Teja: Chapter 1 & 2

>> Saturday, December 28, 2013



PROLOG



AKU berdiri tak seberapa jauh di hadapannya. Memandangnya menatapku dengan mata besarnya yang tak lagi berjiwa.
Dia bukan lagi dirinya. Sama sekali bukan. Aku benar-benar tidak mengenalnya.
Aku telah gagal. Gagal melindunginya. Gagal melakukan hal yang seharusnya kulakukan untuk menjaganya tetap di sisiku. Dan akibatnya, sekarang... aku harus menebus kegagalan itu dengan mengakhiri hidupnya. Mengakhiri hidup seseorang yang sangat kucintai, dan itu... menyakitkan.






1
Sang Téja




“KENAPA aku yang harus melakukannya?”
“Karena itu hukumanmu.”
“Tapi aku pemimpin Soréngpati[1]. Aku Panglima Perang Mayangda. Kalau aku melakukan tugas itu, bagaimana dengan pasukanku?”
“Tangguh akan menggantikanmu untuk sementara...
“Tangguh? Tapi—”
“Dia kan sahabatmu, jadi tidak usah cemas dia akan merebut posisimu.”
“Bukan—”
“Kau harus melakukannya Séna! Kalau kau menolaknya, para Tetua akan mengganti hukumanmu dengan hukuman paling berat yang pernah ada, mengingat kesalahan fatal yang kau lakukan kemarin. Dan kau sendiri tahu… apa hukuman paling berat yang akan mereka berikan.”

***

Aku tak percaya aku mau melakukan ini, gerutuku sekali lagi dalam hati. Menjalani hukuman seperti ini hanya karena melakukan hal paling rasional yang kupilih demi hidupku, yaitu menolak menikah dengan putri salah satu Tetua. Hal itu kulakukan karena aku memang belum mau berkeluarga. Aku tidak suka bila suasana hatiku naik turun karena bertengkar dengan seorang perempuan yang disebut istri, yang akan mengatur-ngatur hidupku seumur hidup (benar-benar seumur hidup karena Tanu seperti kami tak bisa mati seperti manusia). Harga diriku sebagai Panglima Perang tertinggi Mayangda bisa jatuh kalau aku diperintah ini-itu, apalagi oleh perempuan. Dan sayangnya penolakanku itu dianggap kesalahan fatal oleh para Tetua dan juga penduduk Mayangda, yang berujung jatuhnya hukuman untukku. Sial.
Jadi aku harus turun ke Bumi (bukan hanya itu saja hukumannya, tentu saja). Merubah semua molekul tubuhku sepadat manusia, agar dapat berpenampilan seperti mereka. Dan itu bukan hal yang menyenangkan sama sekali. Selain sakitnya luar biasa, menyamar menjadi seorang manusia juga menjatuhkan harkat dan martabatku. Karena jujur saja, aku tidak suka pada manusia, meskipun Yang di Atas sangat mencintai mereka. Menurutku manusia itu makhluk manja dan tidak tahu diri. Sering sekali berbuat kesalahan, meskipun sebenarnya tahu kalau perbuatan mereka salah, kemudian dengan gampangnya memohon untuk dimaafkan. Dan seperti biasa, Yang Di Atas akan luluh dan mengampuni mereka. Sungguh menyebalkan.
BRUG!
Aku terdorong ke samping. Seseorang baru saja menyenggolku dengan keras. Aku mendongak buru-buru, mendelik galak pada orang yang menyenggolku. Namun sepertinya orang itu tak menyadari perbuatannya. Laki-laki itu tetap berdansa gila-gilaan seperti halnya orang-orang di dalam ruangan ini. Dan mereka semua sepertinya tak memedulikan apa pun lagi kecuali berdansa. Melonjak-lonjakan kaki mereka naik turun, menggoyangkan kepala ke kiri dan kanan, tanpa terlihat lelah sedikit pun, padahal tubuh mereka sudah banjir keringat. Akhirnya aku cuma mendesah, dan berpikir untuk tidak meluapkan emosiku pada orang itu. Tak ada gunanya.
Aku kembali berjalan. Menyeruak keramaian yang sangat padat di dalam kelab malam dimana aku sekarang berada. Mencari-cari sosok yang harus kutemukan malam ini juga.
Harus malam itu. Saat bulan mengalami gerhana, kau sudah harus menemukannya.” Aku teringat pesan Uma, Sang Ira atau Pelihat Takdir kepercayaan Mayangda, yang juga adalah bibiku.
Karena ‘penglihatan’nyalah hukumanku itu diberikan, yang menurutku bukan hukuman sama sekali, melainkan tugas terselubung. Kenapa tugas terselubung? Karena apa yang sedang kulakukan ini, memang tugas yang dilakukan sembunyi-sembunyi; tanpa sepengetahuan para Malaikat. Karena kalau sampai mereka tahu ada Tanu yang turun dengan maksud ikut campur dalam kehidupan seorang manusia, mereka akan luar biasa marah. Para Malaikat berkeyakinan bahwa tak ada yang lebih berhak mencampuri urusan para manusia selain Tuhan Yang Kuasa, yang menciptakan mereka.  Selain Dia, siapa pun, baik para Malaikat apalagi kaumku, tidak punya hak untuk turut campur urusan manusia. Tapi, toh sekarang sudah dilanggar. Dan sialnya, akulah yang terancam terkena murka mereka; para Malaikat.
Sebenarnya itulah hukumanku; menanggung beban kesalahan para Tetua apabila nantinya para Malaikat sampai tahu mengenai tugas ini.
Aku berhenti persis di tengah lantai dansa. Terimpit di tengah orang-orang yang tampaknya semakin lama semakin gila. Kepalaku bergerak ke kanan dan ke kiri, mencari-cari. Dimana orang itu, aku bertanya dalam hati. Uma bilang dia seharusnya berada di sini. Dan kenapa juga aku tak bisa melihat aura orang-orang di sekitarku?
Tentu saja tidak bisa, sebuah suara terdengar di dalam kepalaku. Suara Galuh, adik perempuanku, yang adalah Pratiwi—Ahli Bumi. Trinitra[2]mu tidak berfungsi setelah kau berubah menjadi manusia. Matamu sekarang tidak sama dengan Tanu. Bahkan semua kekuatan yang kau miliki selama di Mayangda sudah tak ada lagi. Kau benar-benar manusia sekarang. Bila kau menginginkan semua kekuatanmu kembali, kau harus pergi ke salah satu Bendu yang ada di Bumi. Apa kau lupa?
Aku mengeluh. Aku benar-benar lupa tentang itu. Bagaimana bisa hal sepenting itu luput dari ingatanku? Seharusnya aku turun lebih awal untuk menemui Bendu demi memulihkan kekuatanku, dan bukannya langsung berangkat ke tempat ini. Tanpa kekuatan yang kumiliki, aku merasa hampa. Merasa mudah kena serang.
Aku tahu, balasku dengan nada kesal. Sudah, jangan ganggu aku. Kau hanya akan menggangguku.
Jangan konyol, timpal Galuh galak. Ini kali pertama kau turun ke Bumi, dan kau pasti butuh bantuanku untuk menjelaskan banyak sekali hal yang tak kau ketahui. Kehidupan di Bumi itu kompleks. Dan manusia itu rumit.
Kalau kau terus mencampuri urusanku, kau akan membuatnya tambah rumit. Dan aku tidak butuh bantuanmu.
Kau keras kepala, Kak, Galuh kedengaran jengkel. Aku hanya ingin membantu.
Aku tidak ingin kau bantu!
Terserah kau saja. Kita lihat saja nanti, kau pasti akan meminta bantuanku.
Tidak akan.
Ya sudah. Aku tidak akan menolongmu lagi kalau begitu. Bahkan bila kau merengek padaku.
Yang tampaknya akan mustahil sekali.
Sebelum aku pergi, aku cuma mau memberitahu kalau Bendu terdekat yang bisa kau temui
Oh, pergilah! Kau menjengkelkan.
Setelah itu suara Galuh tak lagi terdengar di kepalaku. Entahlah, apakah dia pergi atau hanya diam dan masih memantauku; aku tak peduli. Yang pasti aku tak ingin dia nimbrung di kepalaku. Aku tidak suka bila ada yang memasuki benakku, karena mengganggu konsentrasi dan juga privasiku. Tanu yang lain lebih senang bicara tanpa menggerakkan bibir mereka, tapi aku… Buat apa ada mulut kalau begitu, kalau tidak digunakan? Dan lagi… aku tidak suka dibantu dalam hal apa pun oleh siapa pun, bahkan keluargaku sendiri, terkecuali Uma tentunya. Aku Panglima Perang Mayangda, yang memiliki Soréngpati berjumlah lebih dari lima ribu pasukan, dan aku terbiasa menyelesaikan segala masalah sendirian.
Tapi sekarang, yang menjadi masalah adalah tanpa Trinitraku aku tidak akan bisa melihat cahaya aura manusia di sekelilingku. Dan itu akan membuatku sulit untuk menemukan orang yang harus kutemukan. Dan tidak akan cukup waktu bagiku pergi ke tempat tinggal Bendu yang tadi disebutkan oleh Galuh tanpa kekuatanku. Gerhana bulan akan terjadi sebentar lagi, jadi tidak ada yang bisa kuperbuat selain mencarinya.
Aku berdecak kecil, kemudian mendesah. Kalau begini aku tidak akan bisa menemukan orang itu. Bisa gawat. Jadi aku memutuskan untuk menekan sedikit harga diriku, dan melakukan satu-satunya hal yang bisa kulakukan. Memejamkan mata dan berkonsentrasi.
Aku bilang juga apa, suara nyaring kecil segera saja hinggap di telingaku, kau pasti butuh bantuanku, lanjut Galuh segera, penuh kemenangan.
Bisakah kau berhenti ngoceh dan lakukan tugasmu saja, tukasku.
Ini bukan tugasku, balas Galuh. Ini bantuan untukmu. Kenapa sih, kau malu sekali mengakui kalau kau butuh bantuan—(aku memutar mata ke atas). Apa kepalamu bisa mengempis kalau ada orang yang lebih cakap darimu membantumu?
Aku bertahan mati-matian untuk tidak murka pada Galuh. Berupaya untuk tidak mengusirnya lagi. Dari dulu dia memang senang sekali berdebat denganku. Apalagi saat dia  kembali dari Bumi dan lulus menjadi Pratiwi dengan nilai tertinggi di antara rekan-rekannya yang lain, jiwa argumentasinya meningkat dua kali lipat dari sebelumnya. Tapi di luar itu, dia yang paling perhatian padaku dan suka sekali membantu dalam banyak hal. Meskipun bantuannya kadang terlalu berlebihan dan lebih sering kutolak daripada kuterima.
Tolong—aku tampak putus asa sekali kedengarannya, kau temukan segera orang itu, kalau kau memang benar-benar ingin menolongku.
Tak ada suara. Aku mengernyit. Bingung sekaligus cemas kalau keheningan tiba-tiba itu pertanda bahwa Galuh pergi; tak mau membantuku.
Aku baru saja akan memanggil nama Galuh, untuk sekadar mengecek keberadaannya ketika mendadak dia kembali bersuara. Yang kau cari berada persis berada di bawah lampu bundar di tengah lantai dansa, dia memberitahu. Dan kalau kau boleh kutambahkan, kau sebaiknya cepat, karena gerhana akan terjadi sebentar lagi.
Kakiku segera bergerak menuju ke tengah ruangan. Menghalau orang-orang yang menghalangi jalanku; tak peduli mereka berteriak marah padaku—toh aku tak mendengar. Suara musik yang dimainkan kelompok band di atas panggung jauh lebih keras dibandingkan suara orang-orang itu—karena tersenggol dan terdorong olehku. Dan segera berada di tengah lantai dansa; berhadapan dengan seorang…
Perempuan? Kau pasti mempermainkanku, Galuh. Aku luar biasa kesal padanya.
Bagaimana kau bisa berpikir aku mempermainkanmu pada saat genting seperti ini? balasnya sengit.
Dia perempuan.
Dia satu-satunya manusia di tempat itu yang memiliki sinar aura yang kau cari. Kalau kau tidak percaya…
Diamlah!
Dasar tidak tahu terima kasih!
Galuh diam lagi. Dia marah. Tapi tidak ada waktu untuk merisaukan hal itu, ada hal penting di hadapanku sekarang yang perlu dibereskan. Masalah adikku itu bisa kuurus belakangan.
Aku tidak dapat melihat jelas wajah perempuan di depanku ini, karena lampu di dalam kelab malam ini terlalu redup. Satu yang pasti, yang bisa kukatakan adalah tubuhnya tidak terlalu tinggi, namun cukup. Sesuai dengan badannya yang kurus. Tidak seperti perempuan lain di sini yang berpakaian sangat terbuka dengan make up mencolok, penampilannya sederhana, hanya mengenakan kaus putih polos dan celana jins pendek.
Dia sedang bergoyang dengan sangat heboh seperti orang-orang di sekelilingnya. Kepalanya dikibaskan ke kanan ke kiri, membuat rambutnya yang panjang ikal berkibaran seperti cemeti mengayun. Matanya terpejam, dan dia… menangis—menangis dalam diam, maksudku, membuat pipinya jadi berkilap oleh air mata. Sepertinya suasana hatinya sedang tidak baik, pikirku. Dan tampaknya dia sedang berupaya melampiaskan emosinya dengan berdansa gila-gilaan seperti initapi... perempuan? Lagi-lagi aku meragukannya. Apa tidak salah? Aku pikir Téja itu adalah laki-laki, mengingat kekuatan besar yang mereka miliki,, yang secara rasional tidak akan muat di dalam tubuh seorang perempuan. Tapi… aku harus memercayai Galuh. Dia tidak mungkin bercanda pada situasi seperti ini.
Tanpa berpikir apa pun lagi, aku menyambar lengan perempuan itu. Dia sangat kaget; matanya membuka. Selama sepersekian detik kami bertatapan. Dia dengan tatapan terkejut bercampur bingung, sedang aku... aku tidak tahu bagaimana ekspresi wajahku saat menatapnya. Pikiranku penuh dengan kata: aku harus membawanya pergi dari sini secepatnya. Aku segera berpaling, menarik perempuan itu pergi.
 Dia meronta, berusaha melepaskan diri. Menarik-narik tangannya dengan panik sambil berteriak-teriak. Tapi orang-orang di sekitar kami terlalu mabuk dan terlalu asyik dengan dirinya sendiri untuk mendengar atau menyadari apa yang terjadi; tak satu pun peduli pada perempuan yang kuseret meninggalkan lantai dansa. Lagipula aku lebih besar dan lebih kuat darinya, sehingga mustahil untuknya meloloskan diri dari cengkramanku. Dia sudah kutemukan, sekarang tinggal menemukan dimana Bendu—
“Aduh!” aku memekik kesakitan, tepat pada saat kami berdua hampir mencapai pintu keluar. Pergelangan tangan kananku mendadak sakit. Perempuan ini menggigitku, membuat cengkramanku di lengannya terlepas. Dia kabur.
Aku lupa kalau aku sekarang berwujud manusia yang rentan sakit. Bahkan karena gigitan kecil sekali pun. Padahal aku lebih banyak kena gigit binatang aneh ketika ujian Bretya[3]ku di Mayangda, anehnya aku tak merasakan kesakitan luar biasa seperti ini. Brengsek, umpatku. Perempuan memang benar-benar menyusahkan.
Aku menyusul perempuan itu buru-buru. Mengikuti arah kemana dia pergi..
Galuh, aku mohon bantuanmu, pintaku bersungguh-sungguh. Harga diriku sudah tak menjadi prioritasku lagi. Aku harus secepatnya menemukan perempuan menyusahkan itu.
Kukira kau tak butuh, Galuh mulai lagi. Saat-saat seperti ini bisa-bisanya dia menyindirku seperti itu.
Aku minta maaf, oke. Tolong, bantu aku sekali lagi. Dimana dia berada? “Oh, Tuhan…” gumamku. Ngeri.

2
Gerhana



AKU sama sekali tak menyadari kalau aku sudah berada di luar gedung kelab malam yang tadi kumasuki. Berada di depan jalan raya padat yang sekarang begitu hening. Semua orang yang berada di trotoar mau pun di atas kendaraannya sedang terpaku menatap langit di atas, yang berangsur-angsur redup. Waktu seakan terhenti. Gerhana bulan sudah dimulai. Bulan purnama yang bercahaya di angkasa sedikit demi sedikit mulai tertutup oleh bayangan matahari.
“Galuh…” aku memanggil Galuh dalam suara berbisik.
Dia berada beberapa langkah di sebelah kananmu, kata Galuh cepat. Kedengaran cemas.
Aku segera berlari ke arah kananku. Susah payah untuk tidak menabrak orang lain, yang berdiri satu-satu, dua-dua atau bergerombol menyaksikan peristiwa alam yang sedang terjadi di angkasa. Dan kutemukan dia. Perempuan itu. Sama terpakunya dengan yang lain. Berdiri tegak, dengan kepala menengadah memandang langit.
Aku terkesima menyaksikan sosoknya. Heran sendiri melihat pendar warna-warni samar dari tubuhnya. Dia benar-benar Téja, aku membatin. Tapi... aku dapat melihat auranya tanpa Nitraku. Bagaimana...?
Séna, mereka akan tiba sebentar lagi. Kau harus segera membawa Téja itu ke tempat aman, Galuh memperingatkan.
Aku bergegas menghampiri perempuan itu. Berharap penuh dia tidak menyadari kedatanganku. Bisa gawat kalau dia kabur lagi. Tapi mendadak, ketika aku sudah berada beberapa langkah di sebelahnya, perempuan itu menoleh. Tepat ketika angin kencang berembus, meniup rambutnya yang panjang sepunggung ke belakang. Sekali lagi aku terpana. Dalam pencahayaan remang lampu jalan, aku melihat jelas wajahnya. Dia cantik. Tak kuragukan. Dan untuk ukuran manusia, kecantikannya sungguh tak wajar. Kesempurnaannya tak dapat ditolerir. Penampilannya persis dengan para Malaikat. Namun matanya... Bola matanya luar biasa hitam. Pekat. Kelam. Menyesatkan. Dengan warna merah seperti cincin yang melingkari bagian luarnya. Persis mata mereka. Matanya yang besar itu mengejap padaku. Memberikan tatapan yang tak kumengerti. Dia tak berusaha lari lagi sekarang. Diam di tempat, mengamatiku berjalan mendekat, seolah menungguku.Tak ada tanda-tanda dia akan melarikan diri kembali.
Kau siapa?” dia bertanya, setelah aku berada tepat di hadapannya. Suaranya agak bergetar. Sepertinya dia memaksakan diri untuk bertanya.
Tak ada waktu untuk menjelaskan,” kataku. “Kau harus ikut denganku.”
“Tadinya aku takut padamu,” dia mengabaikan kata-kataku. Menatapku lekat-lekat. Aku mengernyit. “Tapi sekarang... aku tidak takut lagi.”
Aku tidak tahu harus menanggapi apa; harus senang dan mengucapkan terima kasih atau apa untuk perkataannya barusan. Aku sama sekali tak mengerti apa tujuannya mengatakan itu. Aku balas memandangnya, mengamatinya.
Baru saja mulutku membuka untuk bicara, perempuan itu kembali berkata, “Aku percaya padamu. Kau bukan orang jahat.”
Daguku terangkat sedikit. “Bagaimana kau tahu?”
“Jantungku berdebar aneh ketika melihatmu.”
Alasan yang sama sekali tak kumengerti. Tapi aku tak berniat menanyakan maksud jawabannya itu. Hanya bisa menatapnya dengan mata disipitkan, sementara dia menyunggingkan senyum samar padaku.
Kami masih saling bertukar pandang ketika mendadak terdengar suara Galuh di kepalaku, kedengaran panik. Kak, kau harus segera pergi!
Aku buru-buru mendongak ke atas, dan menemukan langit yang kelam tak bercahaya. Bulan telah ditelan oleh bayang Matahari.
Mendadak seluruh lampu padam; baik lampu gedung, lampu jalan maupun lampu kendaraan. Seluruh kota, bahkan mungkin Bumi, diliputi kegelapan total. Disusul oleh getaran keras dari bawah. Bumi bergejolak. Sesuatu sedang bergerak naik.
“GEMPA!” Orang-orang berteriak panik, dan mulai berlarian menyelamatkan diri di tengah kegelapan malam.
Hanya aku yang tahu bahwa ini bukan gempa. Memang ada yang bergerak di bawah, namun itu bukan gempa. Sesuatu yang lebih membahayakan dari gempa sedang naik ke atas. Dan aku tidak bisa berdiam diri saja sekarang. Secepatnya, aku harus membawa Téja ini pergi dari sini.
 “Ayo.” Aku meraih tangan perempuan itu buru-buru dan menariknya pergi. Dia tidak protes sama sekali. Tidak berusaha melepaskan diri seperti tadi. Dia benar-benar percaya padaku, seperti perkataannya beberapa waktu lalu. Mungkinkah karena alasan jantungnya berdebar aneh kala melihatku (Konyol sekali),  atau mungkin karena dia merasa tidak punya pilihan lain selain menurutiku, karena merasakan cemas yang sama dengan orang-orang yang berlarian di sekitar kami? Oh, aku tak peduli. Yang utama sekarang adalah membawanya pergi sejauh mungkin dari sini. Ke tempat yang aman. Yang jauh dari jangkauan mereka.
Tapi jujur, aku tidak tahu kemana aku harus pergi sekarang. Tanpa Nitraku aku tidak bisa melihat apa pun yang kudefinisikan sebagai tempat aman. Dan tidak ada petunjuk dari Uma, kemana aku harus membawa si Téja setelah aku menemukannya. Dan bodohnya aku tidak bertanya. Aku terlalu marah ketika berangkat dari Mayangda, sehingga melupakan hal-hal penting untuk ditanyakan. Dan Uma, dia tidak akan memberitahu apa yang dipikirnya telah kuketahui.
 Aku dan perempuan itu bersenggolan dengan orang-orang yang berlari ketakutan ke segala arah. Beberapa kali tangan kami hampir terlepas, sehingga aku mempererat cengkeramanku di tangannya. Perempuan itu sama sekali tidak mengeluh. Sama sekali tak bersuara. Atau mungkin dia bersuara, namun suaranya tertutupi oleh suara horor kepanikan; teriakan dari berbagai arah, suara decit roda kendaraan yang saling tabrak, benda keras bertubrukan, ditambah deru suara angin dingin yang menusuk dan suara gemuruh di dasar Bumi yang semakin lama terdengar semakin keras.
Galuh, panggilku putus asa. Tolong aku. Kemana aku harus pergi?
Tak ada jawaban.
Galuh. Sial. Kemana kau saat aku benar-benar membutuhkanmu.
Bumi semakin berguncang. Kakiku dapat merasakan sesuatu di bawahnya mendesak-desak hendak merobek permukaan. Badanku dan perempuan itu bergoyang ke kanan ke kiri tak terkendali. Bisa beberapa saat dari sekarang, pikirku. Mereka akan sampai sebentar lagi.
Lari lurus ke depan, sebuah suara menyusup benakku. Berat dan dalam. Suara laki-laki. Dan seberangi jalan, suruhnya.
Aku bertanya-tanya suara siapakah gerangan, dan suara itu segera menjawab, Aku Bendu yang kau cari. Cepatlah. Gerhana akan berakhir. Mereka hampir sampai. Hanya berjarak beberapa meter dari kalian.
Tak ada waktu untuk menyelidiki apakah benar suara orang yang bicara di kepalaku benar-benar suara Bendu yang disebutkan Galuh. Tapi dari nadanya, dia sepertinya bisa dipercaya. Lagipula tak ada pilihan lain selain mengikuti sarannya, karena Galuh tak juga menjawab panggilanku.
Kami sampai di pertigaan jalan raya, dan kusempatkan diri mendongakkan kepala ke atas. Bayangan matahari mulai beranjak dari hadapan Bulan. Aku kemudian menoleh ke belakang, melihat sekilas perempuan itu. Mendengar napasnya yang tersengal karena berlari. Selain itu tak satu suara pun yang keluar dari mulutnya.
Aku mengajaknya menyeberangi jalan raya secepat yang kubisa. Bersusah payah melewati kendaraan-kendaran yang melintang di tengahnya. Kendaraan-kendaraan yang tiba-tiba saja mati ketika gerhana bulan dimulai.
Cepat, Séna. Suara pria itu kembali terdengar. Kali ini menyebutkan namaku. Aku mengurungkan niat bertanya darimana dia mengetahui namaku, dan memilih untuk kembali melihat ke arah langit. Ngeri sendiri, menyaksikan bulan purnama yang sebentar lagi kembali ke wujud lengkapnya.
Kemana aku harus pergi?! Aku berteriak dalam hati, sambil berlari terus ke depan. Kau ada dimana?
Terdengar suara ledakan. BUM! Bumi seolah melompat, menggoyangkan isi di dalamnya sehingga berhamburan ke segala arah. Semua benda atau apa pun di sekeliling kami saling beradu; bertabrakan, berbenturan, dengan suara keras yang mengerikan. Aku serta si Téja terlempar ke depan, bersama dengan orang-orang lainnya yang berada di depan dan di belakang kami. Tanganku dan perempuan itu terlepas. Aku terjerembab ke permukaan trotoar dengan punggung terlebih dulu. Sakitnya tak terperi. Oh, aku benci tubuh manusia ini. Tapi tak ada waktu untuk menyesali diri. Mereka sudah sampai dan aku harus segera membawa pergi si Téja itu sejauh mungkin dari sini.
“Hei, cepat bangun!” Tiba-tiba seseorang mengguncang badanku. Aku mengenali suaranya. Suara orang yang mengaku adalah Bendu yang kucari. Aku memutar kepalaku, hendak melihatnya. Namun kegelapan melarangku. Aku hanya dapat melihat sosok hitam tubuhnya bergerak di atasku. “Mereka sudah sampai. Ayo, Séna,” dia berkata tak sabar.
Orang itu kemudian berpaling. Berjalan dengan kepala menunduk, menoleh kanan dan kiri mencari-cari. Ketika dia menemukannya, dia berhenti dan bersimpuh di hadapan sesosok tubuh.
Aku cepat-cepat berdiri. Bergegas menghampirinya.
“Dia pingsan,” pria itu memberitahu. Mengangkat punggung si Téja yang tergeletak di permukaan trotoar. Tak bergerak. “Ayo, bantu aku.”
Pria itu berdiri seraya melingkarkan salah satu tangan si Téja ke sekeliling lehernya, mengangkatnya berdiri dengan susah payah. Aku membantunya. Turut melingkarkan tangan yang satunya di sekeliling pundakku. Kami berdua memapah si Téja bersama-sama.
Pria itu menggerakkan kakinya dengan tergesa. Menyerukan kata ‘cepat’ yang kedengaran cemas, sambil mendongakkan kepala ke atas. Ke arah langit yang telah kembali diterangi cahaya.
Bulan purnama telah kembali bersinar penuh. Dan lampu jalan, lampu gedung, lampu kendaraan—semua lampu telah menyala lagi. Suara televisi, musik yang sejenak tadi dibungkam paksa kini terdengar kembali. Mesin kendaraan menggerung dimana-mana. Kepanikan yang tadi memenuhi seluruh jalan, berganti suara-suara orang berbicara cepat, tangis anak kecil dan orang dewasa, suara orang saling memanggil dan bersahutan. Semua sepertinya telah kembali normal. Normal dalam artian yang tak enak.
Tak enak karena suasana lebih terasa mencekam daripada sebelumnya. Belum lagi—aku menyempatkan diri mengerling ke arah lain—dengan kembalinya seluruh cahaya yang sesaat tadi hilang, semua kekacauan dan kehancuran akibat gempa dan goncangan hebat barusan jadi terlihat jelas. Di seberang jalan, aku melihat tubuh-tubuh bergelimpangan di atas trotoar; entah pingsan atau bisa juga mati—aku tak mau menyimpulkan. Ada sebuah mobil mungil yang posisinya terbalik sembilan puluh derajat, dengan bagian atapnya penyok karena menghantam tiang listrik. Masih ada orang di dalamnya.
“Baru permulaan sudah begini,” pria itu bergumam, lebih pada dirinya sendiri. Terus berjalan dengan cepat.
Aku menoleh, mengamati wajahnya. Usianya sepertinya tak jauh lebih tua dariku. Tingginya juga sama. Hanya saja dia amat kurus. Tulang pipinya tampak amat menonjol, seolah hendak mendesak keluar dari kulit wajahnya. Rambutnya yang ikal, panjang setengkuk, berwarna abu-abu, yang membuatnya tampak lebih tua dari usianya sebenarnya. Dia tampak sederhana, hanya mengenakan kaus hitam dan celana kain yang juga hitam, yang sudah lepas jahitan bawahnya. Aku mengerling ke arah leher belakangnya yang sedikit tertutup rambut. Dan segera yakin kalau dia memang Bendu.
Kalau bisa kujelaskan sedikit, Bendu adalah sebutan untuk Tanu yang terlahir sebagai manusia. Tanu yang saat masih berada di Mayangda telah melakukan kesalahan sangat fatal, sehingga dijatuhi hukuman berat dengan dilahirkan ke Bumi sebagai manusia. Hidup layaknya manusia, dan mengabdikan hidupnya selama di Bumi untuk membantu manusia, tanpa boleh mengambil keuntungan dalam bentuk apa pun dari mereka; semenderita apa pun hidupnya di Bumi.
Untuk kami, para Tanu, hukuman tersebut adalah simbol kehancuran harga diri. Karena kami diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan semua kemampuan dan kekuatan yang kami miliki khusus untuk melindungi Bumi dan seisinya. Membantu para Malaikat melaksanakan tugas mereka. Dan dengan dijatuhi hukuman itu, sama saja dengan menganggap kami tidak cakap untuk melakukan apa yang telah dipercayakan pada kami. Kami, para Tanu yang memiliki kesempurnaan lima tingkat di atas manusia dan lima tingkat di bawah para Malaikat jarang melakukan kesalahan. Tidak pernah mendosa, baik kecil atau besar.
Mendadak laki-laki itu berbelok. Masuk ke sebuah gang sempit yang lembap dan kotor. Sinar kuning redup lampu neon yang menerangi di atas membuat tampilan gang ini jauh lebih buruk dari yang sebenarnya. Bau manis menyengat yang berasal dari sampah yang berceceran serta got kecil berair keruh yang isinya tumpah ruah ke permukaan menambah ketaknyamanan orang melihatnya.
Sulit untuk kami bergerak cepat melalui gang sempit ini. Tiga orang berjalan sejajar seperti sekarang sungguh menyulitkan. Sehingga akhirnya aku berkata pada pria itu, “Biar aku saja yang menggendongnya.”
Laki-laki itu tak mengatakan apa pun. Segera melepaskan tangan si Téja dari sekeliling lehernya, memasrahkannya sepenuhnya padaku, kemudian bergegas berjalan lagi tanpa menoleh sedikit pun. Aku menggeser badanku ke depan secepat yang kubisa, menopangnya dengan punggungku, dan mengangkatnya hati-hati. Lalu kulanjutkan menggerakkan kaki sambil menggendong si Téja yang kepalanya terkulai lemah di pundakku. Suara napasnya menderu lembut, dan embusannya di telingaku entah kenapa membuat jantungku berdegup aneh.


[1] Pasukan yang gagah berani (*bahasa sansekerta)
[2] Mata (bahasa sansekerta)
[3] Tentara (bahasa sansekerta)

Read more...

The Bride of A Fallen Angel (1)

>> Sunday, August 11, 2013



1

Perempuan Bermata Kelabu
                           

AKU melihat laki-laki yang duduk berhadapan denganku mengernyit dan menjingkatkan alisnya berulang kali. Memiringkan kepala ke kanan dan ke kiri, setelah itu mengejap-ngejapkan kedua mata dengan ekspresi heran penuh tanya. Dia tidak melepas pandang dariku, sebaliknya dia mencondongkan badannya agar lebih dekat. Dan menurutku, itu saat yang tepat untuk mendorong punggungku ke belakang. Menghindar.
“Kau ngapain sih?” Aku bertanya sewot. Mendekap kanvas lukis yang sedang kupangku buru-buru, seakan saja benda itu sedang dalam bahaya. “Bisa diam nggak? Aku kesulitan menggambarmu kalau kau gerak-gerak terus.”
“Matamu… Abu-abunya agak… meredup.”
Aku berjengit. “Meredup gimana? Jangan ngomong yang nggak-nggak, Del.” Aku melanjutkan menggoreskan pensil arangku di atas kanvas.
“Memang benar, kok.”
Del menegakkan badannya di atas bangku kayu yang didudukinya. Dan aku kembali mengangkat wajah untuk memberinya tatapan putus asa. “Mataku sudah dari sananya abu-abu. Bukannya kau sudah tahu itu?”
“Abu-abu yang nggak normal. Dan—“         
“Kau tahu?” Aku membiarkan kanvas yang kupangku menelungkup di atas pahaku. “Kau sudah mengatakan itu sejak umurku sembilan tahun. Sebenarnya apa sih maksudmu? Abu-abu yang nggak normal gimana? Coba jelaskan,” tuntutku.
Del mengembuskan napas. Tersenyum simpul. “Aku akan menjelaskan kalau memang sudah waktunya. Dan ada alasan untuk menjelaskannya.”
“Alasan apa?
“Entahlah.” Del mengedikkan pundak. Senyum jailnya mengembang.
Mataku berputar ke atas. Mengangkat kanvas dan memangkunya seperti sebelumnya, lalu menggerakkan pensil arang di permukaannya. Melanjutkan hidung Del yang baru tergambar seperempat. “Sebenarnya apa yang kau sembunyikan dariku?” aku menggumam, sambil menekuni gambarku.
“Sembunyikan apa?”
“Semuanya.” Tanganku bergerak naik-turun dengan perlahan. Sekarang aku sedang memberikan rambut di kepala Del di atas kanvas. Garis-garisnya tidak beraturan, persis seperti aslinya; mencuat ke segala arah. “Dari dulu aku selalu bertanya, kenapa kau selalu bersamaku—sampai sekarang. Dan kau tidak pernah menjawabnya.”
“Aku menjawab.”
Wajahku terangkat. Menubrukkan mataku dengan mata biru Del. “Aku bukan anak kecil lagi, Del. Jawabanmu mengenai kau yang adalah teman imajinasiku sudah kedaluwarsa. Kita berdua tahu, kau itu apa. Dan besok umurku sudah dua satu. Aku perlu penjelasan yang rasional.”
Hening sejenak.                                                                      
“Oke.” Tak disangka Del menyanggupi. Aku, tak percaya, mengerutkan kening dan memiringkan wajah, menatapnya dengan sebelah mata disipitkan, mencoba untuk membuatnya mengakui kalau dia sedang berbohong. Tapi Del malah senyum. Memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi. “Aku akan mengatakan semuanya padamu besok. Anggap saja, hadiah ulang tahun.”
“Boleh juga,” anggukku. “Itu akan jadi hadiah ulang tahun pertamaku darimu.”
Setelah itu aku menunduk ke kanvas lagi. Kembali melanjutkan menggambar Del yang duduk di bangku di hadapanku. Sesekali aku mengerlingnya untuk mencontoh wajahnya. Wajah tampan, yang sejak usiaku sembilan tahun telah akrab di mataku, dan muncul begitu saja tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Sebelas tahun sudah, Del bersamaku. Dan dia, tidak sekali pun beranjak dari sisiku. Dia, secara tak resmi telah menjadi pelindungku; juga pengasuhku. Dan aku, telah terbiasa dengan kehadirannya di sisiku. Tidak ingin Del pergi. Dan aku tak bisa membayangkan kalau suatu hari dia pergi.

Tok. Tok.

Aku menoleh ke arah pintu studio yang tertutup. Memandang Del kemudian, dengan alis dijingkatkan. Del mengangkat pundak sejenak, setelah itu menurunkan kedua tangannya yang sebelumnya menyilang di dada ke permukaan bangku dimana ia duduk, dan menumpukannya di sana. Bersamaan, kami mengarahkan pandang ke arah pintu yang kini didorong membuka, disusul oleh kemunculan seorang wanita muda—mulai dari kepala sampai kaki terbalut produk Prada impor, yang masuk dengan susah payah karena saratnya tas karton merk terkenal yang memenuhi kedua tangannya.
Tina, kakakku, seperti biasa mampir ke studio lukisku, untuk menitipkan barang belanjaannya untuk beberapa hari, sampai dirasakannya aman untuk membawanya masuk ke rumah. Takut, kalau-kalau papa dan mama kami melihat, dan dia akan menerima omelan berjam-jam mengenai pemborosan uang dari keduanya. Tina, memang shopaholic. Akut.
“Oh, Nali. Syukurlah kau sendirian,” katanya padaku. Dia tampak kesulitan berjalan dengan jins ketat dan stiletto hitam yang high heelsnya luar biasa tinggi. Aku sendiri ngeri melihatnya.
“Memangnya kenapa kalau aku sendirian?” Aku melirik Del sekilas.
“Aku kira kau sedang bersama Zee. Terakhir aku ketemu dia di sini, mama membabatku habis-habisan karena Gucci Boot yang kubeli. Si tukang ngadu satu itu,”—Tina melempar semua tas karton bawaannya di lantai asal saja—“akan kubalas.” Dia berkacak pinggang.
“Bukan cuma Gucci Boot-nya. Kau sepertinya membeli seluruh isi toko. Salahmu, menghabiskan uang seperti itu,” kekehku.
“Hei,” Tina mengacungkan telunjuknya padaku, “uang itu uangku. Hasil kerjaku. Dan,”—aku membeliak melihatnya duduk di bangku di depanku di mana Del duduk—Del buru-buru bergeser dari tempatnya agar tidak diduduki Tina—“aku butuh semua barang itu untuk menunjang karirku.” Dia mengibaskan rambut coklat ikalnya ke belakang. “Aku harus terus kelihatan sempurna.”
Del bangkit. Beranjak dari bangku. Aku mengekorinya sejenak dengan mataku, sebelum kembali kepada Tina yang untungnya sedang sibuk menggelung rambutnya.
“Lagian,” Tina menyambung, setelah seluruh rambutnya sudah berhasil diikat, “temanmu, si Zee itu, memang tidak suka padaku kan? Selalu saja tampangnya masam setiap ketemu aku. Dia pastinya iri padaku. Dia tidak menarik, dan pakaiannya selalu nggak match.”
“Zee itu fashion designer, Tina, kalau kau lupa,” tukasku. Meletakkan kanvas di atas meja kayu di sebelahku. Sekilas mengerling Del yang berdiri di depan jendela. “Jadi wajar kalau dia nyentrik. Dan bukannya, minggu lalu kau sempat pakai baju yang dia disain? Kalau saja aku tidak bilang dia yang merancang dress Autumn itu, kau akan terus-terusan bilang ‘Baju ini cute ya?’ pada semua orang yang kau temui.”
“Aku cuma membantu memasarkannya,” Tina berkilah. Dagunya diangkat tinggi dan wajahnya dipalingkan ke samping untuk menghindari mataku. “Dan,” dia kembali memandangku, “aku tidak beli bajunya. Itu dikasi sponsor.”
“Sama saja. Sponsor membelinya dan kau memakainya.”
“Aku ini kakakmu. Seharusnya kau membelaku dari pada dia.”
“Aku sayang padamu, Tina. Tapi aku lebih senang bicara nyambung dengan Zee.”
Del mendengus geli. Dia memutar kepalanya ke belakang untuk memandangku.
“Memang sih.” Tina menaikkan bahu. Tampangnya acuh tak acuh. “Aku akui kita memang nggak pernah nyambung. Seleraku terlalu tinggi, sedangkan kau selalu aneh. Sama seperti lukisan-lukisanmu yang kelam.” Dia memandangku dengan tatapan iba yang tak dimengerti. “Yang… untungnya laku dijual.”
Mataku berputar ke atas. Menggerakkan bola mata kepada Del yang sekarang pundaknya berguncang-guncang karena geli.
“Yah. Karena lukisan-lukisan kelamku itu, aku juga bisa punya studio yang bisa kau titipkan barang-barang belanjaan,” balasku, sambil senyum semanis madu.
Ganti Tina yang memutar mata ke atas. Matanya normal—hitam, tidak seperti mataku yang bola matanya abu-abu. Tidak lazim, untuk orang Indonesia, dan karena itu dibilang aneh oleh Del, dan juga orang-orang yang memerhatikan keganjilan tersebut. Apalagi, memang tak ada satu pun dari papa dan mamaku yang punya mata abu-abu—mendekati saja tidak—sepertiku.
Whatever,” ujar Tina. “Yang penting…, sebelum aku berhasil punya apartemen sendiri, aku bebas meletakkan semua barang-barang mahalku di sini. Dan kau… akan mengijinkannya. Sebesar apa pun ketidaksukaan kita pada satu sama lain, we’re still sister. Kita harus saling bantu satu sama lain.” Dia mencondongkan badannya ke depan, dengan kedua tangan bertopang di tepi bangku. Tersenyum penuh kemenangan.
“Yah. Whatever,” balasku. Mendorong punggung ke belakang.
“So,” Tina berdiri. Menggerakkan kaki ke arahku. “Apa yang sedang kau gambar?”
Dan dia menyambar kanvas yang tadi kupergunakan untuk menggambar sketsa wajah Del dari atas meja. Mengangkatnya tinggi-tinggi, ketika aku berusaha merebutnya darinya. Dan saat dia melihat apa yang tergambar di permukaannya, bibirnya membuka sedikit. Tampangnya syok.
Aku pasrah.
“Kau menggambar cowok ini lagi?” Dia menghadapkan tampak depan kanvas ke arahku. “Apa halusinasimu kembali lagi?”
Aku tidak tahu harus bilang apa. Mataku bergerak kepada Del yang sekarang membalikkan badan dan menggigiti kukunya, kemudian kepada Tina yang masih membeliak ke arahku dengan kanvas tercengkeram di tangannya.
Dulu, aku pasti akan berteriak kalau aku tidak berhalusinasi. Del bukan halusinasi, atau pun seperti kata Psikiatris yang menangani kasusku, imaginary friend. Tapi sekarang, setelah mengalami pengalaman tidak menyenangkan dengan dipaksa berobat ke psikiatris, dan menelan banyak obat yang membuatku merasa benar-benar mengidap penyakit jiwa, aku memilih diam. Berpura-pura kalau Del, teman imajinasiku telah lenyap. Hanya agar orang tuaku tidak mengajakku kembali ke psikiater, dan Tina tidak memandangku seakan aku adalah makhluk buruk rupa yang tidak patut ia dekati.
Tapi sekarang…
“Itu gambar laki-laki lain.” Aku menyambar kanvas di tangan Tina. “Bukan orang yang kau pikir. Aku sudah lupa mukanya.” Aku berdiri dari bangku, dan melangkah ke meja panjang di depan jendela yang sarat peralatan lukis. Di sisinya, Del berdiri sambil menyilangkan tangan. Tersenyum menenangkan.
“Tapi… itu mirip sekali dia.”
“Ini bukan dia, Tina,” tegasku. Memalingkan muka ke arahnya. “Ini cuma…” Aku menatap kanvas, memandang sketsa wajah Del yang baru separo jadi. “imajinasiku.”
“Hati-hati dengan imajinasimu. Semua berawal dari imajinasimu. selanjutnya kau akan bicara sendiri seperti dulu. Lalu gambar-gambar aneh akan memenuhi dinding kamarmu.”
Aku memejamkan mata dan mengembuskan napas perlahan. Setelah itu, pelan-pelan aku meletakkan kanvas di atas meja. “Itu dulu.” Aku berbalik. “Waktu aku masih umur sembilan tahun. Sekarang aku sudah besar…”
“Karena itu,” Tina mengangguk ke arahku, “jangan menggambar yang macam-macam. Kau tahu… betapa menyakitkannya itu untuk papa, mama dan juga aku.”
Ini kali pertama aku melihat betapa tegangnya wajah Tina. Sebelumnya dia pernah menunjukkan ekspresi tersebut. Namun itu dulu; lama sekali. Ketika aku masih dalam penanganan psikater. Jadi melihatnya lagi, sekarang, membuatku seolah kembali ke masa lalu.
“Tidak akan terjadi lagi,” kataku. “Kau tidak perlu cemas.”
Tina mengempaskan napas tajam. Menundukkan kepala sedikit, memandang ke lantai keramik yang mengilap. “Aku cuma… tidak ingin kau…” dia menengadahkan wajah, dan menatapku sayu. “kenapa-kenapa. Menakutkan, apa yang terjadi waktu itu. Melihatmu… bicara sendiri…, tertawa sendiri… Aku…” dia tidak melanjutkan. Menahan semua emosi di hati dengan mengembungkan pipinya.
“Hei…” Aku buru-buru menghampirinya. Merengkuhnya ke dalam pelukan. “I’m fine now. Aku… tidak seperti itu lagi.”
Rasanya menyedihkan harus berbohong pada Tina. Tapi, aku memang tidak membohongi siapa pun. Del memang ada. Bahkan tidak hanya Del. Ada lagi yang lain yang bisa kulihat, dan mengajakku berkomunikasi. Mereka tidak berbahaya untukku atau untuk siapa pun. Andaikan berbahaya, Del pasti sudah menghalaunya dariku. Jadi aku aman.
Tina menarik tubuhnya dariku buru-buru. Tampak kikuk. Dia memang tidak suka dipeluk-peluk. Pelukan membuatnya jadi rapuh, itu opininya.
“Apa pun yang kau lukis,” Tina bebicara, menatapku dengan serius, “aku tidak peduli. Tapi jangan melukis laki-laki itu lagi. Itu mengembalikan ingatan buruk.”
“Oke.”
“Berjanjilah.”
“Aku janji.” Aku menatap lekat-lekat mata Tina. Berusaha keras tidak mengejap. Kalau aku mengejap, dia akan tahu kalau aku sedang berbohong.
Good.” Senyum Tina merekah. “Aku balik duluan ke rumah. Kau pulang malam ini?”
Aku menggeleng. “Aku nginap di sini dulu. Ada lukisan yang harus kuselesaikan untuk pameran akhir bulan.”
“Tapi besok kau harus pulang. Ulang tahunmu, dan aku sudah menyiapkan pesta kejutan.”
“Bukan pesta kejutan kalau kau memberitahukannya padaku sekarang,” kataku putus asa.
“Pokoknya kau harus pulang besok. Umurmu sudah dua satu. Sudah dewasa. Karena itu patut dirayakan.”
Aku mengedikkan pundak. “Terserahlah.”
“Oke. Aku pergi. Jaga belanjaanku baik-baik.”
Tina melemparkan ciuman jauh, seraya memalingkan badan. Stilettonya berceklak-ceklak menjauh. Baru setelah pintu studio menutup di belakangnya, aku menoleh ke arah Del yang ternyata sedang mengamatiku.
“Apa… wajahku semenakutkan itu?” tanyanya kemudian, yang segera kubalas dengan cekikikan.


(Bersambung)

Pengenalan Tokoh:

1. Nalini Orchid
  • Perempuan, 21 tahun, tinggi 165cm/50kg. Nama pertamanya, Nalini, diambil dari bahasa Kawi kuno yang berarti cantik. Semua orang memanggilnya Nali.
  • Kulit kuning langsat, rambut hitam pekat ikal, bola mata abu-abu.
  • Pelukis muda yang sukses, dengan aliran ekspresionis yang kelam. 
  • Kemampuannya melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh manusia biasa menyebabkannya pernah dicap sebagai penderita Schizophrenia, dan harus melakukan terapi kejiwaan yang serius di usia 9 - 10 tahun.
  • Nali bukan manusia biasa. Dia adalah Maisi yang berarti Ratu. Calon pengantin Lu, Malaikat jatuh yang menjadi Raja dunia bawah, Inferno, dan karena itu harus dibunuh oleh Nitte--Satria Pelindung yang menjaga dunia lapisan ke tujuh, yang disebut Mayangda untuk mencegah kehancuran surga dan dunia keseluruhan. Maisi adalah Teja--sukma manusia yang diturunkan pertama kali ke dunia oleh Sang Agung (belum pernah bereinkarnasi). Dan Teja, biasanya adalah laki-laki. Bukan perempuan.
2. Daali Elrond
  • Laki-laki. 21 tahun (saat dibunuh). Tinggi 173 cm. Namanya, Daali, berarti anggur hitam yang diberikan oleh kakeknya. Tapi lebih suka dipanggil 'Del'.
  • Tampan, kulit kecoklatan, rambut lurus hitam pekat, bola mata biru cemerlang. 
  • Pelukis. 
  • Del adalah Nitte. Tapi karena dibunuh dan tidak diketahui dimana tubuhnya setelah dibunuh, arwahnya tidak bisa bereinkarnasi, dan akhirnya oleh Tetua Mayangda ditugaskan untuk menjaga gadis kecil berusia 9 tahun bernama Nalini, sampai dipastikan kalau dia adalah Maisi atau bukan, saat usianya menginjak 21 tahun.
3. Tina Ursula
  • Perempuan cantik yang berprofesi sebagai model profesional. 24 tahun, tinggi 170 cm, shopaholic dan agak narsistik. Dia adalah kakak kandung Nali.
  • Rambutnya coklat, bergelombang. Kulit kuning langsat, dan mata coklat persis mamanya. 
  • Dari luar kelihatan cuek, egois dan pengeluh, namun sebenarnya dia sangat menyayangi orang tua dan adiknya.
4. Zee Arora
  • Perempuan manis, yang nyentrik. Umur 21 tahun, tinggi 168 cm. Cerdas, ceplas-ceplos dan setia kawan. Musuh bebuyutan kakak Nali, Tina.
  • Rambut hitam lurus sebahu, mata hitam, kulit putih.
  • Designer pakaian yang sedang mengembangkan karirnya di dunia mode. Brandnya bernama Season, dan terbagi dalam 4 kategori musim; Summer, Winter, Autumn, dan Spring. Cukup popular dan unik. 
PS.
Jadi, ini adalah cerbung terbaru dari saya. 
Dan sebenarnya ini nggak baru-baru banget, karena sebelumnya ide cerita ini udah nongkrong sejak empat tahun lalu di kepala. Bahkan sempat saya tulis dengan plot yang berbeda, tapi di bagian akhir bingung gimana harus nyeleseinnya. So, sekarang, mumpung semangat, saya coba tulis lagi. Mudah-mudahan kali ini bisa sampai selesai, dan tidak absurd ya. Karena cerita ini benar-benar beda dari cerita yang pernah saya tulis; ini romance adventure, fantasy. Benar-benar imajiner. Loncat sepenuhnya dari dunia nyata. 
Akhir kata, silakan dibaca. Dan saya berharap, semua yang baca bisa menikmatinya dengan baik seperti halnya dengan cerbung-cerbung saya terdahulu.
Untuk 'Soul Mate' jujur aja, saya masih buntu untuk melanjutkan ceritanya. Blank berat. Sori ya. Dai-nya istirahat dulu. Ganti karakter jadi Del. 

Thank you, Guys.

Lita


Read more...
Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP