A Lot Like Love (35)

>> Sunday, December 2, 2012

Baca: A Lot Like Love (34)


It's (truly)... yours

SETELAH tertunda karena kecelakaan yang menimpanya tahun lalu, akhirnya konser musik Neela bersama pianis kenamaan Jepang, Kotaro Fukuma berhasil dihelat pada malam Natal tahun ini.
Konser itu terbilang sukses; tiket terjual habis, dan mengundang banyak pujian dari seluruh masyarakat Jepang maupun Indonesia yang menyaksikannya secara Live melalui salah satu stasiun televisi swasta Jepang dan Indonesia yang terpilih mensponsori konser tersebut. One of the most beautiful performance on Christmas Eve ever, kata salah satu headline media cetak internasional. Unpredictely enchanting.
Dan semua pujian itu semakin mengangkat nama Neela sebagai pemusik; mempertegas posisinya di dunia musik tanah air dan manca negara sebagai salah satu pemusik dan penyanyi terpopuler tahun ini. Dikagumi, dipuja dan dihormati atas karya dan kualitasnya.

Congratulation,” ucap Kenneth melalui telepon, esok pagi, saat hari Natal. “Aku benar-benar menyesal, tidak bisa menyaksikan secara langsung.
Jangan begitu. Kau tahu yang lebih penting,” Neela menghibur. “Marin membutuhkanmu… dan kau harus mendampinginya.”
Kenneth mendesah— hanya mendesah, dan tidak bicara lagi setelahnya.
“Jadi… bagaimana konferensi persnya?” tanya Neela beberapa detik kemudian, duduk di atas kasur. Yukata yang dipakainya dibiarkan tak terpasang. Dia tidak tahu bagaimana cara memakainya. “Lancar?”
Kenneth mengembuskan napas tajam. “Tidak pernah ada yang lancar untuk konferensi pers yang mengumumkan aib si artis, Neela.”
“Itu bukan aib, Ken. Itu fakta kan? Marin hamil dan—
Pria yang menghamilinya dirahasiakan. Yah, itu fakta.”
“Setidaknya Arata mau bertanggung jawab.”
Kenneth tidak langsung menimpali. Memberikan waktu bagi dirinya menghela napas panjang yang enggan. “Ya, memang sih. Tapi dengan dia tidak mau muncul di hadapan publik—“
“Dia punya alasan,” Neela menyela. “Lagipula…, menurutku Arata cukup gentle karena bersedia menemui orang tua Marin… untuk meminta maaf. Diameninggalkan semuanya demi Marin… dan… tidak mudah kan…, memutuskan untuk menikah… mengingat status Arata yang adalah…” Neela membiarkan kalimatnya menggantung. Masih amat enggan menyebut kata ‘Yakuza’ dengan bibirnya. “Itu pasti akan sangat memberatkan Arata nantinya… juga Marin.”
Kenneth ber-hm pelan. “Kau benar.”
Neela tertawa kecil. “Dengan kau ada di sana mendampingi Marin…, aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Kau selalu bisa mengatasi masalah seberat apa pun. You’re the best.”
Terdengar embusan napas panjang nan lembut. Neela yakin, di seberang sana, Kenneth sedang menyunggingkan senyum manisnya yang biasa.
I miss you, Neela,” kata Kenneth kemudian.
I miss you, too,” balas Neela, tersenyum. “Natal hari ini…, dan aku akan ke kuil bersama Chiyo dan Eiji. Akan sangat menyenangkan kalau kau juga ada di sini bersamaku.”
Kenneth terkekeh. “Next year…, maybe. Aku akan mengajakmu ke Jepang lagi. Dan kita bisa jalan-jalan sepuasnya.”
Ya.” Neela mengangguk. “Next year… Promise?
Promise.
Pintu kamar terbuka. Chiyo masuk dengan membawa, sesuatu yang kelihatan seperti hiasan bunga-bungaan berwarna putih gading. Meneriakkan nama Neela, dan langsung menelannya lagi, begitu dia melihat Neela menempelkan ponselnya di telinga. “Oh, sorry,” ucapnya, berbisik. Berjalan ke arah meja rias dan meletakkan apa yang dibawanya di permukaan meja.
“Aku harus pergi,” Neela memberitahu Kenneth. “Chiyo memaksaku memakai Yukata untuk ke kuil. Sepertinya akan membutuhkan waktu lama melihat atribut yang dia siapkan.” Neela nyengir pada Chiyo yang membalas dengan menjulurkan lidah.
Sampaikan padanya dan Eiji ucapan selamat natal dariku,” pesan Kenneth. “Dan please, kirimkan fotomu memakai Yukata padaku.”
Neela terkekeh. “I don’t know…,” godanya. “kalau aku sempat ya?”
Jangan pelit. Sudah hampir dua bulan aku tidak melihat wajahmu. Give me a shocking picture to refresh.” Kenneth tertawa.
Neela mendengus geli. “Oke,” katanya.
So…, bye,pamit Kenneth.
Bye.”
I love you.”
Neela membeku mendengar ucapan itu. Kesekian kalinya, merasakan kekosongan yang tak nyaman di ulu hatinya. Dia mengatakanMe, too,” untuk membalasnya. Dan langsung menekan tombol off di ponselnya. Bengong beberapa waktu, dengan mata menatap kosong pintu di hadapannya,
“Kenneth?” Suara Chiyo mengembalikannya ke dunia nyata. Neela menoleh, dan mengangguk. Berkata, “Ya,” lemah.
Chiyo mendekat. Memberikan tanda dengan tangan, agar Neela berdiri. “Kenapa tampangmu selalu kosong begitu, setiap Kenneth menelpon?” tanyanya, seraya meraih tali Yukata Neela. “Kelihatan ceria pada awalnya, tapi begitu telpon  berakhir, wajahmu akan berubah muram.”
Neela merentangkan tangan, sementara Chiyo mengitarinya. Tidak menjawab pertanyaannya, karena dia sendiri tidak tahu jawabannya. Ternyata Chiyo memerhatikan keganjilannya selama ini. Mungkinkah terlihat jelas?
“Apa kau sangat merindukannya?” Chiyo memiringkan wajah. Menyipitkan sebelah mata. Bibirnya membentuk lengkung manis yang mengejek. “sampai-sampai kesulitan berkata-kata?”
“Tentu saja.” Neela mengerutkan kening. “Kami terpisah lumayan lama, kan? Aku sangat merindukannya.”
Chiyo terkekeh. Mengikat tali Yukata di belakang Neela. Menariknya kuat-kuat. “Tidak kelihatan di wajahmu.”
Mata Neela melebar selama beberapa saat. Benarkah?
Just kidding, Neela,” kata Chiyo buru-buru, melihat ketegangan di wajah Neela. Kembali berdiri di depannya. “Aku harus segera meminta maaf pada Kenneth karena menahanmu di sini sampai tahun baru,” sambungnya lagi, dengan nada penuh rasa bersalah. “Kalian pasti sudah tidak sabar ingin bertemu, dan aku dengan egoisnya…”
Suara Chiyo menghilang terbawa udara, seiring benak Neela mulai penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang telah beberapa waktu ini menyambanginya mengenai perasaannya pada Kenneth. Mengenai keraguannya. Mengenai kebimbangannya. Mengenai kesulitannya mengenali, apakah kata ‘cinta’ itu adalah kata yang tepat untuk menandai hubungannya dengan Kenneth.
Kenapa dia jadi begitu gundah? Bukankah ini yang dia mau?
“Neela. Neela?
Neela mengangkat dagunya. Melihat wajah Chiyo yang mengernyit di depannya. “Kau baik-baik saja?” Chiyo bertanya.
Ya. Akuoke. Sori.”
Chiyo menatap Neela selama beberapa saat. Seolah hendak memastikan kalau Neela benar-benar ‘oke’. Tak lama kemudian dia tersenyum, meminta Neela duduk di depan meja rias, karena dia harus mendadani rambutnya.
“Sori, kalau kata-kataku membuatku sedih,” kata Chiyo, saat mereka berdua telah berada di depan meja rias. Menyisir rambut Neela. “Aku tidak seharusnya bicara yang tidak-tidak.”
“Oh, tidak,” tukas Neela. “Jangan begitu. Aku tidak apa-apa. Aku hanya—
“Kenneth sangat mencintaimu,” sela Chiyo. “dan kau sebaliknya… tentunya tak ada keraguan lagi di hati kalian masing-masing.” Dia berhenti. Memandang Neela melalui cermin. “Jangan mendengarkan kata-kata yang membuatmu bimbang, oke?” katanya lagi. Tersenyum.
Neela balas memandang Chiyo. Mengejapkan mata dengan wajah yang menyiratkan kebingungan. Tapi kemudian dia tersenyum. Mengangguk.
Tentu,” katanya. “Tidak ada yang perlu diragukan lagi kan?”
Chiyo nyengir. Melanjutkan menyisir rambut Neela. “I’m happy for you and Kenneth, Neela,” katanya.
Thanks,” ucap Neela, memandang wajahnya di cermin. Melihat senyumnya yang dirasakan hambar. Melihat matanya yang tak berbinar. Dan dia merasakan cermin tersebut tidak memantulkan dirinya yang sebenarnya. Dirinya yang seharusnya terlihat senang dan bahagia, kapan pun topik Kenneth diangkat ke permukaan.

You look gorgeous,” puji Eiji, saat Neela keluar dari mobil yang mengantarnya dan Chiyo ke kuil dimana mereka akan berdoa. “Yukata cocok untukmu.”
Neela mengucapkan ‘thanks’ tanpa suara. Kemudian balas melontarkan pujian untuk Eiji yang hari itu terlihat sangat tampan dengan kimono dan hakamanya. “Jarang sekali aku melihatmu seperti ini,” sambungnya. “Keren.”
Eiji menyentuh rambut Neela, hendak mengusapnya. Namun dengan rambut yang telah ditata dan dihias cantik oleh Chiyo, dia cuma bisa menepuknya saja, dan berkata, “Harus menghargai kerja keras Chiyo hari ini,” sambil tersenyum lebar. “Sudah kirim foto ke Kenneth?”
“Yap. Done.”
Eiji menyeringai. “Dia akan minta aku segera memulangkanmu begitu dia melihat fotomu.”
“Yang lain sudah datang?” Chiyo yang baru saja bergabung bertanya. Dia, seperti biasa terlihat menawan, apalagi dengan Yukata hitam kehijauannya yang sekarang dikenakannya.
Sudah,” jawab Eiji. “Ayo.”
Eiji berjalan lebih dulu menaiki tangga kuil. Ditemani dua laki-laki yang juga mengenakan kimono dan hakama serupa dengannya. Warna dan coraknya pun sama; hitam-kehijauan dengan naga, ular dan harimau tergambar di permukaannya, sama dengan yukata yang dipakai oleh Chiyo.
“Aku kira, akan ramai,” Neela berkata pada Chiyo di sebelahnya. Setelah memandang sekeliling.
“Oh, tidak. Doa bersama saat hari Natal begini, hanya dilakukan oleh keluarga besar kami,” jelas Chiyo. “Kebanyakan orang lain…, merayakannya kemarin. Sedangkan hari ini cuma jalan-jalan saja. Setelah doa bersama selesai, aku juga akan mengajakmu keliling. It’s gonna be fun.
Neela ber-oh pelan. Teringat Natal tahun lalu. Saat itu, di malam Natal dia bersama Dai. Dai.
“Jangan tegang oke?” Chiyo mengingatkan. Menyentak Neela dari lamunan. “Aku tahu kalau kau sudah mengetahui siapa aku dan kakak. Keluarga besar kami, khususnya. Dan… sebagian besar dari mereka akan ada di dalam sana hari ini.”—mata Neela membulat—“Tapi…, jangan takut. Mereka tidak akan melakukan apa pun padamu.”
“Oh, ya, tentu saja,” timpal Neela. “Aku tidak akan takut, dikelilingi keluarga besar Yakuza di dalam sana.” Dia terkekeh.
Chiyo turut terkekeh. Terus berjalan berdampingan dengan Neela menaiki undakan sambil berbincang ringan. Suara lonceng kuil terdengar begitu menenangkan bersama angin yang berembus sejuk, mengantarkan hawa wangi dedaunan basah yang menyegarkan. Membuat Neela untuk sementara waktu melupakan kegundahannya.

Setelah doa bersama di kuil selesai, seperti janjinya Chiyo mengajak Neela berjalan-jalan. Eiji tidak ikut, karena harus menghadiri pertemuan keluarga yang dihelat di bagian lain kuil tersebut. Hanya laki-laki dan para istri yang diperbolehkan mengikuti pertemuan itu, kata Chiyo ketika Neela menanyakan ketidaksertaannya. “Lagipula, aku tidak tertarik. Dan akan membosankan sekali,” dia menambahkan.
Jadi, pergilah mereka berdua. Mengunjungi tempat-tempat menyenangkan yang tidak pernah Neela lihat sebelumnya. Mengunjungi pasar tradisional—yang sama sekali tidak kelihatan seperti pasar tradisional karena telah dihias dengan dekorasi warna-warni khas Natal, melihat-lihat souvenir khas Jepang di sepanjang trotoar jalan di Ginza, nonton pertunjukan Cost Play dan makan-makanan ringan di stand pinggir jalan. It’s fun, seperti kata Chiyo sebelumnya.  
Jalan-jalan mereka terasa begitu menyenangkan, sampai-sampai waktu tidak terasa. Matahari sudah condong ke barat, dan semburat jingga sudah menodai langit. Malam sebentar lagi.
Eiji menelpon ke ponsel Chiyo, saat arloji di pergelangan tangan Neela sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Meminta mereka berdua segera kembali ke rumah untuk makan malam bersama.
“Aku senang kau ada di sini,” kata Chiyo setelah menerima telpon dari Eiji. “Kakak jadi sering di rumah. Dia jarang sekali berada di rumah, sehingga aku sering makan malam sendirian. Tapi sejak kau ada di sini—saat kau kecelakaan lebih tepatnya, dia jadi lebih memerhatikanku.”
Neela tersenyum. “Setidaknya kecelakaan yang menimpaku berdampak positif untuk beberapa orang.”
“Ya,” angguk Chiyo setuju.
Mereka berdua kemudian masuk ke dalam mobil yang menjemput. Mengenyakkan tubuh masing-masing ke jok empuk kursi belakang, dengan kaki berselonjor. Rasa penat baru terasa, dan semua persendian kaku. Memang sudah waktunya mereka mengistirahatkan badan.
Chiyo tertidur begitu kepalanya menyentuh ujung jok. Sepertinya kelelahan sekali. Sementara Neela bersandar nyaman, dengan mata memandang keluar jendela. Memerhatikan orang-orang yang lalu lalang di trotoar ramai, ditemani suara merdu Sarah McLachlan yang menyanyikan lagu ‘Answer’ yang terdengar sayup-sayup dari speaker mobil.
It’s so calm. So peace.
Mata Neela membuka dan menutup. Hampir saja terlelap, kalau saja suara klakson mobil tidak menjerit mendadak. Chiyo terbangun. Segera mecondongkan badannya ke depan, seraya bertanya pada si supir dengan bahasa Jepang dengan nada tinggi. Si supir menjawab entah apa, sepertinya menjelaskan sesuatu. Chiyo membalas kata-katanya, masih dengan nada jengkel, setelah itu mengempaskan badannya ke belakang.
“Ada apa?” tanya Neela serak.
“Ada orang menyeberang mendadak,” jawab Chiyo, Menjulurkan lehernya untuk melihat ke arah depan. “Macet. Selalu begini setiap melewati areal Tokyo Dome.”
Tokyo Dome? Bayangan kincir raksasa, lampu-lampu berkelap-kelip, dan pohon Natal raksasa segera saja hadir di benak Neela. Menyusul kemudian, Dai, danpohon cinta. Lalu… daun-daun itu. Yang permukaannya bertulisan namanya dan Dai.
“Ch-Chiyo,” panggil Neela ragu.
Ya?”
“Bisakah kita… mampir sebentar?”
Kemana?”
“Tokyo Dome City. Akuinginke sana.”
Chiyo mengernyitkan alis. “Kenapa?”
Neela memandang Chiyo. Dia sepertinya tidak tahu, kalau Neela pernah ke tempat itu bersama Dai sebelumnya. “Internet,” kata Neela cepat. “Aku melihatnya di internet. Membacanya. Sepertinya…, menyenangkan. Jadi…, waktu kau menyebut ‘Tokyo Dome’…” Neela meringis.
Chiyo tampak ragu. “Itu luas sekali,” katanya, menimbang-nimbang. Namun kemudian dia mendengus tersenyum. “Tapioke juga, kalau bersamamu. Aku juga jarang ke sana. So, okay. Aku bilang kakak du—”
Jangan,” Neela mencegah. “Sebaiknya jangan… Dia pasti cemas nanti. Lagipula hanya sebentar. Tidak lama.”
Dahi Chiyo berkerut. “Benar juga. Ya sudah. Kita pergi saja. Kalau kakak nanti menelpon, aku akan katakan kalau kita makan malam di jalan.”
Neela mengangguk, sementara Chiyo bicara pada supirnya. Si Supir mengiyakan, membelokkan kemudi, mengambil haluan kiri. Bersiap membelok ke tikungan di perempatan tak jauh di depan. Neela ingat perempatan itu. Di sanalah dia dan Dai mengalami kecelakaan.
Neela mengibaskan kepalanya buru-buru.
Tak berapa lama kemudian mereka sampai di depan areal Tokyo Dome City. Mobil berhenti, dan Neela dan Chiyo turun. Berjalan bersisian menaiki undakan.
Ramai sekali. Sama seperti waktu itu. Waktu dia kemari bersama Dai.
Chiyo menggamit lengan Neela. Mengajaknya berjalan, menyatu dengan keramaian. Neela memandang berkeliling, sementara Chiyo mulai bicara, beraksi sebagai pemandu wisata. Menunjukkan tempat-tempat, benda-benda yang menurutnya akan membuat Neela tertarik. Namun Neela tidak tertarik sama sekali. Dia ingin cepat sampai pada suatu tempat. Areal permainan seperti Dufan, yang dilaluinya bersama Dai, ketika hendak melihat pohon Natal raksasa di dalam stadion megah di Tokyo Dome tahun lalu. Ingin melihat Pohon Cinta.
“Oh. Kakak menelpon,” Chiyo berkata, memandang layar ponselnya yang baru saja berbunyi. Langkahnya terhenti, dan dia buru-buru menekan tombol hijau di ponselnya. Berkata ‘halo’ yang sedikit keras.
Neela menoleh. Mengamati Chiyo. Benar-benar berharap, dia tidak mengatakan pada Eiji kalau mereka sedang berada di Tokyo Dome City. Neela yakin Eiji akan sangat marah kalau tahu mereka pergi ke tempat ini.
“Kami sedang beli makanan kecil. Neela lapar,” Chiyo menjelaskan pada Eiji. “Kakak makan saja lebih dulu. Sepertinya kami agak lama.”

Neela memerhatikan orang-orang yang hilir-mudik di sekelilingnya sembari menunggu Chiyo yang masih bicara dengan Eiji. Dia memberengut, yang menandakan percakapannya dengan Eiji bukan percakapan yang menyenangkan. Dia mendongak, memandang atap kaca berbentuk kubah di atas, yang memperlihatkan kelamnya langit malam, kemudian kembali merendahkan kepalanya, kembali memandang sekitar. Dan mendadak, matanya membulat. Terpaku pada sesuatu yang berada tak jauh di hadapannya. Tak sadar kakinya bergerak. Lambat pada awalnya, dan sedikit demi sedikit semakin cepat. Dia berlari, menyeruak kerumunan. Dunia seketika hening, tak terdengar suara sedikit pun. Hanya dia yang ada di Bumi sekarang ini, mengejar sesuatu yang bergerak menjauh. Orang-orang menghilang. Hanya berupa bayangan samar semata. Suara mereka hanyalah gaung samar yang mendengung di telinganya.
Dai. Nama itu tergumam di benaknya.
Neela sampai di tempat terbuka, yang dipenuhi lampu-lampu gantung yang berkelap-kelip menerangi di atas. Kincir raksasa berputar diiringi musik ceria. Suara-suara kembali; riuh, riang namun kedengaran muram.
Kaki Neela terhenti. Dia berputar. Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri. Napasnya tersengal, dadanya sesak. Dan kepalanya berat. Matanya perih, entah kenapa. Dan tanpa dia mengerti, air mata meluncur turun ke pipinya. Dia sedih, itu yang dia tahu. Tapi dia juga sangat gembira. Emosinya, dia sama sekali tak bisa mengenali. Emosinya campur aduk. Kacau.
Orang-orang memandanginya sekarang. Ekspresi mereka heran. Tapi Neela tak menghiraukan. Dia menggerakkan kakinya lagi, memandang liar ke segala arah. Yukatanya berantakan. Jepit rambutnya lepas, membuat rambutnya terjurai jatuh.
Dimana kau? Neela membatin. Aku melihatmu. Aku tidak salah lihat.
Neela menggerakkan kakinya lagi, masih dengan kepala yang celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri. Matanya memandang liar. Mencari-cari.
Dai, please, dia memohon dalam hati.
Tapi tetap saja, Dai tak ada di mana pun. Dia mungkin salah lihat, tapi… dia yakin dia tidak salah lihat. Dia benar-benar melihatnya. Mungkin saja orang yang mirip, kata suara di kepalanya. Tak mungkin. Itu memang dia.  Neela merasakannya. Akumerasakannya.
Dia tetap tak ada di mana pun. Daitak bisa ditemukannya. Dia cuma bayangan. Cuma orang yang berperawakan mirip dengannya yang pastinya dilihatnya beberapa menit lalu. Bagaimana bisa? Kenapa?
Neela terpaku di tempat. Memandang berkeliling. Tubuhnya serasa beku, sebeku hatinya saat ini.  Air mata  terus-terusan mengalir, melalui pipinya, dagunya dan terjatuh ke bawah. Neela mengangkat kedua tangannya, membiarkan butirannya menetes ke telapaknya yang terbuka. Dia menangis, menggerakkan kaki memutar. Dan menengadah, melihat pucuk Pohon Cinta yang telah menjulang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Pohon itu masih sama ramainya. Orang-orang, masih mempercayakan masa depan cintanya di sana. Pasangan-pasangan yang dimabuk cinta, menuliskan namanya masing-masing ke helai-helai daun kering yang berjatuhan ke tanah, dan menempelkannya lagi ke batangnya.
Kita jodoh, Neela,” dia teringat Dai bicara padanya setahun lalu. “Daun yang kita pilih masih tergantung di  sana.
Dan kedua daun itu…, masih disimpan oleh Dai. Terbingkai rapi di sebuah pigura kayu.
Dai menyimpannya. Dan sekarang pasti berada bersamanya. Kenapadia menyimpannya? He save them.
Neela menunduk. Menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Dia menutup matanya, dan menyingkapnya lagi, seiring kepalanya kembali terangkat. Dan kembali melebar seperti beberapa saat lalu, saat melihat sosok yang dicarinya akhirnya tertangkap olehnya. Berdiri tak jauh di depannya, di tengah-tengah keramaian di depan Pohon Cinta. Menatapnya dengan wajah penuh kepahitan yang sama dengan dirinya. Memandangnya dengan mata yang sama berkacanya dengan matanya. Dai.

It’s part of your heart, that he took. It’s part of your soul, that he brought along. It’s part of your life that he stole from you. Without him, you’re nothing. Incomplete.

“Neela!”
Suara nyaring yang kesal menarik Neela dari semua hal yang mengabur. Dunia nyata menariknya lagi. Dia menoleh, memandang Chiyo yang tergesa menghampiri. Terengah-engah seperti orang yang habis berlari jauh.
“Kau ini kenapa?” dia bertanya jengkel. “Lari begitu saja dan—kenapa kau menangis?” Ekspresi wajahnya berubah cemas. “Ada apa?”
Neela teringat Dai. Cepat-cepat menghadapkan wajahnya lagi ke depan. Berharap Dai masih berdiri di sana, memandangnya. Namun dia tak ada. Sosoknya telah menghilang lagi.
“Neela!” Chiyo mengguncang bahu Neela. “Ada apa?”
Neela menutup mata, membiarkan butiran bening jatuh lagi. Tak menjawab. Tak bisa. Dia cuma ingin menangis. Ingin bersedih. Membiarkan dirinya merana. Membiarkan hatinya perih.
“Neela!” Chiyo memanggilnya lagi. Tapi suaranya sekarang, tak lebih dari suara nyaring yang jauh di telinga Neela. Tidak berarti apa-apa.

It’s love, when you’re start to feel alone in the world. It’s love, when you stop to hear another voice except his. It’s love, when you let the pain embrace your heart entirely. It’s love, when you sacrifice your happiness for him.

(Bersambung)

gambar dari sini

Note:
Stay tune for the last chapter guys! Love you!

6 comments:

dinar December 3, 2012 at 10:20 AM  

Arghhhhhhh.....kenneth gmn mbak????huhuhuhu...yuk tgl dikit ya mbakkk....ditunggu...smangatttt ^^/

mell cemell,  December 5, 2012 at 3:20 PM  

jadi binund ,,,
ahh mb lita nihhh ..
muesty bikin penasaran deeeee

aldila,  December 5, 2012 at 11:31 PM  

Astaganagaaaaa..*pembaca yang ikut jungkir balik ngikutin cerita yang alurnya kayak jetcoaster ini* *trus bingung harus komen apa lagi* :p

Anonymous,  December 6, 2012 at 4:28 PM  

ah iya mba' dai sangat keren .... suka-suka

Lita December 11, 2012 at 8:06 PM  

@Dinar: Kenneth gak kemana2 kok, Di... Di situ2aja :P

@Mell: Bingung? Pegangan ma tiang. Terus nyanyi "Kuch2 Hota Hai" #demamSRK

@Anonymous: Emang keren, Dai *ikut histeris* Kamu kok Anonymous sih?

Gloria Putri December 12, 2012 at 10:11 PM  

ihhh....neela nyebelin pake ke tokyo dome sgala......buruan sambungannya mba

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP