A Lot Like Love (39)

>> Friday, February 8, 2013

Baca A Lot Like Love (38)

Thought


NEELA merasa Kenneth agak pendiam belakangan ini. Sejak pernikahan Arata dan Marin dua minggu lalu, dia jarang bicara; hanya mengatakan yang penting-penting saja. Kenneth bahkan tidak kelihatan antusias membahas persiapan pernikahan mereka berdua. Selalu menghindar apabila Neela menyinggungnya. Awalnya Neela tidak merasa sikap Kenneth perlu dikhawatirkan, namun seiring waktu akhirnya hal itu mengganggunya juga. Membuatnya berpikir kalau-kalau Kenneth ragu atas pernikahan ini. Atau mungkin, seperti yang Chiyo katakan, Kenneth terkena ‘pre-wedding syndrom’, dan itu wajar terjadi bagi para calon mempelai pria dan wanita di mana pun. Namun kemudian Kenneth memaksanya untuk turut ke New Delhi, demi menemui seorang pemusik terkenal, A. R. Rachman, yang dikatakan tertarik mengadakan kolaborasi musik dengan Neela. Dan meskipun itu peluang yang baik untuk karir Neela di dunia internasional, namun mengingat tanggal 14 Februari yang tinggal sedikit lagi, membuat Neela berpikir kalau Kenneth benar-benar ragu atas pernikahan ini, dan berusaha menundanya dengan berbagai macam cara. Setidaknya itu yang dipikirkan Neela.
Dan sekarang mereka berdua telah berada di dalam pesawat yang akan membawa mereka ke New Delhi. Dan mulai dari awal keberangkatan sampai dengan pertengahan jalan, Kenneth tak bersuara sedikit pun. Raut mukanya tegang, seolah saja ada sesuatu yang pelik yang sedang dipikirkannya.
“Ken…” Neela memberanikan diri memanggilnya. Menautkan jemarinya di jemari Kenneth yang beku di pangkuan. Jari-jari itu melipat, mengunci erat jari-jari Neela dan dengan mata kelabunya, Kenneth menatap Neela ditemani senyum getir. “Hei,” suaranya terdengar. Namun entah kenapa suaranya seperti suara berasal dari orang yang sedang kesakitan, dan sepertinya cuma Neela yang merasakan itu.
“Apa… ada yang kau pikirkan?” tanya Neela pelan.
Kenneth mengembuskan napas. Menatap Neela dengan tatapan yang tidak dimengerti. Dia terlihat sedih. Tapi… apa sebenarnya yang membuatnya sedih?
“Aku hanya berpikir… kalau mungkin pesawat ini jatuh, dan… kita bisa mati bersama,” ujar Kenneth, mendengus.
Neela kelihatan terguncang. “Jangan sembarangan bicara. Apa yang membuatmu sampai berpikir seperti itu?”
“Cinta?”
“Kau ngaco, Kenneth.” Neela menarik tangannya dari genggaman Kenneth, dan melipatnya di depan dada. “Kau sama sekali tidak bicara satu kata pun sejak berangkat tadi, dan ketika akhirnya bicara, kau membuat bulu kudukku berdiri.” Neela memalingkan wajah ke arah jendela. Pura-pura tertarik pada gumpalan awan cerah yang berarak-arak mengiringi laju pesawat. Wajahnya merengut.
“Sori…” Kenneth meletakkan dagunya di bahu Neela. “Jangan marah… Aku minta maaf. Aku cuma bercanda,” bujuknya.
“Candaanmu tidak lucu.” Neela buru-buru bergeser. Tapi Kenneth mencegahnya. Dia melingkarkan kedua tangannya di sekeliling pinggang Neela dan merapatkan tubuh Neela ke tubuhnya. Tidak menggubris kata-kata protes Neela, dan malah mengeratkan tangannya.
Don’t go,” dia berbisik, menyandarkan satu pipinya di kepala Neela. “Let’s stay like this for a while.”
“Ken…”
Kenneth membungkam Neela dengan satu kecupan kecil di rambutnya. Membuatnya tak lagi bicara; pasrah. “I love you,” katanya lagi dalam suara kecil yang hanya bisa didengar Neela. “No matter what, I will always love you. Never doubt it.
Ada sesuatu yang lain yang Neela rasakan dalam ucapan Kenneth. Entah kenapa, membuat hatinya yang sebelumnya tenang menjadi resah mendengarnya. Kenneth berkata begitu seolah saja akan ada sesuatu yang terjadi. Atau apa memang akan ada sesuatu yang terjadi?
Neela urung menanyakannya pada Kenneth. Memilih untuk berlindung dalam naungan hangat tubuh Kenneth. Tidak mau memikirkannya lebih jauh.

Perbedaan waktu antara Jakarta dengan New Delhi ternyata tidak terlalu signifikan: 2,5 jam. Hanya saja kalau di Jakarta sekarang—sesuai dengan yang ditunjukkan oleh arloji Neela adalah pukul 7. 56 malam, sementara di New Delhi masih pukul 5. 37 sore.
Juna yang menjemput mereka, menggunakan mobil dari hotel tempatnya menginap, Taj Mahal. Dan dia juga yang telah memesankan kamar untuk Neela dan Kenneth sebelum mereka tiba di New Delhi. Jadi, Kenneth dan Neela tidak perlu repot-repot lagi memikirkan segala macam hal mengenai akomodasi. Juna telah mengurus semuanya.
Keesokan harinya—siang hari tepatnya, Neela dan Kenneth menemui A. R. Rahman di salah satu restoran ternama di New Delhi. Juna tidak ikut, karena dia masih sibuk mengikuti sebuah seminar besar yang dihadiri oleh para Chef dari seluruh negara di dunia. Mengatakan kalau hari ini adalah hari terakhir diadakannya seminar, dan berjanji akan menemani Neela dan Kenneth jalan-jalan besok. Sebelumnya dia juga telah membantu memesankan kendaraan dari hotel untuk mengantar Kenneth dan Neela ke restoran tersebut.
Pertemuan dengan A.R Rahman—dan representativenya, berjalan cukup lancar. Sambil makan siang, mereka (malah) berbincang hal-hal di luar pekerjaan, seperti politik, budaya negara masing-masing yang sedang digandrungi dan lain sebagainya. Dan baru setelah hidangan pencuci mulut disajikan, topik bahasan utama baru didiskusikan. Neela tentu saja tidak tertarik mendengar, menyerahkan semua negosiasi pada Kenneth. Untungnya A. R. Rahman punya pemikiran yang sama dengannya; dia mengajak Neela berbincang mengenai musik lebih jauh. Dan Neela semakin mengaguminya setelah mendengar uraiannya tentang musik. Takjub pada pria itu, karena dia dengan begitu antusiasnya menguraikan musik sebagai sesuatu yang luar biasa indah dan mampu mempengaruhi jalan pikiran dan hidup dari seorang manusia.
Music is a soul,” komentarnya dalam aksen Hindi yang kental. “It fills some empty spaces of human mind and courage them to live in harmony. Music is a great tool. One of miracles that’ve given by God to us.” Dan Neela berpikir merupakan keajaiban bisa mendengar A. R. Rahman mengatakan itu secara langsung padanya.
Dari hasil pembicaraan Kenneth dengan perwakilan A. R. Rahman, disepakati bahwa waktu yang untuk mengadakan konser bersama Neela dan A. R. Rahman adalah tahun depan; di bulan Februari, dan dihelat di negara masing-masing  secara bergantian. Persiapan—latihan, tata panggung, aksi panggung—pertunjukkan akan mulai dilaksanakan di bulan September tahun ini di New Delhi, sehingga Neela terpaksa menyanggupi untuk tinggal selama beberapa bulan di India, apa pun konsekuensinya—mencakup kecemasannya akan mengalami dehidrasi berat selama berada di kota yang panasnya luar biasa ini. Semua sudah disetujui dan disepakati, dan masing-masing pihak harus mengatasi apa pun kendalanya secara profesional.
“Kontrak akan ditandatangani bulan depan,” Kenneth memberitahu Neela, seraya menuangkan air putih dari teko kaca ke gelas yang baru diambilnya. “Jadi kita akan kemari lagi.” Dia meletakkan teko di atas konter, dan berjalan menuju ruang tengah sambil minum. “Kenapa kau cemberut begitu?”
Neela mendorong badannya ke belakang, bersandar di punggung sofa. Memandang Kenneth yang sekarang duduk di sofa tunggal di depannya. “Apa tidak salah? Bulan depan?” tanyanya.
“Kenapa memangnya?” Kenneth meletakkan gelas. Turut menyandarkan punggung.
“Kita menikah… bulan depan…”
“Jadi?”
Neela memandang Kenneth seolah Kenneth sinting. Mulutnya membuka dan menutup seolah saja dia lupa bagaimana caranya bicara. “Jadi… bagaimana mungkin kita akan kembali ke Delhi, sementara kita sedang” (Neela menaikkan bahu) “sibuk dengan acara kita?”
Kenneth menggaruk pelipisnya, dan Neela yakin pelipisnya tidak gatal sama sekali. Dia cuma mencari cara agar Neela tidak melihat kerutan di dahinya saat dia sedang memikirkan jawaban atas pertanyaannya barusan.
“Kita… bisa langsung berangkat setelah acara kan?” kata Kenneth kemudian, kembali meraih gelasnya dan meneguk isinya sedikit. Dia menghindari kontak mata dengan Neela, dan itu terlihat amat jelas.
“Ken?” Neela menarik badannya tegak. Memandang Kenneth dengan tampang seolah prihatin. “Ada apa sebenarnya?”
“Maksudmu?” Kenneth balas bertanya. Kembali menaruh gelas di meja.
“Sikapmu benar-benar aneh.” Neela mengempaskan pundak, menggelengkan kepala sedikit. “Kau… sepertinya tidak antusias dengan pernikahan kita.”
Kenneth mengejapkan mata. Anehnya, tidak langsung membantah opini Neela. Dia menatap Neela dengan sorot mata yang baru sekarang Neela menyaksikannya; sendu dan terlihat sedih. Bibirnya membuka sedikit, dan sempat terangkat seakan hendak mengatakan sesuatu, namun kemudian mengatup lagi. Diam, tak lagi bicara.
“Benar? Kau… tidak menginginkan pernikahan ini?” Neela mengulang pertanyaannya lagi.
“Aku menginginkannya lebih dari yang kau tahu,” jawab Kenneth segera. “Jangan berpikiran seperti itu, hanya karena aku kelihatan acuh tak acuh.”
“Tapi kau benar-benar kelihatan begitu.” Neela mengedikkan pundak. “Kau kelihatan tak peduli. Sewaktu di Jakarta, aku dan Chiyo heboh merencanakan banyak hal…, tapi kau… tak sekali pun mau ikut berpartisipasi. Dan saat semua sedang sibuk-sibuknya, kau malah menarikku kemari.”
“Ini pekerjaan, Neela.”
“Dan bisa menunggu.” Mata Neela melebar. “Kau bisa saja mengatakan pada semua yang berkepentingan kalau mereka harus menunggu sampai acara pernikahan kita selesai. Mereka pastinya mau mengerti.”
Kenneth tidak membalas. Dia cuma menarik napas dan membuangnya selama beberapa kali. Tampak pasrah menerima kata-kata Neela, seakan saja dia membenarkan semua tuduhan yang Neela tujukan padanya.
“Kalau ada sesuatu yang mengganggumu… kau bisa katakan padaku…” Suara Neela melembut. “Apa pun itu… Seburuk apa pun… Kau bisa katakan padaku. Kita akan hidup bersama, Kenneth… Kau tidak perlu ragu menceritakan apa pun masalahmu.”
Wajah Kenneth terangkat. Untuk beberapa saat beradu pandang dengan Neela yang tersenyum padanya. “I’m sorry,” katanya kemudian, melengkungkan senyum muram. “Aku tidak bermaksud membuatmu kesal. Aku hanya… gugup.”
Neela mendesah. Bangkit dari sofa dan berjalan menghampiri Kenneth. Kemudian dia duduk di pangkuan Kenneth dan melingkarkan kedua tangannya di sekeliling lehernya. Memeluk Kenneth erat. “Kau harus mulai membiasakan bercerita padaku,” dia berkata dalam suara pelan. “Kita harus saling berbagi suka dan duka kan?”
Kenneth mendengus, dan Neela yakin dia juga tersenyum, karena kemudian Kenneth balas memeluknya, erat dan hangat. Napasnya yang berat meniup helai rambut dan pundak Neela.
“Aku telah berjanji untuk hidup bersamamu, Kenneth. Aku menyerahkan hidupku padamu… Jadi aku mohon, jangan ada rahasia apa pun…” ujar Neela lagi, mengeratkan pelukannya. “Aku tidak mau bertengkar karena sesuatu yang disembunyikan.”
Dengusan terdengar lagi. Dengus geli yang sama yang sebelumnya telah didengar oleh Neela, disusul oleh rengkuhan yang semakin erat di sekeliling pinggang dan punggungnya.
“Hei, Neela,” panggil Kenneth beberapa detik kemudian.
“Ya?”
“Bagaimana kalau aku mencintai orang lain?”
Neela berjengit. Langsung mendorong kepalanya ke belakang. Memandang wajah Kenneth dengan kerutan di dahi. “Benarkah?”
“Tentu saja tidak.” Kenneth terlihat geli. “Ini hanya… perumpamaan.”
“Kenneth…” Neela berkata putus asa, “jangan bercanda tentang hal seperti itu.” Dia menurunkan kedua tangannya dari leher Kenneth.
“Jawablah.” Kenneth menatap mata Neela lekat-lekat. “Bagaimana kau kau tahu aku mencintai orang lain? Apa yang akan kau lakukan?”
Neela diam. Memandang wajah Kenneth seolah menilai. Bertanya-tanya sendiri, kenapa Kenneth mendadak menanyakan hal tersebut. Sempat berpikir kalau mungkin Kenneth telah mengetahui perasaannya pada Dai, tapi kemudian buru-buru ditepisnya, karena dia yakin Kenneth tak tahu. Hanya Chiyo dan email di inboks nyanyian sendu yang tahu. Neela yakin Chiyo tidak akan mengatakan hal tersebut pada Kenneth, begitu pun email tersebut. Kenneth tidak pernah lagi membuka  email tersebut, lama, sejak Shinji meninggal. Begitu pun Lea dan Juna. Tapi Eiji…? Meskipun kemungkinannya ada, tapi Neela cukup pasti kalau Eiji tidak mungkin mengecek email-email Shinji lagi.
“Aku akan melepasmu…” Neela menjawab pertanyaan Kenneth. Tersenyum. “Bukan berarti aku tidak mencintaimu, melainkan karena… aku ingin kau bahagia, kendati bukan denganku.”
“Apa kau tidak sedih?”
“Tentu saja aku sedih, tapi… akan lebih sedih lagi kalau kau harus hidup bersamaku, sementara aku tahu kalau cintamu bukan untukku. Itu seperti mambohongi diri sendiri kan? Dan karena aku mencintaimu… aku pastinya ingin kau bahagia, Kenneth. Aku tidak akan bisa melihatmu menyia-nyiakan hidupmu dengan orang yang tidak kau cintai.”
Kenneth memeluk Neela lagi. Lebih erat daripada sebelumnya. “Aku juga akan melakukan hal yang sama untukmu,” dia berkata, setengah berbisik.
Neela balas memeluk Kenneth. Mengernyit, karena bimbang dengan ucapan Kenneth padanya. Tapi dia memilih untuk tidak memikirkannya terlalu jauh, mengeratkan tangannya, dan menikmati rasa nyaman yang muncul kapan pun Kenneth merengkuhnya ke dalam pelukan hangatnya.
“Neela…”
“Hm?”
“Sekarang sebaiknya kau tidur.”
“Kenapa?”
Kenneth melonggarkan pelukannya. Menatap Neela, menyingkirkan helai rambut yang menempel di pipinya. “Kita akan ke stasiun pagi-pagi sekali besok.”
“Untuk apa?” Neela memandang Kenneth dengan mata disipitkan.
“Kita akan ke Shimla, dan itu jauh sekali. Setengah hari perjalanan dari New Delhi.”
Neela berdiri. Meletakkan satu tangan di pinggang. “Tapi… untuk apa kita ke sana?”
Visiting a friend.” Kenneth tersenyum simpul.
“Siapa?” Neela penasaran.
You’ll see.”
“Eh?”

Kenneth benar, Shimla jauh sekali. Kereta berangkat dari stasiun New Delhi Railway Station jam 7. 45 pagi—hampir saja ketinggalan karena Juna terlambat bangun, dan Kenneth terpaksa menjatuhkannya dari tempat tidur, sampai di Kalka jam 12.10 siang untuk menyambung perjalanan dengan kereta penghubung ke Shimla, dan akhirnya sampai di kota tujuan jam 6.30 malam, disambut oleh udara yang luar biasa dingin, karena memang di Shimla hawanya berbeda dengan New Delhi. Dan ada saljunya! Neela benar-benar tidak menyangka India yang panasnya luar biasa punya kota yang bersalju. Ditambah lagi indah. Dia mengusulkan pada Kenneth kalau sebaiknya latihan dengan AR Rahman dilakukan di Shimla saja, dan Kenneth sama sekali tidak menggubrisnya.
“Kapan… kita akan mengunjungi ‘teman’ itu?” Neela bertanya, saat mereka bertiga berada di dalam lift yang membawa mereka ke kota utama di atas. “Apa kita akan menginap di rumahnya?”
Tak ada jawaban. Neela menoleh pada Kenneth yang bersandar di sebelahnya, dan melihatnya menundukkan kepala. Wajahnya tersembunyi oleh hooded jumpernya dan kedua telinganya tersumpal ear-phone yang terhubung oleh ponsel di saku jumpernya, memperdengarkan suara musik yang lumayan keras.
Neela ingin menyenggolnya dengan siku, tapi kemudian diurungkannya. Berpikir kalau Kenneth pasti lelah setelah perjalanan jauh. Dan sekarang mereka berada di dalam lift tertutup, pastinya itu siksaan baginya. Kenneth tidak menyukai ruang sempit.
“Kita menginap di hotel sekarang,” Juna berkata, merapatkan syal yang menutupi lehernya.
Neela mengarahkan pandang pada Juna. “Kau tahu siapa yang akan kita kunjungi?”
“Kita lihat besok,” jawab Juna. Setelah itu dia diam, tidak bicara lagi.
Satu hal yang Neela perhatikan sejak dia dan Kenneth tiba di New Delhi adalah sikap Juna. Bisa dibilang sikapnya sama ganjilnya dengan sikap Kenneth.
Juna memang sibuk, dan Neela tahu itu. Namun entah kenapa Neela merasa yakin Juna menghindar darinya; hampir tidak mengatakan sepatah kata pun, selain kata sapaan biasa seperti: apa kabar, sudah makan atau belum, dan kata tanya bersifat formal lainnya. Dia cuma bicara kalau ditanya, tidak berusaha mengajak Neela ngobrol atau apa pun selama di New Delhi. Sama seperti sekarang.
Hotel tempat mereka bertiga menginap lumayan bagus. Punya dua kamar dengan kamar mandi masing-masing di dalam. Dan dari masing-masing jendela kamar mereka bisa melihat pemandangan kota Shimla yang luar biasa. Lumayanlah, untuk ukuran India. Kekurangannya cuma satu, penghangat ruangan yang tidak menghangatkan badan seperti yang seharusnya. Tapi, tetap saja menyenangkan.

“Masih ada waktu untuk memikirkannya lagi, Kenneth.”
Kenneth mendongak, memandang Juna yang menyodorkan botol bir padanya. Kenneth tersenyum simpul, mengambil botol bir dari tangan Juna. “Thanks,” ucapnya, mengangkat botol birnya. Dia memang membutuhkannya, untuk menghangatkan badannya yang mulai kedinginan. “Dan” dia menambahkan, “aku sudah banyak berpikir.” Dia meneguk birnya.
Juna mendesah. Duduk di sofa panjang di sebelah Kenneth. Menaikkan kaki, menyilangkannya, dan meneguk bir. “Kau tidak perlu melakukan itu, kau tahu? Neela seems okay. Dia tidak terlihat terpaksa bersamamu.” Juna memalingkan wajah sejenak ke pintu kamar yang tertutup di seberang. Memeriksa, kalau-kalau Neela akan muncul tiba-tiba dan mendengar percakapan mereka. “Dia baik-baik saja. Kau tidak perlu mempertemukannya lagi dengan Dai.”
“Aku sudah memutuskan.” Kenneth menundukkan kepala. “Bagiku… itu yang terbaik untuk Neela. Itu yang membuatnya bahagia.”
“Kau merasa kau tidak bisa membahagiakannya?”
Kenneth menaikkan pundak. Meminum birnya sedikit sebelum berkata, “Aku tidak tahu. Kau baca emailnya kan?”
“Ya,” angguk Juna, menarik-narik kerah sweater wolnya untuk menutupi lehernya yang pucat. “Termasuk bagian dia akan melupakan Dai, menikah denganmu dan juga bahagia bersamamu. Kenapa kau tidak berpatokan pada itu saja? Lupakan Dai, bawa Neela pulang, dan menikah di hari yang telah ditentukan.”
“Andaikan semudah itu.”
“Tentu saja mudah,” timpal Juna, mengerutkan kening. “Kau hanya perlu meyakinkan dirimu sendiri, kalau kau bisa membahagiakan Neela. Semampu yang kau bisa; selama yang kau mampu. Kalau Neela bisa meyakinkan dirinya, kenapa kau tidak bisa?”
Sekali lagi Kenneth meneguk birnya. Banyak-banyak, untuk sekadar melepaskan beban pikirannya selama beberapa saat. Juna benar, suara waras di kepalanya berkata. Kau tidak perlu melakukan ini.
“Kalau kau berpikir, kau tidak berhak atas Neela, you wrong, Kenneth. Di antara semua laki-laki, kau yang paling berhak atasnya. Bukan karena kau manajernya atau apa,” Juna buru-buru bicara, begitu melihat tampang Kenneth yang seakan hendak protes, “tapi karena kau yang paling menyayanginya lebih dari siapa pun. Dan aku, Lea, Malini, Eiji dan yang lain tahu itu. Kau mencintai Neela dengan tulus, tanpa pamrih. Kau selalu ada bersamanya, bahkan di saat-saat terberatnya. You deserve her… And she deserves you, too.”
“Aku tidak tahu…” geleng Kenneth. Memejamkan matanya sebentar. Kepalanya pusing, entah karena pengaruh alkohol atau karena benaknya penuh. “I just want to do the right thing. The best thing for her.”
“Kau mencintainya terlalu besar, sehingga tak ada sisa untuk dirimu sendiri dan itu salah,” kata Juna lagi. “For me it’s stupid.” Juna berdecak, menggeleng kecil. “Aku tidak akan pernah memberikan Lea pada Shinji, walaupun aku tahu Lea dan Shinji saling mencintai.”
“Lea mencintaimu, bukan Shinji.” Kenneth mengangkat wajah. Menatap Juna tanpa ekspresi. “Baginya Shinji hanya sahabat. Dari awal, kaulah yang dia cintai. Lea tidak pernah merasa bimbang untuk memilih.”
Juna mendengus tertawa. “Oh, God. Sulit sekali masalah cinta ini.” Dia menghabiskan bir di dalam botolnya dalam sekali teguk.
Kenneth turut tertawa. Botol yang dipegangnya telah terasa ringan sekarang, dan dia segera menenggaknya. Dan meletakkan botol yang sudah kosong di atas meja kaca bundar di depan sofa. “Thanks, okay?” dia berkata pada Juna, yang masih membiarkan botolnya bergantung canggung di satu tangannya.
“Untuk?”
Kenneth mengerutkan bibirnya. “Supporting me.”
We’re friends,” kata Juna. “We’re support each other.”
“Dai juga temanmu kan?”
Juna mengangguk. “Ya. Tapi… aku hanya ingin bersikap adil sebagaimana yang seharusnya. Dia baik, tentu, di luar dari apa pun dirinya di masa lalu. But aku tetap merasa… apa yang kau lakukan sekarang tidak perlu kau lakukan. Tapi, apa pun keputusanmu aku tetap menghormatinya. Dan juga… tetap berharap, kau mau memikirkannya lagi.”
Thanks, Juna,” senyum Kenneth, seraya memantapkan hati. Dia telah memutuskan, dan dia sama sekali tak ingin merubah pendiriannya. Tetap menginginkan yang terbaik untuk Neela, kendati ‘yang terbaik’ itu tidak melibatkan dirinya lagi nantinya; kendati hatinya harus hancur karenanya. “Tidak usah cemas padaku,” dia menambahkan. “I’ll be fine. Berat pastinya untuk beberapa waktu, namun… aku bisa mengatasinya.”
Juna mengangguk kecil, tersenyum simpul. “Okay.” Dia menurunkan kakinya dari sofa dan berdiri. “Aku tidur saja kalau begitu,” katanya, meletakkan botol bir yang telah kosong di atas meja bundar kecil di depan sofa. “Kau juga…”
“Oke. See you tomorrow then,” kata Kenneth.
See you…”
Setelah itu Juna berjalan pergi, menuju kamar di sisi lain suang tengah. Masuk, dan menutup pintu di belakangnya. Sedangkan Kenneth, dia masih duduk di sofa. Diam, menatap nyalang pintu kamar yang tertutup di depannya. Berusaha menepis keraguan yang berusaha menggodanya.

Neela bangun pagi-pagi sekali keesokan harinya, karena terganggu oleh mimpi yang membuat suasana hatinya menjadi tak enak. Dia mendengar suara Kenneth, yang mengatakan kalau dia tetap akan mencintainya apa pun kondisinya. Dan entah kenapa, kata-katanya itu terdengar seolah dia akan pergi jauh; seperti kata perpisahan. Dan ketika keluar dari kamar, Kenneth tak terlihat. cuma Juna yang duduk di sofa ruang tengah, sarapan pagi dengan roti dan omelette.
“Kenneth dimana?” tanyanya, duduk di sofa di depannya. Menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri.
“Dia pergi duluan,” jawab Juna. Menggeser piring berisi setangkap roti dan selembar telur dadar. “Lebih baik kau sarapan dulu.”
“Pergi duluan kemana?” Neela mengabaikan saran Juna.
“Ke rumah teman yang akan kita kunjungi nanti.” Juna menyuapkan potongan roti ke dalam mulutnya dengan garpu.
Mulut Neela membuka, dan tampangnya masam. Dia menyandarkan punggungnya ke belakang dan menggerakkan bola matanya dengan liar. Berpikir. “Apa dia akan kembali?” dia bertanya lagi.
Juna tidak langsung menjawab. Mengunyah makanan di dalam mulutnya, sambil memandang Neela dengan tatapan yang tidak dimengerti. “Sarapan dulu. Setelah itu mandi, dan kita berangkat ke sana. Bawa semua pakaianmu.”
“Apa kita tidak akan menginap di sini lagi?”
“Kemungkinan tidak.”
Neela benar-benar bingung. Kenneth dan Juna, membuatnya bingung. Mereka mencurigakan.

(Bersambung)




PS.
I know... I know. Seharusnya cerbung ini sudah selesai di chapter 39 ini. Tapi, berhubung jadinya bakal panjang banget kalau diabisin, dan kepala penulisnya juga udah mumet, maka terpaksa cerita endingnya ditulis di chapter 40, agar kesannya gak keburu-buru. 
Terima kasih banyak untuk semua pembaca setianya AL3. It's hard for me to write the ending, because I Love them so much. So I hope you understand. 
Sekali lagi, terima kasih banyak. I Love you, Guys.

6 comments:

dinar February 9, 2013 at 5:26 AM  

Embakkkkkkk....grrrr geregetan...kirain ud selesai ampe yg 38..eh tnyata msh ad lagi.huaaaaa penasaran nih...plis....plisss....pissss....yg 40 jgn lama2 mbak.plissssssss *permohonanpembacayangudahgaksabarbacaendingnya

dinar February 9, 2013 at 5:29 AM  

Typo:39.mksdnyaaa...
tp tetep semangatya mbakkkk!!!aq jg cinta ma Neela,Ken,ma Dai....blakangan malah cinta ma Dai....hihihi

Anonymous,  February 11, 2013 at 12:33 PM  

halo mbak lita,
salam kenal ya dari aku..

gara-gara iseng nyari berita chef juna sama ines di google, aku malah nemu blog mbak. daan ngfans berat sama semua cerita yang mbak tulis. mulai dari Lea, Nyanyian Sendu, AL3, sampe Love Juna.

Ceritanya bikin aku penasaran banget, sampe tiap hari, aku pasti ngcek blog mbak biar ga ketinggalan cerita yang baru.

tetep semangat nulis mba, aku menantikan cerita-cerita yang lain. truss ending nya AL3 juga jangan lama-lama ya mbak.. aku udh ga sabar banget.

Love,
Wulan :)

Ps : Mbak, Neela jadi kan sama Dai.. tapi aku ga tega juga kalau Kenneth sedih.. Neela dibagi dua aja ya,, hhhehehe *ngaco*

Lita February 12, 2013 at 1:08 PM  

@Dinar: kamu itu lho... bikin aku senyum2 aja. Ya, kita liat aja nanti... Neela mau sama siapa. Yang pasti, semuanya akan happy ending. Thank you ya, Dinar.

@Wulan: wow, Love you, too, Babies. Aku nulis pun sebenernya buat diriku sendiri, karena seneng banget sama muka komiknya Juna. Tapi ternyata, semua fans Juna malah suka, dan aku jadi tambah semangat. Tambah kamu deh 1 lagi. Tambah hepi aku jadinya. Sebentar lagi kok yang 40. Chapter finally-nya. Dan aku masih mikirin ending yang oke buat semuanya.
Thanks ya Wulan. Seneng deh...

Anonymous,  February 14, 2013 at 2:31 PM  

Dear Mba Lita,

ceritanya cetar membahana banget Mba..plis plis endingnya sm Kenneth ajah, huhuhuhu...dia sdh byk berkorban dan sll ada saat Neela butuh..

Poey February 17, 2013 at 8:33 PM  

Mba Lita!!!!
Aku tu mau ngikutin cerita Mba Lita tapi jarang buka blog.
Setiap buka ceritanya selalu udah ganti.
Yang kemarinnya aja belom kebaca, hiksss...

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP