The Bride of A Fallen Angel (1)

>> Sunday, August 11, 2013



1

Perempuan Bermata Kelabu
                           

AKU melihat laki-laki yang duduk berhadapan denganku mengernyit dan menjingkatkan alisnya berulang kali. Memiringkan kepala ke kanan dan ke kiri, setelah itu mengejap-ngejapkan kedua mata dengan ekspresi heran penuh tanya. Dia tidak melepas pandang dariku, sebaliknya dia mencondongkan badannya agar lebih dekat. Dan menurutku, itu saat yang tepat untuk mendorong punggungku ke belakang. Menghindar.
“Kau ngapain sih?” Aku bertanya sewot. Mendekap kanvas lukis yang sedang kupangku buru-buru, seakan saja benda itu sedang dalam bahaya. “Bisa diam nggak? Aku kesulitan menggambarmu kalau kau gerak-gerak terus.”
“Matamu… Abu-abunya agak… meredup.”
Aku berjengit. “Meredup gimana? Jangan ngomong yang nggak-nggak, Del.” Aku melanjutkan menggoreskan pensil arangku di atas kanvas.
“Memang benar, kok.”
Del menegakkan badannya di atas bangku kayu yang didudukinya. Dan aku kembali mengangkat wajah untuk memberinya tatapan putus asa. “Mataku sudah dari sananya abu-abu. Bukannya kau sudah tahu itu?”
“Abu-abu yang nggak normal. Dan—“         
“Kau tahu?” Aku membiarkan kanvas yang kupangku menelungkup di atas pahaku. “Kau sudah mengatakan itu sejak umurku sembilan tahun. Sebenarnya apa sih maksudmu? Abu-abu yang nggak normal gimana? Coba jelaskan,” tuntutku.
Del mengembuskan napas. Tersenyum simpul. “Aku akan menjelaskan kalau memang sudah waktunya. Dan ada alasan untuk menjelaskannya.”
“Alasan apa?
“Entahlah.” Del mengedikkan pundak. Senyum jailnya mengembang.
Mataku berputar ke atas. Mengangkat kanvas dan memangkunya seperti sebelumnya, lalu menggerakkan pensil arang di permukaannya. Melanjutkan hidung Del yang baru tergambar seperempat. “Sebenarnya apa yang kau sembunyikan dariku?” aku menggumam, sambil menekuni gambarku.
“Sembunyikan apa?”
“Semuanya.” Tanganku bergerak naik-turun dengan perlahan. Sekarang aku sedang memberikan rambut di kepala Del di atas kanvas. Garis-garisnya tidak beraturan, persis seperti aslinya; mencuat ke segala arah. “Dari dulu aku selalu bertanya, kenapa kau selalu bersamaku—sampai sekarang. Dan kau tidak pernah menjawabnya.”
“Aku menjawab.”
Wajahku terangkat. Menubrukkan mataku dengan mata biru Del. “Aku bukan anak kecil lagi, Del. Jawabanmu mengenai kau yang adalah teman imajinasiku sudah kedaluwarsa. Kita berdua tahu, kau itu apa. Dan besok umurku sudah dua satu. Aku perlu penjelasan yang rasional.”
Hening sejenak.                                                                      
“Oke.” Tak disangka Del menyanggupi. Aku, tak percaya, mengerutkan kening dan memiringkan wajah, menatapnya dengan sebelah mata disipitkan, mencoba untuk membuatnya mengakui kalau dia sedang berbohong. Tapi Del malah senyum. Memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi. “Aku akan mengatakan semuanya padamu besok. Anggap saja, hadiah ulang tahun.”
“Boleh juga,” anggukku. “Itu akan jadi hadiah ulang tahun pertamaku darimu.”
Setelah itu aku menunduk ke kanvas lagi. Kembali melanjutkan menggambar Del yang duduk di bangku di hadapanku. Sesekali aku mengerlingnya untuk mencontoh wajahnya. Wajah tampan, yang sejak usiaku sembilan tahun telah akrab di mataku, dan muncul begitu saja tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Sebelas tahun sudah, Del bersamaku. Dan dia, tidak sekali pun beranjak dari sisiku. Dia, secara tak resmi telah menjadi pelindungku; juga pengasuhku. Dan aku, telah terbiasa dengan kehadirannya di sisiku. Tidak ingin Del pergi. Dan aku tak bisa membayangkan kalau suatu hari dia pergi.

Tok. Tok.

Aku menoleh ke arah pintu studio yang tertutup. Memandang Del kemudian, dengan alis dijingkatkan. Del mengangkat pundak sejenak, setelah itu menurunkan kedua tangannya yang sebelumnya menyilang di dada ke permukaan bangku dimana ia duduk, dan menumpukannya di sana. Bersamaan, kami mengarahkan pandang ke arah pintu yang kini didorong membuka, disusul oleh kemunculan seorang wanita muda—mulai dari kepala sampai kaki terbalut produk Prada impor, yang masuk dengan susah payah karena saratnya tas karton merk terkenal yang memenuhi kedua tangannya.
Tina, kakakku, seperti biasa mampir ke studio lukisku, untuk menitipkan barang belanjaannya untuk beberapa hari, sampai dirasakannya aman untuk membawanya masuk ke rumah. Takut, kalau-kalau papa dan mama kami melihat, dan dia akan menerima omelan berjam-jam mengenai pemborosan uang dari keduanya. Tina, memang shopaholic. Akut.
“Oh, Nali. Syukurlah kau sendirian,” katanya padaku. Dia tampak kesulitan berjalan dengan jins ketat dan stiletto hitam yang high heelsnya luar biasa tinggi. Aku sendiri ngeri melihatnya.
“Memangnya kenapa kalau aku sendirian?” Aku melirik Del sekilas.
“Aku kira kau sedang bersama Zee. Terakhir aku ketemu dia di sini, mama membabatku habis-habisan karena Gucci Boot yang kubeli. Si tukang ngadu satu itu,”—Tina melempar semua tas karton bawaannya di lantai asal saja—“akan kubalas.” Dia berkacak pinggang.
“Bukan cuma Gucci Boot-nya. Kau sepertinya membeli seluruh isi toko. Salahmu, menghabiskan uang seperti itu,” kekehku.
“Hei,” Tina mengacungkan telunjuknya padaku, “uang itu uangku. Hasil kerjaku. Dan,”—aku membeliak melihatnya duduk di bangku di depanku di mana Del duduk—Del buru-buru bergeser dari tempatnya agar tidak diduduki Tina—“aku butuh semua barang itu untuk menunjang karirku.” Dia mengibaskan rambut coklat ikalnya ke belakang. “Aku harus terus kelihatan sempurna.”
Del bangkit. Beranjak dari bangku. Aku mengekorinya sejenak dengan mataku, sebelum kembali kepada Tina yang untungnya sedang sibuk menggelung rambutnya.
“Lagian,” Tina menyambung, setelah seluruh rambutnya sudah berhasil diikat, “temanmu, si Zee itu, memang tidak suka padaku kan? Selalu saja tampangnya masam setiap ketemu aku. Dia pastinya iri padaku. Dia tidak menarik, dan pakaiannya selalu nggak match.”
“Zee itu fashion designer, Tina, kalau kau lupa,” tukasku. Meletakkan kanvas di atas meja kayu di sebelahku. Sekilas mengerling Del yang berdiri di depan jendela. “Jadi wajar kalau dia nyentrik. Dan bukannya, minggu lalu kau sempat pakai baju yang dia disain? Kalau saja aku tidak bilang dia yang merancang dress Autumn itu, kau akan terus-terusan bilang ‘Baju ini cute ya?’ pada semua orang yang kau temui.”
“Aku cuma membantu memasarkannya,” Tina berkilah. Dagunya diangkat tinggi dan wajahnya dipalingkan ke samping untuk menghindari mataku. “Dan,” dia kembali memandangku, “aku tidak beli bajunya. Itu dikasi sponsor.”
“Sama saja. Sponsor membelinya dan kau memakainya.”
“Aku ini kakakmu. Seharusnya kau membelaku dari pada dia.”
“Aku sayang padamu, Tina. Tapi aku lebih senang bicara nyambung dengan Zee.”
Del mendengus geli. Dia memutar kepalanya ke belakang untuk memandangku.
“Memang sih.” Tina menaikkan bahu. Tampangnya acuh tak acuh. “Aku akui kita memang nggak pernah nyambung. Seleraku terlalu tinggi, sedangkan kau selalu aneh. Sama seperti lukisan-lukisanmu yang kelam.” Dia memandangku dengan tatapan iba yang tak dimengerti. “Yang… untungnya laku dijual.”
Mataku berputar ke atas. Menggerakkan bola mata kepada Del yang sekarang pundaknya berguncang-guncang karena geli.
“Yah. Karena lukisan-lukisan kelamku itu, aku juga bisa punya studio yang bisa kau titipkan barang-barang belanjaan,” balasku, sambil senyum semanis madu.
Ganti Tina yang memutar mata ke atas. Matanya normal—hitam, tidak seperti mataku yang bola matanya abu-abu. Tidak lazim, untuk orang Indonesia, dan karena itu dibilang aneh oleh Del, dan juga orang-orang yang memerhatikan keganjilan tersebut. Apalagi, memang tak ada satu pun dari papa dan mamaku yang punya mata abu-abu—mendekati saja tidak—sepertiku.
Whatever,” ujar Tina. “Yang penting…, sebelum aku berhasil punya apartemen sendiri, aku bebas meletakkan semua barang-barang mahalku di sini. Dan kau… akan mengijinkannya. Sebesar apa pun ketidaksukaan kita pada satu sama lain, we’re still sister. Kita harus saling bantu satu sama lain.” Dia mencondongkan badannya ke depan, dengan kedua tangan bertopang di tepi bangku. Tersenyum penuh kemenangan.
“Yah. Whatever,” balasku. Mendorong punggung ke belakang.
“So,” Tina berdiri. Menggerakkan kaki ke arahku. “Apa yang sedang kau gambar?”
Dan dia menyambar kanvas yang tadi kupergunakan untuk menggambar sketsa wajah Del dari atas meja. Mengangkatnya tinggi-tinggi, ketika aku berusaha merebutnya darinya. Dan saat dia melihat apa yang tergambar di permukaannya, bibirnya membuka sedikit. Tampangnya syok.
Aku pasrah.
“Kau menggambar cowok ini lagi?” Dia menghadapkan tampak depan kanvas ke arahku. “Apa halusinasimu kembali lagi?”
Aku tidak tahu harus bilang apa. Mataku bergerak kepada Del yang sekarang membalikkan badan dan menggigiti kukunya, kemudian kepada Tina yang masih membeliak ke arahku dengan kanvas tercengkeram di tangannya.
Dulu, aku pasti akan berteriak kalau aku tidak berhalusinasi. Del bukan halusinasi, atau pun seperti kata Psikiatris yang menangani kasusku, imaginary friend. Tapi sekarang, setelah mengalami pengalaman tidak menyenangkan dengan dipaksa berobat ke psikiatris, dan menelan banyak obat yang membuatku merasa benar-benar mengidap penyakit jiwa, aku memilih diam. Berpura-pura kalau Del, teman imajinasiku telah lenyap. Hanya agar orang tuaku tidak mengajakku kembali ke psikiater, dan Tina tidak memandangku seakan aku adalah makhluk buruk rupa yang tidak patut ia dekati.
Tapi sekarang…
“Itu gambar laki-laki lain.” Aku menyambar kanvas di tangan Tina. “Bukan orang yang kau pikir. Aku sudah lupa mukanya.” Aku berdiri dari bangku, dan melangkah ke meja panjang di depan jendela yang sarat peralatan lukis. Di sisinya, Del berdiri sambil menyilangkan tangan. Tersenyum menenangkan.
“Tapi… itu mirip sekali dia.”
“Ini bukan dia, Tina,” tegasku. Memalingkan muka ke arahnya. “Ini cuma…” Aku menatap kanvas, memandang sketsa wajah Del yang baru separo jadi. “imajinasiku.”
“Hati-hati dengan imajinasimu. Semua berawal dari imajinasimu. selanjutnya kau akan bicara sendiri seperti dulu. Lalu gambar-gambar aneh akan memenuhi dinding kamarmu.”
Aku memejamkan mata dan mengembuskan napas perlahan. Setelah itu, pelan-pelan aku meletakkan kanvas di atas meja. “Itu dulu.” Aku berbalik. “Waktu aku masih umur sembilan tahun. Sekarang aku sudah besar…”
“Karena itu,” Tina mengangguk ke arahku, “jangan menggambar yang macam-macam. Kau tahu… betapa menyakitkannya itu untuk papa, mama dan juga aku.”
Ini kali pertama aku melihat betapa tegangnya wajah Tina. Sebelumnya dia pernah menunjukkan ekspresi tersebut. Namun itu dulu; lama sekali. Ketika aku masih dalam penanganan psikater. Jadi melihatnya lagi, sekarang, membuatku seolah kembali ke masa lalu.
“Tidak akan terjadi lagi,” kataku. “Kau tidak perlu cemas.”
Tina mengempaskan napas tajam. Menundukkan kepala sedikit, memandang ke lantai keramik yang mengilap. “Aku cuma… tidak ingin kau…” dia menengadahkan wajah, dan menatapku sayu. “kenapa-kenapa. Menakutkan, apa yang terjadi waktu itu. Melihatmu… bicara sendiri…, tertawa sendiri… Aku…” dia tidak melanjutkan. Menahan semua emosi di hati dengan mengembungkan pipinya.
“Hei…” Aku buru-buru menghampirinya. Merengkuhnya ke dalam pelukan. “I’m fine now. Aku… tidak seperti itu lagi.”
Rasanya menyedihkan harus berbohong pada Tina. Tapi, aku memang tidak membohongi siapa pun. Del memang ada. Bahkan tidak hanya Del. Ada lagi yang lain yang bisa kulihat, dan mengajakku berkomunikasi. Mereka tidak berbahaya untukku atau untuk siapa pun. Andaikan berbahaya, Del pasti sudah menghalaunya dariku. Jadi aku aman.
Tina menarik tubuhnya dariku buru-buru. Tampak kikuk. Dia memang tidak suka dipeluk-peluk. Pelukan membuatnya jadi rapuh, itu opininya.
“Apa pun yang kau lukis,” Tina bebicara, menatapku dengan serius, “aku tidak peduli. Tapi jangan melukis laki-laki itu lagi. Itu mengembalikan ingatan buruk.”
“Oke.”
“Berjanjilah.”
“Aku janji.” Aku menatap lekat-lekat mata Tina. Berusaha keras tidak mengejap. Kalau aku mengejap, dia akan tahu kalau aku sedang berbohong.
Good.” Senyum Tina merekah. “Aku balik duluan ke rumah. Kau pulang malam ini?”
Aku menggeleng. “Aku nginap di sini dulu. Ada lukisan yang harus kuselesaikan untuk pameran akhir bulan.”
“Tapi besok kau harus pulang. Ulang tahunmu, dan aku sudah menyiapkan pesta kejutan.”
“Bukan pesta kejutan kalau kau memberitahukannya padaku sekarang,” kataku putus asa.
“Pokoknya kau harus pulang besok. Umurmu sudah dua satu. Sudah dewasa. Karena itu patut dirayakan.”
Aku mengedikkan pundak. “Terserahlah.”
“Oke. Aku pergi. Jaga belanjaanku baik-baik.”
Tina melemparkan ciuman jauh, seraya memalingkan badan. Stilettonya berceklak-ceklak menjauh. Baru setelah pintu studio menutup di belakangnya, aku menoleh ke arah Del yang ternyata sedang mengamatiku.
“Apa… wajahku semenakutkan itu?” tanyanya kemudian, yang segera kubalas dengan cekikikan.


(Bersambung)

Pengenalan Tokoh:

1. Nalini Orchid
  • Perempuan, 21 tahun, tinggi 165cm/50kg. Nama pertamanya, Nalini, diambil dari bahasa Kawi kuno yang berarti cantik. Semua orang memanggilnya Nali.
  • Kulit kuning langsat, rambut hitam pekat ikal, bola mata abu-abu.
  • Pelukis muda yang sukses, dengan aliran ekspresionis yang kelam. 
  • Kemampuannya melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh manusia biasa menyebabkannya pernah dicap sebagai penderita Schizophrenia, dan harus melakukan terapi kejiwaan yang serius di usia 9 - 10 tahun.
  • Nali bukan manusia biasa. Dia adalah Maisi yang berarti Ratu. Calon pengantin Lu, Malaikat jatuh yang menjadi Raja dunia bawah, Inferno, dan karena itu harus dibunuh oleh Nitte--Satria Pelindung yang menjaga dunia lapisan ke tujuh, yang disebut Mayangda untuk mencegah kehancuran surga dan dunia keseluruhan. Maisi adalah Teja--sukma manusia yang diturunkan pertama kali ke dunia oleh Sang Agung (belum pernah bereinkarnasi). Dan Teja, biasanya adalah laki-laki. Bukan perempuan.
2. Daali Elrond
  • Laki-laki. 21 tahun (saat dibunuh). Tinggi 173 cm. Namanya, Daali, berarti anggur hitam yang diberikan oleh kakeknya. Tapi lebih suka dipanggil 'Del'.
  • Tampan, kulit kecoklatan, rambut lurus hitam pekat, bola mata biru cemerlang. 
  • Pelukis. 
  • Del adalah Nitte. Tapi karena dibunuh dan tidak diketahui dimana tubuhnya setelah dibunuh, arwahnya tidak bisa bereinkarnasi, dan akhirnya oleh Tetua Mayangda ditugaskan untuk menjaga gadis kecil berusia 9 tahun bernama Nalini, sampai dipastikan kalau dia adalah Maisi atau bukan, saat usianya menginjak 21 tahun.
3. Tina Ursula
  • Perempuan cantik yang berprofesi sebagai model profesional. 24 tahun, tinggi 170 cm, shopaholic dan agak narsistik. Dia adalah kakak kandung Nali.
  • Rambutnya coklat, bergelombang. Kulit kuning langsat, dan mata coklat persis mamanya. 
  • Dari luar kelihatan cuek, egois dan pengeluh, namun sebenarnya dia sangat menyayangi orang tua dan adiknya.
4. Zee Arora
  • Perempuan manis, yang nyentrik. Umur 21 tahun, tinggi 168 cm. Cerdas, ceplas-ceplos dan setia kawan. Musuh bebuyutan kakak Nali, Tina.
  • Rambut hitam lurus sebahu, mata hitam, kulit putih.
  • Designer pakaian yang sedang mengembangkan karirnya di dunia mode. Brandnya bernama Season, dan terbagi dalam 4 kategori musim; Summer, Winter, Autumn, dan Spring. Cukup popular dan unik. 
PS.
Jadi, ini adalah cerbung terbaru dari saya. 
Dan sebenarnya ini nggak baru-baru banget, karena sebelumnya ide cerita ini udah nongkrong sejak empat tahun lalu di kepala. Bahkan sempat saya tulis dengan plot yang berbeda, tapi di bagian akhir bingung gimana harus nyeleseinnya. So, sekarang, mumpung semangat, saya coba tulis lagi. Mudah-mudahan kali ini bisa sampai selesai, dan tidak absurd ya. Karena cerita ini benar-benar beda dari cerita yang pernah saya tulis; ini romance adventure, fantasy. Benar-benar imajiner. Loncat sepenuhnya dari dunia nyata. 
Akhir kata, silakan dibaca. Dan saya berharap, semua yang baca bisa menikmatinya dengan baik seperti halnya dengan cerbung-cerbung saya terdahulu.
Untuk 'Soul Mate' jujur aja, saya masih buntu untuk melanjutkan ceritanya. Blank berat. Sori ya. Dai-nya istirahat dulu. Ganti karakter jadi Del. 

Thank you, Guys.

Lita


Read more...
Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP