A Lot Like Love (28)

>> Friday, June 15, 2012

A Lot Like Love (27)





I Remember...






DAI tidak kembali ke rumah pantai Shinji sore harinya. Memilih untuk diam di rumah pantai yang disewanya; menghabiskan waktu dengan membaca semua email Shinji untuk Neela yang dikirimkan oleh Lea beberapa waktu lalu, dan baru sempat dibacanya.
Aku pikir, dengan membaca semua email itu, akan membuatmu lebih mengerti bagaimana Shinji sebenarnya,” kata Lea saat itu.
Dan Lea benar, setelah membacanya, perasaan Dai pada Shinji jauh lebih baik daripada sebelumnya. Dia sama sekali tak menyangka kalau Shinji yang ia kenal begitu angkuh dan tak dewasa, bisa melakukan hal di luar pikiran orang lain, bahkan orang-orang terdekatnya.
Dia menyayangi Neela dengan cara yang tak seorang pun mengerti,” Dai teringat kata-kata Lea. “Dia membuat hidup Neela jadi lebih baik daripada sebelumnya. Merubah dirinya jauh daripada dirinya yang dulu, tanpa pamrih apa pun, tanpa ingin Neela atau yang lain tahu, kalau dialah yang melakukan semuanya; semua hal yang sama sekali tak mungkin dilakukan oleh seorang Shinji Tsubaki. Dia menyembunyikan penyakitnya dari semua orang, bahkan aku, sahabatnya. Dia tak ingin aku mengkhawatirkannya…Tak ingin aku susah karenanya. Dia mencintai kami semua dengan caranya sendiri… Dengan tulus.”
Dia juga menolong Juna, pikir Dai. Laki-laki yang telah merebut seseorang yang amat dicintainya. Dan sekarat karena itu.
Dai memejamkan mata. Membayangkan betapa kerasnya Shinji menahan perasaannya untuk Lea maupun Neela. Mencoba merasakan kegetirannya sewaktu mengetahui semua ingatannya akan hilang, dan tubuhnya tak akan bisa merasakan apa pun lagi.
Bagaimana bisa dia menerima semua kegundahan itu, tanpa seorang pun di sisinya untuk berbagi? Pikir Dai. Tak ada seorang pun bersamanya. Kecuali Eiji tentu.
Mata Dai kembali membuka, bertemu wajah Shinji yang terpampang di monitor laptopnya. Wajah tampan yang angkuh, dengan senyumnya yang sinis.
“Bagaimana kalau gadis itu tahu siapa kau sebenarnya?” Pertanyaan itu terlontar dari mulut ayahnya yang berang ketika dia memutuskan untuk keluar dari O ushi. “Bagaimana kalau dia sampai tahu, kalau kau adalah kakak dari orang yang membuat Shinji Tsubaki sekarat dan meninggal? Sudahkah kau pikirkan itu, Dai? Dia akan sangat membencimu. Dan kau... tak akan dapat apa pun dari apa yang kau sebut ‘perbuatan baik’ itu.”
Dai mengempaskan napas. Berupaya menghilangkan suara ayahnya yang berteriak ke telinganya. Dia tak ingin memikirkan kata-kata itu, yang entah kenapa selalu membuatnya mendadak diliputi rasa cemas. Dia juga tak ingin membayangkan apa yang akan terjadi kalau Neela tahu kebenarannya; siapa dirinya sebenarnya, dan hubungannya dengan orang yang membuat Shinji Tsubaki tergeletak sebelum ajal seharusnya menjemputnya.
Suara derit keras menyentak pikiran Dai yang menerawang. Semua gambaran samar yang barusan bercengkerama di benaknya, buyar dalam sedetik. Dia bangkit, turun dari kursi bar di depan meja dapur. Menyeret kaki ke arah pintu beranda belakang. Menyibak tirai, menggeser pintu membuka, dan menemukan Neela berdiri di depan pintu, tersenyum suram kepadanya. Tangannya mendekap erat kain rajut berjumbai yang membalut tubuhnya, rambutnya digelung asal di belakang kepalanya. Wajahnya pucat. Dia kelihatan kacau sekali.
“Kenapa kemari?” Dai bertanya cemas. Menjulurkan kepalanya, mencari-cari seseorang yang tak ada. Melihat menembus kegelapan yang telah tinggi. “Sama siapa?”
“Sendiri.” Neela menunduk, mengembuskan napas tajam. “Aku... ingin melihatmu.” Dia memandang Dai lagi. “Minta maaf.”
“Arata... di mana?” Dai tak menghiraukan kata-kata Neela.
Neela menggeleng lemah. “Saat aku bangun, dia tak ada. Kenneth..., tidur di sofa. Aku tak mau membangunkannya, dia tampak lelah.”
Dai tercenung. Bagaimana bisa kedua laki-laki itu melonggarkan pengawasannya pada Neela; pada dirinya khususnya.Setelah sebelumnya Eiji mengatakan tidak akan melonggarkan pengawasan sedikit pun. Dan sekarang? Dia ingin sekali meneriaki Kenneth atau Arata karena itu.
“Aku antar kau pulang,” kata Dai, melangkahkan kakinya keluar. “Kenneth pasti cemas.”
“Kenapa kau tinggal di sini, sementara kau punya rumah di sebelah?” Neela melangkahkan kakinya ke dalam, tidak menggubris perkataan Dai barusan.
Dai membeku di tempat. Bertolak pinggang, bingung akan tingkah Neela, dan juga bingung untuk menjawab pertanyaan tak terduga darinya. Kakinya berputar perlahan, melangkah pelan di belakang Neela  yang menyusuri ruang tengah seraya memandang sekeliling.
“Aku hanya… ingin membuatmu dan yang lain merasa nyaman.” Hanya kalimat tersebut yang bisa ia lontarkan.
“Maksudmu?” Neela kembali menghadapnya, mengeratkan shawlnya.
Well...” Dai bingung menjawab. Menggaruk  bagian samping kepalanya yang tak gatal. “Kalian tamu, dan... tamu harus dilayani dengan baik...” Dia nyengir kikuk, sambil membodohi diri sendiri karena tak dapat mengucapkan kata-kata yang lebih baik daripada itu.
Bukankah lebih baik kau tinggal bersama kami daripada sendirian di sini?” kata Neela lagi menatap lurus ke arahnya. “Aku jadi merasa… kau tak nyaman dengan kami—”
“Jangan berpikir yang tidak-tidak,” sambar Dai cepat. “Aku senang kalian di sini… senang kau” (Dai menelan ludah, entah kenapa gugup) “ada di sini. Aku tak merasa terganggu… Hanya saja…, aku berpikir kalau kalian akan lebih leluasa kalau aku tidak tinggal di sana.” Dai batuk. Batuk yang kelewat keras demi menutupi rasa groginya. “So…” dia berkata pada Neela lagi, “aku antar kau… pulang?”
“Itu apa?” Neela mendadak berpaling, mendekat ke arah buffet kecil di samping meja kerja.
Dai cepat-cepat menyusul. Panik, mengingat laptopnya masih membuka dan menampilkan halaman email Shinji. Dia menutupnya buru-buru, dan menoleh pada Neela yang ternyata lebih tertarik memandangi figura berbingkai kaca kecil, di mana sehelai daun kering tertempel di dalamnya.
Neela memiringkan kepala, mengangkat pigura tersebut dengan mata membulat, mengamatinya beberapa detik, kemudian bergumam,
“Itu namaku… dan… namamu?” Neela mengangkat wajahnya, menatap Dai.
Senyum Dai membeku, dan dia kemudian membalas dengan suara pelan yang bimbang. “Iya…”
Neela mengedipkan matanya beberapa kali, memandangi daun kering kecoklatan di dalam pigura dengan tampang muram. Dari wajahnya, sepertinya dia sedang mengingat-ingat sesuatu.
“Kau… tidak ingat?” tanya Dai, mengernyitkan dahi.
“Hm… Aku…”  Mata Neela bergerak liar ke kanan dan ke kiri. “Aku sepertinya ingat…, tapi…” Dia mengangkat tangannya, memijat-mijat sudut dahinya. Wajahnya meringis menahan nyeri.
Dai menyambar pigura di tangan Neela, dan meletakkannya kembali di atas buffet. “Jangan dipikirkan,” katanya. Tapi Neela protes, alisnya menukik dan matanya melebar. Dia kembali meraih pigura tadi.
“Ini… bagus,” kata Neela, mengusap-ngusap permukaan kacanya dengan sayang. “Dan… kalau kau tidak keberatan…,” dia menatap Dai lagi, “bisakah kau menceritakan… mengenai daun ini…? Aku... ingin tahu.”
Untuk sesaat Dai hanya bisa membuka mulutnya tanpa bersuara, namun kemudian dia mengembuskan napas, melengkungkan senyum kecil yang lembut, dan berkata, “Oke” yang ringan.
...

Kenneth terjaga dari tidurnya oleh suara yang memanggilnya dan guncangan keras di pundak. Saat matanya tersingkap, wajah Arata yang pertama dilihatnya. Mengernyit cemas, sepertinya saja telah terjadi sesuatu yang menakutkan.
“Ada apa?” tanya Kenneth terduduk di sofa di ruang tengah dalam suara yang grogi. Mengejap-ngejapkan mata untuk memfokuskan penglihatannya.
“Nona Neela,” kata Arata cepat, “dia dimana?”
Kenneth segera loncat dari sofa, berlari ke kamar Neela yang pintunya terbuka. Masuk ke dalam dan menyusur kamar, berharap dapat menemukan Neela; berpikir kalau mungkin saja Neela sedang iseng mempermainkannya dan bersembunyi di salah satu sudut kamar. Namun tetap saja, dia tak ada di mana pun.
Kenneth berlari keluar kamar dengan panik, tergopoh-gopoh ke sana kemari, memasuki ruangan demi ruangan, dan kembali ke ruang tengah dengan napas memburu dan wajah yang pucat.
“Dia tak ada,” katanya pada Arata yang mengerutkan dahi.
“Kalau begitu... mungkin dia di rumah Tuan Dai.”
Tanpa babibu Kenneth melangkah menyeberangi ruang tengah menuju pintu beranda yang terbuka. Tidak berpikir sama sekali kalau dia tak mengenakan alas kaki. Terus berjalan melewati pintu, menyusur lantai kayu, menuruni undakan dan berlari susah payah di permukaan pasir yang beriak. Arata mengikuti di belakangnya.
Sudah malam. Gelap menyelubungi laut di depan yang tak terjangkau oleh cahaya temaram api yang meliuk di atas obor yang tertancap di sepanjang tepian pantai serta lampu-lampu yang berpendar dari rumah-rumah yang menjulang di belakangnya.
Debur ombak menggema, bersatu dengan suara tepukan perkusi yang mengentak dan nyanyian samar nan ceria yang berasal dari sekumpulan orang yang duduk melingkar di sekeliling api unggun kecil yang berada tak jauh dari tempat Kenneth sekarang berada. Buih asap naik ke atas, menembus pekat. Membentuk siluet kabut yang menipis.
Andai saja Kenneth tidak sedang dalam keadaan khawatir tingkat tinggi, pasti akan sangat menyenangkan bergabung bersama orang-orang tersebut, untuk sekadar meringankan pikirannya yang ruwet.
Kenneth sampai di teras bawah rumah pantai yang disewa Dai. Langsung mendaki undakan, dan sampai di puncak beranda atas. Menyeberangi dengan langkah cepat yang memburu, dan segera melewati pintu kaca yang terbuka, tanpa menemukan siapa pun di ruang tengah.
Dia kemudian berteriak memanggil Dai seraya bergegas ke ruang tamu, dan kembali lagi ke ruang tengah dengan wajah bingung. Pergi mengetuk semua pintu kamar, membukanya dan kembali ke ruang tengah lagi dengan perasaan lebih cemas daripada sebelumnya. Arata yang baru sampai, memandangnya. Memberikan tatapan seolah minta konfirmasi, yang segera dibalas Kenneth dengan menggelengkan kepala.
“Dai juga tidak ada,” dia memberitahu. Bertolak pinggang. Di mana dia? Kenneth bertanya-tanya sendiri. Apa mereka berdua bersama?
“Coba saya cari di luar,” ujar Arata. “Siapa tahu mereka jalan-jalan di luar.”
Kenneth bengong, tidak mengiyakan juga tidak melarang. Anggukannya lebih kelihatan seperti anggukan kosong tanpa arti, sementara matanya menatap lantai keramik mengilap di bawah kakinya. Dan sampai akhirnya Arata pergi dia masih bergeming. Dengan pose yang sama di tempat yang sama. Tak bergeser sedikit pun.
Kenapa aku tolol sekali? Dia amat kesal pada dirinya sendiri. Kenapa dia malah tidur, padahal seharusnya dia menjaga Neela. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?
Separo hati Kenneth berharap Neella sedang bersama Dai sekarang, karena dengan begitu Neela akan aman, sedangkan yang separo lagi berharap kalau Neela tidak bersama Dai, khawatir kalau Dai melakukan sesuatu padanya. Tapi mungkinkah Dai bisa menyakiti Neela, setelah kecemasan yang dia tunjukkan pagi tadi? Dia jelas menyayangi Neela, dan rasanya tak mungkin kalau dia tega berbuat buruk padanya. Tapi kalau Dai bersama Neela... Hati Kenneth mendadak serasa diiris-iris. Rasa cemburu menggelegak memenuhi kepalanya.
...

“Kenapa tidak kau ceritakan saja padaku perihal daun itu tanpa harus menyuruhku melakukan hal konyol begini?” kata Neela cemberut, seraya duduk di depan sebuah piano besar di dalam sebuah toko alat musik kemana Dai mengajaknya pergi.
“Mainkan saja piano itu. Semakin banyak kau protes, semakin malas aku cerita,” ancam Dai tanpa memandang Neela. Sibuk mengamati biola di tangannya, yang baru saja dibawakan oleh pramuniaga toko musik tersebut. “Lagipula,” dia menoleh pada Neela sekilas, “di depanmu ada partitur lagu.”
“Tapi... aku tidak bisa.”
“Bagaimana mungkin kau tidak bisa?” Dai berpaling, setelah sebelumnya tersenyum penuh terima kasih pada si pramuniaga. Menenteng biola di tangan kiri dan busur di tangan yang lain.
“Aku lupa ingatan kalau kau lupa, dan membaca partitur musik adalah salah satu hal yang lolos dari memoriku,” desis Neela.
Dai mendengus. “Musik adalah hidupmu, asal kau tahu. Perjalanan hidupmu bagaikan musik yang kau mainkan selama ini—kau malah cengengesan.” Bahu Dai mengempas. Wajahnya tampak putus asa melihat Neela terkekeh mendengar kalimatnya. “Aku serius,” katanya, dengan mata melebar.
“Aku mengerti,” timpal Neela, “tapi... aku benar-benar tidak ingat—”
“Untuk permulaan,” Dai menyela. “tekan tuts piano itu. Dan kita lihat..., apa kau benar-benar lupa dengan permainan pianomu. Kau boleh melupakannya, tapi tidak dengan alam bawah sadarmu.”
Wajah Neela memucat. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat sekilas ke arah orang-orang yang juga sedang berada di dalam toko ini. Yang untungnya tidak memandang ke arahnya dan Dai. “Aku... tidak yakin aku bisa,” dia berkata lagi, mendongak pada Dai. “Dan... kalau sampai orang-orang itu melihatku... dan mengenaliku...”
“Oke.” Dai mengangguk-angguk. “Berarti kau bisa lupakan cerita mengenai daun itu,” katanya dengan tampang menyayangkan, mengangkat biola yang dipegangnya dan menelitinya.
Neela memberengut. Mengembuskan napas tajam, diiringi decak kesal. “Terserahlah,” gerutunya. Menegakkan badannya di kursi dan mengambil napas dalam-dalam. Kedua tangannya dijulurkan ke depan, mengepal beberapa inci di permukaan tuts piano yang berkilap. Dia menggigit bibir bawahnya, menelan ludah beberapa kali, sementara tangannya membuka, dan perlahan turun menyentuh permukaan tuts.
Mata Neela menjelajah kertas musik yang terpampang di depannya. Bertengger di atas permukaan piano dengan disangga akrilik tipis.
Bagaimana membacanya? Neela berpikir keras. Dia benar-benar tidak ingat. Tapi... sepertinya...
Suara denting pelan yang canggung terdengar ketika jari Neela menekan salah satu tuts. Jantungnya berdebar. Rasa tegang melandanya. Tapi, entah kenapa dia juga merasa amat antusias. Gelombang emosi seakan meledak, meluap; mengalir ke seluruh tubuhnya, mendorongnya untuk menekan tuts-tuts piano tersebut. Memainkannya.
Neela mengikuti hasratnya. Membiarkan jemarinya menari dengan lincah tanpa beban di atas balok-balok mungil yang berdenting merdu. Memainkan nada-nada lembut yang menenangkan dengan perlahan namun pasti, dengan mata terpancang ke not-not balok yang sedikit demi sedikit terbaca olehnya. Dai benar, Neela berpikir. Dia tidak sepenuhnya lupa akan musiknya. Dia ingat, walaupun tidak total.
Saat Neela sampai pada bagian refrain, mendadak terdengar suara biola di belakangnya. Bukan satu tapi lebih, mengiringi permainan pianonya dengan amat manis. Neela menoleh ke belakang, tanpa menyadari kalau jari-jemarinya sekarang bergerak sendiri tanpa ia awasi. Terlalu terkesima melihat enam-tujuh orang yang sekarang berjalan mendekat seraya memainkan biola mereka masing-masing.
Kemudian dia memalingkan wajahnya lagi, memandang Dai dengan tatapan seolah menuduh. Tapi Dai hanya mengulum senyum, mengedikkan bahunya seraya mendekap biola yang masih dipegangnya.
Sementara itu orang-orang berkumpul mengelilingi mereka. Berbisik-bisik pada teman sebelahnya sambil menunjuk-nunjuk ke arah Neela dengan antusias. Mereka mengenalinya, dan Neela sepertinya tak menganggap hal itu sesuatu yang memberatkan lagi. Dia tersenyum pada Dai, yang membalasnya dengan senyum simpulnya yang menawan. Diam sejenak, sementara para Violis memainkan busur biolanya di atas senar biolanya masing-masing tanpa suara pianonya.
Suara harpa terdengar, membuat Neela menoleh ke kanan dengan tampang sama tercengang seperti sebelumnya. Memandang kagum seorang gadis cantik bergaun bunga-bunga merah muda, yang berdiri di sebelah Violis paling ujung, yang dengan anggun menjentikkan jemarinya di senar-senar harpa yang bergetar memunculkan nada indah mendayu. Sejak kapan gadis itu berada di sana, Neela sama sekali tak tahu. Yang pasti permainan harpanya bagus sekali, membuat semua orang terpana dan memandang takjub ke arahnya.
Belum hilang rasa terkejut Neela dengan kemunculan pemain harpa tersebut, dia kembali dikejutkan oleh suara biola yang dimainkan solo oleh seseorang persis dari sebelah kirinya. Spontan ia menoleh, dan langsung bengong—lebih menjurus ke syok daripada takjubnya, melihat Dai menggesekkan busur biola ke empat senar biola yang sebelumnya didekapnya dengan cara yang bukan amatir sama sekali. Begitu meyakinkan seakan saja dia adalah pemain biola profesional—atau jangan-jangan dia memang pemain biola profesional, mendengar suara biolanya yang tanpa cela. Caranya memegang biola, sikap tubuhnya dan ekspresi wajahnya benar-benar mencerminkan kalau dia terbiasa dengan benda itu.   
Dengan mata berkaca-kaca karena haru, diiringi oleh Dai dan pemusik lainnya, Neela kembali memainkan piano besar di depannya. Mengantarkan nada-nada penutup dengan lebih percaya diri dan lebih bersemangat daripada sebelumnya.
Tak memedulikan sekelilingnya; tak memedulikan siapa pun, atau apa pun yang terjadi di sekitarnya. Hanya peduli dengan pianonya, musiknya dan dirinya. Seakan semuanya mengabur. Menghitam. Dan di dunia ini hanya ada dia seorang. Berpusar, menyatu dengan suara denting merdu dan pikirannya yang melayang.
Dia menutup mata, dan ingatan itu bermunculan: Dai..., senyum Dai..., tawa Dai..., wajah Dai..., pelukannya..., genggaman hangatnya..., lalu, daun kering itu. “Mereka menuliskan nama mereka dan pasangan masing-masing di sehelai daun..., suara Dai terdengar begitu jelas di benak Neela.  Kalau mereka jodoh, daun itu akan bertahan di pohon tersebut. Kalau tidak, daun itu akan terbawa angin...
Neela membuka mata. Tersentak oleh tepuk tangan riuh orang-orang yang berkerumun di sekelilingnya. Air mata menggenangi matanya, dan perasaannya jauh lebih berat daripada sebelumnya. Tapi kemudian dia melihat Dai. Dai yang turut bertepuk tangan paling keras dan tersenyum paling lebar padanya, membuat kegundahannya menguap, berganti rasa bahagia yang begitu besar.
Neela bangun dari kursi yang didudukinya. Dengan gontai menggerakkan kakinya menghampiri Dai. Kedua tangannya terangkat, terjulur ke depan hendak menggapai. Dai membungkuk, membiarkan Neela melingkarkan kedua tangannya di sekeliling lehernya. Membiarkannya memeluknya, dan menyembunyikan sebagian wajahnya di antara leher dan bahunya, balas memeluknya.
“Aku ingat, Dai...” gumam Neela sejenak kemudian. “Aku ingat... Tak perlu cerita lagi. Aku mengingatnya.”
Setelah itu dia mengeratkan pelukannya. Membenamkan wajahnya di dada Dai. Merasakan kecupan hangat di keningnya, menikmati usapan lembut di rambutnya. Merasakan Dai seluruhnya.

(Bersambung)


gambar dari sini

6 comments:

Rusyda Fauzana June 16, 2012 at 8:13 AM  

Ahh... Dai memang selalu menawan :)

Mba Lita, keren deh! Aku seperti menonton film membaca chapter ini :)

Gloria Putri June 20, 2012 at 7:06 PM  

aq suka bagian neela mengingat soal daun itu....manis bgt caranya dai huhuhu.......

Lita June 21, 2012 at 4:51 PM  

@Rusyda: Memang Rus... Dia selalu menawan... #melting

@Glo: Pengen ya... Aku kadang iri sama karakter rekaankun sendiri. hiks!

Lia July 1, 2012 at 3:51 PM  

Wah, udah part 28 aja
sayang ga baca dari awal
udah ketinggalan jauh nih :(
btw salam buat Dai, boleh minta nomer hpnya ga? hahaha...
Pas buka blognya ada lagu nih enak banget lagunya, btw sapa yg nyanyinya?

Nonanovnov July 7, 2012 at 11:38 PM  

aaaaaaaaaa Dai >,<
bikin gemess hehehe

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP