A Lot Like Love (25)

>> Sunday, May 13, 2012


A Lot Like Love (24)

And I See You

SEPERTI yang sudah Kenneth duga sebelumnya, Eiji akan muncul sebelum dia berangkat ke Bali bersama Neela. Berdiri di depan pintu rumah sore hari, dengan tampilannya yang biasa: rapi dan elegan—meskipun kali ini dia hanya mengenakan jins biru gelap dan kemeja kotak-kotak merah, bukan setelan jasnya yang biasa—dan menenteng tas karton berwarna shoking pink dengan tulisan berukir di permukaannya.
Tak ada yang berbeda dengan ekspresinya. Biasa saja. Tidak memperlihatkan gurat kesal atau apa pun.
“Neela... di kamar,” Kenneth memberitahu Eiji, setelah dia mempersilakan Eiji masuk ke dalam. “Aku akan—”
“Sebelum kau memanggilnya,” Eiji menyela. Meletakkan tas karton di tangannya di atas meja tamu. “aku ingin bicara padamu.” Dia duduk di sofa tunggal berlengan terdekat, dan memandang sekeliling. Ini kali pertama Eiji menyambangi rumah Kenneth.
Gontai, Kenneth berjalan ke arah sofa tunggal lain di seberang Eiji. Duduk, dengan badan dicondongkan ke depan, berpikir akan hal-hal yang mungkin saja akan dibahas Eiji. Salah satunya kalau Eiji tidak akan mengijinkannya membawa Neela ke Bali menemui Dai.
“Aku tidak akan melarangmu membawa Neela ke Bali, kalau itu yang kau pikirkan sekarang,” kata Eiji tiba-tiba.
Dahi Kenneth berkerut. Heran.
“Karena aku berpikir... kalau mungkin itu salah satu cara untuk membuat Neela dapat mengingat, setidaknya sedikit, apa pun yang semestinya dia ingat,” ujar Eiji. “Walaupun...” dia bernapas lambat, “aku sebenarnya tidak menyetujuinya.”
Sesaat kelihatannya Kenneth akan membalas ucapan Eiji, tapi kemudian dia menunduk, menyatukan bibirnya rapat. Memilih untuk menunggu kata selanjutnya dari Eiji.
“Arata akan ikut bersama kalian.” Eiji mendorong badannya ke belakang. Bersandar di punggung sofa. “Mengijinkan bukan berarti aku tidak waspada dengan ancaman.”
“Tapi..., Lea mengatakan kalau Dai bukan Yakuza lagi...”
“Aku tahu. Tapi... tidak ada salahnya kita berjaga-jaga kan? Bagaimana pun, Kenneth, Dai pernah menjadi anggota O ushi. Dan O ushi, bukan Yakuza kelas teri di sini. Apalagi dia adalah mantan pimpinannya... aku tidak boleh lengah.”
“Arata... asing untuk Neela. Aku khawatir dia merasa tidak nyaman dengan—”
“Kau bisa memperkenalkan Arata sebagai supir atau apa pun pada Neela,” potong Eiji, seakan saja itu menyelesaikan masalah.
“Dan Dai—”
Eiji menautkan jari-jemarinya. “Aku sudah bicara pada Dai,” dia memberitahu Kenneth dalam suara ringan, “dan dia mengatakan itu bukan masalah untuknya.”
Selama beberapa saat, Kenneth diam. Kehilangan suara. Mengangguk-angguk, kendati dia tak mengerti kenapa dia menganggukkan kepala.
“Mobil telah disiapkan untuk besok pagi,” kata Eiji, yang dibalas Kenneth dengan kerutan di dahi. “Neela tidak boleh naik pesawat dulu untuk sementara waktu kan? Jadi... kalian akan berangkat ke Bali melalui jalur darat.”
“Oh.” Kenneth mendesah. “Ya... Benar.”
“Kau tidak boleh meninggalkan Neela selama kalian berdua ada di Bali.”
“Aku tidak berencana begitu.”
“Bagus,” sahut Eiji cepat. “Dan aku harap kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu mengingat kau adalah manajer dari seorang artis sibuk seperti Marin.”
“Aku sudah menyerahkan Marin pada Malini. Kau tidak perlu khawatir.”
Eiji mendengus tersenyum. Wajahnya yang ramah muncul lagi. “Maaf..., kalau aku bersikap terlalu otoriter atau apa pun menurutmu,” katanya. “Tapi Neela..., adalah amanat Shinji padaku. Aku tidak ingin dia celaka untuk kedua kalinya. Lagipula...” Eiji menunduk sejenak, tersenyum terkulum. “dia sudah seperti adikku sendiri. Sudah sepantasnya aku melindunginya. Memastikan kalau dia aman.”
Kenneth tersenyum simpul. “Aku mengerti. Sangat mengerti. Aku pun akan... berbuat yang sama kalau aku adalah kau.”
Thanks.” Eiji mengempaskan napas perlahan. Wajahnya menyiratkan rasa lega, meskipun hanya sesaat.
Dan kedua pria itu bergeming di sofa yang mereka masing-masing duduki, dalam keheningan sejenak di ruang tamu tersebut. Menunduk, sibuk dengan pikiran masing-masing, sampai akhirnya terdengar suara Neela yang memanggil Kenneth.
“Aku akan memberitahunya kalau kau di sini,” kata Kenneth pada Eiji, setelah dia bangkit berdiri, dan hendak beranjak ke dalam.
“Oke.” Eiji tersenyum.
“Dia pasti akan senang sekali melihatmu.”
Dan setelah itu Kenneth berpaling. Melangkahkan kakinya meninggalkan ruang tamu.
...

Perjalanan ke Bali ditempuh selama dua hari satu malam, dan terbilang lancar tanpa hambatan—kecuali mabuk lautnya Neela saat menyeberang dari Pelabuhan Ketapang ke Pelabuhan Gilimanuk menggunakan kapal Ferry bisa disebut sebagai hambatan, dan menjelang senja mobil Alphard yang dikemudikan Arata telah memasuki kawasan Canggu, Kuta. Dan ketika akhirnya mobil memasuki pekarangan rumah pantai Shinji, arloji di tangan Kenneth telah menunjukkan pukul setengah enam sore.
“Kita sudah sampai,” Kenneth memberitahu Neela yang mengejap-ngejapkan mata di kursi sebelahnya. Dia tertidur sejak meninggalkan Gilimanuk, dan baru membuka mata saat Kenneth membangunkannya.
Neela mendorong punggungnya naik. Duduk tegak di kursinya dengan kedua tangan bertopang di tepian jok. Memandang keluar jendela mobil, ke arah sebuah rumah bercat putih yang sepertinya dikenalinya. Amat... dikenalinya.
Dibantu Kenneth, dia menjejakkan kaki di atas rumput, menerima tongkat bantu jalannya dari Arata yang sebelumnya telah mengambilkannya dari bagasi belakang, dan perlahan menggerakkan kaki ke arah teras rumah yang telah menunggu.
Jantungnya berdebar, begitu kakinya menapak lantai teras rumah pantai tersebut. Perasaannya tak keruan. Rumah ini... Ada sesuatu di rumah ini yang membangkitkan perasaan rindu yang luar biasa di dirinya. Rindu pada sesuatu. Seseorang... Dai. Dai di sini sekarang. Di dalam rumah itu. Ya kan?
Pintu didorong membuka oleh Kenneth, memperlihatkan ruang tamu rumah yang mungil, berisikan jajaran sofa, meja dan perabot lain yang masih diselimuti kain linen putih untuk melindunginya dari debu.
Neela melangkah ke dalam, dan merasakan embusan angin yang datang dari depan. Mendengar suara ombak yang bergemuruh, dan suara burung laut yang mengikik.
Kau pernah di sini. Suara di kepalanya berkata. Tempat ini berarti untukmu.
Tanpa berpikir, tanpa memedulikan Kenneth atau Arata di belakangnya, Neela menggerakkan kakinya pelan, menyusuri lantai rumah. Masuk semakin ke dalam. Menoleh ke kanan dan ke kiri, menjelajahi tiap benda, tiap dinding, tiap ruang, tiap sudut rumah, yang entah kenapa memunculkan sensasi aneh di dirinya. Menimbulkan kilatan-kilatan mirip blitz kamera seiring cuplikan-cuplikan adegan berkelebat seiring kejapan matanya. Adegan-adegan yang memang pernah terjadi, pernah dialaminya, namun begitu kabur; hampir hilang.
Semua kilasan itu membuat dada Neela sesak; membuat matanya panas dan berair. Dia berjalan semakin jauh, menyeberangi ruang tengah, menghampiri pintu ganda kaca yang tertutup tirai putih yang mengembung dan mengempis oleh angin yang meniup melalui celah pintu. Neela menyibak tirai, dan menggeser selot yang menguncinya. Menarik pintu membuka.
Indah. Itu kata pertama yang mampir di benaknya, sama dengan kali pertama dia menapakkan kakinya ke beranda di hadapannya beberapa tahun lalu, yang sepertinya sudah lama sekali. Ombak bergulung ke pesisir mengejar burung-burung yang terbang cepat di atasnya. Dan sama seperti waktu itu, ratusan layang-layang berekor mengangkasa di langit merah, seolah menyambut kehadirannya. Angin hangat bercampur pasir menerpa—sama seperti waktu itu.
Laki-laki itu seharusnya duduk di sana. Neela memandang bangku kayu beranda yang berkumpul mengitari meja di tengahnya. Di salah satu bangku itu. Dai... seharusnya duduk di sana. Dan akan menoleh saat melihatnya datang. Namun sekarang dia tak ada. Beranda itu sunyi. Hanya ditemani desahan angin pantai dan daun-daun kering yang beterbangan beberapa inci dari lantai kayu di bawahnya.
Merana. Itu yang Neela sekarang rasakan, mengetahui orang yang diinginkannya tak ada. Dia seharusnya ada di sini, pikirnya sedih. Kenapa dia tak ada? Dia pasti sudah—
Suara tawa anak-anak terdengar dari depan, bercampur suara tawa laki-laki dewasa yang sepertinya pernah didengarnya. Neela mengernyit, tertatih berjalan menyeberangi beranda, dan hinggap di belakang pagar pembatas.
Lima-enam bocah laki-laki berlarian di tepi pantai, mengejar seorang laki-laki jangkung yang menarik layang-layang berekor yang mengambang jauh di udara. Mereka tampak riang; bocah-bocah itu tertawa lepas dan berteriak-teriak girang menyemangati si laki-laki yang berusaha menerbangkan layang-layang kuning-hitam besar itu lebih tinggi.
Tak sadar air mata Neela menetes ke pipi.
Dai. Dia memanggil nama laki-laki itu dalam hati. “Dai...” gumamnya pelan, sehingga cuma dia yang mendengar suara paraunya. Butiran-butiran bening semakin banyak berjatuhan ke pipinya, membuat matanya panas, membuat pipinya sembap.
Tanpa disuruh kaki Neela bergerak ke arah undakan. Menuruninya pelan, dibantu tongkatnya yang terasa semakin berat di tangannya, dan menapak di permukaan pasir yang tebal. Perlahan, berjalan menuruni bukit pasir menuju pesisir pantai.
Salah satu bocah yang sempat menoleh ke belakang melihat Neela mendekat. Dia buru-buru menarik ujung kemeja putih laki-laki di sebelahnya, yang segera menunduk memandangnya. Memutar kepalanya ke belakang, saat si bocah menunjuk ke arah Neela yang masih berjalan ke arah mereka dalam diam dengan ekspresi kosong seperti menerawang.
Laki-laki itu membeku seketika. Gulungan benang di tangannya terlepas. Jatuh di atas pasir, dan segera direbuti oleh bocah-bocah di sekelilingnya, yang sepertinya tak menyadari pentingnya momen tersebut bagi dua orang dewasa di dekat mereka. Tertawa dan memekik-mekik tanpa beban, sementara Dai maupun Neela dengan susah payah menahan emosi masing-masing yang telah memuncak di ubun-ubun dan siap meledakkannya dalam hitungan detik.
Keduanya berhadapan. Keduanya bertatapan. Keduanya diam tanpa suara. Tak ada kata yang tepat yang bisa mereka lontarkan pada satu sama lain.
“Hei.” Kata itu mengawali semuanya. Dai menyunggingkan senyum yang diingat jelas oleh Neela. Yang meyakinkannya kalau memang dia—Dai, laki-laki yang berdiri di depannya.
“Hei,” balas Neela lirih, memiringkan kepalanya menatap Dai. Bibirnya bergetar, dan air mata tak henti-hentinya mengalir ke pipinya yang kuyup. “Dai...”
Genangan air di mata Dai menandakan kalau dia pun menganggap pertemuan mereka saat ini begitu berarti. Dan saat dia menyentuhkan tangannya ke pipi Neela, mengusap air matanya, menyusuri lehernya dan menariknya ke pelukan, Neela dapat merasakan kalau Dai pun merasakan hal yang sama dengan dirinya; rindu. Kedua tangannya mendekap Neela erat; sangat erat, seolah saja dia tak akan melepaskannya sama sekali.
Neela tak mampu lagi menyembunyikan perasaannya. Dia terisak di pelukan Dai. Pundaknya berguncang-guncang saking kerasnya dia menangis, membuat Dai semakin mengeratkan pelukannya.
Matahari terbenam di belakang mereka. Warna merahnya menyelimuti langit yang keemasan, ditemani siluet hitam burung-burung yang mengepakkan sayap meninggalkan pantai. It’s a lovely sunset.


Kenneth mengembuskan napas perlahan beberapa kali. Memutar badannya dalam gerakan lambat, kemudian melangkah meninggalkan beranda. Masuk ke dalam rumah. Bertemu dengan Arata yang baru meletakkan travel bag milik Neela di sebelah sofa ruang tengah.
“Aku... keluar dulu.” Kenneth bersuara dengan susah payah. “Jalan-jalan...” Dia memaksakan senyum kecil di bibirnya. “Kalau Neela bertanya..., bilang saja aku... akan segera kembali.”
Arata mengangguk sopan.
“Tolong... jaga Neela,” ujar Kenneth lagi. Melangkah menyeberangi ruang tengah.
“Tuan Kenneth,” panggil Arata ketika Kenneth berada beberapa langkah di belakangnya. Kenneth berhenti, berbalik memandang Arata dengan tatapan penuh tanya. “Saya... selalu bersama Nona Neela selama di Jepang,” katanya.
Kenneth mengerutkan dahi. Tak paham maksud perkataannya.
She loves you.”
Mata Kenneth membeliak. “Apa?”
“Tak ada seharipun dia tak memikirkan Anda,” jelas Arata, tersenyum menenangkan. “Cuma Anda yang dia pikirkan selama di Jepang. Jadi... mohon jangan cemas.”
Kenneth menatap bengong Arata beberapa saat. Bingung atas pemberitahuannya yang tiba-tiba, namun juga merasa amat berterima kasih padanya.
“Terima kasih..., Arata,” ucap Kenneth canggung, namun tulus.
Arata membalas dengan anggukan sopan, lalu berbalik, dan berjalan menuju beranda luar, meninggalkan Kenneth sendirian di ruang tengah.

(Bersambung)
...

"Love is a fire. But whether it is going to warm your heart or burn down your house, you can never tell."--Joan Crawford

5 comments:

ann May 14, 2012 at 9:29 AM  

so sad, but also so sweet..



terharu.. huwaaaaaa..
backsoundnya pas bgt!

Nonanovnov May 14, 2012 at 8:07 PM  

makin seruuuu..
suka banget deskripsi pertemuan neela sama dai, astaga kok kebayang jelas, mbakkk...
suka..suka..suka..! =)

-silpe- May 15, 2012 at 3:48 PM  

waaahhh...sweet sekali cara ketemuan mereka :)
gegara di sini ada Bali, jadi inget inget pingin Bali dan pingin ke sana lagi :P

Gloria Putri May 16, 2012 at 9:59 PM  

arataaaaa.....kkaaammmuuuu unyuuuu bgt....hohoho......
sneng aq sama arata yg "membesarkan hati" knneth stelah liat adegan peetemuan dai dan neela.....huhuhuhuhuuuu....

Lita May 17, 2012 at 8:07 PM  

@Ann: Iya... Backsoundnya itu favoritku. OST-nya IRIS. Ayo nonton Ann #promosi

@Novi: Makacih yahhhh (^^). Gara2 soundtracknya di IRIS nih... Wkwkwkwk

@Silpe: Emang sweet... tapi, abis itu, penulisnya bingung lanjutannya. Wkwkwkwk.. Semangattt!!! Makasih ya...

@Glo: Waduh. Glo pindah ke lain hati nih? Jadi ke Arata. Oh God... (^_^)

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP