A Lot Like Love (40)

>> Sunday, February 24, 2013

Baca: A Lot Like Love (39)


It's Only The Beginning



“DAI.”
“Ya?”
“Ada yang ingin bertemu denganmu.”
“Katakan saja aku tidak bisa. Siapa memangnya yang mau bertemu denganku di Shimla?”
Kenneth.
Dai memalingkan wajah, memandang Mamoru yang berdiri di ambang pintu teras belakang dengan tampang yang seolah berkata ‘kau jangan bercanda’. Tapi Mamoru mengedikkan kepala. Berjalan ke tepi, seolah mempersilakan Dai lewat.
Dai menghadapkan wajahnya lagi ke depan. Memandang kosong koran yang terbuka di hadapannya. Otaknya berpikir keras, mengajukan pertanyaan: sedang apa Kenneth di sini? Di Shimla. Dan mau apa bertemu dengannya?
Dia melipat koran yang tadi sedang dibacanya, melemparnya asal saja ke atas meja kayu di sebelah bangku yang didudukinya. Bangkit, dan memalingkan badan, berjalan menuju undakan, kemudian menaikinya lambat-lambat seolah enggan.
“Ngapain dia mau ketemu aku?” Dai menanyai Mamoru setelah dia sampai di puncak undakan.
“Aku tidak tanya.” Mamoru menaikkan pundak. Bersedekap. “Menurutku dia datang dengan misi damai.”
Dai mengeryit. “Kau kelihatan… santai.” Dia mengamati Mamoru. “Kau sudah tahu dia mau datang?”
Mamoru mengembuskan napas tajam. Tersenyum simpul dan menelengkan kepala sekilas. “Ya,” jawabnya.
“Dan kau tidak mencegahnya?”
“Untuk apa dicegah? Dia tidak berbahaya.”
Mata Dai menyipit. Memandang Mamoru dengan tatapan curiga. “Ada apa sebenarnya?” tanyanya. “Kau tidak pernah selonggar itu pada orang-orang yang mau bertemu denganku.”
“Sebaiknya kau temui dia dulu,” Mamoru menyarankan. “Tidak ada ruginya kan?”
Dai memerhatikan Mamoru dengan kerutan di kening. Heran dengan sikapnya yang mendadak saja berbeda. Tidak seperti biasanya. “Oke,” kata Dai sejenak kemudian. “Dimana dia?”
“Ruang tamu.”
“Sendirian?”
Mamoru mengangguk.
Dai berdecak kecil. Menarik napas dan mengembuskan perlahan. Dia menggerakkan kakinya di atas lantai dan merasakan ketegangan yang sedikit demi sedikit merayap naik ke kepala.
Untuk apa tegang? Itu cuma Kenneth, dia menghibur diri. Tapi perasaan tak nyaman benar-benar mengganggunya sekarang. Jantungnya berdetak tak terkendali dan dadanya sesak. Kakinya yang menyangga tubuhnya bahkan dirasakannya berat untuk digerakkan. Dan setiap langkah yang dibuatnya seolah merupakan siksaan semu, yang semakin lama-lama terasa semakin nyata. Dia melangkah pelan menyeberangi ruang tamu belakang, melewati ruang tengah, dan menyusur koridor yang membawanya ke bagian depan rumah.
Mendekati ruang tamu jantungnya semakin cepat berdegup, membuatnya harus bernapas pelan untuk mengendalikannya.
Kenneth berdiri membelakangi. Rapi, seperti biasa, mengenakan slip over abu-abu di atas kemeja putihnya yang lengannya di gulung sebatas siku. Jaketnya disampirkan di lengan. Dai menunduk, menilai dirinya sendiri yang sekarang tampak kacau balau; kaus longgar dan jins belel yang jauh dari kesan rapi.
“Kenneth?” panggil Dai.
Perlahan, Kenneth memutar badannya. Mempertemukan mata kelabunya dengan mata Dai yang langsung saja mengejap begitu mereka bertatapan. Sudah lama tidak berjumpa, dan entah kenapa Dai jadi canggung berhadapan dengannya. Dia merasa kecil di hadapan Kenneth.
“Apa kabar… Dai?” Kenneth menyapa. Dia tersenyum ringan “Sehat?”
“Ya,” angguk Dai. “Dan kau?”
“Aku baik.”
Dai kembali mengangguk, merendahkan pandangannya sejenak sebelum akhirnya melontarkan kalimat, “Congratulation. For the wedding. Sebentar lagi kan?”
“Ya. Thanks.” Senyum Kenneth tampak getir.
Hening setelahnya. Membuat kecanggungan di antara keduanya terasa jelas. Dai bertahan di tempatnya sekarang. Tidak maju atau pun mundur. Begitu pun Kenneth, lebih senang tetap berada di dekat jendela di belakangnya.
So…” Dai mendengus, berjalan pelan mendekat. “Sedang apa kau di Shimla? Dan… bagaimana kau tahu aku sini?”
Kenneth mengangkat wajahnya yang sebelumnya menunduk. Masih belum bersuara. Memasukkan kedua tangannya ke saku jinsnya, dan memandang sekeliling dalam gerakan samar.
“Neela” (Dai berdeham kecil) “baik-baik saja kan?”
“Ya,” angguk Kenneth. “Dia baik. Well…, aku sempat telpon Mamoru beberapa hari lalu dan… dia yang memberitahu kau ada di sini.”
“Tapi untuk apa?”
Jeda lagi. “Aku hanya mau mengajukan dua pertanyaan.”
Alis Dai bertaut. Dia merasa kebingungan dengan sikap Kenneth sekarang. ‘Mengajukan pertanyaan’. Apa yang hendak ditanyakannya sampai-sampai dia mesti jauh-jauh pergi ke Shimla. “Pertanyaan apa?”
“Apa kau mencintai Neela?”
Rasa panas mengalir naik, dan seolah menohok otak, mata dan hidung Dai begitu mendengar pertanyaan Kenneth. Dia ingin meninju Kenneth segera—membunuhnya kalau bisa, karena telah menyinggung sesuatu yang begitu menusuk perasaannya. Untuk apa kau bertanya? Dia berkata dalam hati, sementara buku-buku jarinya memutih dalam kepalan kerasnya. Mau menertawakanku?
“Bukankan kalian sudah akan menikah?” Dai berkata sinis. “Untuk apa kau menanyakan itu, seolah itu akan merubah sesuatu.”
“Bisakah kau jawab ‘ya’ atau ‘tidak’ saja?” tukas Kenneth cepat. Memandang Dai dengan tatapan yang seolah membekukan.
Dai mendengus, sinis. Kepalanya dimiringkan. “Ya. I love her. Now what? Kau mau memukulku?”
“Apa kau masih mencintainya?” Kenneth mengabaikan kata-kata Dai.
“Kalau bisa, aku ingin menculiknya darimu dan membawanya pergi bersamaku,” jawab Dai. “Kalau saja… aku bisa mengabaikan bagaimana perasaannya padamu… Kalau saja—”
“Aku pergi,” Kenneth memotong, dan Dai langsung berjengit. “Neela harus kembali ke Delhi tanggal 20 Februari depan untuk menandatangani kontrak kerjasama dengan pihak salah satu pemusik di sini,” dia memberitahu.
“Maksudmu?”
“Pastikan dia sudah ada di Delhi tanggal 19 Februari,” Kenneth tetap bicara, tidak menghiraukan tampang bingung Dai. “Aku akan ada di sana. Sebelum berangkat kemari aku akan menelpon.”
Setelah itu dia mengangguk, dan berjalan pergi menuju pintu depan. Dai langsung mengejarnya, masih bingung dengan pesan yang Kenneth baru saja ucapkan. “Kenneth. Tunggu dulu. Aku tidak mengerti—”
Just…” Kenneth berpaling, dan menatap Dai dengan kedua mata yang memerah dan berair. “take care of her. Jangan kau buat sedih,” pesannya. “Tolong… jaga dia. Buat dia senang, oke?”
Dai terpaku. Bungkam. Bibirnya sulit sekali digerakkan, seolah saja ada yang melumuri sekelilingnya dengan perekat. Dia cuma bisa memandang Kenneth yang berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan ekspresi wajah seolah memohon. “Bye… Dai.” Itu kata terakhirnya, sebelum dia membalikkan badan dan pergi. Menghilang total dari pandangan.
“Apa maksudnya?” Dai bergumam amat pelan sehingga cuma dirinya sendiri yang bisa mendengarnya. “Untuk apa dia memintaku menjaga Neela?”
Dai memutar tubuhnya cepat. Bergegas menuju bagian dalam rumah; kembali menyusur koridor, dan menemukan Mamoru duduk di sofa di ruang tengah. Membungkukkan badan, memandangnya.
“Ada apa sebenarnya, Mamo?” sembur Dai seraya mendekat. “Aku tidak mengerti sama sekali maksud Kenneth. Apa hubungannya dengan Neela?”
Mamo menatap Dai lama, namun tak ada tanda-tanda dia akan menjawab. Bahunya terempas tajam, dan dia memalingkan wajah sejenak sebelum akhinya bicara. “Sori… Aku tidak bisa memberitahu. Yang bisa kuberitahu padamu adalah Kenneth menelponku beberapa hari lalu; menanyakan keberadaanmu. Awalnya aku tidak memberitahunya, tentu, tapi dia terus memohon. Berjanji kalau tujuannya ingin bertemu denganmu bukan untuk membahayakanmu… tapi karena hal lain. So… aku ijinkan dia datang.”
“Hal lain itu apa?”
Mamoru mendesah, menggelengkan kepala. “It’s better for you to wait.”
“Menunggu apa?” Dai mulai tidak sabaran.
Suara bel pintu terdengar, dan kedua laki-laki itu mengarahkan pandangan masing-masing ke ambang koridor, seakan saja ada orang yang akan muncul dari sana. Mamoru berdiri, menyunggingkan senyum simpul pada Dai dan berkata, “Biar aku lihat,” dalam suara pelan yang menenangkan.
Setelah itu dia pergi, berjalan menuju koridor dan menghilang di balik dinding. Dai sementara itu, cuma berdiri diam di tempat. Masih dalam keadaan bingung. Heran dengan Kenneth dan juga Mamoru.
Sejenak kemudian Mamoru kembali. Menggontai mendekati Dai yang memandangnya dengan tatapan penuh tanya. “Kau ditunggu,” katanya.
“Ditunggu siapa?”
Go.” Mamoru mengedikkan kepala.
“Ada apa seben—”
Just go,” Mamoru mendesak, membuat raut muka Dai bertambah gundah. “Kau akan lihat sendiri nanti,” lanjutnya.
Dai mengembuskan napas tajam seraya membuang muka. Tak lama kemudian dia memalingkan badan, melangkahkan kaki pergi diiringi gelengan pelan. “Tidak bisa dipercaya,” gumamnya kumur-kumur.
Sekali lagi dia kembali menyusur koridor. Bertanya-tanya siapa lagi yang mau menemuinya kali ini. Neela? Yang benar saja. Tapi tadi Kenneth…
Dai memasuki ruang tamu, dan dikejutkan oleh sosok Juna yang muncul di pandangan; bersandar membelakangi salah satu sofa tunggal di ruang tamu.
Melihat Dai, Juna langsung menegakkan badan, menyunggingkan senyum senang. Rasa rindu terpancar jelas di matanya. Dai segera menghampiri sahabatnya itu, menjabat tangannya dan memberikannya pelukan erat penuh kerinduan selama beberapa saat.
“Ngapain kau di sini?” Dai menanyainya setelah melepaskan pelukannya.
Juna tersenyum simpul, kemudian mengedikkan kepala ke samping, beringsut dari tempatnya. Dai memiringkan kepala, melempar pandang ke arah balkon terbuka, dimana seorang perempuan sedang berdiri membelakangi. Menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, menikmati pemandangan hijau di hadapannya. Sesekali, mengangkat tangan, menyapu rambut panjangnya yang melambai lembut tertiup angin. Sosoknya… Dai mengenali sosoknya. Mengenali tubuh mungilnya yang tidak terlalu tinggi. Pundak kecilnya yang kurus dan rapuh. Dia kenal jemari-jemarinya. Dia kenal leher jenjangnya. Dai tahu perempuan itu lebih dari dia mengenali dirinya sendiri. Dan sekarang, bagai magnet, perempuan itu menariknya. Membuat kakinya bergerak sendiri tanpa disuruh, berjalan menuju balkon, menghampirinya.
Cuma dia sekarang yang ada di mata Dai. Cuma dia yang berlayar di benaknya. Dunia di sekelilingnya seakan runtuh satu per satu bagai kepingan puzzle, dan perempuan itu berada di sana sebagai penunjuk arah; lentera yang bisa menuntunnya pulang ke suatu tempat yang utuh dan menenangkan yang disebutnya rumah. Dan dia ingin menggapainya, beristirahat dalam kehangatan cahayanya.
Neela. Dai mengucapkan namanya dalam hati. Dan perempuan itu, seolah mendengar, memalingkan wajah perlahan. Mendongak, memandang Dai yang berdiri di belakangnya. Matanya membulat, terkejut, dan dia segera memutar badan, terhuyung mundur ke belakang. Napasnya tersengal, dan badannya gemetaran. “Da—Dai…?”
“Hei…” Kata itu, kendati singkat, cukup sulit diucapkan oleh Dai. Lidahnya kelu. Sama seperti Neela, dia juga gemetaran, dan jantungnya serasa terpelanting ke leher, membuat suaranya tercekat di tenggorokan.
Dai ingin sekali berteriak pada Neela kalau dia mencintainya. Ingin mengatakan kalau dia merindukannya. Dia bahkan ingin bilang kalau dia ingin memeluknya dan tidak akan pernah melepaskannya. Ingin menciumnya sekarang. Ingin menyentuhnya. Namun bibirnya susah sekali digerakkan. Tubuhnya kaku—tangan dan kakinya, tak mau bergerak.
Ketika bulir bening meluncur turun dari mata Neela, tak ada yang bisa Dai lakukan selain menatapnya dengan tatapan sendu. Tangannya yang mengepal, sama sekali tak mau kompromi. Menggantung canggung di sisi tubuhnya.
“Dai…” panggil Neela lirih. Maju perlahan, dengan kedua tangannya yang bergetar terangkat. Pelan tapi pasti meninggi, menggapai wajah Dai. Pucuk-pucuk jemarinya menyentuh dagu dan pipinya, dan Dai merasa ada sengatan listrik yang menghujam otaknya. Mengalirkan setrum yang memicu badannya untuk bereaksi. Membuat seluruh inderanya kembali berfungsi. Membuatnya hidup kembali.
“Dai…” Suara Neela bergetar. Mata coklatnya berbinar oleh selubung air mata dan pantulan cahaya mentari. Dan bibirnya menyunggingkan senyum kecil yang manis. Wajahnya merona merah.
Demi Tuhan, dia cantik sekali. Dai tak tahan. Merengkuh badan Neela, dan memeluknya erat. Benar-benar tak ingin melepaskannya lagi. Dia ingin melekat dengan dirinya; menjadikannya satu dengan tubuhnya agar tak ada lagi yang bisa memisahkan Neela dari dirinya. Dia ingin terus bersamanya.
I miss you so much…” kata Dai parau. Susah payah seperti orang yang sedang menahan sakit. Dia merasakan Neela meremas kausnya; kukunya terasa di kulitnya. “I miss you so much…
Mereka berdua menangis bersamaan. Mengeratkan pelukan masing-masing, melepaskan semua perasaan yang terpendam lama. Dai sendiri sama sekali tak ingin mengakhiri momen ini. Dia mau waktu berhenti, agar Neela lebih lama berada di sisinya. Dia tak ingin Neela pergi lagi.
“Dai…” Neela memanggil dalam suara teredam.
“Ya…?”
“Maaf…”
“Tidak perlu minta maaf…” kekeh Dai, masih memeluknya. “Kau tidak perlu minta maaf…”
“Maaf, tapi…” Neela berhenti sejenak, setelah itu mencicit dengan susah payah. “aku tidak bisa napas.”
Dai cepat-cepat melonggarkan pelukannya. Merengkuh wajah Neela cemas dan mengucapkan ‘sori’ yang panik, sementara Neela menghirup oksigen dengan bebas. “Kau tidak apa-apa kan?” tanya Dai mengusap wajah Neela. “Sori… Aku terlalu senang.”
Neela mendengus geli. Menatap Dai dengan mata yang masih berkaca-kaca. “It’s okay,” ucapnya, mengelus dada. “Aku juga senang.”
“Benarkah?” Dai bertanya dengan senyum ragu di wajah. Ibu jarinya diusapkan di bawah matanya yang mengejap, menyeka sisa air mata yang berangsur mengering.
“Ya,” angguk Neela. “Aku senang sekali. Kau baik-baik saja.” Dia menyentuh wajah Dai, mengusap pipinya. Memandangnya seolah takjub. “Kau sehat.”
Dai menarik Neela ke pelukan lagi. Mendekapnya erat, walaupun tak seerat sebelumnya—dia tak ingin Neela kehabisan napas lagi. “Aku juga, Neela,” bisiknya. “Aku bahagia sekali…” Dai memejamkan kedua mata. Menikmati rasa hangat dan rasa nyaman yang dialirkan oleh Neela ke sekujur badannya.
“Aku juga…” timpal Neela, balas memeluk Dai.
Selama beberapa waktu tubuh mereka merapat. Saling memeluk, tanpa menghiraukan apa pun di sekitar. Tak ada siapa pun di dunia, cuma mereka berdua. Dan tak ada apa pun yang bisa memisahkan keduanya lagi.
Mereka saling merindukan, saling mencari dan… saling mencintai, itu yang ada di benak Dai. Ini takdir, dan tak bisa dielakkan. Sejauh apa pun mereka terpisah, dan berapa lama pun, mereka pasti akan bertemu lagi. Bagaimana pun caranya. Apa pun yang terjadi.
Neela menarik badannya menjauh dari Dai dengan tiba-tiba, membuat Dai menyingkap mata. Merasa heran.
“Juna…” Neela menggeser badannya. Ekspresi wajahnya yang sebelumnya riang, kini berganti gundah—begitu cepat. Sepertinya dia baru sadar, kalau Juna ada di sana selama ini; bersama mereka.
Dai memalingkan badan, tersenyum pada Juna yang berdiri bersedekap di ambang pintu balkon, juga tersenyum, walaupun agak muram. Dia ingin mengucapkan terima kasih padanya, dan baru akan membuka mulutnya ketika terdengar suara Neela yang bernada bingung, menanyakan keberadaan Kenneth.
“Dia bilang kau tidak usah mencemaskannya,” jawab Juna, menunjukkan senyum yang berusaha sekali terlihat tenang. “Dia bilang dia akan kembali tanggal 19 Februari ke Delhi, dan menunggumu dan Dai di sana untuk tanda tangan kontrak. Dia juga sudah memberitahu Dai mengenai itu.”
Neela menoleh, dan mendapatkan anggukan kecil dari Dai sebagai konfirmasi kebenaran kata-kata yang diucapkan Juna barusan. “Dia datang kemari tadi,” tambah Dai, dan Neela cuma bengong, tidak bersuara. “Aku tidak mengerti maksudnya, awalnya, namun kau sekarang di sini dan…” Dai menaikkan bahu, “semuanya jelas.”
Entah kenapa Dai tidak suka cara Neela merespon. Bimbang, waktu dia menundukkan wajah dan menggerak-gerakkan bola matanya ke kanan dan ke kiri seolah mencari-cari sesuatu di permukaan lantai. Tampak sedih. Berbeda dengan apa yang sebelumnya dibayangkannya.
“Pernikahan kami…” Neela memandang Juna lagi.
“Kenneth berpesan kau tidak perlu memikirkannya… Dia membatalkannya,”—baik Neela maupun Dai kelihatan terkejut—“dan dia yang akan mengurus semuanya di Jakarta. Kau tidak perlu resah.”
“Dia… dimana sekarang?” tanya Neela cemas.
“Dia sudah pergi,” jawab Juna, berjalan mendekat. “Dia ke Jepang menemui Eiji, untuk memberitahunya perihal…” Juna tidak melanjutkan, cuma melipat bibirnya.
“Tapi,”—air mata Neela loncat dari matanya, dan dia tidak repot-repot menyekanya, “dia tidak bicara apa pun…” Suara Neela bergetar hebat.
“Dia ingin kau bahagia…” Juna tersenyum. Memasukkan tangannya ke saku celana jinsnya. “Dia tahu kalau kau mencintai Dai, dan dia ingin yang terbaik untukmu, meskipun… berat baginya…”
So he give me away…” Neela bicara dengan tampang menerawang dan suara yang seperti melamun. Dan Dai yang berdiri di sebelahnya, merasakan hatinya sakit, seperti ada ratusan belati yang menyayat-nyayatnya sekarang.
Dai mendesah, bersedekap dan mundur beberapa senti ke belakang. Kepalanya terasa panas, dan kakinya lemas. Dia merasa penuh dan juga kosong secara bersamaan. Dan itu membuatnya tak nyaman.
Yes. He’s given you away,” timpal Juna, tersenyum. “Agar kau bahagia, dengan Dai.”
Neela seakan mengerut. Badannya gemetar hebat dan dia menyilangkan tangannya di dada, seolah hendak mendekap tubuhnya sendiri, untuk menghalau rasa dingin yang mendadak menyelimutinya. “He give me away…” gumamnya lagi.
“Neela,” Juna mendekat, mengusap pipi Neela yang sembap. “He’ll be okay…”
I hurt him, Juna…” Neela sesenggukan, dan tak seorang pun menduga reaksi tersebut. Dai terutama. “Aku menyakitinya…”
Juna menarik Neela ke pelukan. Berusaha menenangkannya. “Kau tidak menyakitinya… Ini keputusannya. Dia benar-benar ingin kau bahagia.”
“Dia sangat mencintaiku dan aku menyakitinya.” Neela jelas tidak menggubris kata-kata Juna. Dia memeluk Juna, dan terisak di bahunya. “Dia pergi begitu saja, tanpa mengucapkan sepatah kata pun…”
Neela terisak-isak. Keras, dan kedengaran sepertinya saja dia merasakan sakit yang luar biasa. Dai memerhatikannya. Melihat bahunya berguncang-guncang, seiring suara tangisnya merayap keluar dari bibirnya. Air matanya menetes-netes melewati wajah dan dagunya, dan dia tak peduli sama sekali pada apa pun, bahkan kata-kata penghiburan yang dibisikkan Juna ke telinganya.
It hurts, Dai membatin. Dan aku merasakan kesakitan yang dia rasakan.
Dai memalingkan badan. Mencengkeramkan tangannya di pagar balkon, berupaya keras untuk menenangkan dirinya sendiri. Matanya dipejamkan kuat-kuat, tak ingin membiarkan ratapan Neela di belakangnya merasukinya. Tangisnya akan reda pada akhirnya. Dan dia tak akan lagi memikirkan Kenneth, ujar Dai pada dirinya sendiri. Jangan cemas.

Bandara Internasional Narita. Lagi.
Dan terakhir Kenneth berada di sini adalah ketika dia membawa Neela pulang ke Jakarta setelah kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya tahun lalu. Dan sekarang dia di sini lagi. Duduk di salah satu bangku tunggu yang berderet rapi. Sendirian. Dengan hati yang luar biasa hancur, dan sedang berusaha ditatanya kembali, sedikit demi sedikit, betapa pun sulitnya.
Kenneth membungkuk. Memandang travel bag yang menggeletak di bawah. Berusaha mengisi benaknya dengan banyak hal yang menyibukkannya, agar wajah Neela tidak muncul di matanya. Dia memikirkan pekerjaannya; album terbaru Marin yang hampir rampung, lalu artis baru bernama Tamina yang akan segera memulai debutnya tahun ini—dan dia harus berkonsentrasi penuh untuk itu, kemudian kontrak dengan AR Rahman…
Nama AR Rahman langsung membuat Kenneth teringat Neela. Tak bisa terelakkan lagi. Dan dia juga jadi teringat kalau tanggal 19 bulan depan; dia harus kembali ke Delhi untuk menemani Neela menandatangani kontrak kesepakatan kerjasama. Dan pastinya dia bersama…
Kenneth mengangkat kepalanya buru-buru. Memandang ke depan, mengamati orang-orang yang lalu lalang beberapa meter di depan. Suara mesin pesawat menggerung, menggetarkan, bercampur dengan suara pengumuman dan keramaian orang-orang di dalam gedung megah bandara. Tapi tetap saja, semua itu tidak cukup untuk meredam ingatannya tentang Neela. Dan juga Dai. Sulit sekali. Benar—benar—sulit.
Sosok jangkung yang dikenal mengalihkan perhatiannya. Berjalan ke arahnya dengan tampang masam yang jarang sekali dilihat Kenneth sebelumnya. Suara sepatunya yang mengentak lantai terdengar samar, namun di telinga Kenneth suara itu kedengaran amat jelas, bagai ratusan tongkat yang menghujam seluruh badan, keras tanpa ampun. Dia marah, hati Kenneth berkata. Dan itu wajar.
Eiji duduk di bangku sebelah Kenneth. Tidak menyapa atau bicara. Mulutnya tertutup rapat, namun ekspresinya mewakili jelas suasana hatinya; amarah sedang mengguncang dirinya.
Selama beberapa waktu Kenneth bungkam. Membiarkan Eiji dalam kediamannya, sementara dia menyiapkan ratusan kalimat yang dipikirnya bisa membuat Eiji mengerti keputusannya. Dan andaikan ternyata Eiji tidak mengerti, dia siap menerima konsekuensinya.
“Eiji…” Kenneth akhirnya bicara. Menoleh pada Eiji. “Aku—”
You’re stupid,” potong Eiji, kesal. “Aku tidak mengerti keputusanmu. Benar-benar tidak mengerti…”
Kenneth menelan ludah. “Maaf… Tapi… menurutku itu yang terbaik.”
Eiji diam lagi. Badannya condong ke depan dan jari-jari tangannya saling bertaut. Dia menggeleng heran. “Kau telah membahayakan dirinya dengan memercayakannya pada Dai. Kalau terjadi apa-apa padanya, itu berarti aku gagal melindunginya. Aku gagal menjaga janjiku pada Shinji. Dan itu karena kau! Dan aku bisa membunuhmu karena itu.”
Kenneth menutup mata sejenak, dan menurunkan wajahnya. Dia pasrah. Benar-benar pasrah.
“Neela sudah seperti adikku sendiri.” Eiji bicara lagi, setelah sebelumnya membenamkan wajahnya ke tangannya. “Aku menyayanginya sama seperti aku menyayangi Chiyo. Tulus.” Dia menatap Kenneth. “Bukan cuma karena utang budi, atau janjiku pada Shinji. Tapi karena aku benar-benar sayang padanya Dan aku… sangat ingin dia mendapatkan semua yang terbaik. Termasuk pasangan hidupnya.”
Kenneth memalingkan muka. Tidak ingin Eiji melihat matanya yang berkaca-kaca.
“Dan menurutku, kau adalah yang terbaik,” sambung Eiji. Suaraya melunak, tidak seperti sebelumnya, dan membuat Kenneth tidak bisa lagi membendung kesedihannya. Air matanya meluncur turun, dan dia segera mengusapnya.
“Bukan karena aku tidak suka pada Dai,”—Eiji mendengus, menatap ke depan—“tapi karena aku tahu…, kau sangat mencintainya. Dan aku yakin…, kau akan membuat Neela bahagia.”
Kenneth mengangkat wajahnya, menaikkan dagunya sedikit. Dia menarik napas, dan mengembuskannya perlahan. Berulang-ulang, untuk menegarkan dirinya selama beberapa saat. Jujur, dia ingin menangis; meraung-raung seperti yang biasa perempuan lakukan untuk melampiaskan kesedihannya. Tapi dia laki-laki. Tak seharusnya terlihat lemah.
“Aku marah, tentu.” Eiji bernapas pelan. “Namun…, aku menghormati keputusanmu. Aku juga ingin Neela bahagia. Tapi…, aku mengkhawatirkan dirinya. Dai… bagaimana pun tetap tidak bisa lepas dari perkumpulannya. I really concern about that.
“Aku yakin,” Kenneth akhirnya bersuara, “Dai tidak akan membiarkan Neela disakiti. Kalau ya…, aku sendiri yang akan membunuhnya. Dan kau…, boleh membunuhku setelah itu.” Dia menengok ke arah Dai. Sorot matanya seolah hendak meyakinkan Eiji kalau dia sungguh-sungguh dengan kalimatnya.
Eiji menyunggingkan senyum simpul diiringi dengus geli. “I will.” Kalimat pendek itu kedengaran sepertinya saja Eiji sedang bercanda, namun melihat ekspresi datar di wajahnya, Kenneth menyadari kalau dia 100 persen dengan ucapannya. Eiji… akan membunuhnya, kalau terjadi sesuatu pada Neela.
Kenneth menunduk lagi. Mengamati risleting travel bagnya yang membentuk garis bergerigi berwarna merah hati. Membaca huruf-hurup timbul di bagian bawahnya yang bertulisan: Louis Vuiton, dan memerhatikan motif kotak-kotak yang memenuhi kain pelapisnya.
So… Are you okay?” tanya Eiji, semenit kemudian.
Kenneth menghela napas, membiarkan bahunya terangkat sementara dia mengembuskannya perlahan. “Tidak sama sekali,” jawabnya, jujur. “Aku sekarang… hancur.”
Eiji menepuk pundak Kenneth. “Just enjoy it…,” kata Eiji. “Aku tidak bisa mengatakan kata-kata yang bisa menentramkan suasana hatimu sekarang. Dan aku yakin kau sedang tidak bisa menerima kata bijak apa pun dari orang lain. Just go with it, then. And move on…”
Kenneth memandang Eiji dengan tatapan yang seolah mengucapkan terima kasih. Mengangguk pelan, seolah mengiyakan. Eiji membalasnya dengan tersenyum simpul dan berkata, “Aku ingin memelukmu, actually, tapi… aneh sekali kelihatannya di depan banyak orang begini,”—Kenneth mau tak mau terkekeh—“Bisa-bisa mereka menyangka kita gay atau kelainan.”
Bahu Kenneth berguncang, sementara dia menundukkan kepala untuk menyembunyikan dengus gelinya.
It’s a good start to laugh,” kata Eiji kemudian, setelah Kenneth kembali mengangkat mukanya dan memandangnya. “Dan kalau ini membantu, I just want to say…, I salute you,” lanjutnya lagi. Sungguh-sungguh.
Thanks…, Eiji,” balas Kenneth dalam suara lemah.
Eiji mengangguk. Menghadapkan wajahnya ke depan, dan memerhatikan para pengunjung bandara yang berjalan saling berlawanan ke segala arah. Biji matanya bergerak ke kanan dan ke kiri selama beberapa waktu, sampai akhirnya dia mengempaskan napas tajam dan menegakkan badan. Memalingkan wajah pada Kenneth di sebelahnya. “Aku pergi dulu,” dia pamit.
Kenneth mengangguk. “Aku akan bilang pada Chiyo kalau pernikahanku batal.”
“Tidak usah,” tolak Eiji buru-buru. “Dia adikku, jadi biar aku saja yang bilang. Lagipula, kau tidak akan sanggup menerima kemarahannya. Dia sangat antusias dengan pernikahanmu dengan Neela, dan dia pastinya sangat kecewa mengetahui kalau pernikahan ini batal.”
Dada Kenneth mendadak saja terasa sesak, dan dia merasakan hampa yang amat-sangat, menyadari kalau tindakannya akan membuat teman-temannya kecewa padanya. Dan Bastian… Kakaknya itu pasti akan sangat sedih, mengingat dialah yang paling bahagia atas pernikahannya. Dan Bas, telah begitu menyayangi Neela. Mungkin dengan Bas, Kenneth akan mendapatkan kesulitan untuk menyampaikan semua ini.
Bye, Kenneth.”
Kenneth mendongak cepa­t-cepat, memandang Eiji yang telah bangkit dari duduknya. Siap pergi. “Ya,” sahut Kenneth. “Terima kasih, Eiji.”
Eiji mengangguk. Setelah itu membalikkan badannya dan pergi. Berjalan pelan seraya mengancingkan jasnya, berbaur dengan keramaian. Dua orang pria tinggi besar bersetelan hitam, berdiri dari dua bangku terpisah. Melipat koran yang sebelumnya terbuka di depan mereka, dan meninggalkannya di atas bangku yang mereka duduki. Bergegas pergi, dan berjalan di belakang Eiji seolah mengawalnya.
Itu pemandangan biasa yang sering Kenneth lihat, kapan pun dia berada bersama Eiji. Jadi dia cuma tersenyum, dan kembali menunduk ke arah travel bagnya dan berkata dalam hati, Kau akan baik-baik saja, Kenneth.

Sudah pagi, ketika Kenneth tiba di Jakarta. Dan matahari telah menyembul dari balik awan saat taksi yang mengantarnya dari bandara Soekarno-Hatta memasuki perkarangan rumah. Tapi dia tidak peduli, karena badannya yang amat penat dan pikirannya yang sangat kacau. Satu hal yang ada di kepalanya yaitu, tidur. Dan membuang semua ingatan tentang Neela, Delhi, dan Dai untuk beberapa jam, baru setelah itu dia memikirkan bagaimana menyampaikan pembatalan pernikahannya pada semua orang—dan Pers, tentunya. Akan berat sekali pasti, namun dia harus melakukannya. Just go with it, dia teringat kata Eiji di bandara kemarin malam.
Kenneth masuk ke rumah, dan semuanya redup. Dia cuek, terus berjalan menyeberangi ruang tamu seraya menyeret travel bagnya. Melintasi ruang tengah, terus menuju kamar dan menutup pintu.
Dilepasnya gagang travel bag dan membiarkannya jatuh ke lantai, sementara dia naik ke atas tempat tidur, dan menelungkupkan badan di atas kasur yang dingin. Dia berusaha memejamkan mata, ingin tidur, tapi wajah Neela masih bermain  di benaknya. Tersenyum manis seperti biasa. Tertawa seperti biasa. Mengganggu ketenteraman hatinya, dan membuat lukanya semakin menganga.
Kemudian gambaran itu muncul; imajinasi yang tidak seharusnya. Neela berdiri jauh di seberangnya berlatar belakang langit yang sendu, mengenakan gaun putih dan tudung berenda di atas kepalanya, serta memegang buket bunga putih berpita. Sangat cantik, dan kelihatan bercahaya. Dai di sebelahnya, menggenggam tangannya dan tersenyum. Tampak sangat bahagia.
Kenneth membiarkan air merembes keluar dari matanya. Berpikir, mungkin lebih baik dia menangis agar kepala dan hatinya terasa lebih ringan. Dia menarik bantal, menyeretnya mendekat, dan meletakkannya di bawah kepala. Baru setelah itu dia membenamkan wajahnya di atas bantal tersebut, menangis tanpa suara.
Cengeng, itu pasti yang akan dikomentarkan oleh orang-orang bila melihatnya sekarang. Namun sekuat apa pun dia sebagai seorang laki-laki, sedewasa apa pun, dia tetap manusia. Punya hati yang sama rapuhnya dengan makhluk yang disebut perempuan. Tak ada bedanya.
My heart’s broken. And I don’t know what to do but crying, dia membatin. Dia benci dirinya sekarang, namun dia ingin menjadi dirinya sendiri selama beberapa waktu, sebelum dia pergi keluar dan bersikap tenang dan kokoh seperti biasa. Hanya beberapa jam, tidak lama.
Bel pintu terdengar. Diiringi suara ketukan keras—gedoran tepatnya—yang buru-buru seolah orang yang mengetuknya sedang dalam keadaan marah atau panik. Chiyo, atau mungkin Malini, bisa juga Lea, pikir Kenneth. Salah seorang dari mereka pasti akan membunuhnya lebih dulu sebelum Eiji memutuskan untuk melakukannya.
Malas, Kenneth menyeret badannya untuk beranjak dari tempat tidur. Sambil menyeka matanya dengan satu tangan dia terhuyung ke pintu, membukanya dan menyusur ruang tengah.
Suara gedoran di pintu depan terdengar semakin keras, bersamaan dengan suara bel pintu yang menjerit nyaring memenuhi ruangan. Dan Kenneth cuma bisa mengembuskan napas untuk menenangkan diri, sambil mempercepat gerak kakinya. Dia menyeberangi ruang tamu, setengah berlari menghampiri pintu, menjulurkan tangan menggapai kunci, memutarnya dan menarik gagang pintu. Siap menghadapi siapa pun yang muncul di hadapannya.
Mata Kenneth melebar, dan jantungnya serasa berhenti begitu dia melihat orang yang berdiri di depannya, memandangnya dengan tatapan marah. “Neela?” sebutnya takjub.
PLAKKK!!!
Tamparan keras mampir ke pipi kiri Kenneth—dia sama sekali tak menduganya. Saking kerasnya dia sampai sempoyongan ke samping, membentur kosen pintu, sembari memegangi pipinya yang panas seolah terbakar. Dia melebarkan mata pada Neela, tapi Neela balas melotot padanya. Tersengal-sengal bernapas, bibirnya bergetar, dan matanya agak bengkak berair. Emosi sepertinya tertimbun di ubun-ubun kepalanya cukup lama, dan sekarang dia melampiaskannya lewat ayunan tangannya barusan.
Tak lama kemudian, Neela membalikkan badan, berlari pergi menuju sebuah mobil sedan hitam yang terparkir tak berapa jauh di pekarangan rumah. Membuka pintu belakang, dan masuk ke dalam diiringi suara pintu yang dibanting keras. Kenneth, sama sekali tidak bereaksi. Cuma bengong, dengan mulut menganga.
Sejenak kemudian, Kenneth menegakkan badan, berdiri sambil masih mengusap-usap pipi kirinya yang berdenyut nyeri. Selama beberapa saat, dia masih melongo mengamati sedan tersebut, mengamati sosok Neela yang duduk di jok belakang sedan. Baru setelah itu bola matanya bergerak, ganti memandang laki-laki yang berdiri di sudut serambi; bersedekap, terkekeh tertahan. Dai.
 “Kenapa kalian di sini?” tanya Kenneth, sekarang menekan-nekan dada kirinya yang sakit. Jantungnya masih berdegup kencang, mendesak-desak, karena terkejut.
“Mau bagaimana lagi?” Dai mengangkat bahu. “Neela tidak mau berhenti nangis selama berjam-jam, persis seperti anak kecil minta ibunya. Jadi aku terpaksa membawanya pulang.” Dia mendengus geli.
Kenneth yang pikirannya masih blank tidak bisa mencerna penjelasan Dai. Dia mengerutkan alis, dan menatap Dai bimbang. “Aku tidak mengerti…” Dia kembali melempar pandang ke arah jendela belakang mobil. Mencari-cari sosok Neela.
Jujur saja, dia berpikir saat ini dia sedang berada di dalam mimpinya sendiri; tidak bisa dibilang indah, tapi juga tidak bisa dibilang buruk. Namun rasa sakit yang dirasakan pipinya sekarang begitu nyata, cukup untuk membangunkannya dari mimpi.
“Dia luar biasa terpukul kau meninggalkannya begitu saja di Shimla,” Dai menjelaskan. “Well…, sepertinya dia sadar kalau… ternyata dia sangat mencintaimu ketika kau tidak ada bersamanya.”
“Tapi… dia mencintaimu…” kata Kenneth, tak mengerti. “Dia...” (Kenneth berhenti beberapa saat, teringat isi email Neela) “sangat mencintaimu…”
“Dia mencintaiku dengan cara yang tidak sama seperti dia mencintaimu,” timpal Dai segera. “Cintanya padaku… hanya karena aku mengisi kekosongan yang pernah ada di antara kalian. Karena aku… memberikannya sesuatu yang tidak pernah didapatkannya darimu. Tapi sebenarnya…., kaulah yang telah memberikan banyak untuknya… Dari awal… sampai saat ini. She didn’t realized it first. But now she does.”
Kenneth bertolak pinggang. Melempar pandang lagi ke arah mobil sedan di depan. Ingin segera menghampirinya dan menarik Neela keluar untuk memeluknya. Tapi… entah kenapa, dia ragu, masih merasa tidak berhak atas dirinya. Tidak percaya kalau Neela memberikan cintanya padanya dan bukan pada Dai.
“Juna cerita kalau… kau membaca email yang dikirimkan Neela ke Shinji beberapa hari lalu,” sambung Dai. “Dia juga mengatakan kalau setelah itu kau… mencari tahu keberadaanku, dan akhirnya mendapatkan nomor telepon Mamoru—Arata memang hebat, aku akui.” Dai memperdengarkan tawa yang kedengaran seperti cegukan. “Lalu, kau meminta tolong Juna, yang kebetulan ada di Delhi, karena kau juga tahu dia bersahabat denganku, untuk menemani Neela…. Karena kau tidak sanggup mengantarkan Neela sendiri padaku.”
Kenneth menunduk. Bernapas pelan.
“Aku… tidak akan bisa melakukan itu, Kenneth,” kata Dai lagi, seraya mengempaskan napas. “Sebesar apa pun cintaku… aku tidak akan bisa menyerahkan orang yang aku cintai pada orang lain, kendati aku tahu kalau itu akan membuatnya bahagia. But you love her so much…” Suara Dai sekarang bergetar. Kenneth mendongak, dan melihat matanya berkaca-kaca. “Kau mengantarnya padaku sendiri… dan meyakinkanku kalau aku akan mencintainya. Demi Tuhan, aku merasa kecil di depanmu…,” lanjutnya lagi, sambil mengusap air matanya yang hendak jatuh. “Untuk pertama kalinya aku… merasa… aku bukan orang baik.” Dia terkekeh, menekan-nekan matanya. Mencegah air matanya jatuh lagi. “Well, actually I am not a good guy, but… gara-gara kau, aku sadar kalau… aku benar-benar bukan orang baik. Dan Neela… membuatku ingin merubah diri. Klise, kedengarannya. Namun, aku sungguh-sungguh mengatakannya.”
Kenneth menutup mulutnya dengan satu tangan. Berpikir keras, menerjemahkan semua perkataan Dai barusan, karena otaknya masih belum berfungsi sebagaimana mestinya. Dia mendengarnya dengan jelas, tentu saja, namun entah kenapa dia kebingungan. Emosinya campur-aduk; senang, sedih, marah, dan apa pun itu yang dirasakannya sekarang.
“Aku berusaha menghiburnya,” Dai melanjutkan. “Berpikir kalau… tangisnya akan reda pada akhirnya dan… kami bisa… yah, bicara tentang kami berdua. Namun,” dia menyandarkan punggungnya ke pilar yang menyangga atap teras, “dia tetap menangis—berjam-jam, seolah tidak akan berhenti. Dan aku merasa… menjadi manusia yang tidak berperasaan kalau sampai tega melihatnya kesakitan seperti itu, dan memaksakan kehendakku padanya, sementara aku tahu… alasan dia menangis. Jadi…, aku mengalah. Aku… mengantarnya padamu. Berat,”—Dai mengembungkan pipinya dan mengempiskannya lagi—“but… aku harus melakukannya. I brought her back. Dengan hati yang… lapang. Karena aku tahu… you deserve her. Dan dia akan bahagia bersamamu.”
Mata Kenneth panas lagi, dan air matanya keluar begitu saja tanpa dia bisa cegah. Dai terkekeh, memalingkan muka, sementara Kenneth membenamkan wajah ke tangannya. “Shit,” dia mengumpat, diselingi tawa. “Aku nangis persis kaya cewek.”
“Aku juga,” Dai menimpali. “Aku nangis waktu ada di pesawat, aku nangis di sini. I just cant stand it, tapi… I’ll be fine.” Dia tersenyum lebar. Membusungkan dada, seolah bangga.
Kenneth turut tertawa, dan setelah tawanya reda dia berkata, “Thanks,” pada Dai. Sepenuh hati.
Sorry for that.” Dai menunjuk ke pipi kiri Kenneth yang memerah dengan tampang meringis. “Sepertinya Neela marah sekali padamu.”
“Aku patut menerimanya.” Kenneth mengerutkan bibir, menjingkatkan kedua alisnya. “Sekarang aku tahu kalau ke depannya aku tidak boleh macam-macam dengannya.”
Dai tergelak, mengangguk. “Ya. Pastinya,” katanya, kemudian mengedikkan kepala. “Pergilah, dan temui dia. Jangan sampai ada taring keluar dari mulutnya.”
Kenneth turut mengangguk, sembari tertawa kecil. Setelah itu dia memutar badannya, dan menggerakkan kakinya. Baru dua langkah dia berpaling, memandang Dai yang menunduk ke lantai; muram. “Dai…” dia memanggil.
Mengangkat wajah, dan tersenyum, menyembunyikan gurat sedih yang sejenak lalu meliputinya, Dai menjawab panggilan Kenneth. Dan Kenneth, mengerti benar perasaannya, menatapnya penuh senyum dan bicara, “Terima kasih. Kau orang baik.”
Dai sempat membeku selama sesaat, sampai akhirnya dia tersenyum simpul dan menganggukkan kepala pelan untuk membalas pernyataan Kenneth barusan. Kenneth mengangguk lagi, setelah itu berbalik, dan melanjutkan berjalan, mendekati mobil sedan tersebut. Hatinya lega, dan kepalanya terasa ringan. Dia bahagia—sangat bahagia.
Kenneth mengetuk pelan jendela belakang mobil yang tertutup. Setelah itu dia meraih gagang pintu dan menariknya membuka. Sempat melongok ke dalam untuk melihat Neela yang duduk di ujung; membuang muka, Kenneth naik ke atas mobil dengan hati-hati dan menutup pintunya lagi. Dia mengerling ke depan, ke kaca spion, dan bertemu pandang dengan si supir yang duduk di depan. Pria bersetelan hitam itu mengerti isyarat Kenneth, dan segera membuka pintu di sebelahnya; turun, dan menutupnya. Berjalan menjauh dari mobil.
Sekarang tinggal Kenneth dengan Neela di dalam. Duduk diam tanpa suara. Kenneth menolehkan kepalanya ke arah Neela, tapi Neela tetap bertahan menatap jendela di sebelahnya. Sama sekali tidak menggerakkan kepala ke arah lain. Sesekali terdengar Neela menyedot hidungnya. Tapi itu saja, tak ada tanda-tanda dia akan mengeluarkan suara untuk bicara.
Perlahan, Kenneth menggeser tubuhnya mendekat. Ketika jaraknya tinggal hanya beberapa senti dari Neela, dia mengangkat tangannya, hendak menyentuh bahu Neela. Jemarinya menyentuh rambutnya yang terjurai, membuat Kenneth tahu pasti, kalau dia tidak sedang bermimpi. Neela benar-benar ada di sebelahnya. Marah, namun setidaknya dia nyata.
Saat tangan Kenneth menyentuh bahu Neela, Neela segera mengedikkan bahu. Tanda kalau dia tak ingin Kenneth menyentuhnya. Kenneth menyentuhnya lagi, mencengkeram bahu mungilnya, dan sekali lagi dia menepisnya. Kenneth tidak menyerah, mencoba menyentuhnya lagi, dan kali ini Neela berbalik, tanpa disangka menghujamkan tinjunya ke dada Kenneth dengan membabi-buta. Menangis, dan terus-terusan memukul Kenneth bertubi-tubi, menampar wajahnya habis-habisan untuk meluapkan amarahnya.
Kenneth membiarkannya, tidak berusaha mencegahnya sama sekali. Dia patut menerimanya, karena telah melakukan hal bodoh, yang akhirnya malah menyakiti Neela. Kenneth berusaha memeluknya, susah payah, karena Neela sepertinya tidak ingin disentuh sama sekali olehnya. Tapi dia terus berusaha.
Akhirnya dia berhasil merengkuh Neela, menariknya ke pelukan. Menenangkan amarahnya yang masih dilampiaskannya dengan tangannya yang memukul-mukul dada Kenneth. Dan saat pukulannya berhenti, Neela menangis; sesenggukan. Balas memeluk Kenneth dengan sangat erat.
I’m sorry…” bisik Kenneth di telinganya. “I’m sorry…
Setelah itu dia menarik tubuhnya, dan memegang wajah Neela dengan kedua tangan. “Aku janji aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi.” Dia mengecup kening Neela lama, sambil terus berkata, “Aku tidak akan pernah meninggalkanmu… Tidak akan lagi…”
Neela memeluk Kenneth lagi. “Jangan, Kenneth. Aku takut sekali…” isaknya. “Aku tidak tahu bagaimana caranya hidup, kalau kau tidak bersamaku. Aku tidak bisa…”
Kenneth balas memeluk Neela. Membenamkan wajahnya di bahunya. Bernapas, sambil menghirup aroma harum dari parfum yang menempel di kausnya. Dia merasa nyaman, dan tenang, karena Neela benar-benar ada bersamanya. Menerima cintanya. Dan benar-benar ingin hidup bersamanya. Tak ada lagi yang Kenneth inginkan selain itu. Tak ada lagi yang penting.
I love you, Kenneth…” kata Neela setelah dia melepaskan pelukannya. “And I will always love you… No one else, just you.
“Aku juga, Neela,” Kenneth membalas. “Aku mencintaimu. Dan aku berjanji akan membahagiakanmu. And I’ll give you a lot… A lot like loveLots of everything.
Neela tersenyum mendengarnya. Dia langsung memeluk Kenneth erat untuk beberapa saat, kemudian menciumnya di bibir. Kenneth tertawa, dan kembali memeluknya. Erat. Dan tidak peduli, berapa lama.
Di luar, di teras rumah yang sejuk, Dai memerhatikan mereka. Menyunggingkan senyum yang gembira, sembari menggelengkan kepala.
“Kau orang baik, Dai,” dia bergumam pada diri sendiri, teringat kata Kenneth tadi. “Dan kau melakukan hal yang benar,” katanya lagi, menganggukan kepala.
Hujan rintik mengalihkan perhatiannya. Dia mendongak ke atas, dan melihat langit yang sebelumnya cerah berangsur redup tertutup awan.
Akan hujan, pikirnya. Dan dia mendadak rindu pada Shimla yang selalu mendung. Ingin cepat-cepat kembali ke sana untuk menenangkan hati.
Someday, you’ll meet your soulmate,” katanya, memejamkan mata. “And she’ll follow you no matter how far you take her away…” katanya pelan, seraya memandang langit yang semakin kelabu. “Someday…”
Dan hujan mengguyur Bumi. Menenangkan dua hati yang telah saling menemukan, dan satu hati yang kehilangan. Menghapus semua duka, membawa babak baru dalam kehidupan masing-masing.

And some say, it’s not the end. It’s just the beginning.


EPILOG


Satu tahun kemudian…


Dai…” Neela memanggil Dai yang sedang tertidur di sofa, di dalam ruangan yang dipenuhi rak-rak buku. “Dai…” panggilnya lagi, ketika Dai tidak merespon, seraya memiringkan kepalanya.
Neela mendesah. Berdecak kecil, dan membungkuk sedikit. Meringis, ketika dia merasakan nyeri di perutnya, buru-buru menahannya dengan satu tangan, dan kembali memanggil Dai. Mengguncang pundaknya, untuk membangunkannya. Dan saat Dai tidak juga bangun, dia akhirnya habis kesabaran. Memanggilnya dengan suara kencang. “Dai!”
Dai bangun dengan panik—loncat lebih tepatnya, langsung duduk tegak, dan menoleh pada Neela yang merengut di sampingnya. Mengelus-elus perutnya yang membesar.
“Oh, God… Apa sudah waktunya?” Dai, menurunkan kakinya yang sebelumnya diselonjorkan buru-buru.
“Hm? Waktu apa?” Neela tampak bingung.
“Perutmu…” Dai memandang ke perut Neela. “Kau mau melahirkan sekarang?”
Neela mendesah. “Kau mimpi,” sahutnya, memutar mata. “Aku cuma mau kau bangun. Makanan sudah siap. Kita makan.” Neela nyengir nakal.
Dai membenamkan wajahnya di satu tangan, mengembuskan napas lega. “Aku kira kau akan melahirkan sekarang…”
Neela terkekeh. “Aku pastinya akan memanggil Kenneth, bukan kau,” ujarnya.
Dai tertawa, menundukkan kepala dan menggelengkannya. Kelihatan sedang membodohi diri sendiri. “Sori…” dia bergumam.
“Ayo,” Neela mengajak. Mengacak-acak rambut Dai yang berantakan menjadi semakin berantakan. “Si Chef akan marah nanti.” Dia menggamit tangan Dai dan menariknya berdiri. “Dia agak kesal padamu karena kau tidak membantunya.”
Enggan, Dai bangkit dari sofa. Menuruti Neela, dan berjalan di sebelahnya menuju pintu ruangan yang membuka. Ketika mereka sampai di ruang tengah, Lea sedang melintas. Langsung menyunggingkan senyum manis.
“Kau sudah bangun?” Dia bicara pada Dai. “Juna mencarimu.”
Setelah itu dia bergegas menuju dapur, sementara Neela dan Dai melanjutkan berjalan ke arah pintu beranda yang terbuka lebar. Tirai-tirai putih melayang melambai tertiup angin, dan dari baliknya terdengar suara ombak yang berdebur, diatasi oleh suara riuh orang tertawa dan berbincang.
“Itu dia.” Kenneth yang sedang membantu Juna menata meja makan, menunjuk ke arah Dai begitu dia muncul dari pintu.
“Apa kau datang ke Bali cuma untuk tidur?” cetus Juna, menuangkan sayur dari panci stainless ke dua mangkuk keramik besar.
Neela segera meninggalkan Dai, dan berjalan santai ke arah Kenneth, untuk memberikannya pelukan hangat. “You’re okay?” tanya Kenneth pada Dai, sambil merangkul Neela.
Dai duduk di ambang pintu. Menopang dagu dengan kedua tangannya yang disangga lutut, mengangkat bahu untuk menjawab pertanyaan Kenneth. Dia masih ngantuk, dan matanya terasa berat. Di Shimla dia tidak pernah merasa lelah seperti ini, tapi di Bali, sepertinya badannya langsung protes. Minta istirahat.
 Dai memandang sekeliling dan melihat semua orang; teman-temannya—dia tidak percaya dia punya, sibuk menyiapkan makanan untuk makan malam. Ulang tahun Shinji. Dan semuanya, ada di Bali, di rumpah pantainya, untuk merayakan hari jadinya.
“Oh, no no no…” Marin yang sedari tadi berdiri membelakangi, langsung berlari menghampiri Dai. Mengambil tangannya dan menariknya bangkit. “Kau tidak bisa duduk di sana. Kau harus bantu menata meja,” katanya ngebos.
“Kenapa harus aku? Arata saja duduk di sana.” Dai menganggukkan kepala pada Arata yang sedang main catur dengan Dean di sudut, dikelilingi beberapa anak kecil; Tara, Ryo dan Mayu yang serius menonton keduanya. Memangku  bayi mungil, yang adalah putri Lea dan Juna, Rania, yang berusia hampir dua tahun.
“Kau tidak lihat?” Marin melotot. “He’s baby sitting.”
 Dai mendengus geli. Mengikuti Marin yang menariknya mendekati meja makan. Langsung menerima mangkuk berisi sayuran berkuah yang baunya luar biasa enak dari Malini.
He’s get along well,” kata Kenneth pada Neela, setelah sebelumnya memerhatikan Dai dari ujung meja.
“Tentu saja,” timpal Neela senang. “Semua menyukainya, karena dia menyenangkan.”
Kenneth mengernyit. “Kau juga… senang dia di sini?”
“Kau cemburu?”
Kenneth mengulum senyum. Menarik Neela mendekat dan mengecup keningnya lembut. Membisikkan kata ‘I love you’ yang cuma Neela yang bisa mendengarnya.
“Lagipula,” Neela bicara lagi, sambil mengamati Dai yang sedang bicara dengan Malini, “kau yang mengundangnya datang. Kau yang paling senang dia ada di sini, dan aku tahu itu.”
Kenneth mendengus tersenyum. Menunduk, dan tidak bicara lagi setelahnya. Memilih untuk membenarkan perkataan Neela dalam diam.
“Dan sepertinya, Bas juga senang padanya,” tambah Neela cekikikan, mengamati Bastian yang duduk di seberang Dai; memandangi Dai dengan tatapan penuh damba. “Tidak pernah aku lihat muka Bas merah begitu.”
No comment.” Kenneth tidak mau memandang kakaknya. Duduk di kursinya, dan memalingkan wajah ke arah laut lepas di seberang.
Neela mendengus tertawa. Meraih tangan Kenneth di atas meja, dan menggenggamnya erat.
Ketika persiapan makan malam selesai; makanan sudah ditata, piring-piring telah berada di depan kursi-kursi yang berjajar rapi di sepanmeja makan panjang, dan semua orang telah menempati tempat duduk masing-masing—meskipun masih ada dua kursi kosong, Lea muncul dari ambang pintu dengan baki di tangan, berisi kue tar besar bernuansa putih ungu. Dia tidak sendiri. Chiyo berjalan di sebelahnya. Masih sama cantiknya, masih sama anggunnya.
Neela langsung berdiri. Menyongsong Chiyo dengan langkah cepat yang bisa diusahakannya, dan memberikannya pelukan erat penuh kerinduan. Sudah setahun, sejak pernikahannya dan baru sekarang mereka kembali bertemu.
Semua orang tampak senang melihat Chiyo. Menyapanya riang dan tersenyum ramah padanya. Cuma Dai yang tidak. Memilih bungkam di kursinya, bahkan tidak membalikkan badan untuk melihat.
“Maaf aku terlambat,” kata Chiyo, tersenyum meringis.
“Tidak apa,” balas Lea, meremas lengan Chiyo. “Eiji?” Neela melempar pandang sejenak ke arah pintu. Berharap sosok Eiji tampak di pandangan. Namun Chiyo menggeleng, tersenyum muram, dan berkata, “Kakak tidak ikut.”
“Oh.”
Neela tampak kecewa, tapi dia tetap menyunggingkan senyum manisnya pada Chiyo. Chiyo mengerti, dan buru-buru menghiburnya dengan berkata, “Tapi aku di sini kan?” sambil merentangkan tangan dan memeluk Neela lagi sejenak.
Neela mengangguk. Tertawa kecil. “Ya. Kau di sini. Dan aku senang.”
“Aku juga,” balas Chiyo.
“Neela, Chiyo…” Suara Juna terdengar; tak sabar, dan Neela serta Chiyo segera memalingkan wajah masing-masing ke arahnya. “Kalau sudah selesai, tolong gabung kemari.”
“Sori,” Neela berbisik pada Chiyo sambil berjalan mendekati meja. “Juna agak sensi karena dia yang masak semua makanannya kali ini…”
“Oh, wow,” timpal Chiyo kagum, melihat masakan yang tersedia di meja makan panjang di depan.
Hope you’ll like it,” senyum Neela.
I will,” balas Chiyo.
Setelah itu mereka berpisah. Chiyo dapat tempat duduk di tengah, di salah satu kursi kosong, bersisian dengan Malini dan Arata, sedangkan Neela duduk di ujung, di samping Kenneth di ujung meja, bersebelahan dengan Dai.
“Eiji… tidak datang?” Dai bertanya dalam suara pelan, membuka lipatan linen dan meletakkannya di pangkuannya.
“Sepertinya dia masih marah padaku.” Neela meraih linen di meja di depannya dan membuka lipatannya.  
“Memang sudah seharusnya kau tidak mengundangku saat pernikahanmu waktu itu,” bisik Dai.
Neela menolehkan kepala; memandang Dai dengan tatapan tak percaya. “Jangan bicara begitu,” katanya. “Kau harus datang. Aku dan Kenneth ingin kau hadir di pernikahan kami. Dan Eiji, tidak berhak melarangku atau Kenneth mengundangmu.”
“Tapi jadinya dia malah tersinggung, dan marah padamu…”
“Eiji sayang padaku,” timpal Neela segera. “Dia tidak akan tahan mendiamkanku lama-lama.”
Dai mengangkat bahu, dan mengembuskan napas tajam. Tidak bicara lagi, dan memilih untuk meneguk wine di gelasnya banyak-banyak. Sedangkan Neela, dia berbicara pelan pada Kenneth di telinganya. Memberitahu ketidakhadiran Eiji.
Acara makan malam diawali dengan doa, dan kemudian disusul oleh acara tiup lilin, dan ucapan selamat untuk Shinji—Lea yang mewakilinya. Setelah itu, semuanya berjalan menyenangkan dan penuh keakraban. Sampai akhirnya, Kenneth, sebagai Tuan Rumah, didaulat oleh semuanya untuk menyampaikan ‘sepatah dua patah kata’.
Thank you, untuk kehadirannya semua di sini…” Kenneth memulai, mengangkat gelas winenya sambil berdiri. “Di rumah kami—di rumah Neela sebenarnya…”
“Rumah Shinji,” kata Neela, meralat.
Kenneth mengangguk. “Ya. Rumah Shinji,” katanya sepaham. “Dan, terima kasih untuk Juna…, makanannya. Extremelly delicious.”—Juna yang duduk di sebelah Lea, langsung mengangkat gelas wine-nya. Tersenyum simpul—“Dan thanks juga untuk semuanya… yang bisa menyempatkan hadir malam ini. Jauh-jauh dari Jakarta ke Bali.” Kenneth memandang semua orang yang ada di depannya. Menyunggingkan senyum pernuh terima kasih.
 “Seperti yang kalian tahu…” dia menyambung pidatonya, “makan malam ini diadakan khusus untuk merayakan ulang tahun Shinji—yang ke-32, kalau dia masih ada bersama kita, tentunya. Penting, karena… untuk kita semua, terutama aku dan Neela, dia sangat… berjasa bagi kehidupan kami. Shinji… telah memberikan kehidupan yang… luar biasa pada Neela. Dan untukku sendiri…” Kenneth menggerakkan kepalanya sedikit ke samping, “dia telah memberikan Neela untukku.”
Dia tersenyum pada Neela, menjulurkan tangannya yang segera disambut Neela dengan genggaman erat.
“Lewat Neela…, aku tahu bagaimana caranya menjalani hidup dengan hati. Mencintai tanpa pamrih. Pengorbanan, untuk orang-orang yang kucintai. Dan lewat Neela… I got you, guys,”—dia memandang teman-temannya, yang tersenyum haru mendengar ucapannya—“good friends and also… my family. Shinji… lewat Neela… memberikan kalian padaku. Dan aku bahagia…, bisa menjadi bagian dari kalian.”
Terdengar suara dengus, orang yang sedang menyedot hidungnya. Lea buru-buru mengusap air matanya yang jatuh dengan punggung tangannya, dan memeluk Rania di pangkuannya erat. Juna mengusap punggungnya, dan memberikan senyum menenangkan pada Rania yang tampak bingung melihat Lea.
“Dan aku juga… mendapatkan Dai,” lanjut Kenneth, mengangkat gelasnya ke arah Dai. “New friend. And also a good friend.
Dai tampak grogi. Semua orang kini memandangnya; tersenyum. Dan dia cuma bisa mengangguk-angguk. Mengulum senyum.
He’s part of my family now.” Kenneth mengarahkan matanya pada Chiyo, yang segera menyipitkan mata. “Tidak ada yang bisa melarangnya,” tambahnya lagi, seolah menegaskan. “Jadi,” Kenneth mengangkat gelasnya tinggi-tinggi, “terima kasih sekali lagi. Mudah-mudahan, pertemanan dan kekerabatan kita tetap terjalin dengan baik sampai kita semua tua dan punya cucu.”
Semuanya tertawa. Cuma Chiyo, yang tersenyum muram. Sementara Dai, dia menundukkan wajah untuk menyembunyikan ekspresi harunya.
“Dan ini untuk Shinji,” seru Kenneth, mengangkat gelas tinggi-tinggi. “Semoga dia sekarang melihat, dan tahu kalau kita bersenang-senang di sini.”
Suara tawa lagi, setelah itu semua bersulang. Menyebut ‘for Shinji’ dengan serentak, dan meneguk wine di gelas masing-masing. Semua tampak senang; tertawa riang, dan menulari anak-anak kecil yang cekikikan gembira bersama orang tuanya masing-masing.
Neela tersenyum senang. Gembira melihat kebersamaan mereka malam ini. Bahagia, karena orang-orang yang dia cintai dan mencintainya ada di sini—kecuali Eiji, tentu. Dia memandang sekeliling, melihat Kenneth, Dai, Juna, Lea, Bastian, juga Marin dan Arata yang mengguratkan rasa senang di wajah masing-masing, sambil berbincang dan bercanda dengan satu sama lain. Menenangkan sekali rasanya. Dan dia kemudian menengadah ke langit di atas. Sambil bersandar di kursi, menyaksikan taburan bintang di langit. It’’s beautiful, batinnya. Menambah keceriaannya.
 Tapi mendadak, senyumnya hilang. Tangannya, dengan reflek terangkat. Menyambar apa pun yang ada di sampingnya, dan meremasnya, sementara dia berusaha keras menahan rasa mulas yang tiba-tiba dirasakan di perutnya, bersamaan dengan sesuatu yang basah mengalir dari pangkal paha ke kakinya. Air—air ketubannya.
“Neela?” Dai menanyainya cemas. “Kau kenapa?”
“Sepertinya… air ketubanku pecah,” Neela mendesis, membungkukkan badannya, untuk menahan rasa sakit yang semakin menjadi. Dia mendengar suara Kenneth, dan sentuhan di pinggangnya, tapi yang dia dengar jelas malah suara Dai yang kembali menanyainya dengan panik.
“Apa? Apanya yang pecah?”
Entah kenapa dia jadi emosi, dengan kesal mengangkat kepalanya dan berteriak pada Dai dengan tak sabar, “Ketubanku pecah!”
Setelah itu semua riuh. Semua panik. Berteriak-teriak entah apa. Tapi sepertinya Kenneth lah yang paling panik. Dia berdiri, dan duduk lagi. Menggumamkan tentang tas peralatan, dan bingung dimana dia meletakkannya.
“Kau meletakkannya di kamar…” Neela mengingatkannya dalam suara lemah dan mendengung-dengus. Hidungnya kembang kempis. “Oh, please, Kenneth...”
“Ayo, Neela, aku bantu berdiri,” kata Dai. Mengangkat satu tangan Neela dan meletakkannya di sekeliling bahu. “Kenneth, kau ambil tasnya, aku bawa Neela ke depan.”
Tapi Kenneth malah bengong. Dia membeku, cuma diam melihat Dai berlalu dengan Neela di depannya. Dan Malini datang menyelamatkan situasi, menampar Kenneth keras untuk menyadarkannya. “Fokus, Kenneth!” teriaknya di muka Kenneth, kemudian berlari mengikuti semua orang ke dalam rumah.
“Ya. Thanks, Malini. Aku butuh itu,” gumam Kenneth menerawang, seraya mengelus-elus pipinya yang kena tampar.
Setelah itu dia berlari masuk untuk mengambil tas peralatan yang dia dan Neela telah siapkan di kamar. Sengaja, agar tiba saatnya Neela melahirkan, mereka tidak perlu lagi repot memasukkan banyak barang untuk dibawa ke rumah sakit.
Sementara itu, Neela dan Dai, dibantu oleh Lea telah mencapai teras. Juna berlari melewati mereka, menekan remote mobil untuk membuka kunci pintunya dengan otomatis, menuju mobil Jeep hitam yang terparkir di pekarangan rumah. Dia terbang ke dalam mobil, dan segera menghidupkan mesinnya.
Kenneth muncul dengan dua tas besar di tangannya. Dan Lea segera membantunya, mengambil alih tas tersebut, agar dia bisa bersama Neela.
Let me hold her,” kata Kenneth pada Dai. Cemas melihat Neela yang lemas di bahu Dai.
Dai mengangguk. Membiarkan Kenneth memegangnya; merengkuh tubuhnya dan membopongnya. Mengecup pucuk kepalanya dengan sayang, dan membisikkan sesuatu untuk menenangkannya.
Mobil yang Juna kendarai bergerak cepat, dan berhenti di depan teras. Dai segera membuka pintu belakang, dan membantu Kenneth memgangi Neela, masuk ke dalam mobil tersebut. Lea ikut bersama mereka. Duduk di sebelah Neela, memangku kepalanya. Dai ikut, duduk di sebelah Juna yang mengemudikan mobil.
Setelah semua pintu tertutup, dan tak ada lagi yang ketinggalan, Juna segera memacu mobil meninggalkan rumah. Ngebut. Tidak memedulikan apa-apa lagi.
“Yang lain?” Kenneth bertanya. “Mereka dimana?”
“Mungkin menyusul nanti,” jawab Dai, tanpa menoleh ke belakang.
“Rumah sakit mana?” tanya Juna pada Kenneth lewat kaca spion.
Kenneth bengong selama beberapa saat.  “Aku lupa.”
“Oh, Tuhan, Kenneth!” Lea marah. “Fokus!”
“Canggu,” Neela berkata lemah. Mengkerut di bawah lengan Kenneth. “Jangan lupa telpon dokternya, Ken.”
“Oh iya.” Kenneth tersadar. Merogoh saku celana pendeknya. “Oh my God…” Dia kedengaran panik.
Dai memutar matanya ke atas, dan akhirnya menoleh ke belakang. “Apa lagi kali ini?”
“Handphone-ku… Ketinggalan di meja makan.”
Neela langsung merengek.
“Siapa pun tolong telpon,” pinta Lea, mengusap-usap dahi Neela.
Juna menggigit bibirnya, meringis dan berkata, “Handphone-ku juga ketinggalan.”
“Aku juga…” kata Dai, setelah merogoh saku celana dan kemejanya.
Sekarang semua memandang ke arah Lea, dan Lea langsung berteriak, “Kenapa jadi lihat aku? Aku juga tidak bawa handphone!”
Semua langsung diam. Hening segera. Semua orang sibuk dengan benak masing-masing. Kenneth sendiri sibuk membodohi diri, karena sama sekali tidak tanggap dengan situasi.
Untungnya rumah sakit Canggu tidak terlalu jauh. Kira-kira lima belas menit kemudian mereka telah memasuki pekarangan rumah sakit. Juna menghentikan mobilnya di depan UGD, dan para perawat telah siap siaga dengan brankar dorongnya. Membantu mereka mengeluarkan Neela dari mobil dan segera membawanya masuk ke dalam gedung, untuk diberikan penanganan.
Kenneth berlari menyusul brankar, namun berbalik lagi. Memandang Kenneth dan Juna yang ngos-ngosan untuk mengucapkan terima kasih. Namun, yang ada malah bibirnya kaku, dan hanya bisa tersenyum muram.
“Pergilah,” Dai berkata, mengangguk. “Kami akan susul nanti.”
Kenneth mengangguk, dan berpaling. Bergegas menyusul para perawat yang membawa Neela pergi, bersama Lea yang menyambar tangannya buru-buru.
“Apa kau sepanik itu saat Lea melahirkan?” tanya pada Juna Dai, bertolak pinggang.
“Sangat. Lebih parah. Aku ingin pingsan terus sepanjang perjalanan ke rumah sakit, saking tegangnya.”
Dai tertawa.
“Dan cuma aku dan Lea saja. Tak ada yang membantu mengatasi kepanikan. So… it was disaster. But… it’s ended finally.
Dai menggelengkan kepala, diiringi dengus. Tertawa setelahnya, bersama dengan Juna. Setelah itu mereka berpisah. Dai menyusul Kenneth, sedangkan Juna kembali ke mobil, untuk membawanya ke areal parkir.
Kira-kira tiga jam kemudian, setelah kepanikan yang terjadi, ditambah Kenneth yang terus-terusan muntah sebagai ungkapan ketegangannya yang luar biasa, Neela akhirnya melahirkan. Bayinya laki-laki. Dengan rambut tebal berwarna hitam pekat, persis rambut Neela, dan mata yang kelabu jernih mirip mata Kenneth. Agak gempal, dengan pipi yang merona menggemaskan. Semua orang mengaguminya. Mereka bilang, the cutest baby ever.

“Hei…” Dai menyapa Neela dan Kenneth, seraya berjalan ke dalam kamar tempat Neela menjalani perawatan setelah bersalin. Cuma dia satu-satunya yang belum melihat anak mereka. Memilih untuk bersabar, memberikan waktu bagi Neela beristirahat.
Neela berbaring di atas tempat tidur, dengan bayinya yang terbungkus selimut tebal warna biru di gendongannya. Mukanya masih pucat dan kelihatan lelah, namun dia gembira. Sementara Kenneth, meskipun gurat tegang masih belum menguap sepenuhnya dari wajah, dia juga kelihatan senang. Tersenyum lepas pada Dai, dari sebelah Neela.
Congratulation, Mom…, Dad,” ucap Dai.
Kenneth berdiri, untuk menerima pelukan akrab darinya, setelah itu bergeser, memberikan kesempatan Dai untuk melihat bayi mungil di dekapan Neela.
“Dia cakep sekali.” Dai tampak takjub melihatnya. Tangannya tak tahan untuk menyentuh pipinya. “Siapa namanya?”
“Dai.” Kenneth berkata dari belakang Dai.
Dai menoleh. Menjingkatkan alis seolah bertanya. “Ya?”
“Maksudku… namanya ‘Dai’. Anakku,” jelas Kenneth. Dan Dai langsung kaget. Kembali menghadapkan wajahnya ke depan, ke arah bayi itu lagi. Terpana.
“Tadinya kami ingin menamakannya Shinji,” kata Neela, tersenyum. “tapi… muka kami kan tidak ada Jepang-Jepangnya sama sekali… So, ‘Dai’ lebih baik. Netral. Simple, dan mudah diingat.”
Dai mengangkat satu tangan untuk menutup sebagian wajah. Dia terengah-engah bernapas, karena terkejutnya. Sama sekali tidak menduga, kalau Neela dan Kenneth akan menamakan putra pertama mereka dengan namanya. Dia, tidak tahu kenapa, merasa amat bahagia. Bertanya-tanya, kenapa hal yang sesederhana itu bisa membuatnya merasa menjadi orang paling beruntung di dunia. It’s just a  simple thing. Nothing special.
“Aku tidak tahu harus bicara apa?” Dai menggeleng-gelengkan kepala. Memandang pada Neela, lalu pada Kenneth, kemudian pada Neela lagi. “Kalian tidak harus…” Air matanya jatuh, dan dia langsung mundur. Satu tangannya di pinggang, dan satu tangan lagi memijat-mijat ujung matanya. Dia amat terharu, dan bodohnya, dia menyukainya.
Neela dan Kenneth bertukar pandang penuh senyum. Setelah itu Kenneth mendekati Dai, dan menepuk bahunya. “We must…” ucapnya pelan. Dai mengangkat wajah dan menatapnya. “Aku dan Neela suka namamu. Dan… we respect you. And love you, of course.
Selama beberapa waktu yang hening, kedua laki-laki itu saling berpandangan. Masing-masing sepertinya telah saling memahami satu sama lain, dan tak perlu lagi diwakilkan dengan banyak kata.
Thanks, Guys,” kata Dai. “Aku janji… aku akan menyayangi… keponakanku itu.”
Kenneth dan Neela tertawa.
Whatever he needs… just tell me,” sambung Dai lagi, sungguh-sungguh. “Aku akan sediakan untuknya. Apa pun. Aku akan melakukan apa pun untuknya…” Sorot matanya yang diperlihatkannya pada Kenneth penuh keyakinan.
Thanks,” ucap Kenneth. “Kami akan senang sekali kalau kau mau jadi wali anak kami.”
“Aku tidak keberatan.” Dai menggeleng. “Anything for him.”
Kenneth mengangguk. Tersenyum menenangkan.
“Kau tidak mau menggendongnya?” Neela menegakkan badannya. Membetulkan posisi Dai di gendongannya.
Mulut Dai membuka. Wajahnya tanpa ekspresi. “Can I?
“Tentu saja,” sahut Neela, memandang Dai heran. Dan Dai langsung mengangguk penuh semangat. “Oke,” katanya.
Dia mendekat. Dan meraih Dai dari Neela. Pelan-pelan. Hati-hati. Dengan tangan gemetaran karena cemas. Khawatir, dia akan menyakiti makhluk mungil tersebut. Langsung menahan napas, ketika Dai telah berada dalam dekapannya. Bergerak-gerak di balik selimutnya.
Dai tersenyum, separo-senang, separo ngeri. Dia memandangi bayi itu, dengan biji mata yang membulat, karena kagum. Sesuatu kini menyejukkan hati dan perasaannya. Membuatnya merasa tenteram dan resah dengan bersamaan. Dia menyukai anak ini, itu kata batinnya. Dia sangat ingin menyayanginya.
Lalu Dai, si bayi, tersenyum—tertawa tanpa suara, dan mata Dai langsung berbinar. Dia mendongak, melihat Neela yang tersenyum padanya, dan tahu, kalau dia telah menurunkan senyum manisnya pada putranya. Kemudian dia menundukkan wajahnya lagi, memandang Dai lembut, seraya berbisik, “I know I’m gonna love you, Kid. And I will always be beside you. I promise.
Setelah itu dia mengusap rambut Dai penuh kasih sayang, dan mengecup keningnya.

END
...

gambar dari sini

Til' we meet again...




Catatan dari Lita:


Akhirnya rampung juga ini cerita. *bernapas lega*
Dan saya pengen teriak buat semua pembacanya, "TERIMA KASIH!" karena udah nemenin saya nulis, mulai dari bab awal, sampai bab akhir.
Another achievement, karena jujur aja, susah banget untuk buat cerita akhir karya fiksi (menurut saya lo). Sempet keserang rasa malas berkepanjangan; belum lagi bawaannya ngantuk melulu. Pokoknya, serasa ada Iblis yang muter2 ngelilingin kepala, mempengaruhi saya untuk nggak nyelesain cerbung ini. Untungnya iman saya kuat, dan kecerewetan kalian, yang baca, benar-benar bikin jengah, dan nggak memungkinkan bagi saya untuk berlama-lama dengerin si Iblis itu. Hahaha...

So, again, thank you Guys! Kalian udah bikin semangat nulis saya berlipat ganda. I love you so much.
Next story, it's about Dai. Karena menurut saya, he deserves big of something. Tapi, kalian boleh request kok, kalau kalian ada ide, tema cerita yang bisa saya kembangkan untuk saya jadikan cerbung di Lita's Stories, setelah A Lot Like Love.

Terima kasih, ya...
Sampai ketemu lagi.

Love,
Lita

8 comments:

Aldila,  February 25, 2013 at 10:27 AM  

bahkan di chapter terakhir ini pun mbak Lita berhasil bikin sensasi serasa naik jetcoaster.
naik..turuuuun..jungkir balik..naik lagii..turun lagi..trus pas udah mau finish ternyata ada belokan dan harus jungkir balik lagi..haha..
untung naik jetcoasternya bareng juna, duduk sebelahan, trus pegangan tangan.
*nyiahaha..*

CONGRATULATIONS!!
selamat ya mbak.. seneng banget bacanyaa..
*peluk erat*

bikin cerita yang ciamik buat Dai ya mbak. aku setia nunggu kok :p

blue yue February 25, 2013 at 1:09 PM  

Lita, dear .... love how you end the story *peluk*

Yang paling kocak adalah waktu malini nampar kenneth trus bilang, "fokus, kenneth!"
bwahahaahahha.... saku kayak merasa nonton sendiri kejadian itu dan pengen ketawa ngakak (tapi kalo aku beneran di situ, jangan2 aku ditampar malini gantian gara2 ngakak padahal yg lain lagi heboh *usap2 pipi*)

Sari Multi February 25, 2013 at 3:07 PM  

waaaah ternyata dugaan ku salah nih mba' ... aku pikir cinta Neela ke Kenneth adalah rasa sayang sebagai seseorang yang selalu ada untuk nya. dan cinta Neela ke Dai tulus sebagai cinta antara pria dan wanita ... he.he.he.he

dinar February 25, 2013 at 6:00 PM  

Mbak Litttttt......akhirnyaaaa.hehehehe....finally Kenneth with Neela dan aq suka endingnya.tp critanya mbak yg mana yg g aq suka endingnya (*mikirsesaat).....gak ada.hehehe....aq suka smuaaaa crita mbak...dan pstinya crita brikutnya yg ttg Dai.hihihi....plissss bikinin Dai cerita sndiri Mbak.crita ma aq aja deh.si Dai kan cakepnya amit2...sama aku ajaaaa ya dia.Btw makasih ya mbak bwt smua critanya....love ur story always.love u too always...hehehe...SEMANGAT mbak!!!

mell cemell,  February 25, 2013 at 7:11 PM  

congratulation mb Lit
:* :* :*
#pelukmblita

sweet bgd endingnya .emmm ... aq tunggu critanya tentang Dai mb, kasian dy belom isa temuin Cinta sejatinya .

aq request mb Lit, nama cwe' yang nantinya sama Dai,, namanya Elia aja mb ya,,
i think, it's beautiful name .okey

Yuli she,  February 26, 2013 at 10:57 AM  

Hmm,,mba Lita emang jenius nih.
Aku sempet mikir juga kayaknya ending dari cerita ini Neela bakal sama Kenneth deh, tapi ragu karena ko klo gitu ceritanya nanti Neela terkesan piln plan yah, mengingat Neela udah ngirim email ke blognya Nyanyian Sendu mengenai perasaan Neela ke Dai.
Tapi toh meskipun endingnya sama dengan pemikiran aku, kalo mba Lita yang bikin ceritanya, gak ada tuh Neela keliatan plin plan, selalu ada alasan logis yang terpampang nyata(copas yah teh Syahrini heu) yang akhirnya membuat kita sadar bahwa pilihan Neela memang benar...
Meskipun akan sangat susah sekali untuk memilih kalo pilihannya seperti kenneth dan Dai *ngiler* hehe.

Serius deh mba, aku gak bisa bayangin Song Seung Heon sebagai Kenneth, karena yang tergambar dipikiran aku saat membayangkan Kenneth adalah Chirstian Sugiono seperti yang mab Lit gambarkan sebelumnya,,really,,.
Keep writing mba Lita, aku bantu lewat do'a yah n_n. Ditunggu kejutan2nya mengenai Dai,,,
Peluk cium...cup cup muach muach

Anonymous,  February 26, 2013 at 3:24 PM  

Setelah berhari-hari ngcek blog mbak Lita dengan gigit jari, wooo ternyata hari ini berbuah manis. Ending AL3 udah terbit rupanya....

tapi tapi ko ga jadi sama Dai ya *team sukses Dai kecewa*, tapi gpp mbak, aku juga seneng ko kalau Neela jadi sama Kenneth, kan Dai bisa buat aku nantinya *ngarep*


Noow... ditunggu mbak cerita selanjutnya ttg si kece ba"Dai", jgn lupa ttg Eiji ya mbak.. Pengen banget Dai sama Eiji bisa baikan, jadi kan kalau Kenneth ngadain makan-makan, semuanya lengkap gtu.. hhee

Aku berdoa dari Bandung, semoga mbak Lita dijauhkan dari iblis-iblis yg bikin males itu, terus klo mbak capek, siaap bgt buat mijetin.. hhee

Peluk cium buat mba Lita

-Wulan-


PS : Cerita baru sama Love Juna jgn lama-lama ya mbak kelanjutannya :) :)

lofty shanti December 19, 2013 at 12:54 PM  

ªķΰ br aja selesai baca yg ini..endingnya seperti yg ªķΰ harapkan,menyenangkan sekali membacanya. Keep up the good work yaa..benar2 memberi inspirasi. Thankyou lita..

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP