The Adorables (1)

>> Monday, April 20, 2015


Dai

Nice. Rain.”
Perempuan berambut ikal coklat sepunggung itu menengadahkan wajah ke arah langit kelabu dengan putus asa. Butiran air, awalnya satu-satu, dua-dua sampai akhirnya tak terhitung kini berjatuhan membasahinya.
Sambil melindungi kardus di dekapan, ia loncat ke tepi. Berlindung di bawah atap deretan ruko yang trolinya tertutup rapat. Dibenarkannya tali tas di pundak, diangkatnya kardus lebih ke atas agar lebih nyaman dibawa, setelah itu ia diam menunggu. Berharap hujan segera reda agar ia bisa pulang ke rumahnya secepat mungkin.
Payung-payung berbagai bentuk dan warna kini bersliweran bersama pemiliknya yang melangkah tergesa di trotoar basah. Air yang menggenang beberapa kali memercik ke arah kaki si perempuan yang cuma bisa berdecak kesal ke arah orang-orang yang tanpa sengaja mengotori sepatu putih berhak 2 sentinya.
Beberapa kali ia bergeser ke tempat yang dipikirnya bebas ciprat, namun sepertinya sia-sia. Jadi ia cuma bisa mendengus kesal dan berdecak saja setiap ada orang yang tak sengaja menyipratkan air ke arahnya.
Bad day?
Spontan, perempuan itu menoleh ke arah darimana suara berat yang didengarnya berasal. Mengejapkan mata begitu bertemu pandang dengan seorang laki-laki tampan yang mengenakan jaket hitam bertudung yang berdiri tak seberapa jauh darinya. Sejak kapan ia di sana?
Jujur saja, ia tak pernah melihat wajah setampan itu. Terutama wajah tampan yang tanpa alasan mendadak bicara dengannya. Laki-laki itu sepertinya seumuran dengannya; mungkin lebih tua sedikit. Ia begitu sempurna, dilihat dari badan jangkung tegapnya. Kulitnya putihnya, serta rambut lurus gelap yang hanya sebatas tengkuk menambah pesonanya. Entah kenapa.
Tak mau geer, si perempuan menoleh ke belakang, Berpikir mungkin saja laki-laki tersebut sedang bicara pada perempuan cantik yang berdiri di belakangnya. Namun tak ada siapa pun, dan memang sejak tadi tak ada, jadi ia cukup yakin ketika memutuskan menjawab kikuk pertanyaan laki-laki tersebut.
“Sedikit.” Suaranya kedengaran agak parau di telinganya sendiri. Si perempuan berharap ada sebuah filter kasat mata yang membuat suara tak enaknya sampai dengan merdu di telinga si tampan.
“Kardusnya kayanya berat.”
“Lumayan.” Ia mencoba tersenyum kendati meringis.
“Perlu saya bantu bawa?”
Perempuan itu membeliakkan mata dan menolak buru-buru dengan menggeleng panik. Si laki-laki tertawa. Tawa yang renyah sekali.
I’m Dai, by the way,” laki-laki itu memperkenalkan diri.
“Saya…, Lea.”
Biasanya ia—Lea—tidak pernah sembarangan menyebutkan namanya pada orang asing. Namun entah kenapa untuk laki-laki ini ia membuat pengecualian. Seakan saja ia kena hipnotis atau memang ia tidak punya pikiran negatif apa pun pada laki-laki bernama Dai ini. Tapi ngomong-ngomong, namanya unik sekali?
“Apa isinya? That box?”
Lea menunduk sejenak ke celah kecil permukaan kardus yang didekapnya, baru kemudian menjawab lemah. “Barang-barang saya dari kantor…”
“Mau dibawa kemana?”
“Pulang.”
“Boleh, bawa barang-barang dari kantor pulang?”
“Hari ini hari terakhir saya kerja.”
“Oh. So…, udah dapat kerjaan baru kalau gitu?”
Senyum bingung dan gelengan kepala. Itu saja yang didapat Dai sebagai jawaban. Membuat keningnya berkerut, dan kemudian mengucapkan ‘sori’ yang kedengaran merasa bersalah.
No. It’s fine. Kontrak saya memang sudah habis hari ini,” Lea bicara buru-buru untuk memperbaiki situasi.
Kembali Dai mengerutkan dahi. “Mereka nggak bilang jauh-jauh hari ya?”
Susah menjawabnya, tapi memang begitu kenyataannya. Atasan Lea—mantan atasannya sekarang, mendadak saja memanggilnya pagi ini, dan mengatakan kalau ia tidak lagi dibutuhkan di perusahaan.

Kontrak kamu habis hari ini. Jadi, kamu bebas untuk meninggalkan kantor jam berapa pun. Tentu saja setelah kamu melakukan proses serah-terima dengan HRD.”
“Tapi… kenapa tidak ada pemberitahuan sebelumnya, Pak?”
“Oh. Nanti HRD yang akan jelaskan. Terima kasih atas nama perusahaan atas segala kontribusi kamu selama bekerja di sini.”

That’s it. Itu saja. Pengabdiannya selama dua tahun lebih berakhir dengan membingungkan dan tanpa penjelasan yang masuk akal dari siapa pun di sana. Dan begonya, ia pun tak berusaha lebih keras untuk mendapatkannya.
Gajinya dibayar, namun selain itu tak ada; pesangon, bonus atau apa lah. Dan meskipun ia tahu kalau ia bisa saja menuntut dan mengadukannya ke Dinas tenaga kerja, ia memilih untuk diam. Pasrah. Ia pacifist—pencinta damai.
“Benar-benar ‘bad day’ kalau begitu…” Dai kembali berkomentar setelah mendengar cerita singkatnya.
“Ya. Sepertinya. Untuk saya…”
Don’t worry,” Dai memberikan senyum menawan yang menenangkan. “Badai pasti berlalu.”
Lea tak tahu harus membalas dengan kalimat apa. Saat ini kalimat seceria apa pun akan sulit menghibur hati sedihnya. Tapi dengan alasan kesopanan, ia tersenyum kendati muram.
Tak ada yang bicara setelahnya. Lea, sekarang bengong dengan kardus di depan dada, memandangi jalan raya di depan yang mengilap basah oleh air hujan. Sementara Dai, ia memerhatikan Lea dari atas ke bawah seolah menilai selama beberapa waktu sampai akhirnya ia kembali bicara.
“Kamu cantik.”
Merasa salah dengar Lea melebarkan mata takjub pada Dai yang membalas dengan menjingkatkan alis.
“Saya serius,” ujar Dai meyakinkan. “Kamu sempurna.”
Lea merona. Seluruh badannya sepertinya. Karena dinginnya udara yang menerpa tak lagi ia rasa seiring rasa hangat yang merambat turun dari kepala ke kakinya.
“Sori, kalau lancang,” Dai buru-buru menjelaskan. “Tapi—”
Lea mengibaskan kepala. “No… Cuma…, kamu orang pertama yang muji saya,” katanya. Nyengir. “Jadi agak… perlu adaptasi sedikit.”
Dai terkekeh. Dia tampan sekali saat tertawa. Dan ketika ia bergeser mendekat, Lea tambah grogi. Mencengkeram kotak kardusnya lebih erat, mengimbangi denyut jantungnya yang seolah lebih semangat berpacu,
“Kalau kamu butuh kerjaan…, saya bisa kasih pekerjaan.”
Mata Lea seketika melebar. Namun ia cepat tersadar, dengan cepat mengembalikan matanya ke ukuran semula.
“Pekerjaan apa?”
Dai memasukkan kedua tangan ke saku jins, dan bersandar ke troli di belakang. “Rumahan.”
“Maksudnya?”
“Ya… Mengasuh, kalau saya bilang.”
Lea mau tak mau tertawa. Perasaan sedih yang tadi dirasakannya mendadak raib mendengar kalimat Dai barusan. “Saya nggak punya pengalaman jadi baby-sitter. Dan… saya agak”—dia meringis seolah kesakitan—“takut sama anak kecil.”
Ganti Dai yang tergelak. Dan sekali lagi Lea harus mengalihkan pandang untuk mengontrol perasaannya. Sumpah, ia sangat tampan. Membuat kakinya seolah kesusahan menopang berat tubuhnya sekarang.
“Datang saja dulu.” Dai merogoh saku belakang jinsnya, menarik keluar dompet kulit mengilap dan membuka lipatannya. “Ini.” Ia menyodorkan kartu nama yang baru saja dikeluarkannya pada Lea. “Just come.”
Lea membaca nama yang tertera di kartu nama tersebut. ‘Dai Tanaka’. Dia orang Jepang? Dan alamatnya… Board House?! Itu kawasan elit. Tapi selain itu tak ada apa pun. Tak ada jabatan, atau nama usaha yang mungkin dia jalani. Bahkan nomor telepon pun tak ada.
Lea mengangkat wajah dari kartu nama ia pegang, dan memandang Dai yang ternyata sedang menatapnya. Dai tersenyum, dan ia langsung merona. Lupa akan pertanyaan yang hendak diajukan pada laki-laki itu.
“Gajinya lumayan. Mungkin jauh lebih besar dari yang pernah kamu terima sebelumnya,” kata Dai lagi.
Lea mengejap-ngejapkan mata. Ia tidak bisa langsung menerimanya, karena ia belum tahu pekerjaan apa yang harus ia lakukan. Dia juga tidak bisa menolak, karena dia, setelah hari ini, harus mencari pekerjaan dengan cepat. Dengan gaji yang tentu saja tidak di bawah gajinya dulu. Dan mendengar Dai mengatakan kalau gaji dari pekerjaan entah apa itu lumayan, setidaknya dia harus mempertimbangkan.
“Ini… nggak ada hubungannya dengan sesuatu yang melanggar hukum kan?”
“Kan tadi saya sudah bilang… Mengasuh,” Dai menegaskan dengan suara yang lembut. “No legal thing.”
“Oh… ya.” Lea mengangguk-angguk. Sambil menyeringai malu. “Sori.”
“It’s ok.”
Sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti mendadak di depan mereka. Pintunya terbuka cepat, mengantarkan seorang laki-laki berjas hitam turun dengan payung hitamnya yang ia buka sebelum menjejakkan kedua sepatu mengilapnya di trotoar. Satu lagi laki-laki tampan, pikir Lea.
“Oh, no…” Dai mengeluh. Sepertinya ia mengenali laki-laki tersebut.
Dan memang, karena laki-laki itu kemudian berjalan menghampirinya dan—anehnya—menunduk hormat pada Dai.
“Dai san, Anda ditunggu di rumah,” ujarnya. “Segera.”
“Kenapa lagi dia?” tanya Dai.
Laki-laki berjas hitam itu menyunggingkan senyum. Tidak menjawab.
“Hm. Oke. Tapi aku minta tolong, berikan payung kamu sama Nona ini.”
Lea cepat-cepat menggeleng. “Nggak usah. Nggak perlu.” Ia menggeleng lebih keras ketika laki-laki berjas hitam itu menyodorkan payungnya pada Lea.
“Biar kamu bisa cepat sampai rumah,” kata Dai.
Mau tak mau, agak repot, Lea menerima payung tersebut dari tangan laki-laki berjas hitam. Mengucapkan terima kasih ditemani anggukan setelahnya.
Dai tersenyum pada Lea, dan Lea membalasnya dengan senyum tak enak hati. Setelah itu ia memalingkan wajah pada laki-laki di depannya. “Oke, Arata. I’m ready.”
Arata mengangguk dan berjalan menuju mobil dan membukakan pintu. Sementara Dai berpamitan pada Lea.
“Setidaknya datang besok,” ia mengingatkan Lea lagi. “Jadi kita bisa sering ketemu.”
“Oke,” jawab Lea singkat. “Tapi… emang nggak ada nomor telpon ya?”
Dai nyengir. Tidak menjawab. Kemudian mengucapkan ‘bye’ pada Lea, dan segera berpaling. Bergegas menuju mobil dan masuk ke dalamnya.
Arata menyempatkan mengangguk pada Lea sebelum menyusul masuk ke dalam mobil. Setelah itu ia menutup pintu, memblokir sosok Dai yang masih sempat menoleh dan melemparkan senyum manis pada Lea.
Mobil mewah itu pun melaju, berbaur bersama kendaraan lain di jalan raya yang padat. Meninggalkan Lea sendirian lagi di bawah atap ruko, mendekap kardus, dan ketambahan payung hitam yang sama beratnya dengan kardus yang dibawanya, serta rasa bingung dan takjub yang mendesak-desak benaknya.

(Bersambung)

gambar dari sini

2 comments:

Anonymous,  April 23, 2015 at 7:44 PM  

Mbak Lita....
kok ndak dilanjutin cerita Raira nya... penasaran nih

Indar Meilita May 3, 2015 at 11:22 PM  

@Anonymous: Namanya kok gak ada nihhh? Heheheh

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP