When I Met You: Keping 2

>> Thursday, December 11, 2014

Keping 2

Teman


“BISA nggak, dengerin aku tanpa pake main tab, Bri?”
Dan ketika Brian kelihatan tidak mendengar hardikannya, Raira membelalakan mata dan mengempaskan napas tajam.
Dalam bayangannya ia merampas tab di tangan Brian, membantingnya ke lantai dan menginjak-injaknya sampai hancur. Imajinasi psycho yang berkali-kali hinggap di benaknya kapan pun ia berdua dengan Brian, ngobrol—ngobrol sendiri maksudnya, karena Brian sibuk main game via tab-nya. Entah dengar, entah tidak.
Melelahkan, itu yang selalu Raira pikir mengenai hubungannya dengan Brian.  Betapa ia harus terus-terusan berusaha dewasa untuk menyikapi tindak-tanduk Brian yang kekanak-kanakan di usianya yang sudah hampir 35 tahun.
Tidak bisa lepas dari game online.
Dia bisa main lewat PC, dan bila sudah lelah, ia akan melanjutkan main game lain yang ada di aplikasi tab-nya. Tidak semenit pun ia berpisah dengan benda itu atau benda yang bisa membantunya mengakses game favoritnya. Seakan hidupnya hanya diperuntukkan untuk itu saja.
“Kalau kamu mau main tab seharian, mending kamu pulang aja,” kata Raira sebal. Melempar bantal sofa yang sebelumnya nyaman di dekapannya, sehingga terjatuh ke lantai ruang tamu. “Aku malas lihat kamu di sini cuma mantengin barang itu doang.”
Raira berdiri, Brian mendongak. Ekspresinya tanpa rasa bersalah, sebaliknya tampak jengkel. Keningnya berkerut dan alisnya hampir menyatu.
“Aku main game karena cuma ini pelampiasanku, Ra.”
“Kalau kamu ada masalah, kamu kan bisa cerita sama aku.” Raira bersedekap. “Aku hidup, bisa ngomong, dan kasih solusi. Tab itu cuma kesenangan semu semata. Dan lagi, aku ngerasa lebih senang kalau kamu mau cerita masalah kamu, Bri.”
Brian meletakkan tabnya di atas meja tamu. “Nggak sesimpel itu.”
“Apa susahnya sih, kasih tahu aku masalah kamu?”
“Aku nggak mau ngomongin masalah kerjaan waktu aku sama kamu.”
“Sama aku atau sama tab kamu?”
Brian bangkit. Kumur-kumur tidak jelas yang kedengaran seperti ‘pulang aja’. Ia memasukkan tab-nya ke dalam tas kulitnya dan berkata, “Aku pulang,” pada Raira yang masih ngos-ngosan karena kesal.
“Cuma itu aja senjata kamu.” Raira bersedekap. “Kabur. Selalu menghindar untuk nyelesain masalah.”
“Terserah.”
Brian berbalik dan melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Tas kulitnya ia selempangkan di bahu, setelah itu merogoh saku jinsnya; mengambil bungkus rokok dari dalamnya.
So typical, Raira membatin. Memandang jengkel punggung Brian dan baru memalingkan tubuh ketika pintu menutup di belakangnya.
“Oh, Tuhan…” keluhnya. Melempar badannya ke sofa lagi. Sampai kapan, aku harus kaya gini? Ia bertanya-tanya sendiri.
Desember tahun ini ia akan menikah dengan Brian. Semua sudah disepakati olehnya dan Brian, serta keluarga masing-masing bulan Oktober tahun lalu. Namun, seiring waktu, menjelang momen tersebut, ia semakin ragu. Penyebabnya kebanyakan karena ketidakpuasannya dengan sikap Brian yang tidak menunjukkan kedewasaan walaupun sedikit. Ia tidak berusaha, tidak peduli, dan tak mau tahu bagaimana perasaan Raira atas keegoisannya. Dan Raira pun tidak bisa melakukan apa-apa selain mengelus dada dan mengalah.
Kenapa baru sekarang ia merasakan gundah? Andaikan karena sikap Brian, seharusnya ia tidak bertahan selama 8 tahun bersamanya.
Lo yakin mau nikah, Kak?” Raira teringat pertanyaan adiknya, Dika, sewaktu ia menyampaikan pada keluarganya kalau ia akan menikah bulan Desember tahun ini. “Gua sih nggak masalah lo nikah sama Brian, tapi…, nggak sebaiknya lo  pikirin dulu? Gua ngerasain sih, hidup lo nanti berdua bakal kaya sinetron.
Yah, memang kaya sinetron. Belum menikah pun, drama sudah dimulai. Ini bukan cuma menyangkut Brian, tapi juga keluarganya. Sejak pertunangan mereka tahun lalu, dan ia mulai mencoba mendekat dengan keluarga Brian dan keluarga besarnya yang lain setelah itu, dari sanalah semua masalah bermula. Ia jadi tahu bagaimana sebenarnya keluarga Brian dan keluarga besarnya yang lain dalam bersikap, berperilaku, terutama pikiran mereka terhadap dirinya. Dan hal tersebut membuatnya ingin mempertimbangkan lagi keputusannya untuk membina rumah tangga dengan Brian.
Pikirin dulu baik-baik,” sahabatnya, Nana menyarankan, sewaktu Raira melepaskan uneg-unegnya perihal Brian dan keluarganya. Saat itu ia punya masalah pelik menyangkut aset pribadinya dengan keluarga Brian. “Jangan sampai nyesal di kemudian hari. Pacaran lama bukan berarti jamin lo bahagia di pernikahan. Dari cerita lo tentang tunangan lo dan keluarganya, gua ngerasa lo nggak bakal ok nanti.”
Raira tidak tahu harus bagaimana. Ada kalanya ia ingin mengakhiri hubungan aneh antaranya dan Brian atau setidaknya membatalkan rencana pernikahannya. Berpikir untuk sendirian dulu menikmati hidup. Namun masa 8 tahun pacaran membuatnya mengurungkan niat. Bagaimana pun sikap Brian, besar-kecilnya kesalahan yang ia lakukan, Raira tidak bisa mungkir ia menyayanginya. Lagipula, setelah 1 windu cuma mengenal satu laki-laki, menghabiskan waktu dengannya, melewati susah dan senang dengannya, Raira tidak yakin ia dapat jatuh cinta lagi seperti pertama ia jatuh cinta pada Brian. Dan lagi laki-laki mana yang mau dengannya, perempuan biasa, tidak cantik, tidak seksi—setidaknya kaya lah, dan bisa menyayanginya tanpa banyak protes seperti halnya Brian. Andaikan ada, laki-laki itu pasti datang dari langit. Diutus Tuhan, yang kasihan padanya.

Suara ketukan di pintu membuyarkan konsentrasinya sementara dari laporan bulanan karyawan yang sedang ia kerjakan di laptopnya. Raira menengadah, dan melihat senyum manis khas Aidan yang mau tak mau selalu memancingnya ikut tersenyum.
“Absen?” Raira bertanya ditemani seringai jail. “Udah aku kirim tadi pagi,” sambungnya lagi setelah anggukan jenaka Aidan.
Good.” Aidan mengacungkan jempol. “Biasanya sama Pak Fahri, baru dikirimin tanggal 23 atau 24. Itu pun perlu gua tongkrongin dulu.”
“Inget aja, pas gajian traktir,” seloroh Raira.
“Nggak perlu nunggu gajian. Sekarang aja juga nggak apa.”
Raira nyengir. Menganggap tawaran Aidan hanya sekadar candaan biasa. Ia cuma membalas dengan “Dasar,” dan kembali menekankan jemarinya di atas keyboard laptop.
“Ya udah. Makan siang dulu ya,” ujar Aidan. “Thanks, absennya.”
Raira cuma senyum. Dan Aidan pun berlalu. Tak seperti biasanya Raira memerhatikan punggung Aidan sampai menghilang dari pandangan. Ada yang lain dengan laki-laki itu hari ini yang menarik perhatiannya.
Punggungnya ternyata lurus, Raira bergumam dalam hati. Badannya oke juga.
Dia mengangkat bahu sejenak, setelah itu menekuni pekerjaannya kembali.
Sejak kapan dia pakai kemeja slim-fit gitu? Sekali lagi ia bertanya-tanya perihal penampilan Aidan. Biasanya nggak pernah modis gitu. Emang jangkung sih, tapi, tumben dia keliatan ganteng.
Raira tidak tahu kenapa penampilan Aidan dengan kemeja slim-fitnya begitu mengganggunya. Tapi—ah, menurutnya itu hanya pikiran iseng yang mampir sementara untuk menemaninya bekerja. Nanti juga hilang.
Tapi ternyata tidak. Dari sekadar ‘iseng mikir’ berlanjut ke benar-benar memerhatikan di hari-hari selanjutnya. Setiap hari, mulai sejak hari itu, Aidan selalu datang ke kantor dengan kemeja slim-fit. Modelnya sama, hanya beda warna. Dan karena ruangannya dan ruangan Raira berseberangan, juga meja kerja mereka yang sama-sama persis di depan pintu, pastinya apa pun yang Aidan lakukan; berdiri, duduk, jalan-jalan, dan lain-lain, pastilah tak luput dari perhatian Raira. Lama kelamaan ‘punggung lurus’ Aidan pun jadi salah satu penampakan biasa yang cukup menyegarkan untuk Raira di kala waktu-waktu jenuhnya.
Dan akhirnya, selama 4 bulan lebih Raira bekerja di KITA1Entertainment, baru di bulan keenam Raira benar-benar ‘melihat’ Aidan. Sebelumnya tidak sama sekali.
Hanya pengalih, Raira selalu menekankan itu pada dirinya kapan pun ia mempertanyakan perhatian mendadaknya pada Aidan. Bukan hal yang serius.

“Minta pin BB.”
“Buat apa?”
“Biar gampang minta absen.”
“Emang pernah sampai minta?”
Aidan terkekeh. Menekan tuts Black Berry-nya dari ambang pintu ruangan Raira. “Bukan cuma minta absen aja kali, Ra. Gua juga butuh rekrutmen kan?” Ia melangkah ke dalam ruangan.
Kening Raira berkerut.  Mulutnya sibuk mengunyah bakso urat yang adalah makan siangnya. “Rekrutmen apa?”
“SPG.”
“Buat?”
“Ya buat kerja lah.”
“Kirain buat dikerjain.” Raira nyengir.
Aidan menyipitkan kedua mata sesaat, dan berkata lagi, “Promosi sampel channel TV nih.” Dia duduk di kursi di depan meja Raira. “Yang cakep dong.”
“Wani piro?” Raira kembali memasukkan potongan kecil bakso ke dalam mulutnya.
“Raira maunya berapa?”
Mata Raira melebar sejenak. Aneh mendengar Aidan menyebut namanya, karena sebelumnya ia selalu menggunakan kata ‘lo’ bila bicara dengannya. Kendati itu tak berarti apa-apa dan bukan sesuatu yang luar biasa, tapi penekanan katanya entah kenapa membuat Raira merasakan sesuatu. Aidan kedengaran lebih lembut.
“Well, maksudnya…” Raira jadi gugup. Dia meletakkan sendoknya di mangkuk bakso yang tinggal sisa airnya saja. Meraih gelas bening berisi air putih. “Berapa orang,”—ia meneguk  airnya sedikit—“dan berapa fee-nya.” Ia menghabiskan sisa air putih di gelasnya.
Aidan tersenyum simpul. “Aku butuh lima orang… Dan fee-nya dua ratus lima puluh ribu per hari, untuk 6 hari kerja.”
‘Aku’. Nggak ‘gua’ lagi. Suara kecil di kepala Raira usil. Dan Raira buru-buru mengangguk kecil demi mengusir suara tidak penting tersebut.
“Oke. Gu—aku akan masukin lowongannya ke situs. Nanti kalau ada yang masuk aku email langsung ke…” Lidahnya serasa kelu mendadak. Ia ragu menyebut dengan  kata ‘lo’, ‘kamu’ atau nama Aidan. Aidan lebih tua lima tahun darinya, dan ia berpikir tidak akan sopan sekali kalau menyebutnya ‘kamu’ atau dengan namanya saja. Kenapa jadi ribet gitu sih? Raira membodohi dirinya.
“aidanroi@gmail.com,” Aidan menyambung.
“Roi?” Namanya kenapa sama dengan nama belakangku?
Aidan menekan tuts Black Berry-nya di depan wajah Raira, disusul oleh suara menyerupai jepretan kamera kemudian.
“Ih.” Raira melempar Aidan dengan tisu bekas di mejanya. “Apus,” suruhnya jengkel. Tapi Aidan malah tertawa, dan memasukkan Black Berrynya ke saku kemeja.
Raira baru saja bangkit dari kursi untuk menghampiri Aidan, namun ketukan pintu membuatnya terduduk lagi. Baik ia dan Aidan melihat ke arah pintu, dan menemukan seorang perempuan manis berdiri dengan tumpukan kertas di dekapannya.
“Hei, Mi,” sapa Raira ramah pada Emi, staf Admin Marketing. “Ada apa?”
Emi tersenyum lebar. “Mau cari Mas Aidan, Mbak Raira.”
“Oh. Mas Aidan.” Raira mengangguk-angguk. Menimbang-nimbang apakah dia juga harus memanggil Aidan dengan sebutan itu.
Dan Aidan pun menghampiri Emi, mereka berbincang entah apa, sementara Raira sibuk memandangi punggung laki-laki itu.
What’s wrong with you, Ra? Di dalam hati dia tertawa. Ada apa denganmu dan punggung Aidan?

KITA1Entertainment. Perusahaan berbasis industri hiburan yang berpusat di Jakarta. Mereka merekrut orang-orang yang tertarik berkecimpung di industri hiburan, baik modeling, musik, TV, film dan lain-lain. Sukses di Jakarta, mereka pun memperluas perusahaan ke kota-kota besar di Indonesia, yang salah satunya adalah Bali. Sistemnya investasi. Satu orang berduit yang punya visi-misi dan cinta dunia hiburan, mengajukan diri untuk menanamkan modal untuk KITA1Entertainment cabang Bali.
Orang berduit itu tak lain adalah Mr. Aryan, orang India kelahiran Amerika yang punya hobi mancing. Istrinya, Ibu Jennifer, adalah perempuan keturunan Cina yang lahir di Jakarta dan terdampar di Bali di tahun 1995. Lulusan Fakultas hukum universitas negeri, namun entah kenapa lebih memilih dunia marketing untuk penghidupannya kemudian.
Mereka adalah Presiden Direktur dan Wakil Direktur Kita1Entertainment Bali. Dua orang baik, namun beda isi kepala dan sifat. Mr. Aryan lebih pendiam—analitis dan logis, sedangkan Ibu Jennifer periang dan cenderung emosional. Tak jarang juga mereka berselisih pendapat, baik dalam kehidupan pribadi maupun di pekerjaan--terutama di pekerjaan. Basis Mr. Aryan yang akunting, seringkali berbanding terbalik dengan pikiran Marketing Ibu Jennifer. Dan yang pasti, kalau Mr. Aryan lebih objektif, Ibu Jennifer lebih subjektif.
Dan meskipun Raira tahu pada dasarnya Ibu Jennifer adalah orang baik, namun sifat subjektifnya tetap saja membuatnya tak nyaman dalam bekerja. Alhasil selama satu bulan di bulan September tahun ini, Raira merasa hidupnya serasa di neraka.

Mas. Raira menyapa.
Ya, Raira?
Raira mengangkat wajah. Memandang lurus ke seberang, ke arah Aidan yang sedang duduk dengan kepala tertunduk.
Aku sedih.
Kenapa?
Bu JenniferL
Kenapa Bu Jenifer?
Gara-gara ada anak lama ngaduin aku yang aneh-aneh, sekarang aku jadi bulan-bulanan dia. Aku dicurigain. Malah terang-terangan bilang kerjaanku nggak ada yang beres. Cuma gara-gara orang itu ngomong aku sok ngebos. Di facebook. Dan aku sama sekali nggak nyangka kalau orang yang dia maksud sok ngebos itu aku.
Emang sih. Bu Jennifer subjektif, Ra. Aku udah tahu itu.

Raira mengetikkan kata demi kata untuk ia curahkan pada Aidan dengan penuh emosional lewat Black Berry-nya. Sambil menahan air mata agar tidak jatuh, ia luapkan segala kekesalannya bersama ratusan kata yang ia kirimkan pada Aidan.
Menginjak bulan Oktober, dan agresi Bu Jennifer pun semakin jadi. Provokasi datang dari orang-orang yang tidak menyukai Raira, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang lama yang pernah mendapatkan teguran keras darinya, karena tindakan indisipliner yang mereka lakukan. Raira sebenarnya sudah biasa dengan perlakuan semacam itu. Namun kali ini salah satu yang menekannya adalah atasannya sendiri yang ia harap memback-upnya. Sehingga ia tidak tahu harus berbuat apa dan pada siapa hendak meneriakkan isi hatinya, karena tak ada satu pun sepertinya peduli. Ia berpikir ia harus cerita, atau ia bisa sinting. Tapi pada siapa? Dan nama Aidan, adalah salah seorang yang pertama melintas di benaknya.

Thank you, Mas, ketiknya di akhir curhatnya.
Sama-sama, Ra. Yang kuat ya.

Raira tidak tahu sejak kapan ia menyebut Aidan dengan ‘mas’ di depan namanya. Mungkin sejak Emi muncul di ruangannya dan ia mendengarnya memanggil Aidan dengan kata itu. Namun sejak ia memanggilnya begitu, ia merasa lebih nyaman bicara dengannya. Entah kenapa. Dan Aidan pun meresponnya dengan baik. Ia tidak lagi berusaha mencandai Raira saat Raira bicara serius dengannya; bisa memilah kapan ia harus bicara tanpa joke dan kapan ia harus memasukkan candaan dalam setiap konversasi verbalnya dengan Raira.
Mungkin karena itu Raira memilih Aidan untuk menjadi penampung isi kepalanya yang panas ini. Ia bijak, dewasa, dan pendengar yang baik. Dan Raira tanpa ia sadari, telah menetapkan Aidan sebagai salah satu teman terbaiknya di KITA1Entertainment yang bisa ia ajak bicara tentang apa pun tanpa khawatir ia akan menyampaikannya pada pihak ketiga.

He’s a friend. Good friend.
(Bersambung)

pic from here

What is a friend? A single soul dwelling in two bodies.” ― Aristotle

Read more...

When I Meet You: Keping 1

>> Tuesday, December 2, 2014

PROLOG

Kisah cinta ini, kemana akan membawa kita?
Itu yang selalu aku tanyakan pada diri sendiri. Romantis, seperti halnya cerita cinta yang pernah kutonton. Aneh, karena terjadi begitu saja tanpa tahu kapan perasaan cinta tumbuh di hati. Menyenangkan, karena bagaimana pun cinta selalu membawa sebuah rasa yang seperti candu. Menyakitkan efeknya, luar biasa saat dikonsumsi.
Namun, cinta ini adalah semacam cinta yang tidak boleh terjadi. Karena dua hati tak lagi sendiri. Telah ada pemiliknya masing-masing. Tapi cinta adalah cinta. Ia tak pernah salah. Tak pernah kompromi. Bila ia telah hinggap, di hati yang tepat, yang merindukan cinta sebenar-benarnya, tunasnya akan mengakar ke bagian terdalam. Sulit dicabut, dan bertahan tak lekang waktu.
Cinta ini adalah cintaku. Mimpiku. Penantianku selama 33 tahun masa hidupku. Kutuangkan dalam sebuah kisah, mewakili satu hati lagi yang tak mampu bersuara. Satu hati yang aku cintai dan mencintaiku. Satu hati yang ingin kumiliki sampai akhir nanti.


BAB 1: B E G I N N I N G

Keping 1

New Job

Denpasar, Maret 2013


IA mulai kerja lagi. Setelah sebulan penuh diam di rumah, menunggu panggilan dari perusahaan-perusahaan yang ia kirimi lamaran kerja; beberapa kali wawancara dengan beberapa di antaranya, sampai akhirnya, salah satu perusahaan memanggilnya dan mengatakan bahwa ia diterima bekerja di sana. 
Jadi ia bangun pagi-pagi.  Mandi dengan cepat, dan dandan lumayan lama. Meskipun ia sadar wajahnya tidak cukup cantik, namun setidaknya ia ingin memberikan penampilan terbaik. Make-up ia pulas tipis-tipis, rambut ia rapikan—bersyukur hasil smoothing tahun lalu masih ada jejaknya, kemeja warna biru telur asin favoritnya ia kenakan dengan hati-hati, dimasukkan ke rok span hitamnya. Setelah semua beres, ia berangkat dengan menenteng tas sandangnya.
“Pagi.” Ia menyapa Brian, tunangannya yang menunggu di motornya yang menyala.
Dilihat dari rambutnya yang awut-awutan dan matanya yang merah, ia pasti baru saja bangun tidur. Tak repot-repot untuk menyisir rambut atau cuci muka.
“Baru bangun ya?” Ia menggoda. Duduk di boncengan motor. “Nggak cuci muka, nggak sikat gigi. Jorok.”
“Gak papa lah,” Brian berkilah. “Toh mau tidur lagi.”
Ia mengembuskan napas. Seringai Brian tidak cukup untuk membuatnya menganggap kalimatnya barusan adalah sesuatu untuk ditertawakan. Berharap Brian lebih dewasa. Namun, sepertinya tidak bisa. Brian, bagaimana pun akan tetap seperti itu; seperti anak kecil yang bersikap kekanak-kanakkan dan tak ada siapa pun yang bisa mengaturnya untuk melakukan hal yang tidak ingin ia lakukan. Tidak terkecuali Raira, tunangannya.
Mereka berangkat, dan jalan raya telah ramai. Dibilang macet, tidak, padat mungkin. Makan waktu 20 menit, sampai akhirnya mereka tiba di tujuan. Raira berpamitan, berpesan pada Brian untuk menjemputnya jam 5 sore. Dan Brian pun mengangguk, lalu melesat pergi.
“Oke. Raira.” Ia menyemangati dirinya sendiri, “Let’s face it.
Setelah memejamkan mata sejenak, ia melangkahkan kaki. Menuju teras gedung, menaiki undakan satu demi satu yang membawanya ke pintu kaca ganda.
Jantungnya berdetak kencang. Hari pertama, pastinya akan jadi hari yang menegangkan. Selalu begitu. Tapi setelah satu minggu, perasaan itu toh akan pergi dengan sendirinya.
Hal pertama yang biasanya dilakukan oleh karyawan baru di sebuah perusahaan biasanya orientasi—pengenalan perusahaan dan gedung perusahaan. Tapi mungkin karena Pak Farid, orang yang mengajaknya berkeliling bukan dari departemen Human Resources, maka laki-laki paruh baya itu tidak merasa penting untuk menjelaskan pada Raira perihal seluk-beluk perusahaan, dan langsung mengenalkannya dengan orang-orang yang ada di dalam gedung dua lantai itu.
Sejauh ini Raira telah berkenalan dengan hampir semua staf. Mulai dari Departemen Produksi, Finance & Accounting, beberapa dari Departemen Marketing sampai akhirnya orang terakhir yang diperkenalkan oleh Pak Farid, sebagai salah satu perwakilan dari Jakarta yang ditempatkan di Bali. Laki-laki berkulit coklat, dengan senyum manis di wajahnya yang sederhana, yang sedang duduk menghadap monitor laptop di meja kerjanya. Aidan.
Dari perawakannya sepertinya umurnya 35-an. Sudah menikah,  mungkin, dan punya anak 1 atau 2. Tidak penting,  batin Raira. Toh nggak akan berurusan sama dia nanti di urusan kerja. Kendati begitu, ia tetap mengucapkan terima kasih setulus hati, ketika Aidan mengatakan, “Selamat bergabung, ya,” padanya, sambil menjabat tangan Raira erat.
Setelah itu orientasi selesai. Dan Pak Farid mengantarkan Raira ke ruang kerjanya, yang bersebelahan dengan ruangan Departemen Design dan Marketing. Mejanya tepat di depan pintu ruangannya, sehingga ia bisa melihat jelas keluar dan orang di luar sebaliknya. Tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil kecil. Pas lah. Sebuah laptop sudah teronggok di permukaan meja, yang kemudian Pak Farid katakan memang diperuntukkan baginya dan boleh ia bawa pulang bila mau. Satu filing cabinet sudah disiapkan sesuai permintaan Raira sebelumnya. Dan sekarang ada di belakang kursinya.
Ia duduk di kursi, dan pandangannya langsung mengarah ke ruang kerja para Principal—tepat ke meja Aidan yang kebetulan persis di depan pintu yang terbuka. Pandangan keduanya bertumbukan. Raira tersenyum, dan Aidan pun tersenyum. Ia melambai centil, Aidan membalas dengan tawa lebar. Tak ada maksud menggoda tentu, karena memang begitulah sikap bawaannya. Untunglah setelah itu Aidan kembali menunduk menekuni apa yang ada di layar laptop 14 inci di depannya, sehingga Raira tidak perlu mengalihkan pandang lebih dulu untuk memutus kontak mata.
Sepertinya aku akan betah, pikir Raira, bersandar di kursi kerjanya yang empuk.  Yah. Mudah-mudahan.

(Bersambung)

gambar dari sini

Read more...

Aidan & Raira (2)

>> Wednesday, August 20, 2014

Baca Aidan & Raira (1)



Kedua
Tawa

TAB lagi. Tab lagi.
Aku mendengus kesal melihat Ben duduk berselonjor di atas sofa dengan tab di depan hidungnya, sementara tangannya berulang-ulang menyentuh layarnya.
“Malam, Ben,” aku menyapa seraya melempar tas dan tas laptopku di sofa lain kemudian mengenyakkan badanku yang penat di atasnya.
“Malam.”
Sahutan pendek itu sudah sering kudengar. Percuma membahasnya, karena pastinya berujung dengan pertengkaran norak yang tidak seharusnya terjadi. Jadi aku cuma bengong memerhatikan Ben menekuni game online-nya, dan berharap dalam hati kalau Tab-nya mati mendadak. Sayangnya, Tab milik Ben itu tahan banting. Seberapa besar pun doaku agar Tuhan membuatnya rusak, benda itu tetap saja kokoh tak terpatahkan.
“Udah makan?” Aku membungkuk melepas sepatu.
“Belum.”
“Oke.”
Aku berdiri. Menyambar tas, kemudian Berjalan pergi dengan kedua sepatu menggantung di salah satu tangan. Kuletakkan keduanya di rak sepatu di depan kamar, kemudian masuk ke dalam. Kulempar badanku ke atas kasur, menelungkup pasrah dengan kepala menghadap ke arah lemari di seberang. Di depannya dua tas polo besar berjajar rapi. Isinya belum keluar, karena sesampainya di Bali tadi pagi aku langsung ngantor.
Besok saja unpacknya, aku menyarankan pada diri sendiri. Setelah itu mataku kututup.
Pikirin lagi, Ra…” Suara Nana sahabatku terdengar lagi di kepalaku. “Kamu nggak seharusnya pindah cuma gara-gara ngikutin Ben kan? Kamu bisa tetap stay di Jakarta, dan Ben di Bali. Udah enak juga kerjaan kamu di Jakarta.”
“Kami bentar lagi mau nikah, Na. Kalau saling jauh rasanya nggak baik. Lagian, kantor pusat udah setuju mutasiin aku ke Bali kan? Sekalian aku ingin ngerasain berdua aja sama Ben, tanpa ada orang-orang tertentu yang ikut campur—Kamu nggak termasuk,” aku menambahkan buru-buru sebelum Nana manyun. ‘Orang-orang tertentu’ yang aku maksud adalah keluarga Ben. “Aku rasa Bali adalah a right place to start.”
Nana mengedikkan bahu. “Nggak tahu deh,” ujarnya. “Aku cuma mikir kalau keputusan kamu pindah ngikutin Ben bukan keputusan yang tepat.”
Pembicaraanku dengan Nana terpotong oleh nada dering ponselku yang teredam. Susah payah, kudorong badanku bangkit. Kuraih tas, menarik risletingnya membuka, dan merogoh ke kantong dalam tas untuk menarik ponsel keluar. Benda itu masih mengalunkan lagu ‘happy’ Pharrel William dengan nama seseorang terpampang di layarnya.
“Ya, Pak Aidan?”
“Tua banget aku ya, sampai-sampai kamu harus nyapa aku dengan embel-embel ‘Pak’ di depannya?” Si penelepon langsung protes.
“Aku kan menghormati,” kekehku. “Lagian emang udah tua kan? Umur kamu 6 tahun di atasku.”
“Hm… Dasar HRD. Skakmat dengan bawa-bawa data konfidensial.”
Aku cekikikan “So…, ada apa malam-malam? Ada yang bisa aku bantu?” tanyaku serius, walau ditemani dengus geli.
“Well, nggak juga sebenernya. Cuma mau ngingetin, besok kita ada meeting. Jadi aku mau minta bantuan untuk prepare ruang meeting?”
Aku mengerutkan dahi. “Prepare kaya gimana maksudnya?” Aku duduk bersila di atas kasur. Senyum simpulku mengembang.
“Yah… Siapin air minum, snack—kaya gitulah.”
“Oh… Harlan udah info aku kalau itu,” balasku. Harlan adalah bosku, sekaligus temanku baikku saat di kampus dulu. “Aku suruh Yudi yang siapin sore ini.”
“Aneh banget, denger kamu nyebut Pak Harlan dengan dengan namanya aja. Padahal dia jelas-jelas tua.”
Aku tergelak.
“Nggak adil ah,” Aidan menyambung lagi diiringi dengus geli.
“Harlan seumuran dengan kamu, kok.” Aku berjalan dengan lutut di atas kasur, dan menurunkan kakiku satu per satu kemudian ke lantai. “Mukanya aja yang boros.”
Kekeh kecil terdengar dari ujung telpon. “Oke deh, Raira Darling. Sampai ketemu besok. Selamat istirahat.”
“Kamu juga, Dan.” Aku bangkit berdiri dan berjalan menghampiri meja rias.
“Oh…” Aidan menyempatkan diri menguap. “Aku masih di kantor. Belom selesai nih. Laper juga.” Dia nguap lagi.
Bibirku mengerucut. Kulihat wajahku di cermin, dan melihat air mukaku sedikit muram. “Aku aja pulang jam 9 tadi. Kamu mau pulang jam berapa?”
“Udah biasa kali…” Suara klak-klik mouse terdengar. Aidan sepertinya sudah melanjutkan pekerjaannya. “Yah, nasib jadi Art Director paling diandalkan di sini.”
Dia cekakakan setelahnya, sementara aku memutar kedua mata ke atas ditemani dengus geli.
“Ya udah deh. Istirahat dulu. Nanti tunangan kamu ngambeg kamu ngobrol lama-lama sama cowok ganteng.”
Oh, God, this guy. Aku menggelengkan kepala. Tersenyum pada perempuan bermata hitam pekat yang balik menatap dari cermin. Kukibaskan rambutku, dan dia pun mengibaskan rambut coklat panjangnya ke belakang.
“Oke, Dan. See you besok ya.” Aku memiringkan kepala. Pipiku bertopang pada tanganku yang kukepalkan.
“See you, then,” balas Aidan.
“Darimana dapat nomor ponselku?”
“Aku ngehack data HRD.”
“Oke. Tapi nomor ponselku nggak ada di data.”
“Aku lihat profil fesbuk kamu.”
“Aku nggak punya fesbuk.”
“Boong kalau itu,” kekeh Aidan. “Karena aku lagi mantengin foto kamu, ‘Raira Roy’ di fesbuk yang temennya udah sampe 1000an.”
Aku menggigit bibir bawahku. Meringis tertawa. “Nggak jelas ih.”
“Oh, aku jelas banget. Aku bukan makhluk astral. Jadi berwujud.”
Aku tidak bisa berhenti tertawa. Laki-laki ini tanpa banyak usaha membuatku rileks. Tak lagi memikirkan beban yang memberatkan kepala.
“Oke deh, Raira. Tidur yang manis ya. Jangan ngorok.”
“Iyuhh…”

Aidan tergelak, kemudian mengucapkan ‘bye’ dan menutup telpon setelah aku membalas.

Read more...

Aidan & Raira (1)

>> Tuesday, August 5, 2014


Pertama
HAI

“HAI. Saya Aidan.”
“Oh. Ini toh? Halo, saya Raira.”
Aku mengulurkan tangan kepada Aidan. Orang yang selama ini berhubungan denganku perihal pekerjaan via telepon. Dia ternyata masih muda; tidak pas dengan suaranya yang kedengaran renyah dan berat di telepon—aku mengira dia adalah laki-laki paruh baya, berkacamata dengan rambut klimis berminyak, namun nyatanya dia cukup… ok. Tidak bisa dibilang cakep banget, tapi enak dilihatlah. Rambut coklatnya dicukur pendek sebatas tengkuk. Senyumnya manis, dan ada dua bolongan di masing-masing pipinya. Badannya cukup tinggi; atletis. Kulitnya agak coklat. Dia mengenakan kemeja merah hati yang fit dengan tubuhnya dipadukan dengan blue jins normal—bukan jins pensil ya (untunglah). Jujur, aku suka penampilannya. Dewasa, namun tetap menarik.
“Berarti kamu jadi pindah ke sini?” Dia bertanya setelah kami menarik tangan masing-masing. Menyeruput sedikit kopi di dalam mug bergambar salah satu pemain sepak bola entah siapa yang sedang dipegangnya.
“Ya.” Aku mengedikkan bahu. “Tunangan saya pindah ngantor ke Bali. So…” Aku tidak melanjutkan. Mendadak saja rasa kesal menyambangi pikiranku.
Aidan mengangguk-angguk dengan bibir membentuk huruf ‘O’. Kemudian dia tersenyum simpul. “Tunangan kerja dimana emangnya?”
Aku menutup novel Hunger Games: Mocking Jay yang membuka di atas meja kerjaku. “Salah satu perusahaan developer di sini. Bosnya… buka cabang di sini, dan dia dipercaya untuk ngelola.”
“Hm.” Aidan kembali menyesap kopinya. “Hebat kalau gitu.”
Aku cuma tersenyum muram.
“So… Oke.” Aidan mengembuskan napas tajam. Kembali mengembangkan senyum ramahnya. “Welcome to Satu Entertaiment, Raira Darling.”—Aku mendengus tersenyum—“Saya harap… kita bisa jadi tim yang solid.”  Dia menutupnya dengan senyum tulus dan kedipan sebelah mata.
“Ya. I hope so,” balasku, turut tersenyum. “Thanks, Aidan.”
Aidan mengangguk-angguk. “Saya balik ke ruangan dulu. Masih berkutat dengan disain berlian. Kudu selesai besok, karena mau dijadiin bahan presentasi sama Bos.”
“Oke. Good luck, then,” ujarku, mengayunkan kepalan tanganku untuk memberikan semangat.
“Kalau butuh bantuan…” Aidan berjalan mundur menuju pintu ruang kerjaku, “jangan takut nyambangin ruangan saya ya.”
“Oke.” Aku terkekeh, dan melambaikan tangan.
Setelah itu Aidan berbalik dan berjalan santai keluar ruangan. Punggungnya menghilang dari pandangan. 

(Wait for chapter 2)

gambar dari sini

Read more...
Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP