The Adorables (4): Kuroi

>> Tuesday, May 12, 2015

Baca: The Adorables (3)


Kuroi


Sepanjang perjalanan pulang, Black House dengan aula besar dan ruang penuh rak bukunya masih membayang di benak Lea. Dia juga tak habis pikir, kalau ia tanpa kendala berarti telah diterima bekerja di sana dengan posisi yang walaupun masih belum sepenuhnya ia mengerti, namun membuatnya antusias. Padahal untuk bekerja dengan orang-orang seperti Dai, Malini, dan juga Juna, pastinya harus memiliki keahlian khusus atau yang setidaknya mengimbangi kemampuan mereka. Dan Lea, merasa tidak punya keahlian khusus yang bisa dibanggakan. Bahkan Dai, dengan gamblang menguraikan kelemahannya secara akademis. Lea ragu kalau faktor penunjang yang Dai katakan: emotional quality, kepribadiannya yang melankolis dan lain sebagainya adalah alasan utama ia diterima bekerja di sana. Kalau bukan itu, lalu apa lagi? Cantik? Yang benar saja? Sampai kapan pun ia tetap tak bisa memercayai itu, kendati Dai kemarin mengatakan kalau ia ‘sempurna’. Dibandingkan Malini, Lea jelas tak ada apa-apanya. Sebetis pun tidak.


“Kamu masak?”
“Yap.”
“Sebanyak ini?”
“Yap.”
“Ada apa?”
Lea mendekat ke meja makan dengan semangkuk besar sayur sop di kedua tangan. Ia meletakkannya di tengah, bersama wadah nasi putih yang yang masih mengepulkan asap, dikelilingi sepiring penuh ayam goreng bumbu, tempe dan tahu goreng tepung, abon sapi kering, dan secobek kecil sambal terasi andalannya. Baru setelah itu menatap Mina yang menunggu jawaban di seberang meja dengan dahi dikerutkan dan menjawab, “I got the job,” yang disusul oleh cengiran kemudian.
Tapi Mina tidak nyengir. Tidak juga tersenyum. Sebaliknya raut kecewa menghiasi wajah cantiknya. Ia jelas tidak mengharapkan berita tersebut. Tak menduganya.
Ia bergeser ke sisi, menarik satu kursi dan meletakkan tas Prada kesayangannya di atas meja di atas map plastik penuh berkas yang saat datang tadi didekapnya. Duduk, dengan kepala dimiringkan sedikit ketika memandang Lea yang masih berdiri canggung. Ganti menunggu.
“Kakak sudah bilang kan, kalau Kakak nggak ingin kamu kerja. Kakak mau kamu lanjutkan kuliah.”
Lea menggeser satu kursi yang tepat berada di seberang Mina ke belakang dan duduk. Ia sudah siap dengan jawaban; sudah menduga kalau Mina pasti akan membahas hal ini.
“Kak. Aku janji lanjutin kuliah. Tapi bukan sekarang. Aku… mau kerja. Mau… bantu Kakak. Aku tahu Kakak nggak perlu dibantu,” Lea berkata buru-buru ketika Mina membuka mulut hendak protes. “tapi, aku benar-benar ingin bantu. Aku nggak akan bisa lihat Kakak banting tulang cari uang untuk melunasi hutang ayah, sementara aku… kuliah. Aku tahu, pendidikan penting, tapi…, aku masih bisa kejar kalau memang semuanya sudah tenang.”
“Usiamu, Lea…”
“Usia bukan masalah, Kak. Kakak juga bilang begitu sama Om Budi, waktu memutuskan cuti kuliah kan? Selama kita mau dan niatkan, pendidikan masih bisa kita kejar. Tak ada kata tua untuk belajar. Kakak selalu ngomong begitu sama siapa pun.”
Mina terpaku. Tatapannya pada Lea tak dapat dimengerti. Tapi Lea tahu, dia tidak marah, karena sorot matanya melembut kendati kecewa.
“Pekerjaan apa?” tanyanya tak lama kemudian.
Lea menelan ludah. “Baby-sitting.”
“Lea, kamu nggak pernah belajar untuk jadi perawat bayi. Pegang bayi saja nggak pernah. Kamu nggak bisa sembarangan begitu untuk ambil pekerjaan.”
“Bukan bayi.” Lea menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sekuat tenaga. “Tapi… lansia. Senior-sitting, then.” Ia nyengir. Geli sendiri mendengar kata-katanya barusan.
“Apalagi itu, Lea. Perlu keahlian khusus,” Mina menyerangnya lagi. “Jangan macam-macam. Kakak nggak bakal ijinin.”
“Mereka akan mengajariku.”
“Mereka itu siapa?”
Lea teringat janjinya pada Dai untuk tidak mengatakan apa pun soal Black House dan penghuninya pada siapa pun. Dan Mina pastinya bukan pengecualian.
“Itu… Ya, atasanku,” jawab Lea, sambil menggaruk belakang rahangnya.
“Atasan kamu kan punya nama,” desak Mina.
“Tapi aku lupa.”
Mina mendengus bersamaan dengan matanya yang menutup. Dia menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri, sambil melontarkan, “No,” mantap pada Lea. “Kalau nggak jelas begitu, Kakak nggak ijinkan. End of discussion.”
Ia berdiri, dan meraih tas pradanya.
“Aku akan tetap ambil pekerjaan itu mau Kakak setuju atau nggak. Aku sudah diterima, dan aku ingin bekerja di sana,” cetus Lea, sebelum Mina beranjak pergi. “Kakak nggak bisa ngatur-ngatur aku kaya aku masih anak umur belasan tahun. Aku sudah dua puluh lima, dan aku berhak menentukan apa yang mau atau nggak mau aku lakukan. Aku nggak perlu persetujuan Kakak.”
Hening sejenak. Kedua kakak-beradik itu sekarang saling pandang tajam. Lea, bertekad tidak akan kalah kali ini oleh Mina bagaimana pun kekehnya dia menentang, dan Mina sepertinya juga sama, tetap pada pendiriannya untuk melarang Lea bekerja sebagai apa pun yang dia katakan barusan.
“Please, Kak.” Lea akhirnya memohon dengan nada penuh rasa bersalah. “Aku cuma mau kerja… nggak ingin apa-apa lagi. Maksudku baik. Cuma ingin bantu, dan pegang uang sendiri untuk ditabung, dan lanjutkan kuliah nanti. Aku janji, aku nggak akan bikin kacau. Aku akan bekerja dengan sebaik-baiknya. Belajar sebaik-baiknya—”
“Lea…”
Please. Kakak cuma perlu restui aku. Kalau Kakak ijinkan, pasti semua akan baik-baik saja.” Lea mengakhirinya dengan muka memelas yang luar biasa.
Selama beberapa waktu, Mina diam. Mengembuskan napas tajam beberapa kali. Memandang ke sana-sini, seakan minta dukungan pada sesuatu yang kasat mata akan keputusan yang akan dibuatnya.
“Oke,” katanya kemudian dengan muka tegas, yang membuat mata Lea seketika melebar, separo-kaget, separo-girang. “Tapi…, Kakak sendiri yang antar kamu setiap hari. Biar Kakak tahu dimana kamu kerja.”
“Nggak bisa.”
“Kenapa nggak?”
“Pengamanannya luar biasa ketat mulai dari gerbang. Butuh free pass khusus untuk masuk. Dan Kakak nggak akan diijinkan masuk.”
“Tapi kamu bisa…”
“Karena aku dikasih free pass dari orang dalam.”
Mina ber-hm pendek. Mengerutkan kening kuat sekali. “Memang siapa yang tinggal di Board House sampai segitunya?” gumamnya kemudian. “Presiden?”.
Jangankan Kakak, aku pun masih bertanya-tanya sampai sekarang, Lea membatin.
“Baiklah.” Akhirnya Mina menyerah. “Kalau memang itu mau kamu. Tapi Kakak minta, kamu segera resign, begitu kamu merasa nggak cocok di sana. Kakak nggak mau kamu bikin masalah.”
Lea mengangguk penuh semangat.
“Dan.., kamu harus kembali kuliah,” sambung Mina. “Nggak ada alasan apa pun setelah itu.”
“Oke.” Lea nyengir. “Deal.”
“Ya sudah. Kakak mau ke kamar dulu ganti baju. Kamu siapkan makanan. Kakak lapar.”
Lea mendengus tersenyum, sementara Mina berlalu bersama tas dan juga map plastik di dekapan.

Lea bangun pagi-pagi sekali esok paginya. Alasannya klise: cari baju hitam di seluruh sudut lemari pakaian untuk dikenakannya pada hari pertama bekerja; mengikuti teladan Malini yang kemarin mengenakan hitam dari atas hingga bawah. Untungnya, ia punya sepatu hak tinggi warna hitam yang tidak pernah ia pergunakan sama sekali sejak benda itu menjadi anggota rak sepatunya, jadi tampilannya masih terlihat baru dan mengilap bila ia kenakan sekarang.
Apa terlalu berlebihan untuk seorang ‘nanny’, babby sitter—whatever? Ia bertanya-tanya sambil mengamati dirinya di depan cermin di kamarnya. Dia kelihatan rapi memang, lengkap dengan make up tipis dan rambut ikal yang ditata cantik. Pantas sekali dengan kaus hitam dipadu rok span sewarna yang menempel di badannya yang ramping. Tapi entah kenapa, dia merasa aneh. Tak nyaman. Atau mungkin, nggak pede lebih tepat.
Sempat ingin menggantinya dengan baju yang sedikit lebih ‘santai’ namun kemudian mengurungkannya dengan alasan tak ada baju hitam lagi yang bisa ia temukan, ditambah waktu yang sudah mepet. Jadi, ia menyerah. Memutuskan kalau penampilannya sudah cukup baik untuk hari pertamanya, dan keluar dari kamar diiringi sepatu haknya yang berkeletak-keletok menghantam lantai.
Kepala Mina spontan berpaling mendengar suara hak sepatu Lea. Kedua alisnya berjingkat, kelihatan takjub dengan tampilannya pagi ini. Sedangkan kepala orang satu lagi, yang Lea kenali sebagai kepala Raenan, sahabat dan juga tetangga sebelah rumah, sama sekali tak beranjak dari koran pagi yang membuka di atas meja di depannya. Sama sekali tak terkesan dengan kemunculannya.
“Kamu kerja jam berapa?” Mina memberikan piring kosong pada Lea, setelah Lea mencium sebelah pipinya.
Lea menyambar piring tersebut,menjawab, “Sembilan.”
Kemudian ia memutari meja, dan duduk di kursi di seberang Raenan yang baru saja menggit paha ayam goreng yang dipegangnya. Piring di depannya sudah kosong. Hanya tersisa beberapa butir nasi goreng dan remah-remah kerupuk ditemani sendok garpu yang menelungkup.
“Ngapain kamu di sini? Emang di rumah nggak ada sarapan, sampai harus numpang ke rumah orang?”
Raenan menggeser matanya ke arah Lea. “Kamu belum kembalikan kunci skuterku. Skuternya ada, kuncinya yang nggak ada.”—Lea menepuk jidat—“Jadi aku ke sini. Terus Mina menawarkan sarapan. Katanya kamu masak besar semalam dan nggak habis,”—(Mina mendengus tertahan)—“jadi aku oke. Lagian ini makanan sisa dari pemborosan nggak berdasarmu.”
Raenan menggigit ayamnya lagi, dan mengembalikan bola matanya ke koran. Sementara Lea melongo mendengar betapa cepatnya Raenan bicara. Tapi kemudian ia segera menguasai diri dan berkata santai, “Kunci skuter ada di—”
“Meja depan,” potong Raenan. “Aku tahu tampang kunciku. Dan aku sudah tahu kamu pasti taruh di sana.” Ia menyeringai.
Mina menuangkan air putih dari teko kaca ke gelas Raenan yang kosong, sementara satu tangannya memegang setangkap roti tawar berselip lembaran keju yang tinggal separuh. Setelah itu meletakkan teko di atas meja, dan duduk di kursi di ujung meja makan. Di antara Lea dan Raenan.
“Jadi, kamu lagi ngerjain apa, Rae?” ia bertanya. Mengigit roti tawarnya pelan. “Iklan apa sekarang?”
“Ponsel,” jawab Raenan, tanpa memandang Mina.
Ia melipat koran yang barusan dibacanya, meletakkannya di atas meja kemudian melanjutkan, “Black Diamond.”
Baik Lea mau pun Mina mengerutkan dahi tak mengerti.
“Ponsel berlian?” tanya Lea, setelah lebih dulu menelan nasi goreng yang sudah dilumatnya ke tenggorokan.
“Bukan. Cuma ponsel. Namanya Black Diamond.”
“Nggak nyambung amat.”
“Nyambung, karena ponsel itu kuat banget. Dibanting kaya apa pun, nggak bakal lecet atau rusak. Persis berlian. Dan warnanya hitam pekat. Mengilap. Dijamin, begitu launching semua orang pasti beli. Tekhnologinya mantap. Lebih dari iPhone.”
“Merk apa?” tanya Mina.
“Kuroi.”
Lea yang sedang meneguk air putih langsung tersedak. Kuroi? Apa ada hubungannya dengan ‘Kuroi’ yang ia tahu?
“Oh.” Mina terdengar riang. Tidak menyadari reaksi janggal Lea barusan. Dan Lea langsung memandangnya sembari menyeka dagunya yang dileleri air dengan tisu. “Apa ada kaitannya dengan perusahaan Kuroi?”
Lea berusaha keras tidak membeliak kendati ia terkejut kakaknya tahu sesuatu yang dengan susah payah ia tidak beritahu. Berusaha menutupinya dengan menyuapkan nasi goreng banyak-banyak ke mulutnya.
“Kamu tahu mereka?” Raenan balas bertanya.
“Mereka baru saja jadi nasabah Bank-ku. High priority.” Mina meraih gelasnya, dan meneguknya sedikit. “Mereka akan membuka perusahaan multi nasional di kota.”
“Yap. Salah satunya itu: telepon selular. Mereka akan mulai promosi bulan depan. Jadi perusahaanku sedang sibuk mempersiapkan semua materi iklan. Dan aku kebagian ilustrasinya. Sungguh disayangkan.” Raenan berlagak sedih.
Tentulah.” Mina terkekeh ditemani tampang heran, seakan Raenan telah mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal. “Kamu kan Art Director. Ngomong-ngomong siapa dari Kuroi yang datang?”
Lea memilih bungkam sekarang, tidak berusaha nimbrung. Menyimak sebaik mungkin berharap ada informasi lebih lanjut perihal Kuroi yang mereka bicarakan.
“Hari ini,”—Raenan menyandarkan punggung ke belakang—“ada salah satu petinggi perusahaan mereka datang langsung dari Jepang untuk lihat progressnya. Nggak tahu siapa. Tapi yang biasanya berurusan sama Bosku, Bapak Dai.”
Ya. Kuroi yang mereka bicarakan, jelas Kuroi yang sama dengan Kuroi yang Lea tahu. Nama Dai sudah cukup untuk menjawab rasa penasarannya.
Mina kelihatan senang. “Dia juga yang datang ke Bank kemarin.”
Kemarin? Berarti waktu Lea sedang interview di Black House? Karena itu Dai mengenakan setelan jas rapi.
“Orang Jepang yang ramah, Dai Tanaka itu.”
Mina mengangguk setuju. “Dan tampan,” tambahnya ditemani kikik kecil. “Dia juga sangat sopan. Sungguh berbeda dengan orang Jepang kebanyakan. Dan…, dengan perusahaan sebesar itu, dia datang sendirian. Mengurus segala sesuatunya sendirian. Dengan cermat. Dan dia sangat berusaha mencari solusi yang terbaik untuk pihaknya dan pihakku, agar tidak merugikan satu sama lain. Dia orang pintar.”
“Dia juga mengerti design,” Raenan menimpali. “Dia langsung mengerti apa maksud ilustrasiku, hanya dengan sedikit penjelasan. Dan dia tahu apa yang dia mau, bagaimana produk itu akan dijalankan. Seperti apa campaignnya. He’s smart and…, focus. Nggak salah kalau keluarga Kuroi mempercayakan semua padanya.”
“Keluarga?” Mina memincingkan alis.
“Ya. Kuroi itu nama keluarga. Keluarga Shogun tertua di Jepang.”
Really?
Bukan cuma Mina, tapi Lea pun penasaran, meskipun ia masih berusaha tidak terlihat penasaran sama sekali, dengan menghabiskan nasi goreng di piringnya secepat yang ia bisa.
“Bagaimana kamu tahu?” tanya Mina lagi penuh minat.
“Research.” Raenan menyeringai bangga. “Entah kenapa sejak ketemu Dai, aku merasa dia bukan orang sembarangan. Jadi…, I googled him. Dan dia adalah salah satu CEO perusahaan yang paling dipercaya. Dan semuanya itu akhirnya menuntunku ke nama besar Kuroi. Keluarga Besar Kuroi—bukan sembarang keluarga, tapi salah satu keluarga yang dihormati di Jepang, mengingat kedekatan mereka dengan kekaisaran Jepang sampai dengan sekarang.”
“Wow.” Mina menatap Raenan takjub. “So…, aku punya nasabah yang benar-benar berharga kalau gitu?”
“Yap.”
“Shogun itu bukannya… yang pakai samurai gitu ya?” Lea memutuskan untuk terlibat pembicaraan. “Berarti dulu mereka semacam… pelindung kekaisaran?”
Sort of,” jawab Raenan pendek. “Mungkin sampai sekarang. Karena ada juga rumor yang mengatakan kalau… mereka menjaga sebuah rahasia kerajaan—mungkin harta paling berharga kekaisaran Jepang. Tapi… it’s just rumor. Not important. By the way, Lea… kamu kelihatan ‘lain’ hari ini.”
Lea membelalakan mata.
“Jam berapa kamu kerja?” tanya Mina hampir memekik, dan langsung melihat jam dinding. “Ini sudah hampir setengah sembilan.”
“Kamu mau pakai skuterku lagi?”
Belum Lea menjawab, suara ketukan di pintu membuat ketiganya seketika diam, seolah tak memercayai diri sendiri akan apa yang didengar oleh telinga mereka.
Mina bangkit, setelah memastikan bahwa memang ada seseorang yang sedang mengetuk pintu rumah. Meminta Lea untuk bersiap-siap, sembari ia melangkah ke ruang tamu.
“Kamu diterima?” Raenan akhirnya bertanya. Kali ini tampak tertarik karena senyum simpulnya tersungging di wajah bulatnya.
“Ya. Thanks skuternya.” Lea meminum habis air di gelasnya, dan berdiri dari kursi. “Aku naik bus saja.”
“Agak jauh dari sini kan? Biar aku antar.”
Lea menggeleng. “I’m fine.”
Tepat saat itu, Mina kembali dengan kerutan kuat di dahinya. Ia langsung menghampiri Lea dengan ekspresi seakan tak yakin pada dirinya sendiri.
“Kakak kenapa?”
“Aku tidak tahu apa aku salah lihat atau gimana,” Mina memulai dengan bingung. “Tapi… sepertinya ada laki-laki yang tampangnya mirip Chef yang galak itu di depan rumah, bilang mau jemput kamu…?”
Tanpa tedeng aling-aling, Lea melesat ke ruang depan. Bertanya-tanya, apa Chef Juna yang Mina maksud.
“Chef?” Ya. Dia memang Chef Juna. “Di sini?”
“Pagi, Lea,” sapa Juna diiringi tarikan kuap yang tak tertahan. “Siap berangkat? Dan—oh, please.” Ia memandang Lea dari atas ke bawah dengan putus asa. “Jangan bilang Malini menyuruhmu pakai baju formal kaya gitu. For God’s sake.”
“Apa salah?”
“Salah, karena satu aku naik motor. Dan high heelmu itu akan membuat kakimu susah injak penyangga kaki, dan aku nggak suka bonceng cewek yang duduk ala cewek. Which is, please, ganti rokmu dengan celana.”
Lea meringis.
“Kedua…, bukan karena namanya Black House, maka semua harus pakai baju hitam-hitam kaya orang berkabung. Dan, dilihat dari tipe pekerjaan yang akan kamu lakukan, akan lebih baik kalau kamu pakai baju yang nyaman untuk kamu sendiri. Nggak perlu dipaksakan.”
Untuk alasan yang kedua, Lea masih harus mencernanya sedikit lagi untuk mengerti benar apa yang dimaksud oleh Juna. Namun dia tak membuang-buang waktu banyak-banyak hanya untuk itu. Segera masuk ke dalam rumah untuk mengganti baju, setelah sebelumnya pamit pada Juna.
“Itu Chef Juna kan?” Mina langsung mencecarnya begitu ia muncul lagi di ruang tengah, dan mengikutinya sampai ke kamar. Sementara Raenan tampak tak peduli. “Bagaimana dia bisa jemput kamu ke sini? Sebenarnya kamu kerja apa?”
“Yang penting,” Lea membuka sack dressnya susah payah, “bukan kerjaan yang ilegal.” Dia segera melesat ke lemari baju dan dengan tak sabar menarik keluar kaus hitam berlengan panjang dari tumpukan pakaian. “Kakak jangan cemas.”
“It’s Chef Juna.”
“Bukannya Kakak nggak suka sama dia?”
“Ya. Tentu,” Mina menegaskan dengan setegas-tegasnya, seakan Lea telah mengolok-oloknya dengan pertanyaannya barusan. “Kakak cuma heran…, bagaimana kamu bisa… sama dia? Maksudnya…” Mina kelihatan bingung.
Lea mengenakan celana panjang warna khakhinya dengan geli. Ia mengerti sekali perasaan heran Mina sekarang. Tapi tetap saja, ia tidak bisa mengatakan apa pun padanya.
“Kamu pacaran sama dia?"
Kali ini Lea tidak bisa menyembunyikan dengusnya lagi.
(Bersambung)


gambar dari sini

2 comments:

Mrs. Don May 12, 2015 at 11:27 PM  

Akhirnya... Semangaaatt Membaca... Hihihi

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP