A Lot Like Love (37)

>> Friday, January 18, 2013



Baca: A Lot Like Love (36)


Prejudice



SEMALAMAN Kenneth tidak bisa tidur. Hanya berbaring di samping Neela seraya memerhatikan wajahnya yang terlelap.
Benak Kenneth seakan diselubungi oleh benang kusut, membuat otaknya seolah penuh, dan tak mengijinkannya beristirahat. Membuatnya tetap terjaga sampai pagi menjelang.
Esok harinya pun dia masih merasa gamang. Bertanya-tanya mengenai keganjilan sikap Neela kemarin, yang dengan pasrahnya menyerahkan diri kepadanya. Tapi Kenneth yakin kalau itu bukan kepasrahan, melainkan keterpaksaan;mendekati frustasi, kalau bisa dibilang. Dan pastinya ada hal yang memicunya, sehingga membuat Neela nekat untuk melakukan tindakan yang sebenarnya tak ingin ia lakukan—Kenneth tak yakin Neela bisa bersikap agresif seperti itu. Jadi kenapa? Kenneth merasa penasaran. Pasti ada sesuatu yang disembunyikannya.
Karena itu Kenneth mencoba menghubungi Eiji; berpikir kalau Eiji mungkin tahu penyebab keanehan sikap Neela. Tapi Eiji pun ternyata malah kedengaran heran, balik bertanya kepadanya, “Memang kenapa Neela?
Well…  Dia agak aneh sebenarnya…” kata Kenneth, menuangkan air putih dari botol yang baru diambilnya dari dalam kulkas ke gelas kosong yang dipegangnya.
Aneh bagaimana?
Kenneth berniat untuk menceritakan kejadian semalam pada Eiji, tapi kemudian berpikir kalau Eiji pasti akan langsung murka mendengarnya. Jadi Kenneth cuma berkata padanya mengenai sikap Neela yang lebih banyak diamnya dari pada sebelumnya, walaupun dia juga tidak yakin akan kalimatnya.
Dia memang agak murung sebelum kembali ke Jakarta,” Eiji menimpali, setelah sebelumnya menghela napas panjang. “Sebelumnya dia tidak begitu.
Kenneth mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Memikirkan perkataan Eiji, seraya menelan air putih yang baru saja diteguknya.
“Apa… ada yang terjadi?” tanyanya kemudian. Gelas yang dipegangnya diletakkan di atas meja, dan dia berjalan menuju ke arah pintu teras belakang yang terbuka.
Sepertinya dia syok…, kembali ke tempat di mana dia mengalami kecelakaan dulu,” kata Eiji.
“Maksudmu?”
Neela dan Chiyo mengunjungi Tokyo Dome malam Natal lalu,”—Kenneth mengempaskan napas tajam—“dan… dia histeris. Menangis. Lalu keesokan harinya mengatakan ingin pulang ke Jakarta, karena kangen padamu. Aku tidak apa-apa tentu, itu haknya. Tapi entah kenapa…, aku merasa ada yang mengganggunya… Membuatnya memutuskan pulang segera ke Jakarta.
“Tapi…, dia tidak mengalami kecelakaan di Tokyo Dome kan? Maksudku—” Kenneth menghentikan langkah. Berdiri memandang kosong halaman rumput belakang rumah yang lembab. “dia kecelakaan di jalan raya, dekat Tokyo Dome. Bukan di dalam Tokyo Dome-nya. Jadi, sebenarnya seharusnya tempat itu tidak membuatnya trauma.”
Entahlah, Ken. Kita tidak tahu… bagaimana perasaannya kan? Kita tidak pernah mengalami apa yang Neela pernah alami. Jadi, kita tidak bisa berkata kalau dia tidak seharusnya merasa trauma dengan berada di tempat itu,” kata Eiji bijak.
Tapi Kenneth masih merasa bimbang. Yakin, kalau sikap Neela kemarin malam ada hubungannya dengan Tokyo Dome. Tapi, dia juga merasa yakin, kalau Tokyo Dome bukanlah tempat yang seharusnya membuat Neela paranoid. Karena kecelakaan tersebut tidak terjadi di sana.
Ken?” Eiji memanggil, mengisi keheningan sesaat.
Kenneth mengejap. Mengembuskan napas dalam satu empasan tajam, dan berkata, “Ya?”
Kalau kau masih penasaran,” Eiji berkata, “aku akan tanya pada Chiyo. Siapa tahu Neela mengatakan sesuatu padanya.
Thanks,” ucap Kenneth, mengangkat tangannya yang bebas dan menyapu rambut depannya ke belakang. “Just inform. Apa pun itu.”
Eiji melontarkan kata ‘oke’ pelan. Kemudian menanyakan keberadaan Neela pada Kenneth.
“Tidur. Dia belum bangun,” Kenneth menjawab.
“Kau sekarang berada di apartemennya?” Suara Eiji mendadak sinis.
I didn’t do anything to her, okay?” Kenneth berkata buru-buru. “Lagipula aku sudah sering menemaninya tidur—”
Itu dulu…, saat aku belum tahu kalau kau itu normal,” sela Eiji. “Dan waktu itu Neela sakit. Sekarang…”
“Oke,” Kenneth memotong, seraya mengangkat satu tangannya seolah menyerah. “Sekali ini saja… karena dia yang memintaku. Aku sudah katakan padamu kalau sikapnya aneh sejak kemarin.”
“Apa pun alasannya… Just wait till the time’s come.
Kenneth tersenyum simpul. “I know, Eiji. Jangan khawatir. Aku tidak akan macam-macam.”
Eiji memperdengarkan tawa seperti cegukan, kemudian berkata lagi, “Neela sudah seperti adikku sendiri. Dia keluarga bagiku. Dia juga titipan dari seseorang yang sangat aku hormati, jadi… aku tidak ingin dia disakiti oleh siapa pun, bahkan olehmu. Just remember, Kenneth, aku bisa melakukan apa pun yang kumau pada seseorang tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Jadi pikir masak-masak sebelum melakukan sesuatu.”
Itu jelas ancaman. Dan meskipun datangnya dari Eiji, Kenneth yakin dia tidak main-main dengan perkataannya. Eiji sangat sayang pada Neela. Dan untuk Neela dia bisa melakukan apa pun demi menjaganya dari bahaya yang mungkin mengancam, dan bisa melenyapkan orang yang ingin menyakitinya hanya untuk memastikan kalau orang tersebut tak lagi mengganggunya. Karena itu Kenneth menjawab ‘oke’ dengan mantap. Dan menambahkan dengan, “Kau tak perlu cemas, Eiji. Aku tidak akan macam-macam padanya.”

Summer Hill, Shimla, India.


Salju turun. Lagi. Warna putihnya menyelimuti rumput hijau basah di halaman depan rumah, membuatnya terlihat seperti salad yang dilapisi mayonnaise. `
Dai berdiri di depan jendela kaca. Satu tangannya memegang cangkir berisi coklat panas yang dibuatnya. Sambil menyesapnya sedikit demi sedikit, dia memandang ke halaman rumput luas di depan rumah peristirahatan yang dia tinggali selama enam bulan terakhir. Menengadahkan kepala ke atas, memandang bulatan merah yang sedikit demi sedikit tenggelam di balik gerumbulan pucuk cemara di lereng bukit.
Sejak pertama sampai di rumah ini hingga sekarang, Dai tidak pernah ingin melewatkan pemandangan indah saat senja. Entah kenapa, hal itu menyejukkan hatinya. Membuatnya tenang, walaupun cuma untuk beberapa waktu.
Kau sudah kembali?
Seseorang bertanya dari belakang. Disusul oleh suara denting yang beradu.
Dai mengerling jendela di depannya, memandang bayangan Mamoru yang bergerak di belakangnya, kemudian berpaling.
“Sore. Kau sedang tidur. Aku tak mau membangunkan,” katanya, berjalan mendekat.
Mamoru menuangkan cairan hitam dari ketel stainless ke dalam cangkir kelabu di atas meja dapur. Dia meletakkan ketel kembali ke pemanasnya, setelah itu menggeser badan, bersandar di depan meja dengan siku terlipat. Memandang Dai yang telah duduk di kursi di depannya.
“Apa ibuku tahu?” tanya Dai, meneguk cokelatnya lagi.
“Tidak. Tapi dia sempat menelpon. Dan aku merasa bersalah berbohong padanya,” jawab Mamoru. Kopinya mengepulkan asap hangat dari cangkir di hadapannya.
“Kau tidak perlu berbohong padanya.”
Mamoru mendengus sinis. “Mudah untukmu berkata begitu.” Dia menarik gagang cangkirnya dan mendekatkan cangkir tersebut ke mulutnya. “Kau tidak diserahkan tanggung jawab untuk menjaga seseorang.”
Dia kemudian menyeruput kopinya.
Dai menggigit bibir bawahnya. Menyunggingkan senyum yang menunjukkan keheranan. “Bukankah… aku tidak perlu dijaga lagi, Mamo?” tanyanya, meletakkan cangkir yang dipegangnya di atas meja. “Kita semua sudah sepakat. Aku keluar dari perkumpulan; tidak lagi menjadi bagian dari O ushi, dan tidak akan terlibat dengan apa pun kegiatan yang dilakukan O ushi.”
“Dengan keluar dan meninggalkan perkumpulan bukan berarti tidak akan ada bahaya yang mengancammu.” Mamoru balas tersenyum. “Ayahmu masih punya peran penting di dalamnya. Kau putranya satu-satunya. Dan itu membuatmu bisa menjadi semacam target untuk beberapa pihak yang berkepentingan.”
Setelah itu Mamoru meletakkan cangkir kopinya. Bersebelahan dengan cangkir cokelat Dai.
“Biar saja kalau begitu,” timpal Dai. Memiringkan kepala, dan mengerutkan bibirnya. “Let them come. Let them shoot me, or kill me. Aku tidak peduli lagi. Aku tidak punya hidup untuk dijalani lagi kan?”
Mamoru memandang Dai lekat-lekat dengan sudut bibir yang melengkungan senyum samar. Kedua matanya yang kecoklatan berkilatan oleh sinar lampu temaram di atas. “Perempuan itu… benar-benar membuatmu berantakan,” ujarnya kemudian. “You love her; risked your life for her. Dan pada akhirnya…” (Mamoru mengangkat pundaknya sejenak) “dia meninggalkanmu untuk laki-laki lain.”
Mata Dai menyipit. Dagunya terangkat sedikit.
“Jadi… kau bertemu dengannya?” Mamoru bertanya, mencairkan suasana. Meraih cangkirnya lagi dan meminum kopinya.
Dai menundukkan wajahnya sejenak, kembali memandang Mamoru dengan kernyitan bingung. “Maksudmu?”
“Kau ke Jepang kan? Kau ke Tokyo Dome malam Natal kemarin.”
“Bagaimana kau tahu?”
Sudah tugasku untuk tahu kemana kau pergi.”
Dai mengembuskan napas. Menunduk lagi.
“Jadi…” Mamoru melanjutkan, “kau bertemu dengannya?”
Dai mengangkat wajah. Bibirnya membuka sedikit, kelihatan seperti akan mengatakan sesuatu. Namun kemudian dia menutupnya. Hanya memberikan anggukan kecil sebagai jawaban atas pertanyaan Mamoru.
“Dia sehat?”
Dai mengangguk lagi. “Dia juga cantik. Memakai Yukata, dengan rambut disanggul dan mengenakan hiasan rambut yang imut sekali.”
“Kau menyapanya?” tanya Mamoru, diiringi senyum geli.
Dai menggeleng, dan menutup matanya sejenak. Berusaha mengingat malam itu, saat dia melihat Neela di Tokyo Dome. “Aku tidak sanggup,” dia berkata dalam suara pelan yang muram. “Mungkin… terlalu terkejut melihatnya berada di sana. Aku tak menyangka… dia ada. Dan dia kelihatan begitu sedih…”
“Sedih?”
“Dia menangis. Melihatku.”
“Itu berarti… dia merasakan apa yang kau rasakan padanya.”
Dai menggeleng. “Rasa sedihnya karena… dia merasa bersalah karena aku tenggelam.”
“Darimana kau tahu?” tanya Mamoru, menarik punggungnya ke belakang. Berdiri tegak dan menelengkan kepala. “Selama setahun ini… kalian tidak pernah bertemu. Sejak kau tenggelam; sejak Neela mengingat semuanya.”
“Mengingat semuanya,” Dai buru-buru bicara, “berarti mengingat juga perasaannya pada Kenneth. Laki-laki yang akan dinikahinya sebentar lagi, kalau kau lupa.”
“Perempuan itu… menyesatkan, Dai,” komentar Mamoru. “Wajah teduh mereka, menipu. Membuatmu sulit untuk mengetahui bagaimana perasaan mereka sebenarnya. Kau harus menggalinya dalam-dalam untuk tahu… rahasia yang mereka sembunyikan di baliknya.”
“Neela cinta Kenneth,” Dai tetap pada pendiriannya. “Dan aku harus menerima kenyataan itu.”
“Oke…” kata Mamoru, mengedikkan bahu.
Setelah itu bersamaan keduanya meraih cangkir masing-masing dan meneguk isi di dalamnya, dan tak bersuara lagi. Ada sesuatu yang datang di benak Dai, dan kemungkinan Mamoru juga begitu.
Sementara di luar, gelap telah menyebar. Mengantarkan butiran salju yang jatuh dalam keheningan bersama desah angin yang mengantarkan hawa dingin yang merayap.
Dai meletakkan cangkirnya dan bangkit dari kursi. Menaikkan kerah sweater wol hitamnya dan berjalan menuju jendela kaca. Pandangannya lurus mengamati salju yang meluncur turun di baliknya.
Aku suka salju.
Suara Neela terngiang di telinganya. Dan Dai memandang bayangan semu Neela yang berdiri di sebelahnya, tampak takjub melihat salju di baliknya.
Aku sangat suka salju,” katanya lagi.
“Aku juga, Neela…” balas Dai, tersenyum. “Aku juga.”
Dai kemudian memandang lurus ke depan lagi. Menyilangkan tangannya, menikmati pemandangan di depannya. Bayangan Neela telah lenyap dan dia kembali dalam kesendirian yang menyesakkan.
Kau gila, Dai, dia berkata pada dirinya sendiri. Kau selalu membayangkan seolah Neela ada bersamamu. Halusinasi itu harus segera dihentikan atau kau akan benar-benar gila. Tidak bisa membedakan khayalan dengan kenyataan.
 Tapi Dai tak memedulikan suara waras itu. Karena cuma khayalan itu yang menguatkannya untuk menghadapi kenyataan kalau Neela takkan pernah akan datang lagi kepadanya. Takkan pernah didapatkannya.

Sudah lama sekali Neela tak pernah membuka blog Nyanyian Sendu. Blog yang dibuat oleh Shinji, dan memuat banyak puisi hasil karyanya yang sebagian besar telah disadur oleh Neela menjadi lagu, yang juga mengantarkan kesuksesannya sebagai seorang pemusik dan penyanyi di awal karirnya. Tak ada siapa pun yang tahu mengenai blog ini, selain Neela dan teman-teman dekat Shinji tentu, karena selain memang sekali pun tak pernah disebutkan, blog itu telah dikunci. Dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengaksesnya.

Sejak Shinji meninggal, tak sekali pun Neela mengunjunginya. Berpikir kalau dengan melihat puisi-puisi yang terpampang di sana, akan membuatnya semakin sedih atas kepergian Shinji. Tapi entah kenapa, hari ini Neela ingin sekali membukanya. Dia merasa rindu pada Shinji, dan merasa, dengan membaca semua puisinya, akan mengurangi sedikit kegalauan hatinya. Dan memang benar, perasaannya jauh lebih baik daripada sebelumnya.
Tadi siang Neela terbangun di tempat tidur Kenneth. Mengenakan baju tidur yang tadi malam dikenakannya. Dan dia merasa tolol sekali, begitu teringat kalau Kenneth telah menolak dirinya. Membuatnya seolah ingin lenyap saja dari Bumi.
Neela tidak tahu bagaimana dia bisa berakhir dengan melakukan apa yang dilakukannya semalam. Nekat mengenakan baju tidur seprovokativ itu dan menyerahkan dirinya pada Kenneth setelahnya. Yang dia inginkan adalah tidak lagi memikirkan laki-laki lain selain Kenneth. Dan dia berpikir dengan mengikat dirinya secara fisikal dengan Kenneth adalah satu-satunya jalan yang terbaik. Tapi sayangnya, itu bukan keputusan yang tepat, dan jelas tidak berhasil sama sekali, karena Kenneth…, dia laki-laki baik. Dia terlalu mencintai Neela sampai-sampai tidak ingin menyentuhnya sebelum waktunya.
Dia bukan laki-laki bodoh, pikir Neela. Akulah yang bodoh.
Sekarang Neela bengong di depan layar laptop yang membuka. Memandang kosong tampilan blog Nyanyian Sendu di hadapannya. Penyesalan kembali datang, bersamaan dengan rasa sakit di hatinya. Dia menutup mata dan melihat wajah Kenneth yang tersenyum bahagia padanya. Lalu sosok Dai muncul; sosok yang dilihat Neela saat berada di Tokyo Dome tempo hari. Tersenyum simpul yang muram, mengungkapkan kesedihan yang dalam.
Senyum itu membuat Neela hancur, karena senyum itu begitu menusuk dan terasa menyakitkan. Senyum Dai seolah mengungkapkan perasaannya mengenai cinta yang takkan pernah sampai. Yang walaupun begitu besar, tidak akan pernah bisa disatukan.
Mata Neela panas lagi karena itu. Dia menyeka pipinya yang basah oleh air mata yang meluncur turun tanpa dia sadari.
Kenneth sangat mencintaimu, Neela.” Suara Chiyo yang bergaung di telinganya terdengar menghakimi. “Kau tidak boleh egois.
Aku tidak pernah melihatnya sebahagia itu,” kini suara Bastian yang terdengar. “Buat dia bahagia, oke?
I love you.” Suara Kenneth berbisik lembut di telinganya.
Neela mencintai Kenneth. Benar-benar mencintainya. Tapi cinta itu tidak membakarnya, seperti cinta yang dirasakannya untuk Dai. Dia rindu pada Kenneth, tapi rindunya pada Dai lebih besar dan seolah membunuhnya perlahan. Cinta untuk Dai menyakitkan, dan membuatnya seolah gila. Sedangkan cintanya pada Kenneth…
Neela tak berani membandingkannya lagi. Takut dengan begitu, dia akan melakukan sesuatu yang membuatnya akan menyakiti Kenneth dan orang-orang yang menyayanginya. Tapi itu adalah kebenarannya. Perasaannya pada Kenneth sudah tak sama lagi. Dai telah merebutnya.
Tapi Kenneth, telah memberikan segalanya untukmu, Neela. Itu kata suara di kepalanya. Tidak bisakah kau mencintainya lagi, seperti dia yang selalu mencintaimu? Cinta, tidak harus memiliki kan?
Neela menarik napas. Kembali memandang monitor laptopnya. Setelah itu dia menurunkan kedua kakinya. Menyeret kursi mendekat ke meja. Tangannya di sisi laptopnya, menariknya maju.
Setelah termenung beberapa waktu, Neela mendesah. Meraih mouse yang teronggok di sebelah lap top dan menggerakkanya sejenak. Telunjuknya menekan salah satu tombol, melepaskan mousenya, meletakkan jemarinya di atas keyboard, dan mulai mengetikkan sesuatu di layar putih yang baru saja membuka.
Cuma ini yang bisa dia lakukan; mengungkapkan rasa cintanya pada Dai, lalu menyimpannya serapat mungkin. Dia akan berteriak, histeris, dalam kebisuan yang takkan pernah mengucap mengenai perasaannya pada laki-laki itu. Cuma ini satu-satunya cara.
Cuma ini.

(Bersambung)
gambar dari sini
Note:
Hore! Satu Chapter lagi. Stay tune Guys!

3 comments:

fiya shafarani January 18, 2013 at 12:42 AM  

such a love story, Mba Lit.
i'll wait for the last chapter..

mell cemell,  January 18, 2013 at 4:58 PM  

semangatt mb Lit ..
hampir finish .

go mb Lit, go mb Lit ,go ...

heheheh

Penghuni 60 January 28, 2013 at 8:37 AM  

satu lg ya, ditungguuu kelanjutannya.. seru jg ya..

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP