When I Meet You: Keping 1

>> Tuesday, December 2, 2014

PROLOG

Kisah cinta ini, kemana akan membawa kita?
Itu yang selalu aku tanyakan pada diri sendiri. Romantis, seperti halnya cerita cinta yang pernah kutonton. Aneh, karena terjadi begitu saja tanpa tahu kapan perasaan cinta tumbuh di hati. Menyenangkan, karena bagaimana pun cinta selalu membawa sebuah rasa yang seperti candu. Menyakitkan efeknya, luar biasa saat dikonsumsi.
Namun, cinta ini adalah semacam cinta yang tidak boleh terjadi. Karena dua hati tak lagi sendiri. Telah ada pemiliknya masing-masing. Tapi cinta adalah cinta. Ia tak pernah salah. Tak pernah kompromi. Bila ia telah hinggap, di hati yang tepat, yang merindukan cinta sebenar-benarnya, tunasnya akan mengakar ke bagian terdalam. Sulit dicabut, dan bertahan tak lekang waktu.
Cinta ini adalah cintaku. Mimpiku. Penantianku selama 33 tahun masa hidupku. Kutuangkan dalam sebuah kisah, mewakili satu hati lagi yang tak mampu bersuara. Satu hati yang aku cintai dan mencintaiku. Satu hati yang ingin kumiliki sampai akhir nanti.


BAB 1: B E G I N N I N G

Keping 1

New Job

Denpasar, Maret 2013


IA mulai kerja lagi. Setelah sebulan penuh diam di rumah, menunggu panggilan dari perusahaan-perusahaan yang ia kirimi lamaran kerja; beberapa kali wawancara dengan beberapa di antaranya, sampai akhirnya, salah satu perusahaan memanggilnya dan mengatakan bahwa ia diterima bekerja di sana. 
Jadi ia bangun pagi-pagi.  Mandi dengan cepat, dan dandan lumayan lama. Meskipun ia sadar wajahnya tidak cukup cantik, namun setidaknya ia ingin memberikan penampilan terbaik. Make-up ia pulas tipis-tipis, rambut ia rapikan—bersyukur hasil smoothing tahun lalu masih ada jejaknya, kemeja warna biru telur asin favoritnya ia kenakan dengan hati-hati, dimasukkan ke rok span hitamnya. Setelah semua beres, ia berangkat dengan menenteng tas sandangnya.
“Pagi.” Ia menyapa Brian, tunangannya yang menunggu di motornya yang menyala.
Dilihat dari rambutnya yang awut-awutan dan matanya yang merah, ia pasti baru saja bangun tidur. Tak repot-repot untuk menyisir rambut atau cuci muka.
“Baru bangun ya?” Ia menggoda. Duduk di boncengan motor. “Nggak cuci muka, nggak sikat gigi. Jorok.”
“Gak papa lah,” Brian berkilah. “Toh mau tidur lagi.”
Ia mengembuskan napas. Seringai Brian tidak cukup untuk membuatnya menganggap kalimatnya barusan adalah sesuatu untuk ditertawakan. Berharap Brian lebih dewasa. Namun, sepertinya tidak bisa. Brian, bagaimana pun akan tetap seperti itu; seperti anak kecil yang bersikap kekanak-kanakkan dan tak ada siapa pun yang bisa mengaturnya untuk melakukan hal yang tidak ingin ia lakukan. Tidak terkecuali Raira, tunangannya.
Mereka berangkat, dan jalan raya telah ramai. Dibilang macet, tidak, padat mungkin. Makan waktu 20 menit, sampai akhirnya mereka tiba di tujuan. Raira berpamitan, berpesan pada Brian untuk menjemputnya jam 5 sore. Dan Brian pun mengangguk, lalu melesat pergi.
“Oke. Raira.” Ia menyemangati dirinya sendiri, “Let’s face it.
Setelah memejamkan mata sejenak, ia melangkahkan kaki. Menuju teras gedung, menaiki undakan satu demi satu yang membawanya ke pintu kaca ganda.
Jantungnya berdetak kencang. Hari pertama, pastinya akan jadi hari yang menegangkan. Selalu begitu. Tapi setelah satu minggu, perasaan itu toh akan pergi dengan sendirinya.
Hal pertama yang biasanya dilakukan oleh karyawan baru di sebuah perusahaan biasanya orientasi—pengenalan perusahaan dan gedung perusahaan. Tapi mungkin karena Pak Farid, orang yang mengajaknya berkeliling bukan dari departemen Human Resources, maka laki-laki paruh baya itu tidak merasa penting untuk menjelaskan pada Raira perihal seluk-beluk perusahaan, dan langsung mengenalkannya dengan orang-orang yang ada di dalam gedung dua lantai itu.
Sejauh ini Raira telah berkenalan dengan hampir semua staf. Mulai dari Departemen Produksi, Finance & Accounting, beberapa dari Departemen Marketing sampai akhirnya orang terakhir yang diperkenalkan oleh Pak Farid, sebagai salah satu perwakilan dari Jakarta yang ditempatkan di Bali. Laki-laki berkulit coklat, dengan senyum manis di wajahnya yang sederhana, yang sedang duduk menghadap monitor laptop di meja kerjanya. Aidan.
Dari perawakannya sepertinya umurnya 35-an. Sudah menikah,  mungkin, dan punya anak 1 atau 2. Tidak penting,  batin Raira. Toh nggak akan berurusan sama dia nanti di urusan kerja. Kendati begitu, ia tetap mengucapkan terima kasih setulus hati, ketika Aidan mengatakan, “Selamat bergabung, ya,” padanya, sambil menjabat tangan Raira erat.
Setelah itu orientasi selesai. Dan Pak Farid mengantarkan Raira ke ruang kerjanya, yang bersebelahan dengan ruangan Departemen Design dan Marketing. Mejanya tepat di depan pintu ruangannya, sehingga ia bisa melihat jelas keluar dan orang di luar sebaliknya. Tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil kecil. Pas lah. Sebuah laptop sudah teronggok di permukaan meja, yang kemudian Pak Farid katakan memang diperuntukkan baginya dan boleh ia bawa pulang bila mau. Satu filing cabinet sudah disiapkan sesuai permintaan Raira sebelumnya. Dan sekarang ada di belakang kursinya.
Ia duduk di kursi, dan pandangannya langsung mengarah ke ruang kerja para Principal—tepat ke meja Aidan yang kebetulan persis di depan pintu yang terbuka. Pandangan keduanya bertumbukan. Raira tersenyum, dan Aidan pun tersenyum. Ia melambai centil, Aidan membalas dengan tawa lebar. Tak ada maksud menggoda tentu, karena memang begitulah sikap bawaannya. Untunglah setelah itu Aidan kembali menunduk menekuni apa yang ada di layar laptop 14 inci di depannya, sehingga Raira tidak perlu mengalihkan pandang lebih dulu untuk memutus kontak mata.
Sepertinya aku akan betah, pikir Raira, bersandar di kursi kerjanya yang empuk.  Yah. Mudah-mudahan.

(Bersambung)

gambar dari sini

2 comments:

gambar bunga December 5, 2014 at 4:59 AM  

menarik menarik keren keren...

gusk December 5, 2014 at 2:10 PM  

Mbak Lita...
Apa kabar???

ini Cerita sambungan dari Aidan & Raira 2 atau cerita baru lagi??

hehehe

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP