Soul Mate (1)

>> Friday, April 26, 2013

Beautiful Creature

PROLOG



“TELPON.”
“Dari siapa?”
Tak ada jawaban. Telpon disodorkan dan terpaksa diambil. “Halo.”
Dai?
Dengusan. “Ken?”
Apa kabar?
Fine. Kau?”
Baik. Neela juga, just in case kau mau menanyakan kabarnya juga.”
Suara kekeh. “Aku memang mau tanya. By the way, ada apa?”
Mau minta tolong… sedikit.” Kenneth kedengaran ragu.
“Apaan?”
Baby sitting.”
Mengernyit. “Siapa? Dai? Kau mau aku mengasuh—”
Bukan. Bukan Dai.”
“Lalu?”
Tamina.”
“Siapa itu?”
Artis yang kumanajeri. Dia akan berada di Delhi selama satu tahun.”
Senyap beberapa saat. “Oke… Ngapain dia di Delhi?”
Studi. Dia dapat beasiswa dari salah satu akademi seni di sana.”
“Tapi, bukannya dia seharusnya bisa mengurus diri sendiri?”
Helaan napas di ujung telpon. “Memang…  Tapi, aku tetap membutuhkan orang untuk menjaganya selama dia ada di sana.”
“Aku di Shimla. Jauh, dari Delhi. Kau lupa?”
Aku suruh dia ke Shimla. Mengunjungimu. Mungkin setiap akhir pekan.”
Kernyitan lagi. “Kenapa kau begitu ingin dia ketemu denganku?”
Agar dia punya kerjaan. Tidak melakukan hal yang aneh-aneh.”
“Aku… tidak paham.”
Dia patah hati. Emosinya sedang tidak stabil. Aku dan Neela agak cemas.
“Kau tidak kemari? Menemaninya.”
Dia tidak mau ditemani. Dia bilang, mau sendirian. Dia… gadis yang keras kepala. Siapa pun tidak bisa melawan kemauannya. Dan saat ini aku sedang tidak bicara dengannya.
Kekeh tawa. Dan Dai berkata, “Oke, kalau begitu. Rumahku terbuka untuknya.”
Oke. Thanks,” balas Kenneth. “Maaf merepotkanmu.”
“Selama aku mampu dan sanggup. Dan dalam kasus ini, aku sanggup.” Dai ketawa lagi.
“Thanks again, oke? Dan sori, aku harus pergi sekarang.”
That’s fine. Kau selalu buru-buru.”
Keduanya tertawa bersamaan.
Dan Dai…
Ya?
Tolong… Jangan macam-macam padanya.”
Dai mendengus. Geli.



1


BMW X3 melaju kencang sepanjang jalan Connaught Place yang elit. Suaranya menderum teredam, menyapu keheningan malam. Beberapa menit kemudian mobil tersebut membelok memasuki pekarangan komplek hotel mewah; The Bharat Hotels Limited, melambat, dan akhirnya berhenti di depan lobi. Seorang laki-laki berseragam segera menghampiri. Membukakan pintu untuk si pengemudi.
Good evening, Mr. Tanaka.” Petugas valet mengangguk hormat pada laki-laki tampan yang baru turun dari mobil. “It’s been a long time since your last visit.
“I seldom visit New Delhi,” laki-laki yang dipanggil Tuan Tanaka itu berkata ditemani senyum simpulnya.
Setelah berbincang sejenak dengan si petugas valet, dia memutari mobil; berjalan menuju pintu ganda kaca lobi yang terbuka lebar, sementara si petugas Valet membawa mobilnya pergi.
Dua orang receptionist mengangguk hormat kala melihatnya masuk, dan dia tersenyum terkulum, membelok ke kiri menuju deretan lift. Sempat tersenyum manis pada dua wanita Asia cantik yang berpapasan dengannya saat mereka mencuri-curi pandang dengan genit.
Tak lama, saat dia menunggu di depan lift yang akan mengantarnya ke besmen, ponsel di saku jinsnya bergetar. Dia menariknya keluar, dan mendekatkannya ke telinga. “Halo.”
Dai! Kau dimana?” Suara perempuan yang separo-panik, separo cemas menyembur. Suara musik berdentum-dentum melatarbelakangi.
“Kau dimana?” balasnya dalam suara keras. “Masih di dalam?”
Ya! Di toilet! Bisa segera kemari? Jemput aku.”
“Aku sedang tunggu lift.” Dai memberitahu. “Kau tahu dimana liftnya kan? Kalau mau, kau bisa tunggu aku di depan lift.”
Nggak bisa! Aku tunggu kau saja!
Pintu lift membuka. Isinya kosong. Dan Dai berkata, “Aku turun sekarang.”
Begitu pintu menutup, sinyal ponsel nol. Tidak ada yang bisa dilakukan Dai selain menunggu sampai lift berhenti dan pintunya membuka. Dan selama itu dia terus-terusan bertanya-tanya, apa yang membuat Tamina, perempuan itu panik sekali.
Pintu lift bergeser, dan Dai bergegas keluar. Sepatu ketsnya menghantam lantai marmer hitam yang berkilap oleh cahaya lampu, dan dia membelok ke kiri. Menyusur jalan lebar dengan barisan mobil mewah terparkir di sisi kanan dan kirinya.
Beberapa saat kemudian dia berbelok, mengikuti plang merah hati dengan tulisan huruf kapital warna putih di permukaannya bertulisan: Kitty Cat, lengkap dengan panah penunjuk jalan.
Suara dentum berirama terdengar mengentak begitu dia berjalan sepanjang gang lebar dengan dinding abu-abu gelap yang memantulkan sinar lampu terang dari atas. Di sini banyak orang—laki-laki dan perempuan berpenampilan necis dan mewah, berdiri dua-dua, tiga-tiga dan berkelompok, tak jauh dari pintu masuk kelab. Mengobrol dalam bahasa Hindi diselingi tawa lepas.
Mereka bukan orang sembarangan, jelas. Pengunjung Kitty Cat, didominasi oleh selebriti papan atas Bollywood serta public figure New Delhi. Dai mengenali salah satunya, Seth Bhrams, aktor muda Bollywood yang sedang top tahun ini, yang berdiri bersandar di dinding sebelah kanan. Sendirian. Sibuk dengan ponselnya.
Dia adalah satu-satunya laki-laki yang penampilannya amat kasual, dengan kaus v-neck putih serta jins biru gelap. Tidak mengenakan setelan jas seperti Dai atau pun yang lain. Bahkan, tampaknya dia tidak peduli. Asyik dengan dirinya sendiri; tak memedulikan sekitar. Sesuai dengan penampilannya di TV; dia cool.
Dai menggerakkan kaki cepat-cepat. Beberapa langkah dari pintu yang telah dipenuhi orang mengantri, dia mengangkat tangan. Melambai pada seorang pria botak berkulit hitam, memakai jas hitam lengkap yang menjaga pintu masuk.
Pria itu melihat Dai, dan mengangguk. Begitu Dai sampai di depannya dia mengulurkan tangan untuk bersalaman. “Mr. Tanaka, long time don’t see,” katanya, dengan senyum lebar. Tampang garangnya luntur seketika begitu gigi putihnya terpampang.
How are you, Fin?” tanya Dai, menepuk pundaknya.
Fine, Sir. You wanna in?” Fin mengarahkan ibu jarinya ke belakang, ke arah lorong menurun darimana suara musik menjerit teredam.
Yes. Not long. I have to pick up someone inside—”
Belum selesai Dai bicara, Fin telah bergeser ke pinggir. Tangannya meraih palang kain beludru merah, dan dia melepaskan kait di ujungnya dari besi lubang kait yang terhubung di palang keemasan yang menyerupai gerbang di samping pintu masuk utama. Fin, mempersilakan Dai masuk.  
Thanks, Bro.” Dai tersenyum. Kembali menjabat tangan Fin. Uang 100 dollar berpindah tangan sekarang, dan dia melenggang melewati palang dengan santai. Menuruni undakan yang dilapisi karpet merah. Puluhan mata mengekori punggungnya. Heran, atas perlakuan istimewa yang didapatkannya.
Meskipun sudah tidak lagi menjadi bagian O ushi, pernah menjadi bagian darinya saja cukup untuk membuat semua orang menghormatinya. Dan Dai bersyukur karena itu.
Sama seperti dinding di luar, dinding koridor Kitty Cat yang dilalui Dai juga berwarna kelabu, hanya saja dilapisi peredam. Lampu-lampu keemasan berpendar muram di plafon atas dan tembok kanan kirinya. Suara lagu yang diputar kencang terdengar jelas sekarang. Tak sampai dua menit, dia sampai di dasar.
Keramaian gila-gilan di hadapannya. Orang-orang berdansa heboh, tanpa memedulikan sekelilling. Sinar laser menari-nari, berpusar menyapu seluruh sudut. Dan di tengah, tergantung di kasau besi di bawah atap, bola lampu kaca berkerlap-kerlip menyebarkan warna merah, kuning dan hijau bergantian, mengiringi musik techno kontemporer yang dipandu seorang DJ perempuan berbikini merah mengilap.
 Euphoria, amat terasa di dalam kelab. Laki-laki dan perempuan berbaur tanpa canggung. Beraksi, seolah saja tak ada siapa pun di sekitar mereka. Dunia seolah gemerlap. Liar. Merasuk.
Sambil berjalan menyeruak kerumunan, Dai menempelkan ponselnya di telinga. Matanya menyapu seluruh penjuru. Mencari-cari. Nada sambung terdengar hilang-timbul diatasi suara musik yang keras.
Tak dijawab. Dia menyumpah.
Diulangnya menelpon. Menekan tombol sekali lagi, dan menempelkan ponsel di telinga. Kali ini tak sampai dengung ketiga, telponnya disambut. Suara perempuan terdengar. Berteriak-teriak untuk mengalahkan dentuman di sekitar.
“MINA! DIMANA KAU?” Dai turut berteriak. Kesulitan mendengar suara orang di ujung telpon.
Aku—” Jeda, oleh suara yang kedengaran seperti air berkecipak. “Kau di—” suara itu lagi. “Aku—”
“SUARAMU PUTUS-PUTUS!” Dai memberitahunya. “KAU DIMANA?”
Riuh oleh suara tepuk tangan dan suitan keras kala musik berganti. Pendengaran Dai semakin terganggu, sehingga dia terpaksa menutup telinganya dengan tangan. “Mina! Kau dengar aku?!”
Ya! Ya!” Suara Mina kedengaran senang. “Kau… di mana?!
“AKU…” Dai mendongak ke arah palang di atas. “DEPAN KORIDOR YANG KE ARAH TOILET… SEPERTINYA.” Dia tidak yakin. Berhenti persis di depan lorong. “KAU MASIH DI TOILET?”
Dai menjulurkan kepala, memandang melalui orang-orang yang mendesakkan diri di depan dinding di sepanjang gang sempit tersebut. Mungkin mengantri atau memang sengaja menyembunyikan diri di sana.
 “Oh.” Suara Mina kedengaran seperti pekikan tertahan.
Dai mengernyitkan alis. Suara Mina hilang sejenak, berganti dengan suara teredam sepatu yang bergerak cepat di atas lantai, diimbangi suara teriakan “Excuse me” lantang.
Beberapa detik kemudian, Dai melihat sinar yang memancar dari ponsel seseorang yang diangkat tinggi-tinggi ke atas. Si pemilik, berteriak-teriak  seraya menyibak sekumpulan orang yang menghalangi jalan. Suara dan timingnya, sama dengan suara Mina di ponsel Dai.
Lalu dia muncul. Tinggi, semampai, terbalut gaun biru gelap yang menekankan warna kulitnya yang putih bersih. Rambutnya hitam kelam membentuk sulur yang jatuh bebas ke pinggul rampingnya. Mukanya tirus, kelihatan pucat oleh sinar lampu, bibirnya yang mungil setengah membuka, dan langsung melengkung manis begitu melihat Dai. Napasnya seperti orang yang baru berlari jauh.
Dai memikirkan kalimat yang tepat untuk diucapkannya pada gadis cantik itu. Menimbang-nimbang apakah dia harus menjabat tangan atau langsung memeluknya. Jawabannya yang kedua, karena Mina, tak disangka menubruknya. Melingkarkan kedua tangan di lehernya, dan menumpukan seluruh berat badannya ke badannya. Dan Dai, tidak bisa mengelak selain memeluknya; menahan, agar mereka berdua tidak terjungkal ke belakang.
“Thank you! Thank you! Thank you!” kata Mina dalam suara hampir berupa jeritan. Tangannya mengetat di leher Dai, membuat kepalanya tertarik ke bawah. Dai beropini kalau Mina sama sekali tidak kedengaran depresi seperti yang dikatakan Kenneth sebulan lalu di telpon. Dia baik-baik saja. Riang, malah.
“Well… Aku kebetulan berada di New Delhi, so—
Senang mendengar orang selain diriku bicara dengan bahasa Indonesia lagi,” sela Mina, tanpa ada tanda-tanda melepaskan Dai. Pelukannya malah tambah kuat, membuat Dai bingung sendiri. “Aku benar-benar kangen Indonesia.”
Cuma mengejap-ngejap, itu saja yang bisa Dai lakukan untuk menanggapi ucapan Mina. Tapi, Mina juga tidak melihatnya. Jadi untuk beberapa waktu dia cuma diam, menunggu Mina menjauhkan badan dari badannya. Tapi gadis ini, bergeming. Bahunya berguncang-guncang, dan dia terisak tertahan. Menangis.
“Kenapa nangis?” tanya Dai bingung. Dia mengusap punggung Mina sedikit, hendak menjauhkan badannya. Namun Mina mencegah. Menarik tubuh Dai merapat lagi ke tubuhnya.
I need hug,” dia berbisik lirih, namun masih tertangkap oleh pendengaran Dai. “Please… just stand and hug me,” pintanya dengan nada memelas.
Rasa iba muncul tiba-tiba. Entah kenapa Dai bisa merasakan perasaan Mina. Dia pastinya amat kesepian berada di negara orang sendirian; asing, dan kebingungan. Jadi, dengan penuh ketulusan Dai menyanggupi permintaannya. Memeluknya. Erat. Tanpa bicara.
Kalau saja bukan di dalam kelab; kalau saja semua orang tidak sedang dalam keadaan high, pastinya situasi antara Dai dan Mina akan kelihatan ganjil. Berpelukan di tengah keramaian, tanpa melakukan apa pun selain diam tak bergerak.
“Kau tahu?” Akhirnya Mina menarik badannya dari Dai. Menyeka pipinya yang berkilap oleh air mata. “Kau…” (dia memandangi Dai dari atas ke bawah seolah menilai) “Tidak tua sama sekali.”
Dai terbatuk; kaget dengan pernyataan Mina. “Maksudmu?”
“Umurmu 30 lebih kan?” kata Mina, mendekatkan bibirnya ke telinga Dai. “Tapi kau kelihatan kaya cowok 25 tahun!” Dia menjauhkan wajah, dan memamerkan lesung pipi yang menggemaskan. “Dan kau ganteng.”
Muka Dai panas—tumben. Dia tidak pernah sekali pun dibuat tersipu oleh perempuan-perempuan yang memujinya. Namun kali ini aneh, dia merasakan jelas wajahnya memerah setelah Mina menyanjungnya. Binar matanya lagi, membuat Dai jadi kikuk sendiri.
She’s too young, Dai. Not your type—Tentu saja tidak! Dai menghardik suara kecil yang menggerecoki pikirannya.
So…” Dai memulai lagi. “Kau mau pulang sekarang?”
Mina mengangguk. Mimik mukanya seolah saja dia tak sabar untuk pergi dari tempat ini. Dai mendengus tersenyum, kemudian memalingkan badan. Agak tersentak, sewaktu Mina dengan santai meraih tangannya dan menggenggamnya. Ketika dia menoleh, Mina cuma nyengir. Dan Dai cuma bisa tersenyum, dan melanjutkan berjalan.
Mereka bergandengan tangan menyusur ruangan yang ternyata semakin penuh sesak. Terseok-seok, mencari celah untuk berjalan menuju anak tangga yang akan membawa mereka keluar.
Beberapa menit kemudian akhirnya mereka berhasil mencapai dasar undakan dengan selamat. Mina melepas tangan Dai, lalu menaiki undakan lebih dulu dengan tak sabar. Bagian belakang gaunnya berayun-ayun naik turun setiap dia mendaki. Sambil melangkah, Dai mengikuti dengan senyum simpul yang geli di wajah.
Kenneth benar, ini lebih tepat disebut mengasuh daripada menemani, karena Mina, di luar penampilan sempurnanya adalah perempuan muda yang kekanak-kanakkan, dan agak impulsif. Dai baru mengerti maksud Kenneth sekarang.
“Bye, Fin,” pamit Dai, ketika dia mencapai puncak undakan. Mina telah menunggunya di luar pembatas. Tersenyum amat manis ke arahnya. Di penerangan yang normal, sosoknya jauh lebih cantik dari pada sebelumnya. Dan Dai baru menyadari kalau dia tidak menggunakan make up. Kecuali lipstick, dia tak mengenakan apa-apa lagi.
Is that your friend?” Fin bertanya seraya mempersilakan Dai melewati pembatas. Saat Dai mengangguk, dia kembali berkata, “She’s gorgeous, Sir. One of pretty girls that have caught my eyes tonight.
 Dan sepertinya bukan Fin saja yang matanya terpaku pada Mina. Pria-pria, bahkan perempuan, yang berada di sekelilingnya juga begitu. Mengawasinya dengan tampang takjub dan penasaran, seakan saja dia adalah sesuatu yang bersinar dan menyilaukan.
Mina, memang cocok menjadi bintang. Ada sesuatu di dirinya yang membuat orang betah berlama-lama menatapnya. Daya tariknya luar biasa, dan sikapnya apa adanya. Tidak dibuat-buat seperti artis kebanyakan. Pastinya itu yang dilihat Kenneth darinya sebelum dia memutuskan untuk setuju menjadi manajernya. Kenneth memang jeli dalam menyeleksi setiap artis yang dia manajeri. Dan Mina adalah salah satunya.
Cowok bodoh mana yang mematahkan hatinya? Pikir Dai.
Setelah berpamitan pada Fin, Dai menghampiri Mina. Dia melepas jasnya, kemudian memberikannya pada Mina yang menggosok lengannya dengan tangan.
“Memang kau tidak pakai baju hangat atau jaket kemari?” tanya Dai, memasukkan satu tangan ke saku celana.
“Pakai. Tapi… aku tinggal di mobil temanku.” Mina menyelubungi badannya dengan jas tersebut tanpa protes. “Aku tidak tahu dia dimana sekarang.”
“Kau tidak mau menunggunya?”
Mina menggeleng. Air mukanya seketika berubah muram. “Lebih baik tidak. Lagipula sepertinya dia tidak peduli keberadaanku.”
Kepala Dai miring ke kanan, mulutnya berkerut. “ ‘Dia’ ini… cewek apa cowok?”
“Cewek.”
“Kalian rebutan cowok?”
Mata Mina membeliak untuk mengungkapkan keterkejutannya, dan Dai mau tak mau terkekeh. Mukanya lucu sekali. “Tidak ada dalam kamusku rebutan cowok,” katanya. “Aku akan lebih memilih untuk merelakannya diambil perempuan lain, malah.” Dia menyisipkan helai rambut liar yang menutupi pipi ke belakang telinga.
Dengus geli Dai tak bisa ditahan. “Lalu kenapa, kalau begitu?”
“Dia tipe teman yang main tusuk dari belakang.” Pundak Mina terempas. Gundah. “Dia mengajakku kemari hanya untuk mengolok-olokku.”
Dai bersedekap. “Mengolok-olok bagaimana?”
“Panjang ceritanya. Dan aku tidak mau membahasnya denganmu. Kau kan sudah tua, jadi tidak akan mengerti. It’s Campus thing.
“Hei,” Dai mengangguk; menantang, “aku juga pernah jadi anak kampus. Lagipula, tadi kau bilang aku masih kelihatan 25 tahun.”
“Dari luar. Tapi dari sini” (Mina mengetuk-ngetuk pelipis dengan telunjuknya) “sepertinya tidak.” Dia menyeringai.
Dai manggut-manggut. Dahinya berkerut. “Oh, kau meremehkanku? Aku masih update kok, dengan informasi anak muda terkini.”
“Kalau begitu…, siapa pemeran Jacob Black di Twilight?”
Dai mengedikkan bahu. “Mana aku tahu?”
Exactly. Bahkan jawaban mudah begitu saja kau tidak tahu.”
“Aku tidak suka Twilight.”
“Bergaul denganku, berarti kau harus suka.”
“Aku tidak berpikir untuk hang-out denganmu. Aku sudah tua dan kau masih abg. Kita nggak match.” Giliran Dai yang menskak Mina. “Aku lebih suka Bruce Willis.”
“Aku suka Bruce,” sambar Mina, mengangguk-angguk antusias. “Aku suka semua filmnya. Die Hard 1, 2, 3 dan 4.”
Dan Dai mengempaskan napas putus asa. Mina tergelak, kemudian dia mengalungkan tangannya di lengan Dai. “Let’s go,” ajaknya, sambil menarik Dai berjalan.
“Kemana?” Dai menggerakkan kakinya lambat, seolah enggan.
“Kau antar aku dulu ke Dorm, untuk ambil pakaian. Baru setelah itu kita ke Shimla.”
Dai menoleh pada Mina, memandangnya heran. “Kau mau ke Shimla?”
“Ya. Rumahmu di sana kan?”
“Kenapa baru sekarang? Tidak dari sebulan lalu.”
“Karena… sebulan lalu…, aku merasa tidak membutuhkanmu.”
“Oh.” Dai mengangguk-angguk. Dia memandang sekeliling, ke arah dinding kelabu mengilap yang mereka lewati. Kedua tangannya di saku.
“Lagian,” Mina melanjutkan, “aku membayangkan kau laki-laki paruh baya yang membosankan, yang tinggal di daerah terpencil bersama sekawanan domba.”
Dai terbahak. Kedua matanya menyipit. Dia memandangi Mina sejenak, sebelum akhirnya mengalihkan pandang; masih tertawa.
Yah, setidaknya Mina lucu. Tidak membosankan. Dan jujur saja, Dai memang perlu ketawa. Bukannya dia tidak pernah tertawa sama sekali, namun, ini memang kali pertama, sejak Neela dan Kenneth menikah, dia bisa tertawa lepas seperti ini.
“Neela benar tentang satu hal,” ujar Mina, saat mereka berdua telah berada di depan lift, dan tawa Dai telah menghilang dari wajah.
“Apa?” tanya Dai, mengernyitkan alis.
“Kau… menyenangkan.” Mina tersenyum. Dan kali ini bukan senyum kekanak-kanakan yang sebelumnya ditunjukkannya, melainkan senyum dewasa. Tenang dan menenteramkan. “Kau baik. Tapi dia tidak mengatakan padaku kalau kau… sangat sedih.
Dai berjengit. “Sedih?”
“Auramu…” Mina memandang melewati mata Dai. Ke arah dahinya, atau mungkin ubun-ubun kepalanya. “muram. Kau penuh cinta tapi… seseorang mematahkan hatimu.” Sekarang dia memandang mata Dai lekat-lekat. “Dan kau tidak tahu… kapan hatimu ini,” Mina menyentuh dada kiri Dai dengan telunjuknya, “sembuh.”
Tanpa sadar Dai mundur ke belakang. Susah payah dia menelan ludah, napasnya tersengal. Apa yang Mina katakan padanya barusan, seolah saja dia telah mengorek isi kepalanya. Mengurai memori di dalamnya. Tentang cintanya. Tentang Neela. Tentang kesakitannya.
“Sori…” kata Mina, turut menjauh. Raut mukanya gelisah. “Aku mengatakan sesuatu yang… sembarangan.” Dia menyandarkan punggungnya di di dinding di samping lift. Kedua tangannya disilangnya di dada.
“Bagaimana kau tahu?” tanya Dai beberapa detik kemudian, saat tak ada yang bicara. Dia penasaran, apakah Mina hanya berkata kosong atau ada alasan tertentu yang membuatnya bicara begitu. Dan Mina, mengerlingnya dengan kedua bola mata hitamnya ditemani senyum ringan menjawab, “Aaku dapat melihat warna auramu. Dan adikmu juga bilang padaku.”
Dai tersentak. Matanya melebar. “Maksudmu? Aura…? A-adik?” Dai kesulitan mencerna semua kata-kata Mina.
“Dia sudah meninggal kan?” tanya Mina santai. “Dia ada di sebelahmu.” Dia mengangguk ke sebelah Dai. Kemudian melempar cengiran.

(Bersambung)



Sometimes love just come along from craziest place
- Lita's quote

Greeting:
Hei. Finally Dai's back. More handsome, and more cheerful than he was.
Susah banget bikin awal cerita Soul Mate ini, karena it's Dai, so I guess ceritanya harus bener-bener beda dari sebelumnya.

So, Guys. Thank you banget atas support dan demonstrasi  berkesinambungan agar saya cepetan nulis Soul Mate ini. Jujur aja, walaupun agak bikin panik, tapi penyemangat luar biasa.

So here's for you para pencinta Dai. Enjoy.
Love you all,

Lita

PS.
BTW, di sebelah Dai masih kosong. Ada yang bisa kasih masukan, foto siapa yang seharusnya ada di sebelahnya? Info ya. Thank you.

8 comments:

@astreewr,  April 27, 2013 at 12:30 AM  

sepertinya demi lovato cocok deh as tamina..
cantik, energic, and she has a beautiful smile..

Rusyda Fauzana April 27, 2013 at 8:12 AM  

Welcome back, Dai!
Wah, lama-lama jadi ngarteess dan glamour banget ya ceritanya hihihi... Untouchable bagi orang awam.

Dari dulu aku suka cara Mba Lita mendeskripsikan setting tempat dan situasi dengan detail. Jadi tervisualisasikan banget kejadinnya di kepala.

Oh yeah, Dai, what type of woman do u love, anyway?

dinar April 27, 2013 at 3:43 PM  

Embakkkk Littt....Dai...Dai...Dai....Dai balik lg...dan kali ini dgn critanya sendiri HURAY!!!ahhhh g sbr nih nunggu lanjutannya...yg Love Juna ep 21 part 2 jg nih!tetep semangat dan mnemukan bnyk ide mbak!aminnn
ehmmm knapa aq mbayangin Asmirandah/Katrina Kaif ya wktu bayangin Tamina.agahahaha...

mell cemell,  April 30, 2013 at 11:42 AM  

wuihh .. dari awal aja wes mantap gini rekk . asekk asekkk .

imajinatifnya itu looo .. ga ketulungan banget mb Lita ini !!!!!

wait wait , aku ngebayangin karakter si Tamina ini lebih ke Anushka Sharma mb, yang meranin rabne bana di jodi bareng SRK itu looo. pas itu kayake ..hehehe

Laut May 17, 2013 at 3:14 PM  

OH MY GOD, AKU MERINDIIIIIING !!!!
MANA? MANA LANJUTANNYA??????? REQUEST, AKU AJA YANG JADI MINA!!

*digeplak bangku taman*

xo,
G

Mine and Me June 3, 2013 at 1:22 AM  

sukaaaa...

kalau di samping Dai, aku aja gimana, Mbak? hehehe *geplak*

itu loh, quotenya juga pas dan manis banget...

pokoknya nggak sabar nunggu lanjutannya >.<

zee ashter June 5, 2013 at 11:06 AM  

Finally nemu juga ni Soul Mate...ckckk
Dai yg sblmnya gak bsa masuk dlm khayalan gw,akhirnya benar2 ngebuat gw ng'fly..hahaaa
Love u k liittt...love,juna'nya dirampungin..tp SM ini juga dilanjutin..klo post,jgan lpa tag me..zee zac..u'r lil sister.. ;)

yanti hadiwijaya September 9, 2013 at 7:38 PM  

Mba lit ... Aq suka smua cerbungny mba lit ... Sambunganny donk .. Cepetan ƍ̝̊̅̄ɑ̤̥̈̊ӄ>:/ sabar nich penasaran ma sambunganny .... Lam kenal y dr aq yanti.. Silent readerny mba .. Pengen dech kl cerbungny mba lit dijadiin novel bs dikoleksi n dibaca trus ... (Ngarep banget dijadiin novel).. Hehehehe

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP