A Lot Like Love (36)

>> Wednesday, January 2, 2013


Baca: A Lot Like Love (35)


Decision



NEELA tidak menunggu sampai tahun baru berlalu untuk kembali ke Jakarta. Dia akan pulang, lusa—dua hari setelah hari Natal. Eiji tidak bisa mencegahnya, begitu mendengar kalau alasannya untuk ingin segera pulang yaitu karena sangat merindukan Kenneth. Dan Chiyo, tampaknya memilih pasrah daripada mencegahnya pergi, kendati dia begitu muram setelah Neela mengatakan padanya kalau dia akan pulang secepatnya dan tak bisa menemaninya merayakan pergantian tahun.
“Ada yang terjadi kan…, di Tokyo Dome kemarin?” tanya Chiyo pada Neela, saat dia duduk berdua dengan Neela di bangku tunggu Bandara Internasional Narita. “Sehingga membuatmu memutuskan untuk pulang secepatnya?”
Neela menggeleng lemah. Tidak menoleh, cuma menundukkan wajah. Mendekap erat tas di pangkuannya.
Chiyo mendesah. “Kakak sangat marah ketika tahu aku membawamu ke sana,” ujarnya lagi. Memandang lurus ke arah Eiji yang berdiri tak jauh di depan mereka. Berbicara melalui ponselnya. “Dia bilang…, kau mengalami kecelakaan di dekat sana. Tapi… kau kelihatan aneh begitu kita memasuki tempat itu. Seakan saja, ada sesuatu yang kau cari, dan tidak kau temukan. Dan kau menangis sedih begitu… Pasti, ada alasannya kan?”
Chiyo memalingkan muka. Mengamati Neela, yang ekspresinya masih sama datar seperti sebelumnya. “Neela…” panggilnya putus asa.
Neela bungkam. Semrawut di dalam kepalanya. Seolah ada semacam kericuhan yang terjadi, yang membuatnya tak bisa berpikir jernih dan mengucapkan satu kata pun dari mulutnya. Sosok Dai yang dilihatnya beberapa hari lalu terus bertahan di ingatannya. Dan dia… sama sekali tak berusaha mengusirnya.
“Neela.” Chiyo mencengkeram pundak Neela. Mengguncangnya pelan.
Neela mengangkat wajah. Menatap mata Chiyo lekat-lekat, sementara Chiyo mengembuskan napas; menurunkan tangannya.
Just tell me something,” tuntut Chiyo cemas. “Aku tahu ada sesuatu yang mengganggumu. Kau… bisa cerita padaku.”
Mata Neela mengejap. Matanya dan mata Chiyo saling bertatapan. Dan setelah beberapa detik berlalu, Neela akhirnya membuka mulutnya dan berkata, “Aku… mencintai orang lain,” dalam suara pelan, hampir tak terdengar.
Mata Chiyo langsung membulat. Kaget.
“Perasaan ini… membuatku… seolah gila,” kata Neela lagi. “dan aku tak tahu, harus berbuat apa?”
Chiyo menghadapkan wajahnya ke depan. Memandangi Eiji yang masih sibuk dengan ponselnya. Dia kelihatan terguncang. Ganti diam seribu bahasa.
“Aku tahu…, aku salah,” Neela bicara lagi. Turut mengamati Eiji. “Kenneth sangat sayang padaku. Selalu ada untukku di saat-saat terburukku. Dia… memberikan semuanya untukku. Dan seharusnya, tak ada lagi yang membuatku ragu…, namun aku… begitu tak tahu dirinya… dan malah memikirkan orang lain.”
Kepalanya kembali tertunduk.
“Siapa… ‘orang lain’ itu?” Chiyo bertanya dalam suara seperti melamun.
Neela menelan ludah. Berat mengucapkan nama ‘Dai’ dengan bibirnya. Dan saat akhirnya nama itu terucap, rasa lega mengalir seperti racun yang keluar dari tiap pori-pori di tubuhnya.
“Kau boleh… mencintai Dai,” kata Chiyo, menyandarkan punggungnya ke belakang. “Tapi… cukup, hanya dalam hati saja.”
Maksudmu?”
“Kau tidak boleh egois.” Chiyo menyipitkan mata. “Aku bersama Kenneth sewaktu kau masih tak sadarkan diri di rumah sakit setelah kecelakaan itu. Tak sekali pun dia meninggalkanmu sendirian, Neela. Ingin memastikan kalau kau baik-baik saja. He loves you so much. Dan aku sangat  bersyukur…, saat mengetahui kalau ternyata dia bukan gay. Merasa senang, mengetahui kalian saling mencintai satu sama lain. Turut bahagia, saat mendengar kalian berdua akan menikah. Turut resah… mendengarmu sekarang mengatakan, kalau kau mencintai laki-laki lain. Menurutku itu tak adil.”
Neela mengembuskan napas seiring dia menutup mata. Membenarkan perkataan Chiyo yang terasa bagai ribuan sembilu yang menusuk hati dan otaknya.
“Kalau dia bisa…,” Chiyo kembali bicara, “aku yakin, dia akan menukar jiwanya dengan jiwamu setelah kecelakaan itu. Tidak pernah kulihat… seorang laki-laki begitu sengsaranya melihat seseorang yang dicintainya menderita.”
Air mata Neela meluncur turun, dan berjatuhan menimpa permukaan tas yang semakin erat diapitnya. Sekeras mungkin dia berupaya menelan isaknya. Tidak ingin Chiyo mendengar rasa sakit yang mengalir melalui kerongkongannya.
“Aku tidak bermaksud merendahkanmu dengan mengatakan semua itu.” Chiyo memandang Neela. “Aku tahu itu hakmu… untuk mencintai siapa pun yang kai inginkan. Namun… kalau aku boleh meminta, lihatlah Kenneth dengan segala kelebihannya dan apa yang dia akan mampu berikan untukmu ke depannya. Kebahagiaan yang akan kau terima. Cinta… dan kasih sayang. Cobalah… untuk menerima itu.”
Neela menyeka air mata di pipinya. Balas memandang Chiyo, dan memaksakan senyum yang gemetar.
“Kau sudah menangis, Neela?” Eiji yang baru datang menyentak Neela dan Chiyo. Keduanya segera memalingkan wajah. Mendongak ke arah Eiji yang tersenyum simpul. Tampak geli. “Belum waktunya berpisah, air matamu sudah tumpah segitu banyak.”
Eiji menyodorkan sapu tangan katun miliknya pada Neela.
Thanks,” ucap Neela, menerima sapu tangan tersebut. Kemudian mengusapkannya ke sekujur mata dan pipinya.
Atauada sesuatu yang membuatmu menangis?” Eiji mengernyit.
Chiyo menyelamatkan Neela dari kewajiban menjawab. Mengatakan pada Eiji, kalau Neela merasa sedih akan meninggalkan Jepang sebelum melihat perayaan Tahun Baru yang luar biasa di Tokyo beberapa hari lagi.
“Dia juga sedih, karena pastinya baru beberapa bulan lagi dia akan bertemu aku dan Kakak,” tambah Chiyo. Mengerling Neela.
“Kalau begitu, kenapa kau tidak tinggal di sini saja dulu. Dan biarkan Kenneth yang datang kemari?” Eiji menyarankan. “Kita semua bisa merayakan pergantian tahun bersama nanti.”
Neela menggeleng. “Kenneth masih sibuk. Aku tidak mau mengganggunya. Kau tahu kan… pernikahan Arata dan Marin sebentar lagi. Dia pastinya… tidak bisa kemana-mana,” kata Neela, menekankan sapu tangan ke hidungnya yang merah.
Untuk itu, Eiji tidak bisa berkata-kata. Dia cuma bisa tersenyum simpul kemudian merengkuh kepala Neela dan memberikan kecupan kecil di keningnya.
“Kita bisa ketemu lagi nanti,” bisiknya.
Dan bisikannya itu cukup membuat Neela berlinangan air mata lagi. Bukan karena akan berpisah dengan Eiji, melainkan karena rasa bersalah yang merasukinya.

Sosok Kenneth, sama seperti Eiji, selalu memunculkan perasaan yang nyaman untuk Neela. Membuatnya selalu merasa aman kapan pun dia berada di dekatnya. Dan saat Kenneth memeluknya, rasa hangat selalu menyelubunginya, bagaikan perisai yang melindunginya dari apa pun yang akan menyakiti dirinya.
Sejak kapan Kenneth seperti itu? Kemana perginya kerlingan sinis yang selalu diperlihatkannya saat Neela membuat kesalahan? Kenapa kata-kata tak mengenakkannya tak lagi terdengar? Bagaimana bisa dia berubah begitu drastis dalam waktu yang singkat, seolah saja dia adalah pribadi lain yang tak pernah Neela kenal sebelumnya.
Tapi Neela jelas menyukai Kenneth yang sekarang. Kenneth yang selalu tersenyum menenangkan, dan menggandeng tangannya kemana pun.
Seperti sekarang.
“Aku sepertinya tahu jalan ini…” Neela berkata pada Kenneth yang berjalan di sebelahnya menyusuri trotoar jalan raya di sebuah kompleks pertokoan tua.
Kenneth langsung mengajaknya pergi begitu mereka meninggalkan bandara Soekarno-Hatta. Mengatakan kalau dia ingin mengajak Neela mengunjungi seseorang. Seseorang yang sangat ingin bertemu dengan dirinya.
“Bastian… kan?” Neela menolehkan wajah pada Kenneth yang langsung mengerutkan kening.
Bagaimana kau tahu?”
Neela mengulum senyum. “Well… Aku pernah ketemu dia. Mengunjunginya.”
Kenneth menatap Neela seolah syok. “Ba-bagaimana bisa?”
“Oh. Bisa saja.” Neela nyengir. “Dari dia aku tahu semua tentang dirimu. Oh… Sudah lama sekali tidak ketemu dia.”
“Dia cerita tentang aku?” Kenneth masih penasaran.
“Aku sudah tahu sejak lama kalau kau itu bukan gay. Bastian yang memberitahu.”
Kenneth menghadapkan wajahnya ke depan. Tampangnya muram, seakan saja ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Kenapa?” tanya Neela.
Kenneth tidak langsung menjawab. Menundukkan kepala, dan menggelengkannya. Menutup matanya sejenak. “Brengsek dia,” umpatnya kemudian. Lalu memalingkan wajah. “Kalau saja dia mengatakan padaku kalau kau sudah tahu perihal itu, aku tidak perlu lagi susah payah menyembunyikannya kan?”
“Aku ketemu Bas setelah kau mengusirku pergi dari rumah,” kata Neela. “Satu bulan setelah itu. Aku kira dia itu kau… tapi ternyata hanya mirip. Dan ternyata dia saudara kembarmu.”
Bibir Kenneth membuka sedikit. “Oh,” gumamnya pelan. Kendati sepertinya bukan hanya itu yang ingin ia ucapkan.
“Jadi… jangan salahkan dia,” lanjut Neela lagi. “Aku juga yang… memintanya untuk tidak cerita padamu.” Neela memandang Kenneth. Tersenyum.
Kenneth balas senyum. Senyum kecil yang bagi Neela adalah tanda kalau dia oke, dan tak perlu ada lagi yang dipermasalahkan. Neela telah mempelajarinya selama setahun dia pacaran dengan Kenneth.
Here we are…” Kenneth menghentikan kakinya di depan salah satu ruko berlantai tiga, yang di atas pintu masuknya terdapat plang nama bertulisan Paradise.
“Bagaimana keadaannya setelah semua orang tahu kau itu bukan gay?” Neela bertanya penuh minat. “Dia mengatakan sebelumnya kalau kau terpaksa mengaku gay karenadia?”
Not a big deal.” Kenneth memiringkan kepala. Tersenyum. “Bas baik-baik saja. Aku mengatakan yang sebenarnya pada semua orang kalau aku berbohong mengenai orientasi seksualku, lebih karena… aku tidak ingin ada perempuan yang mendekatiku, karena mereka akan menyusahkan sekali.”
Neela cemberut. “It wasn’t nice, Kenneth,” katanya. “Kau akan membuat banyak perempuan tersinggung.”
Kenneth tertawa. “But, when I fell for you…dia melanjutkan dalam suara pelan, “it was time for me to decide… to tell the truth.”
Neela tersenyum suram. Tidak tahu harus bagaimana menanggapinya. Rasa bersalahnya kembali muncul, dan pastinya akan lama sekali sampai dia tak lagi merasakannya.
Ayo. Masuk. Dia sudah rewel sejak kemarin. Tidak sabar bertemu denganmu,” kata Kenneth.
Neela mengangguk kikuk. Mengikuti Kenneth yang melangkah maju ke arah pintu ruko yang tertutup rapat. Mendorongnya membuka, dan mempersilakan Neela masuk lebih dulu.
“Neela!”
Suara pekik terdengar begitu kaki Neela menapak di lantai dalam ruangan. Disusul oleh sergapan tiba-tiba dari seorang laki-laki jangkung berkaus polo pink yang entah muncul dari mana, yang memberikannya pelukan erat penuh kerinduan.
“Oh Tuhan,” kata Bas, setelah dia melepaskan pelukannya dari Neela. Mencengkeram pundak Neela, memandangnya dari atas ke bawah, seolah ingin membuktikan kalau benar-benar Neela yang ada di depannya. “Ini benar-benar kau,” katanya lagi.
Neela tersenyum lebar. “Tentu saja ini aku.”
“Sudah lama sekali kita tidak ketemu. Dan dengan adanya ‘ini-itu’ membuat pertemuan kita sekarang ini rasanya mustahil,” timpal Bas.
Setelah itu dia memeluk Neela sekali lagi.
“Hati-hati, Bas. Dia bisa sesak napas,” kata Kenneth, yang berdiri di sebelah Neela.
Bas melepaskan pelukannya buru-buru. Mengerucutkan bibirnya.
“Lagipula…, kau seharusnya minta maaf dulu padaku, karena tidak memberitahuku kalau kau dan Neela sudah pernah ketemu sebelumnya.”
Bas mengempaskan bahunya. Raut wajahnya melunak, dan dia menggumamkan kata “Sori” pelan. “Tapi… itu tidak penting kan sekarang?” katanya. “Karena kau dan Neela sudah…” Bas menghentikan kalimatnya. Mencakupkan kedua tangannya dan memandang Neela dan Kenneth yang berdiri berdampingan di depannya penuh damba.
Kalian akanjadi pasangan yang paling serasi saat menikah nanti,” komentar Bas. “Oh, God. I’m happy for both of you.”
Neela menundukkan kepala buru-buru, sementara Kenneth mendengus tersenyum, tampak senang.
“Kenneth?”
Panggilan itu diikuti oleh suara hak sepatu yang tergesa mendekat. Neela, Kenneth dan Bas segera memalingkan kepala untuk melihat siapa pemilik suara dan sepatu tersebut.
Ella. Neela ingat namanya. Perempuan cantik, yang pernah Neela jumpai di rumah Kenneth setahun lalu; di malam Kenneth mengusirnya.
 Dia berjalan mendekat, dan merentangkan tangannya membuka, bersiap memberikan Kenneth sebuah pelukan. Dan Kenneth balas memeluknya.
“Akhirnya kau muncul,” kata Ella setelahnya. Kedua tangannya masih melingkari leher Kenneth. “I miss you.”
“Aku juga kangen padamu,” Kenneth membalas. “Apa kabar?”
Baik. Dan masih di sini, menjaga kakakmu.”
“Oh, yang benar saja,” timpal Bas, seraya memutar matanya.
Kenneth memalingkan wajah sekilas pada Neela.
“Kau ingat Neela?” tanyanya pada Ella setelahnya.
Ella melepaskan pelukannya. Dia menoleh, dan memberikan Neela ekspresi yang sama yang pernah ditunjukkannya sebelumnya; sinis dan tak bersahabat
Hei,” sapanya. Enggan. “Kaudi sini? Sori… Aku tidak lihat.”
Neela tersenyum. “Hei. Apa kabar? Akubaru pulang dari Jepang. Langsung kemari.”
Ella menimpali dengan senyum singkat yang tak mencapai mata. “Good,timpalnya.
Setelah itu dia kembali menghadapkan wajahnya pada Kenneth, tersenyum senang. “Ayo. Kita harus ngobrol.”
Dia menggamit tangan Kenneth. Menariknya pergi menuju salah satu meja di sudut ruang kelab yang masih sepi, hanya berisi beberapa orang yang masih memoles gelas di belakang meja bar.
Neela mengamati Kenneth dan Ella dari jauh. Tersenyum melihat mereka mengobrol.
“Kau tidak perlu cemburu,” Bas berkata di telinganya. “Kenneth sangat setia padamu. Ella tidak akan bisa menggoyahkan perasaannya padamu.”
Neela mendengus tertawa. “Aku tidak cemburu kok,” dia memberitahu Bas.
Good. Kalau begitu, ayo kita duduk.”
Neela dan Bas duduk di meja lain yang berseberangan dengan meja dimana Kenneth dan Ella duduk. Mengobrol santai ditemani teh hangat yang dipesan Bas untuknya. Bercerita mengenai kecelakaannya dan masa-masa saat ingatannya hilang, dan karirnya yang telah mulai ditatanya lagi setelah vakum beberapa waktu.
“Aku senang kau kembali,” kata Bas. Menyentuh tangan Neela yang mengepal di atas meja. “Karena dengan begitu… Kenneth akan happy.”
Bas memalingkan wajah ke arah Kenneth dan Ella yang sedang tertawa karena sesuatu yang sedang mereka bicarakan. Neela mengikuti, turut memerhatikan keduanya—memerhatikan Kenneth, yang tampak begitu gembira.
“Aku tidak pernah dia sebahagia itu sebelumnya,” Bas berkata. Tersenyum simpul. “Tidak pernah sekali pun, sejak orang tua kami berpisah.”
Neela mengejapkan mata. Membalas senyumnya.
“Kau… memang… didatangkan untuk Kenneth, Neela,” ujar Bas.
Senyum Neela raib seketika. Dia mengedipkan mata berkali-kali dengan sangat cepat. Menunduk, merasa salah tingkah. Dadanya sesak.
“Aku… benar-benar senang, karena kalian akhirnya bisa bersama.”
Kalimat Bas persis sama dengan kalimat Chiyo.
“Dan aku senang… kalau perempuan yang harus menjadi pendamping Kenneth adalah dirimu,” sambung Bas lagi. Kedua matanya yang menatap Neela berkaca-kaca. “Aku percaya… kau akan membuatnya sangat bahagia dan tenang.”
Jangan pikirkan Dai, Neela, suara kecil di kepalanya mengingatkannya. Kau tidak perlu memikirkan Dai lagi. Jangan. Kenneth adalah orang yang terpenting untukmu sekarang.
Neela memaksakan senyum di bibirnya, kendati dia tahu kalau senyum itu tidak akan terlihat manis sama sekali. Untungnya, Bas tidak memerhatikannya. Terus berbicara, membahas mengenai hal-hal membahagiakan yang akan dialaminya bersama Kenneth setelah menikah nanti. Dan itu terasa bagaikan sayatan dalam di segala tempat penjuru hatinya.
“Dan Kenneth…, pastinya akan sangat menyayangimu. Kalian akan hidup sampai tua, dan dikelilingi banyak anak dan cucu.” Bastian tertawa. “Dan aku…” dia kembali bicara, “akan sangat senang bisa berada di tengah semua itu. Setidaknya…aku tahu, masa tuaku tidak akan kuhabiskan sendiri, dengan adik ipar yang menyebalkan, dan anak-anaknya yang seperti monster.”
Dia tertawa lagi. Dan Neela, hanya karena kata-kata Bas memang lucu, turut tertawa.
Seriously, Neela…” Bas menggenggam tangan Neela di atas meja. Menatapnya dengan ekspresi serius. “Aku minta padamu… agar kau menjaga Kenneth untukku. Akusebagai kakaknya, tidak pernah bisa melakukan itu dengan benar. Jadiaku percayakan dia padamu. Make him happy.
Berat untuk Neela mengiyakan. Berat juga untuknya menolak. Rasa sayangnya pada Kenneth, rasa hormatnya pada Bastian dan tanggung jawabnya pada kebahagiaan semua orang di dekatnya, membuatnya harus memutuskan yang terbaik, tanpa memikirkan bagaimana perasaannya sebenarnya; apakah dia akan bahagia dengan keputusan itu.
Kau tidak boleh egois.” Neela teringat kata-kata Chiyo. “Kalau kau mencintai laki-laki lain. Menurutku itu tak adil.”
Neela menutup matanya sejenak, seolah meminta ijin pada dirinya sendiri. Dan setelah matanya tersingkap, dia mengangguk. Berkata pada Bastian, “Aku akan menjaganya, Bas. Kau tidak perlu khawatir.”

Sekitar jam delapan malam, Kenneth akhirnya mengajak Neela pulang. Selain sudah malam, Kenneth juga tak ingin mengganggu persiapan Bas dan staffnya untuk membuka kelab. Jadi setelah perpisahan yang dramatis ala Bas, mereka pun pamit, kembali menyusuri trotoar yang lebih ramai dari sebelumnya, menuju mobil Kenneth yang diparkir tak jauh dari sana.
You look happy,” Neela berkata, seraya mengamati wajah Kenneth yang sedang mengemudi di sampingnya. “Ella sepertinya membuatmu senang.”
Kenneth terkekeh.
Kok ketawa?”
“Kau cemburu, makanya aku senang.”
“Eh?”
Kenneth kembali tertawa. Dia memalingkan wajahnya sekilas dan berkata, “Ella adalah orang yang paling bisa menenangkanku kapan pun aku sedang dalah keadaaan tidak stabil. But, we’re just friends. Kau tidak perlu cemas.”
“Aku tidak cemas dan aku tidak cemburu,” sahut Neela cepat. Alisnya bertaut. “Lagipula kau memang kelihatan senang bicara dengannya.”
“Aku juga senang bicara denganmu.”
“Tapi tidak seperti saat bicara dengan Ella.”
Kau cemburu.”
Tidak.”
Akui saja.”
Neela menarik pipi Kenneth tiba-tiba sehingga dia mengaduh kesakitan.
Kalah debat, jangan main fisik dong,” gerutu Kenneth, mengusap-usap pipinya yang memerah.
“Kau menyebalkan.” Neela bersedekap.
Sentuhan lembut di kepalanya menyejukkan Neela. Dia mendengus tersenyum dan mengerling Kenneth yang mengusap rambutnya.
“Aku kangen,” kata Kenneth, tersenyum lembut.
Neela meraih tangan Kenneth yang berada di kepalanya. Menggenggamnya erat. “Aku juga.”
Hening beberapa saat, sementara keduanya sedang sibuk dengan benak masing-masing.
“Ken,” panggil Neela lirih beberapa waktu kemudian.
Ya?”
“Aku tidak ingin kembali ke apartemen,” kata Neela.
Kenneth menolehnya sekilas, kemudian bertanya, “Kalau begitu kemana?”
Neela terdiam sejenak, kemudian berkata lagi dengan terbata namun penuh keyakinan, “Rumahmu.”
Kenneth memandang Neela seolah Neela sudah hilang akal. Tapi melihat Neela menatapnya sungguh-sungguh; tanpa ada keraguan, akhirnya dia mengangguk. Mengiyakan.

So, it’s set up!” Kenneth menegakkan badan, setelah sebelumnya membungkuk merapikan seprai tempat tidur di kamar yang sebelumnya memang adalah kamar Neela. “And you can sleep.” Dia menganggukkan kepalanya pada Neela yang bersandar di dinding di sebelah pintu. Menontonnya selagi dia berkutat dengan kasur, bantal dan lain-lainnya di atas tempat tidur.
Neela tersenyum, mengucapkan terima kasih diiringi kekeh geli. “Kau seharusnya tidak perlu merapikannya seperti itu. Seakan saja aku baru pertama kali ke sini,” katanya.
Kenneth mengedikkan pundak. “Well… Dulu, kau belum jadi pacarku kan? Aku… tidak merasa… sungkan dan lain sebagainya,” kata Kenneth menggaruk dagunya. Tampak kikuk. “Sekarang” (dia meletakkkan satu tangannya di pinggang) “kau pacarku dan… aku, entah kenapategang. Lagipula”—dia menambahkan buru-buru—“ini pertama kalinya kita berdua saja, karena sebelumnya… kita tidak sempat berdua seperti ini. Selalu ada Malini… Dan kau di apartemenmu, dan aku di rumah.”
Neela menangkap kesan kalau Kenneth sedang berusaha keras bicara sewajarnya—terlalu berusaha menurutnya, sehingga kalimatnya terdengar bagai racauan yang tumpang tindih di telinga Neela.
“Maksudku bukannya aku…mengharapkan apa pun, tapi sejak pacaran kita jarang menghabiskan waktu berdua. Dan malam ini…, you’re here. And I feel—Oh Tuhan, aku sebenarnya sedang apa?”
Kenneth meringis, tampak merasa bersalah. Sementara Neela memandanginya dengan senyum geli di wajahnya.
“Jangan salah paham oke? Aku hanya… merasa… senang kau ada di sini,” kata Kenneth lagi. Mengembuskan napas tajam.
“Aku juga senang…” Neela berkata. Tersenyum.
Kenneth dan Neela bertukar pandang selama beberapa waktu. Menyunggingkan senyum pada satu sama lain.
So. Istirahatlah,” kata Kenneth kemudian. “Aku juga akan istirahat. Kalau ada apa-apa, aku di kamar.”
Neela menggangguk.
Night,” ucap Kenneth.
Night,” balas Neela.
Setelah itu Kenneth pamit. Dan setelah memberikan ciuman kecil di dahi Neela, dia keluar dari kamar. Menutup pintu kamar perlahan agar tidak menimbulkan suara. Dia tak tahu kenapa dia melakukan itu, tapi dia tidak ingin mengganggu Neela dengan suara keras pintu tersebut. Berpikir kalau dia tidak sengaja menutupnya dengan keras, Neela akan mengira dia marah atau kesal, lalu pergi dari rumahnya; tidak jadi menginap, meskipun hal tersebut kecil kemungkinannya untuk terjadi.
Intinya, Kenneth ingin agar Neela merasa nyaman di rumahnya. Sudah lama dia tidak pernah kemari, dan Kenneth tidak ingin membebaninya dengan persoalan apa pun.
Kenneth masuk ke kamar. Menarik lepas kemejanya sambil berjalan menuju kamar mandi. Badannya terasa lengket dan kotor; ingin segera diguyurnya dengan air hangatIngin berendam di bath tub, sekaligus mengurangi rasa penat di badannya dan meringankan pikirannya untuk beberapa saat.
Dan dia melakukannya. Berdiam di kamar mandi, seraya berbaring di bath tub. Menenggelamkan setengah badannya di air hangat, sementara dia memejamkan mata. Mengosongkan pikirannya. Mengusir semua hal yang memberatkannya.
Satu jam kemudian Kenneth bangkit. Keluar dari bath tub dan menyambar handuk dari laci kayu gantung di dinding seberang. Mengeringkan seluruh badannya, kemudian menarik kaus bersih dari laci gantung satunya. Mengenakannya cepat-cepat, lalu melepaskan celana pendek dari kait gantungan di pintu untuk dipakainya. Menghanduki rambutnya yang kuyup seraya membuka pintu kamar mandi, dan berjalan keluar.
Tapi kemudian kakinya berhenti bergerak. Alisnya mengernyit, heran. Dia terkejut, namun masih bisa mengendalikannya. Mencoba bernapas dengan teratur sementara bibirnya mengucapkan kata ‘Neela’ yang penuh tanya.
“Kau… Ada apa?” tanya Kenneth. Gugup.
Neela duduk di tepi tempat tidur. Memandang Kenneth dengan tatapan sayu yang tidak dimengerti. Dia telah mengganti bajunya. Bukan dengan kaus dan celana pendek yang biasa dikenakannya saat dia akan tidur, melainkan dengan… baju tidur hitam bertali satu yang ujungnya tak sampai menyentuh lutut. Kulitnya yang kuning langsat terkespos di mata Kenneth, berkilap karena pantulan cahaya lampu di atas. Rambutnya terjurai sampai ke perutnya yang tertekuk. Jantung Kenneth berpacu tak terkendali karenanya.
Neela berdiri. Dan dengan perlahan, berjalan mendekat. Matanya yang besar menatap lurus ke mata Kenneth. Kelihatan ragu, tapi juga penuh percaya diri.
Satu per satu kakinya menapak di atas lantai yang dingin, seiring dengan tarikan napas Kenneth yang berat. Tiap helaan semakin membawanya mendekat. Tiap helaan semakin menegaskan harum tubuhnya yang membuat Kenneth seakan mabuk.
“Aku… ingin bersamamu,” kata Neela pelan. Wajahnya kini hanya berada beberapa inci saja dari Kenneth. “Aku… benar-benar merindukanmu.”
Kenneth merasakan nyeri di perut dan kepalanya. Dia tidak tahu harus bagaimana. Kalimat Neela barusan seolah mengatakan kalau Neela ingin menyerahkan dirinya padanya.
Ken. Kau tidak seharusnya berpikiran norak seperti itu, dia menegur dirinya sendiri. Kalian biasa tidur bersama dulu, saat Neela sakit.
Kenneth membodohi dirinya sendiri karena mengijinkan otaknya berfantasi terlalu jauh. Lagipula Neela tidak akan pernah melakukan itu.
Oke,” senyum Kenneth. Mengusap rambut Neela. “Aku akan menemanimu sampai kau tidur. Kembalilah ke kamar, aku akan ke sana sebentar lagi.”
Tapi Neela sepertinya tidak mendengar perkataannya. Atau tidak mau mendengar. Dia merapatkan tubuhnya, melingkarkan kedua tangannya di leher Kenneth, dan menempelkan bibirnya ke bibir Kenneth. Menciumnya.
Kepala Kenneth langsung panas. Jantungnya berdegup semakin kencang. Handuk yang tadi dicengkeramnya kini meluncur jatuh ke lantai, sementara tangannya terangkat, menarik pinggang Neela merapat.
Kenneth balas menciumnya. Membiarkan bibirnya membuka, menerima semua emosi yang dihantarkan oleh Neela ke seluruh tubuhnya. Dia tidak peduli apa yang akan terjadi. Dia hanya ingin merasakan sentuhan dari perempuan yang dicintainya, yang sekarang berada dalam dekapannya dan tak akan pernah dilepaskannya.
Saat Kenneth tersadar, dia telah berada di atas tempat tidur. Merasakan tangan Neela di dadanya yang telanjang. Dan tidak tahu kenapa, mendadak dia merasakan ada sesuatu yang tak benar.
Semua ini terlalu mendadak, Kenneth berpikir. Menatap kosong wajah Neela yang membeku di bawahnya. Tidak boleh sampai sejauh ini.
“Ken?” Neela memanggil. Menyentuh pipinya. Menyadarkannya dari lamunan.
Hei…” Kenneth tersenyum. Dia mencium kening Neela, setelah itu mengangkat tubuhnya. Duduk di atas kasur. “I’m sorry,” gumamnya. “Aku… tidak seharusnya melakukan itu padamu. Aku tidak terkontrol…” Dia meraih kausnya yang tergeletak di sudut tempat tidur. “Bodoh sekali.”
Neela cepat-cepat mengangkat punggungnya. Dia menubruk Kenneth. Dan seperti sebelumnya mendaratkan ciuman tiba-tiba di bibirnya.
“Neela.” Kenneth menarik wajahnya buru-buru. “Neela. Jangan.”
Tapi Neela tidak mau mendengar. Dia tetap berusaha menyentuh Kenneth. Sikapnya yang ganjil memunculkan keheranan bagi Kenneth. Ada sesuatu yang disembunyikan Neela darinya.
“Neela!” Kenneth terpaksa membentaknya. Mencengkeram kedua tangan Neela, mengentaknya keras untuk membuatnya mengerti kalau dia harus menghentikan apa yang sedang dilakukannya. “Ada apa denganmu?” kata Kenneth jengkel.
“Kau… tidak ingin melakukannya?” kata Neela, berkaca-kaca. Dadanya naik-turun karena napasnya yang memburu.
“Tentu saja aku ingin,” sahut Kenneth, melepaskan tangan Neela. “Aku laki-laki—normal. Tapi aku merasa ini tidak benar. Aku… merasa… bersalah kalau melakukannya sekarang denganmu. Tidak, selama kau bersikap seolah terpaksa.”
“Aku tidak terpaksa,” bantah Neela. “Aku benar-benar ingin melakukannya. Aku mencintaimu, dan kau juga… Apa salah?”
Salah. Karena… aku terlalu mencintaimu,” jawab Kenneth. “Aku… ingin melakukannya di saat yang tepat. Denganmusetelah kita menikah.”
“Kita akan menikah.” Air mata Neela telah meluncur turun ke pipinya. Dia kelihatan sangat sedih. “Jadi…, sekarang pun tak apa,” katanya, dengan suara bergetar. “Just make me yours. Just… make me yours. Biarkan aku… menjadi milikmu sepenuhnya.”
Selama beberapa waktu Kenneth cuma bisa bengong, menyaksikan Neela yang sesenggukan di depannya; bersimpuh seraya menutup wajahnya dengan tangan di atas kasur. Baru menariknya ke pelukan ketika tangis Neela semakin jadi dan memenuhi seisi kamar.
“Ada apa sebenarnya?” bisik Kenneth di telinga Neela sambil mengusap rambutnya. “Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?”
Neela tidak menjawab. Tetap menangis terisak-isak.
What is wrong with you?gumam Kenneth lagi. Bingung.
(Bersambung)

gambar dari sini
Note:

Semuanya, maaf ya. Kayanya AL3 belum bisa rampung di chapter 36.
Masih dua chapter lagi karena terlalu panjang.
So sabar ya... dan puas-puasin dulu lihat tampang cakep Kenneth.
I love you, Guys.
HAPPY NEW YEAR 2013!

3 comments:

zee ashter January 2, 2013 at 1:32 AM  

Aaarrrggghhhhtttt...curaaaaannnggg..kirain mw kelar mlm ni :(

Btw knpa kenneth berubah ? Dr christian .S mnjdi c muka ganteng itu ??
Sebel deehh..bikin makin penasaran aja nii
Kayaknya neela (q lbh suka mmbacanya nella,bukan nila) bakalan sama Dai deehh..heheee ngareep :p
Lanjutanya jgan lama" yaa..gak sabar nunggunya ;)

Lita January 2, 2013 at 7:52 PM  

@Zee: Kenapa berubah dari Christian sugiono, ya karena si CS itu jarang banget fotonya. Lagian Song Seung Hun itu mirip banget sama Choi si Won yang meranin bastian, sodara kembarnya kenneth. gitu, Zee ceritanya.

*cengir*

fiya shafarani January 6, 2013 at 5:24 PM  

mba Lita..
happy new year 2013,,
may all of your wish and dream will come true =D

lama banget ngga baca postingan mba Lita. tapi ternyata tetep seru dan bikin "waaa.. waaa.. hwaaaa.." waktu aku baca lanjutan A lot like love ini.. hahaha
okelah,, kutunggu 2 episod terakhirnya ya mba... =D

~cheersss*

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP