A Lot Like Love (27)

>> Sunday, June 10, 2012

A Lot Like Love (26)

Memories


MENDUNG sisa malam masih menggantung di langit pagi. Angin basah bercampur pasir bertiup ke pesisir. Buih ombak bergulung, berenang ke tepian. Membasahi pasir, mendorong dan menyeret benda-benda yang ada di jalannya. Pantai masih sepi. Orang-orang sepertinya masih meringkuk nyaman di kasur hangat masing-masing. Semua orang kecuali tiga orang: Dai, Neela dan Arata, yang sekarang berjalan santai menyusuri pantai. Terpisah tak seberapa jauh satu dengan yang lain.
“Ayo, Neela,” Dai menyemangati, berpaling sejenak ke belakang untuk melihat Neela yang tertatih di belakangnya. “Jalan pagi... baik untuk kesehatan.” Dia melanjutkan berjalan dengan langkah ringan. Kedua tangannya di saku jumpernya.
Neela mengembuskan napas perlahan, menaikkan tudung jaketnya untuk menghalau dingin. Untuk pertama kalinya, sejak dia siuman dari komanya, dia merasa amat jengkel pada seseorang; pada Dai. Kesal, karena Dai memaksanya berjalan begitu jauh dengan mata mengantuk dan kaki yang serasa tertusuk kapan pun dicoba untuk digerakkan. Berulang kali dia mencoba menyenangkan hatinya dengan membayangkan kasur empuk di kamarnya, namun gambaran itu malah membuatnya bertambah dongkol pada Dai.
“Kita sebenarnya mau kemana?” tanya Neela, terpincang-pincang mendekati Dai yang melambatkan langkah. “Kakiku sudah pegal.”
“Jalan-jalan sekitar sini saja,” sahut Dai, menolehkan kepala. “Setelah itu kembali lagi ke rumah.”
Neela memberengut.
“Ayolah...” Dai mendengus. Menghentikan langkah sejenak, menunggu Neela merendenginya, “hitung-hitung, terapi untuk kakimu. Semakin banyak kau latihan berjalan, semakin cepat kakimu sembuh.”
“Aku sedang tidak niat,” sungut Neela.
“Lari pagi, jalan pagi..., olah raga paling murah,” kekeh Dai. “Kau hanya perlu kakimu, dan menurutku itu baik untuk—”
“Ya... ya,” Neela memotong. “Terus jalan kalau begitu.”
Dai menyeringai penuh kemenangan. Berjalan pelan di sebelah Neela, sambil menghadapkan wajahnya ke ujung horison yang mulai menguning.
“Oh.” Dai mendadak berhenti, memutar badannya ke arah pantai. “Matahari akan segera terbit.” Dia tersenyum. Tampak riang.
Neela menatapnya, mengernyit. “Kau kelihatan seperti orang yang baru pertama kali melihat matahari terbit,” ujarnya. “Dulu... kau sering melihatnya sambil berenang pagi hari.”
Dai menengok. Mengernyit heran.
“Aku... tanpa sepengetahuanmu,” Neela melanjutkan, mengeratkan jaketnya untuk melindungi badannya dari serangan dingin, “bangun setiap pagi, hanya untuk melihatmu berselancar atau berenang.” Dia menundukkan wajahnya yang menghangat. “Sosokmu mengesankan saat kau memandang matahari terbit. Berdiri dengan setengah badan berada di dalam air. Persis seperti lukisan.”
Neela kembali menatap Dai, dan menemukan gurat bimbang yang kentara di wajahnya. “Ada apa?” tanyanya.
“Tidak.” Dai menggeleng pelan. Tersenyum. Dia menarik napas panjang, menghadapkan wajahnya lagi ke depan. “Aku mau melihatnya,” angguknya ke ujung laut, duduk di atas pasir dengan kedua lutut ditekuk. “Duduklah,” katanya pada Neela. “Temani aku.”
Neela tersenyum manis. Merendahkan badannya perlahan, menekuk kakinya dengan wajah meringis menahan nyeri. Dai membantu, memegangi tangannya, melingkarkan tangannya di sekeliling pinggang Neela setelah dia sepenuhnya duduk. Warna merah membayangi wajah Neela, saat bahunya dan bahu Dai bersentuhan. Pikirannya kosong selama sejenak, sampai sebuah suara berkeresak terdengar di belakang mereka. Neela menolehkan kepalanya spontan.
“Apa menurutmu... Arata aneh?” bisik Neela di telinga Dai.
Dai mengernyit, tampak bingung. Dia mengerling sekilas ke belakang, melihat Arata yang berdiri tegak di belakang dengan tangan bersedekap. “Aneh bagaimana?” tanyanya geli.
 “Dia jarang bicara. Dan... selalu mengikutiku dan Kenneth kemana pun, seakan saja dia itu semacam... pengawal—body guard. Cocok sih..., tapi... dia itu supir. Supir yang... terlalu tampan menurutku.”
Dai tergelak. Kembali menunjukkan dua bolongan kecil yang menggemaskan di masing-masing pipinya. Lesung pipi, yang membuat Neela tak bisa menggerakkan matanya ke arah lain selain dirinya; seperti terhipnotis.
Klise memang, terpukau oleh wajah tampan seorang laki-laki, namun Dai bukan hanya seorang laki-laki. Dia laki-laki yang Neela cintai, dan juga balas mencintainya. Setiap tatapan Dai, senyum, tawa,  ekspresi dan sikap tubuhnya seolah memberitahu Neela, betapa dia menyayanginya dengan tulus. Itu membuatnya semakin menawan di mata Neela.
Tanpa sadar Neela mengangkat tangan; menyentuh salah satu pipi Dai, membuat tawanya berhenti. Mata hitamnya berkilat balas menatap mata Neela yang mengejap. Tatapannya amat lembut; penuh arti, diiringi lengkungan manis perlahan di bibirnya.
Sadar kalau dia telah melakukan sesuatu yang aneh, Neela menarik tangannya buru-buru. Tersenyum kikuk.
“Sori,” ucapnya malu. Menunduk ke kakinya yang disilangkan. “Aku hanya...” (dia kesulitan menemukan kata) “hanya...”
“Matahari akan terbit.” Dai bicara cepat-cepat, menyelamatkan Neela dari tanggung jawab melanjutkan kalimatnya yang kacau. Dia memandang jauh ke arah awan yang menguning di ufuk timur, mengantar bulatan besar raksasa naik ke permukaan. “Wow.” Dai tampak takjub. “Indah sekali.”
Neela tersenyum. Perlahan menoleh memandang Dai. Melihatnya memejamkan mata, mengembuskan napasnya perlahan. Menikmati kehangatan lembut yang dipancarkan oleh sang Surya. Dua-duanya indah menurut Neela; matahari terbit dan wajah Dai. Dua-duanya membuatnya menahan napas saat melihat. Oh, God.
“Aku tidak pernah melihat matahari terbit seindah ini sebelumnya,” kata Dai, setelah lewat beberapa waktu. Dia telah membuka matanya. Duduk sambil memeluk lutut. “Menyenangkan.”
Neela tak bersuara. Cuma tersenyum kecil; turut menatap ke depan, ke arah matahari yang bersinar jingga, membuat semua di sekitarnya menjadi keemasan..., jingga, menyilaukan dan berkilatan.
 Lalu, tiba-tiba saja, hal itu terjadi; kilasan ingatan berkelebatan di matanya. Seorang laki-laki..., berdiri membelakangi menghadap matahari…, tato besar memenuhi punggungnya yang telanjang..., setengah badannya berada di dalam air yang beriak tenang..., rambutnya kecoklatan tertimpa sinar redup matahari..., dia menoleh..., tersenyum..., matanya yang coklat menyorot ramah...
“Neela? Neela!
Neela tersentak. Suara Dai mengembalikannya ke alam sadar. Memecah serpihan ingatan yang sekejap tadi menutup pandangannya dan membuatnya lupa akan dunia di hadapannya.
“Kau kenapa?” Dai bertanya panik, meremas bahu Neela erat, sementara dia tersengal dan menatap liar ke segala arah. “Neela.”
Mata Neela membuka menutup beberapa kali dengan panik. Bibirnya dikatupkan dan digigitnya keras-keras. Suaranya tertelan di tenggorokan, tak mau keluar. Siapa dia? Neela bertanya-tanya cemas. Laki-laki itu..., yang selalu ada di mimpinya selama ini. Dia bukan Dai. Tapi dia mengenalnya. Sangat mengenalnya. Dia yakin sekali.
“Neela, please...” Dai mengusap keringat di kening Neela, menyapu helai rambut yang menempel di wajahnya lembut. “jawab aku.”
“Aku... mau pulang.”
“Apa?”
Neela enggan mengulang kata-katanya lagi. Dia juga kebingungan menjelaskan apa pun pada Dai. Berdiri susah payah, dan tanpa pamit lebih dulu, pergi begitu saja meninggalkan Dai.
“Neela!” Dai memanggil keras, seraya bangkit dari duduknya. Tapi Neela tidak menghiraukan, terus melangkah terpincang-pincang menjauh. Arata mengikuti di belakangnya.
...

“Ada apa?” Kenneth bertanya cemas pada Arata. Menghampirinya tergesa begitu dia muncul di puncak undakan beranda. “Kenapa Neela?”
 Arata menggeleng. “Saya tidak tahu,” jawabnya tenang. “Tiba-tiba saja Nona Neela pergi begitu saja meninggalkan Tuan Dai.”
“Mereka bertengkar?”
Arata memasukkan satu tangannya ke kantong celana pendeknya. “Setahu saya tidak,” gelengnya. “Mereka... baik-baik saja.”
Kenneth berbalik. Berjalan cepat ke arah pintu beranda, menyeberangi ruang tengah menuju pintu kamar Neela yang tertutup. Dia mengetuk beberapa kali, memanggil Neela dalam suara pelan yang tegas. Dan ketika tak terdengar jawaban, dia meraih gagang pintu, memutarnya dan mendorongnya membuka. Suara air terdengar bergemerecik dari dalam.
Kenneth masuk, menggerakkan kakinya pelan di permukaan lantai yang dingin. Pintu kamar mandi terbuka lebar, menampakan seluruh isinya. Setengah berlari Kenneth menyusur kamar menuju kamar mandi. Panik, saat menemukan Neela duduk di dalam bath tub. Bersandar di ujungnya, diguyur air dari shower di atas.
“Kau sedang apa?” Kenneth buru-buru mendekat. Tangannya terangkat hendak menggapai keran shower yang tersembunyi di belakang punggung Neela. Tapi Neela mencegah; menggeser badannya sambil menengadahkan wajah pada Kenneth. Memberikannya tatapan yang sepertinya berarti ‘jangan’.
“Kau bisa sakit.”
Neela menggeleng. “Aku merasa lebih baik,” balasnya dalam suara bergetar.
Kenneth berjongkok di sebelah bath tub. Memiringkan kepalanya memandang Neela yang gemetaran dari kepala sampai kaki. “Kau kedinginan. Kau pasti sakit.”
Neela kembali mengibaskan kepalanya. “T-tidak,” gagapnya.Please…
Kenneth menunduk, mengempaskan napas tajam, kemudian mengangkat wajahnya lagi. “Kalau begitu—dengarkan aku dulu,” katanya buru-buru saat mata Neela membeliak protes melihat tangannya menggapai ke arah keran, “Nyalakan air panasnya... agar kau tidak kedinginan.”
Mata Neela mengejap. Dia menggeser badannya sedikit ke samping, agar Kenneth bisa menjangkau keran air tanpa hambatan. Kenneth memutar keran dengan titik merah di atas kenopnya. Membiarkan air panas mengalir bersamaan dengan air dingin, mengantarkan embusan hangat menenangkan ke sekeliling ruangan.
Thanks,” senyum Neela penuh terima kasih. Air matanya jatuh dari sebelah matanya yang merah, dan segera berbaur dengan air kucuran shower.
“Ada apa?” tanya Kenneth, menatap Neela lekat-lekat. “Kau dan Dai... bertengkar?”
“Tidak.” Neela menarik napas panjang, dan mengembuskannya perlahan.
“Lalu—”
“Aku melihat seorang laki-laki...” kata Neela cepat, sebelum Kenneth melanjutkan sisa kalimatnya. “Laki-laki dalam mimpiku...”
Shinji? Kenneth mengernyit. “Kau melihatnya...? Bagaimana? Di mana?”
Neela membenamkan wajahnya ke tangannya. “Aku… aku juga bingung.” Dia gemetaran, menyapu rambutnya ke belakang, dan mendekap tubuhnya. “Muncul begitu saja… seolah nyata. Aku... seperti sedang bermimpi... tapi... tidak.” Dia terisak. “Melihatnya entah kenapa membuatku sedih. Aku... merasa luar biasa rindu.”
Kenneth bimbang. Dia hanya bisa memandangi Neela dengan iba, tanpa tahu apa yang harus dia lakukan untuk menghiburnya. Kata-kata apa yang harus ia ucapkan untuk meringankan hatinya.
Wajahnya… Aku lihat wajahnya. Tersenyum. Dia... begitu kukenal,” Neela bicara lagi, mengusap air yang menghalangi pandangannya. “Tapi... aku tak tahu... siapa. Aku...” Dia mendengus-dengus, tak melanjutkan bicara.
“Hei...” panggil Kenneth, tersenyum menenangkan. “Jangan dipaksakan... Tenanglah...”
“Aku tidak bisa...” sahut Neela sedih. “Itu menyakitiku... tidak mengetahui siapa laki-laki itu.”
“Itu Dai... Kau tahu.”
Neela menggeleng. “Tidak. Itu bukan Dai.”
Jantung Kenneth entah kenapa tiba-tiba berdegup lebih cepat dari sebelumnya. “Itu Dai.” Dia memaksakan mulutnya bicara, kendati sebenarnya dia ingin sekali mengatakan yang sebenarnya; kalau laki-laki itu bukan Dai, melainkan orang yang sudah mati. Hanya tinggal kenangan yang tak semestinya membebaninya.
“Bukan,” tegas Neela. “Itu... bukan Dai.”
Kenneth bungkam, tak lagi membalas. Dia memperlambat napasnya, dan memejamkan mata sejenak. “Kau sedang terguncang... Lebih baik tidak berdebat.”
Setelah itu dia bangkit. Mengangkat kakinya, dan masuk ke dalam bath tub. Neela menengadah, tampak heran. Bergeser sedikit, ketika Kenneth duduk di sebelahnya, melingkarkan tangannya ke sekeliling pundaknya, dan menariknya merapat. Butiran air berjatuhan; membasahi rambutnya, mengaliri wajahnya, membasahi kaus dan celananya. Membuatnya kuyup. Sama seperti Neela.
I’ll stay with you,” kata Kenneth. “Menangislah sepuasmu.”
Air mata—benar-benar air mata, menggenangi mata Neela yang sembap. Senyum penuh terima kasih mengembang di bibirnya yang pucat. Dia memiringkan kepala, meletakkannya di bahu Kenneth. Meringkuk pasrah di bawah naungan lengan besarnya yang nyaman. “Terima kasih, Ken,” katanya parau. “Terima kasih.”
Kenneth tersenyum. Menyentuhkan sebelah pipinya ke pucuk kepala Neela. Tak berkata apa-apa lagi. Mengeratkan tangannya di bahu Neela.
...

Neela tidur. Kenneth dengan susah payah telah memaksanya keluar dari bath tub. Membujuknya untuk mengganti pakaiannya yang basah dengan pakaian kering; membawakan handuk dan pakaian ganti, setelah itu, dengan berat hati memaksanya menelan obat tidur demi menenangkan pikiran dan fisiknya. Baru keluar dari kamar setelah memastikan kalau Neela benar-benar terlelap di kasurnya.
Tak ada siapa pun di ruang tengah. Arata entah di mana.
Kenneth berjalan menuju kamarnya. Melepas semua pakaian kuyup yang masih menempel di badan. Melemparnya ke dalam wadah cucian kotor di sudut, seraya berjalan menghampiri tas besar berisi pakaian yang belum sempat ia keluarkan untuk dipindahkan ke dalam lemari. Membungkuk, menarik sehelai kaus dan celana dari dalamnya, kemudian mengenakannya secepat kilat. Disambarnya handuk kecil yang menggantung di sandaran kursi di depan meja kerja di sebelah lemari, dan mengusapkannya ke rambutnya yang basah. Sambil mengeringkan kepalanya, dia berjalan keluar kamar, kembali berada di ruang tengah, dimana Dai sedang berdiri menatapnya.
“Dai?”
“Bagaimana Neela?” Dia segera bertanya. Suaranya begitu dalam dan diliputi kecemasan.
“Dia… tidur,” jawab Kenneth. Handuk di kepalanya merosot ke leher. “Dia sudah… lebih tenang.”
Dai mengembuskan napas. Wajah muramnya seketika lega. “Oke. Dia baik-baik saja kalau begitu,” gumamnya, lebih pada diri sendiri. Bertolak pinggang, menatap liar lantai di bawahnya. “Aku… Aku tak mengerti ada apa dengannya…” Dia kembali menatap Kenneth. “Tiba-tiba saja dia membatu, hilang fokus… lalu… pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun. Aku kira dia sakit. Aku khawatir sekali… sampai aku tak bisa melakukan apa pun selain bengong.”
Dai memejamkan kedua matanya sekilas, bernapas berat, dan menelan ludah beberapa kali, sampai akhirnya memutuskan untuk duduk di sofa panjang. Membenamkan wAjah ke tangannya.
“Dia baik-baik saja. Dia hanya… bingung,” Kenneth memberitahu, berjalan mendekat. “Dia melihat sekilas kenangan.”
“Kenangan? apa?” Dai mengangkat wajah, menatap Kenneth penasaran. Kedua tangannya yang membuka membeku di udara.
“Shinji. Sosok Shinji…”
Dahi Dahi berkerut. Kepalanya miring ke kiri. “Dia ingat… kalau begitu?”
Kenneth duduk di salah satu sofa tunggal. “Dia yakin mengenali wajahnya. Namun… dia tetap tak bisa ingat siapa.  Dan dia sedih karena tak bisa mengingatnya sama sekali. Membuatnya frustasi.”
“Tapi setidaknya… dia ingat sesuatu,” timpal Dai. “Kenangan tentang Shinji… Kenangan Shinji… muncul. Bukankah itu kemajuan?”
 Kenneth tersenyum getir. “Kemajuan memang, karena kali ini sosok itu memperlihatkan wajahnya.”—(Dai memandang Kenneth dengan bingung)—“Sosok Shinji selalu hadir dalam mimpinya semenjak dia siuman dari koma. Mengganggu tidurnya. Membuatnya histeris… Di mimpi itu, kenangan tentang Shinji dan kecelakaan yang menimpa kalian… campur aduk jadi satu. Dan seperti yang kau tahu, membuatnya berpikir…, kalau Shinji adalah dirimu.”
“Tapi… setelah melihat kenangan yang tadi pagi itu… apa dia masih berpikir…, sosok itu adalah aku?” tanya Dai.
Kenneth tak bicara. Memandang Dai dengan tatapan kosong, sementara benaknya sibuk mengorek ingatan beberapa jam lalu, saat dia dan Neela masih berada di dalam kamar mandi. Saat Neela mengatakan kalau sosok yang dia lihat di kilasan memori itu bukan Dai.
“Dia tahu itu bukan kau…” kata Kenneth. “Tapi… aku belum bisa memastikan kalau… dia sudah bisa membedakan antara dirimu dan Shinji.”
“Ya… setidaknya… memori itu muncul,” timpal Dai cepat. “Memori yang berbeda dari sebelumnya. Dan… setidaknya… sekarang dia tahu… kalau sosok itu bukan aku… Tapi Ken…, kenapa kita tidak memberitahunya saja semua kebenarannya,”usul Dai. “Kalau aku ini bukan—”
“Aku tidak mau membuat Neela syok,” potong Kenneth. “Kondisinya belum stabil. Mungkin… kalau nanti dia… lebih kuat secara fisik dan mental. Dokter mengatakan untuk… pelan-pelan saja.”
Dai tersenyum simpul. “Mudah untukmu mengatakan itu…” ujarnya. “Sulit untukku… berpura-pura menjadi orang lain; mendengarnya mengingatkanku mengenai hal-hal yang sama sekali tidak kuketahui… dan tidak pernah kulakukan. Tapi… aku akan mencoba bersabar.”
Itu juga tidak mudah untukku, Kenneth membatin. Melihat Neela bersamamu.
“Aku kembali ke rumah,” Dai berkata. Bangkit berdiri. “Aku akan kembali sore. Thanks.”
Setelah itu dia melangkah pergi. Berjalan dengan menyeret kaki menuju pintu beranda. Meninggalkan Kenneth yang tercenung sendirian, membungkuk di sofa yang didudukinya.
“Aku lebih senang ada di posisimu saat ini, Dai…” gumam Kenneth amat pelan, setelah suara langkah Dai tak lagi terdengar.Setidaknya dia bisa menatapku dengan cara seperti dia menatapmu.”

(Bersambung)

gambar dari sini

Lita's Note:

Oke... oke... Saya tahu... Sudah lama sekali saya gak mosting lanjutannya A Lot Like Love. Saya minta maaaaafffff... Dan sekali lagi, alasannya adalah: stuck ide; karena kerjaan, karena waktu yang gak luang banget untuk ngendon di depan lappy untuk sekadar mengetik barisan kalimat untuk nyambung cerita ini.
For God sake..., saya depresi untuk nulis. Saya kangen Dai, kangen Kenneth dan juga Neela--juga Shinji. Gak pernah kepikiran sama sekali untuk stop. Tapi... apa mau dikata, saya ketiduran setiap berhasil ngetik satu paragraf yang butuh berjam-jam lamanya untuk rampung. What the...
Sekali lagi, maaf teman-teman... Semoga setelah ini saya lebih semangat lagi, dan bisa ngatur waktu untuk nulis, dan semoga... para blogger pals yang suka A Lot Like Love tetep suka dan baca.

So see ya next, and thanks, Guys. Mwah!

7 comments:

feby prinadewi,  June 11, 2012 at 7:56 AM  

Akhirnya...yg ditunggu'' muncuL juga ^_^ tetep semangat ya mba..dai...dai..haduuhh tmbah lucu aj neh,hehehe

yuli she,  June 11, 2012 at 11:44 AM  

Mmuach juga mba Lita,,,btw lagu yang setia menemai blog mba Lita ini yang dinyanyiin sama cowok itu judulnya apa yah??ko enak banget hehe :b

dinar June 11, 2012 at 4:09 PM  

akhirnyaaaa....ehehe...tng mbak lit.santai saja ngelanjutinyya(pdhl tiap hari mantengin blog mbak lit buat ngecek ).yg penting dilanjutin . berabe klo gak dilanjutin.ahahahaha....
Gemes banget ngeliat Neela nih yg pikun bgt,kasian Kenneth soalnya . Tp tetep aku sukaaaa Daiiii

Lita June 11, 2012 at 6:36 PM  

@Feby: iya nih, Feb... Ak-hir-nyaaaa... Setelah lewat beberapa minggu, chap 27-nya selesai juga... Beruntung banget masih ada yang mau baca. Tq ya, Feb... Btw... Dai emang lucu--dennis Oh, lebih tepatnya...

@Yuli: Thanks ya, Yul... Masih setia nungguin aku mosting *terharu; peluk tembok* Lagu itu judulnya 'Love of Iris'-Shin Seung Hun OST-nya IRIS. Emang bagus, makanya aku pasang di sini... heheheh

@Novi: Iya, Nov... Akhirnya *terharu*

@Dinar: Pastilah dilanjutinn... karena aku pasti jadi pusing banget kalau gak tau endingnya... *loh?* Maklumlah... aku sendiri nungguin otakku ngasilin ide. Hag hag hag. Anyway, thanks ya, Di... udah mantengin blogku... *peyukkkk*

anonymous June 12, 2012 at 8:58 PM  

wuaaaa akhirnya diposting juga!!! aku juga kangen banget mbak sama neela, ken, dan... DAI!! *megapmegap*
keep the spirit mbak! semoga sukses terus ya mbak lita, amiinn :):)

xoxo,
Ghaida

yuli she,  June 15, 2012 at 11:39 AM  

Dengan senang hati mba Lit,,,
Kok peluk tembok??kesian amat,,sini sini peluk aku aja haghaghag
Wih,,,langsung tak donlot ah lagunya,,bikin hati jadi berrrr,,gimanaaaa gt heu
Keep writing mba Lit, i'll be waiting for the next chapter.

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP