A Lot Like Love (29)

>> Saturday, July 14, 2012

A Lot Like Love (28)

The Rival




“TERIMA kasih biolanya, Dai,” ucap Neela pada Dai, yang berjalan di sebelahnya. “Ini” (dia mengguncang tas biola di dekapannya) “bagus sekali. Tapi seharusnya kau tidak perlu membelikannya untukku.”
“Perlu,” sahut Dai dalam suara menenangkan. “Agar kau bisa sering berlatih. Lagipula..., biola alat musik favoritmu kan? Aku senang bisa memberikannya padamu.”
 Neela mendengus tersenyum, disusul anggukan pelan. “Ya. Aku suka biola.”
Dai balas tersenyum. Memunculkan lesung pipinya yang biasa. Setelah itu dia menghadapkan wajahnya ke depan. Menatap teras rumah pantai Shinji yang sepi, yang jaraknya hanya tinggal beberapa langkah lagi. Tak ada yang keluar dari dalam; baik Kenneth maupun Arata—Apa mereka tidak mencemaskan Neela, Dai membatin. Dan sampai akhirnya mereka berdua memasuki teras dan berdiri di depan pintu, sosok Kenneth atau Arata tetap tak ada.
“Terima kasih lagi, Dai,” kata Neela. “Malam ini... kau membuatku bisa teringat musik lagi. Dan...” Neela menghentikan kata-katanya sejenak, mendongak menatap Dai, kemudian berkata, “daun itu... aku senang bisa mengingatnya. Aku senang... dapat bersamamu pada akhirnya setelah—”
“Tak ada akhir, Neela,” sela Dai. “Kita masih jauh dari akhir. Bagiku ini adalah awal dari semuanya. Aku ingin menjalani banyak hal bersamamu... Banyak hal, banyak kejadian—semuanya... Aku ingin bersamamu melalui itu. Ingin menciptakan kenangan baru tentangku di dirimu. Saat ini... sampai dengan nanti...”
Neela mengejap lemah. Bibirnya membuka menutup seolah bingung bagaimana caranya bicara. “Kau selalu aku ingat, Dai,” ujarnya lemah. “Bahkan sampai ingatanku hilang... aku ingat semua tentangmu. Kau tidak perlu meragukan itu.”
Dai mendengus, mengeluarkan suara tawa yang kedengaran seperti cegukan. “Aku hanya ingin kau benar-benar mengingatku... seperti apa adanya aku... sekarang ini,” katanya, melengkungkan bibirnya. “Benar-benar aku... yang berdiri di depanmu sekarang.”
Ekspresi yang diperlihatkan Neela pada Dai sekarang menyiratkan kebingungan dan juga haru yang bercampur. Dia merendahkan wajah, memejamkan mata selama sedetik, baru kemudian berkata dalam suara yang parau, “Aku juga... Aku juga ingin... melalui banyak hal bersamamu. Berdua. Aku ingin... mengatakan ‘cinta’ tanpa ragu. Memelukmu tanpa bimbang. Menggenggam tanganmu tanpa gundah... Aku ingin bersamamu. Aku ingin... merasakan dirimu... Aku ingin itu.”
Ganti Dai yang tercenung. Nama Shinji terngiang di telinganya. Neela pasti sedang mengungkapkan perasaannya untuk Shinji. Atau mungkin juga... Kenneth? Tapi semua kalimat yang terlontar dari bibirnya sekarang terdengar begitu manis. Begitu menyanjung. Apakah boleh semua itu untuknya? Bolehkah? Lagipula Shinji sudah mati. Dan Kenneth... Neela sepertinya hanya menganggap Kenneth tak lebih dari seseorang yang merawatnya. Orang yang mengusir mimpi buruknya di malam hari.
Pintu ditarik membuka dengan amat mendadak, membuat Neela maupun Dai terlonjak di tempat. Arata muncul dari dalam dengan tampang separo-cemas, separo-lega.
“Nona Neela,” Arata terengah-engah, “kami mencari Nona.”
Neela yang masih belum bisa menghilangkan keterkejutannya hanya bisa mengeluarkan kata ‘uh-oh’ menerawang.
“Aku membawa Neela ke toko musik tadi,” Dai menjelaskan buru-buru. “Membelikannya biola.”
Arata mengerling tas biola kulit yang didekap Neela, kemudian menatap Dai lagi.
“Maaf. Aku tidak mengatakannya pada kalian. Karena—”
“Kau tidak ada,” Neela menyambung, berbicara pada Arata. “dan Kenneth tidur. Aku... pergi ke rumah Dai, dan kami pergi—”
“Nona Neela mohon masuk,” Arata memotong. Mengangguk hormat pada Neela. “Sudah malam dan... Anda harus minum obat.”
“Kenneth dimana?” tanya Dai. “Aku bisa menjelaskan padanya.”
Arata menatap Dai, tajam namun tidak sampai kehilangan sopan santunnya. Dia tersenyum datar dan berkata dalam suara yang tenang, “Tuan Kenneth masih berada di luar. Dia mencari Nona Neela tadi. Dan sampai sekarang belum kembali.”
“Oh.” Suara Neela kedengaran tercekat. Wajahnya muram seketika, dan dia segera melangkah masuk ke dalam. “Bye, Dai,” pamitnya singkat, setelah itu berpaling dan melangkah pergi. Sepertinya kalimat manis yang sebelumnya dia katakan pada Dai menguap begitu saja setelah mendengar informasi itu dari Arata. Dari raut mukanya, jelas dia mencemaskan Kenneth. Atau mungkin merasa bersalah karena telah membuatnya khawatir.
Dai mengembuskan napas amat perlahan, mendengus tersenyum untuk menutupi rasa kecewanya.
“Saya masuk dulu, Dai-san,” kata Arata tiba-tiba, membuat Dai sedikit tersentak. “Atau Anda mau masuk dulu?”
Dai menggeleng. “Tidak. Aku pulang saja. Jaga Neela—dan... kalau Kenneth sudah datang... sampaikan permohonan maafku.”
Arata tersenyum kecil diiringi anggukan. Setelah itu dia menutup pintu depan, membiarkan Dai berdiri sendirian di teras.
...

Arloji di pergelangan tangan Dai menunjukkan pukul sebelas malam, ketika mobil Ford hitam yang dikendarainya memasuki pekarangan rumah pantai. Gerimis jatuh dari langit, menerpa kepala dan kulitnya yang tak terbalut kain. Dai menyempatkan diri mendongak ke angkasa kelam, dan menemukan awan gelap perlahan menutup bintang-bintang yang sebelumnya berkerlap-kerlip di atas. Seakan saja langit mengerti bagaimana perasaannya saat ini. Atau bisa saja, langit juga mengalami kegalauan yang sama dengannya.
Dai menggeleng, sambil terkekeh. Menertawakan dirinya yang menurutnya menyedihkan. Semangat, Dai, dia bergumam sendiri. Membusungkan dada dan menarik napas tajam. Ini karena ulahmu sendiri. Membenci seseorang tanpa alasan pasti, kemudian harus mencintainya lebih daripada kau membencinya.
Dengan langkah ringan dia berjalan. Merundukkan kepala, dan memasukkan kedua tangan ke saku jinsnya. Tidak memedulikan air hujan memerciki tubuhnya dan tidak repot mempercepat langkahnya. Dia pasrah. Mencoba pasrah.
Diputarnya gagang pintu depan, mendorongnya sedikit hingga membuka, kemudian masuk ke dalam ruang tamu sepi dan menutupnya lagi. Masih dengan langkah ringan dia menyeberangi ruang tamu, tiba di ruang tengah, dan terkesiap melihat sosok laki-laki yang duduk membungkuk di salah satu sofa berlengan.
“Ken?” panggil Dai heran.
Kenneth tidak menyahut. Menarik wajahnya dari kedua tangannya yang membuka. Menoleh perlahan, dan bertemu pandang dengan Dai yang terpaku di seberang ruangan. Wajahnya sangat muram.
“Kau di sini?” Dai berjalan pelan mendekat. Meletakkan kunci mobilnya di meja kecil di sudut.
“Dimana Neela?” tanya Kenneth segera. Suaranya terdengar begitu dingin.
“Di rumah,” jawab Dai. Berdiri dengan tangan bersedekap di dekat sofa yang diduduki Kenneth. “Aku baru mengantarnya. Dan aku minta maaf, kalau... aku mengajaknya pergi. Dia kemari sore tadi. Kau sedang tidur dan Arata tak ada. Aku mengajaknya ke TOM’s—”
“Kau tidak seharusnya membawanya pergi tanpa pengawasan.” Kenneth lagi-lagi memotong. Dahinya berkerut-kerut. “Dan kau membawanya ke toko musik? Kau tahu bagaimana dia—”
“Dia baik-baik saja,” sambar Dai, diiringi dengus. “Dia bermain piano tadi. Bagus sekali. Dia bisa mengingatnya. Kau seharusnya melihatnya bermain. Orang-orang memberikan tepuk tangan riuh.”
Kenneth mengernyit. Matanya yang kelabu berkilat oleh pantulan lampu di atas. “Dia bukan tontonan,” katanya kesal.
Dai berjengit. Memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Maksudmu?”
“Kau membuat dia harus tampil di depan publik tanpa persiapan,” kata Kenneth, mencakupkan kedua tangannya. “Bagaimana kalau dia tidak bisa memainkan piano tersebut? Bagaimana kalau orang-orang itu menertawakannya? Dia akan merasa dipermalukan dan—”
“Kenapa kau berpikir sejauh itu?” tukas Dai. Tampak terguncang. “Kenapa kau tidak gembira mendengar Neela bisa bermain piano lagi, dan malah meragukan kemampuannya? Tak ada satu pun yang menertawakannya tadi. Mereka semua senang melihat dan mendengar permainan pianonya.” Dai mendengus sinis. “Kau berlebihan.” Dia menggelengkan kepala tak percaya.
“Aku hanya merasa itu bukan hal yang baik untuknya. Kondisinya masih belum stabil—”
“Menurut penglihatanku dia cukup stabil.”
“Kau bukan Dokter, kau tidak tahu.”
“Aku bersamanya malam ini, dan menurutku dia baik-baik saja. Dia senang..., gembira... ”
“Senang dan gembira tidak menjadi indikator kalau dia sudah pulih seratus persen.” Kenneth tampak kesal. “Jangan menjadikannya kelinci percobaan.”
“Kelinci percobaan? Jangan konyol, Kenneth!”
“Lalu apa kalau begitu?” Kenneth mendelik. “Kau mau memanfaatkannya? Kau mau merayunya dengan kata-kata manis saat dia bahkan tak ingat siapa dirinya. Kau tidak bisa melakukan itu, Dai. Dia bukan perempuan murahan yang biasa kau gauli.”
Dai bengong. Syok sepertinya. Dia menatap Kenneth selama beberapa detik tanpa suara satu pun terdengar dari mulutnya.
“Apa kau sadar ngomong apa kau barusan?” tanya Dai kemudian, seraya menyakukan satu tangannya ke kantong jinsnya. Kenneth tak menjawab, mengalihkan pandang. “Kau kedengaran seperti orang yang cemburu.”
Kenneth mengerling Dai. Sorot matanya tajam, namun tak satu pun kata terlontar untuk membalasnya.
“Atau...” Dai mendengus. “kau memang cemburu?”
“Jangan ngaco.”
Dai menyeringai sinis. “Kau memang cemburu.”
Kenneth menoleh tajam, menatap Dai dengan tampang berang. “Jangan menyimpulkan yang tidak-tidak,” katanya galak. Tapi Dai sepertinya tidak peduli, dia tetap menyerbu Kenneth dengan kalimat lain yang membuatnya tampak semakin terpojok. “Aku mengerti sekarang, kenapa kau tidak menyukaiku. Sikapmu yang... over-protektif pada Neela, perhatianmu yang berlebihan padanya...”
“Tidak ada hubungannya,” tukas Kenneth.
“Kau bahkan menungguku di sini sampai jauh malam hanya karena ingin memastikan apakah Neela benar-benar bersamaku.”
“Aku mengkhawatirkannya. Karena kau, sama sekali tak boleh berduaan saja dengan Neela.”
“Kecemasan yang berlebihan menurutku.”
“Kau telah berjanji pada Eiji kalau kau tidak akan—”
“Jangan bawa-bawa Eiji,” sambar Dai, menatap Kenneth lekat-lekat. “Jangan menutupi kebenaran dengan membawa-bawa nama Eiji.”
“Kebenaran apa maksudmu?”
“Kebenaran kalau kau cemburu padaku dan kau mencintai Neela!”
Hening selama beberapa saat. Kenneth membeku, mendongak memandang Dai di sebelahnya dengan tatapan menerawang. Bibirnya membuka sedikit, dan matanya mengejap lemah.
“Dan itu membuatku menyimpulkan,” Dai melanjutkan, “you’re... not Gay. Kau laki-laki normal... sepertiku.”
Kenneth tak membalas ucapan Dai sama sekali. Dia menghadapkan wajahnya ke depan, ke arah punggung sofa di seberangnya yang bermotif garis-garis warna-warni, dan membungkukkan punggungnya lagi. Menautkan jari-jemarinya di depan wajah.
“Ya kan, Kenneth?” tanya Dai, menegaskan. Menatap Kenneth dengan dahi berkerut. Dan saat Kenneth tak membalasnya lagi, dia mendengus sinis. Raut mukanya jelas sekali menghina. “Dan kau mengatakan aku memanfaatkan Neela? Lalu kau sendiri apa? Kau telah membohonginya sekian lama dengan alasan yang mungkin sama dengan apa yang kau katakan tentangku.”
Kenneth bangun dari sofa dengan tiba-tiba. “Aku pergi. Tak ada yang ingin kubicarakan lagi,” katanya. Setelah itu memutar kakinya. Hendak beranjak pergi.
“Kau bahkan tak berani memandangku,” ejek Dai. Berjalan pelan di belakang Kenneth. “Kau tak berani mengakui kebohonganmu.”
Kenneth diam saja. Tak menggubris sama sekali. Terus melangkah, melewati ambang pintu menuju beranda dalam langkah cepat. Tak menghiraukan titik-titik air yang berjatuhan, terus berjalan dengan Dai mengikutinya.
“Begitu pengecutnya dirimu, sampai kau tidak bisa mengakui kebohonganmu,” Dai berkata lagi dalam suara keras, mengatasi suara hujan bercampur ombak pantai yang bergemuruh keras. “Setidaknya aku tidak perlu berpura-pura menjadi Gay untuk berada dekat dengannya.”
Kenneth mendadak berhenti. Dia bergeming di tengah beranda, menatap jauh ke depan selama sejenak, sampai akhirnya memalingkan tubuhnya, menghadap Dai yang berdiri dua meter darinya. Tidak menghiraukan hujan sama sekali.
“Kau tidak tahu aku...” Kenneth bersuara. Dan suaranya terdengar bagai bongkah batu cadas yang kokoh di tengah hujaman air di sekeliling. “Jadi kau tidak berhak menilaiku.”
Alis Dai mengernyit. Dia kelihatan begitu tegang, sampai-sampai urat nadi di dahinya terlihat menonjol ke permukaan.
“Aku akui... aku bukan Gay.”
Dai menelan ludah. Mendadak saja dia merasa gamang mendengar pengakuan langsung Kenneth.
“Tapi aku punya alasan kenapa aku berbohong,” sambung Kenneth. “dan alasanku tidak ada sangkut pautnya dengan perasaanku pada Neela. Sama sekali... tak ada.” Dia tersenyum muram. “Pura-pura menjadi seorang homoseksual, bukan strategiku untuk merebut hatinya. Andaikan ya..., aku yakin Neela tak akan mungkin merubah perasaannya yang sudah begitu dalam pada Shinji.”
Wajah Dai terangkat sedikit. Kenneth tak tahu kalau Neela mencintainya, dia membatin,
“Tapi aku...” Kenneth kembali bicara, “tak dapat memungkiri, kalau aku mencintai Neela.”
Tangan Dai gemetar, dan dia mengepalnya kuat-kuat untuk mengendalikannya.
“Namun, cintanya pada Shinji... membuatku menahan diri. Aku... tak mampu menyainginya. Jadi, tak masalah bagiku untuk menjadi seorang gay... Toh tak ada ruginya.” Dia tertawa. Tawa yang kedengaran suram. “Dan...,” Kenneth mengembuskan napas tajam, “kau benar. Aku cemburu. Sangat.”
Entah kenapa Dai mendadak merasa sangat kecil di depan Kenneth. Dia merasa... malu.
“Sulit untukku menerima...” Kenneth melanjutkan, “betapa dia lebih mengingatmu daripada mengingatku, tapi untuknya..., asal dia bahagia... dan sembuh... aku akan menahan perasaanku. Kendati kadang aku ingin sekali berteriak padanya...” Kenneth menghela napas. Memejamkan mata sejenak sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. “kalau aku mencintainya.” Dia menatap Dai lurus dengan matanya yang berkilat, oleh pantulan lampu beranda serta air hujan yang mengaliri wajahnya. “Amat mencintainya,” tambahnya lagi.
Setelah itu dia berbalik. Kembali melanjutkan berjalan menuju undakan tak berapa jauh di depan dengan tenang.
Dai membeku. Memandang punggung Kenneth yang semakin jauh dan akhirnya hilang dari pandangan. Tak ada kata yang bisa diucapkannya lagi, dan suaranya sepertinya enggan untuk keluar dari kerongkongan. Dia merasa benar-benar malu. Merasa kalah dari Kenneth.
Asal dia bahagia... dan sembuh... aku akan menahan perasaanku.
Dai mengibaskan kepalanya. Mengusir suara Kenneth yang mendadak terdengar lagi di telinganya. Bertolak pinggang, dan menghela napas pelan. Berusaha keras mengendalikan dirinya, menstabilkan emosinya yang campur-aduk, dan menenangkan pikirannya.
Demi Tuhan, Neela, dia membatin. Aku... tak ingin ingatanmu kembali. Dan mudah-mudahan tidak.

(Bersambung)

14 comments:

-------------- July 15, 2012 at 8:17 AM  

mbaak, suwi banget sambungane >.<
penasaran mbook

xoxo,
gitasyalala.blogspot.com

Gloria Putri July 15, 2012 at 3:26 PM  

aaaaaakkkkk.....enaknya jd neela dicintai bnyk org....wkwkwkwkwk

Lita July 15, 2012 at 7:58 PM  

@Gita: Maaf... Maklum, penulisnya susah bagi waktu. Susah banget konsentrasi dan melekin mata untuk nulis (:P) mudah2an sekarang nggak ya...

@Glo: Yang cinta cuma dua, yang sayang banyaaaaaakkkkk... Hihihi...

Anonymous,  July 15, 2012 at 9:30 PM  

bersambung mulu deh...

cepet2 dnk ta selesaiin'y...

#Frans arieson sinaga in here

ann July 15, 2012 at 9:51 PM  

Lamaaaaa bgt... Stag mba??? Mudah-mudahan happy ending yaaa.. :)

BlogS of Hariyanto July 16, 2012 at 3:00 PM  

Membenci seseorang tanpa alasan pasti, kemudian harus mencintainya lebih daripada kau membencinya...kalimat ini mengingatkan akan masa-masa indah yang pernah kualami :)

Lita July 16, 2012 at 6:10 PM  

@Franz: Ada Franz tohhhh... aduh, senenggggnya. Iya nih, franz... bersambung. Wkwkwkw. Mudah2an cepet selesai...

@Ann: Hei, Non. Iya, nih aku jeda dulu untuk kerjaan, heheheh... Tapi, tetep sambung kok.

@hariyanto: tx udah mampir dan baca... *hugs*Btw, masa2 indahnya apa nih? #kepoh

dinar July 17, 2012 at 6:21 PM  

Mbakkk....fiuhhh..muncul jg lanjutannya.skr tgl nunggu lg lanjutannya lagi...*rapalmantrabiarcepet

Falra July 17, 2012 at 7:31 PM  

huft...
saya suka baca cerbung...
yang ini juga.
ditunggu lanjutannya. :)

Lita July 18, 2012 at 9:48 AM  

@Dinar: Iya... iya... aku selesein. Tapi besok aja, ya. Asmaku kumat hari ini. Thanks ya, Dinar... *ciumbasah*

@Falra: Hey, pendatang baru... Falra, salam kenal, ya. Terima kasih udah suka juga sama cerbung saya. Keep reading ya.

dinar July 18, 2012 at 10:19 PM  

Ahahaha...tng mb...slama apapun psti msh dtunggu....wlau pun maksa c biar cpt slesai...ahahaha...cpt smbuh ya mb lita...

Feby Oktarista Andriawan July 20, 2012 at 2:41 PM  

Udah lama gak baca nih, hiks.. Skrg gw sneng sm Keneth deh skrg, dia tulus bgt., :)

penanti hujan July 20, 2012 at 3:37 PM  

waaa love this

saya kudu baca dari awal biar ngeh ceritanyaa

salam kenal mba.. ajarin donk buat cerita model beginian

Nonanovnov July 24, 2012 at 11:27 PM  

wah, baru sempet baca niii..
lanjuuuuut, kak!!! :D

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP