A Lot Like Love (38)

>> Wednesday, January 30, 2013

Baca: A Lot Like Love (37)


Fate


TANGGAL 31 Desember. Dan sekitar 50 orang tamu undangan berkumpul bersama di halaman belakang salah satu hotel di pinggir kota Jakarta yang telah disulap seindah mungkin, untuk menyaksikan acara pernikahan Arata dan Marin yang dilangsungkan sore harinya.
Undangan disebarkan pada tanggal 29 Desember via kurir dan diselipkan dalam buket mawar putih kepada pihak-pihak yang dituju, dan dipertegas dengan pesan teks yang dikirimkan ke ponsel masing-masing.
Terkesan mendadak, karena tujuannya memang untuk mengelabui wartawan yang memang sudah sibuk mengabarkan acara sakral tersebut mulai dari dua bulan sebelumnya, dan berlomba-lomba menjadi yang pertama meliputnya.
“Arata sama sekali tidak ingin ada wartawan yang datang,” kata Marin, saat Kenneth bertanya melalui telpon kenapa acara pemberkatan pernikahan bisa dilangsungkan tanpa rencana seperti itu. Kenneth merasa terkecoh, karena sebenarnya tanggal pernikahan yang semestinya adalah tanggal 11 Januari, sesuai dengan kesepakatan sebelumnya.
“Dia tidak ingin mereka mencemari kesakralan pernikahan,” tambah Marindengan nada malu yang tak biasa. “Dia juga tidak mau wartawan memotret wajah Ryo dan Mayu.” Ryo dan Mayu adalah putra dan putri kembar Marin dan Arata yang lahir tahun lalu. Sama seperti Arata, wajah keduanya selalu diincar oleh para pencari berita.
Meskipun begitu, untungnya semua bisa hadir; Kenneth, Neela, Malini dan suaminya, Jose, Eiji dan Chiyo, Lea, bahkan Juna yang lumayan sibuk tahun itu—mereka semua diundang sebagai kerabat Arata. Tak satu pun yang absen. Seolah saja mereka sedang merayakan reuni, setelah hampir dua tahun ini jarang bertemu. Dan kendati ada juga wartawan yang akhirnya mengetahui acara perhelatan pernikahan tersebut, mereka hanya bisa meliput dari luar areal hotel. Acara tetap berlangsung lancar dan khidmat. Tak ada hambatan sedikit pun.

Neela duduk di salah satu bangku kayu di selasar hotel yang menghadap ke halaman rumput belakang. Menunggu waktunya jamuan makan malam tiba, seraya mengamati Marin yang sedang berbincang dengan dua orang tamu undangan sambil menggendong Ryo. Marin kelihatan cantik dengan gaun putih sebatas lututnya. Rambutnya disanggul anggun dengan hiasan bunga melati di bagian samping. Dia juga terlihat bahagia. Dan kebahagiaannya itu terpancar jelas di wajahnya, membuatnya seolah bercahaya. Menyilaukan.
Apa aku bisa seperti itu? Lea bertanya-tanya. Membayangkan dirinya nanti setelah menikah dengan Kenneth. Bisakah dia kelihatan sebahagia Marin? Mengingat perasaan yang dipendamnya saat ini, apakah dia mampu menjalani semuanya nanti?
Neela.” Sebuah suara memanggil namanya. Suara yang akrab oleh telinganya.
Neela mendongak. Memberikan senyum manis pada Chiyo yang turut duduk di sebelahnya. Dia seperti biasa kelihatan sangat cantik; mengenakan gaun hijau toska terusan dengan bagian pundak terbuka, memamerkan kulit putihnya yang seperti pualam. Rambut panjangnya dibiarkan terjurai, dihiasi bando tipis berwarna senada. Kelihatan manis sekali, membuat siapa pun yang melihatnya pasti terkesima; bahkan Neela sekali pun.
“Kenapa kau duduk di sini sendirian?” tanya Chiyo.
Neela mengangkat bahu. “Aku… ingin sendirian.”
“Kenneth mencarimu,” Chiyo memberitahu, memutar kepala sejenak ke samping seolah mencari seseorang. “Dan aku menawarkan diri untuk membantu.” Dia nyengir.
“Oh.” Neela terkejut. “Aku akan—”
Neela hendak berdiri, bermaksud mencari Kenneth, namun Chiyo segera menahannya; menyentuh lengan Neela dengan jemarinya yang lentik. “Aku sudah menemukanmu, jadi biar saja dia terus mencari,” kata Chiyo, mendengus geli.
Neela tertawa. Duduk kembali di bangku. Dia memandang ke depan, tertuju pada Lea dan Malini yang menggandeng anak masing-masing, berbincang santai dengan Arata. Mayu tertidur pulas di bahunya. Dan dia menepuk-nepuk punggungnya lembut.
Ada sesuatu yang menyentak Neela; bayangan mengenai Kenneth bersama buah hati mereka kelak. Sekali lagi dia bertanya-tanya, akankah dia bahagia saat itu? Apakah Kenneth bahagia bersamanya?
“Sekarang aku dan kakak harus merayakan tahun baru di sini,” suara Chiyo menyeret Neela dari lamunan. Membuatnya menoleh dan memandang Chiyo yang masih menatap ke depan. “Padahal aku sudah mepersiapkan segala sesuatunya untuk pesta tahun baru nanti malam,” sambungnya, memalingkan wajah.
Neela tersenyum, kendati muram. “Tapi kita jadi merayakan tahun bersama kan?” timpalnya.
“Ya. Benar,” Chiyo memberi anggukan senang. “Sepertinya aku mesti berterima kasih pada Marin atas undangannya yang mendadak. Benar-benar mendadak.”
“Aku senang… kita semua bisa berkumpul di sini hari ini,” kata Neela. Senyumnya merekah manis saat mengamati Eiji dan Juna yang sedang berbicara sambil tertawa-tawa bersama beberapa dua orang lain yang tidak Neela kenal. “Sudah lama, kita tidak pernah berkumpul seperti ini.”
“Akhirnya dengan adanya ini-itu, pernikahan ini bisa dilangsungkan juga,” desah Chiyo, menyilangkan kaki. “Perjuangan Arata cukup berat hanya untuk menikah.”
Neela mengerutkan kening. “Kenapa memangnya?”
“Dia harus keluar dari keanggotaan di Kodame,” Chiyo menjelaskan pada Neela. “dan itu tidak mudah. Arata termasuk salah satu orang yang berpengaruh, jadi… banyak sekali keraguan dan pikiran-pikiran negatif yang muncul di kepala anggota yang lain mengenai keputusannya. Banyak hambatan dan rencana-rencana tertentu yang akan dilakukan oleh yang lain untuk membuatnya mengurungkan penguduran dirinya. Untungnya kakak memback-up Arata.”
“Eiji” (Neela menyempatkan diri mengerling Eiji yang masih berbincang) “memback-up bagaimana?”
“Dia yang meyakinkan Tetua dan semuanya, kalau Arata tidak akan menjadi masalah setelah keluar dari Kodame nanti.” Chiyo tersenyum senang. “Kakak bisa dibilang… menjadi penjamin bagi Arata.”
Tampang Neela cemas. “Berarti, kalau ternyata Arata—”
“Arata tidak mungkin mengkhianati kakak,” Chiyo buru-buru menyela. “Dia menghormati kakak, dan tidak mungkin melakukan hal yang bisa mengancam kakak. Dia juga tahu konsekuensinya kalau dia sampai melakukan itu. Bukan hanya dia yang dalam bahaya, tapi juga keluarga dan orang-orang terdekatnya.”
Neela tersenyum suram. Tidak menimpali. Berpikir kalau keluar dari keanggotaan Yakuza berarti merupakan keputusan yang riskan, baik untuk orang itu sendiri maupun orang dekatnya. Kalau begitu, bagaimana dengan Dai? Dia juga keluar dari perkumpulannya kan? Apa dia akan baik-baik saja?
Raut mula Neela seketika cemas. Ekspresinya membuat senyum di wajah Chiyo lenyap, berganti dengan kernyitan curiga. “Are you okay, Neela?” dia bertanya.
Neela mengangguk buru-buru, tersenyum lagi. Tapi Chiyo mendesah; tak merasa anggukan Neela adalah jawaban yang sebenarnya. “Ada yang kau pikirkan kan?”
“Tidak,” geleng Neela. “Aku cuma… berpikir kalau... sulit menjadi anggota Yakuza. Aku… mencemaskan Eiji.” Neela mengayun kepalanya ke bawah. Dia berbohong, dan tak ingin Chiyo tahu.
“Aku juga…” Tak disangka Chiyo mengatakan itu. Neela mendongak, memandangnya lagi. “Aku tahu kalau… kakak mungkin takkan bisa lepas dari perkumpulan, karena dia… sejak kecil dibesarkan dalam lingkungan itu. Dan dia sekarang telah menjadi seseorang yang sangat dipercaya dan dihormati oleh Tetua maupun anggota lainnya. Tapi…, ada kalanya aku merasa cemas. Aku ingin kakak punya kehidupan normal. Menikah; punya anak—semacam itulah.”
“Apa sekarang… Eiji belum punya pacar?” Neela bertanya dengan ringisan di wajah.
Chiyo terkekeh, dan mengangkat bahu. “Entahlah. Kakak tertutup mengenai kehidupan pribadinya padaku. Dan aku… memang tidak pernah mencampuri urusannya.”
“Andaikan…” Neela berdeham kecil, “Eiji memutuskan keluar dari perkumpulan—”
Chiyo menggeleng, membuat Neela tak melanjutkan kalimatnya. “Dia dibesarkan oleh ayah Shinji. Dia berutang budi padanya. Aku juga dibesarkan oleh mereka. Kakak sangat berutang budi, karena itu mengambil sumpah untuk tidak akan pernah meninggalkan perkumpulan bagaimana pun situasi dan kondisinya.”
 Neela bernapas perlahan, seiring kepalanya tertunduk. Dia merasa iba pada Eiji. “Dan kau… bagaimana?” Dia mendongak lagi, memandang Chiyo.
“Aku…” Chiyo memberikan jeda beberapa detik sebelum akhirnya melanjutkan bicara. “Aku sebenarnya… dijodohkan dengan Shinji.”
Neela membeliak.
“Sebagai… balasan atas kebaikan ayah Shinji…, kakak berjanji… kalau aku akan menikah dengannya.”
“Dan kau… bersedia?”
Chiyo mengangguk. Tersenyum senang.
“Kau… cinta padanya?” Neela bertanya lagi dengan penuh minat. Dan Chiyo segera menjawabnya dengan anggukan.
“Aku jatuh cinta sejak kali pertama aku bertemu dengannya,” katanya.
Chiyo terkekeh melihat ekspresi Neela sekarang. Dia kelihatannya terguncang mendengar perkataan Chiyo. Sampai tak bisa bersuara sedikit pun. “Tapi… kau sudah tahu bagaimana akhirnya,” ujar Chiyo. “Shinji mencintai Lea dan dia… kemudian pergi… tanpa tahu… bagaimana perasaanku sebenarnya.”
“Shinji tahu… kau dijodohkan dengannya?”
“Situasi tak mengenakkan kala itu, membuat tak ada yang bisa menyampaikan itu kepadanya… Dan… untuk jatuh cinta pada orang lain lagi, saat ini… menurutku terlalu cepat.”
Entah kenapa Neela jadi sedih. Memerhatikan wajah Chiyo sekarang yang berganti dengan kemuraman yang tak biasa, membuatnya dapat merasakan kesedihan Chiyo atas cintanya yang tak sampai.
“Karena itu… aku memintamu untuk mempertimbangkan perasaanmu pada Kenneth,” kata Chiyo lagi, menatap Neela lekat-lekat. “Karena aku mengerti… dan pernah merasakan kesakitan yang sama… dengan yang dia rasakan.”
Bahu Neela terempas seiring ia membuang napas perlahan.
“Tapi Neela,” Chiyo menempatkan tangannya di atas jari-jemari Neela yang tertaut di atas pangkuannya, membuatnya memandangnya lagi, “kau tetap berhak memutuskan. Ini hatimu; hidupmu… Kau yang merasakan dan menjalani semuanya. Aku… hanya bisa berkata berdasarkan perasaanku pribadi, namun… kau yang menentukan kebahagiaanmu.”
Senyum Neela merekah, bersamaan dengan tetes air yang jatuh ke pipinya. “Thanks, Chiyo,” ucapnya. Meremas jemari Chiyo sejenak, lalu buru-buru menyeka pipinya dengan punggung tangan.
Chiyo mengangguk kecil, tersenyum lembut, dan menarik tangannya. Meletakkannya lagi ke pangkuan.
“Aku sudah memutuskan…” Neela berkata, seraya menyedot hidungnya.
Kedua alis Chiyo berjingkat.
“Aku… memutuskan untuk… tidak lagi memikirkan Dai.” Suaranya terdengar mantap kendati bergetar. “Aku akan mencintai Kenneth… dan membuatnya bahagia. Aku telah… mengubur dalam-dalam perasaanku. Dan hanya kau… serta Shinji yang tahu.”
Chiyo mengerutkan dahi. “Shinji? Maksudmu?”
“Aku mengirimkan email padanya—pada Nyanyian Sendu, sahabat terbaikku…, mengenai perasaanku pada Dai… Aku menceritakan semua padanya… dan aku yakin, dia takkan pernah mengatakannya pada siapa pun.”
Neela dan Chiyo saling menatap. Tatapan sendu yang hanya mereka berdua yang mengerti arti di baliknya. Setelah itu mereka berdua menghadapkan wajah ke depan, tertarik oleh suara tawa bercampur tangis bayi yang nyaring. Sama-sama tergelak melihat Juna yang sedang memegangi Ryo seolah jijik, setelah anak itu mengencingi setelan jasnya.

Dear Nyanyian Sendu,

Apa kabarmu? Sudah lama sekali kita tidak saling menyapa. Aku merindukanmu di bawah sini, dan berharap sesekali kau turun menemuiku. Walaupun cuma untuk satu menit.
Tapi tentunya itu tidak mungkin. Kau sudah tenang di tempatmu yang sekarang. Dan kau sudah memercayaiku untuk menjalankan kehidupan yang kau berikan. Berharap aku kuat menjalani semuanya, walau tanpa dirimu.
Aku berusaha melakukan yang terbaik, kalau kau bisa melihatnya. Aku… kembali bermain musik dan menyanyi. Aku mencoba… menjadi apa yang kau harapkan… dengan bantuan Kenneth. Kau masih ingat Kenneth kan?
Kami akan menikah di bulan Februari. Di hari Valentine. Dan itu sebentar lagi. Dia sangat gembira. Semuanya juga. Dan aku… mungkin juga begitu.
Tolong jangan berpikiran aku sedih atau apa. Aku sangat mencintai Kenneth. Aku beruntung bisa menjadi pasangan hidup dari laki-laki baik yang mencintaiku, jadi tak ada apa pun yang harusnya membuatku ragu. Setidaknya itu dulu, sebelum aku menyadari ada perasaan lain yang tumbuh di hatiku. Setelah aku pulih dari amnesia. Setelah… Dai pergi.
Dai Tanaka, hadir dalam hidupku tanpa diundang. Dia amat tampan, tapi tidak membuatku langsung menyukainya. Dia berteman denganku. Dia… selalu berusaha membuatku tersenyum, bahkan saat aku mengingatnya sebagai dirimu. Dia, sama seperti Kenneth selalu ada di sampingku.
Lalu dia pergi. Begitu saja. Dan aku… entah kenapa merasa kesepian. Aku teringat terus pada dua daun yang kami petik dan tempelkan bersama di pohon cinta saat kami berdua mengunjungi Tokyo Dome. Aku tidak bisa melupakannya.
Mungkin menurut orang lain, perasaanku ini muncul karena rasa bersalah padanya. Dia membahayakan dirinya karenaku, dan aku tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk berterima kasih secara resmi atas apa yang telah dia lakukan untukku. Namun… ini bukan hanya sekadar rasa bersalah. Perasaanku ini adalah cinta yang tak kusadari, yang seiring waktu semakin naik ke permukaan dan mendesak untuk keluar. Membuatku sulit untuk tidak memikirkan dirinya; membayangkannya…, menyebut namanya.
Cintaku padanya… membuatku menggigil kedinginan. Membakar kulitku sampai ke tulang. Aku beku… hangus dengan bersamaan. Dan aku merasa tak kuasa lagi menarik oksigen melalui paru-paruku. Hatiku seolah telah terbelah jadi dua, dan aku merasa tak lengkap. Jantungku berdegup amat lemah, sehingga aku merasa lemas kapan pun aku teringat padanya. Dan namanya… Dengan hanya menyebutnya membuatku merasa… sakit karena dia tidak bisa mendengarku menyebut namanya. Dia… belahan jiwaku, Shin. Dan aku menginginkannya.
Aku tahu ini salah. Namun, inilah kebenarannya. Aku mencintai seseorang yang begitu asing dan tak pasti. Yang datang dan pergi tanpa pernah mengucap apa pun. But, hatiku… sudah tercuri olehnya. Dan aku merelakannya.
Aku tetap akan menikah dengan Kennet,. Aku akan mencintainya sepenuh hati. Membuatnya bahagia—sangat bahagia. Karena aku tahu dia juga akan melakukan itu untukku. Aku akan mengubur perasaanku pada Dai dalam-dalam. Aku akan hilangkan ingatan dirinya di kepalaku. Aku akan musnahkan semua tentang dirinya.
Ini rahasiaku, Shin… Dan aku percayakan padamu.
Terima kasih. Aku menyayangimu.

Neela


Kenneth terpaku pada layar ponselnya. Memandang kosong barisan huruf yang tertera di baliknya. Dia tak membacanya lagi. Pikirannya menerawang jauh entah kemana.
Setelah beberapa waktu, dia memasukkan ponselnya ke saku kemeja. Duduk membungkuk di atas bangku taman yang menyendiri di salah satu sudut halaman. Jauh dari lokasi dilangsungkannya acara makan malam.
Hati Kenneth hancur. Semua impiannya hancur. Emosinya tak bisa ia kenali. Darahnya seolah naik ke kepala. Namun tak ada yang ingin ia lakukan. Apa yang Neela tulis di emailnya pada Nyanyian Sendu, merupakan tanda kalau ia sudah kalah telak. Tak ada yang bisa lagi ia perjuangkan.
Sebelumnya dia tak sengaja mencuri dengar perbincangan Neela dengan Chiyo di selasar belakang hotel. Dia sedang mencari Neela yang tak terlihat sejak acara pemberkatan pernikahan selesai, dan tak menyangka saat menemukannya dia malah mendengar sesuatu yang membuat hatinya terasa terkoyak oleh ujung sembilu; mengenai perasaan Neela pada Dai.
Dan Neela, ternyata juga telah menuliskannya di surel yang dikirimkannya pada Nyanyian Sendu; dengan jujur. Penuh keyakinan. Seolah dia memang benar-benar mencintai laki-laki itu. Dai Tanaka. Yang sekarang tidak lagi terdengar kabarnya.
Neela telah membuat dirinya bagaikan lelucon yang setiap hari menari di depan matanya, sementara pandangannya tertuju ke tempat lain yang tak bisa dijangkaunya. Kenneth tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang, setelah mengetahui perasaan Neela sebenarnya.
Seseorang menepuk pundaknya tiba-tiba, menyentak Kenneth, dan membuatnya mendongak. Saat dia tahu orang itu adalah Arata, Kenneth mendesah, memejamkan mata sejenak. “Kau mengagetkanku,” katanya.
“Marin memintaku mencarimu.” Arata duduk di sebelahnya. “Jamuan makan malam sebentar lagi siap, dan kau harus segera kembali. Kalau tidak, dia akan marah-marah.”
“Kenapa tidak kau pakai saja jarimu untuk membungkamnya?” tanya Kenneth, menyeringai. Walaupun setengah hati.
Arata mendengus. “Aku tidak mempergunakan jariku lagi setelah menikah.” Dia tersenyum.
“Kau juga jadi banyak bicara sekarang.” Kenneth mengernyitkan wajah. Sementara Arata terkekeh. “Dulu…, aku sempat mengira kau punya masalah bicara.”
Family has changed me,” gumam Arata. Senyum di wajahnya sekarang kelihatan begitu senang. Dia bersungguh-sungguh atas kalimatnya. “Aku punya anak—lucu-lucu, dan istri yang…” Dia tidak melanjutkan. Menudukkan wajahnya, untuk menyembunyikan senyumnya yang malu-malu.
“Aku tidak menyangka kalau kau bisa jatuh cinta pada Marin,” ujar Kenneth diiringi kekeh.
“Aku juga,” balas Arata. “Tapi… dia bersungguh-sungguh mencintaiku; menginginkanku. Sebelumnya… aku tidak merasa akan ada seseorang yang menginginkan diriku seperti dia menginginkanku…”
Kenneth tersenyum. “You love her?
“Sebelumnya… tidak. Tapi seiring waktu—melihat kesungguhannya untuk menikah denganku, membuatku… luluh.”
Kenneth menyunggingkan senyum simpul. “Marin juga banyak berubah,” komentarnya. “Dia lebih dewasa, tidak lagi meledak-ledak seperti dulu. Apa kau memberitahunya… mengenai… perkum—”
Kalimat Kenneth terpotong oleh gelengan cepat Arata. “Aku tidak akan memberitahukan siapa pun tentang itu,” ujarnya. “Itu membahayakanku dan juga keluargaku. Lagipula” (Arata mendengus tersenyum) “keluarga Marin lebih senang dengan statusku yang adalah pengusaha dari Jepang.”
Kenneth dan Arata tertawa bersamaan.
“Dan Marin setuju berbohong mengenai itu,” tambah Kenneth, masih tertawa. “Dia benar-benar mencintaimu, Arata.”
“Kau juga akan menikah dengan Nona Neela sebentar lagi.” Arata mengangguk kecil. “Kau pasti bahagia.”
Kenneth menurunkan pandangannya. Dia teringat kembali isi email Neela yang tadi dibacanya. “Aku… tidak tahu.”
“Kau kelihatan ragu.” Arata mengamatinya.
“Aku… tidak tahu… apa dia mencintaiku.”
Arata berdecak. “Tentu saja dia mencintaimu. Tak sekali pun dia melupakanmu selama dia berpisah denganmu.”
Kenneth mengerutkan dahi.
“Sebelum kecelakaan itu; sewaktu dia di Jepang untuk persiapan konser Kotaro FUkuma yang pertama, yang dia lakukan hanya melihat beritamu dengan Marin. Dia terlihat terpukul sekali, mengetahui kau menjadi manajernya. Dia berharap kau menelponnya, namun… kau tidak menelponnya. Aku sering merasa… dia sangat kesepian.”
“Aku yang bersalah,” Kenneth menimpali. “Aku… yang membuatnya pergi jauh dariku..., dan akhirnya dia benar-benar pergi.” Kenneth menunduk lagi
Arata tidak mengerti maksud  kata-kata Kenneth. Dia menautkan alis, mencoba menerjemahkannya sendiri.
“Boleh aku minta tolong, Arata?” Kenneth mendongak, memandang Arata dengan mata yang agak berair.
“Ya? Katakan saja.”
“Bisa kah kau… mencari tahu… keberadaan Dai.”
“Untuk apa?” Arata kelihatan terkejut.
Kenneth mengangkat bahu. “Hanya ingin tahu. Tolong berikan alamat lengkapnya. Dan juga nomor telepon yang bisa aku hubungi.”
“Bisakah aku tahu, untuk apa alamat itu?” Arata memandang Kenneth dengan tatapan curiga. “Dia berbahaya, dan bukan orang yang kau bisa temui begitu saja.”
“Bukankah dia sudah keluar dari perkumpulannya?” Kenneth bertanya.
“Bukan berarti dia tidak berbahaya. Lagipula untuk apa—”
“Tolong.” Kenneth mencakupkan kedua tangannya di dada. “Aku mohon padamu. Dan aku berjanji, tak akan ada yang tahu aku mendapatkan informasi itu darimu.”
Arata tidak bicara. Kedua matanya berkilatan menatap Kenneth yang masih memandangnya dengan tatapan penuh permohonan.
“Aku akan coba cari tahu,” kata Arata suram, sejenak kemudian.

Januari tiba. Dan sudah dua minggu sejak pernikahan Arata dan Marin dilangsungkan. Dan seperti calon pengantin lainnya, Neela pun sudah sangat sibuk mempersiapkan pernak-pernik pernikahan. Chiyo membantu—dia menawarkan diri untuk mengatur semua hal yang berhubungan dengan peralatan dan perlengkapan pernikahan Neela dan Kenneth Februari nanti, dan dia sepertinya lebih bersemangat daripada Neela menyambut semua itu.
Tapi kemudian semua itu terpaksa ditunda, dikarenakan Kenneth meminta Neela berangkat ke New Delhi bersamanya untuk bertemu seorang seniman musik kenamaan India yang hendak melakukan kolaborasi bersamanya. Dan karena Kenneth melihat hal tersebut adalah peluang yang baik, maka dia sama sekali tak keberatan melewatkan persiapan acara sakral tersebut. Beralasan kalau semua persiapan bisa dilakukan oleh wedding organizer tanpa kehadiran mereka berdua. Membuat Chiyo kesal setengah mati padanya, dan teman-temannya terheran-heran atas tindakannya tersebut.
“Ini acara penting, Kenneth,” Lea protes padanya. Dia sampai mendatangi Kenneth ke rumahnya satu hari sebelum keberangkatannya dengan Neela ke New Delhi. “Kau tidak bisa pergi beberapa minggu sebelum acara pernikahanmu. Kau harus fokus. Kalau tidak… akan ada hal buruk yang terjadi.”
“Ini kesempatan baik, Lea,” timpal Kenneth santai, seraya memasukkan beberapa helai baju ke tas kulitnya. “A.R Rachman adalah seniman yang cukup terkenal. Dan bisa membuat Neela lebih dikenal lagi di manca negara.”
Lea duduk dengan gusar di atas kasur. Memegangi perutnya yang sedikit buncit. Dia sedang hamil dua bulan, dan dia sedikit over protektif dengan kandungannya yang sekarang.
“Santai saja, Lea…” Kenneth berkata. Tersenyum. “Hati-hati dengan perutmu. Kau tidak perlu jadi emosi begitu.” Dia menarik menutup risleting tasnya.
“Bagaimana aku tidak emosi. Ini acara yang… perlu persiapan matang, Kenneth. Sedikit waktu untuk mempersiapkan acara semacam ini. 14 Februari sebentar lagi.”
“Lea,” Kenneth menatapnya lekat-lekat seolah meyakinkan. “Nothing will happen, okay? Lagipula… Juna juga sedang di New Delhi kan. Kami akan ketemu dia di sana.”
Lea tidak bisa bicara lagi. Dia hanya memperdengarkan decak kecil yang jengkel seraya memandang lantai di bawahnya. “Ngomong-ngomong,” dia bicara lagi, “kau tidak membawa banyak pakaian?”
“Aku hanya sebentar di sana,” sahut Kenneth.
“Kau bilang dua minggu atau lebih?”
Kenneth mengangkat bahu. “Ya… Bisa jadi begitu.”
Setelah itu dia berpaling. Melangkahkan kakinya ke arah pintu kamar. dan menghilang di baliknya.


(Bersambung)

Gambar dari sini

Note:

Nggak bisa selesain langsung ternyata, karena pengen endingnya perfect.
So this chap's really the 'almost ending' chap, before the real final chap.

Saya kasih deh kesempatan kalian vote; mau Neela sama Kenneth atau Neela sama Dai, sebelum nyesel.
Dan atas kesediaan kalian semua ngebaca semua seri A Lot Like Love selama ini (dari seri 1 - yang sekarang) saya ucapin banyak terima kasih. Semoga cerbung ini terus ada di hati kalian.

I love you so much, Guys.
Let's wait the season finally... 

Lita

Read more...

A Lot Like Love (37)

>> Friday, January 18, 2013



Baca: A Lot Like Love (36)


Prejudice



SEMALAMAN Kenneth tidak bisa tidur. Hanya berbaring di samping Neela seraya memerhatikan wajahnya yang terlelap.
Benak Kenneth seakan diselubungi oleh benang kusut, membuat otaknya seolah penuh, dan tak mengijinkannya beristirahat. Membuatnya tetap terjaga sampai pagi menjelang.
Esok harinya pun dia masih merasa gamang. Bertanya-tanya mengenai keganjilan sikap Neela kemarin, yang dengan pasrahnya menyerahkan diri kepadanya. Tapi Kenneth yakin kalau itu bukan kepasrahan, melainkan keterpaksaan;mendekati frustasi, kalau bisa dibilang. Dan pastinya ada hal yang memicunya, sehingga membuat Neela nekat untuk melakukan tindakan yang sebenarnya tak ingin ia lakukan—Kenneth tak yakin Neela bisa bersikap agresif seperti itu. Jadi kenapa? Kenneth merasa penasaran. Pasti ada sesuatu yang disembunyikannya.
Karena itu Kenneth mencoba menghubungi Eiji; berpikir kalau Eiji mungkin tahu penyebab keanehan sikap Neela. Tapi Eiji pun ternyata malah kedengaran heran, balik bertanya kepadanya, “Memang kenapa Neela?
Well…  Dia agak aneh sebenarnya…” kata Kenneth, menuangkan air putih dari botol yang baru diambilnya dari dalam kulkas ke gelas kosong yang dipegangnya.
Aneh bagaimana?
Kenneth berniat untuk menceritakan kejadian semalam pada Eiji, tapi kemudian berpikir kalau Eiji pasti akan langsung murka mendengarnya. Jadi Kenneth cuma berkata padanya mengenai sikap Neela yang lebih banyak diamnya dari pada sebelumnya, walaupun dia juga tidak yakin akan kalimatnya.
Dia memang agak murung sebelum kembali ke Jakarta,” Eiji menimpali, setelah sebelumnya menghela napas panjang. “Sebelumnya dia tidak begitu.
Kenneth mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Memikirkan perkataan Eiji, seraya menelan air putih yang baru saja diteguknya.
“Apa… ada yang terjadi?” tanyanya kemudian. Gelas yang dipegangnya diletakkan di atas meja, dan dia berjalan menuju ke arah pintu teras belakang yang terbuka.
Sepertinya dia syok…, kembali ke tempat di mana dia mengalami kecelakaan dulu,” kata Eiji.
“Maksudmu?”
Neela dan Chiyo mengunjungi Tokyo Dome malam Natal lalu,”—Kenneth mengempaskan napas tajam—“dan… dia histeris. Menangis. Lalu keesokan harinya mengatakan ingin pulang ke Jakarta, karena kangen padamu. Aku tidak apa-apa tentu, itu haknya. Tapi entah kenapa…, aku merasa ada yang mengganggunya… Membuatnya memutuskan pulang segera ke Jakarta.
“Tapi…, dia tidak mengalami kecelakaan di Tokyo Dome kan? Maksudku—” Kenneth menghentikan langkah. Berdiri memandang kosong halaman rumput belakang rumah yang lembab. “dia kecelakaan di jalan raya, dekat Tokyo Dome. Bukan di dalam Tokyo Dome-nya. Jadi, sebenarnya seharusnya tempat itu tidak membuatnya trauma.”
Entahlah, Ken. Kita tidak tahu… bagaimana perasaannya kan? Kita tidak pernah mengalami apa yang Neela pernah alami. Jadi, kita tidak bisa berkata kalau dia tidak seharusnya merasa trauma dengan berada di tempat itu,” kata Eiji bijak.
Tapi Kenneth masih merasa bimbang. Yakin, kalau sikap Neela kemarin malam ada hubungannya dengan Tokyo Dome. Tapi, dia juga merasa yakin, kalau Tokyo Dome bukanlah tempat yang seharusnya membuat Neela paranoid. Karena kecelakaan tersebut tidak terjadi di sana.
Ken?” Eiji memanggil, mengisi keheningan sesaat.
Kenneth mengejap. Mengembuskan napas dalam satu empasan tajam, dan berkata, “Ya?”
Kalau kau masih penasaran,” Eiji berkata, “aku akan tanya pada Chiyo. Siapa tahu Neela mengatakan sesuatu padanya.
Thanks,” ucap Kenneth, mengangkat tangannya yang bebas dan menyapu rambut depannya ke belakang. “Just inform. Apa pun itu.”
Eiji melontarkan kata ‘oke’ pelan. Kemudian menanyakan keberadaan Neela pada Kenneth.
“Tidur. Dia belum bangun,” Kenneth menjawab.
“Kau sekarang berada di apartemennya?” Suara Eiji mendadak sinis.
I didn’t do anything to her, okay?” Kenneth berkata buru-buru. “Lagipula aku sudah sering menemaninya tidur—”
Itu dulu…, saat aku belum tahu kalau kau itu normal,” sela Eiji. “Dan waktu itu Neela sakit. Sekarang…”
“Oke,” Kenneth memotong, seraya mengangkat satu tangannya seolah menyerah. “Sekali ini saja… karena dia yang memintaku. Aku sudah katakan padamu kalau sikapnya aneh sejak kemarin.”
“Apa pun alasannya… Just wait till the time’s come.
Kenneth tersenyum simpul. “I know, Eiji. Jangan khawatir. Aku tidak akan macam-macam.”
Eiji memperdengarkan tawa seperti cegukan, kemudian berkata lagi, “Neela sudah seperti adikku sendiri. Dia keluarga bagiku. Dia juga titipan dari seseorang yang sangat aku hormati, jadi… aku tidak ingin dia disakiti oleh siapa pun, bahkan olehmu. Just remember, Kenneth, aku bisa melakukan apa pun yang kumau pada seseorang tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Jadi pikir masak-masak sebelum melakukan sesuatu.”
Itu jelas ancaman. Dan meskipun datangnya dari Eiji, Kenneth yakin dia tidak main-main dengan perkataannya. Eiji sangat sayang pada Neela. Dan untuk Neela dia bisa melakukan apa pun demi menjaganya dari bahaya yang mungkin mengancam, dan bisa melenyapkan orang yang ingin menyakitinya hanya untuk memastikan kalau orang tersebut tak lagi mengganggunya. Karena itu Kenneth menjawab ‘oke’ dengan mantap. Dan menambahkan dengan, “Kau tak perlu cemas, Eiji. Aku tidak akan macam-macam padanya.”

Summer Hill, Shimla, India.


Salju turun. Lagi. Warna putihnya menyelimuti rumput hijau basah di halaman depan rumah, membuatnya terlihat seperti salad yang dilapisi mayonnaise. `
Dai berdiri di depan jendela kaca. Satu tangannya memegang cangkir berisi coklat panas yang dibuatnya. Sambil menyesapnya sedikit demi sedikit, dia memandang ke halaman rumput luas di depan rumah peristirahatan yang dia tinggali selama enam bulan terakhir. Menengadahkan kepala ke atas, memandang bulatan merah yang sedikit demi sedikit tenggelam di balik gerumbulan pucuk cemara di lereng bukit.
Sejak pertama sampai di rumah ini hingga sekarang, Dai tidak pernah ingin melewatkan pemandangan indah saat senja. Entah kenapa, hal itu menyejukkan hatinya. Membuatnya tenang, walaupun cuma untuk beberapa waktu.
Kau sudah kembali?
Seseorang bertanya dari belakang. Disusul oleh suara denting yang beradu.
Dai mengerling jendela di depannya, memandang bayangan Mamoru yang bergerak di belakangnya, kemudian berpaling.
“Sore. Kau sedang tidur. Aku tak mau membangunkan,” katanya, berjalan mendekat.
Mamoru menuangkan cairan hitam dari ketel stainless ke dalam cangkir kelabu di atas meja dapur. Dia meletakkan ketel kembali ke pemanasnya, setelah itu menggeser badan, bersandar di depan meja dengan siku terlipat. Memandang Dai yang telah duduk di kursi di depannya.
“Apa ibuku tahu?” tanya Dai, meneguk cokelatnya lagi.
“Tidak. Tapi dia sempat menelpon. Dan aku merasa bersalah berbohong padanya,” jawab Mamoru. Kopinya mengepulkan asap hangat dari cangkir di hadapannya.
“Kau tidak perlu berbohong padanya.”
Mamoru mendengus sinis. “Mudah untukmu berkata begitu.” Dia menarik gagang cangkirnya dan mendekatkan cangkir tersebut ke mulutnya. “Kau tidak diserahkan tanggung jawab untuk menjaga seseorang.”
Dia kemudian menyeruput kopinya.
Dai menggigit bibir bawahnya. Menyunggingkan senyum yang menunjukkan keheranan. “Bukankah… aku tidak perlu dijaga lagi, Mamo?” tanyanya, meletakkan cangkir yang dipegangnya di atas meja. “Kita semua sudah sepakat. Aku keluar dari perkumpulan; tidak lagi menjadi bagian dari O ushi, dan tidak akan terlibat dengan apa pun kegiatan yang dilakukan O ushi.”
“Dengan keluar dan meninggalkan perkumpulan bukan berarti tidak akan ada bahaya yang mengancammu.” Mamoru balas tersenyum. “Ayahmu masih punya peran penting di dalamnya. Kau putranya satu-satunya. Dan itu membuatmu bisa menjadi semacam target untuk beberapa pihak yang berkepentingan.”
Setelah itu Mamoru meletakkan cangkir kopinya. Bersebelahan dengan cangkir cokelat Dai.
“Biar saja kalau begitu,” timpal Dai. Memiringkan kepala, dan mengerutkan bibirnya. “Let them come. Let them shoot me, or kill me. Aku tidak peduli lagi. Aku tidak punya hidup untuk dijalani lagi kan?”
Mamoru memandang Dai lekat-lekat dengan sudut bibir yang melengkungan senyum samar. Kedua matanya yang kecoklatan berkilatan oleh sinar lampu temaram di atas. “Perempuan itu… benar-benar membuatmu berantakan,” ujarnya kemudian. “You love her; risked your life for her. Dan pada akhirnya…” (Mamoru mengangkat pundaknya sejenak) “dia meninggalkanmu untuk laki-laki lain.”
Mata Dai menyipit. Dagunya terangkat sedikit.
“Jadi… kau bertemu dengannya?” Mamoru bertanya, mencairkan suasana. Meraih cangkirnya lagi dan meminum kopinya.
Dai menundukkan wajahnya sejenak, kembali memandang Mamoru dengan kernyitan bingung. “Maksudmu?”
“Kau ke Jepang kan? Kau ke Tokyo Dome malam Natal kemarin.”
“Bagaimana kau tahu?”
Sudah tugasku untuk tahu kemana kau pergi.”
Dai mengembuskan napas. Menunduk lagi.
“Jadi…” Mamoru melanjutkan, “kau bertemu dengannya?”
Dai mengangkat wajah. Bibirnya membuka sedikit, kelihatan seperti akan mengatakan sesuatu. Namun kemudian dia menutupnya. Hanya memberikan anggukan kecil sebagai jawaban atas pertanyaan Mamoru.
“Dia sehat?”
Dai mengangguk lagi. “Dia juga cantik. Memakai Yukata, dengan rambut disanggul dan mengenakan hiasan rambut yang imut sekali.”
“Kau menyapanya?” tanya Mamoru, diiringi senyum geli.
Dai menggeleng, dan menutup matanya sejenak. Berusaha mengingat malam itu, saat dia melihat Neela di Tokyo Dome. “Aku tidak sanggup,” dia berkata dalam suara pelan yang muram. “Mungkin… terlalu terkejut melihatnya berada di sana. Aku tak menyangka… dia ada. Dan dia kelihatan begitu sedih…”
“Sedih?”
“Dia menangis. Melihatku.”
“Itu berarti… dia merasakan apa yang kau rasakan padanya.”
Dai menggeleng. “Rasa sedihnya karena… dia merasa bersalah karena aku tenggelam.”
“Darimana kau tahu?” tanya Mamoru, menarik punggungnya ke belakang. Berdiri tegak dan menelengkan kepala. “Selama setahun ini… kalian tidak pernah bertemu. Sejak kau tenggelam; sejak Neela mengingat semuanya.”
“Mengingat semuanya,” Dai buru-buru bicara, “berarti mengingat juga perasaannya pada Kenneth. Laki-laki yang akan dinikahinya sebentar lagi, kalau kau lupa.”
“Perempuan itu… menyesatkan, Dai,” komentar Mamoru. “Wajah teduh mereka, menipu. Membuatmu sulit untuk mengetahui bagaimana perasaan mereka sebenarnya. Kau harus menggalinya dalam-dalam untuk tahu… rahasia yang mereka sembunyikan di baliknya.”
“Neela cinta Kenneth,” Dai tetap pada pendiriannya. “Dan aku harus menerima kenyataan itu.”
“Oke…” kata Mamoru, mengedikkan bahu.
Setelah itu bersamaan keduanya meraih cangkir masing-masing dan meneguk isi di dalamnya, dan tak bersuara lagi. Ada sesuatu yang datang di benak Dai, dan kemungkinan Mamoru juga begitu.
Sementara di luar, gelap telah menyebar. Mengantarkan butiran salju yang jatuh dalam keheningan bersama desah angin yang mengantarkan hawa dingin yang merayap.
Dai meletakkan cangkirnya dan bangkit dari kursi. Menaikkan kerah sweater wol hitamnya dan berjalan menuju jendela kaca. Pandangannya lurus mengamati salju yang meluncur turun di baliknya.
Aku suka salju.
Suara Neela terngiang di telinganya. Dan Dai memandang bayangan semu Neela yang berdiri di sebelahnya, tampak takjub melihat salju di baliknya.
Aku sangat suka salju,” katanya lagi.
“Aku juga, Neela…” balas Dai, tersenyum. “Aku juga.”
Dai kemudian memandang lurus ke depan lagi. Menyilangkan tangannya, menikmati pemandangan di depannya. Bayangan Neela telah lenyap dan dia kembali dalam kesendirian yang menyesakkan.
Kau gila, Dai, dia berkata pada dirinya sendiri. Kau selalu membayangkan seolah Neela ada bersamamu. Halusinasi itu harus segera dihentikan atau kau akan benar-benar gila. Tidak bisa membedakan khayalan dengan kenyataan.
 Tapi Dai tak memedulikan suara waras itu. Karena cuma khayalan itu yang menguatkannya untuk menghadapi kenyataan kalau Neela takkan pernah akan datang lagi kepadanya. Takkan pernah didapatkannya.

Sudah lama sekali Neela tak pernah membuka blog Nyanyian Sendu. Blog yang dibuat oleh Shinji, dan memuat banyak puisi hasil karyanya yang sebagian besar telah disadur oleh Neela menjadi lagu, yang juga mengantarkan kesuksesannya sebagai seorang pemusik dan penyanyi di awal karirnya. Tak ada siapa pun yang tahu mengenai blog ini, selain Neela dan teman-teman dekat Shinji tentu, karena selain memang sekali pun tak pernah disebutkan, blog itu telah dikunci. Dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengaksesnya.

Sejak Shinji meninggal, tak sekali pun Neela mengunjunginya. Berpikir kalau dengan melihat puisi-puisi yang terpampang di sana, akan membuatnya semakin sedih atas kepergian Shinji. Tapi entah kenapa, hari ini Neela ingin sekali membukanya. Dia merasa rindu pada Shinji, dan merasa, dengan membaca semua puisinya, akan mengurangi sedikit kegalauan hatinya. Dan memang benar, perasaannya jauh lebih baik daripada sebelumnya.
Tadi siang Neela terbangun di tempat tidur Kenneth. Mengenakan baju tidur yang tadi malam dikenakannya. Dan dia merasa tolol sekali, begitu teringat kalau Kenneth telah menolak dirinya. Membuatnya seolah ingin lenyap saja dari Bumi.
Neela tidak tahu bagaimana dia bisa berakhir dengan melakukan apa yang dilakukannya semalam. Nekat mengenakan baju tidur seprovokativ itu dan menyerahkan dirinya pada Kenneth setelahnya. Yang dia inginkan adalah tidak lagi memikirkan laki-laki lain selain Kenneth. Dan dia berpikir dengan mengikat dirinya secara fisikal dengan Kenneth adalah satu-satunya jalan yang terbaik. Tapi sayangnya, itu bukan keputusan yang tepat, dan jelas tidak berhasil sama sekali, karena Kenneth…, dia laki-laki baik. Dia terlalu mencintai Neela sampai-sampai tidak ingin menyentuhnya sebelum waktunya.
Dia bukan laki-laki bodoh, pikir Neela. Akulah yang bodoh.
Sekarang Neela bengong di depan layar laptop yang membuka. Memandang kosong tampilan blog Nyanyian Sendu di hadapannya. Penyesalan kembali datang, bersamaan dengan rasa sakit di hatinya. Dia menutup mata dan melihat wajah Kenneth yang tersenyum bahagia padanya. Lalu sosok Dai muncul; sosok yang dilihat Neela saat berada di Tokyo Dome tempo hari. Tersenyum simpul yang muram, mengungkapkan kesedihan yang dalam.
Senyum itu membuat Neela hancur, karena senyum itu begitu menusuk dan terasa menyakitkan. Senyum Dai seolah mengungkapkan perasaannya mengenai cinta yang takkan pernah sampai. Yang walaupun begitu besar, tidak akan pernah bisa disatukan.
Mata Neela panas lagi karena itu. Dia menyeka pipinya yang basah oleh air mata yang meluncur turun tanpa dia sadari.
Kenneth sangat mencintaimu, Neela.” Suara Chiyo yang bergaung di telinganya terdengar menghakimi. “Kau tidak boleh egois.
Aku tidak pernah melihatnya sebahagia itu,” kini suara Bastian yang terdengar. “Buat dia bahagia, oke?
I love you.” Suara Kenneth berbisik lembut di telinganya.
Neela mencintai Kenneth. Benar-benar mencintainya. Tapi cinta itu tidak membakarnya, seperti cinta yang dirasakannya untuk Dai. Dia rindu pada Kenneth, tapi rindunya pada Dai lebih besar dan seolah membunuhnya perlahan. Cinta untuk Dai menyakitkan, dan membuatnya seolah gila. Sedangkan cintanya pada Kenneth…
Neela tak berani membandingkannya lagi. Takut dengan begitu, dia akan melakukan sesuatu yang membuatnya akan menyakiti Kenneth dan orang-orang yang menyayanginya. Tapi itu adalah kebenarannya. Perasaannya pada Kenneth sudah tak sama lagi. Dai telah merebutnya.
Tapi Kenneth, telah memberikan segalanya untukmu, Neela. Itu kata suara di kepalanya. Tidak bisakah kau mencintainya lagi, seperti dia yang selalu mencintaimu? Cinta, tidak harus memiliki kan?
Neela menarik napas. Kembali memandang monitor laptopnya. Setelah itu dia menurunkan kedua kakinya. Menyeret kursi mendekat ke meja. Tangannya di sisi laptopnya, menariknya maju.
Setelah termenung beberapa waktu, Neela mendesah. Meraih mouse yang teronggok di sebelah lap top dan menggerakkanya sejenak. Telunjuknya menekan salah satu tombol, melepaskan mousenya, meletakkan jemarinya di atas keyboard, dan mulai mengetikkan sesuatu di layar putih yang baru saja membuka.
Cuma ini yang bisa dia lakukan; mengungkapkan rasa cintanya pada Dai, lalu menyimpannya serapat mungkin. Dia akan berteriak, histeris, dalam kebisuan yang takkan pernah mengucap mengenai perasaannya pada laki-laki itu. Cuma ini satu-satunya cara.
Cuma ini.

(Bersambung)
gambar dari sini
Note:
Hore! Satu Chapter lagi. Stay tune Guys!

Read more...
Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP