A Lot Like Love (32)

>> Thursday, September 20, 2012

Baca A Lot Like Love (31)

The Ugly Truth



Malini’s House. Jakarta. 15.00 WIB

SEPERTI yang telah Kenneth duga, Malini langsung syok mendengar berita kehamilan Marin. Selama sepersekian detik, selain ber’ah-uh’ tak jelas, tak satu pun kalimat normal yang dilontarkannya pada Kenneth. Dia panik, bingung dan amat terguncang oleh berita itu. Apalagi saat tahu kalau laki-laki yang menghamili Marin adalah seorang anggota Yakuza.
“Jadi…” dia terus-terusan mengelus perutnya yang besar, “apa yang harus kita lakukan? Apa… kita perlu kasih tahu Eiji?”
“Masalahnya,” Kenneth menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, “Marin tidak mau Arata tahu—atau pun melibatkan Arata. Dia tidak tega. Dia mengira Arata itu semacam pelayan…, atau supir. Jadi, kalau Eiji sampai tahu… Arata pasti akan kena masalah.”
Malini tercenung selama beberapa saat. Memandang Kenneth dengan tatapan bimbang. Setelah itu dia mendesah, mengempaskan pundak, dan mendorong badannya ke belakang; bersandar. “Yang aku tak habis pikir… bagaimana mereka bisa…?” Sisa kalimatnya tertelan di tenggorokan. “Apa kau… Well, apa mereka memang kelihatan saling suka?”
“Setahuku tidak.” Kenneth kembali duduk tegak. Menautkan jemari tangannya. “Selama di Jepang, Arata selalu memperlakukan Marin dengan hormat dan sopan, seperti layaknya dia memperlakukanku dan Neela, jadi… memang mengherankan kenapa mereka bisa berakhir begitu.”
So… What will we do now?
“Entahlah.” Kenneth mengedikkan bahu. Mengembuskan napas tajam. “Bagaimana menurutmu?” Dia menatap Malini yang duduk di sofa panjang di seberangnya.
“Kau bertanya padaku, sementara aku sendiri sudah tak mampu lagi berpikir.”
“Biasanya idemu muncul pada saat-saat genting begini.”
“Ini terlalu genting, Ken. Ini masalah… bayi. Hidup seseorang. Belum lagi keluarga Marin. Ayahnya… Kita sepertinya cuma bisa pasrah saja dan menyerahkannya pada Marin. Atau… apa kita beri tahu Arata saja?”
“Marin sudah bilang, dia—” Suara ponsel memotong kalimat yang akan dilontarkan Kenneth. Dia buru-buru mencondongkan badannya ke depan, dan meraih ponsel yang diletakkannya di atas permukaan meja tamu. “Ini Arata,” dia memberitahu Malini setelah sebelumnya memandang layar ponselnya.
Malini mengangguk. Matanya membulat.
“Halo,” Kenneth menjawab telponnya.
Tuan Kenneth?” Suara Arata terdengar cemas. Napasnya tersengal.
Kenneth menegakkan badan. Wajahnya seketika menegang. “Ada apa, Arata? Ada masalah? Neela baik-baik saja?”
Nona Neela baik-baik saja. Tapi Dai-san…”
“Dai? Kenapa Dai?”
Di depan Kenneth, Malini bangkit dengan susah payah. Berjalan mendekat dengan tampang tak kalah cemasnya dengan Kenneth.
Dai-san saat ini sedang dalam perawatan di rumah sakit. Dia… tenggelamdan tak sadarkan diri.
“Tenggelam? Tenggelam bagaimana?”
Sebaiknya Tuan kembali ke Bali sesegera mungkin. Nona Neela syok berat. Dia histeris, dan saya… terpaksa membuatnya tidur.
“Ba-bagaimana? Membuatnya tidur?”
Saya minta, Tuan segera kembali,” Arata mengulang kalimatnya dengan nada penuh permohonan. “Saya pergi dulu, untuk memeriksa keadaan Tuan Dai. Selamat sore.”
Setelah itu, tanpa menunggu balasan dari Kenneth, Arata mengakhiri telpon. Membiarkan Kenneth melongo dengan ponsel yang masih menempel di telinganya.
“Ken? Ada apa? Siapa yang tenggelam?” Malini bertanya dari sebelahnya. “Neela tak apa-apa kan?”
Tangan Kenneth merosot dan menggantung lunglai. Pikirannya kacau lagi sekarang. Kebingungan dan penasaran atas apa yang terjadi pada Dai. Tenggelam, katanya. Tenggelam bagaimana?
Pelan, setelah kewarasannya kembali, Kenneth memandang ponsel yang masih dicengkeramnya. Menekan tombolnya sekali, dan menempelkannya lagi ke telinga.
Suara seorang laki-laki terdengar. Dan Kenneth langsung bicara dengan suara bergetar. “Halo… Eiji?”

Pantai Canggu, Bali.  13.00 Wita. Satu jam sebelumnya.

Ombak begitu ganas siang itu. Luar biasa besar, karena efek cuaca yang agak tak bersabahabat. Mendung menggantung di langit, dan angin bertiup kencang ke pesisir. Hujan besar pasti turun, sama seperti kemarin malam. Namun hal itu tentu tak menyurutkan semangat para peselancar yang nekat menantang ombak. Memanfaatkannya untuk berlatih, sekaligus pamer kemampuan selancar masing-masing tanpa gentar sedikit pun oleh air laut yang tak bersahabat. Menabrak, menerobos, menaklukannya dengan berdiri di atas papan selancar masing-masing dengan wajah berkonsentrasi namun penuh kepuasan.
Melihat mereka, Neela teringat masa lalu. Saat dia sembunyi-sembunyi mengikuti Dai ke pantai pagi hari, dan menontonnya berselancar; menyaksikannya terjatuh dan terbangun didera ombak. Dan melihat sinar matahari menyorotnya dari ujung laut. Dia sungguh… bercahaya.
“Kenapa kau tidak pernah berselancar selama di sini?” Neela menanyai Dai yang berjalan di sebelahnya. “Dulu… hampir setiap hari kau berenang dengan papan selancarmu itu.”
Dai mendengus tersenyum; tak langsung menjawab. Melempar pandang ke arah peselancar yang sedang beraksi. “Aku tidak bisa berenang… Jadi, bagaimana bisa berselancar,” katanya. Tersenyum muram.
Dahi Neela berkerut. Seperti sedang memikirkan sesuatu dengan penuh konsentrasi. Namun kemudian dia tersenyum simpul, walaupun masam. “Jangan bercanda,” katanya.
“Aku tidak bercanda.” Dai menghentikan langkahnya. Membiarkan Neela berjalan sendirian hingga dua langkah ke depan, sampai akhirnya dia berhenti dan memutar tubuhnya menghadap Dai. “I can’t swim,” ulang Dai lagi, ditemani senyum kecil.
Neela terkekeh. “Tidak lucu, Dai,” katanya setelah itu berbalik. Hendak beranjak lagi.
“Aku pernah tenggelam saat umurku kira-kira 15 tahun,” ujar Dai sedikit keras, membuat Neela kembali berpaling. “Ayahku melemparku ke kolam renang karena tidak suka melihatku lebih memilih berlatih biola daripada berlatih bela diri dan semacamnya. Dan kemudian, menyeretku dari kamar dan melemparku ke kolam. Berpikir kalau aku mungkin akan berusaha keras naik ke permukaan. Namun aku terlalu takut, sampai-sampai badanku kaku dan akhirnya” (dia menoleh pada Neela) “aku kehabisan napas dan pingsan. Setelah kejadian itu, hubunganku dengan ayahku renggang, dan dua tahun kemudian aku dikirim ke Amerika, untuk tinggal bersama kakekku.”
Dahi Neela berkerut amat kuat. Dia jelas meragukan cerita Dai barusan. Yang dia tahu tidak seperti itu. Sama sekali bukan seperti itu. Tapi… untuk apa Dai menceritakan hal yang tak benar tentang dirinya? Apa tujuannya.
“Tapi Dai…, setahuku… kau hanya tinggal bersama ibumu,” ucap Neela. “Sejak kecil… kau tinggal di sini. Di rumah pantai itu.” Dia mengangguk ke rumah pantai di belakang. “Kau tak pernah tinggal di Amerika. Kau… tinggal di Jakarta pun… sejak kau menang di ajang pencarian bakat. Bersama Lea. Dan yang kutahu… ayahmu juga tak pernah tinggal di Indonesia. Melainkan di Jepang.”
Dai tersenyum simpul bersamaan dengan napasnya yang mengembus tajam. Dia kembali memandang Neela dan berkata, “Kau bercerita tentang hidup orang lain, bukan aku. Karena aku… tak pernah tinggal di Bali. Tak pernah ikut ajang pencarian bakat. Tak mengenal Lea begitu dekat. Dan ayahku… tidak pernah tinggal di Jepang.”
Seperti ada sesuatu menghantam kepala Neela usai Dai bicara. Tidak tahu kenapa jantungnya berdegup begitu cepat daripada sebelumnya. Dia tak tahu harus menganggap Dai berbohong, bercanda atau serius. Tapi yang dia tahu semua perkataan Dai tidaklah benar. Tapi sekali lagi, untuk apa Dai bicara yang tidak benar tentang dirinya sendiri. Apa tujuannya?
“Kalau kau… mengatakan semua itu untuk mencandaiku… jujur saja, itu sangat tidak lucu. Kau membuatku takut. Aku khawatir…kau juga mengalami hilang ingatan sepertiku,” kata Neela cemas.
Dai mendengus tersenyum. “Aku baik-baik saja,” ujarnya. “Kecelakaan itu tidak berakibat fatal untukku. Selain kakiku… tak ada satu pun fungsi tubuhku yang terganggu. Jadi kau tidak perlu cemas.” Tampang Dai terlihat sinis.
Untuk beberapa waktu, Neela cuma memandang Dai dengan tatapan terguncang. Dia juga jengkel karena merasa Dai sedang mengolok-ngoloknya. Bermaksud membuatnya bingung tanpa alasan yang jelas. Namun, apa yang membuatnya mendadak bersikap begitu? Seakan saja dia bukan Dai yang dikenalnya.
“Kau sepertinya kesal,” Dai berkomentar, dan Neela segera mengalihkan pandang.
Beberapa peselancar sudah naik ke permukaan sambil menenteng papan selancarnya. Di atas awan hitam mulai menutupi matahari. Angin berembus semakin kencang, dan ombak semakin ganas mengempas. Neela dapat merasakan butiran air yang menerpa sekujur wajah dan badannya.
“Tapi aku berkata yang sebenarnya,” sambung Dai, memasukkan satu tangan ke saku celana pendeknya.
“Kau bohong.” Neela menuduh. Kesal. “Tidak tahu kenapa, sejak hari pertama kau selalu berusaha membuatku bingung.”
Dai menggeleng. “Aku tidak berusaha membuatmu bingung. Aku mengatakan yang sebenarnya.”
“Yang sebenarnya tidak begitu,” tukas Neela. “Aku tahu dirimu. Sebelum kita sedekat ini, aku adalah penggemar beratmu. Kau adalah Dai. Kau penari. Kau penyanyi. Kau aktor. Kau yang… aku tahu begitu menyayangiku. Kau…” Neela berhenti bicara. Dadanya mendadak sesak. “Kau… yang aku cintai begitu besar.”
“Aku memang sayang padamu,” Dai menimpali. Tersenyum. “Kalau itu… memang benar. Tapi yang lain...” Dai mendengus. “Namaku memang Dai. Dai Tanaka. Tapi… aku tak pernah mendapati diriku menari atau pun menyanyi seperti yang kau bilang. Aku juga tidak pernah bermain film. Kau bisa cek di internet, apa ada aktor atas namaku. Profesiku… jauh dari itu. Bisa dibilang… profesiku rumit. Aku… bukan orang yang kau maksud, Neela. Dan kalau begitu jelas… aku juga bukan orang yang kau cintai begitu besar.”
Neela luar biasa kesal. Mata besarnya membulat. “Aku tidak mengerti… kenapa kau berkata seperti ini. Tapi kau benar-benar membuatku tak nyaman, Dai. Kau… benar-benar membuatku takut.”
“Aku mengatakan yang sebenarnya.”
“Cukup. Sudah,” sergah Neela. “Aku tidak tahu… apa yang membuatmu bicara seperti ini tiba-tiba. Tapi menurutku… kau aneh. Kau… beda dari hari kemarin.”
“Itu karena aku… berupaya keras menjadi orang yang bukan diriku,” balasnya. “Dan cukup tiga hari aku bertahan… karena aku… tak bisa lagi.”
Mulut Neela membuka. Dia semakin kebingungan. “Aku semakin tak paham. Kau bicara ngelantur.”
“Ini yang sebenarnya,” sahut Dai. “Kalau aku… bukanlah orang yang kau anggap adalah diriku. Selain wajah dan namaku… tak ada yang kau ingat tentang diriku.”
“Aku ingat…”
“Semua kenangan yang ada di kepalamu itu, bukan aku,” sela Dai. “itu orang lain… Orang yang hadir dalam mimpi tidurmu sejak kau siuman dari koma.”—Mata Neela membeliak—“Dan lagi… cintamu… hanya pada orang itu. Dan satu lagi… pada Kenneth. Bukan aku.”
“Kau ini ngomong apa?” Neela marah. Matanya melotot. “Kau kerasukan? Kau bicara tak jelas seperti itu.”
“Aku berusaha, Neela… untukmu. Bertahan menjadi seseorang yang bukan diriku, dengan harapan aku bisa… mendapatkan cintamu. Tapi aku sadar… apa pun kondisimu… tetap tak bisa merubah perasaanmu. Kau akan tetap mencintai orang lain…, dan aku tetap akan… jadi seseorang yang tak kau kenal. Suatu hari kau akan ingat… dan kau tak akan mencariku. Melainkan orang itu.”
“Kalau Kenneth yang kau maksud—”
“Memang Kenneth yang kumaksud,” sambar Dai.
“Kenneth cuma—”
“Teman? Manajermu? Gay?” sela Dai lagi. “Saat ini kau tidak akan ingat… Tapi nanti… saat kau mengingatnya… kau pasti akan senang mengetahuimu kalau perasaannya juga sama seperti perasaanmu padanya. Terlebih lagi… dia bukan Gay. Kau akan sangat bahagia.”
Hujan turun. Dan Neela membeku di tempat dengan mata terpancang lurus pada Dai yang balas menatap dengan tatapan tajam yang sama. Bimbang meliputinya, tak tahu harus percaya atau tidak dengan semua perkataan Dai yang tak pernah diduganya sama sekali. Tapi melihat keseriusan ekspresi dan juga nada bicaranya, sepertinya dia mengatakan yang sebenarnya. Hati Neela… memintanya mempercayainya. Tapi akal sehatnya memintanya untuk tidak menggubrisnya. Jangan memercayainya begitu cepat. Bisa saja dia hanya ingin membuatmu kesal, kata suara kecil di kepalanya.
“Kita kembali saja,” kata Neela lemah. “Hujan. Dan… aku tidak bisa berpikir jernih.” Neela menggerakkan kakinya memutar, dan melangkah pergi.
“Kau masih tak percaya,” Dai berkata. “Kau meragukan semua perkataanku.”
Neela terus berjalan, berupaya keras tak menulikan telinganya. Dia tak ingin berpikir. Tak ingin mengingat semua kata-kata yang barusan didengarnya dari Dai. Menganggap semua itu bohong. Tak benar.
“Dai San!”
Neela mengangkat wajahnya yang barusan tertunduk, dan kaget melihat Arata berlari cemas ke arahnya. Neela menoleh ke belakang buru-buru. Dan langsung syok melihat Dai berjalan ke arah pantai, menyongsong ombak besar yang mengempas ke pesisir.
“Dai!” teriak Neela panik. Berlari menyusul. “DAI!”
Terlambat. Dai telah menceburkan dirinya. Membiarkan tubuhnya tertarik ombak yang menyeretnya ke dalam. Menghilang dari pandangan dalam sekejap.
Neela tak sadar; hendak menceburkan diri untuk menyelamatkannya. Namun segera dicegah oleh Arata yang segera menariknya menjauh. Berkata, “Tunggu di sini,” dengan nada tegas. Kemudian berlari menuju pantai sambil melepaskan alas kakinya, dan langsung masuk ke dalam air.
Para peselancar yang barusan naik ke daratan, berlari tergopoh-gopoh. Sebagian menenangkan Neela, dan sebagian lagi menyusul Arata untuk menyelamatkan Dai.
Hujan turun deras sekarang. Butirannya melarutkan air mata Neela yang berjatuhan ke pipi, sama derasnya. Dia tak tahu harus bagaimana? Tak tahu harus melakukan apa, selain berdoa agar Dai baik-baik saja.
Aku tidak bisa berenang…” Itu kata Dai sebelumnya. Dan Neela sama sekali tak memercayainya. Dia perenang hebat, pikir Neela. Dia peselancar hebat. Dia tak mungkin tenggelam. Dia hanya ingin menakut-nakutiku. 

(Bersambung)

gambar dari sini
Ps.
Guys! 4 chaps to go. Stay with us!

Seneng banget bisa lanjut lagi. Maaf kelamaan. Next pasti lebih cepat.
*tepuk pundak*

Thank you untuk semangatnya ya... Sampe2 ngirimin sms, ym dan email yang bikin termotivasi untuk cepet2 nulis lagi. Love you all so much!
Stay tune ya... Nggak sabar sama endingnya \(^-^)/

See you soon!

Lita

3 comments:

Nonanovnov September 21, 2012 at 12:16 AM  

niceeee, kak.. as always.. lanjut terus yaaa :)

mell cemell,  September 21, 2012 at 4:38 PM  

emmmmm ...mb lita niiii *gemes*

lamanya bikin lanjutannya .
a buka blog mb hampir tiap pagi, siang, sore trkadang sempet"in buka malemnya gg nongol" ..
*bls cubit*

tapii akhirnya release jg.
ahiihiihii . .
cemungud mb ! tag wait episode selanjutnya.
okehh .
*main mata*

:) :) :)

Gloria Putri September 26, 2012 at 5:44 PM  

tinggal 4 chap lg? mbaa...kali ini bikin ending yg manis yaaaaa.....jgn yg ngegantung....okeee?

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP