The Adorables (2)

>> Saturday, April 25, 2015


Black House


Sampai di rumah, pikiran Lea masih melayang ke sosok Dai, dan juga laki-laki yang bernama Arata. Bertanya-tanya apa mereka nyata atau cuma imajinasi galaunya semata, karena jujur saja dengan suasana hatinya setelah kehilangan pekerjaan, imajinasi indah seperti sosok pria tampan cukup membantunya melewati hari. Tapi mereka jelas nyata. Kalau tidak, bagaimana bisa dia memakai payung yang diberikan Arata hingga sampai ke rumah?
“Kak!”
Lea meletakkan kardus di atas buffet di ruang tamu. Payung hitam milik Arata ia tinggal di teras—mau ia kembalikan besok, dan sekarang ia mencari kakak perempuannya, Mina, yang pastinya sudah berada di dapur untuk masak makan malam.
Tapi Mina tidak sedang berada di dapur seperti dugaan Lea, melainkan duduk di sofa kulit berlengan di ruang tengah dengan kepala tertunduk. TV menyala, tapi tak bersuara. Ia juga masih mengenakan seragam bank tempatnya bekerja. Tidak biasanya.
“Kak?”
Mina seakan tersadar dari sesuatu yang sedang dilamunkannya. Kepalanya menegak kaget, dan langsung menoleh dengan ekspresi terkejut yang tak diduga. Matanya sembap, dan ia berusaha menyembunyikannya dengan memalingkan wajah buru-buru.
“Ada apa?” tanya Lea, duduk di sebelah Mina.
Ia memandang sekeliling; ke arah buffet dimana TV 29 inci bertengger di tengah permukaannya; ke dinding putih kusam yang dipenuhi foto keluarga, jendela kaca besar yang bergorden motif bunga matahari yang sudah pudar, jam dinding merk Sharp, yang jarumnya sudah tak bergerak lagi, baru kemudian kembali ke Mina, yang telah bergeser menghadapnya.
“Gimana pekerjaan kamu?” Mina menanyai Lea dengan senyum yang kentara sekali dipaksakan untuk ceria. Menarik lepas ikat rambutnya dan membiarkan rambut lurus hitamnya terjurai menyentuh bahu.
“Ini hari terakhirku,” jawab Lea. Menyandarkan punggung ke belakang.
“Maksudnya?” Mina kelihatan syok. Dahinya berkerut amat kuat, sehingga menimbulkan lipatan-lipatan tegas di permukaannya.
“Ya…, mulai besok aku nggak kerja lagi di sana. Kontrakku habis—katanya. Jadi aku dipersilakan pergi.”
“Kamu dipecat?”
Lea mengedikkan satu pundak, mengembuskan napas tajam dan berkata, “Anggap saja begitu,” tanpa ekspresi berarti. Entah kenapa ia tidak terlalu cemas lagi dengan itu. Yakin, kalau semua akan baik-baik saja. Pertemuannya dengan Dai membawa sedikit harapan baru baginya.
“Kakak kenapa?” Lea menanyai Mina kemudian, teringat wajah sedihnya beberapa saat lalu. “Kakak kelihatan… sedih.”
Mina menggeleng pelan. Senyum simpul samar tersungging di wajah cantiknya. Ia melepas kaca mata minusnya, dan menekan-nekan tulang hidungnya. Matanya tampak lelah. Usianya masih dua puluh tujuh tahun, tapi dia kelihatan seperti perempuan paruh-baya sekarang.
Lea merasa bersalah sekali padanya.
“Apa… ada tagihan lagi?” Ia memberanikan diri bertanya. “Aku masih punya tabungan, mungkin cukup—”
“Nggak.” Mina menjingkatkan alisnya sebagai penegasan. “Itu tabungan kamu. Untuk lanjutin kuliah. Dan mungkin ini saat yang tepat untuk kamu apply kuliah lagi. Kamu nggak mungkin dapat kerjaan secepatnya kan? Jadi Kakak mau kamu kuliah. Nggak usah kamu pikirin masalah tagihan atau apa pun.”
Setelah itu ia bangkit dari sofa, meraih amplop coklat di sebelahnya, menggapai tali sandang tasnya dan melintas di depan Lea dengan agak gontai. Lea buru-buru menyambar jemari Mina, memaksanya berhenti.
“Aku interview besok,” ia memberitahu. “Pekerjaan bagus dan gajinya lumayan.”
Mina menggeser badannya menyamping. Mengerutkan dahinya pada Lea. “Pekerjaan apa?” tanyanya kemudian.
Mulut Lea membuka dan mengatup lagi. Ia sendiri tak tahu pekerjaan apa yang ditawarkan oleh Dai. Apa benar menjadi Pengasuh; baby-sitter? Atau apa?
“Posisinya banyak.” Ia berharap Mina tidak akan menginterogasinya lebih jauh setelah ini. “Mereka akan wawancara aku dulu, baru aku ditempatkan di posisi yang cocok.”
Lea mendengar Mina mengembuskan napasnya dengan amat perlahan. Selalu dilakukannya kapan pun ia ragu akan sesuatu, dan sekarang dia pasti meragukan kata-katanya.
“Di mana… perusahaannya?”
“Board House.”
“Itu komplek perumahan elit.”
Lea mengangguk mantap.
“Nggak ada perusahaan di sana.”
Lea tidak mengharapkan kata-kata tersebut. Dan dia belum menyiapkan kalimat untuk menangkisnya.
“Tapi… aku memang disuruh datang ke sana.” Dia memilih berkata jujur sekarang.
Mina menarik tangannya, membuat tangan Lea terjatuh tak berdaya ke pangkuan. “Siapa yang suruh?”
“Ya...”—Lea menelengkan kepalanya sejenak, sekaligus meregangkan otot lehernya yang kaku—“orang yang menawariku pekerjaan.”
“Kakak nggak ijinin kalau nggak jelas gitu. Mending kamu cepat browsing internet. Cek kapan jurusan sastra buka pendaftaran lagi.”
Mina hendak melenggang lagi, tapi Lea menghentikannya dengan bertanya, “Kakak kapan lanjut kuliah lagi?”
“Kenapa kamu tanya itu?”
“Kalau Kakak nggak tahu kapan mau lanjutin, aku juga nggak pasti mau lanjutin kuliah atau nggak.”
“Kalau Kakak kuliah, darimana bayar utang?”
Dan Lea tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaannya.
Mina, memang sengaja cuti dari kuliah Kedokterannya untuk bekerja di salah satu Bank terkemuka di kota setelah ayah mereka meninggal akibat serangan jantung tiga tahun lalu. Terpaksa, karena sepeninggal Almarhum ayah, sebuah kabar tak enak langsung menyusul dari sebuah Bank, yang memberitahukan bahwa ayah meninggalkan utang lumayan besar pada Bank yang digunakannya untuk menutupi utang perusahaannya yang pailit, dan bila tidak dilunasi rumah mereka akan disita sebagai gantinya. Mina tak membiarkan itu terjadi, dengan alasan rumah ini adalah peninggalan satu-satunya orang tua mereka, dan memutuskan untuk mencari pekerjaan.
Untungnya ia langsung mendapatkan pekerjaan; di Bank, yang cukup ternama di kota. Karena wajah cantik, otak cerdas dan penampilannya yang luwes, ia mendapatkan jabatan dan gaji lumayan besar, sehingga bisa disisihkannya untuk melunasi hutang di Bank dengan mengangsur.
Lea menyusul setahun kemudian. Cuti kuliah dari jurusan sastranya, dengan tujuan membantu Mina. Awalnya Mina menolak mentah-mentah; mengomeli Lea habis-habisan ketika mengetahui Lea tetap nekat berhenti dari kuliahnya, namun seiring waktu—mungkin karena Lea tetap keras kepala—ia menyerah. Dan menyuruh agar Lea menabung sebagian gajinya untuk melanjutkan kuliah suatu hari, sementara sisanya ia boleh pergunakan untuk kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
Lea akui gajinya memang tak seberapa bila dibandingkan Mina, tapi dia sudah cukup senang dapat membantunya memenuhi kebutuhan rumah. Tapi sekarang, mengetahui ia tak bekerja lagi, ia jadi sedikit terintimidasi. Merasa tak berguna. Jadi ia harus mencoba tawaran Dai: melamar pekerjaan yang ia tawarkan.
“Sudah. Kamu ganti baju dulu,” Mina menyuruh. “Hari ini kita makan mi instant dulu ya? Kakak lagi nggak mood masak.”
Lea mengangguk paham, sedangkan Mina melanjutkan langkahnya. Tak lama kemudian setelah pintu kamar Mina terdengar menutup, Lea buru-buru merogoh tasnya. Mencari-cari kartu nama Dai Tanaka yang sembarang saja ia cemplungkan ke dalamnya beberapa jam lalu dengan panik.
“Dai Tanaka…” Lea menggumam pelan, sambil menarik keluar kartu nama berwarna hitam tersebut. Meneliti huruf timbul perak yang terukir di permukaannya, dan membaca sekali lagi dengan saksama alamat rumah di komplek perumahan bernama Board House, yang terkenal elit tersebut.
I will be there tomorrow…” katanya lagi dengan mantap pada dirinya sendiri. Masih dengan suara pelan, agar tidak didengar oleh Mina.

Rumah mungil dan asri yang ditempati oleh Lea dan Mina tentunya tidak bisa dibandingkan dengan rumah-rumah yang ada di Board House. Area rumah mereka memang luas, tapi bangunan rumah yang mereka tempati kecil dengan arsitektur sederhana. Lebih ke model rumah tahun tujuh puluhan, dengan pekarangan lebar, lengkap dengan furniture dan perabot yang juga ‘antik’ di dalamnya. Sementara rumah-rumah di Board House—sepanjang jalan Lea tak henti-hentinya menahan napas, begitu megah, dengan arsitektur yang belum pernah ia lihat. Sebagian ditutupi dengan pagar tinggi, sebagian lagi hanya dikelilingi taman hijau dan bunga-bunga hias yang memanjakan mata, seolah memamerkan segala yang dimiliki pemilik rumah. Mobil-mobil mewah hilir-mudik, membuat skuter yang Lea kendarai tampak sangat kumal melewati jalan besar sepanjang komplek yang mengantarkannya ke alamat rumah yang ada di kartu nama Dai.
Hari ini ia sengaja meminjam motor matic milik sahabat kecilnya dan juga tetangga sebelah rumahnya, Raenan. Mengingat betapa luasnya Board House. Tidak lucu rasanya, kalau ia wawancara dengan banjir keringat dan bau badan yang tak enak lantaran berjalan dari depan sampai ke tujuan. Belum lagi kalau ia nyasar, pasti akan lebih tak nyaman lagi. Selain itu, pengamanan komplek perumahan elit itu tidak main-main. Ketat. Tak sembarang kendaraan bisa masuk; jadi taksi atau pun ojek tentu tidak akan diijinkan masuk. Untung bagi Lea, ia tidak perlu berlama-lama di gerbang depan. Kartu nama Dai mempermudahnya. Dengan menunjukkannya saja, cukup membuat petugas keamanan gerbang mengangguk, dan membukakan gerbang otomatis tanpa interogasi lebih lanjut. Membuat Lea menyimpulkan dengan yakin, kalau Dai bukan orang sembarangan.
Lea berhenti di depan pagar besar berteralis dempet yang menjulang tinggi. Warna besi yang membentuknya hitam mengilap—semuanya hitam pekat, bahkan tembok yang mengapit di kanan-kirinya; berkesan mengancam. Dan dari tingginya, sepertinya ia memang dipasang untuk menutupi apa yang ada di baliknya. Bahkan Lea tak dapat melihat bangunan apa pun selain puncak pohon berdaun rindang yang tingginya melewati pagar teralis dan pagar tembok yang mengimpit kanan kirinya. Plakat nomor ‘62’, satu-satunya benda yang berwarna keemasan terpampang angkuh di salah satu tembok. Ini alamat yang benar, pikir Lea, sambil berkali-kali mengecek di kartu nama Dai.
Lea turun dari skuter, membuka helm dan menghampiri sesuatu yang seperti speaker di tembok sisi sebelah kanan. Di atasnya terdapat kamera pengintai yang langsung bergeser mengikutinya sampai akhirnya ia berada di depan alat komunikasi tersebut dan menekan tombolnya lebih dulu.
Suara ‘tet’ keras langsung terdengar di telinga, disusul suara laki-laki yang teredam menanyakan jati dirinya.
“Saya, Lea,” ia berkata dalam suara keras. “Saya—” ia menunjukkan kartu nama Dai ke kamera “—mau interview.”
Tunggu,” kata si laki-laki di ujung speaker. “Anda akan diperiksa dulu sebelum masuk.
Lea cuma mengangguk, setelah itu melepas telunjuknya dari tombol dan mundur. Ia ingin menunggu di skuternya, tapi baru beberapa langkah mendadak pintu pagar membuka otomatis, mengantarkan dua orang laki-laki berseragam hitam. Satu membawa alat pendeteksi metal, dan satunya lagi mencengkeram tali hela anjing hitam besar, Rottweller.
Memangnya mereka pikir ia siapa? Teroris? Apa tidak terlalu berlebihan pengamanan untuk sebuah rumah? Memang siapa yang tinggal di dalam? Presiden?
Kendati begitu, Lea membiarkan saja ketika petugas keamanan tersebut memindai sekuternya; mengecek isi tasnya. Bahkan tidak keberatan ketika si Golden Retriever yang menurutnya menggemaskan itu mengendusnya. Ikuti saja prosedurnya, ia bicara pada diri sendiri. Yang penting ia bisa wawancara hari ini.
“Tuan Dai sedang tak ada,” salah satu petugas keamanan memberitahunya. “Anda akan bertemu dengan Nona Malini.”
Lea menghafal nama perempuan yang disebutkan petugas keamanan tersebut. Tidak terlalu susah mengejanya, kendati cukup langka didengar.
“Baik,” angguknya seraya menyunggingkan senyum, dan buru-buru membuatnya raib ketika tak ada satu pun dari dua petugas keamanan itu membalas.
“Silakan,” petugas keamanan yang membawa anjing merentangkan tangan mempersilakan.
Lea cepat-cepat naik ke skuter, menstarternya, dan langsung melaju mendekati pagar tinggi yang sekarang membuka sepenuhnya. Dan seiring pagar itu melebar, matanya pun ikut melebar begitu melihat apa yang ada di baliknya.
Bukan rumah yang langsung ia lihat, melainkan area luas berumput yang tak terlihat ujungnya. Ia tak dapat membayangkan berapa luas tempat ini dan seperti apa rumah yang ada di akhir jalan beraspal yang sekarang sedang ia lalui bersama skuternya. Bahkan ada segerombolan kuda yang berlarian di padang rumput di sebelah kanan. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa ada tempat seperti ini di negaranya? Di kota tempat tinggalnya. Tempat seperti ini hanya ada di luar negeri. Di Texas, dimana banyak ranch yang dimiliki para cowboy, atau di Mexico yang banyak Indiannya.
It’s not real, Lea membatin. Takjub.
Lea memacu skuternya lebih kencang. Angin berembus dari segala arah menerpanya. Sejuk, menyenangkan. Menimbulkan gelenyar menenangkan di seluruh penjuru hatinya. Ia tersenyum, menikmati pemandangan sekitar, sesekali memejamkan mata seraya menghirup udara segar yang mengitarinya.
Hampir sepuluh menit atau lebih, akhirnya matanya menangkap penampakan sebuah bangunan. Bukan sembarang bangunan, karena amat megah dan luar biasa besar. Istana, mungkin lebih tepat untuk menyebutnya, karena mengingatkannya pada istana negara, hanya saja warna istana ini hitam—Weird, Lea membatin. Arsitekturnya klasik, seperti bangunan istana zaman Victoria di Inggris. Pilar-pilar, empat pilar besar menjulang menyangga atap terasnya. Dan bahkan dari jauh Lea dapat melihat betapa mengilapnya lantai marmer hitam yang menutupi permukaan lantainya.
Siapa yang tinggal di sini, Lea bertanya-tanya penasaran. Dan mengingat warna rumah ini yang terkesan kelam, ia pun merasa was-was. Apakah aman?
Ketika skuter Lea sampai di dasar undakan, seorang perempuan bergaun hitam dengan potongan sederhana muncul dari ambang pintu ganda yang terbuka. Kesan pertama Lea adalah seksi. Kedua, seksi. Begitu pun ketiga, keempat dan seterusnya. Ia cantik, namun tak sembarang cantik. Tak ada perempuan dengan wajah semenarik itu yang pernah ia lihat, bahkan model-model papan atas pun sepertinya tidak. Tubuhnya tinggi dan sintal. Kakinya panjang. Saat ia melangkah dengan anggunnya bersama sepasang sepatu hitamnya yang… mahal—Lea mengenali sepatu itu dari salah satu majalah fashion ternama—rambut ikal mengilapnya melambai lembut menegaskan aura lain yang membuat siapa pun akan terpesona.
Lea buru-buru turun dari skuter. Merasa amat dekil, ketika perempuan cantik itu berjalan menuruni undakan dan inci demi inci mendekat.
Bagaimana tidak? Ia keringatan, rambutnya sekarang pasti berantakan karena tertiup angin, dan baju yang dikenakannya hanya kemeja kotak-kotak merah, jins belel kesayangan serta sepatu kets putih yang tak ada merk sama sekali. Tidak ada kesan ‘wah’ di dirinya. Menarik pun mungkin tidak. Darimana Dai mengatakannya cantik kemarin, ia sendiri tak yakin sumbernya. Mungkin saat itu, Dai sedang kelilipan atau apa.
“Kamu pasti Lea?” Perempuan itu menembaknya langsung. Menjulurkan tangannya yang ramping dengan jemari lentik dan kuku yang berkuteks hitam padanya. Dari dekat ia jangkung sekali, membuat Lea yang tingginya 165 senti merasa luar biasa pendek.
“Anda Nona Malini?” Lea berkata dengan tak yakin, seraya menjabat tangan halus tersebut.
“Panggil Malini saja…” Ia menunjukkan senyum bercampur ringisan yang jenaka. “Nggak usah pakai Nona, Mbak, Kakak, Ibu atau embel-embel lainnya.”
Lea mengangguk-angguk. “Oke.”
“Ayo,” Malini mengajak. Berpaling, dan mulai menaiki undakan diikuti Lea yang masih terkesima. Bukan hanya pada Malini, melainkan keseluruhan bangunan yang sebentar lagi ia masuki.
All black,” Malini nyengir ketika mereka sampai di teras. “Apa aneh?”
Tentu saja aneh. “Menarik,” ujar Lea, balas nyengir kendati lebih mirip ringisan.
“Majikanku punya nama keluarga ‘Kuroi’ yang artinya hitam,” Malini menjelaskan. “Karena itu mereka terobsesi dengan warna hitam.”
“Semua diharuskan pakai hitam?” Lea menilai penampilan Malini yang serba hitam.
“Nggak. Cuma saja, hitam adalah warna formal,” timpal Malini santai. “Dan bekerja dengan orang Jepang itu mewajibkan keformalitasan.”
“Saya nggak bisa bahasa Jepang.”
Malini terkikik mendadak. Berhenti persis di ambang pintu dan memutar menghadap Lea. “Kamu nggak perlu khawatir soal itu,” bisiknya, ditemani senyum jenaka khasnya. “Kami semua berkomunikasi dengan bahasa Indonesia di sini dan… bahasa Inggris. Bahasa Jepang cuma dipergunakan oleh orang tertentu saja.”
Nama Dai segera terlintas di benak Lea. Juga Arata. Lalu siapa lagi?
“Mari. Kita harus mulai wawancara.” Malini mengedikkan kepala sebagai isyarat agar Lea mengikutinya.
Malini berjalan lebih dulu, sedikit lebih di depan dari Lea yang tanpa sadar melambatkan langkahnya untuk memandang seisi ruangan yang spektakuler.
Ini benar-benar istana, meskipun hitam. Betapa tinggi langit-langitnya, betapa besar jendela yang berderet di sepanjang dinding hitamnya, betapa mewah perabotannya, betapa luar biasa, dan betapa-betapa lainnya yang Lea bahkan tak bisa deskripsikan dengan kata-kata.
Ia sekarang melewati ruangan yang sepertinya ruang tamu. Beberapa set sofa besar dari kulit, tidak perlu disebutkan lagi warnanya, diletakkan di sisi kanan, kontras dengan permadani putih polos sebagai alasnya. Di sisi kiri, berbagai furniture etnik khas Jepan—meja, patung, lemari, guci dan lain-lain sengaja diletakkan berkelompok untuk dipamerkan pada siapa pun yang ingin melihatnya. Jumlahnya sepertinya ratusan, dan Lea menebak, harganya pasti tak main-main.
“Koleksi,” Malini memberitahu Lea yang tampak tertarik pada patung Geisha yang terbuat dari porselen. “Majikanku suka benda antik. Vintage.”
Lea memilih untuk tak berkomentar. Terlalu penuh benaknya untuk memikirkan kalimat lain selain, ‘oh’ untuk menanggapi informasi dari Malini yang pastinya akan selalu membuatnya tercengang. Lagipula ia belum wawancara. Akan lebih baik kalau ia menyimpan semua bahan bicaranya untuk itu.
“Welcome to Black House,” Malini berputar sejenak, merentangkan tangan memberikan penyambutan yang terkesan dramatis. Ia berjalan lagi, membuat lantai marmer hitam berkilap yang tersentuh hak sepatunya berdentam menggaung ke seluruh ruangan.
Sepi. Ruangan sebesar ini tak terlihat orang satu pun. Lea penasaran, ingin melihat si empunya rumah yang disebut majikan oleh Malini. Mungkinkah mereka berada di sini? Kalau ya, ia ingin melihatnya secara tak sengaja.
Malini berbelok ke kanan. di ujung batas dimana set sofa terakhir diletakkan. Sebuah pintu ganda kayu besar telah menunggu di ujung menuju ruangan lain yang pastinya sama ‘wow’nya. Malini menggapai gagangnya, dan memutarnya membuka. Ia mempersilakan Lea masuk lebih dulu, baru kemudian menyusul. Menutup pintu di belakangnya.
Sama seperti sebelumnya, Lea bengong. Ia berada di sebuah ruang kerja yang lebih mirip perpustakaan mini. Rak-rak kayu jati berjejer rapi menyamping dipenuhi ratusan buku di depan matanya. Di sisi kanan terdapat satu set meja kerja lengkap. Rapi, dan tertata. Kelihatan mengesankan tertimpa cahaya matahari yang direfleksikan oleh jendela kaca di belakangnya. Satu set sofa—kali ini warnanya putih—diletakkan di sisi kiri, dengan beberapa foto diri seorang laki-laki tua, dan perempuan muda tertempel di dinding belakangnya.
Apa itu majikan Malini?
“Silakan duduk, Lea,” Malini mempersilakannya duduk di salah satu sofa putih di sisi kiri.
Lea mengangguk, memilih salah satu sofa berlengan untuk duduk. Empuk. Ia melepas tas sandangnya dan meletakkan di sampingnya. Malini duduk di sofa berlengan yang lain di dekat Lea, menunduk ke sebuah Ipad, dan menggerakkan telunjuk di permukaannya.
Jantung Lea berdenyut normal, dan ia heran. Dia akan diwawancara entah apa dan dia tidak merasa tegang sedikit pun. Mungkin karena sikap ramah Malini sejak awal membuatnya tenang, atau lantaran firasatnya kalau ia akan diterima bagaimana pun hasil wawancaranya. Entahlah.
“Kamu dua puluh lima tahun?” Malini bertanya tanpa memandang Lea yang mengangguk bingung. Darimana ia tahu? “Dan,” ia mengangkat wajahnya dan memandang Lea, “tinggal sama kakak perempuan kamu saja?” Alisnya berjingkat meminta konfirmasi.
Lagi, Lea mengangguk, menyelipkan kata ‘ya’ pelan yang hanya bisa didengar
“Cuti kuliah dari jurusan sastra…,” Malini kembali ke Ipadnya. Membaca sesuatu yang sepertinya memuat informasi tentang Lea.
Lea penasaran. Dia bahkan belum membuat CV sama sekali untuk wawancara ini, bahkan tidak membawa hard copy-nya. Dan lagi, dia tidak akan sejujur itu mencantumkan perihal cuti kuliahnya di resumenya. Jadi darimana Malini tahu tentang itu?
“Ayah meninggal oleh serangan jantung tiga tahun lalu, dan ibu…”
“Kanker otak,” Lea menyambung. Merasa lega bila ia yang menyebutkan penyakit yang di derita ibunya yang menyebabkannya meninggal.
Tapi sepertinya Malini tidak terlalu peduli dengan itu, karena ia melanjutkan membaca dan menggumamkannya pada Lea.
“Ayah kamu meninggalkan utang banyak…”
Lea mengembuskan napas. Bahkan informasi tersebut juga ada. Ia ingin sekali bertanya pada Malini darimana ia mendapatkan data pribadinya.
“Dan kakak perempuan kamu sekarang bekerja di salah satu Bank ternama…” Malini mengerutkan kening, sepertinya terkesan.
“Dia memang pintar,” timpal Lea buru-buru. “Dan juga cantik. Sales Manager sekarang.”
Senyum manis Malini melengkung di wajah sensualnya. Ia memandang Lea; mengamati dari mulai kepala sampai kaki. Menggigit bibirnya sesaat, lalu berkata, “Kamu nggak mirip dia.”
Mata Lea mengejap-ngejap. Tak menyangka kalau Malini akan segamblang itu melontarkan pernyataan. Tapi ia tahu diri. Ia memang tak secantik Mina. Tak seputih Mina. Tak sepintar Mina. Pokoknya jauh kalau dibandingkan dengannya. Padahal mereka bersaudara.
“Semua juga bilang gitu,” Lea mengusahakan suaranya tetap normal, namun mungkin karena saking berupaya suaranya malah kedengaran datar. Aneh sekali. “Kakak saya memang cantik.”
“Oh, bukan itu maksudku.” Mata Malini membeliak seketika. Menggeleng panik. “Kamu juga cantik.”—Dia pasti cuma tak enak hati, Lea membatin—“Tapi—“ (Ya, tentu aja ada tapinya) “cantik kamu itu… unik. Kamu sadar nggak?”
Mata Lea memutar ke atas, seakan mencari jawaban. Dan ketika mata abu-abunya kembali pada Malini dia menggeleng.
“Dan bola mata abu-abu itu…”
“Kelainan gen,” tukas Lea buru-buru. “Cuma aku yang punya bola mata warna abu-abu di keluarga.”
Sejenak, Malini menatap Lea dengan pandangan yang tak dimengerti. Senyum tipis di sudut bibir merahnya entah kenapa membuat Lea merasa terintimidasi. Tak nyaman. Ia menyeringai, untuk menghilangkan rasa groginya, kemudian menunduk, memerhatikan jinsnya. Tidak tahu harus apa lagi.
“Hm.” Malini kembali ke Ipadnya. “Jadi… apa kamu merasa cocok untuk pekerjaan ini?” Ia memandang Lea lagi.
“Sebenarnya…” Lea berdeham, “saya nggak tahu pekerjaan apa yang ditawarkan pada saya.”
Malini kelihatan terkejut. Matanya membeliak. “Dai nggak kasih tahu?”
Lea mengibaskan kepala ke kanan dan ke kiri.
He’s weird,” gumam Malini diselingi kekeh renyah. “Dia bilang kamu adalah kandidat yang cocok.”
Lea cuma bisa pamer gigi. Ada rasa tak enak hati yang sekarang mengalir dari kepala dan melewati kerongkongannya. Dan dia juga bingung.
“Well…” Malini menyapukan tangannya ke udara. “No matter. Kalau menurut Dai kamu cocok, berarti kamu memang cocok. Prediksinya nggak pernah keliru.”
“Pekerjaan ap—”
Pertanyaan Lea terpotong oleh ketukan di pintu. Malini menyerukan kata ‘ya’ dan pintu ganda tersebut tak lama didorong membuka. Seseorang muncul dari baliknya. Jangkung, putih, dengan rambut hitam pekat pendek dan wajah unik yang Lea takkan bisa lupa. Tapi, sedang apa dia di sini? Mengenakan baju chef-nya lengkap dengan aroma masakan yang menempel keras di tubuhnya. Kendati begitu, pesonanya tak hilang, malah menguat. Dan ketika akhirnya Juna Rorimpandey sampai di hadapan Malini, Lea tak kuasa menahan emosinya lagi. Ia pingsan. Tak sadarkan diri. 

(Bersambung)

gambar dari sini

3 comments:

TS Frima April 26, 2015 at 4:03 PM  

I'll be back for more :)
Ditunggu ya (y)

Indar Meilita May 3, 2015 at 11:20 PM  

@TS Frima: Ditunggu kembalinya kamu kemari ya. Terima kasih dan semoga menikmati membaca ceritanya ya

Elsa Gamaria May 8, 2015 at 2:47 PM  

Jadi inget yg a dedicated for junior rorimpandey deh ka, ketika pertama kali lea ketemu juna "pingsan" ini pun juga pingsan wkwkw sorry for not important comment yey

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP