A Lot Like Love (24)

>> Monday, May 7, 2012




Courage


KENNETH tergesa menuju ruang tengah, menghampiri ponselnya yang tertinggal di atas meja kecil di sudut yang sekarang menjerit-jerit. Dia menyambarnya, mengamati layarnya, tercenung sebentar sepertinya ragu menjawab, baru kemudian menekan satu tombol, dan menempelkannya di telinga. “Lea?” sapanya.
Hei, Ken.” Suara Lea terdengar dari ujung telpon. “Maaf, aku menelpon malam-malam,” katanya cepat-cepat. “Aku berpikir sebaiknya aku segera memberitahukannya padamu.”
Kenneth mengembuskan napas, entah kenapa berusaha menenangkan diri. Berpikir kalau Lea akan menyampaikan sesuatu yang tak enak didengar. “Ada apa?” tanyanya datar.
Bawa Neela segera ke Bali.”
Mendadak Kenneth merasa kesepian. Sunyi senyap seketika, seolah hanya dia seorang yang ada di dunia; bersama ponsel dan meja kecil di depannya. Jantungnya berdegup luar biasa kencang. “Ke-kenapa?” dia terbata.
Dai menelpon.”
Kenneth menghirup banyak-banyak oksigen untuk paru-parunya yang seakan menciut, membuatnya mendadak sulit sekali bernapas. Dia berusaha keras mengendalikan dirinya; mengendalikan pikirannya. Berkata, “Kau laki-laki, tidak boleh terpuruk hanya karena cemburu. Cinta bukan hal yang seharusnya memberatkanmu. Tidak boleh lemah. Jangan cengeng. BE STRONG!” pada diri sendiri.
Dia akan ke Bali lusa. Dia akan menunggu di rumah pantai Shinji di Canggu,” lanjut Lea. “Aku sudah beritahu Eiji dan…” Lea menghentikan kalimatnya. Berdecak kecil dan menggumam tak jelas.
“Dan apa?” tanya Kenneth ingin tahu. “Apa kata Eiji?”
Yah…” Lea mendesah, “dia tak setuju. Tapi… aku katakan padanya ini semua untuk kebaikan Neela, apalagi Dai telah berjanji dan—”
“Berjanji apa?” potong Kenneth.
Berjanji kalau dia tidak akan melakukan perbuatan yang mengancam keselamatan Neela,” jelas Lea. “Dia benar-benar ingin membantu. Dia juga—oh, aku tak tahu apa aku perlu mengatakan ini?” Lea kumur-kumur tak jelas lagi. Kedengaran bingung.
“Mengatakan apa?” Kenneth memancing.
WellSebenarnya…, Dai sudah keluar dari O ushi,” beritahu Lea. “Dia keluar dari organisasinya. Dia bukan…” Lea diam sejenak, “bukan Yakuza lagi.”
“Dia tidak perlu begitu… kan?” Kenneth berkata ragu. Bertanya-tanya, kenapa Dai sampai melakukan hal tersebut. Hanya untuk Neela; karena ingin membantunya. Apakah Dai…?
Dia merasa itu perlu,” sambung Lea. “Dia ingin sepenuhnya bersama Neela. Tidak ingin diganggu atau dicampuri lagi oleh… ‘mereka’.”
Kenneth mendengus; sinis. Tapi Lea tentu saja tak menyadarinya, dan malah bertanya lagi, “Jadi bagaimana?” pada Kenneth.
“Oke.” Itu saja jawaban Kenneth. Enggan bicara.
Oke… bagaimana?
“Aku akan menelponmu untuk… memberitahumu,” ujar Kenneth. “You know…, kami baru saja sampai dan Neela…, dia amat tidak nyaman berada di pesawat karena kepalanya terus-terusan pusing. Jadi…, sebaiknya kalau… dia menghindari untuk naik pesawat sampai kondisinya pulih sepenuhnya.”
Lebih cepat, lebih baik.” Lea mengempaskan napas tajam. “Agar kita bisa mengetahui bagaimana reaksi Neela—ingatannya, saat melihat Dai,” katanya cepat. “Kalau dia bisa sembuh—
“Aku mengerti…” tukas Kenneth, meregangkan otot-otot lehernya ke arah samping seraya mengembuskan napas panjang.
Oke. Istirahatlah kalau begitu. Kau sepertinya lelah,” ujar Lea penuh perhatian. “Just call me… okay? Kenneth?”
Sekali lagi, Kenneth menghela napas dan mengembuskannya perlahan, baru setelah itu berkata, “Oke,” tanpa semangat. “See you tomorrow, then,” ucapnya, yang kemudian dibalas Lea dengan mengatakan “Selamat malam,” dan menutup telponnya.
Kenneth merosot. Berjongkok dengan satu tangan masih mencengkeram ponsel dan meremas rambutnya yang sudah awut-awutan. Bertahan dalam posisi tersebut, sampai beberapa menit kemudian, ketika suara jeritan terdengar dari kamar di seberangnya. Kamar Neela. Panik dan cemas, Kenneth merangkak; tergesa berdiri dan berlari menuju pintu dan mendorongnya membuka.
Neela duduk di atas kasur dengan napas memburu. Tampangnya syok. Keringat membanjiri tubuhnya yang terbalut kaus longgar pinknya. Saat melihat Kenneth, mulutnya bergerak-gerak hendak bicara, namun sepertinya dia terlalu terguncang untuk mengawali sebuah kata.
“Kau tidak apa-apa?” Kenneth duduk di tepi tempat tidur. Tangannya yang sebelumnya hendak menggapai ke depan ditariknya buru-buru. Tak mau Neela salah paham.
“Mimpi itu…” Neela menggumam. Mati-matian menelan ludah. “Mimpi itu… datang lagi.”
Kenneth mengangguk paham. Tahu, mimpi apa yang dimaksud oleh Neela. Mimpi yang selalu datang di setiap lelapnya sejak ia siuman dari koma, mengenai seorang laki-laki yang berdiri di kejauhan. Mimpi tentang pantai, gitar, biola, dan tulisan-tulisan yang tidak dimengerti oleh Neela sama sekali. Lalu kecelakaan. Kecelakaan yang Neela kira telah membuat Dai meninggal, yang membuatnya ingin memastikan kalau Dai masih hidup sampai sekarang. Sehat, dan sama sekali tidak terpengaruh oleh kecelakaan tersebut. Mimpi yang sama yang membuatnya ingin lebih mengingat Dai. Dai, Dai dan… Dai.
“Itu hanya… mimpi buruk,” hibur Kenneth, tersenyum menenangkan. “Tidurlah lagi.”
“Mimpi buruk itu menyiksaku,” kata Neela hampir menangis. “Itu membuatku semakin…, semakin yakin kalau Dai sudah tak ada lagi,”—(Kenneth mendengus putus asa)—“dan… aku merasa bersalah.” Kali ini satu butir air mata menetes dari mata ke pipi Neela. Meluncur turun dengan anggunnya, hingga menyentuh bibirnya.
“Dan setiap mimpi itu datang,” (Neela menyeka air matanya dengan punggung tangannya) “kepalaku terasa nyeri. Berdenyut seolah mau pecah.”
Kenneth bergeming. Tak bicara. Dia bimbang memilih kata untuk menimpali keluhan Neela. Hanya matanya yang menatap penuh prihatin ke arahnya, namun sepertinya tetap tak cukup untuk membuat Neela merasa nyaman. Air mata terus berjatuhan ke pipinya.
“Neela.” Tangan Kenneth perlahan terangkat, menyentuh rambut hitamnya, merengkuh leher belakangnya, dan berkata, “It’s okay,” yang lembut. “Itu hanya mimpi. Kenyataannya tidak begitu kan?”
Seiring dengan air mata yang bercucuran, senyum Neela merekah. Dan tanpa diduga dia menubruk Kenneth. Melingkarkan tangannya di sekeliling leher Kenneth dengan erat. Kenneth balas memeluknya, mengusap lembut rambutnya yang terjurai di punggungnya, seraya membisikkan kata yang menenangkan untuknya.
“Aku kehilangan ingatanku, Kenneth,” kata Neela pelan, masih memeluk Kenneth. “Aku tidak ingat apa pun. Cuma Dai yang kuingat… Dan aku merasa dia tahu banyak hal mengenaiku. Dan aku… aku mencintainya.”
Kenneth diam. Mengembuskan napas samar.
“Aku,” Neela melepaskan kedua tangannya dari Kenneth, “benar-benar ingin bertemu dengannya.”
Kenneth tersenyum simpul. Mengangguk. “Kau akan bertemu dengannya,” dia memberitahu. “Lusa kita akan ke Bali. Dai menunggu di rumah pantai.”
Senyum Neela begitu riang. Matanya berkaca-kaca karena senang. “Benarkah?” dia memastikan.
Kenneth mengangguk. “Ya.”
“Terima kasih, Ken,” ucap Neela senang yang dibalas Kenneth dengan senyum muram.
“Sekarang tidurlah.” Kenneth menepuk sebelah pipi Neela dua kali, dan mengusap rambutnya lagi. “Besok jumpa Pers. Dan kau harus mempersiapkan diri.”
Neela mengangguk, masih melengkungkan senyumnya, dan kembali mengucapkan ‘terima kasih’ yang berupa gumaman. Kenneth membalas dengan senyum simpulnya yang biasa, kemudian bangkit, bersiap pergi.
“Ken…”
“Ya?”
“Maukah kau menemaniku…?” pinta Neela. “Setidaknya sampai aku tidur.”
Kenneth mengejapkan mata.
“Mimpi itu—Aku… merasa akan lebih aman, kalau kau bersamaku. Waktu di Jepang, kau selalu menemaniku setiap aku tidur… dan…” Muka Neela entah kenapa memerah. Dia juga tidak bisa melanjutkan kalimatnya. “Tapi kalau kau lelah dan…”
“Tidurlah,” senyum Kenneth. “Aku akan menemanimu.”
Neela tersenyum penuh terima kasih. Setelah itu, merebahkan badannya kembali di atas kasur. Kenneth membantu menyelimuti tubuhnya dengan selimut; mengatur posisinya begitu rapi sehingga selimut tersebut menyelubunginya dengan sempurna, baru kemudian menggeser duduknya. Bersandar di bingkai tempat tidur; menemani Neela yang matanya sudah menutup. Tidur.
Selama di Jepang; selama Neela masih dalam perawatan, tidak sekali pun Kenneth meninggalkannya. Dia selalu di sisinya saat Neela mulai menutup mata, dan ada saat Neela membuka matanya kembali. Hanya itu satu-satunya hal yang bisa Kenneth lakukan untuk membuat Neela melihatnya—kembali melihatnya. Memberikan ingatan baru baginya tentang dirinya yang menghilang dari memorinya tanpa ada bekasnya. Berusaha mengalahkan kenangan tentang Shinji dan juga Dai. Berusaha, mengakrabkan diri demi merebut perhatian Neela kembali padanya. Dan itu berhasil…, setidaknya. Neela merasa nyaman dengannya. Dia tak menganggapnya orang asing, melainkan teman terdekat di kondisi pikirannya yang buntu.
Dicintai begitu besar oleh seseorang memberikanmu kekuatan. Sementara mencintai seseorang begitu besar, memberikanmu keberanian. Kenneth teringat kutipan Lao Tzu yang dilontarkan Sebastian, kala dia mencurahkan kegundahan hatinya padanya, mengenai Neela yang tak lagi dapat mengingat apa pun atau siapa pun selain Dai saat di Jepang. Bertanya-tanya, apa yang semestinya dilakukannya? Bagaimana dia bisa bertahan mendengar nama laki-laki lain yang terucap dari bibirnya, serta memorinya yang hanya tercakup pada laki-laki yang juga bukan dirinya. Sanggupkah dia?
Kau pasti sanggup,” Sebastian menjawab. “Kau harus sanggup. Kalau kau mencintainya sepenuh hati; kalau kau mencintainya begitu besar, kau pasti bisa melaluinya. Menemukan cara agar dia mengingatmu. Membiarkannya terbiasa denganmu, meskipun dia tak mengingatmu sama sekali. Remember Lao Tzu said, Being deeply loved by someone give you strength. While loving someone deeply give you courage. Dan itu benar… Tak perlu diragukan lagi faktanya. Damn it’s true.
Awalnya kata-kata Sebastian pasti terdengar seperti roman picisan belaka, namun setelah Kenneth memikirkannya lebih jauh, kalimat tersebut ada benarnya. Dan dari kata-katanyalah, dia menguatkan diri—pikiran dan hatinya, untuk selalu berada di samping Neela, melakukan apa pun yang bisa dilakukannya untuk membuatnya selalu merasa aman kala berada di dekatnya. Cinta, itu alasannya. Demi cinta.
Dan sekarang Neela tertidur di sampingnya. Dengan pikiran, mimpi itu tak akan lagi menyerang lelapnya saat dia berada bersamanya. Saat ini, itu saja cukup. Itu saja… cukup.

Jumpa Pers amat sangat padat. Bertempat di gedung manajemen dimana Malini dan Kenneth bekerja, para wartawan ditambah pera penggemar Neela memenuhi aula gedung demi melihat dan mendengar penjelasan Neela dan juga manajemen yang menaunginya. Menanyakan banyak pertanyaan seputar kecelakaan yang dialami Neela, dan beberapa rumor yang berkembang selama Neela berada di Jepang; sebagian benar, sebagian jelas isu belaka.
Cuma Kenneth yang angkat suara menjawab sebagian besar pertanyaan Pers, sedangkan Neela hanya diam di sebelahnya, dengan Malini yang terus-terusan menenangkannya dengan meremas-remas tangannya yang dingin dan berkeringat.
Bagaimana dia bisa menjadi seterkenal ini? Neela berpikir dalam hati. Sepenting ini? Dai yang tahu. Dai yang membuatnya begini. Setidaknya dia tahu. Untungnya dia tahu. Karena itu, dia ingin segera bertemu dengannya. Menegaskan kumpulan ingatan samar yang tinggal di kepalanya. Menegaskan wajah Dai yang terkadang memburam; hilang-timbul, dan terkadang berubah menjadi sosok laki-laki lain. Laki-laki yang dipikirnya diingatnya, tapi ternyata tidak diingatnya sama sekali.
“Selama dalam pemulihan,” suara Kenneth terdengar begitu tegas dan lantang, membuat Neela serentak mengangkat kepala, menoleh ke arahnya.  “Neela akan mundur sementara dari musik dan juga showbiz.”
Riuh seketika.
“Untuk itu, Nona Neela akan memberitahukan secara resmi pada Anda semua.” Kenneth menoleh pada Neela dan mengangguk kecil.
Neela mengangguk tersenyum, walaupun kikuk. Menoleh pada Malini yang memberikannya senyum penyemangat, sebelum akhirnya mendekatkan wajahnya ke arah mikrofon di atas meja di depannya. Menyapa para wartawan dan penggemarnya dengan ucapan ‘selamat pagi’ yang terdengar kaku dan gemetar untuk mengawalinya.
“Hari ini, dan hari-hari berikutnya…, sampai saya dinyatakan pulih… saya memutuskan untuk mundur dari industri musik tanah air,” katanya masih dalam suara bergetar. “Hanya sementara… sampai saya bisa bermain biola dan piano lagi dengan baik. Karena kondisi saya sekarang...” dia menelan ludah, “tidak memungkinkan untuk bermusik dengan sempurna.”
Entah kenapa air mata menetes dari pipinya. Entah kenapa itu menyakitinya. Seakan saja, bermusik adalah hidupnya. Biola dan piano adalah sesuatu yang amat disayanginya lebih dari apa pun yang disayanginya. Dan sekarang, hal itu dipisahkan dari dirinya. Dia merasa seperti berkhianat pada dirinya sendiri. Patah hati.
“Musik adalah hidup saya…” Neela kembali bicara dengan suara yang parau, mati-matian menahan tangis. “dan tidak bermusik… menghancurkan hati dan pikiran saya. Mohon… maafkan keputusan saya. Pada semua pihak; teman-teman Pers, fans, terutama pada kedua manajer saya, Kenneth dan juga Malini… saya minta maaf yang sebesar-besarnya.”
Neela menoleh pelan ke samping, bertemu mata dengan Kenneth yang tersenyum simpul padanya. Setelah itu dia kembali menghadapkan wajahnya ke depan, dan berkata, “Itu saja. Terima kasih, atas waktu yang diberikan pada saya hari ini.”
Kalimat terakhir Neela mengakhiri Jumpa Pers pagi itu. Dan setelah Malini menutupnya secara resmi, Kenneth segera mengajak Neela meninggalkan aula. Tidak memedulikan teriakan Pers dan penggemar yang mengiringi kepergian mereka, dan segera menuju lift untuk membawa mereka ke lantai dua, dimana ruang kerja Malini berada.

“Kau yakin akan membawanya menemui Dai?” tanya Malini cemas, ketika Kenneth menyampaikan perihal kepergiannya esok hari  ke Bali bersama Neela. “Eiji tahu?”
Kenneth mengangguk pelan. Menoleh sekilas ke arah Neela yang masih bicara pada Tara, putri Malini yang sedang berada di kantornya, baru kemudian bicara. “Dia tidak setuju… tapi… Lea bilang dia akan memberi pengertian padanya mengenai hal ini,” kata Kenneth amat pelan, sehingga cuma dia dan Malini yang bisa mendengar.
Malini mengangguk paham. “Bagaimana kalau Eiji tetap melarang…?”
Kenneth mengedikkan bahu. Menyandarkan punggungnya ke belakang. “Entahlah. Tapi…, bagaimana pun… aku akan tetap membawa Neela ke Bali. Itu satu-satunya jalan kan?”
Malini menatap Kenneth selama beberapa detik, sampai akhirnya dia mendengus, dan menggeleng bimbang. “Kompleks,” gumamnya. “Apa yang dialami Neela… apa yang kita semua alami… semuanya kedengaran begitu absurd dan rumit.” Dia turut bersandar ke punggung sofa tunggal yang didudukinya. “Bagaimana bisa kita semua terlibat dengan anggota Yakuza?” Malini mendengus, campuran antara geli dan tak percaya. “Shinji…” dengus Malini. “dia menyesatkan semua orang sepertinya.”
Kenneth turut mendengus. Geli. “Ya… bahkan sampai dia tak ada pun…”
Malini terkekeh, begitu pun Kenneth.
Why are you doing this, Ken?” tanya Malini sejenak kemudian, kala cengiran telah menghilang dari wajah masing-masing. “Kau kembali pada Neela saat dia benar-benar membutuhkan perhatian dari seseorang. Kenapa kau begitu menyayanginya? Bukan seperti kau  yangbiasanya.”
“Karena aku mencintainya.”
Malini membeliak. Mulutnya menganga.
I love her so much,” kata Kenneth lagi. Tersenyum manis, dan mengembuskan napas yang kentara sekali lega. “Aku tidak pernah mengatakannya begitu gamblang pada siapa pun sebelumnya. Hanya padamu.” Dia menatap Malini yang masih syok di depannya. “Dan rasanya… enak sekali.” Dia menyeringai jenaka. Memamerkan deretan giginya yang putih.

(Bersambung)
...

"Love is that condition in which the happiness of another person is essential to your own."--Robert A. Heinlein.

8 comments:

Gloria Putri May 7, 2012 at 9:31 PM  

mba...jgn lama2 lanjutannya pas yg di Bali yaaa....

Lita May 7, 2012 at 9:53 PM  

@Glo: Iya... Aku juga gak sabaran... Hehehehe...

Rusyda Fauzana May 7, 2012 at 11:07 PM  

Jadi ikut ga sabaran menunggu Neela bertemu dengan Dai :)

Dai, I knew from the beginning that u are a good man.

Mba, aku juga belajar bikin cerita nih. Aku kok moody gitu ya... Aku jadi salut sama Mba Lita bisa tahan bikin cerbung sepanjang ini. Idenya seperti nggak ada habisnya.

penyuluh perikanan May 8, 2012 at 1:11 AM  

Cerita ini sangat bagus kata dan susunan dalam postingan ini sungguh profesional sayapun menyukainya, jadi saya langsung follow saja ke 178, saya berharap anda juga follow kembali ditunggu kawan
terima kasih

shafarani May 8, 2012 at 5:37 AM  

*mantengin terus*
*bingung komen apa, saking ga ada komennya*
*pokok baca teruus*

:D

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP