Aidan & Raira (2)

>> Wednesday, August 20, 2014

Baca Aidan & Raira (1)



Kedua
Tawa

TAB lagi. Tab lagi.
Aku mendengus kesal melihat Ben duduk berselonjor di atas sofa dengan tab di depan hidungnya, sementara tangannya berulang-ulang menyentuh layarnya.
“Malam, Ben,” aku menyapa seraya melempar tas dan tas laptopku di sofa lain kemudian mengenyakkan badanku yang penat di atasnya.
“Malam.”
Sahutan pendek itu sudah sering kudengar. Percuma membahasnya, karena pastinya berujung dengan pertengkaran norak yang tidak seharusnya terjadi. Jadi aku cuma bengong memerhatikan Ben menekuni game online-nya, dan berharap dalam hati kalau Tab-nya mati mendadak. Sayangnya, Tab milik Ben itu tahan banting. Seberapa besar pun doaku agar Tuhan membuatnya rusak, benda itu tetap saja kokoh tak terpatahkan.
“Udah makan?” Aku membungkuk melepas sepatu.
“Belum.”
“Oke.”
Aku berdiri. Menyambar tas, kemudian Berjalan pergi dengan kedua sepatu menggantung di salah satu tangan. Kuletakkan keduanya di rak sepatu di depan kamar, kemudian masuk ke dalam. Kulempar badanku ke atas kasur, menelungkup pasrah dengan kepala menghadap ke arah lemari di seberang. Di depannya dua tas polo besar berjajar rapi. Isinya belum keluar, karena sesampainya di Bali tadi pagi aku langsung ngantor.
Besok saja unpacknya, aku menyarankan pada diri sendiri. Setelah itu mataku kututup.
Pikirin lagi, Ra…” Suara Nana sahabatku terdengar lagi di kepalaku. “Kamu nggak seharusnya pindah cuma gara-gara ngikutin Ben kan? Kamu bisa tetap stay di Jakarta, dan Ben di Bali. Udah enak juga kerjaan kamu di Jakarta.”
“Kami bentar lagi mau nikah, Na. Kalau saling jauh rasanya nggak baik. Lagian, kantor pusat udah setuju mutasiin aku ke Bali kan? Sekalian aku ingin ngerasain berdua aja sama Ben, tanpa ada orang-orang tertentu yang ikut campur—Kamu nggak termasuk,” aku menambahkan buru-buru sebelum Nana manyun. ‘Orang-orang tertentu’ yang aku maksud adalah keluarga Ben. “Aku rasa Bali adalah a right place to start.”
Nana mengedikkan bahu. “Nggak tahu deh,” ujarnya. “Aku cuma mikir kalau keputusan kamu pindah ngikutin Ben bukan keputusan yang tepat.”
Pembicaraanku dengan Nana terpotong oleh nada dering ponselku yang teredam. Susah payah, kudorong badanku bangkit. Kuraih tas, menarik risletingnya membuka, dan merogoh ke kantong dalam tas untuk menarik ponsel keluar. Benda itu masih mengalunkan lagu ‘happy’ Pharrel William dengan nama seseorang terpampang di layarnya.
“Ya, Pak Aidan?”
“Tua banget aku ya, sampai-sampai kamu harus nyapa aku dengan embel-embel ‘Pak’ di depannya?” Si penelepon langsung protes.
“Aku kan menghormati,” kekehku. “Lagian emang udah tua kan? Umur kamu 6 tahun di atasku.”
“Hm… Dasar HRD. Skakmat dengan bawa-bawa data konfidensial.”
Aku cekikikan “So…, ada apa malam-malam? Ada yang bisa aku bantu?” tanyaku serius, walau ditemani dengus geli.
“Well, nggak juga sebenernya. Cuma mau ngingetin, besok kita ada meeting. Jadi aku mau minta bantuan untuk prepare ruang meeting?”
Aku mengerutkan dahi. “Prepare kaya gimana maksudnya?” Aku duduk bersila di atas kasur. Senyum simpulku mengembang.
“Yah… Siapin air minum, snack—kaya gitulah.”
“Oh… Harlan udah info aku kalau itu,” balasku. Harlan adalah bosku, sekaligus temanku baikku saat di kampus dulu. “Aku suruh Yudi yang siapin sore ini.”
“Aneh banget, denger kamu nyebut Pak Harlan dengan dengan namanya aja. Padahal dia jelas-jelas tua.”
Aku tergelak.
“Nggak adil ah,” Aidan menyambung lagi diiringi dengus geli.
“Harlan seumuran dengan kamu, kok.” Aku berjalan dengan lutut di atas kasur, dan menurunkan kakiku satu per satu kemudian ke lantai. “Mukanya aja yang boros.”
Kekeh kecil terdengar dari ujung telpon. “Oke deh, Raira Darling. Sampai ketemu besok. Selamat istirahat.”
“Kamu juga, Dan.” Aku bangkit berdiri dan berjalan menghampiri meja rias.
“Oh…” Aidan menyempatkan diri menguap. “Aku masih di kantor. Belom selesai nih. Laper juga.” Dia nguap lagi.
Bibirku mengerucut. Kulihat wajahku di cermin, dan melihat air mukaku sedikit muram. “Aku aja pulang jam 9 tadi. Kamu mau pulang jam berapa?”
“Udah biasa kali…” Suara klak-klik mouse terdengar. Aidan sepertinya sudah melanjutkan pekerjaannya. “Yah, nasib jadi Art Director paling diandalkan di sini.”
Dia cekakakan setelahnya, sementara aku memutar kedua mata ke atas ditemani dengus geli.
“Ya udah deh. Istirahat dulu. Nanti tunangan kamu ngambeg kamu ngobrol lama-lama sama cowok ganteng.”
Oh, God, this guy. Aku menggelengkan kepala. Tersenyum pada perempuan bermata hitam pekat yang balik menatap dari cermin. Kukibaskan rambutku, dan dia pun mengibaskan rambut coklat panjangnya ke belakang.
“Oke, Dan. See you besok ya.” Aku memiringkan kepala. Pipiku bertopang pada tanganku yang kukepalkan.
“See you, then,” balas Aidan.
“Darimana dapat nomor ponselku?”
“Aku ngehack data HRD.”
“Oke. Tapi nomor ponselku nggak ada di data.”
“Aku lihat profil fesbuk kamu.”
“Aku nggak punya fesbuk.”
“Boong kalau itu,” kekeh Aidan. “Karena aku lagi mantengin foto kamu, ‘Raira Roy’ di fesbuk yang temennya udah sampe 1000an.”
Aku menggigit bibir bawahku. Meringis tertawa. “Nggak jelas ih.”
“Oh, aku jelas banget. Aku bukan makhluk astral. Jadi berwujud.”
Aku tidak bisa berhenti tertawa. Laki-laki ini tanpa banyak usaha membuatku rileks. Tak lagi memikirkan beban yang memberatkan kepala.
“Oke deh, Raira. Tidur yang manis ya. Jangan ngorok.”
“Iyuhh…”

Aidan tergelak, kemudian mengucapkan ‘bye’ dan menutup telpon setelah aku membalas.

Read more...

Aidan & Raira (1)

>> Tuesday, August 5, 2014


Pertama
HAI

“HAI. Saya Aidan.”
“Oh. Ini toh? Halo, saya Raira.”
Aku mengulurkan tangan kepada Aidan. Orang yang selama ini berhubungan denganku perihal pekerjaan via telepon. Dia ternyata masih muda; tidak pas dengan suaranya yang kedengaran renyah dan berat di telepon—aku mengira dia adalah laki-laki paruh baya, berkacamata dengan rambut klimis berminyak, namun nyatanya dia cukup… ok. Tidak bisa dibilang cakep banget, tapi enak dilihatlah. Rambut coklatnya dicukur pendek sebatas tengkuk. Senyumnya manis, dan ada dua bolongan di masing-masing pipinya. Badannya cukup tinggi; atletis. Kulitnya agak coklat. Dia mengenakan kemeja merah hati yang fit dengan tubuhnya dipadukan dengan blue jins normal—bukan jins pensil ya (untunglah). Jujur, aku suka penampilannya. Dewasa, namun tetap menarik.
“Berarti kamu jadi pindah ke sini?” Dia bertanya setelah kami menarik tangan masing-masing. Menyeruput sedikit kopi di dalam mug bergambar salah satu pemain sepak bola entah siapa yang sedang dipegangnya.
“Ya.” Aku mengedikkan bahu. “Tunangan saya pindah ngantor ke Bali. So…” Aku tidak melanjutkan. Mendadak saja rasa kesal menyambangi pikiranku.
Aidan mengangguk-angguk dengan bibir membentuk huruf ‘O’. Kemudian dia tersenyum simpul. “Tunangan kerja dimana emangnya?”
Aku menutup novel Hunger Games: Mocking Jay yang membuka di atas meja kerjaku. “Salah satu perusahaan developer di sini. Bosnya… buka cabang di sini, dan dia dipercaya untuk ngelola.”
“Hm.” Aidan kembali menyesap kopinya. “Hebat kalau gitu.”
Aku cuma tersenyum muram.
“So… Oke.” Aidan mengembuskan napas tajam. Kembali mengembangkan senyum ramahnya. “Welcome to Satu Entertaiment, Raira Darling.”—Aku mendengus tersenyum—“Saya harap… kita bisa jadi tim yang solid.”  Dia menutupnya dengan senyum tulus dan kedipan sebelah mata.
“Ya. I hope so,” balasku, turut tersenyum. “Thanks, Aidan.”
Aidan mengangguk-angguk. “Saya balik ke ruangan dulu. Masih berkutat dengan disain berlian. Kudu selesai besok, karena mau dijadiin bahan presentasi sama Bos.”
“Oke. Good luck, then,” ujarku, mengayunkan kepalan tanganku untuk memberikan semangat.
“Kalau butuh bantuan…” Aidan berjalan mundur menuju pintu ruang kerjaku, “jangan takut nyambangin ruangan saya ya.”
“Oke.” Aku terkekeh, dan melambaikan tangan.
Setelah itu Aidan berbalik dan berjalan santai keluar ruangan. Punggungnya menghilang dari pandangan. 

(Wait for chapter 2)

gambar dari sini

Read more...
Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP