A Lot Like Love (28)

>> Friday, June 15, 2012

A Lot Like Love (27)





I Remember...






DAI tidak kembali ke rumah pantai Shinji sore harinya. Memilih untuk diam di rumah pantai yang disewanya; menghabiskan waktu dengan membaca semua email Shinji untuk Neela yang dikirimkan oleh Lea beberapa waktu lalu, dan baru sempat dibacanya.
Aku pikir, dengan membaca semua email itu, akan membuatmu lebih mengerti bagaimana Shinji sebenarnya,” kata Lea saat itu.
Dan Lea benar, setelah membacanya, perasaan Dai pada Shinji jauh lebih baik daripada sebelumnya. Dia sama sekali tak menyangka kalau Shinji yang ia kenal begitu angkuh dan tak dewasa, bisa melakukan hal di luar pikiran orang lain, bahkan orang-orang terdekatnya.
Dia menyayangi Neela dengan cara yang tak seorang pun mengerti,” Dai teringat kata-kata Lea. “Dia membuat hidup Neela jadi lebih baik daripada sebelumnya. Merubah dirinya jauh daripada dirinya yang dulu, tanpa pamrih apa pun, tanpa ingin Neela atau yang lain tahu, kalau dialah yang melakukan semuanya; semua hal yang sama sekali tak mungkin dilakukan oleh seorang Shinji Tsubaki. Dia menyembunyikan penyakitnya dari semua orang, bahkan aku, sahabatnya. Dia tak ingin aku mengkhawatirkannya…Tak ingin aku susah karenanya. Dia mencintai kami semua dengan caranya sendiri… Dengan tulus.”
Dia juga menolong Juna, pikir Dai. Laki-laki yang telah merebut seseorang yang amat dicintainya. Dan sekarat karena itu.
Dai memejamkan mata. Membayangkan betapa kerasnya Shinji menahan perasaannya untuk Lea maupun Neela. Mencoba merasakan kegetirannya sewaktu mengetahui semua ingatannya akan hilang, dan tubuhnya tak akan bisa merasakan apa pun lagi.
Bagaimana bisa dia menerima semua kegundahan itu, tanpa seorang pun di sisinya untuk berbagi? Pikir Dai. Tak ada seorang pun bersamanya. Kecuali Eiji tentu.
Mata Dai kembali membuka, bertemu wajah Shinji yang terpampang di monitor laptopnya. Wajah tampan yang angkuh, dengan senyumnya yang sinis.
“Bagaimana kalau gadis itu tahu siapa kau sebenarnya?” Pertanyaan itu terlontar dari mulut ayahnya yang berang ketika dia memutuskan untuk keluar dari O ushi. “Bagaimana kalau dia sampai tahu, kalau kau adalah kakak dari orang yang membuat Shinji Tsubaki sekarat dan meninggal? Sudahkah kau pikirkan itu, Dai? Dia akan sangat membencimu. Dan kau... tak akan dapat apa pun dari apa yang kau sebut ‘perbuatan baik’ itu.”
Dai mengempaskan napas. Berupaya menghilangkan suara ayahnya yang berteriak ke telinganya. Dia tak ingin memikirkan kata-kata itu, yang entah kenapa selalu membuatnya mendadak diliputi rasa cemas. Dia juga tak ingin membayangkan apa yang akan terjadi kalau Neela tahu kebenarannya; siapa dirinya sebenarnya, dan hubungannya dengan orang yang membuat Shinji Tsubaki tergeletak sebelum ajal seharusnya menjemputnya.
Suara derit keras menyentak pikiran Dai yang menerawang. Semua gambaran samar yang barusan bercengkerama di benaknya, buyar dalam sedetik. Dia bangkit, turun dari kursi bar di depan meja dapur. Menyeret kaki ke arah pintu beranda belakang. Menyibak tirai, menggeser pintu membuka, dan menemukan Neela berdiri di depan pintu, tersenyum suram kepadanya. Tangannya mendekap erat kain rajut berjumbai yang membalut tubuhnya, rambutnya digelung asal di belakang kepalanya. Wajahnya pucat. Dia kelihatan kacau sekali.
“Kenapa kemari?” Dai bertanya cemas. Menjulurkan kepalanya, mencari-cari seseorang yang tak ada. Melihat menembus kegelapan yang telah tinggi. “Sama siapa?”
“Sendiri.” Neela menunduk, mengembuskan napas tajam. “Aku... ingin melihatmu.” Dia memandang Dai lagi. “Minta maaf.”
“Arata... di mana?” Dai tak menghiraukan kata-kata Neela.
Neela menggeleng lemah. “Saat aku bangun, dia tak ada. Kenneth..., tidur di sofa. Aku tak mau membangunkannya, dia tampak lelah.”
Dai tercenung. Bagaimana bisa kedua laki-laki itu melonggarkan pengawasannya pada Neela; pada dirinya khususnya.Setelah sebelumnya Eiji mengatakan tidak akan melonggarkan pengawasan sedikit pun. Dan sekarang? Dia ingin sekali meneriaki Kenneth atau Arata karena itu.
“Aku antar kau pulang,” kata Dai, melangkahkan kakinya keluar. “Kenneth pasti cemas.”
“Kenapa kau tinggal di sini, sementara kau punya rumah di sebelah?” Neela melangkahkan kakinya ke dalam, tidak menggubris perkataan Dai barusan.
Dai membeku di tempat. Bertolak pinggang, bingung akan tingkah Neela, dan juga bingung untuk menjawab pertanyaan tak terduga darinya. Kakinya berputar perlahan, melangkah pelan di belakang Neela  yang menyusuri ruang tengah seraya memandang sekeliling.
“Aku hanya… ingin membuatmu dan yang lain merasa nyaman.” Hanya kalimat tersebut yang bisa ia lontarkan.
“Maksudmu?” Neela kembali menghadapnya, mengeratkan shawlnya.
Well...” Dai bingung menjawab. Menggaruk  bagian samping kepalanya yang tak gatal. “Kalian tamu, dan... tamu harus dilayani dengan baik...” Dia nyengir kikuk, sambil membodohi diri sendiri karena tak dapat mengucapkan kata-kata yang lebih baik daripada itu.
Bukankah lebih baik kau tinggal bersama kami daripada sendirian di sini?” kata Neela lagi menatap lurus ke arahnya. “Aku jadi merasa… kau tak nyaman dengan kami—”
“Jangan berpikir yang tidak-tidak,” sambar Dai cepat. “Aku senang kalian di sini… senang kau” (Dai menelan ludah, entah kenapa gugup) “ada di sini. Aku tak merasa terganggu… Hanya saja…, aku berpikir kalau kalian akan lebih leluasa kalau aku tidak tinggal di sana.” Dai batuk. Batuk yang kelewat keras demi menutupi rasa groginya. “So…” dia berkata pada Neela lagi, “aku antar kau… pulang?”
“Itu apa?” Neela mendadak berpaling, mendekat ke arah buffet kecil di samping meja kerja.
Dai cepat-cepat menyusul. Panik, mengingat laptopnya masih membuka dan menampilkan halaman email Shinji. Dia menutupnya buru-buru, dan menoleh pada Neela yang ternyata lebih tertarik memandangi figura berbingkai kaca kecil, di mana sehelai daun kering tertempel di dalamnya.
Neela memiringkan kepala, mengangkat pigura tersebut dengan mata membulat, mengamatinya beberapa detik, kemudian bergumam,
“Itu namaku… dan… namamu?” Neela mengangkat wajahnya, menatap Dai.
Senyum Dai membeku, dan dia kemudian membalas dengan suara pelan yang bimbang. “Iya…”
Neela mengedipkan matanya beberapa kali, memandangi daun kering kecoklatan di dalam pigura dengan tampang muram. Dari wajahnya, sepertinya dia sedang mengingat-ingat sesuatu.
“Kau… tidak ingat?” tanya Dai, mengernyitkan dahi.
“Hm… Aku…”  Mata Neela bergerak liar ke kanan dan ke kiri. “Aku sepertinya ingat…, tapi…” Dia mengangkat tangannya, memijat-mijat sudut dahinya. Wajahnya meringis menahan nyeri.
Dai menyambar pigura di tangan Neela, dan meletakkannya kembali di atas buffet. “Jangan dipikirkan,” katanya. Tapi Neela protes, alisnya menukik dan matanya melebar. Dia kembali meraih pigura tadi.
“Ini… bagus,” kata Neela, mengusap-ngusap permukaan kacanya dengan sayang. “Dan… kalau kau tidak keberatan…,” dia menatap Dai lagi, “bisakah kau menceritakan… mengenai daun ini…? Aku... ingin tahu.”
Untuk sesaat Dai hanya bisa membuka mulutnya tanpa bersuara, namun kemudian dia mengembuskan napas, melengkungkan senyum kecil yang lembut, dan berkata, “Oke” yang ringan.
...

Kenneth terjaga dari tidurnya oleh suara yang memanggilnya dan guncangan keras di pundak. Saat matanya tersingkap, wajah Arata yang pertama dilihatnya. Mengernyit cemas, sepertinya saja telah terjadi sesuatu yang menakutkan.
“Ada apa?” tanya Kenneth terduduk di sofa di ruang tengah dalam suara yang grogi. Mengejap-ngejapkan mata untuk memfokuskan penglihatannya.
“Nona Neela,” kata Arata cepat, “dia dimana?”
Kenneth segera loncat dari sofa, berlari ke kamar Neela yang pintunya terbuka. Masuk ke dalam dan menyusur kamar, berharap dapat menemukan Neela; berpikir kalau mungkin saja Neela sedang iseng mempermainkannya dan bersembunyi di salah satu sudut kamar. Namun tetap saja, dia tak ada di mana pun.
Kenneth berlari keluar kamar dengan panik, tergopoh-gopoh ke sana kemari, memasuki ruangan demi ruangan, dan kembali ke ruang tengah dengan napas memburu dan wajah yang pucat.
“Dia tak ada,” katanya pada Arata yang mengerutkan dahi.
“Kalau begitu... mungkin dia di rumah Tuan Dai.”
Tanpa babibu Kenneth melangkah menyeberangi ruang tengah menuju pintu beranda yang terbuka. Tidak berpikir sama sekali kalau dia tak mengenakan alas kaki. Terus berjalan melewati pintu, menyusur lantai kayu, menuruni undakan dan berlari susah payah di permukaan pasir yang beriak. Arata mengikuti di belakangnya.
Sudah malam. Gelap menyelubungi laut di depan yang tak terjangkau oleh cahaya temaram api yang meliuk di atas obor yang tertancap di sepanjang tepian pantai serta lampu-lampu yang berpendar dari rumah-rumah yang menjulang di belakangnya.
Debur ombak menggema, bersatu dengan suara tepukan perkusi yang mengentak dan nyanyian samar nan ceria yang berasal dari sekumpulan orang yang duduk melingkar di sekeliling api unggun kecil yang berada tak jauh dari tempat Kenneth sekarang berada. Buih asap naik ke atas, menembus pekat. Membentuk siluet kabut yang menipis.
Andai saja Kenneth tidak sedang dalam keadaan khawatir tingkat tinggi, pasti akan sangat menyenangkan bergabung bersama orang-orang tersebut, untuk sekadar meringankan pikirannya yang ruwet.
Kenneth sampai di teras bawah rumah pantai yang disewa Dai. Langsung mendaki undakan, dan sampai di puncak beranda atas. Menyeberangi dengan langkah cepat yang memburu, dan segera melewati pintu kaca yang terbuka, tanpa menemukan siapa pun di ruang tengah.
Dia kemudian berteriak memanggil Dai seraya bergegas ke ruang tamu, dan kembali lagi ke ruang tengah dengan wajah bingung. Pergi mengetuk semua pintu kamar, membukanya dan kembali ke ruang tengah lagi dengan perasaan lebih cemas daripada sebelumnya. Arata yang baru sampai, memandangnya. Memberikan tatapan seolah minta konfirmasi, yang segera dibalas Kenneth dengan menggelengkan kepala.
“Dai juga tidak ada,” dia memberitahu. Bertolak pinggang. Di mana dia? Kenneth bertanya-tanya sendiri. Apa mereka berdua bersama?
“Coba saya cari di luar,” ujar Arata. “Siapa tahu mereka jalan-jalan di luar.”
Kenneth bengong, tidak mengiyakan juga tidak melarang. Anggukannya lebih kelihatan seperti anggukan kosong tanpa arti, sementara matanya menatap lantai keramik mengilap di bawah kakinya. Dan sampai akhirnya Arata pergi dia masih bergeming. Dengan pose yang sama di tempat yang sama. Tak bergeser sedikit pun.
Kenapa aku tolol sekali? Dia amat kesal pada dirinya sendiri. Kenapa dia malah tidur, padahal seharusnya dia menjaga Neela. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?
Separo hati Kenneth berharap Neella sedang bersama Dai sekarang, karena dengan begitu Neela akan aman, sedangkan yang separo lagi berharap kalau Neela tidak bersama Dai, khawatir kalau Dai melakukan sesuatu padanya. Tapi mungkinkah Dai bisa menyakiti Neela, setelah kecemasan yang dia tunjukkan pagi tadi? Dia jelas menyayangi Neela, dan rasanya tak mungkin kalau dia tega berbuat buruk padanya. Tapi kalau Dai bersama Neela... Hati Kenneth mendadak serasa diiris-iris. Rasa cemburu menggelegak memenuhi kepalanya.
...

“Kenapa tidak kau ceritakan saja padaku perihal daun itu tanpa harus menyuruhku melakukan hal konyol begini?” kata Neela cemberut, seraya duduk di depan sebuah piano besar di dalam sebuah toko alat musik kemana Dai mengajaknya pergi.
“Mainkan saja piano itu. Semakin banyak kau protes, semakin malas aku cerita,” ancam Dai tanpa memandang Neela. Sibuk mengamati biola di tangannya, yang baru saja dibawakan oleh pramuniaga toko musik tersebut. “Lagipula,” dia menoleh pada Neela sekilas, “di depanmu ada partitur lagu.”
“Tapi... aku tidak bisa.”
“Bagaimana mungkin kau tidak bisa?” Dai berpaling, setelah sebelumnya tersenyum penuh terima kasih pada si pramuniaga. Menenteng biola di tangan kiri dan busur di tangan yang lain.
“Aku lupa ingatan kalau kau lupa, dan membaca partitur musik adalah salah satu hal yang lolos dari memoriku,” desis Neela.
Dai mendengus. “Musik adalah hidupmu, asal kau tahu. Perjalanan hidupmu bagaikan musik yang kau mainkan selama ini—kau malah cengengesan.” Bahu Dai mengempas. Wajahnya tampak putus asa melihat Neela terkekeh mendengar kalimatnya. “Aku serius,” katanya, dengan mata melebar.
“Aku mengerti,” timpal Neela, “tapi... aku benar-benar tidak ingat—”
“Untuk permulaan,” Dai menyela. “tekan tuts piano itu. Dan kita lihat..., apa kau benar-benar lupa dengan permainan pianomu. Kau boleh melupakannya, tapi tidak dengan alam bawah sadarmu.”
Wajah Neela memucat. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat sekilas ke arah orang-orang yang juga sedang berada di dalam toko ini. Yang untungnya tidak memandang ke arahnya dan Dai. “Aku... tidak yakin aku bisa,” dia berkata lagi, mendongak pada Dai. “Dan... kalau sampai orang-orang itu melihatku... dan mengenaliku...”
“Oke.” Dai mengangguk-angguk. “Berarti kau bisa lupakan cerita mengenai daun itu,” katanya dengan tampang menyayangkan, mengangkat biola yang dipegangnya dan menelitinya.
Neela memberengut. Mengembuskan napas tajam, diiringi decak kesal. “Terserahlah,” gerutunya. Menegakkan badannya di kursi dan mengambil napas dalam-dalam. Kedua tangannya dijulurkan ke depan, mengepal beberapa inci di permukaan tuts piano yang berkilap. Dia menggigit bibir bawahnya, menelan ludah beberapa kali, sementara tangannya membuka, dan perlahan turun menyentuh permukaan tuts.
Mata Neela menjelajah kertas musik yang terpampang di depannya. Bertengger di atas permukaan piano dengan disangga akrilik tipis.
Bagaimana membacanya? Neela berpikir keras. Dia benar-benar tidak ingat. Tapi... sepertinya...
Suara denting pelan yang canggung terdengar ketika jari Neela menekan salah satu tuts. Jantungnya berdebar. Rasa tegang melandanya. Tapi, entah kenapa dia juga merasa amat antusias. Gelombang emosi seakan meledak, meluap; mengalir ke seluruh tubuhnya, mendorongnya untuk menekan tuts-tuts piano tersebut. Memainkannya.
Neela mengikuti hasratnya. Membiarkan jemarinya menari dengan lincah tanpa beban di atas balok-balok mungil yang berdenting merdu. Memainkan nada-nada lembut yang menenangkan dengan perlahan namun pasti, dengan mata terpancang ke not-not balok yang sedikit demi sedikit terbaca olehnya. Dai benar, Neela berpikir. Dia tidak sepenuhnya lupa akan musiknya. Dia ingat, walaupun tidak total.
Saat Neela sampai pada bagian refrain, mendadak terdengar suara biola di belakangnya. Bukan satu tapi lebih, mengiringi permainan pianonya dengan amat manis. Neela menoleh ke belakang, tanpa menyadari kalau jari-jemarinya sekarang bergerak sendiri tanpa ia awasi. Terlalu terkesima melihat enam-tujuh orang yang sekarang berjalan mendekat seraya memainkan biola mereka masing-masing.
Kemudian dia memalingkan wajahnya lagi, memandang Dai dengan tatapan seolah menuduh. Tapi Dai hanya mengulum senyum, mengedikkan bahunya seraya mendekap biola yang masih dipegangnya.
Sementara itu orang-orang berkumpul mengelilingi mereka. Berbisik-bisik pada teman sebelahnya sambil menunjuk-nunjuk ke arah Neela dengan antusias. Mereka mengenalinya, dan Neela sepertinya tak menganggap hal itu sesuatu yang memberatkan lagi. Dia tersenyum pada Dai, yang membalasnya dengan senyum simpulnya yang menawan. Diam sejenak, sementara para Violis memainkan busur biolanya di atas senar biolanya masing-masing tanpa suara pianonya.
Suara harpa terdengar, membuat Neela menoleh ke kanan dengan tampang sama tercengang seperti sebelumnya. Memandang kagum seorang gadis cantik bergaun bunga-bunga merah muda, yang berdiri di sebelah Violis paling ujung, yang dengan anggun menjentikkan jemarinya di senar-senar harpa yang bergetar memunculkan nada indah mendayu. Sejak kapan gadis itu berada di sana, Neela sama sekali tak tahu. Yang pasti permainan harpanya bagus sekali, membuat semua orang terpana dan memandang takjub ke arahnya.
Belum hilang rasa terkejut Neela dengan kemunculan pemain harpa tersebut, dia kembali dikejutkan oleh suara biola yang dimainkan solo oleh seseorang persis dari sebelah kirinya. Spontan ia menoleh, dan langsung bengong—lebih menjurus ke syok daripada takjubnya, melihat Dai menggesekkan busur biola ke empat senar biola yang sebelumnya didekapnya dengan cara yang bukan amatir sama sekali. Begitu meyakinkan seakan saja dia adalah pemain biola profesional—atau jangan-jangan dia memang pemain biola profesional, mendengar suara biolanya yang tanpa cela. Caranya memegang biola, sikap tubuhnya dan ekspresi wajahnya benar-benar mencerminkan kalau dia terbiasa dengan benda itu.   
Dengan mata berkaca-kaca karena haru, diiringi oleh Dai dan pemusik lainnya, Neela kembali memainkan piano besar di depannya. Mengantarkan nada-nada penutup dengan lebih percaya diri dan lebih bersemangat daripada sebelumnya.
Tak memedulikan sekelilingnya; tak memedulikan siapa pun, atau apa pun yang terjadi di sekitarnya. Hanya peduli dengan pianonya, musiknya dan dirinya. Seakan semuanya mengabur. Menghitam. Dan di dunia ini hanya ada dia seorang. Berpusar, menyatu dengan suara denting merdu dan pikirannya yang melayang.
Dia menutup mata, dan ingatan itu bermunculan: Dai..., senyum Dai..., tawa Dai..., wajah Dai..., pelukannya..., genggaman hangatnya..., lalu, daun kering itu. “Mereka menuliskan nama mereka dan pasangan masing-masing di sehelai daun..., suara Dai terdengar begitu jelas di benak Neela.  Kalau mereka jodoh, daun itu akan bertahan di pohon tersebut. Kalau tidak, daun itu akan terbawa angin...
Neela membuka mata. Tersentak oleh tepuk tangan riuh orang-orang yang berkerumun di sekelilingnya. Air mata menggenangi matanya, dan perasaannya jauh lebih berat daripada sebelumnya. Tapi kemudian dia melihat Dai. Dai yang turut bertepuk tangan paling keras dan tersenyum paling lebar padanya, membuat kegundahannya menguap, berganti rasa bahagia yang begitu besar.
Neela bangun dari kursi yang didudukinya. Dengan gontai menggerakkan kakinya menghampiri Dai. Kedua tangannya terangkat, terjulur ke depan hendak menggapai. Dai membungkuk, membiarkan Neela melingkarkan kedua tangannya di sekeliling lehernya. Membiarkannya memeluknya, dan menyembunyikan sebagian wajahnya di antara leher dan bahunya, balas memeluknya.
“Aku ingat, Dai...” gumam Neela sejenak kemudian. “Aku ingat... Tak perlu cerita lagi. Aku mengingatnya.”
Setelah itu dia mengeratkan pelukannya. Membenamkan wajahnya di dada Dai. Merasakan kecupan hangat di keningnya, menikmati usapan lembut di rambutnya. Merasakan Dai seluruhnya.

(Bersambung)


gambar dari sini

Read more...

A Lot Like Love (27)

>> Sunday, June 10, 2012

A Lot Like Love (26)

Memories


MENDUNG sisa malam masih menggantung di langit pagi. Angin basah bercampur pasir bertiup ke pesisir. Buih ombak bergulung, berenang ke tepian. Membasahi pasir, mendorong dan menyeret benda-benda yang ada di jalannya. Pantai masih sepi. Orang-orang sepertinya masih meringkuk nyaman di kasur hangat masing-masing. Semua orang kecuali tiga orang: Dai, Neela dan Arata, yang sekarang berjalan santai menyusuri pantai. Terpisah tak seberapa jauh satu dengan yang lain.
“Ayo, Neela,” Dai menyemangati, berpaling sejenak ke belakang untuk melihat Neela yang tertatih di belakangnya. “Jalan pagi... baik untuk kesehatan.” Dia melanjutkan berjalan dengan langkah ringan. Kedua tangannya di saku jumpernya.
Neela mengembuskan napas perlahan, menaikkan tudung jaketnya untuk menghalau dingin. Untuk pertama kalinya, sejak dia siuman dari komanya, dia merasa amat jengkel pada seseorang; pada Dai. Kesal, karena Dai memaksanya berjalan begitu jauh dengan mata mengantuk dan kaki yang serasa tertusuk kapan pun dicoba untuk digerakkan. Berulang kali dia mencoba menyenangkan hatinya dengan membayangkan kasur empuk di kamarnya, namun gambaran itu malah membuatnya bertambah dongkol pada Dai.
“Kita sebenarnya mau kemana?” tanya Neela, terpincang-pincang mendekati Dai yang melambatkan langkah. “Kakiku sudah pegal.”
“Jalan-jalan sekitar sini saja,” sahut Dai, menolehkan kepala. “Setelah itu kembali lagi ke rumah.”
Neela memberengut.
“Ayolah...” Dai mendengus. Menghentikan langkah sejenak, menunggu Neela merendenginya, “hitung-hitung, terapi untuk kakimu. Semakin banyak kau latihan berjalan, semakin cepat kakimu sembuh.”
“Aku sedang tidak niat,” sungut Neela.
“Lari pagi, jalan pagi..., olah raga paling murah,” kekeh Dai. “Kau hanya perlu kakimu, dan menurutku itu baik untuk—”
“Ya... ya,” Neela memotong. “Terus jalan kalau begitu.”
Dai menyeringai penuh kemenangan. Berjalan pelan di sebelah Neela, sambil menghadapkan wajahnya ke ujung horison yang mulai menguning.
“Oh.” Dai mendadak berhenti, memutar badannya ke arah pantai. “Matahari akan segera terbit.” Dia tersenyum. Tampak riang.
Neela menatapnya, mengernyit. “Kau kelihatan seperti orang yang baru pertama kali melihat matahari terbit,” ujarnya. “Dulu... kau sering melihatnya sambil berenang pagi hari.”
Dai menengok. Mengernyit heran.
“Aku... tanpa sepengetahuanmu,” Neela melanjutkan, mengeratkan jaketnya untuk melindungi badannya dari serangan dingin, “bangun setiap pagi, hanya untuk melihatmu berselancar atau berenang.” Dia menundukkan wajahnya yang menghangat. “Sosokmu mengesankan saat kau memandang matahari terbit. Berdiri dengan setengah badan berada di dalam air. Persis seperti lukisan.”
Neela kembali menatap Dai, dan menemukan gurat bimbang yang kentara di wajahnya. “Ada apa?” tanyanya.
“Tidak.” Dai menggeleng pelan. Tersenyum. Dia menarik napas panjang, menghadapkan wajahnya lagi ke depan. “Aku mau melihatnya,” angguknya ke ujung laut, duduk di atas pasir dengan kedua lutut ditekuk. “Duduklah,” katanya pada Neela. “Temani aku.”
Neela tersenyum manis. Merendahkan badannya perlahan, menekuk kakinya dengan wajah meringis menahan nyeri. Dai membantu, memegangi tangannya, melingkarkan tangannya di sekeliling pinggang Neela setelah dia sepenuhnya duduk. Warna merah membayangi wajah Neela, saat bahunya dan bahu Dai bersentuhan. Pikirannya kosong selama sejenak, sampai sebuah suara berkeresak terdengar di belakang mereka. Neela menolehkan kepalanya spontan.
“Apa menurutmu... Arata aneh?” bisik Neela di telinga Dai.
Dai mengernyit, tampak bingung. Dia mengerling sekilas ke belakang, melihat Arata yang berdiri tegak di belakang dengan tangan bersedekap. “Aneh bagaimana?” tanyanya geli.
 “Dia jarang bicara. Dan... selalu mengikutiku dan Kenneth kemana pun, seakan saja dia itu semacam... pengawal—body guard. Cocok sih..., tapi... dia itu supir. Supir yang... terlalu tampan menurutku.”
Dai tergelak. Kembali menunjukkan dua bolongan kecil yang menggemaskan di masing-masing pipinya. Lesung pipi, yang membuat Neela tak bisa menggerakkan matanya ke arah lain selain dirinya; seperti terhipnotis.
Klise memang, terpukau oleh wajah tampan seorang laki-laki, namun Dai bukan hanya seorang laki-laki. Dia laki-laki yang Neela cintai, dan juga balas mencintainya. Setiap tatapan Dai, senyum, tawa,  ekspresi dan sikap tubuhnya seolah memberitahu Neela, betapa dia menyayanginya dengan tulus. Itu membuatnya semakin menawan di mata Neela.
Tanpa sadar Neela mengangkat tangan; menyentuh salah satu pipi Dai, membuat tawanya berhenti. Mata hitamnya berkilat balas menatap mata Neela yang mengejap. Tatapannya amat lembut; penuh arti, diiringi lengkungan manis perlahan di bibirnya.
Sadar kalau dia telah melakukan sesuatu yang aneh, Neela menarik tangannya buru-buru. Tersenyum kikuk.
“Sori,” ucapnya malu. Menunduk ke kakinya yang disilangkan. “Aku hanya...” (dia kesulitan menemukan kata) “hanya...”
“Matahari akan terbit.” Dai bicara cepat-cepat, menyelamatkan Neela dari tanggung jawab melanjutkan kalimatnya yang kacau. Dia memandang jauh ke arah awan yang menguning di ufuk timur, mengantar bulatan besar raksasa naik ke permukaan. “Wow.” Dai tampak takjub. “Indah sekali.”
Neela tersenyum. Perlahan menoleh memandang Dai. Melihatnya memejamkan mata, mengembuskan napasnya perlahan. Menikmati kehangatan lembut yang dipancarkan oleh sang Surya. Dua-duanya indah menurut Neela; matahari terbit dan wajah Dai. Dua-duanya membuatnya menahan napas saat melihat. Oh, God.
“Aku tidak pernah melihat matahari terbit seindah ini sebelumnya,” kata Dai, setelah lewat beberapa waktu. Dia telah membuka matanya. Duduk sambil memeluk lutut. “Menyenangkan.”
Neela tak bersuara. Cuma tersenyum kecil; turut menatap ke depan, ke arah matahari yang bersinar jingga, membuat semua di sekitarnya menjadi keemasan..., jingga, menyilaukan dan berkilatan.
 Lalu, tiba-tiba saja, hal itu terjadi; kilasan ingatan berkelebatan di matanya. Seorang laki-laki..., berdiri membelakangi menghadap matahari…, tato besar memenuhi punggungnya yang telanjang..., setengah badannya berada di dalam air yang beriak tenang..., rambutnya kecoklatan tertimpa sinar redup matahari..., dia menoleh..., tersenyum..., matanya yang coklat menyorot ramah...
“Neela? Neela!
Neela tersentak. Suara Dai mengembalikannya ke alam sadar. Memecah serpihan ingatan yang sekejap tadi menutup pandangannya dan membuatnya lupa akan dunia di hadapannya.
“Kau kenapa?” Dai bertanya panik, meremas bahu Neela erat, sementara dia tersengal dan menatap liar ke segala arah. “Neela.”
Mata Neela membuka menutup beberapa kali dengan panik. Bibirnya dikatupkan dan digigitnya keras-keras. Suaranya tertelan di tenggorokan, tak mau keluar. Siapa dia? Neela bertanya-tanya cemas. Laki-laki itu..., yang selalu ada di mimpinya selama ini. Dia bukan Dai. Tapi dia mengenalnya. Sangat mengenalnya. Dia yakin sekali.
“Neela, please...” Dai mengusap keringat di kening Neela, menyapu helai rambut yang menempel di wajahnya lembut. “jawab aku.”
“Aku... mau pulang.”
“Apa?”
Neela enggan mengulang kata-katanya lagi. Dia juga kebingungan menjelaskan apa pun pada Dai. Berdiri susah payah, dan tanpa pamit lebih dulu, pergi begitu saja meninggalkan Dai.
“Neela!” Dai memanggil keras, seraya bangkit dari duduknya. Tapi Neela tidak menghiraukan, terus melangkah terpincang-pincang menjauh. Arata mengikuti di belakangnya.
...

“Ada apa?” Kenneth bertanya cemas pada Arata. Menghampirinya tergesa begitu dia muncul di puncak undakan beranda. “Kenapa Neela?”
 Arata menggeleng. “Saya tidak tahu,” jawabnya tenang. “Tiba-tiba saja Nona Neela pergi begitu saja meninggalkan Tuan Dai.”
“Mereka bertengkar?”
Arata memasukkan satu tangannya ke kantong celana pendeknya. “Setahu saya tidak,” gelengnya. “Mereka... baik-baik saja.”
Kenneth berbalik. Berjalan cepat ke arah pintu beranda, menyeberangi ruang tengah menuju pintu kamar Neela yang tertutup. Dia mengetuk beberapa kali, memanggil Neela dalam suara pelan yang tegas. Dan ketika tak terdengar jawaban, dia meraih gagang pintu, memutarnya dan mendorongnya membuka. Suara air terdengar bergemerecik dari dalam.
Kenneth masuk, menggerakkan kakinya pelan di permukaan lantai yang dingin. Pintu kamar mandi terbuka lebar, menampakan seluruh isinya. Setengah berlari Kenneth menyusur kamar menuju kamar mandi. Panik, saat menemukan Neela duduk di dalam bath tub. Bersandar di ujungnya, diguyur air dari shower di atas.
“Kau sedang apa?” Kenneth buru-buru mendekat. Tangannya terangkat hendak menggapai keran shower yang tersembunyi di belakang punggung Neela. Tapi Neela mencegah; menggeser badannya sambil menengadahkan wajah pada Kenneth. Memberikannya tatapan yang sepertinya berarti ‘jangan’.
“Kau bisa sakit.”
Neela menggeleng. “Aku merasa lebih baik,” balasnya dalam suara bergetar.
Kenneth berjongkok di sebelah bath tub. Memiringkan kepalanya memandang Neela yang gemetaran dari kepala sampai kaki. “Kau kedinginan. Kau pasti sakit.”
Neela kembali mengibaskan kepalanya. “T-tidak,” gagapnya.Please…
Kenneth menunduk, mengempaskan napas tajam, kemudian mengangkat wajahnya lagi. “Kalau begitu—dengarkan aku dulu,” katanya buru-buru saat mata Neela membeliak protes melihat tangannya menggapai ke arah keran, “Nyalakan air panasnya... agar kau tidak kedinginan.”
Mata Neela mengejap. Dia menggeser badannya sedikit ke samping, agar Kenneth bisa menjangkau keran air tanpa hambatan. Kenneth memutar keran dengan titik merah di atas kenopnya. Membiarkan air panas mengalir bersamaan dengan air dingin, mengantarkan embusan hangat menenangkan ke sekeliling ruangan.
Thanks,” senyum Neela penuh terima kasih. Air matanya jatuh dari sebelah matanya yang merah, dan segera berbaur dengan air kucuran shower.
“Ada apa?” tanya Kenneth, menatap Neela lekat-lekat. “Kau dan Dai... bertengkar?”
“Tidak.” Neela menarik napas panjang, dan mengembuskannya perlahan.
“Lalu—”
“Aku melihat seorang laki-laki...” kata Neela cepat, sebelum Kenneth melanjutkan sisa kalimatnya. “Laki-laki dalam mimpiku...”
Shinji? Kenneth mengernyit. “Kau melihatnya...? Bagaimana? Di mana?”
Neela membenamkan wajahnya ke tangannya. “Aku… aku juga bingung.” Dia gemetaran, menyapu rambutnya ke belakang, dan mendekap tubuhnya. “Muncul begitu saja… seolah nyata. Aku... seperti sedang bermimpi... tapi... tidak.” Dia terisak. “Melihatnya entah kenapa membuatku sedih. Aku... merasa luar biasa rindu.”
Kenneth bimbang. Dia hanya bisa memandangi Neela dengan iba, tanpa tahu apa yang harus dia lakukan untuk menghiburnya. Kata-kata apa yang harus ia ucapkan untuk meringankan hatinya.
Wajahnya… Aku lihat wajahnya. Tersenyum. Dia... begitu kukenal,” Neela bicara lagi, mengusap air yang menghalangi pandangannya. “Tapi... aku tak tahu... siapa. Aku...” Dia mendengus-dengus, tak melanjutkan bicara.
“Hei...” panggil Kenneth, tersenyum menenangkan. “Jangan dipaksakan... Tenanglah...”
“Aku tidak bisa...” sahut Neela sedih. “Itu menyakitiku... tidak mengetahui siapa laki-laki itu.”
“Itu Dai... Kau tahu.”
Neela menggeleng. “Tidak. Itu bukan Dai.”
Jantung Kenneth entah kenapa tiba-tiba berdegup lebih cepat dari sebelumnya. “Itu Dai.” Dia memaksakan mulutnya bicara, kendati sebenarnya dia ingin sekali mengatakan yang sebenarnya; kalau laki-laki itu bukan Dai, melainkan orang yang sudah mati. Hanya tinggal kenangan yang tak semestinya membebaninya.
“Bukan,” tegas Neela. “Itu... bukan Dai.”
Kenneth bungkam, tak lagi membalas. Dia memperlambat napasnya, dan memejamkan mata sejenak. “Kau sedang terguncang... Lebih baik tidak berdebat.”
Setelah itu dia bangkit. Mengangkat kakinya, dan masuk ke dalam bath tub. Neela menengadah, tampak heran. Bergeser sedikit, ketika Kenneth duduk di sebelahnya, melingkarkan tangannya ke sekeliling pundaknya, dan menariknya merapat. Butiran air berjatuhan; membasahi rambutnya, mengaliri wajahnya, membasahi kaus dan celananya. Membuatnya kuyup. Sama seperti Neela.
I’ll stay with you,” kata Kenneth. “Menangislah sepuasmu.”
Air mata—benar-benar air mata, menggenangi mata Neela yang sembap. Senyum penuh terima kasih mengembang di bibirnya yang pucat. Dia memiringkan kepala, meletakkannya di bahu Kenneth. Meringkuk pasrah di bawah naungan lengan besarnya yang nyaman. “Terima kasih, Ken,” katanya parau. “Terima kasih.”
Kenneth tersenyum. Menyentuhkan sebelah pipinya ke pucuk kepala Neela. Tak berkata apa-apa lagi. Mengeratkan tangannya di bahu Neela.
...

Neela tidur. Kenneth dengan susah payah telah memaksanya keluar dari bath tub. Membujuknya untuk mengganti pakaiannya yang basah dengan pakaian kering; membawakan handuk dan pakaian ganti, setelah itu, dengan berat hati memaksanya menelan obat tidur demi menenangkan pikiran dan fisiknya. Baru keluar dari kamar setelah memastikan kalau Neela benar-benar terlelap di kasurnya.
Tak ada siapa pun di ruang tengah. Arata entah di mana.
Kenneth berjalan menuju kamarnya. Melepas semua pakaian kuyup yang masih menempel di badan. Melemparnya ke dalam wadah cucian kotor di sudut, seraya berjalan menghampiri tas besar berisi pakaian yang belum sempat ia keluarkan untuk dipindahkan ke dalam lemari. Membungkuk, menarik sehelai kaus dan celana dari dalamnya, kemudian mengenakannya secepat kilat. Disambarnya handuk kecil yang menggantung di sandaran kursi di depan meja kerja di sebelah lemari, dan mengusapkannya ke rambutnya yang basah. Sambil mengeringkan kepalanya, dia berjalan keluar kamar, kembali berada di ruang tengah, dimana Dai sedang berdiri menatapnya.
“Dai?”
“Bagaimana Neela?” Dia segera bertanya. Suaranya begitu dalam dan diliputi kecemasan.
“Dia… tidur,” jawab Kenneth. Handuk di kepalanya merosot ke leher. “Dia sudah… lebih tenang.”
Dai mengembuskan napas. Wajah muramnya seketika lega. “Oke. Dia baik-baik saja kalau begitu,” gumamnya, lebih pada diri sendiri. Bertolak pinggang, menatap liar lantai di bawahnya. “Aku… Aku tak mengerti ada apa dengannya…” Dia kembali menatap Kenneth. “Tiba-tiba saja dia membatu, hilang fokus… lalu… pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun. Aku kira dia sakit. Aku khawatir sekali… sampai aku tak bisa melakukan apa pun selain bengong.”
Dai memejamkan kedua matanya sekilas, bernapas berat, dan menelan ludah beberapa kali, sampai akhirnya memutuskan untuk duduk di sofa panjang. Membenamkan wAjah ke tangannya.
“Dia baik-baik saja. Dia hanya… bingung,” Kenneth memberitahu, berjalan mendekat. “Dia melihat sekilas kenangan.”
“Kenangan? apa?” Dai mengangkat wajah, menatap Kenneth penasaran. Kedua tangannya yang membuka membeku di udara.
“Shinji. Sosok Shinji…”
Dahi Dahi berkerut. Kepalanya miring ke kiri. “Dia ingat… kalau begitu?”
Kenneth duduk di salah satu sofa tunggal. “Dia yakin mengenali wajahnya. Namun… dia tetap tak bisa ingat siapa.  Dan dia sedih karena tak bisa mengingatnya sama sekali. Membuatnya frustasi.”
“Tapi setidaknya… dia ingat sesuatu,” timpal Dai. “Kenangan tentang Shinji… Kenangan Shinji… muncul. Bukankah itu kemajuan?”
 Kenneth tersenyum getir. “Kemajuan memang, karena kali ini sosok itu memperlihatkan wajahnya.”—(Dai memandang Kenneth dengan bingung)—“Sosok Shinji selalu hadir dalam mimpinya semenjak dia siuman dari koma. Mengganggu tidurnya. Membuatnya histeris… Di mimpi itu, kenangan tentang Shinji dan kecelakaan yang menimpa kalian… campur aduk jadi satu. Dan seperti yang kau tahu, membuatnya berpikir…, kalau Shinji adalah dirimu.”
“Tapi… setelah melihat kenangan yang tadi pagi itu… apa dia masih berpikir…, sosok itu adalah aku?” tanya Dai.
Kenneth tak bicara. Memandang Dai dengan tatapan kosong, sementara benaknya sibuk mengorek ingatan beberapa jam lalu, saat dia dan Neela masih berada di dalam kamar mandi. Saat Neela mengatakan kalau sosok yang dia lihat di kilasan memori itu bukan Dai.
“Dia tahu itu bukan kau…” kata Kenneth. “Tapi… aku belum bisa memastikan kalau… dia sudah bisa membedakan antara dirimu dan Shinji.”
“Ya… setidaknya… memori itu muncul,” timpal Dai cepat. “Memori yang berbeda dari sebelumnya. Dan… setidaknya… sekarang dia tahu… kalau sosok itu bukan aku… Tapi Ken…, kenapa kita tidak memberitahunya saja semua kebenarannya,”usul Dai. “Kalau aku ini bukan—”
“Aku tidak mau membuat Neela syok,” potong Kenneth. “Kondisinya belum stabil. Mungkin… kalau nanti dia… lebih kuat secara fisik dan mental. Dokter mengatakan untuk… pelan-pelan saja.”
Dai tersenyum simpul. “Mudah untukmu mengatakan itu…” ujarnya. “Sulit untukku… berpura-pura menjadi orang lain; mendengarnya mengingatkanku mengenai hal-hal yang sama sekali tidak kuketahui… dan tidak pernah kulakukan. Tapi… aku akan mencoba bersabar.”
Itu juga tidak mudah untukku, Kenneth membatin. Melihat Neela bersamamu.
“Aku kembali ke rumah,” Dai berkata. Bangkit berdiri. “Aku akan kembali sore. Thanks.”
Setelah itu dia melangkah pergi. Berjalan dengan menyeret kaki menuju pintu beranda. Meninggalkan Kenneth yang tercenung sendirian, membungkuk di sofa yang didudukinya.
“Aku lebih senang ada di posisimu saat ini, Dai…” gumam Kenneth amat pelan, setelah suara langkah Dai tak lagi terdengar.Setidaknya dia bisa menatapku dengan cara seperti dia menatapmu.”

(Bersambung)

gambar dari sini

Lita's Note:

Oke... oke... Saya tahu... Sudah lama sekali saya gak mosting lanjutannya A Lot Like Love. Saya minta maaaaafffff... Dan sekali lagi, alasannya adalah: stuck ide; karena kerjaan, karena waktu yang gak luang banget untuk ngendon di depan lappy untuk sekadar mengetik barisan kalimat untuk nyambung cerita ini.
For God sake..., saya depresi untuk nulis. Saya kangen Dai, kangen Kenneth dan juga Neela--juga Shinji. Gak pernah kepikiran sama sekali untuk stop. Tapi... apa mau dikata, saya ketiduran setiap berhasil ngetik satu paragraf yang butuh berjam-jam lamanya untuk rampung. What the...
Sekali lagi, maaf teman-teman... Semoga setelah ini saya lebih semangat lagi, dan bisa ngatur waktu untuk nulis, dan semoga... para blogger pals yang suka A Lot Like Love tetep suka dan baca.

So see ya next, and thanks, Guys. Mwah!

Read more...
Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP