A Lot Like Love (31)

>> Saturday, August 25, 2012





Baca A Lot Like Love (30)

Complicated


I love this place
But it’s haunted without you
My tired heart is beating so slow
Our heart sing less than
We wanted, we wanted
Our heart sing cause
We do not know
We do not know
To light the night, to help us grow to help us grow
It is not said, I’ll always know

You can catch me
Don’t you run Don’t you run
If you live another day in this happy
Little house the fire’s here to stay
To light the night To help us grow To help us grow
It is not said, I’ll always know

Please don’t make a fuss
It wont go away
The wonder of it all
The wonder that I made
I am here to stay
I am here to stay
Stay♪

© Dear John OST – Little House by Amanda Seyfried

Tepuk tangan terdengar dari arah beranda. Neela menoleh, dan melihat Dai bersandar di kosen pintu seraya menepukkan kedua tangannya. Jemari Neela merosot dari senar gitar usang yang baru saja dipetiknya, meregangkan pundaknya, dan tersenyum kecil.
“Hei,” sapanya. “Sejak kapan kau berdiri di sana?”
Dai menyandarkan kepalanya miring, bersedekap. “Cukup lama, untuk mengagumi suaramu,” jawabnya. “Kau kembali,” lanjutnya lagi. “Penggemarmu pasti akan sangat senang bisa mendengar suaramu lagi.”
“Aku belum begitu… siap untuk itu,” timpal Neela, sementara Dai menegakkan badan, dan melangkahkan kaki mendekat. “Perlu waktu sampai aku benar-benar...”
“Semalam,” Dai menyela. Duduk di sofa di sebelah Neela. “kau oke. Kau… tak kelihatan tidak siap.”
“Itu karena kau ada di sana,” ujar Neela, memeluk gitarnya erat. “Kau dan para pemusik itu.”
“Tidak ada pengaruhnya.”
“Jelas ada. Besar sekali pengaruhnya. Kalian membuatku bersemangat. Dan permainan biolamu…”
“Payah.”
“Tidak.” Mata Neela membulat. “Aku sudah katakan berulang-ulang kalau permainan biolamu sangat baik, kenapa kau terus-terusan mengatakan payah?”
Dai tergelak, sedangkan Neela masih memandangnya dengan tampang merengut.
“Gitar siapa itu?” Dai mengangguk ke arah gitar usang berwarna merah di dekapan Neela yang permukaan kayunya sudah bocel-bocel dan ujung-ujung senarnya dililit sedemikian rupa untuk menahannya tetap terikat ketat di tuningnya. “Kelihatan menderita sekali,” komentarnya lagi.
“Aku menemukannya di kamarku,” jawab Neela setelah sebelumnya terkekeh. “Selama ini ada di sudut, tertutup gorden.” Dia mengangkat gitar usang tersebut, meletakkan bagian bawahnya di atas paha, memerhatikannya dari atas ke bawah. “Senarnya putus, dan aku” (dia menoleh ke arah Dai) “membetulkannya. Dan ternyata suaranya lumayan.”
“Hm.” Itu saja yang terembus dari bibir Dai yang sedikit terbuka. Memandang gitar tersebut.
“Shinji.”
Dai tersentak. “A-apa?” Dia berkata serabutan.
Neela memutar gitar, menunjukkan bagian belakangnya pada Dai. “Ini…” Dia mengusap huruf-huruf kecil yang ditulis dengan spidol hitam di sudut kanan atasnya. “bacaannya ‘Shinji’. Gitar ini pasti milik seseorang bernama Shinji.” Neela memandang Dai lagi. “Temanmu?”
Dai mengerutkan kening. “Te-teman?”
“Ya.” Mata Neela kembali membulat. Heran. “Kau tinggal di sini kan? Siapa pun yang meninggalkan gitar ini di sini—”
Well,” Dai menggaruk kepalanya yang tak gatal, “mungkin ada seseorang bernama Shinji yang meninggalkannya. Dulu aku sering mengadakan pesta; banyak orang datang, membawa banyak benda—ya mungkin gitar itu salah satunya.” Dia tersenyum lebar. Kelewat lebar. “Dan,” dia kembali bicara, melihat tampang Neela yang jauh dari mengerti, “karena gitar tersebut rusak, jadi dia tak membawanya. Mungkin begitu,” tambahnya ragu.
Neela mengangguk-angguk, sekilas kelihatan heran, namun segera tertutupi oleh cengiran kecil. “Ya. Mungkin begitu.”
Hening sejenak setelah itu. Keduanya memandang kosong gitar usang tersebut. Sibuk dengan benak masing-masing. Neela sendiri bertanya-tanya atas reaksi Dai yang sepertinya amat terkejut saat dia menyebut nama ‘Shinji’ tadi. Seakan saja dia tahu sesuatu mengenai itu.
“Ngomong-ngomong,” Dai kembali bicara, celingukan. “Kenneth mana? Dan Arata?”
Neela memeluk gitarnya lagi. “Arata di depan. Cuci mobil. Kalau Kenneth…” Dia berhenti sejenak. Membiarkan wajah Kenneth muncul di depan matanya untuk sesaat. “Dia ke Jakarta.”
Dai mengernyit. “Ke Jakarta? Kapan?”
“Tadi pagi. Dia mau mengurus sesuatu yang berhubungan dengan artis yang dimanajerinya.”
Dai mengangkat wajahnya sedikit. Keningnya berkerut seperti sedang berpikir, setelah itu dia mengangguk-angguk seolah paham, kendati alisnya masih bertaut seperti sebelumnya.
“Kapan dia pulang?” tanyanya lagi.
Neela mengedikkan pundak. “Malam ini, kalau semuanya lancar. kalau tidak, besok pagi. Dia berjanji akan secepatnya kembali.” Neela menunduk. Mendadak saja wajahnya muram. Dia rindu pada Kenneth, meskipun baru beberapa jam dia pergi. Rasanya seperti lama sekali.
Sungguh, Neela tak mengerti kenapa bisa merasa begini. Merasa merana dan kosong.
“Kau baik-baik saja, Neela?” tanya Dai.
“Ya,” angguk Neela. Tersenyum manis.
“Kau sepertinya… sedih.”
Neela menggeleng buru-buru. “Ti-tidak. Aku tidak sedih.” Dia memaksakan diri tersenyum.
“Kau… kangen Kenneth?”
“Eh?” Mata Neela melebar.
Dai mendengus tersenyum. “Ya. Kau kangen.”—Kedua alis Neela menyatu—“Mukamu merah.” Dai terkekeh. Suram. Menyandarkan punggungnya, menghadapkan wajahnya ke arah pintu beranda, darimana suara gemuruh ombak terdengar.
Neela mengerutkan kening. Heran dengan komentar Dai, dan bimbang pada dirinya sendiri, yang dalam hati membenarkan kalimatnya itu. Tidak berusaha menyangkalnya sama sekali.
Dia memalingkan wajah, memandang Dai yang masih diam menatap pintu beranda yang terbuka. Apa Dai marah? Hatinya bertanya. Atau dia memang sedang memikirkan hal lain?
Neela melihat tangan besarnya yang tergeletak di permukaan sofa terkepal. Buku-buku jarinya terlihat berkilap dan pucat. Jari-jemarinya saling meremas.
“Dai…” panggilnya pelan, setelah sebelumnya meletakkan gitar di sampingnya. Tangannya terangkat hendak menggapai. Namun belum sampai dia menyentuh Dai, tangannya kembali merosot. Terkejut karena Dai mendadak menoleh ke arahnya dan berkata, “Ayo, jalan-jalan di luar,” dengan senyum lebar yang suram.
Setelah itu dia berdiri dari sofa, menggerakkan kaki perlahan mendekati pintu. Satu tangannya di saku celana pendeknya, sementara yang satu menggantung canggung di sisi badannya.
Neela tak langsung menyusul. Duduk di sofa seraya mengamati punggung lebar Dai yang perlahan menjauh. Dia aneh, pikirnya. Ada sesuatu yang membuatnya begitu. Dan Neela berpikir, pasti ada kaitannya dengan pertanyaan yang sebelumnya diajukannya.
Mau tak mau dia bangkit. Berjalan menyusul Dai keluar.

Kenneth mengembuskan napas. Mencoba bersantai dengan menyeruput kopi dari cangkir yang baru saja disuguhkan oleh pembantu rumah besar dimana dia berada sekarang. Tapi ternyata kopi tersebut tak membantu sama sekali. Dia malah semakin tak tenang. Emosinya sudah sangat meninggi.
“Hei, Ken.”
Suara itu terdengar bertepatan dengan suara denting cangkir yang beradu dengan alasnya. Kenneth mendongak, dan melihat Marin berjalan mendekati meja. Mengenakan kaus besar dan celana pendek besar garis-garis. Rambutnya yang panjang awut-awutan. Dia tak kelihatan seperti Marin yang biasanya. Amburadul tak keruan.
“Kenapa kau?” tanya Kenneth heran. “Kau kelihatan…”
“Kau kemana saja?” Marin balas bertanya. Duduk di salah satu kursi, berhadapan dengan Kenneth. “Aku membutuhkanmu, dan kau tak ada.”
“Aku sudah bilang kalau—”
“Neela bagaimana?” Marin menyela. Mengejapkan mata, memasang tampang serius. “Kalian ngungsi kemana?”
Kenneth mendengus. “AKu tidak perlu menjawabnya kan?”
“Aku tidak akan mengikutimu kok.”
“Kau kira aku akan percaya?”
“Bukankah aku sudah bilang, kalau aku menyerah atas perasaanku padamu?”
“Kalau begitu, kenapa kau ngambeg karena ingin bertemu denganku? Menyusahkan Malini?”
“Karena aku ingin bicara padamu. Dan Malini… aku merasa, aku tidak bisa bicara padanya.”
Kenneth menggelengkan kepala. Memandang Marin seolah saja Marin sinting. “Dia manajermu,” kata Kenneth. “Kau tentu harus bicara padanya.”
“Dia hanya pengganti kalau kau ingat.”
“Dan aku sudah mempercayakanmu padanya, kalau kau lupa,” balas Kenneth.
Keduanya bertatapan galak selama beberapa detik, sampai akhirnya Kenneth mengalah. Memutus kontak mata lebih dulu, dengan mengangkat cangkir kopinya lagi. Meneguknya perlahan.
Aku hamil.”
Kopi yang ada di dalam mulut Kenneth langsung muncrat. Cairannya meleleh ke dagu; menodai kaus dan jinsnya. Dia meletakkan cangkir yang dipegangnya ke atas meja buru-buru. Menarik beberapa helai tisu dari kotaknya, menyeka kopi di bibir dan dagunya, dengan mata mendelik ke arah Marin yang masih terlihat santai.
Kenneth menelan ludah susah payah. “Ha-hamil? Ba-bagaimana bisa? Kau bercanda?”
Marin berjengit. “Aku tidak bercanda. Aku sudah mengetesnya dengan test pack. Sudah enam kali. Jadi aku yakin. Dan tentu saja aku bisa,” ganti Marin yang memandang Kenneth dengan tampang heran. “Aku sudah besar dan aku melakukan—”
Kenneth mengibas-ngibaskan kepala. “Aku tidak mau mendengar detail mengenai apa yang kau lakukan,” katanya buru-buru. “Aku ingin tahu… siapa yang—”
“Kau mabuk suatu malam dan kita—”
“Jangan ngaco!” Kenneth melotot. “Seriuslah. Siapa yang—siapa laki-laki itu?”
Marin diam. Kelopak matanya naik-turun.
“Marin?” Kenneth memanggilnya.
“Kalalu aku tidak ingin mengatakannya, itu hakku kan?” tanya Marin.
Kenneth mengembuskan napas putus asa. “Ya… Memang,” sahutnya. “Tapi…”
“Aku hanya ingin bertanya padamu… apa aku harus membiarkannya tumbuh atau menggugurkannya?”
“Apa aku punya hak untuk memberi saran?” Kenneth balik bertanya. “Lagipula saat ini aku terlalu syok untuk memberikan saran apa pun.”
Kenneth menyandarkan punggung, begitu pun Marin. Keduanya menatap kosong halaman rumput luas di depan yang penuh dengan tanaman bunga berwarna-warni. Suara gemerecik air dari kolam di seberang mengisi kekosongan selama beberapa waktu.
“Sudah berapa lama?” Kenneth kembali bertanya, menoleh pada Marin. Mengangguk ke arah perutnya.
“Hampir dua bulan.”
Kenneth mengernyit. “Bukankah… dua bulan lalu… kau bersamaku…? Di Jepang?”
“Karena itu kukatakan padamu, kalau kau mabuk dan…”
“Tolong jangan bercanda mengenai ini, Marin.” Kenneth kelihatan tak suka. “Kau bersamaku di Jepang…” dia melanjutkan analisanya. “Kau tak pergi kemana pun…”
Marin mengangguk-angguk. Menaikkan kedua kakinya, melipat di atas kursi.
“Kau tak bersama siapa pun. Kau hanya bersama Chiyo dan juga Arata.”
“Uhm?”
“Dan kau lebih sering bersama Arata, setelah Neela…” Kata-kata Kenneth menguap di udara, seiring pupilnya melebar. “Oh, Tuhan! Arata?” Tampang Kenneth syok.
Marin diam saja. Tak menjawab, tak memandang Kenneth. Lebih tertarik pada kuku-kuku jari kakinya yang bersih tanpa cat kuku. Ekspresi wajahnya tenang. Tak terlihat gundah sama sekali.
Mulut Kenneth menganga. Dia tak habis pikir kalau hal seperti ini akan terjadi. Tadinya dia tak ambil pusing; menganggap kasus ini bisa diselesaikan kalau Marin bisa membujuk laki-laki yang menghamilinya itu untuk bertanggung jawab. Namun begitu tahu kalau laki-laki itu adalah Arata, kasus ini pastinya akan menjadi rumit, mengingat jati diri Arata yang sebenarnya. Marin mungkin tak peduli, tapi ayah Marin?
“Apa kau mengatakan pada Arata perihal ini?” Kenneth bertanya lagi.
It was one time thing,” kata Marin, masih tak memandang Kenneth. “Dan sejak pergi dari Jepang, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi kan?”
Dan itu membuat segalanya jadi lebih kompleks daripada sebelumnya, pikir Kenneth. Arata jelas tak tahu.
“Dan bagaimana kalian bisa…” Kenneth tak tahu harus meneruskan pertanyaannya atau tidak. Dia kedengaran seperti reporter infotainment kendati dia sama sekali tidak berniat begitu.
Marin mengedikkan pundak. “Terjadi begitu saja. Dan setelah itu dia kelihatan berdosa sekali. Menyedihkan sekali.”
“Oh, God.” Kenneth membenamkan wajah ke tangannya. “Oh, God.
Harus apa aku, Kenneth membatin. Apa dia harus menghubungi Eiji? Atau dia harus bicara pada Arata? Dan apa mau Marin? Apa dia menginginkan Arata untuk bertanggung jawab? Atau dia ingin menggugurkan kandungannya?
“Ken…” Marin memanggilnya dalam suara lirih.
“Ya.” Kenneth mengangkat wajahnya. Menoleh pada Marin.
“Aku tidak ingin menggugurkannya,” kata Marin serak. “Aku ingin bayi ini.”
Dan untuk pertama kalinya, Kenneth melihatnya menangis. Benar-benar menangis.

(Bersambung)
...

gambar dari sini

PS.
Dikit lagi nih. Keep reading ya, Guys. I loveeeeeee you all. *peluk Kenneth*

Read more...

A Lot Like Love (30)

>> Tuesday, August 7, 2012

Baca A Lot Like Love (29)


Desire


NEELA sudah tidur ketika Kenneth sampai di rumah. Terbaring di sofa ruang tengah dengan dibalut selimut tebal. Arata menemaninya selama itu, duduk di salah satu sofa tunggal berlengan di ruang tengah.
“Dia sangat mencemaskan Anda,” Arata memberitahu Kenneth, yang berdiri di samping sofa dengan seluruh tubuh basah kuyup. Memandangi wajah lelap Neela yang begitu damai. “Berkeras untuk menunggu sampai Anda pulang. Saya tidak berani memindahkannya.”
Kenneth diam. Tidak bersuara sama sekali. Tidak memedulikan air yang terus menetes dari ujung-ujung rambut dan sekujur badannya. Tak menghiraukan rasa dingin yang menusuk. Membeku, menatap Neela di depannya.
“Saya ambilkan handuk,” kata Arata, berinisiatif. Tapi Kenneth segera menggeleng. “Tidak usah,” katanya dalam suara yang hampir tak terdengar. Setelah itu memalingkan tubuh, menghadap Arata, dan kembali bicara, “Aku… mandi dulu. Tolong jaga dia sebentar, sampai aku kembali.
“Oke,” angguk Arata. Tersenyum kecil.
Kenneth membalas senyumnya sebagai ucapan terima kasih, dan segera memutar badannya, berjalan gontai menuju kamar, masuk dan menutup pintu di belakangnya.
Di dalam, dia kembali terpaku. Bersandar di pintu, menatap kosong pintu kamar mandi yang tertutup di seberangnya. Wajah Dai terbayang di matanya. Kata-katanya terngiang di telinganya. You’re... not Gay. Kau laki-laki normal... sepertiku. Dan Kenneth tak berani memikirkan apa yang akan dilakukan Dai setelah mengetahui kebenaran itu. Dia pasrah.
Dilepasnya pakaiannya yang basah. Membuangnya ke wadah pakaian kotor, lalu berjalan ke kamar mandi, dan masuk ke dalam. Menghabiskan waktu hampir lima menit bengong di bawah shower, membiarkan air menghujani kepalanya yang berat, sampai akhirnya menyambar handuk dan keluar dari kamar mandi.
Saat dia keluar dari kamar, Arata terkantuk-kantuk di sofanya. Segera membuka mata lebar-lebar ketika dia mendekat.
“Tidurlah,” kata Kenneth padanya. “Biar aku yang pindahkan Neela.”
Arata mengangguk tersenyum, dan berkata, “Saya ke kamar dulu, kalau begitu,” yang segera dibalas dengan anggukan dari Kenneth, disertai ucapan terima kasih.
Arata pun pergi.
Sekarang, tinggal Kenneth sendirian di ruang tengah. Berdiri di samping sofa di mana Neela terbaring, seraya mengamati wajahnya yang tenang.
Hujan masih turun, dan sepertinya makin deras. Atap berkeretakan, dan kaca-kaca jendela tampak mengabut karena dinginnya. It’s a cold night. As cold as my heart, Kenneth membatin.
Perlahan, dia mendekat. Merendahkan badannya, dan duduk di lantai di sebelah Neela. Mengangkat tangannya, dan menyentuhkannya di pipi Neela yang pucat. Membiarkannya menelusuri dahinya, hidungnya, serta bibirnya yang sedikit membuka.
Aku merindukannya, kata Kenneth dalam hati. Dan lebih dari itu, aku sangat menginginkannya. Tapi aku tak tahu, bagaimana harus membuatnya menjadi milikku. Sudah terlambat untuk mengatakannya padanya.
Sudah terlambat. Dai… telah memenuhi benaknya. Dai telah mengisi hatinya. Bibirnya hanya menyebut nama Dai. Dan tangannya, selalu ingin merasakannya. Tak ada kesempatan lagi untuk Kenneth. Nol. Dari dulu sampai sekarang.
“Ken…”
Kenneth terkesiap. Mengangkat wajahnya buru-buru. Melihat Neela menatapnya dengan mata menyipit. Mengejap-ngejap untuk memfokuskan pandangan.
“Hei…” Kenneth tersenyum padanya. “Kau bangun.”
Neela membalas senyum Kenneth, menggerakkan kepalanya di atas bantal sambil mengembuskan napas perlahan. “Kau sudah pulang…” katanya dalam suara serak. “Aku cemas.”
“Aku baik-baik saja,” kata Kenneth.
Neela menarik napas, memejamkan mata sejenak. “Kau wangi.”
Kenneth mendengus. “Aku baru mandi.”
“Aku belum,” timpal Neela, meringis. “Aku pergi bersama Dai dan…”
“Aku tahu,” Kenneth menyela, menyunggingkan senyum yang dipaksakan. Dia tak ingin mendengar nama itu lagi. “Sekarang, kau harus pindah ke kamar. Di sini dingin.”
Neela bergeming. Menatap Kenneth dengan ekspresi muram. “Kau tidak marah kan, Kenneth?”
“Marah kenapa?”
“Aku pergi dengan Dai…”
Kenneth menggeleng. “Aku hanya cemas. Tapi sekarang kau di sini…, di depanku, dan baik-baik saja. Aku… tak khawatir lagi.”
“Maaf, telah membuatmu cemas.”
Kenneth tak langsung membalas, menarik napas perlahan, dan mengembuskannya dengan pelan. “Jangan lakukan lagi…” katanya kemudian, menatap Neela diiringi senyum simpul.
Neela mengangguk, tersenyum manis dengan mata yang berair. Merentangkan tangannya, dan melingkarkannya di sekeliling leher Kenneth. Memeluknya. “Aku tidak akan melakukannya lagi…” bisiknya.
Kenneth memejamkan mata. Menikmati rasa hangat yang dialirkan oleh Neela ke sekujur badannya. Merasakan sentuhan kulitnya di kulitnnya, mencium harum rambutnya, dan mendengar deru lebut napasnya di telinganya. Mengherankan betapa hal-hal sesederhana itu membuatnya bahagia seperti ini.
 Neela menarik tangannya kembali. Tersenyum pada Kenneth yang membalasnya dengan mengedipkan sebelah mata.
“Sekarang, ayo ke kamar,” kata Kenneth, berdiri dari lantai. “Kau harus tidur.”
Neela mengangkat punggungnya susah payah. Melilitkan tangannya ke lengan Kenneth, untuk membantunya bangun. Tidak langsung beranjak dari sofa. Duduk selama beberapa detik, seraya mengejap-ngejapkan mata, menatap menerawang ke depan. Rambutnya berantakan, sebagian mencuat keluar dari jalurnya.
“Aku bisa… bermain piano lagi.” Mendadak dia bicara. Menengadahkan wajahnya pada Kenneth. “Aku… entah bagaimana… memainkannya.”
“Itu bagus kan?” timpal Kenneth.
Neela mengangkat bahunya sedikit. Nyengir. “Aku senang. Aku merasa… bebas.”
“Kalau begitu…, itu bagus,” kata Kenneth. Tersenyum lembut.
“Ya…” Neela mengangguk-angguk. “Itu bagus.”
“Ayo.” Kenneth menarik tangan Neela. Memaksanya bangkit dari sofa. “Kau harus tidur sekarang.”
Neela bangun dengan enggan. Berdiri dengan tubuh terhuyung ke belakang dan ke depan. Meringis seraya menepuk-nepuk betisnya.
“Kenapa?” Kenneth mendengus. “Mau kugendong?”
Neela cemberut. “Tidak usah,” sergahnya. “Kakiku sakit sejak pulang tadi. Mungkin karena udara dingin.” Dia mengalungkan tangannya di lengan Kenneth. Terpincang-pincang berdiri. Dan hampir saja terjatuh, kalau Kenneth tidak cepat menangkapnya. Merapatkan tubuh Neela ke tubuhnya.
Kenneth tahu kalau seharusnya dia tidak menatap Neela dengan cara seperti dia menatapnya sekarang ini. Tidak merengkuhnya begitu erat seperti dia merengkuhnya saat ini. Tidak membiarkan tubuhnya, bersentuhan dengannya seperti ini, karena bila dia membiarkannya, dia tahu akan ada sesuatu yang menggelegak di ubun-ubun kepalanya. Dan sesuatu itu akan membuatnya lupa diri, larut dalam hasrat terpendam yang sudah tak mampu lagi dibendungnya.
Neela sendiri membisu. Balas menatap Kenneth dengan kedua mata coklatnya yang berkilap riang di rongganya. Bibirnya membuka sedikit, seolah menunggu reaksi Kenneth setelahnya.
Cium dia, Kenneth, suara-suara lantang di dalam kepala menghasut. Dia tidak akan menolak. Cium dia, dan lakukan apa yang kau mau. Miliki dia sebelum orang lain.
Sejenak Kenneth merasa itulah yang akan dilakukannya. Mendekatkan wajahnya sedikit demi sedikit pada Neela yang bergeming pasrah di pelukannya. Memerah oleh tatapan tajam Kenneth yang seolah membiusnya. Dan itu, membuat Kenneth semakin menginginkannya.
Tapi kemudian dia teringat kebencian Neela padanya malam itu. Malam saat mereka bertengkar karena Shinji; malam saat dia mabuk dan akhirnya melakukan sesuatu yang membuatnya malu. Bagaimana kalau Neela mengingat itu? Apakah dia tidak akan membencinya lagi? Dan Dai… kalau Dai mengatakan padanya, bahwa dia selama ini berbohong padanya dengan mengaku Gay, bagaimana reaksinya?
Jadi, alih-alih mencium bibirnya yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya, Kenneth membungkuk sejenak. Mengangkat kaki Neela cepat, dan menggendongnya. Membuat Neela kaget, namun tak bisa mengatakan apa pun saat dia membawanya ke kamar. Masuk ke dalam, kemudian merebahkannya di atas kasur tempat tidurnya. Menarik selimut, dan menyelimutinya.
“Tidurlah,” kata Kenneth dalam suara datar.
Setelah itu dia berpaling, hendak pergi, namun tertahan, karena Neela mencengkeram jari telunjuknya; jari satu-satunya yang mungkin dapat ia jangkau. Mau tak mau Kenneth menoleh lagi. Memandangnya penuh tanya.
“Kau… tidak menemaniku?”
“Aku tak bisa,” jawab Kenneth. “Aku ingin… mengerjakan sesuatu.”
“Apa?”
“Sesuatu,” senyum Kenneth. “Kau tidak akan mengerti.”
“Aku bisa menemanimu.”
Oh, Tuhan. “Tidak perlu… Aku ingin kau istirahat.”
Neela tampak kecewa, namun bibirnya merekahkan senyum. Dia mengangguk, dan melepas jari Kenneth. Merelakannya pergi.
Night, Neela,” ucap Kenneth.
Night, Ken.”
Kenneth membalikkan badan. Berjalan pergi, tanpa menoleh ke belakang. Dia menutup pintu, dan keluar ke ruang tengah dengan perasaan campur-aduk. Separo-menyesal, separo-lega.
“Hampir saja,” gumamnya pelan, saat dia sudah berada dalam kamar. Hampir saja dia mencium Neela. Nyaris saja, dia lepas kendali atas dirinya.
Kenneth merosot, berjongkok di lantai. Satu tangannya mengelus dada, menenangkan jantungnya yang berdegup amat kencang. Mengatur napasnya yang memburu. Menutup matanya rapat-rapat, berusaha mengaburkan ingatan beberapa saat lalu, seraya membatin, membodohi dirinya sendiri, karena membiarkan nafsunya naik ke permukaan seperti tadi.
Tring!
Kenneth membuka mata. Mengarahkan pandang ke arah meja kecil di samping tempat tidur dimana dia meletakkan ponselnya. Ada pesan yang baru masuk, larut malam begini. Siapa?
Dengan malas dia bangkit, meluruskan kakinya, kemudian menggerakkannya pelan ke arah meja kecil di seberang. Meraihnya, dan menekan bagian atas ponsel untuk meng-unlock-nya. Layar muncul, bersama dengan pesan teks singkat, bertulisan:

Ken. Bisa telpon aku sekarang? Urgent.

Benar-benar mengherankan menurut Kenneth, karena Malini mengirimkan pesan bernada cemas begini. Tak biasanya dia menghubunginya untuk permasalahan urgent, karena Malini dengan segala kemampuan dan intelijensianya, tak pernah tak bisa menyelesaikan masalah apa pun. Jadi pesan pendek itu, menurut Kenneth, adalah hal yang abnormal. Sekaligus… mencemaskan.
Cepat-cepat Kenneth menekan keypad ponselnya, menempelkannya di telinga, dan mendengar nada sambung. Tak lama, karena Malini langsung menjawabnya.
Ken.” Suara Malini kedengaran panik.
“Ada apa?”
Hm… Bagaimana Neela?”—Kenneth mengerutkan kening, bingung atas pertanyaan Malini yang tak sesuai dengan SMS-nya barusan. “Dia… baik-baik saja?
“Baik,” jawab Kenneth. “Dia oke. Tapi… ada apa? SMS-mu…”
Well, itulah…” Malini sepertinya ragu. “Apa… Neela bisa kau tinggal sebentar?
Kenneth semakin bingung. “Maksudmu?”
Oh, Ken… Aku sebenarnya tidak mau mengganggumu karena hal ini—tapi…” Malini tidak melanjutkan kalimatnya. Mendesah putus asa.
“Tapi apa?”
Oh!” Malini menggeram. “Marin—anak itu sungguh menyebalkan. Dia mogok. Tidak mau perform di acara ulang tahun salah satu stasiun televisi swasta yang akan diadakan tiga hari lagi. Mendadak saja. Kemarin... Oh, menyebalkan sekali.” 
“Alasannya?”
Dia ingin kau menemuinya.
“Hah?”
Ya. Dia bertanya padaku dimana kau sekarang berada. Kenapa kau tidak pernah kelihatan setelah jumpa Pers terakhir bersama Neela…, apakau bersama Neela—dan lain sebagainya. Aku bilang aku tak ta—
“Tapi kau tidak bilang aku di sini kan?” potong Kenneth cemas.
Tidak.” Malini tegas berkata. “Aku juga tak ingin dia tahu, karena dia sepertinya akan nekat menyusul kalau tahu dimana dirimu. Bisa lebih gawat situasinya.
“Lalu?”
Lalu… dia bilang dia ingin menemuimu. Dan aku bilang kau tidak bisa diganggu, karena menemani Neela terapi di satu tempat di luar kota. Dan… tahu-tahu… kemarin… dia tidak tampil di sebuah acara amal. Malah tidur di rumahnya. Untung saja penyelenggaranya masih punya hubungan kerabat dengan ayahnya… jadi mereka tidak minta ganti rugi, ditambah mereka tahu sekali sifat Marin. Aku tanya alasan kenapa dia melakukan semua itu, dan dia berkata, dia ingin ketemu kau. Kalau tidak, dia tidak akan tampil di event ulang tahun itu. Aku sudah membujuknya, tapi dia tetap tidak mau. Kontrak sudah ditandatangani. DP sudah diterima… Duh!” Malini menggeram lagi. “Aku tak tahu harus bagaimana lagi pada anak itu.”
Kenneth mengembuskan napas perlahan. Dia jelas tak bisa meninggalkan Neela sendirian, karena dia telah berjanji pada Eiji tidak akan pernah meninggalkannya. Tapi…, kalau dia tidak menemui Marin, Malini…?
Kenneth berdecak, kembali mengembuskan napas tajam, kemudian bicara lagi. “Aku akan ke Jakarta besok.”
Empasan napas lega dari Malini kedengaran begitu jelas. Diimbangi oleh kata, “Thanks, Kenneth,” penuh terima kasih. “I know it’s stupid but
“Tak apa,” kata Kenneth, mendengus tersenyum. “Aku tahu Marin… Dia sangat manja. Tapi Malini… aku cuma bisa satu hari saja di Jakarta,” dia memberitahu. “Tak bisa lama meninggalkan Neela. Aku sudah berjanji pada Eiji tidak meninggalkannya. Dan… aku tidak tahu apa Neela bisa kutinggalkan.”
Aku mengerti,” sahut Malini. “Kau tanya Neela dulu. Aku juga…” Kalimatnya menghilang di udara, berganti dengan embusan napas penuh penyesalah. “I’m sorry, Kenneth.”
“Aku akan telpon Eiji,” Kenneth berkata. Duduk di tepi tempat tidur. “Aku minta ijin dulu padanya.”
Oke,” sahut Malini. “Sekali lagi, aku minta maaf merepotkan.”
“Tidak. Aku mengerti.”
Setelah itu keduanya berpamitan dalam ‘bye’ singkat, dan saling mengakhiri telpon masing-masing. Kenneth menggeleng pelan. Bengong menatap pintu lemari di depannya.
Beberapa menit kemudian dia mengalihkan pandang, menatap ponselnya lagi, dan menekan salah satu tombol. Nama Eiji tertera di layar ponselnya, dia menekan tombok di tengah, kemudian membawa ponselnya ke telinga.
Suara seseorang terdengar. Menyapa dalam nada cemas. “Ada apa, Ken?” tanya Eiji. “Neela baik-baik saja kan?
“Dia baik, tapi…”
Kenneth berbicara dalam suara pelan. Menjelaskan apa yang harus ia jelaskan pada Eiji setenang mungkin. Dan berharap Eiji mau mengerti.

“Kau benar-benar harus pergi?” Neela kembali bertanya, entah untuk keberapa kalinya pada Kenneth. Mereka sudah di pekarangan sekarang, mengantar Kenneth berangkat dengan taksi yang telah menunggu.
“Aku hanya sebentar,” dengus Kenneth, juga untuk kesekian kalinya. “Aku akan kembali sebelum kau tahu.” Dia membetulkan tali tas besar yang tersandang di pundaknya.
Neela bersedekap. Raut mukanya amat muram. Dia memandang sekeliling, kemudian mendongak ke atas langit pagi yang sedikit mendung. Sisa hujan semalam.
“Hei,” Kenneth memanggil, memaksa Neela untuk menghadapkan wajah ke arahnya. “Aku akan kembali secepatnya.”
“Aku tahu,” sahut Neela. “Tapi… aneh saja rasanya… Kau… tidak ada…”
“Hanya untuk hari ini,” kata Kenneth cepat. “Dan kalau urusanku di Jakarta cepat selesai, aku akan langsung kembali ke Bali. Bisa malam ini. Jadi kau tidak perlu khawatir. Aku… tidak akan lama-lama di sana.”
Neela memaksa tersenyum, kendati dia tak mau. Dia berpikir kalau tidak seharusnya dia bersikap kekanak-kanakkan di depan Kenneth. Kenneth sudah cukup repot mengurus segala ini-itu untuknya; melupakan hidupnya sendiri, bahkan pekerjaannya. Dan sekarang, dia akan pergi, mengurus artis yang memang tanggung jawabnya, sudah seharusnya Neela mengerti—mensuportnya malah, bukannya malah membebaninya dengan perasaan tak enak.
“Oke,” kata Neela, meringis. “Aku akan baik-baik saja,” angguknya. Dia menoleh ke arah Arata sekilas, bertolak pinggang dan menatap permukaan tanah berkerikil di bawah. “Arata…, sepertinya bisa menjadi teman main yang asyik.” Dia menatap Kenneth lagi. “Dan… ada Dai.”
Wajah Kenneth mendadak beku. Seolah saja ada angin dingin yang menerpanya tiba-tiba. “Oh… ya,” katanya suram.
Setelah itu keduanya terdiam selama beberapa detik, dan baru bicara saat supir taksi membunyikan klaksonnya tak sabaran. Kenneth pamit buru-buru, seraya mengerling arlojinya, sementara Neela cuma bisa tersenyum sekadarnya, sambil mengedikkan bahu.
“Kalau ada apa-apa, telpon aku,” Kenneth mengingatkan seraya membuka pintu belakang taksi. “Ingat Arata!” Dia berseru pada Arata, dan Arata hanya membalas dengan melambaikan tangan. Setelah itu dia merunduk, naik ke dalam taksi. Tidak langsung menutup pintu, menyempatkan diri untuk bicara pada Neela lagi. “Aku akan segera kembali.”
Neela mengangguk-angguk. “I know.
I’ll see you soon,” pamit Kenneth.
Bye,” balas Neela, kembali menyilangkan tangan di dada. Dia kelihatan sedih, namun berusaha keras menyembunyikannya, sehingga membuat tampangnya jadi masam.
Kenneth mendengus tersenyum, dan balas berkata, “Bye,” pelan. Setelah itu menutup pintu taksi, dan duduk nyaman di jok belakang. Taksi bergerak, menderu pelan meninggalkan pekarangan rumah, dan perlahan menghilang dari pandangan.
Neela bergeming di tempat. Tak beranjak pergi. Menatap kosong ke depan, di mana taksi yang membawa Kenneth berada beberapa saat lalu.
Dia akan segera kembali, Neela menghibur diri. Dan seharusnya kau tak perlu merana seperti ini hanya karena dia pergi. Dia bukan siapa-siapamu, suara kecil di kepalanya menambahkan. Dia bukan Dai. Dia cuma…
“Kenneth…” Neela menggumam. Ujung-ujung bibirnya bergetar, karena menahan tangis.

(Bersambung)




“Love is an irresistible desire to be irresistibly desired.”
― Robert Frost




Read more...
Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP