A Lot Like Love (31)

>> Saturday, August 25, 2012





Baca A Lot Like Love (30)

Complicated


I love this place
But it’s haunted without you
My tired heart is beating so slow
Our heart sing less than
We wanted, we wanted
Our heart sing cause
We do not know
We do not know
To light the night, to help us grow to help us grow
It is not said, I’ll always know

You can catch me
Don’t you run Don’t you run
If you live another day in this happy
Little house the fire’s here to stay
To light the night To help us grow To help us grow
It is not said, I’ll always know

Please don’t make a fuss
It wont go away
The wonder of it all
The wonder that I made
I am here to stay
I am here to stay
Stay♪

© Dear John OST – Little House by Amanda Seyfried

Tepuk tangan terdengar dari arah beranda. Neela menoleh, dan melihat Dai bersandar di kosen pintu seraya menepukkan kedua tangannya. Jemari Neela merosot dari senar gitar usang yang baru saja dipetiknya, meregangkan pundaknya, dan tersenyum kecil.
“Hei,” sapanya. “Sejak kapan kau berdiri di sana?”
Dai menyandarkan kepalanya miring, bersedekap. “Cukup lama, untuk mengagumi suaramu,” jawabnya. “Kau kembali,” lanjutnya lagi. “Penggemarmu pasti akan sangat senang bisa mendengar suaramu lagi.”
“Aku belum begitu… siap untuk itu,” timpal Neela, sementara Dai menegakkan badan, dan melangkahkan kaki mendekat. “Perlu waktu sampai aku benar-benar...”
“Semalam,” Dai menyela. Duduk di sofa di sebelah Neela. “kau oke. Kau… tak kelihatan tidak siap.”
“Itu karena kau ada di sana,” ujar Neela, memeluk gitarnya erat. “Kau dan para pemusik itu.”
“Tidak ada pengaruhnya.”
“Jelas ada. Besar sekali pengaruhnya. Kalian membuatku bersemangat. Dan permainan biolamu…”
“Payah.”
“Tidak.” Mata Neela membulat. “Aku sudah katakan berulang-ulang kalau permainan biolamu sangat baik, kenapa kau terus-terusan mengatakan payah?”
Dai tergelak, sedangkan Neela masih memandangnya dengan tampang merengut.
“Gitar siapa itu?” Dai mengangguk ke arah gitar usang berwarna merah di dekapan Neela yang permukaan kayunya sudah bocel-bocel dan ujung-ujung senarnya dililit sedemikian rupa untuk menahannya tetap terikat ketat di tuningnya. “Kelihatan menderita sekali,” komentarnya lagi.
“Aku menemukannya di kamarku,” jawab Neela setelah sebelumnya terkekeh. “Selama ini ada di sudut, tertutup gorden.” Dia mengangkat gitar usang tersebut, meletakkan bagian bawahnya di atas paha, memerhatikannya dari atas ke bawah. “Senarnya putus, dan aku” (dia menoleh ke arah Dai) “membetulkannya. Dan ternyata suaranya lumayan.”
“Hm.” Itu saja yang terembus dari bibir Dai yang sedikit terbuka. Memandang gitar tersebut.
“Shinji.”
Dai tersentak. “A-apa?” Dia berkata serabutan.
Neela memutar gitar, menunjukkan bagian belakangnya pada Dai. “Ini…” Dia mengusap huruf-huruf kecil yang ditulis dengan spidol hitam di sudut kanan atasnya. “bacaannya ‘Shinji’. Gitar ini pasti milik seseorang bernama Shinji.” Neela memandang Dai lagi. “Temanmu?”
Dai mengerutkan kening. “Te-teman?”
“Ya.” Mata Neela kembali membulat. Heran. “Kau tinggal di sini kan? Siapa pun yang meninggalkan gitar ini di sini—”
Well,” Dai menggaruk kepalanya yang tak gatal, “mungkin ada seseorang bernama Shinji yang meninggalkannya. Dulu aku sering mengadakan pesta; banyak orang datang, membawa banyak benda—ya mungkin gitar itu salah satunya.” Dia tersenyum lebar. Kelewat lebar. “Dan,” dia kembali bicara, melihat tampang Neela yang jauh dari mengerti, “karena gitar tersebut rusak, jadi dia tak membawanya. Mungkin begitu,” tambahnya ragu.
Neela mengangguk-angguk, sekilas kelihatan heran, namun segera tertutupi oleh cengiran kecil. “Ya. Mungkin begitu.”
Hening sejenak setelah itu. Keduanya memandang kosong gitar usang tersebut. Sibuk dengan benak masing-masing. Neela sendiri bertanya-tanya atas reaksi Dai yang sepertinya amat terkejut saat dia menyebut nama ‘Shinji’ tadi. Seakan saja dia tahu sesuatu mengenai itu.
“Ngomong-ngomong,” Dai kembali bicara, celingukan. “Kenneth mana? Dan Arata?”
Neela memeluk gitarnya lagi. “Arata di depan. Cuci mobil. Kalau Kenneth…” Dia berhenti sejenak. Membiarkan wajah Kenneth muncul di depan matanya untuk sesaat. “Dia ke Jakarta.”
Dai mengernyit. “Ke Jakarta? Kapan?”
“Tadi pagi. Dia mau mengurus sesuatu yang berhubungan dengan artis yang dimanajerinya.”
Dai mengangkat wajahnya sedikit. Keningnya berkerut seperti sedang berpikir, setelah itu dia mengangguk-angguk seolah paham, kendati alisnya masih bertaut seperti sebelumnya.
“Kapan dia pulang?” tanyanya lagi.
Neela mengedikkan pundak. “Malam ini, kalau semuanya lancar. kalau tidak, besok pagi. Dia berjanji akan secepatnya kembali.” Neela menunduk. Mendadak saja wajahnya muram. Dia rindu pada Kenneth, meskipun baru beberapa jam dia pergi. Rasanya seperti lama sekali.
Sungguh, Neela tak mengerti kenapa bisa merasa begini. Merasa merana dan kosong.
“Kau baik-baik saja, Neela?” tanya Dai.
“Ya,” angguk Neela. Tersenyum manis.
“Kau sepertinya… sedih.”
Neela menggeleng buru-buru. “Ti-tidak. Aku tidak sedih.” Dia memaksakan diri tersenyum.
“Kau… kangen Kenneth?”
“Eh?” Mata Neela melebar.
Dai mendengus tersenyum. “Ya. Kau kangen.”—Kedua alis Neela menyatu—“Mukamu merah.” Dai terkekeh. Suram. Menyandarkan punggungnya, menghadapkan wajahnya ke arah pintu beranda, darimana suara gemuruh ombak terdengar.
Neela mengerutkan kening. Heran dengan komentar Dai, dan bimbang pada dirinya sendiri, yang dalam hati membenarkan kalimatnya itu. Tidak berusaha menyangkalnya sama sekali.
Dia memalingkan wajah, memandang Dai yang masih diam menatap pintu beranda yang terbuka. Apa Dai marah? Hatinya bertanya. Atau dia memang sedang memikirkan hal lain?
Neela melihat tangan besarnya yang tergeletak di permukaan sofa terkepal. Buku-buku jarinya terlihat berkilap dan pucat. Jari-jemarinya saling meremas.
“Dai…” panggilnya pelan, setelah sebelumnya meletakkan gitar di sampingnya. Tangannya terangkat hendak menggapai. Namun belum sampai dia menyentuh Dai, tangannya kembali merosot. Terkejut karena Dai mendadak menoleh ke arahnya dan berkata, “Ayo, jalan-jalan di luar,” dengan senyum lebar yang suram.
Setelah itu dia berdiri dari sofa, menggerakkan kaki perlahan mendekati pintu. Satu tangannya di saku celana pendeknya, sementara yang satu menggantung canggung di sisi badannya.
Neela tak langsung menyusul. Duduk di sofa seraya mengamati punggung lebar Dai yang perlahan menjauh. Dia aneh, pikirnya. Ada sesuatu yang membuatnya begitu. Dan Neela berpikir, pasti ada kaitannya dengan pertanyaan yang sebelumnya diajukannya.
Mau tak mau dia bangkit. Berjalan menyusul Dai keluar.

Kenneth mengembuskan napas. Mencoba bersantai dengan menyeruput kopi dari cangkir yang baru saja disuguhkan oleh pembantu rumah besar dimana dia berada sekarang. Tapi ternyata kopi tersebut tak membantu sama sekali. Dia malah semakin tak tenang. Emosinya sudah sangat meninggi.
“Hei, Ken.”
Suara itu terdengar bertepatan dengan suara denting cangkir yang beradu dengan alasnya. Kenneth mendongak, dan melihat Marin berjalan mendekati meja. Mengenakan kaus besar dan celana pendek besar garis-garis. Rambutnya yang panjang awut-awutan. Dia tak kelihatan seperti Marin yang biasanya. Amburadul tak keruan.
“Kenapa kau?” tanya Kenneth heran. “Kau kelihatan…”
“Kau kemana saja?” Marin balas bertanya. Duduk di salah satu kursi, berhadapan dengan Kenneth. “Aku membutuhkanmu, dan kau tak ada.”
“Aku sudah bilang kalau—”
“Neela bagaimana?” Marin menyela. Mengejapkan mata, memasang tampang serius. “Kalian ngungsi kemana?”
Kenneth mendengus. “AKu tidak perlu menjawabnya kan?”
“Aku tidak akan mengikutimu kok.”
“Kau kira aku akan percaya?”
“Bukankah aku sudah bilang, kalau aku menyerah atas perasaanku padamu?”
“Kalau begitu, kenapa kau ngambeg karena ingin bertemu denganku? Menyusahkan Malini?”
“Karena aku ingin bicara padamu. Dan Malini… aku merasa, aku tidak bisa bicara padanya.”
Kenneth menggelengkan kepala. Memandang Marin seolah saja Marin sinting. “Dia manajermu,” kata Kenneth. “Kau tentu harus bicara padanya.”
“Dia hanya pengganti kalau kau ingat.”
“Dan aku sudah mempercayakanmu padanya, kalau kau lupa,” balas Kenneth.
Keduanya bertatapan galak selama beberapa detik, sampai akhirnya Kenneth mengalah. Memutus kontak mata lebih dulu, dengan mengangkat cangkir kopinya lagi. Meneguknya perlahan.
Aku hamil.”
Kopi yang ada di dalam mulut Kenneth langsung muncrat. Cairannya meleleh ke dagu; menodai kaus dan jinsnya. Dia meletakkan cangkir yang dipegangnya ke atas meja buru-buru. Menarik beberapa helai tisu dari kotaknya, menyeka kopi di bibir dan dagunya, dengan mata mendelik ke arah Marin yang masih terlihat santai.
Kenneth menelan ludah susah payah. “Ha-hamil? Ba-bagaimana bisa? Kau bercanda?”
Marin berjengit. “Aku tidak bercanda. Aku sudah mengetesnya dengan test pack. Sudah enam kali. Jadi aku yakin. Dan tentu saja aku bisa,” ganti Marin yang memandang Kenneth dengan tampang heran. “Aku sudah besar dan aku melakukan—”
Kenneth mengibas-ngibaskan kepala. “Aku tidak mau mendengar detail mengenai apa yang kau lakukan,” katanya buru-buru. “Aku ingin tahu… siapa yang—”
“Kau mabuk suatu malam dan kita—”
“Jangan ngaco!” Kenneth melotot. “Seriuslah. Siapa yang—siapa laki-laki itu?”
Marin diam. Kelopak matanya naik-turun.
“Marin?” Kenneth memanggilnya.
“Kalalu aku tidak ingin mengatakannya, itu hakku kan?” tanya Marin.
Kenneth mengembuskan napas putus asa. “Ya… Memang,” sahutnya. “Tapi…”
“Aku hanya ingin bertanya padamu… apa aku harus membiarkannya tumbuh atau menggugurkannya?”
“Apa aku punya hak untuk memberi saran?” Kenneth balik bertanya. “Lagipula saat ini aku terlalu syok untuk memberikan saran apa pun.”
Kenneth menyandarkan punggung, begitu pun Marin. Keduanya menatap kosong halaman rumput luas di depan yang penuh dengan tanaman bunga berwarna-warni. Suara gemerecik air dari kolam di seberang mengisi kekosongan selama beberapa waktu.
“Sudah berapa lama?” Kenneth kembali bertanya, menoleh pada Marin. Mengangguk ke arah perutnya.
“Hampir dua bulan.”
Kenneth mengernyit. “Bukankah… dua bulan lalu… kau bersamaku…? Di Jepang?”
“Karena itu kukatakan padamu, kalau kau mabuk dan…”
“Tolong jangan bercanda mengenai ini, Marin.” Kenneth kelihatan tak suka. “Kau bersamaku di Jepang…” dia melanjutkan analisanya. “Kau tak pergi kemana pun…”
Marin mengangguk-angguk. Menaikkan kedua kakinya, melipat di atas kursi.
“Kau tak bersama siapa pun. Kau hanya bersama Chiyo dan juga Arata.”
“Uhm?”
“Dan kau lebih sering bersama Arata, setelah Neela…” Kata-kata Kenneth menguap di udara, seiring pupilnya melebar. “Oh, Tuhan! Arata?” Tampang Kenneth syok.
Marin diam saja. Tak menjawab, tak memandang Kenneth. Lebih tertarik pada kuku-kuku jari kakinya yang bersih tanpa cat kuku. Ekspresi wajahnya tenang. Tak terlihat gundah sama sekali.
Mulut Kenneth menganga. Dia tak habis pikir kalau hal seperti ini akan terjadi. Tadinya dia tak ambil pusing; menganggap kasus ini bisa diselesaikan kalau Marin bisa membujuk laki-laki yang menghamilinya itu untuk bertanggung jawab. Namun begitu tahu kalau laki-laki itu adalah Arata, kasus ini pastinya akan menjadi rumit, mengingat jati diri Arata yang sebenarnya. Marin mungkin tak peduli, tapi ayah Marin?
“Apa kau mengatakan pada Arata perihal ini?” Kenneth bertanya lagi.
It was one time thing,” kata Marin, masih tak memandang Kenneth. “Dan sejak pergi dari Jepang, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi kan?”
Dan itu membuat segalanya jadi lebih kompleks daripada sebelumnya, pikir Kenneth. Arata jelas tak tahu.
“Dan bagaimana kalian bisa…” Kenneth tak tahu harus meneruskan pertanyaannya atau tidak. Dia kedengaran seperti reporter infotainment kendati dia sama sekali tidak berniat begitu.
Marin mengedikkan pundak. “Terjadi begitu saja. Dan setelah itu dia kelihatan berdosa sekali. Menyedihkan sekali.”
“Oh, God.” Kenneth membenamkan wajah ke tangannya. “Oh, God.
Harus apa aku, Kenneth membatin. Apa dia harus menghubungi Eiji? Atau dia harus bicara pada Arata? Dan apa mau Marin? Apa dia menginginkan Arata untuk bertanggung jawab? Atau dia ingin menggugurkan kandungannya?
“Ken…” Marin memanggilnya dalam suara lirih.
“Ya.” Kenneth mengangkat wajahnya. Menoleh pada Marin.
“Aku tidak ingin menggugurkannya,” kata Marin serak. “Aku ingin bayi ini.”
Dan untuk pertama kalinya, Kenneth melihatnya menangis. Benar-benar menangis.

(Bersambung)
...

gambar dari sini

PS.
Dikit lagi nih. Keep reading ya, Guys. I loveeeeeee you all. *peluk Kenneth*

11 comments:

shafarani August 25, 2012 at 1:58 AM  

lama juga aku ga komen disini ternyata..
langsung menganga membaca nomor 31 ini. bener2 alur ceritanya ga bisa ditebak!!
suppperr! :D
lanjutkan mba Lit! hehe

dinar August 25, 2012 at 6:42 AM  

Mbakkk.....ayoooo semangat yaaaa....dikit laginya jangan lama2.hehehe....btw minal aidzin walfaidzin ya mbakkk....maaf klo ada salah2 komen.btw marin ma arata bs jadi crita baru lg tuh mbak...

Gloria Putri August 25, 2012 at 9:34 AM  

lohhhh jd yg ngehamilin tuh arata tp marin maunya kenneth yg tanggung jawab? gendengg si Marin....

ahhhhhkkkkkkkkk... arataaaa.....eh kimbummmm moso km yg ngehamilin????% gmn klo Marin n bayinya di totok aja biar ga reseee?

btw, itu lirik lagunya km ambil dr google mba? koq aneh ya?ada grammatical mistake nya.....hmmmmm

-------------- August 25, 2012 at 12:10 PM  

woa! kenneth nya ganti :o
mbak, aku jd menerka nerka ni, uwouwouwo

eh mbak, no mu ilang, hp ku rusak si, ketumpahan minyak kayu putih :s
sms aku lg yoo

Lita August 25, 2012 at 4:36 PM  

@Shafarani: Haduhhhh... Gak ketebak ya...? Emang kamu nebaknya gimana sebelumnya?

@Dinar: Hei, Dee. Met Idul Fitri. Mohon maaf lahir batin juga. Mending salah komen deh, Dee, daripada gak komen... (^^) Hehehe... Waduh, buat cerita MArin sama Arata...?

@Glo: Kita tunggu aja, gimana ceritanya nanti *penulis mumet*. Btw, lagu little housenya, dengerin dulu sana, baru ngerti... Tadinya akujuga bertanya2.

@Gita:Iya, Kennethnya ganti. Abis si Mr. Sugiyono gak punya foto asik. Jadi ganti Oppa Song Seun Hun deh... Gimana tambah cakep kan Kenneth?

Turut berduka cita ya, Git, atas kena minyaknya ponselmu... *tepok jidat Gita*

Rusyda Fauzana August 26, 2012 at 2:47 PM  

Yay.... Sudah terbit lagi nih.

Wah, si Marin suka bikin masalah deh (tarik hidungnya Marin)

Mba, lama-lama kok Dai itu gantengnya kebangetan ya... jadi eneg hahaha...

Kayaknya alurnya makin slow aja nih Mbak di pungujung cerbung ini. Apa lagi seret ide ya? Dulu klo nggak salah Mba Lita itu alurnya cepat sekali lompatnya ke sana ke mari. Sampe aku susah ngejarnya, dan sampe request agar slow down dikit gara2 pengen menghayati ceritanya.

Tapi untuk ending cerita ini aku gak sabaran Mba, aku suka gaya alur cerita Mba yang cepat.
(Sorry ya Mba, pembaca setiamu ini banyak maunya hehe...abaikan saja)

mell cemell,  August 27, 2012 at 1:42 PM  

pertama, a ucapin minal aidzin wal faidzin mb Lit,, sorry" maav law ad salah kata mb ..hehe

wadouw,, jd tag terduga gini ceritany ??
mantap lahh ,, makin seru
keep spirit yy mb.
moga gg mpe gg stuck ide .

ditunggu kilat lanjutanny ..
:)

mell cemell,  August 27, 2012 at 1:44 PM  

ralat ..

heheehe ..gg mpe stuck ide mksdny mb Lit ..
:) :) :)

Lita August 28, 2012 at 10:54 PM  

@Rusyda: iya yah, Rus. Aku juga ngerasa gitu sih. Tapi, tenang. I'll fix it. Keep reading.

@Mell: Oi, Mel. Met Idul fitri juga ya... Tenang, aku maafin kok kesalahan kamu. wkwkwkw.

Thanks ya Mell, doanya. Semoga aku nggak stuck ide, dan bisa ngatur waktu untuk nulis. secara aku cinta banget sama nulis2 cerita bersambung begini... Semoga dapet pembaca kaya kamu lagi... yang sweeeet *cubit*

shafarani August 28, 2012 at 11:59 PM  

Nah ada yg bilang ga ketebak juga kan ceritanya, hehe.
nebaknya simpel aja sih. neela jadi sembuh dr amnesia hbs maen musik,, ato seperti itu mba,
tapi gapapa, makin penasaran ama cerita, pasti makin dinanti lanjutannya mba..siipda!

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP