batu berair jernih, lengkap dengan jembatan kayu, pijakan batu bundar, ikan koi, dan bunga-bunga teratai besar yang mengapung di permukaannya menuju teras yang berada beberapa meter dari jalan aspal yang ia dan Juna lalui saat ini.
Juna menghentikan motornya di depan sebuah bangunan yang lebih kecil yang ternyata adalah garasi kendaraan. Mobil-mobil mewah yang berada di dalamnya berderet rapi dari depan sampai ke belakang—hampir semuanya berwarna hitam.
Lea turun, sementara Juna memarkir motornya bersama beberapa kendaraan roda dua lain; ada skuter, dan beberapa lainnya adalah motor besar sekelas Harley dan sekelas Ducati.
Damn!
“Masih ada taman lain kalau kamu terus jalan lurus ke sana.” Ia menunjuk ke jalan setapak kecil menuju ke gerbang kayu lain yang lebih kecil dari sebelumnya. “Biasanya untuk cocktail party atau sekadar santai. Kadang-kadang, kamu pasti akan ke sana.”
Lea cuma bisa tersenyum simpul. Lidahnya seolah mati rasa saking terkesannya.
Come on,” Juna mengajak, dan Lea menurut.
Berdua, mereka berjalan santai melewati jalan setapak yang membawa mereka ke jembatan kayu kecil di atas kolam. Melintasinya, sambil melihat ikan-ikan koi kuning, merah dan oranye berenang riang diiringi suara gemerecik yang menenangkan.
“Kakak kamu… nggak mirip kamu,” kata Juna, membuka obrolan ketika mereka hampir setengah jalan menuju undakan teras belakang. Topiknya klise, karena sudah sering kali diketengahkan oleh orang lain. Seperti Malini kemarin.
“Ya. Kakak saya memang lebih cakep kemana-mana,” timpal Lea, dengan nada sesopan mungkin.
Juna langsung tergelak. “Bukan itu…”
Terus apa? Gerutu Lea dalam hati. Entah kenapa merasa cemburu.
“Maksudku… kalian benar-benar nggak mirip. Kakak kamu cantik, tentu… tapi, sangat beda dengan kamu. Dibandingkan kamu…, dia lebih…, Indonesia.”
Reflek, Lea menoleh pada Juna. “Saya orang Indonesia, Chef.”
Juna mendengus geli. “Memang. Aku nggak meragukan itu. Cuma saja, kamu lebih…” Dia sepertinya kesulitan mendapatkan kata-kata yang tepat untuk melengkapi kalimatnya. Memandang Lea lekat-lekat seakan akan menemukan apa yang ingin dikatakannya di wajah tirusnya.
“Well,” Juna menghadapkan mukanya ke depan, “kamu cantik, tapi semacam ‘cantik’ yang nggak pernah aku lihat sebelumnya.” (Kata-kata Juna hampir sama dengan Malini kemarin) “Kamu mirip seseorang sebenarnya…”
“Siapa?”
Juna mengedikkan bahu. “Entahlah. Seseorang yang kukenal, tapi tidak pasti. Dan—” ia tersenyum simpul, “—cuma perasaanku saja.”
Lea mau tak mau ikut-ikutan berpikir, tapi tidak menemukan petunjuk apa pun perihal orang yang dikira Juna mirip dirinya. Dia lebih mengingat kata ‘cantik’ yang baru dilontarkan Juna padanya, dan cukup puas berkutat dengan itu.
“Dan,” Juna kembali bicara, “mata kakak kamu nggak abu-abu.” Sekarang dia mengerutkan kening ke bola mata Lea yang spontan membulat. “Kalau aku boleh bilang, mata abu-abu seperti mata kamu itu sangat langka. Apa ayah atau ibu kamu yang punya mata seperti itu?”
Lea menggeleng. “Mata mereka semua coklat seperti mata kakak saya. Saya… kelainan gen, mungkin.”
Cuma itu—kelainan gen—jawaban pamungkas yang selalu siap ia luncurkan pada siapa pun yang menanyakan perihal warna bola matanya.
“Yah,  maybe. Tapi untungnya…, mata itu abu-abu sempurna.”
Juna memandang Lea, dan Lea pun sebaliknya. Senyum kecil terselip di wajah Juna yang sedikit pucat, dan itu membuat Lea merona, sehingga buru-buru mengalihkan pandang darinya.
Juna Rorimpandey benar-benar tampan, ia membatin. Dan dia nggak galak. Nggak sombong atau angkuh. Semua orang harus tahu itu.
Mereka menaiki undakan teras dalam kesunyian. Lea tak tahu harus bicara apa, dan Juna sepertinya sudah memutuskan untuk tak lagi membahas apa pun lagi mengingat mereka telah sedikit lagi memasuki Black House.
Mereka melewati pintu ganda dan sampai di ruangan luas berlantai kayu hitam mengilap, dengan beberapa pilar memisahkan bagian belakang dengan ruangan lain yang lebih ke dalam. Seorang perempuan, mengenakan terusan hitam dan rambut yang digelung ketat di belakang kepala telah menunggu tak jauh dari pintu. Mengangguk sopan pada Lea dan Juna begitu mereka sampai di hadapannya, dan mengatakan kalau Lea telah ditunggu oleh Dai di aula tengah. Ia juga menawarkan pada Juna untuk meletakkan jaketnya di ruangan jaket, dan Juna menerima. Membuka jaket kulitnya, dan memberikan pada perempuan tersebut yang sepertinya senang sekali dapat melayaninya. Melipat jaket lebih dulu dengan amat rapi, lalu menyampirkannya ke lengannya yang tertutup oleh lengan panjang baju hitamnya.
Lea, melihat Juna hanya dengan kaus dan jins biasa sepeninggal jaketnya, jadi bengong. Karena laki-laki itu kelihatan jauh lebih muda dengan berpenampilan kasual seperti sekarang. Membuat jantungnya berdegup dengan kecepatan yang amat tak normal. Sama seperti kali pertama ia melihat Juna di televisi beberapa tahun silam. Dan kemarin, ketika akhirnya ia dapat bertemu dengannya secara langsung. Untuk pertama kali.
“Lea, ini Sisi,” Juna memperkenalkan perempuan itu padanya. “Asisten Kepala Pengurus Black House.”
Sisi mengangguk sopan, dan Lea nyengir. Untuk apa nyengir, dia sendiri tidak tahu. Langsung membodohi diri setelahnya.
“Kepala pengurusnya sendiri, namanya Patrice. Nanti kamu pasti ketemu. Aku ke dapur dulu. Gonna be hectic today, karena ada tamu datang. I’ll see you soon.” Juna tersenyum lebar. “Good luck.”
Lea tersenyum, dan Juna berpaling. Melenggang ke sisi kiri ruangan, menuju koridor kecil yang tersembunyi di balik pilar paling ujung, sementara Lea cuma bisa memandang punggungnya menjauh.  
“Mari, Mbak Lea,” Sisi mempersilakan. “Bapak Dai menunggu.”
Lea mengangguk, dan mengikuti Sisi dari belakang menuju ruangan lain yang jauh lebih luas dan lebih megah daripada sebelumnya.
Ruangan itu, sama seperti aula depan; luas, dan beratap tinggi. Dikelilingi jendela-jendela besar bergorden mewah, yang diperlengkap oleh dua lampu Kristal hitam besar yang menggantung di langit-langit. Sebuah tangga besar melengkung menghubungkan antara lantai satu dengan lantai di atas, sekaligus sebagai batas antara rak-rak buku kayu (yang sepertinya lebih banyak koleksi bukunya daripada di ruang kerja kemarin) di sisi kanannya, dengan area lain dimana satu set sofa tunggal dan panjang diletakkan, dialasi permadani besar bermotif entah apa yang warnanya sama gelapnya dengan lantai di bawahnya di sisi kiri.
Dibandingkan aula depan, aula ini kelihatan lebih ‘santai’, karena mungkin memang dipergunakan untuk tempat berkumpul keluarga atau siapa pun yang berhak mempergunakannya, melihat adanya set home teather lengkap dengan televisi layar datar yang ukurannya lumayan besar tak jauh dari set sofa tersebut. Mekipun begitu penataannya tetap saja rapi dan elegan.
Di sisi aula yang lain, terdapat meja makan panjang bepermukaan kaca mengilap. Dua belas kursi dengan sandaran tinggi dan jok empuk mengelilinginya. Di kursi paling ujung, Dai duduk dengan koran membuka di depannya dan roti panggang di tangan. Penampilannya sudah amat rapi; kemeja hitam, dasi abu-abu keperakan, dan celana panjang hitam. Sementara jasnya disampirkan di punggung kursi. Rambut lurusnya tersisir rapi ke belakang, dan ia wangi. Harum lembut parfumnya sudah tercium oleh hidung sejak Lea melangkah masuk ke dalam. Jujur saja, ia jadi merasa tidak percaya diri dengan penampilannya sendiri sekarang bila dihadapkan dengan Dai.
Mendengar langkah-langkah mendekat, Dai mendongak. Tersenyum, kemudian berdiri dari kursi untuk menyambut kendatangan orang yang ia tunggu. Lea salah tingkah. Gemetaran sewaktu menjabat tangan Dai.
Laki-laki ini, jelas berbeda dengan laki-laki yang ia temui dua hari lalu; ia yang mengenakan jaket bertudung, jins belel dan sepatu kets, yang berteduh di pinggir jalan bersamanya waktu itu. Yang Lea pikir cuma laki-laki biasa—orang biasa, seperti dirinya, yang tak punya posisi mentereng di sebuah perusahaan besar atau kepercayaan seseorang yang penting. Namun sekarang, ia bahkan tak terlihat seperti laki-laki biasa. Lebih dari ‘biasa’ malah. Bukan karena penampilannya saja, melainkan juga dari pembawaannya yang elegan dan confident, namun tetap sopan dan tertata.
He’s the man, Lea berkata pada dirinya sendiri. Dan berharap penuh, ia tidak berubah menjadi seorang laki-laki angkuh yang senang berteriak-teriak di kemudian hari. Tapi Lea tidak yakin, Dai punya kecenderungan seperti itu.
“Sarapan… Lea?” Dai menawarkan. Kembali duduk di kursinya, setelah mempersilakan Lea mengambil tempat di salah satu kursi makan yang tersedia.
“Sudah. Terima kasih.”
“Aku terpaksa minta tolong Juna untuk menjemput kamu tadi. Maaf, kartu passmu belum jadi seperti yang kujanjikan kemarin.”
“Nggak apa-apa. Kerusakan komputer memang biasa terjadi dan nggak bisa diduga.”
“Sekarang?”
Lea mengangguk, seraya melengkungkan senyum manis. “Kartuku sudah ada di tas. Besok nggak akan ada kendala untuk masuk.”
“Sidik jari? Pupil’s check.”
“Sudah juga.”
Dai mendengus senang. “Good, then.”
Setelah itu ia mengangguk kecil pada Sisi, yang ternyata masih berdiri di belakang Lea. Sepertinya menunggu intruksi. Dan benar saja, perempuan berwajah bulat tersebut segera berbalik dan melangkah pergi. Ketika ia kembali, ia langsung menghampiri Lea, dan menaruh map hitam dengan label ‘K’ putih di ujung kanan atas di atas meja di depannya.
Dai mengangguk lagi pada Sisi, dan ia berlalu. Baru setelah suara langkahnya tak terdengar lagi, ia bicara. “Itu kontrak kamu. Ada dua rangkap. Satu untuk kamu, satu untuk kami. Silakan dibaca dulu. Kalau ada yang nggak kamu mengerti silakan tanya. Kalau ada yang membuat kamu keberatan, sampaikan. Baca dengan detail dan hati-hati. Kalau kamu sudah tanda tangan di atas materai di halaman terakhir, berarti kamu sudah setuju, dan kamu terikat selama satu tahun dengan kami.”
Lea tersenyum muram, dan membuka map di depannya. Menemukan lembaran kertas kontrak sarat kalimat di dalamnya. Ia tidak terlalu mengerti bahasa hukum, namun ia akan berusaha keras mencermati apa yang tertera di kertas tersebut. Tidak mau main-main, mengingat orang atau perusahaan yang mempekerjakannya jelas bukan perusahaan biasa. Salah langkah, hak dan kewajibannya bisa dilanggar, dan masalah baru akan muncul. Demi Tuhan, iatidak bisa lagi membebani Mina. Apalagi karena kesalahan tersebut karena kebodohannya sendiri.
Oke, Lea, ia menyemangati dirinya sendiri. Let’s do this.
...

Beberapa kali pun Lea mengulang membaca, deretan angka itu menetap dan tak berubah. Ingin sekali mengucek matanya yang mungkin kemasukan sesuatu sehingga tak bisa melihat dengan jelas. Tapi…, dia yakin matanya baik-baik saja. Tidak mengeluarkan air karena sakit atau perih, melainkan memang ingin menetes karena girang.
Klausa yang lain telah ia baca; termasuk kerahasiaan yang kemarin telah disampaikan oleh Dai, dan ia tak keberatan bila mendapatkan sanksi karena tak bisa menjaganya, karena ia yakin pada dirinya sendiri kalau ia bisa dipercaya.
Masalah cuti, libur, dan semua yang menyangkut hak-haknya pun telah ia baca dengan tekun. Tak masalah dengan liburnya yang seminggu satu kali. Tak masalah dengan cuti yang yang harus diajukan 1 bulan sebelumnya. Dan hal-hal lain di dalamnya yang menurutnya masih wajar-wajar saja. Yang membuatnya ragu cuma satu, yakni jumlah gaji yang akan diterimanya setiap akhir bulan dan tertera di atas kertas yang sedang dipegangnya. Menganggap siapa pun orang yang membuat kontrak ini pasti salah ketik.
“Hm… Bapak Dai…”
Dont be so polite, Lea,” tegur Dai segera tanpa mengangkat mukanya dari koran.
“Umm, Dai… Masalah gaji…”
“Kenapa?”
Lea meringis. Berat menanyakan apa yang ingin ditanyakan.
“Kenapa gajinya?” Mata hitam Dai kini memandangnya. Alisnya berjingkat menunggu jawaban.
“Apa benar…” Lea harap-harap cemas. “sebesar itu?”
“Lima belas juta…, kurang?”
Lea merasa langit jatuh menimpanya sekarang. Mulutnya menganga, tapi tak ada satu suara pun yang keluar. Jiwanya seakan lepas dari badannya, dan sekarang menari-nari di belakang Dai dengan riang gembira. Lima belas juta, gajinya per bulan. Berlipat-lipat lebih besar dari gaji sebelumnya. Dai tidak bohong.
“Lea?”
Lea menarik dirinya yang sedang menari-nari konyol kembali ke badannya. Berusaha setenang mungkin saat ia mengatakan pada Dai, kalau Dai mungkin salah mengetikkan jumlah angka di gajinya. Berbasa-basi, apa ia memang pantas mendapatkan gaji sebesar itu.
“Jadi… kamu mau gaji kamu turun?” Dai bertanya dengan nada separo-geli, separo bingung.
Kepala Lea buru-buru menggeleng kanan-kiri. “Bu-bukan itu maksudku.”
So…, nggak usah ragu. Karena memang itu jumlah yang harus kamu terima, dengan beberapa alasan tertentu. Bahkan mungkin…, kurang.”
Kening Lea berkerut. Kurang? Yang benar saja.
“Tapi itu pun akan bertambah setelah kamu bisa melewati waktu tiga bulan,” sambung Dai. “Jadi… just enjoy it.”
Sekarang Lea bimbang. Berpikir, apa mungkin pekerjaan yang akan dilakukannya berbahaya atau sangat sulit, sehingga mereka memberikannya gaji sebesar itu? Dan… akan menambahkannya lagi setelah tiga bulan? Wow. Sesuatu banget.
So… everything’s ok?” Dai bertanya. “Siap tanda tangan?” Ia mengeluarkan pena yang terselip di saku kemejanya.
“Ini bukan pekerjaan berbahaya kan?”
“Nggak. Juga bukan pekerjaan yang akan buat kamu berurusan dengan hukum. Aku sudah bilang itu.”
“Kalau boleh saya tahu…, apa saja tugas saya?”
Bahu Dai terempas lemah, bersamaan dengan senyum simpulnya yang terlihat di wajah tampannya. Ia memandang Lea beberapa saat, kemudian memasukkan penanya lagi ke saku kemeja.
“Aku kasih kamu waktu tiga hari, untuk mempelajari kontrak itu lagi dengan seteliti-telitinya,” katanya. “Baca baik-baik, dan kembali padaku di hari ketiga untuk menyampaikan keputusanmu, tanpa ada pertanyaan atau keraguan lagi.”
“Bukan begitu—”
It’s ok, Lea.” Dai terdengar tulus. “Kamu punya hak untuk berpikir.”
“Tapi saya benar-benar mau kerja.”
“Aku tahu.” Dai terkekeh. “Aku cuma mau kasih kamu waktu untuk berpikir, setelah kamu tahu pekerjaannya.”
Lea menggigit bibir dan mengangguk lemah. “Kontrak ini…?”
Take it with you. Dengan catatan… confidential. Kamu pasti sudah mengerti apa maksudku.”
“Ya.”
Sebenarnya Lea ingin sekali memberitahu Mina perihal gaji yang ia terima. Tapi kerahasiaan adalah satu persyaratan dalam kontrak kerjanya; tidak boleh ada yang tahu mengenai apa pun isinya. Dan penegasan Dai barusan kembali mengingatkannya soal itu.
“Sekarang,” Dai mendadak berdiri, dan Lea mau tidak mau menuruti teladannya.  “kamu ikut aku.”
Ia menyambar jasnya dari punggung kursi, dan berjalan pergi menuju ruang belakang. Lea segera mengikuti. Memasukkan map berisi kontrak serapi mungkin di dalam tasnya dan menggerakkan kakinya menyeberangi ruangan di belakang Dai.
Lagi, ia merasa tegang. Semua misteri tentang pekerjaan yang akan ia lakukan, membuat benaknya carut-marut penuh dengan dugaan-dugaan baik maupun buruk. Berharap penuh, kalau Dai tidak menghadapkannya pada semacam binatang buas yang harus ia urus.
“Oh, Patrice.” Dai berseru kepada seorang wanita, yang muncul dari balik pilar, dan bergegas menghampirinya.
Patrice, yang namanya sempat disebutkan Juna beberapa waktu sebelumya, ternyata seorang perempuan, dengan muka bulat, bertubuh mungil, dan raut yang cerdas. Rambutnya lurus pendek berwarna coklat mengilap, kontras dengan kulit putihnya yang merona. Tingginya tak mencapai tinggi Lea, walaupun ia telah mengenakan sepatu hak tinggi untuk menyamarkannya. Kendati begitu, ia menarik. Dan seragam hitam, sama dengan yang dipakai Sisi—terusan rok hitam, dengan huruf ‘K’ putih yang dibordir rapi di bagian dada sebelah kanan, melekat manis di badannya.
“Patrice, ini Lea.” Dai memperkenalkan. “Dia Yuujin yang baru. Dan Lea, Patrice adalah Kepala Pengurus Black House. The mother of the house. ”
Lea mengernyit—Yuujin? Sementara Patrice memandangnya dengan takjub yang tak terjelaskan maknanya. Ia mengulurkan tangan, dan Lea menyambutnya.
Welcome to Black House, Miss Lea,” ucapnya dengan ketulusan yang sungguh-sungguh.
Thank you.”
“Kalau Anda mau, saya bisa taruh tas Anda di loker di ruang penyimpanan. Saya akan senang sekali melakukannya.”
Lea menyentuh tali tas yang menggantung di bahu, dan memandang Dai untuk minta persetujuan. Dai mengangguk, dan Lea mengiyakan tawaran Patrice. Melepaskan tasnya, dan memberikannya pada Patrice yang segera menerimanya dengan hati-hati.
“Nanti, salah satu dari kami akan mengantarkannya lagi bila Anda akan pulang.”
“Saya bisa ambil sendiri?” tanya Lea, dengan maksud tak ingin merepotkan. Tapi melihat senyum bingung di wajah Patrice dan mendengar dengusan Dai, ia buru-buru menambahkan, “Tentu saja kalau…, diperbolehkan.”
“Tentu saja boleh,” jawab Patrice. “Anda nanti akan diantarkan ke loker Anda.”
Lea tersenyum semanis mungkin sebagai ucapan terima kasih, sedangkan Patrice hanya mengangguk. Setelah itu, ia minta diri untuk menaruh tas Lea di tempatnya, dan Lea bersama Dai melanjutkan perjalanan.
Walaupun merasa amat kagum dengan Black House yang memiliki pengurus rumah sekelas film-film Hollywood, Lea menahan diri untuk berkomentar. Berjalan berendengan dengan Dai menyeberangi teras belakang yang baru beberapa waktu lalu ia lewati bersama Juna, dan kembali lagi ke jalan setapak setelah melewati jembatan kayu yang melintasi kolam.
Dai sendiri tak bersuara. Tak ada topik bahasan yang ia lontarkan. Dan entah benar atau tidak, Lea merasa Dai gelisah. Tapi itu jelas cuma perasaannya saja. Karena dia berpikir kalau Dai bukanlah orang yang bisa merasa gelisah tanpa sebab yang jelas.
Sekarang mereka berdua berjalan menuruti jalan setapak menuju gerbang kayu merah yang ditunjukkan Juna sebelumnya. Walaupun Dai masih tak bicara, Lea cukup terhibur dengan suara gemerecik air, desahan angin suara cicip burung yang menenangkan hati. Sampai tanpa ia sadari, kakinya telah melangkah melalui gerbang dan tiba di taman lain yang jauh lebih luas dari taman sebelumnya. Tapi itu bukan taman yang seperti Juna sebutkan, tapi labih tepat dibilang halaman karena tampilannya persis sekali dengan pekarangan di muka depan Black House. Hanya saja tak ada kolam air mancur di tengah pekarangan rumput yang berbentuk melingkar, hanya kolam air kecil, dengan gazebo mungil di tengahnya. Dan di seberang halaman terdapat sebuah bangunan rumah. Lebih kecil daripada Black House, lebih sederhana karena semuanya terbuat dari kayu dan… colorful. Dinding kayunya berwarna putih seperti kapur, namun hiasan-hiasan yang memenuhi teras dan dindingnya penuh warna.
Tempat apa itu, Lea ingin tahu. Tapi sayangnya, Dai tidak menuju ke sana, melainkan mengambil jalan setapak di sisi kanan, ke sebuah bangunan lain, yang menyerupai rumah panggung kayu khas Jepang, dengan jendela kertas dan pintu gesernya. Sayup-sayup dari dalamnya terdengar orang berteriak, ditambah suara sesuatu, sepertinya kayu atau bambu yang berbenturan keras.
Suara-suara semakin terdengar jelas begitu mereka semakin dekat. Dan itu memang suara teriakan; teriakan pendek dan keras milik laki-laki yang sepertinya lebih dari satu. Lea sempat melongok ke dalamnya melalui pintu geser yang terbuka, dan melihat beberapa orang yang semuanya mengenakan pakaian khas Jepang, duduk bersimpuh di lantai mengelilingi ruangan, sementara di tengah dua orang laki-laki—keduanya mengenakan pelindung kepala yang membuat Lea tak dapat melihat wajah mereka—sedang berkelahi menggunakan bambu panjang yang menyerupai pedang. Itu Kendo, Lea berkata dalam hati. Meskipun ia tak begitu tahu, namun ia yakin mereka sedang berlatih bela diri Kendo.
Dai menaiki undakan, dan Lea mengikuti. Di teras, ia melepas sepatu, Lea pun menuruti. Tapi alih-alih masuk ke dalam, Dai cuma berdiri di ambang pintu. Bersandar di kusennya dengan tangan dilipat ke dada. Dengan terpaksa, kendati canggung, Lea berdiri di sebelahnya. Turut menonton kedua laki-laki yang sedang bertarung sengit di tengah ruangan dengan pikiran melayang ke mana-mana. Bertanya-tanya, untuk apa sebenarnya Dai membawanya kemari.
“Yuujin adalah ‘teman’ kalau diartikan di Bahasa Indonesia,” mendadak Dai bicara. “Bukan teman biasa, melainkan teman yang memang akan terus mendampingi apa pun yang temannya lakukan, dan kemana pun temannya pergi.”
Lea mengangkat mukanya, menatap Dai bingung.
“Tugasmu adalah mendampingi salah satu pewaris Kuroi yang ada di sana itu.” Dai menganggukkan kepalanya ke arah dua laki-laki tersebut—tidak tahu yang kiri atau kanan, yang masih adu pedang dengan panas.  “Melayani dia apa pun, mengikuti kemana pun dia pergi. Bahkan ke toilet sekali pun, bila ia menginginkan.”
Mata Lea melebar tanda protes, namun Dai mengabaikan itu.
“Kamu,” kini mata Dai terpaku ke arahnya, “harus melakukan apa pun yang dia mau—sekonyol apa pun permintaannya. Namun… bukan berarti kamu tidak bisa menolak. Aku sudah mengatakan sebelumnya, tidak akan ada yang memaksa kamu untuk melakukan sesuatu yang menurut kamu merugikan diri sendiri. Dan aku… memang ingin, seseorang yang bisa berprilaku tegas; yang bisa menetapkan sikap dalam menghadapinya. Karena… seiring waktu, dia harus belajar menjadi ‘orang’ yang layak disebut pewaris.”
Dai kembali melempar pandang ke tengah ruangan. Dan Lea masih bingung, yang mana di antara kedua pria itu yang merupakan orang yang harus ia dampingi.
“Apa pun yang dia katakan padamu, yang menyangkut hubungan kerjamu, tidak usah kamu dengarkan. Aku yang mempekerjakan kamu, maka aku yang berhak memberhentikan kamu,” kata Dai lagi dengan suara dalam yang dingin. “Dia tidak punya wewenang untuk itu, jadi,” ia tersenyum pada Lea, “kamu nggak usah takut. Selama kamu melakukan hal yang benar, aku tidak akan diam.”
Lea menelan ludah. Tidak tahu bagaimana harus merespon. Dai memang telah berjanji untuk melindunginya, tapi sekaligus juga telah melemparnya ke sesuatu yang bisa membahayakan dirinya secara tidak langsung.
Penggambarannya atas pewaris Kuroi tersebut, membuatnya berpikir kalau laki-laki tersebut pastilah angkuh, sombong dan memperlakukan orang dengan semena-mena. Tapi, bagaimana nasib Yuujin sebelumnya? Pasti ada Yuujin lain kan yang pernah bekerja untuknya?
Lea baru ingin bertanya, tapi Dai tiba-tiba pergi. Menggerakkan kaki melewati ambang pintu, menyela di antara kumpulan yang mengelilingi ruangan. Pertarungan dua orang di tengah telah selesai. Lea sama sekali tak menyadari itu.
“Lea?”
Malini muncul tiba-tiba di hadapan Lea, dan Lea merasa amat lega melihatnya. Sama seperti laki-laki di dalam ruangan ia mengenakan celana hakama dan baju yang sama dengan mereka. Rambutnya dikuncir kuda, dan make upnya tidak sekentara kemarin. Bahkan sepertinya tidak mengenakan make up sama sekali. Meskipun begitu ia tetap saja cantik.
“Aku nggak tahu Dai memutuskan untuk memperkenalkan kamu pada Shinji secepat ini,” ujarnya dengan ekspresi heran.
Tepat saat itu, Dai berjalan menghampiri kedua pria di tengah, yang sedang bersalaman dan menepuk-nepuk punggung masing-masing. Perhatian Lea langsung bergeser dari Malini ke arah kedua pria tersebut, yang begitu menyadari kedatangan Dai langsung menarik diri. Seisi ruangan pun, tanpa disuruh segera membubarkan diri. Keluar dari ruangan dengan tertib tanpa tergesa. Tak perlu waktu lama, ruangan tersebut sudah kosong. Hanya tertinggal Dai dan dua laki-laki di depannya, Lea dan juga Malini yang berdiri di ambang pintu.
Salah seorang dari mereka, membuka pelindung kepalanya terlebih dulu, dan yang lain menyusul dengan gerakan lamban seolah enggan. Begitu wajah-wajah mereka terlihat, reaksi awal Lea adalah mengejap-ngejapkan mata.
Satu orang, yang menyambut Dai dengan riang, adalah laki-laki jangkung dengan kulit coklat kemerahan bagaikan terbakar matahari. Ia berahang tegas, beralis pekat, dengan bekas luka sayat di pipi, namun amat tampan. Rambutnya ikal kemerahan sebatas tengkuk. Semua yang ada di dirinya terlihat menarik, bahkan lukanya sekali pun. Dan ketika ia mengerling Lea—sepertinya Dai telah menyinggung dirinya, mata hijaunya yang menatap sayu seakan menenggelamkannya. Dan senyum simpulnya, membuat kaki Lea terasa seperti agar-agar.
“Itu Kenneth.” Malini berbisik. Mengembalikan kaki Lea yang sejenak melayang kembali berpijak.
“Pewaris… Kuroi?”
“Bukan. Dia guru bela dirinya. Yang satu lagi, baru dia.”
Saking terpesonanya dengan Kenneth, Lea sampai melupakan laki-laki satunya, yang sekarang berjalan menjauh dari Dai dan Kenneth yang masih berbincang.
Ia telah menyingkirkan pelindung kepalanya, tapi tetap saja Lea tak dapat melihat wajahnya karena ia berdiri membelakangi. Meletakkan pedang kayunya di sebuah wadah kayu di seberang ruangan, kemudian menyeka wajah dan lehernya dengan handuk kecil.
Punggungnya lurus, itu yang Lea pikirkan tentangnya untuk pertama kali. Tubuhnya tidak sebesar Kenneth, tak sejangkung Kenneth namun atletis. Rambutnya lurus, berwarna amat hitam dan halus. Ketika ia berdiri tegak, dan mendongakkan wajahnya sedikit ke arah jendela di hadapannya, sosoknya terlihat anggun. Membuat Lea jadi semakin penasaran dengan tampangnya.
“Shin?” Dai memanggil nama laki-laki itu. Tapi dia bergeming, tak berpaling. Dengan santai menenggak air dari botol minum yang baru saja diambilnya entah dari mana. “Shinji. Bisa bicara sebentar?” Dai mengulang.
Ia berpaling. Dengan wajah muram yang memancarkan ketaksukaan yang nyata pada laki-laki yang memanggilnya. Wajahnya lumayan—bahkan sempurna sebenarnya kalau saja dia tak banyak merengut.
“Ada apa?” tanyanya acuh tak acuh pada Dai, setelah meneguk habis air di botol yang dipegangnya.
“Aku mau kenalkan pada Yuujin-mu.”
“Lagi?” Shinji mendengus sinis. Berjalan mendekat. “Tidak kapok dengan Yuujin-yuujin yang kamu pekerjakan kemarin?”
Lea menunduk. Berpikir, kalau dia sepertinya telah melakukan kesalahan.
Shinji, didengar dari kalimatnya, sepertinya  tidak menyukai ide ‘pendamping’ untuknya. Dan mungkin sengaja membuat onar, agar Yuujin yang dipekerjakan untuknya tak bertahan lama.
“Semua akan baik-baik saja, kalau saja kamu tidak melibatkan mereka pada hubungan yang tak seharusnya,” timpal Dai, yang langsung disambut Kenneth dengan dengusan geli. “Kontak fisik bagi perempuan, kadang mereka anggap sebagai jembatan menuju kebahagiaan sejati. Jarang ada perempuan yang tidak berpikir begitu, melihat siapa kamu dan apa yang kamu punya.”
“Khotbahlah semau kamu, Dai. Aku nggak akan repot-repot mendengar.”
“Bagus kalau begitu, karena dengan begitu kamu nggak akan banyak protes dengan Yuujin yang baru,” pungkas Dai dengan senyum amat manis. “Yang aku percaya, jauh lebih baik daripada yang sebelumnya. Dan akan membuat kamu lebih banyak belajar lagi mengenal hal di luar Black House.”
“Aku akan lebih memilih untuk keluar dari Black House daripada dikurung seperti ini, dan belajar dari orang-orang yang bahkan tidak bisa sembarangan kuajak berinteraksi.” Shinji tampak marah sekali.
“Itulah yang dinamakan tanggung jawab,” balas Dai santai. “Membuatmu harus menjaga prilaku, kendati tak mau.”
Hening kemudian. Dai dan Shinji masih saling berpandangan, sementara Kenneth, yang terjebak di tengah ketegangan verbal antara keduanya, cuma bisa bersedekap. Memandang lantai kayu di bawah, seolah ada sesuatu yang lebih menarik untuk dilihat. Sedangkan dua orang perempuan, yang sepertinya tak disadari keberadaannya, hanya berdiri kaku di ambang pintu.
“Lea…” Dai memanggil.
Lea mengerling Malini, dan dia mengangguk. Seolah memberitahu tanpa kata kalau tak akan ada apa-apa. Lea menggerakkan kakinya yang mendadak terasa berat satu per satu menyusur lantai, menghampiri tiga sosok jangkung di depannya, tanpa berani memandang mata siapa pun.
“Ini Lea.” Dai memperkenalkan, menyentuh punggung Lea dan mendorongnya lembut ke depan. “Our Yuujin from today.”
Lea mengangkat muka. Menemukan wajah Kenneth pertama kali, yang mengangguk sopan ditemani senyum misteriusnya yang menghanyutkan. Ia mengulurkan tangan, dan Lea menyambut. Menjabat tangannya erat.
Welcome to Black House, Lea,” kata Kenneth tulus. Namun sejenak kemudian mengernyitkan alis. Tidak tahu sebabnya.
“Terima kasih,” balas Lea gugup. Tak menyadari perubahan ekspresi laki-laki itu.
Setelah itu ia menggeser pandangannya ke arah lain—ke arah Shinji yang manyun, dan langsung menahan napas. Mengedip bingung beberapa kali, ketika tahu kalau warna manik matanya persis sama dengan warna matanya: abu-abu cerah, dengan pupil hitam mengilap di tengahnya.
Ternyata bukan hanya Lea yang menyadari persamaan tersebut, karena Shinji tiba-tiba saja mencondongkan mukanya ke depan untuk melihat mata Lea agar lebih jelas. Sambil bergumam tak percaya, “Grey eyes.”

(Bersambung)

gambar dari sini
"We may take different paths, and life maybe separate us. But we will forever be bonded by having begun the journey in the same boat."


















2 comments:

Mrs. Don May 19, 2015 at 6:33 AM  

Makin penasaran... Hihihi

mell cemell,  May 19, 2015 at 12:18 PM  

w.o.w

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP