Aidan & Raira (1)

>> Tuesday, August 5, 2014


Pertama
HAI

“HAI. Saya Aidan.”
“Oh. Ini toh? Halo, saya Raira.”
Aku mengulurkan tangan kepada Aidan. Orang yang selama ini berhubungan denganku perihal pekerjaan via telepon. Dia ternyata masih muda; tidak pas dengan suaranya yang kedengaran renyah dan berat di telepon—aku mengira dia adalah laki-laki paruh baya, berkacamata dengan rambut klimis berminyak, namun nyatanya dia cukup… ok. Tidak bisa dibilang cakep banget, tapi enak dilihatlah. Rambut coklatnya dicukur pendek sebatas tengkuk. Senyumnya manis, dan ada dua bolongan di masing-masing pipinya. Badannya cukup tinggi; atletis. Kulitnya agak coklat. Dia mengenakan kemeja merah hati yang fit dengan tubuhnya dipadukan dengan blue jins normal—bukan jins pensil ya (untunglah). Jujur, aku suka penampilannya. Dewasa, namun tetap menarik.
“Berarti kamu jadi pindah ke sini?” Dia bertanya setelah kami menarik tangan masing-masing. Menyeruput sedikit kopi di dalam mug bergambar salah satu pemain sepak bola entah siapa yang sedang dipegangnya.
“Ya.” Aku mengedikkan bahu. “Tunangan saya pindah ngantor ke Bali. So…” Aku tidak melanjutkan. Mendadak saja rasa kesal menyambangi pikiranku.
Aidan mengangguk-angguk dengan bibir membentuk huruf ‘O’. Kemudian dia tersenyum simpul. “Tunangan kerja dimana emangnya?”
Aku menutup novel Hunger Games: Mocking Jay yang membuka di atas meja kerjaku. “Salah satu perusahaan developer di sini. Bosnya… buka cabang di sini, dan dia dipercaya untuk ngelola.”
“Hm.” Aidan kembali menyesap kopinya. “Hebat kalau gitu.”
Aku cuma tersenyum muram.
“So… Oke.” Aidan mengembuskan napas tajam. Kembali mengembangkan senyum ramahnya. “Welcome to Satu Entertaiment, Raira Darling.”—Aku mendengus tersenyum—“Saya harap… kita bisa jadi tim yang solid.”  Dia menutupnya dengan senyum tulus dan kedipan sebelah mata.
“Ya. I hope so,” balasku, turut tersenyum. “Thanks, Aidan.”
Aidan mengangguk-angguk. “Saya balik ke ruangan dulu. Masih berkutat dengan disain berlian. Kudu selesai besok, karena mau dijadiin bahan presentasi sama Bos.”
“Oke. Good luck, then,” ujarku, mengayunkan kepalan tanganku untuk memberikan semangat.
“Kalau butuh bantuan…” Aidan berjalan mundur menuju pintu ruang kerjaku, “jangan takut nyambangin ruangan saya ya.”
“Oke.” Aku terkekeh, dan melambaikan tangan.
Setelah itu Aidan berbalik dan berjalan santai keluar ruangan. Punggungnya menghilang dari pandangan. 

(Wait for chapter 2)

gambar dari sini

0 comments:

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP