A Lot Like Love (34)

>> Monday, November 12, 2012


Baca: A Lot Like Love (33)


Here and Back Again


NEELA, masih bertanya-tanya, apa yang membuatnya jatuh tertidur kemarin sore. Yang dia ingat, Arata mendekatinya, menempelkan jarinya di lehernya dan tahu-tahu dia sudah tidak ingat apa-apa lagi. Sepertinya dia mendadak tak sadarkan diri tanpa tahu apa penyebabnya. Dan saat dia mencoba menanyakannya pada Kenneth, jawaban Kenneth cuma, “Itu karena obat tidur yang kau minum,” tanpa menatap matanya sama sekali, dan itu bukan jawaban yang diharapkan olehnya.
Sekarang dia termenung di kursi rodanya yang melaju pelan. Matanya menjelajah, namun pikirannya terfokus pada hal-hal yang sejak kemarin memenuhi kepalanya. Shinji, misalnya. Neela masih memikirkan hubungan orang bernama Shinji tersebut dengan dirinya. Dan kenapa dia dikait-kaitkan dengan kematiannya. Lalu Kyouta, yang disebut-sebut adik Dai. Benarkah dia membunuh Shinji itu?
Sungguh dia ingin tahu. Benar-benar ingin tahu. Apalagi kalau dia terlibat atas semua itu. Tapi…, apakah Eiji atau Kenneth mau mengatakan padanya? Kelihatannya mereka enggan memberitahunya.
“Neela.”
Neela menarik diri sejenak dari lamunan. Menolehkan wajah untuk memandang Eiji yang berjalan di sebelahnya, mengimbangi kursi rodanya yang didorong pelan oleh Arata dari belakang.
Kau oke?” tanya Eiji.
Neela mengangguk, menyunggingkan senyum kecil pada Eiji. Setelah itu kembali menghadapkan wajahnya ke depan.
Dia baru saja menjalani CT Scan, untuk memeriksakan kondisi kepalanya yang sempat cidera akibat kecelakaan beberapa bulan lalu. Menurut Dokter itu perlu dilakukan, mengingat dia cukup terguncang oleh insiden tenggelamnya Dai beberapa hari lalu.
Bagaimana keadaannya sekarang? Tanya Neela dalam hati. Apa dia sudah benar-benar pulih? Kemana dia akan dipindahkan?
Neela benar-benar merasa bersalah pada Dai. Tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri bila Dai meninggal karena tenggelam hari itu. Andai saja dia tidak memprovokasi Dai; berpura-pura percaya kalau dia tidak bisa berenang, hal itu pastinya tak akan terjadi. Tapi… nyatanya, Dai memang tidak bisa berenang. Dia membuktikannya. Tapi… untuk apa pembuktian itu? Apa tujuannya?
Dan Kenneth..., untuk apa dia meyakinkan dirinya, kalau Kennethlah yang dicintainya, bukannya dirinya?
Sungguh, Neela dibuat bingung dengan semua ucapan Dai. Ditambah lagi pembicaraan Eiji dan Kenneth kemarin. Dan dia tidak tahu bagaimana mengaitkan satu dengan lainnya untuk menyimpulkannya menjadi satu kejelasan.
Kau dapat tamu hari ini,” kata Eiji, ketika mereka hampir mencapai pintu kamar Neela.
Neela ingin bertanya ‘siapa’, tapi diurungkan karena Eiji telah memutar gagang pintu membuka, dan masuk ke dalam kamar.
Suara-suara menyeruak. Amat ramai. Kedengaran seperti lonjakan kegembiraan. Kedengaran seperti reuni yang menyenangkan antar kerabat. Mengantarkan rasa hangat yang menenangkan kepada Neela. Dan entah bagaimana, dia merasa hal ini pernah terjadi. Pernah dirasakannya.
Arata mendorong kursi rodanya melewati ambang pintu. Neela melihat beberapa orang berkumpul di sisi lain kamar, dimana satu set sofa ditempatkan.
Wajah-wajah itu
Lea, dan putranyaHei. Dean sudah besar, suara kecil di kepala Neela berkata riang. Bagaimana aku tahu kalau namanya Dean? Neela kebingungan. Dia melihat satu laki-laki lagi. Dia mungkin pernah melihatnya. Sepertinya. Juna, lagi-lagi suara kecil di kepalanya berkata, seolah memberitahu. Dia suami Lea. Lalu, ada Malini juga. Malini bersama
Pemandangan seperti ini pernah aku lihat, Neela mengingatkan dirinya sendiri.
Hei, Neela.”
Neela tidak tahu siapa yang menyapanya. Pandangan di depannya mengabur, dan kemudian berganti dengan suasana lain. Malam hari. Malam hari yang sangat hangat dan menyenangkan. Dia berdiri di ambang pintu beranda belakang rumah pantai. Suara ombak yang berdebur terdengar jelas di telinganya. Angin menerobos, meniup tubuhnya. Kemudian dia melihat Lea sedang menggendong Dean, yang baru saja diambilnya dari Juna, suaminya. Tidak hanya dia yang ada di sana, tapi Eiji, Malini dan Jose yang duduk mengelilingi meja yang sarat makanan. Dan juga… Shinji.
Shinji? Laki-laki tampan itu memandanginya dengan tatapan tajamnya yang biasa. Namun entah kenapa… sorotnya amat lembut.
Setelah itu ingatan yang menyerupai film yang diputar cepat berkelebatan di mata Neela. Wajah Shinji yang mengernyit…, kerlingan matanya yang menusuk…, suaranya yang berat dan dingin…, punggungnya yang berkilap oleh air…, senyum samarnya yang menyenangkan…, lalu…, datanglah kenangan itu, sosok Shinji yang terduduk lunglai di atas kursi roda, disusul suara Lea, “Dia mengidap Demensia. Semacam kerusakan otak parah, yang membuat pengidapnya akan hilang ingatan secara total dengan… perlahan, sampai akhirnya lumpuh dan tak merespon…” Lea berkata dengan air mata yang mengalir di pipinya.
Dia membantumu sepenuhnya, mulai dari perawatan wajah, tubuh, dan lain-lain yang dia pikir akan membantu mendukung karirmu nanti. Dia mempertemukanmu dengan Kenneth tanpa kau tahu sebelumnya, dan meminta semua yang tahu akan rencananya itu, untuk merahasiakan darimu…”
Aku mencintainya.” Neela mendengar suaranya sendiri. “Aku sangat mencintainya.”
Kenapa kau jadi begitu sedihnya hanya karena seseorang yang sudah tak ada lagi untuk memberimu kasih sayang, yang bahkan tidak sekali pun pernah ditunjukkannya padamu?” Kini wajah Kenneth yang terlihat. Begitu gusar dan amat marah.
Demi Tuhan, kau itu GAY, Kenneth! Kau tak selaki-laki dirinya untuk melakukan apa yang dia telah lakukan untukku!” Dia melihat dirinya berteriak pada Kenneth.
Dan setelah itu ingatan-ingatan lain tumpang tindih di benaknya, seperti sesuatu yang dilempar bersamaan di depan mata. Dai…, Kenneth…, senyum Dai…, wajah Kenneth…, wajah Eiji…, Malini…, Arata…, Chiyo…, dan…
Motor yang dikendarai Dai terempas oleh satu entakan. Dan Neela merasakan tubuhnya melayang di udara. Kepalanyadia merasakan kepalanya terbentur keras. Dan itu sakit sekali. Luar biasa sakit. Dia akan mati. Dia tahu itu.
Kenneth…” Namanya adalah kata terakhir yang terucap dari bibirnya. Sebelum dia menutup mata. Sebelum langit mengabur dari pandangan. Sebelum gelap menguasainya.
NEELA!
Neela mendengar suara Kenneth yang panik. Entah nyata, atau bagian dari kenangannya, dia tak tahu. Kepalanya terlalu sakit untuk berpikir.
Ya Tuhan! Tolong panggil Dokter!” Seseorang menjerit panik.
Neela!
Neela!”
Nee…”
Perlahan suara-suara itu menghilang. Berubah menjadi gaung samar yang tak jelas, sampai akhirnya hanya kedengaran seperti dengingan di telinganya.

Kenneth tak menyangka kalau kehadiran semua sahabatnya, malah membuat Neela syok. Dia jadi amat merasa bersalah, dan semalaman tercenung di luar kamar Neela, sementara gadis itu beristirahat di atas tempat tidurnya.
Eiji yang berusaha menghibur Kenneth, menyerah. Karena bagaimana pun usahanya untuk menenangkan Kenneth, tak membuahkan hasil. Lea, Malini, bahkan Juna, juga berusaha, tapi tetap saja, Kenneth bergeming.

“Ken. Kenneth…”
Kenneth mengangkat kepalanya buru-buru. Menegakkan badan perlahan, seraya mengusap-usap matanya yang terasa lengket. Dia memaksakan diri memandang orang yang barusan memanggilnya, mendongak ke arah Lea yang berdiri dengan punggung sedikit dibungkukkan dan tangan bersedekap.
“Ada apa, Lea?”
Sori. Aku tahu kau capek…” Lea menegakkan badan, mengeratkan cardigan wolnya. “Tapi…, Neela sudah bangun, dan dia menanyakanmu.”
Untuk beberapa saat Kenneth bengong, sepertinya berusaha mencerna kalimat yang baru saja diucapkan Lea. Dan begitu dia sudah menangkap maknanya, tanpa bicara lagi dia bangkit. Melesat menuju kamar perawatan.
Langkahnya tertahan sewaktu dia berada di depan pintu. Ragu untuk mebukanya karena rasa bersalah yang belum sepenuhnya menguap. Ragu untuk masuk ke dalam, dan melihat Neela masih terbaring lemah di peraduan. Tapi kemudian, dia meraih gagang pintu dan memutarnya perlahan. Mendorongnya membuka dan masuk ke dalam kamar. Lea menyusul di belakangnya.
“Anda… harus istirahat dulu,” kata laki-laki berjas putih yang berdiri di sebelah tempat tidur Neela. Dokter Ayung. “Tenangkan diri. Karena pastinya… semua ini membuat Anda agak terguncang.”
Eiji yang berdiri hanya beberapa langkah dari Kenneth, memalingkan wajah sekilas. Memberikan senyum dan anggukan kecil pada Kenneth.
“Secara fisik Anda sudah jauh lebih baik, tapi secara mental, mungkin ada 1-2 hal yang perlu Anda selaraskan. Jadi sebaiknya…, sampai Anda benar-benar siap, Anda tidak perlu meninggalkan rumah sakit dulu,” kata Dokter Ayung lagi.
“Baik, Dok,” kata Neela dalam suara serak yang lemah.
“Kalau begitu, saya tinggal dulu. Suster akan mengecek kondisi Anda setiap dua jam sekali. Dan—” Dokter Ayung memutar badannya, dan berbicara pada Kenneth, Lea dan Eiji, “—kalau ada apa-apa, tolong segera hubungi saya atau perawat di luar,” katanya lagi, diakhiri senyum.
Kenneth, Lea dan Eiji mengangguk bersamaan, dan mengucapkan terima kasih yang juga hampir bersamaan pada Dokter Ayung.
“Saya pergi dulu,” Dokter Ayung pamit. “Nona Neela, dan semuanya…”
“Saya antar, Dok,” Lea menawarkan diri buru-buru. “Sekalian ada yang perlu saya tanyakan pada Dokter.” Dia mendului Dokter Ayung menuju pintu, dan menariknya membuka. Mempersilakan Dokter Ayung keluar terlebih dulu, baru menyusulnya pergi.
Tinggal Kenneth, Eiji dan Neela sekarang. Dan entah kenapa situasi jadi terasa begitu canggung. Seakan ada yang merekat kedua bibirnya dan melipat lidahnya, sehingga Kenneth tidak sanggup mengeluarkan suara sama sekali. Kakinya juga, seakan saja terikat oleh sulur tak terlihat yang menyeruak dari sela lantai keramik mengkilap di bawahnya. Diatak tahu harus apa.
“Aku pergi dulu,” kata Eiji memecah kesunyian.
Kenneth mengernyit. Memasang tampang ‘tolong jangan pergipada Eiji yang telah berbalik.
“Jaga Neela.” Eiji tidak memedulikan ekspresi memohon Kenneth. Bergegas ke arah pintu, dan menghilang dari baliknya.
Kenneth memandang pintu yang telah menutup sampai beberapa waktu setelah Eiji pergi, seakan saja Eiji akan muncul lagi. Dan setelah dia yakin kalau takkan ada yang melalui pintu itu lagi, dengan amat enggan dia menghadapkan wajahnya ke depan. Dan langsung bertemu pandang dengan Neela, yang ternyata sedang memerhatikannya.
“Kenapa kau berdiri jauh begitu?” tanya Neela geli. “Kau takut padaku?”
Kenenth mendengus geli. “Tentu saja tidak.” Dia berjalan mendekat. “Aku cuma… takut mengganggumu,” katanya lagi, tersenyum menenangkan. Meletakkan jari-jemarinya di tepian kasur Neela.
“Kau oke?” tanya Kenneth. Bahkan di telinganya kalimat tersebut kedengaran begitu canggung. Tapi cuma itu yang bisa dia katakan saat ini.
Neela memamerkan deretan giginya yang putih. “Lebihdari oke.”
Kenneth mengerutkan bibirnya. Mengangguk-angguk. Tidak berani memandang mata Neela.
“Hei…” Neela menyentuh jari telunjuk Kenneth. “Kau… oke?” Dia balas bertanya.
Kenneth tidak menjawab. Sentuhan Neela di jari telunjuknya mengantarkan ledakan perasaan yang tak terkatakan di dalam dirinya. Emosinya tak terkatakan. Dia tidak tahu apakah itu kesedihan, kemarahan, atau kebahagiaan—atau semuanya, yang campur-aduk jadi satu.
“Ken?”
“Aku… tidak tahu… apakah aku baik-baik saja atau tidak, Neela,” kata Kenneth tiba-tiba. Memberanikan diri menatap mata coklat Neela lekat-lekat. “Kau… jatuh kemarin… dan… aku… Aku merasa… aku merasa… luar biasa tolol. Aku sekali lagi… tidak bisa melindungimu. Kau… adalah amanat dari banyak orang… Dari Shinji… Eiji, Lea… dan aku… tidak mampu untuk… menjagamu.”
“Bukankah… kau sudah menjagaku lebih dari seharusnya?” tanya Neela. Menggenggam tangan Kenneth. “Bukankah… kau sudah melindungiku… sejak lama, Kenneth? Bukankah kau… selama ini telah berkorban banyak untukku?”
Dahi Kenneth berkerut.
“Jangan… pernah menyalahkan dirimu karena aku… Aku tidak berhak atas itu… Aku… bukan siapa-siapa.”
“Neela… Kau… Kenapa bicara begitu?” Kenneth memandang Neela bimbang. “Jangan bicara seperti itu… Kau… penting untukku—untuk semuanya.”
Neela memandang Kenneth dalam tatapan sayu yang hening. Selama beberapa waktu tak mengucapkan apa pun sama sekali. Air mata menggenang di tepian mata besarnya, siap meluncur turun kapan pun dia mau.
“Kau menangis…” kata Kenneth. “Tidak seharusnya kau menangis.” Dia mengusap air mata Neela yang baru saja menetes ke pipinya. “Dokter bilang… kau harus tenang. Jadi jangan menangis.”
If you love me so much… why didn’t you tell me directly?
Kenneth mengerutkan keningnya lagi. Kaget, mendengar Neela menanyakan hal tersebut.
“Kalau kau… memang menginginkanku… kenapa berpura-pura menjadi gay, dan membuatku tidak bisa melihat dirimu?”
“Neela…?”
Kenapa membiarkanku menghinamu? Kenapa… membiarkanku…”—Air mata Neela jatuh lagi—“mengenang Shinji begitu jauh?”
Kenneth menutup mulutnya yang membuka dengan satu tangan. Tidak bisa bersuara, karena suaranya tertahan oleh sesuatu yang keras di kerongkongan.
“Kenapa… kau… mencintaiku… tapi meninggalkanku begitu saja tanpa tahu bagaimana perasaanmu sebenarnya padaku?”
“Neela…, kau…?”
“Aku ingat, Kenneth,” isak Neela. Menatap Kenneth sedih. “Aku ingat semuanya… Aku ingat Shinji…, aku ingat kau…, aku ingat Eiji… Aku ingat…”
 “Ne—Neela…” Kenneth duduk di tepi kasur Neela.
“Aku mencintai Shinji… tapi…, sudah seharusnya aku… tidak berlarut-larut meratapinya. Sudah seharusnya aku,”—Neela mengangkat wajahnya, memandang Kenneth, “melihat orang lain, yang telah begitu mencintaiku selama ini.”
Kenneth menutup mata, dan bersamaan dengan itu mengirimkan tetes air yang jernih ke pipinya yang pucat.
“Yang tanpa pernah mengeluh atau mengharapkan apa pun…, selalu ada untukku,” sambung Neela lagi, sesenggukan. “Bahkan saat aku tak bisa melakukan apa pun untuk diriku sendiri.”
Kenneth membuka mata, dan melihat Neela sedang memandangnya dengan air mata yang semakin deras bercucuran. “Kau ingat...,” kata Kenneth.
Neela menganggukkan kepala cepat. Tersenyum.
“Kau ingat,” ulang Kenneth lagi. Segera merengkuh kepala Neela, dan mendekapnya erat penuh kerinduan. “Kau kembali, Neela.”
I’m sorry, Kenneth,” isak Neela, dari balik dada Kenneth. “Maaf aku membuatmu sedih. Maaf akumelupakanmu…”
It’s okay. It’s okay… Kau di sini sekarang. Dan semuanya akan baik-baik saja,” balas Kenneth, masih memeluk Neela. “Tolong… jangan pergi lagi. Jangan…”
Keduanya terisak. Menangis dalam bahagia yang tak terucapkan. Saling berpelukan seolah tak bisa dilepaskan lagi. Neela telah kembali sekarang; utuh bersama semua kenangan yang tersimpan di memorinya. Dan itu sudah cukup untuk Kenneth. Lebih dari cukup.


Tiga bulan kemudian

Tidak ada Shinji lagi sekarang yang memandang dalam naungan gelap mata Neela yang terpejam. Tak ada senyumnya lagi, yang selalu merekah, yang selalu Neela lihat di setiap pertunjukan yang digelarnya. Tak ada lagi dirinya, dalam mimpi-mimpi malamnya yang senyap. Shinji telah pergi; bebas tanpa Neela meratapinya.
Kau harus bahagia, Neela…” ucapnya saat itu. “Jangan membuatku khawatir terus-menerus dengan terus menagisiku. Aku sangat menyayangimu… dan aku ingin kau bahagia. Hidupmu adalah milikmu, bukan milikku. Jadi… lupakan aku… dan mulailah hidup yang baru… tanpa diriku.
Itu mimpi. Mimpi yang datang pada saat Neela masih berada di rumah sakit. Mimpi yang seolah nyata dan dapat dirasakan oleh Neela. Mimpi tentang Shinji yang datang dan duduk di sebelahnya di padang rumput hijau yang amat luas, untuk mengucapkan selamat tinggal.

This is for you, Shin, gumam Neela dalam hati, sebelum menggesekkan busur biolanya.
Dan saat busur tersebut mulai bergerak di atas senar, suara nada yang menyayat langsung terdengar. Menusuk hati. Merasuk ke jiwa semua orang yang hadir dalam pertunjukkannya. Membuat mereka terdiam, dan mengawang diiringi alunan musik yang merdu, berjudul ‘Kabhie Alvida Na Kehna’ sebuah instrumental dari Original Sound Track film India Kabhi Alvida Na Kehna—Jangan pernah mengucapkan selamat tinggal—yang sangat menyentuh.
Neela sengaja memilih lagu tersebut untuk didedikasikannya pada Shinji. Laki-laki yang sangat dicintai dan dihormati olehnya. Laki-laki, yang telah memberikannya hidup yang tak sekali pun ia mimpikan akan menjadi miliknya. Mengantarnya pada kebahagiaan yang utuh. Menuntunnya pada cinta  tanpa syarat yang diberikan oleh para sahabatnya, yang diberikannya cuma-cuma tanpa imbalan.

Tumko bhi, hai khabar, mujhko bi hai pata
Kau dan aku tahu

Ho raha, hai juda, donon ka, rasta
Bila jalan kita sekarang telah terpisah

Door jake bi mujhse, tum meri yadon mein rehna
Kau akan selalu kukenang, meskipun kau telah pergi

Kabhi alvida na kehna
Jangan pernah mengucapkan selamat tinggal


Dia mengalami kerusakan otak parah akibat pukulan tongkat baseball Kyouta,” Juna bercerita, dua bulan lalu, saat dia masih berada di Bali. “Koma, dan dinyatakan lumpuh total oleh Dokter. Sebelumnya…, sebelum dia pergi ke pabrik tempat Kyouta menyekapku, dia mengirimkan email pada kami semua, untuk tidak menceritakan apa pun padamu bila terjadi sesuatu padanya. Untuk kebaikanmu dan juga Eiji, yang ditugaskan untuk menjagamu setelah dia tak ada. Dia ingin kau tetap melihat Eiji seperti Eiji yang sebelumnya. Bukan Yakuza, yang pastinya akan membuatmu ketakutan. Kami mengikuti permintaannya. Mengatakan padamu, kalau Demensia yang membuat Shinji akhirnya meninggal. Walaupun itu benar… tapi, jelas itu tetap suatu kebohongan. Karena bukan itu yang membuatnya meninggal. Melainkan… pukulan tongkat itu.

Ruth a rahi hai, ruth jahi hai
Musim berganti

Dard ka mausam badla nahin
Tapi musim yang menyakitkan tak berganti

Rang ye gham ka, itna hai gehra
Warna penderitaan begitu dalam

Sadiyon bhi hoga halka nahi
Takkan pudar sampai kapan pun

Kaun jane kya hona hai
Tak ada siapa pun yang tahu apa yang akan terjadi

Humko hai ab kya sehna
Dan apa lagi yang akan kita hadapi

Kabhi Alvida na Kehna
Jangan pernah mengucapkan selamat tinggal

© Kabhi Alvida Na Kehna OST


Dai adalah kakak Kyouta, tapi dia sangat jauh berbeda dengan Kyouta. Dia membantumu dengan tulus, kendati pada akhirnya dia tidak bisa membedakan mana pertolongan dan mana cinta. Kendati begitu…, dia laki-laki yang baik,” kata Kenneth. “Dia tidak pernah menyakitimu sedikit pun. Diamencintaimu. Jangan membencinya karena itu.

Neela membuka mata, saat dia akan memperdengarkan lantunan terakhir dari musik yang dibawakannya. Melihat Kenneth yang menyaksikan permainannya dengan senyum menenangkan di wajahnya. Melihat Lea, Juna, Eiji dan Malini yang duduk di sebelahnya; teman-teman yang sangat dicintainya. Pengganti Shinji, yang akan menemaninya melangkah di dunia. Membuatnya untuk tetap tegar untuk menghadapi apa pun di depan sana.
Thank you, Shin, dia membatin, seraya merengkuh pelan busur biolanya di atas senar. Jangan pernah mengucapkan selamat tinggal. We’re all love you.

(Bersambung)

gambar dari sini
What do you want from me now?
I love a girl whom in love with someone else and cant do anything about that. I'm so pathetic.

-Dai-

Ps.

2 chaps lagi.... \(^_^)/ *usap keringat*

5 comments:

aldila,  November 12, 2012 at 11:47 PM  

Peluuuukkk mbak Litaaaa biar makin semangaaatt....Asik, berarti bakal ada another story buat Dai! *padahal yang ini aja belum abis* *ditimpuk yang ngarang* :p

feby prinadewi,  November 13, 2012 at 8:43 AM  

Huaaa...seddih mba ^_^ dai, dai, dai, mdh2n chapter akhirnya happy ending yah, semangat

dinar November 14, 2012 at 12:12 PM  

Ya ampun mb litaaa...kmn ajaaaaa...hehehe....srg ngecek blog mb lit demi lnjutan kenneth n neela.finally kluar jg.srmangat ya mb.tgl 2 lg.....n mksih bwt critanya slama ni.hehehe ^^d

mell cemell,  November 22, 2012 at 1:09 PM  

lanjuttt mb ....


:) :) :)

Nonanovnov December 1, 2012 at 9:51 PM  

#teamDai \m/
yeay! next chapt ditunggu ya mbaaaakkk ;)

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP