The Adorables (3)

>> Sunday, May 3, 2015

Baca: The Adorables (2)

???

Ia terbangun di sebuah ruangan besar bercat hitam, berfuniture hampir semuanya hitam, bernuansa hitam yang sepertinya ia kenali. Matanya mengejap pelan, mengatasi leret sinar matahari yang menyorot langsung ke arahnya dan memutuskan untuk bangkit dari rebahnya kemudian.
Ia sendirian. Tak ada siapa pun. Sekelilingnya cuma rak-rak buku, satu set meja kerja, dan di ujung sebelah kirinya pintu ganda yang ia lewati beberapa waktu lalu. Bersama perempuan cantik bernama Malini, dan juga dilewati oleh…
Juna Rorimpandey. Ia segera membenamkan wajah ke kedua tangan. Membodohi diri sendiri, begitu teringat kalau tadi—entah berapa lama, semua pandangannya menggelap saat Chef idolanya itu berada tak berapa jauh darinya.
Lagian, ngapain dia di sini? Sudah hampir satu tahun ini dia tidak kelihatan lagi di televisi; raib bagai ditelan bumi, dan ternyata Lea mendapatinya di rumah ini. Apa dia bekerja di sini?
Are you ok?
Lea terkesiap. Reflek memalingkan kepala ke arah datangnya suara dan membeliak melihat pemiliknya. Juna—Chef Juna, sedang duduk di kursi di belakang meja kerja, menulis sesuatu di sebuah agenda di permukaan meja di hadapannya.
Jantung Lea berdegup tidak keruan. Berharap ini mimpi, karena kalau ya, ia bisa pingsan lagi. Oh, jangan norak, Lea!
“Kamu kena anemia atau apa?” Laki-laki itu mengangkat wajah, memandang lurus ke arah Lea. “Mendadak pingsan begitu.”
Alih-alih menjawab, Lea celingukan. Ia mencari-cari sosok Malini dengan panik, dan tak menemukannya dimana pun.
“Kalau yang kamu cari Malini, sebentar lagi dia kembali,” Juna memberitahu, kemudian mencatat lagi. “Aku harap kamu nggak ember bilang saya ada di sini pada semua orang begitu kamu meninggalkan rumah ini.”
Lea mengerutkan kening ke arah Juna yang masih menunduk ke agendanya. Mengamatinya dari jarak beberapa meter dari sofa panjang dimana ia berada sekarang. Ternyata ia jauh lebih tampan daripada yang Lea lihat di TV. Dan… lebih kalem.
Well, Juna memang tidak banyak omong ketika tampil di televisi, kecuali pada saat dia marah-marah tentunya. Tapi sekarang, dia kelihatan tenang; ekspresi, mau pun nada suaranya. Lea tidak tahu bagaimana dia; sifat aslinya di luar layar kaca, jadi ia tidak tahu apa itu memang sifat bawaannya atau ia memang berubah selama setahun absen dari industri hiburan? Tidak tahu kenapa, Lea memilih opsi kedua. Tanpa tahu alasannya.
“Nalea Usara…”
Kembali mata Lea melebar saat mendengar nama lengkapnya disebut. Suara kursi bergeser menyusul kemudian. Juna bangun, menutup agendanya lebih dulu, dan berjalan meninggalkan meja kerja seraya menyakukan pena ke kantong Chef Jacket-nya. Ia mendekat, membuat Lea salah tingkah. Ingin mengatakan sesuatu, namun tak mampu. Lidahnya seolah lengket dengan gigi-giginya dan tak bisa digerakkan untuk bicara.
“Itu nama lengkap kamu kan?” Juna duduk di salah satu sofa tunggal di ujung. Satu tangannya mencengkeram ujung agenda merah hati miliknya, membiarkannya mengambang di udara kosong. Ia memiringkan kepala sedikit saat melihat Lea, dan kembali membuka mulutnya untuk mengatakan, “Aku lihat profil kamu barusan. Unique name.”
Lea mengangguk. Memaksakan senyum yang ia tahu akan kelihatan tak enak sekali di mata Juna. Sadar kalau kedua kakinya yang bersepatu kets masih berada di atas sofa, Lea segera menggesernya ke ujung, menurunkan keduanya sekaligus, dan menegakkan badan. Kedua tangannya bertumpu di tepi sofa, dan ia menundukkan wajah menghindari mata Juna yang masih terpaku padanya.
Kamu nggak banyak bicara ya?” Juna menatapnya dengan ekspresi heran. “Atau kamu takut sama saya sampai… kehilangan kata?” Ia mendengus setelahnya.
“Ng-nggak,” geleng Lea gugup. “Cum—cuma…, kaget.”
“Kaget lihat saya?”
“Ya.”
“Kenapa?”
Lea tidak segera menjawab. Untuk beberapa waktu matanya berlarian ke segala arah demi menemukan kalimat yang tepat untuk dilontarkan. Menimbang-nimbang, apa dia harus menanyakan perihal hiatusnya Juna dari televisi? Apa pantas mengingat ini pertama kali mereka bertemu—secara langsung?
“Sudah lama Chef Juna nggak kelihatan di TV…” Lea kedengaran ragu. “jadi agak… syok.” Ia nyengir. Menahan hasrat untuk bertanya apa alasannya.
Juna tersenyum simpul. Cuma itu. Tak ada kata-kata lain. Sementara Lea, matanya sekarang memandang kosong gelas berisi air putih dan sepiring kecil kue kering di atas meja kayu di depannya. Bukannya lapar, melainkan ingin menekan perasaan euphorianya atas senyum Juna yang barusan. Namun Juna yang tentunya tak tahu apa yang ada di benaknya jelas mengartikan ekspresinya adalah ekspresi kepengin, karena kemudian berkata dengan nada seolah bersalah, “Oh, ya… Kamu harus minum. Sekalian makan kuenya,” yang membuat Lea jadi salah tingkah. Untungnya suara ‘ceklik’ pelan dari arah pintu terdengar pada saat yang tepat, sehingga spontan mengalihkan pandangan Lea dan Juna. Lea berharap penuh kalau itu Malini.
“Oh, syukurlah kamu sudah sadar.”
Ya, itu Malini. Dia mendekat dengan muka cemasnya yang tak dibuat-buat. Bergegas menghampiri Lea yang buru-buru menegakkan badannya.
“Kamu baik-baik saja kan sekarang?” Malini duduk di sebelah Lea. Menggenggam tangannya dan meremasnya lembut. “Oh, Jun…, kenapa kamu nggak suruh dia minum,” omelnya tiba-tiba pada Juna, begitu melihat ke arah nampan kayu di atas meja berisi segelas air putih dan sepiring kecil kue kering yang belum tersentuh.
Lea megap-megap, sementara Juna cuma menjingkatkan alis. Membuang napas panjang. Dari tampangnya, sepertinya dia memilih tutup mulut daripada membalas omelan Malini.
“Sori,” Malini berkata dengan nada prihatin, “dia memang kurang bisa beinteraksi dengan seharusnya. Empatinya minus.” ‘Dia’ yang ia maksud adalah Juna.
“Oh. Sebenarnya Chef Juna baru saja minta saya minum dan—”
“Nggak usah takut,” tukas Malini, meremas bahu Lea dengan tampang serius yang seakan memberitahu Lea kalau ia memahami sesuatu. “Aku sangat mengerti bagaimana Juna.”
Lea menyeringai, mengerling Juna yang membelalakan mata ke atas mendengar perkataan Malini. Kendati begitu, ia tetap bungkam.
Malini menyodorkan gelas air putih pada Lea, dan Lea mengambilnya. Tadinya ingin meneguknya sedikit, tapi segera menuangkan seluruh isinya ke kerongkongan begitu cairan bening itu menyentuh lidahnya. Ia benar-benar haus.
“Mau tambah lagi?”
“Nggak. Terima kasih.” Lea meletakkan kembali gelas kosong di atas nampan kayu. “Cukup.” Ia tersenyum pada Malini yang masih menatapnya penuh iba.
Jujur saja, itu membuatnya jadi tak enak hati.
“Aku balik ke dapur.” Juna berdiri. Tanpa bilang apa-apa lagi, berjalan ke santai ke arah pintu.
Lea mengamati punggungnya. Amat berharap, kalau Juna tidak marah padanya karena hal ini. Ya, kalau mereka ketemu lagi.
Hei, Bro.
Perhatian Lea sekarang teraih ke seorang laki-laki jangkung yang wajahnya ia kenali: Dai Tanaka, yang berpapasan dengan Juna di ambang pintu. Berbeda dari kemarin, ia kelihatan amat rapi. Mengenakan setelan hitam, rambut gelap yang tertata. Bahkan sikapnya pun ‘rapi’. Sekarang, ia benar-benar kelihatan seperti orang Jepang pada umumnya, kendati tubuhnya lebih sempurna dari orang Jepang yang pernah Lea lihat.
Dai menyempatkan diri bicara sedikit pada Juna dalam suara pelan yang kedengaran samar-samar, sebelum akhirnya melanjutkan masuk ruangan.
“Hey, Ladies,” ia menyapa. Mata gelapnya kemudian bergeser kepada Lea. “Aku dengar kamu pingsan,” katanya.
Lea meringis dan menyebutkan, “Anemia.”
“Oh.” Dai melepas kancing atas jasnya dan duduk. Mengangkat pergelangan tangan dan menarik sedikit lengan jas untuk mengecek arloji. “Sudah lewat jam makan siang. Tapi di dapur pasti masih ada banyak makanan. Malini, bisa minta Juna suruh orang untuk antar makan siang kemari?”
Lea ingin menolak, mulutnya sudah membuka. Tapi ia kalah cepat, karena Malini sudah bangkit dari duduknya dan segera pergi meninggalkan ruangan tanpa kata. Meninggalkan Lea dan Dai berdua saja.
So…” Dai mencakupkan kedua tangannya dengan semangat hingga menimbulkan suara semacam tepukan. “Are you ready to talk about the job?
Kedua alis Lea mengernyit. “Apa saya diterima?”
“Malini sudah mewawancaraimu kan?”
Itu bukan wawancara, melainkan ngobrol. Itu pun tidak panjang, karena kemudian ia tak sadarkan diri dalam beberapa waktu; belum sempat menjelaskan apa pun yang berkaitan dengan kemampuan profesionalnya sama sekali. Ia bahkan tak tahu, pekerjaan apa yang ia lamar. Namun dengan alasan kesopanan, Lea memilih untuk tidak mengatakan itu pada Dai. Hanya mengangguk kecil ditemani kata ‘ya’ singkat. Dan memaksa dirinya menerima kenyataan kalau ia mendapatkan pekerjaan tersebut, walau pun ia tidak tahu pekerjaan apa itu.
“Pertama,” Dai memulai, “aku minta kartu namaku kembali.”
Permintaan yang aneh menurut Lea, tapi tak perlu dipertanyakan. Ia segera membuka tasnya untuk mengambil kartu nama Dai dari selipan saku kecil di dalamnya, kemudian menyerahkannya.
“Kartu ini, cuma aku berikan pada orang-orang yang memang pantas menerimanya. Bila urusanku dengan orang itu selesai, kartu ini harus kembali padaku.”
Itulah kenapa Lea tak mendapat kesulitan waktu melewati gerbang perumahan tadi. Kartu nama Dai adalah semacam free pass khusus untuk orang-orang yang diundangnya datang.
“Kamu nggak perlu khawatir untuk masuk gerbang komplek besok, karena kami akan mengirim data kamu ke petugas keamanan sore ini untuk proses akses masuk,” sambung Dai.
Ia memasukkan kartu nama tersebut ke dalam saku kemeja putih di balik jasnya, membungkukkan badan, dan memandang Lea dengan tatapan yang belum pernah Lea lihat sebelumnya. Tatapan menilai, namun saksama. Bukan seperti kemarin.
 “Kedua, kami sudah mengumpulkan profil kamu sebelumnya. Bukan profil sekadar profil, namun lengkap. Termasuk hal pribadi, yang mungkin kamu  tidak ingin orang lain tahu.”
Lea teringat Ipad yang dipegang Malini saat mewawancarainya. Jadi begitu rupanya? Tapi, bukannya itu melanggar privasi? Tapi dipikir-pikir, tidak ada hal luar biasa pribadi yang ia sembunyikan selama ini. Hidupnya biasa saja. Flat. Tak ada yang menarik untuk diceritakan, dan ia tak pernah terlibat sesuatu yang ekstrim atau membahayakan orang lain.
“Maaf, kalau kamu merasa kami tidak menghormati privasi kamu,” ucap Dai mengusir lamunan Lea. “Tapi kami butuh semua informasi lengkap. Kami nggak sembarangan merekrut orang untuk bekerja dengan kami, serendah apa pun jabatan atau posisi orang itu.”
Ada nada penegasan di kalimat terakhir Dai. Seakan-akan ia menyatakan bahwa ia serius dan siapa pun tidak bisa macam-macam dengannya atau siapa pun di dalam rumah ini. Memang siapa mereka? CIA?
“Secara akademis, kamu nggak bisa dibilang pintar. Matematika kamu payah.” Dai mendengus geli, sedangkan Lea membeliakan mata. “Dan kamu lulus SMU dengan nilai yang amat pas-pasan di hampir semua mata pelajaran.”
Kepala Lea luar biasa panas sekarang. Kenapa Dai mengatakan semua itu padanya? Menyampaikan semua kelemahannya satu demi satu, dan membuatnya kedengaran luar biasa bodoh.
“Kecuali dua, tentu. Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Plus… kamu punya kepekaan yang luar biasa, dilihat dari Emotional Quality test kamu. Melankolis, adalah kepribadian dasar yang paling dominan di diri kamu, yang menandakan kalau… kamu cocok untuk pekerjaan yang kami ingin kamu lalukan. Kamu jujur, loyal…,”
Lea mengangkat wajah untuk memandang Dai.
“dan kamu, nggak banyak basa-basi. Kamu nggak akan ragu untuk menyampaikan apa yang benar pada siapa pun yang salah. Yang berarti, ada kekuatan tersembunyi di balik kepribadian kamu yang… rapuh. And I guess; those qualities will be very compatible for this job.
“Dan… pekerjaan itu…?” Lea memberanikan diri bertanya.
To assist.”—Mendampingi, jawab Dai cepat.
“Mendampingi siapa?”
“Seorang yang sangat penting; untukku, dan untuk semuanya.” Dai meletakkan kedua siku di paha, dan mencakupkan jari-jarinya. “Bertanggung jawab atas makanannya, kesehatannya, dan juga menemaninya. Kenapa?” Dai bertanya ketika muram mendadak menggantungi wajah Lea. “Kamu… keberatan?”
“Apa dia laki-laki?”
“Ya.”
Lea menggigit bibir bawahnya. Menundukkan wajah beberapa saat, kemudian bicara lagi. “Saya mau bilang kalau…, saya nggak bisa kalau melakukan sesuatu seperti… illegal thing. Kamu tahu… Sleep with someone, maybe…
Dai terkekeh. “Aku nggak bilang kamu harus melakukan itu. Maksudku dengan ‘menemani’ adalah… ngobrol, menemaninya main game, atau apa pun untuk menjaga agar emosi orang ini tetap stabil. Dengan cara apa pun yang kamu bisa. Nggak akan ada yang paksa kamu. Dan aku juga nggak akan membiarkan kamu sejauh itu.”
Lea mengembuskan napas lega. Tersenyum. Ia mengangguk-angguk tanda mengerti, dan mengempaskan napas kembali. Memperdengarkan tawa yang lebih pada menertawakan dirinya sendiri. Jadi itu yang dimaksud Dai dengan ‘mengasuh’ kemarin.
“Jadi… kamu oke?”
“Ya. Saya coba.” Lea memberikan ringisan ragu. Setelah itu mengalihkan pandang ke arah lantai marmer hitam yang mengilap di bawah sepatu ketsnya.
“Oke,” ujar Dai. “So… I need you to be here tomorrow at nine am.”
“Oh. Oke.” Tidak masalah.
“Jam kerja nine to five. Dan kamu libur satu minggu sekali, di hari yang diperbolehkan.”
Alis Lea berkerenyit. “Maksudnya?”
“Kamu harus mengajukan hari libur kamu dulu.”
“Bukannya hari Minggu? Dan… libur nasional—tanggal merah?”
Dai mengembangkan senyum simpul yang dingin. “Tidak.”
Itu adalah pamungkas. Satu kata saja, yang diucapkan dengan cara yang tidak bisa lagi dibantah. Membuat Lea enggan untuk bertanya alasannya meskipun ingin.
“Aku akan berikan kamu kontrak kerja, yang akan kita sepakati bersama besok. Di sana akan tercantum semua hal yang harus kamu tahu dan kamu ingin tahu; gaji, cuti, dan sebagainya. Baru setelah itu, aku akan mengenalkanmu pada orang yang kumaksud.”
Lea mengangguk kembali. Tak bersuara. Namun setelah beberapa detik, ia tak tahan. Bertanya lagi, “Siapa… orang itu?” dengan nada penasaran.
Senyum Dai yang kemarin Lea lihat sekarang terpapar lagi di depan mata. Senyum penuntas, kalau Lea boleh bilang, yang seakan memberitahunya untuk tidak bertanya lebih lanjut atau memaksanya untuk tutup mulut kembali.
“Besok, aku akan ajak kamu ketemu dia,” kata Dai. “Dan untuk awalnya, Lea… Aku minta kamu tidak mengatakan apa pun tentang kami, tentang rumah ini,  apa pun dan siapa pun yang ada di dalamnya; soal pekerjaan yang kami tawarkan, dan lain-lain yang terkait rumah ini. Bila kamu tidak sanggup, kamu bisa bilang sekarang, dan kami akan anggap kamu tidak pernah datang kemari, begitu pun kamu kami harap tidak pernah mengatakan pernah ke sini.”
“Oh, tentu,” Lea menimpali cepat-cepat. “Tak akan ada yang tahu.”
Tidak tahu kenapa wajah Juna mengayun-ayun di depan mata Lea.
“Sekarang,” Dai melanjutkan, “kamu makan siang, dan setelah itu kamu boleh pulang.”
Entah bagaimana setelah ia menyelesaikan kalimatnya, pintu ruangan terbuka, dan dua orang perempuan masuk dengan dua nampan berisi piring-piring yang pastinya memuat makanan, tercium dari baunya yang enak sekali.
“Makanan sudah datang,” kata Dai semringah.
Lea mengira ia akan makan siang bersamanya, tapi ternyata ia berdiri dan memasang lagi kancing jasnya.
“Aku pergi,” pamit Dai. “Kamu makan siang.”
“Tapi—”
“Tidak usah sungkan. You’re one of us now.”
Setelah itu dia tersenyum dan beranjak pergi. Meninggalkan Lea sendiri di ruangan tersebut, bersama dua orang perempuan yang sekarang menyiapkan piring-piring makanan di atas meja di depannya.
Lea melongo. Karena cuma itu yang bisa ia lakukan saat ini.

(Bersambung)

gambar dari sini

“And above all, watch with glittering eyes the whole world around you because the greatest secrets are always hidden in the most unlikely places. Those who don't believe in magic will never find it.” 
― Roald Dahl

"Dan di atas semuanya, saksikan dunia di sekitarmu dengan mata berbinar, karena rahasia-rahasia terhebat selalu tersembunyi di tempat-tempat paling tak biasa. Mereka yang tak memercayai keajaiban tak akan pernah menemukannya."

4 comments:

Mrs. Don May 5, 2015 at 2:30 PM  

Agak syok dan girang begitu ngecek blog ini.. Eh ternyata ada cerita baru... Gak sabar baca kelanjutannya... Semangat mbaaakkk!!!!

Indar Meilita May 5, 2015 at 11:25 PM  

Ok. Tetap semangat. Makasih Mrs. Don. Keep reading ya...

Elsa Gamaria May 8, 2015 at 3:01 PM  

Lanjut yuk kaaa.. penasaran ini kek nya beda dari yg udah2 hehe

Indar Meilita May 12, 2015 at 4:01 PM  

@Elsa: Udah tuhhh, Sa, yang keempat.
Met baca ya...

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP