A Lot Like Love (26)

>> Friday, May 25, 2012

A Lot Like Love (25)




This Means... War?



NEELA mengamati Dai dari depan meja dapur di mana dia sekarang duduk dengan bertopang dagu. Mengagumi wajah tampannya yang mengerut serius saat memotong tahu dalam tempo cepat di atas papan potong, kemudian meraupnya dan menuangkannya ke atas wajan yang berisi minyak panas dan menumisnya, sementara di atas kompor sebelahnya, air kaldu di dalam panci telah mengeluarkan asap panas. Baunya enak, tapi Neela sama sekali tidak tertarik. Lebih senang memerhatikan alis Dai yang gelap tebal dan membentuk sempurna, hidungnya yang mancung lurus, serta bolongan kecil di kedua pipinya yang selalu muncul kapan pun bibirnya melengkung tersenyum.
Sepertinya Tuhan begitu menyayangi Dai sehingga memberikannya wajah yang luar biasa menawan dan postur tubuh yang pas, yang membuat siapa pun yang melihatnya akan langsung terpana dan tak bisa mengarahkan pandang ke arah lain. Dan ajaibnya, dari sekian banyak perempuan cantik jelita di luar sana, yang pasti sangat berharap bisa dekat dengan Dai, entah kenapa Neela yang mendapatkan keberuntungan itu. Neela berpikir Tuhan pasti sangat mengasihaninya.
“Kenapa kau memandangku seperti itu?” Alis Dai menyatu. Matanya mengerling Neela curiga. “Membuat perasaanku jadi tidak enak.” Dia mengangkat tahu yang berbentuk kubus kecil yang sudah agak coklat, meniriskannya menggunakan penyaring, kemudian mencemplungkannya ke dalam air kaldu.
Neela menyembunyikan senyum gelinya dengan menyatukan bibirnya rapat. “Aku hanya berpikir... sejak kapan kau bisa masak?” katanya.
“Aku memang suka masak,” ujar Dai, menunjukkan tampang heran pada Neela. Meraih pisau potong yang menelentang di atas cutting board, dan mengambil bayam yang sebelumnya telah disiapkannya di dalam mangkuk bening. “Kau saja yang lupa,” angguknya. Dia meletakkan bayam di atas papan potong, dan mulai mengirisnya cepat.
Neela menggerakkan matanya ke atas. Berpikir. “Seingatku tidak. Kau tidak pernah masak. Sekali pun.”
Dai mendengus, tak memandang Neela. “Aku suka masak,” tegasnya. Meraup irisan bayam, dan menuangkannya ke dalam panci. “Sejak di Amerika... dan tinggal bersama kakekku, aku harus mengurus diri sendiri.”—(dia menggeser badannya sedikit ke samping untuk menjangkau sendok pengaduk)—“Memasak, mencuci pakaian, mencuci piring dan membersihkan apartemen,”—dia kembali ke depan kompor; mengaduk air kaldu yang hampir mendidih—“itu dulu adalah tugasku.”
“Bukannya kau tinggal bersama ibumu?” timpal Neela heran. “Aku... ingat kalau kau tinggal bersama ibumu... di sini. Di Indonesia. Kau... tidak pernah ke Amerika sebelumnya.”
“Kau sebenarnya bicara tentang siapa?”
“Tentu saja kau. Siapa lagi?”
“Neela... aku tinggal di Amerika bersama kakekku sejak aku berusia tujuh belas tahun. Sementara ibuku..., bersama ayah dan adikku di Jakarta.”
“Kau tidak punya adik. Kau anak tunggal,” sela Neela bingung.
“Sekarang aku memang anak tunggal,” balas Dai. “Karena Kyouta telah meninggal lima tahun lalu.”
Neela kelihatan resah. Menatap Dai ragu. “Aku... bingung,” gumamnya. “Kau sedang bicara tentang siapa?”
Dai tak menjawab, hanya tersenyum simpul sambil menggelengkan kepala. Dia meletakkan sendok kayu yang dipegangnya di atas piring di sebelah kompor, bernapas pelan, baru kemudian menghadapkan wajahnya pada Neela. Menatapnya lekat-lekat.
“Apa?” tanya Neela grogi.
Dai tak menjawab. Menggerakkan kakinya pelan, berdiri berhadapan dengan Neela di seberang meja dapur, kemudian meletakkan sikunya, dan sama seperti Neela menopang dagu dengan satu tangan. Badannya condong ke depan, bersandar di tepian meja.
Neela mendorong badannya ke belakang. Bingung melihat tingkah Dai. “Kenapa?” Neela kembali bertanya. “Kenapa kau menatapku begitu?”
“Aku tidak boleh memandangmu?” kata Dai, tersenyum lembut. “Sebelumnya kau juga memandangku seperti ini kan? Bahkan sampai keluar air liur.”
Kedua mata Neela menyipit. Suara ‘hm’ kecil berembus dari bibirnya yang mengatup. “Kau berlebihan. Aku tidak mengeluarkan air liur sedikit pun.”
“Kalau begitu...”—(Dai menurunkan satu tangannya, dan menumpuknya di atas lengan satunya yang terlipat di permukaan meja)—“kau memang benar menatapku kan? Mengagumi... wajahku?”
Neela membeku. Tampak seperti habis diterpa angin kencang.
Dai mendengus, menyembunyikan wajahnya ke dada dengan bahu berguncang-guncang karena geli. Tak lama kemudian dia menaikkan wajah lagi, menatap lurus Neela, tanpa bersuara. Dan Neela, tak berusaha menggerakan mata sedikit pun ke arah lain; balas menatap Dai.  tidak peduli pada rasa hangat yang perlahan mengerubungi wajahnya.
Keduanya tersentak ketika terdengar suara ceklik keras dari arah ruang tamu, disusul dengan suara bam yang menggema saat pintu depan kembali menutup. Dai bergeser, kembali ke depan kompor—kaldu yang sedang direbusnya telah mendidih, sedang Neela duduk tegak di kursi, menolehkan wajahnya ke samping darimana suara langkah terdengar, dan menyapa Kenneth yang baru muncul di ruang tengah dengan ceria.
“Dari mana?” Neela bertanya. “Dai memasak makan malam untuk kita.”
Kenneth mengerling sekilas Dai yang sedang mengaduk kaldu di dalam panci. “Jalan-jalan sekitar sini,” jawabnya diiringi deham kecil dan senyum lebar yang canggung.
Dai mematikan kompor dalam suara ‘klek’ keras, menyambar serbet, dan menjejalkan kedua tangannya. “Sori... Aku pinjam dapurnya,” dia berkata pada Kenneth. “Aku ingin membuatkan sesuatu untuk... dimakan.”
“Oh.”
Kata ‘oh’ singkat Kenneth membuat suasana di antara mereka bertiga semakin kikuk. Neela menatap lantai, Dai mengetuk-ngetukkan jemarinya di meja, dan Kenneth memandang berkeliling dengan satu tangan di saku celana kargonya.
Melarikan diri dari situasi tersebut, Dai memutar badan, menyambar mangkuk keramik dari atas buffet, mengangkat panci berisi kaldu tahu yang sudah matang, dan menuangkan isinya ke mangkuk keramik yang barusan diambilnya. Dan setelah meletakkan panci di atas kompor lagi, dia mengangkat mangkuk tersebut, dan membawanya pergi menuju beranda, setelah sebelumnya berkata, “Kita makan di luar saja,” pada Neela dan juga Kenneth.
“Ide bagus,” tanggap Neela. Merosot turun dari kursi. “Aku bantu menyiapkan piring.”
“Tidak usah,” Kenneth mencegah. “Biar aku. Kau ke beranda saja.”
Setelah itu dia berjalan memutari meja dapur, dan berjalan ke arah buffet kecil di samping kulkas. Membukanya, dan menemukan tumpukan piring di dalam yang segera diangkatnya beberapa; membawanya menyusuri ruang tengah.
Neela tersenyum kecil. Mengempaskan pundak. Ekspresinya lega.
...

Tak ada obrolan ringan selama makan malam. Neela, Kenneth dan Dai, ditambah Arata, lebih memilih diam daripada mengadakan komunikasi satu meja—Dai tidak mengerling Arata sedikit pun (dari tampangnya jelas dia tidak mau dekat-dekat dengannya). Arata malah, undur diri lebih dulu karena menerima telpon dari seseorang, dan tak kembali lagi ke beranda setelahnya dan memilih duduk di ruang tengah. Dan sampai akhirnya Kenneth berkata pada Neela kalau dia harus minum obatnya dan tidur, ketiganya tetap bergeming, sibuk memainkan sisa makanan di piring dengan sendok masing-masing.
Awkward.

Dai berdiri di ambang pintu dengan tangan disilangkan. Tersenyum memerhatikan Neela yang sedang melahap obatnya satu per satu dengan tampang meringis, sementara Kenneth dengan sabar menyodorkan pil, tablet dan kapsul warna-warni dari beberapa botol berbeda padanya.
“Sampai kapan aku harus minum obat?” sungut Neela.
“Sampai kau sembuh.”
“Aku baik-baik saja sekarang.”
“Bukan berarti kau sudah sembuh.”
“Obat-obat ini membuatku ngantuk.”
“Tidak usah protes. Minum saja.”
Neela meneguk air putih dari gelas bening yang baru disodorkan Kenneth, dan menelan obatnya dengan susah payah. Meletakkan gelas yang isinya tinggal separuh di atas meja kecil di sebelah tempat tidur, dan menarik napas panjang, sebelum merebahkan tubuh di atas kasur.
“Malam, Kenneth.”
Kenneth tersenyum, dan membalas pelan, “Malam.”
“Malam, Dai.”
“Malam, Neela,” balas Dai, melambai sekilas. “See you tomorrow.”
Neela tersenyum, lalu meletakkan satu pipinya dengan nyaman di atas bantal. Menutup mata, bersiap tidur. Kenneth menyelimutinya, merapikan tepiannya hati-hati, dan mengusap rambut Neela sekali, sebelum bangkit berdiri dan berpaling, berjalan pelan menuju pintu.
“Kau memperlakukannya seperti anak kecil,” komentar Dai setengah berbisik, setelah mereka berdua berada di luar kamar.
Kenneth mendengus. “Aku tidak keberatan.”
Dai tersenyum simpul. Mengerutkan bibirnya, dan membiarkan Kenneth berjalan menjauh. “Hei. Kenneth Altis,” panggilnya kira-kira sedetik kemudian.
Bahu Kenneth terempas ke bawah. Pasrah. Dia berbalik, menghadapkan wajahnya lagi pada Dai yang telah memasang seringai lebar di wajah.
“Ada apa?”
“Mau minum Bir?”
Dahi Kenneth berkerut. Pandangan tajamnya membentuk sebuah pertanyaan non-verbal, ‘apa kau serius?’ untuk Dai.
“Tadi kebetulan aku juga membeli bir di swalayan. Kalau kau mau..., kita bisa minum sambil ngobrol di beranda,” jelas Dai.
Untuk beberapa saat Kenneth diam, matanya bergerak naik turun mengamati Dai kendati sebenarnya dia sama sekali tak mengamatinya. Dia sedang berpikir, apa harus menerima tawarannya atau tidak. Perasaannya masih kacau melihat kemesraannya dengan Neela sore tadi, dan berhadapan dengannya sekarang, malah akan membuatnya lebih kesal lagi, namun banyak yang ia ingin katakan pada laki-laki ini. Banyak hal yang ingin ditanyakannya. Jadi Kenneth mengesampingkan egonya, dan mengangguk dengan mantap. “Oke.”
Dai menaikkan bahu. Mengangguk sedikit, dan membalas berkata, “Oke,” baru setelah itu menegakkan badan, dan berjalan menjauh dari pintu kamar menuju dapur. Dan tak sampai lama, kira-kira satu menit, mereka berdua telah berada di beranda. Duduk berhadapan dipisahkan oleh meja, bir di tangan masing-masing dan pandangan ke arah lain.
Angin pantai mendesah, bertiup lembut bersamaan dengan datangnya gemuruh dari arah pantai. Rambut keduanya melambai pelan, dan kulit mereka dihinggapi butiran pasir yang terbawa oleh udara dingin yang kering.
“Aku tidak ingin bermusuhan denganmu,” kata Dai tiba-tiba, menatap Kenneth serius.
Kenneth yang tak menyangka akan datangnya kalimat tersebut menautkan alis. “Aku juga tidak.”
“Dari tampangmu..., jelas kau tidak menyukaiku.” Dai meletakkan bir yang baru saja di teguknya di atas meja, tanpa melonggarkan genggamannya sama sekali.
I got reason for that.” Kenneth menghela napas lambat-lambat. Menatap Dai. “Karena kau... yang membuat Neela...” Kenneth menghentikan kalimatnya. Menyesap birnya sedikit dengan mata terpaku ke permukaan meja.
“Itu murni kecelakaan.” Dai melepas kaleng bir yang dipegangnya, menatap kosong gambar bintang merah di permukaan kaleng tersebut. “Tapi” (dia mengangkat wajah) “secara tidak langsung itu memang salahku. Dan aku minta maaf karena itu.”
Dengus sinis terdengar, dan Kenneth berkata pada Dai tanpa memandangnya. “Thank God, Neela masih hidup.” Dia memutar-mutar kaleng birnya di permukaan meja. “Kalau tidak...”
“Aku akan bunuh diri,” sambung Dai cepat, dengan nada bersalah.
Kenneth memandangnya. Melihat wajah Dai yang mengekspresikan rasa penyesalan yang besar. Yang benar saja, Kenneth membatin. Dia serius? Bunuh diri? Itu jelas cuma kata-kata kosong. Picisan. Kenneth menyembunyikan kegeliannya dengan memalingkan wajah ke arah lain.
“Sepertinya cuma itu yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahanku kalau Neela sampai... mati.”
Kenneth kembali menghadapkan wajahnya pada Dai. Mengamati wajahnya yang masam. Dia sepertinya sedang menyalahkan dirinya sendiri.
 It’s all my fault,” gumam Dai lagi, menundukkan kepala. “Dan aku mengerti kalau kau..., Eiji atau siapa pun marah padaku karena itu.”
Kenneth tak menyahut. Dia dan Dai selama beberapa detik yang sunyi hanya bertukar pandang suram. Satu sama lain seolah sedang mencoba mengorek apa yang ada di benak masing-masing. Kemudian kontak mata keduanya terputus. Pandangan Dai beralih ke tepian meja beranda, sedangkan Kenneth meneguk birnya sampai tandas.
“Kenapa kau... keluar dari... organisasimu?” Kenneth berdeham kecil. Meletakkan kaleng birnya yang sudah kosong di atas meja. “Sebenarnya..., tidak perlu kan?”
“Perlu.” Dai tersenyum simpul. “Aku perlu keluar dari O ushi agar aku bisa terus bersama Neela,” dia memberitahu. “Karena... menjadi anggota Yakuza itu—terutama kalau ada di posisi tertinggi, menandakan tak ada privasi.”
Kenneth mendengus tertawa.
“Aku serius.” Dai melebarkan mata, berpikir kalau Kenneth menganggapnya sedang bercanda. “Aku juga... tak ingin membahayakan Neela; tak ingin membuatnya bingung.”
Kenneth menunduk. Tawanya terhenti seketika. Dia benar-benar peduli pada Neela, pikirnya. Tak sedikit pun kelihatan berpura-pura.
Apa Dai suka pada Neela? Dan apakah Neela suka pada Dai? Banyak yang terjadi selama dia dan Neela terpisah, apakah Dai salah satunya? Tapi Arata mengatakan kalau Neela mencintai dirinya? Bagaimana dia bisa menyimpulkan begitu? Kenneth membenamkan wajah ke tangannya untuk meredam pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan di benaknya. Kepalanya terasa berat. Emosi muram menyerang otak dan tubuhnya. Membuat udara yang mengitarinya menjadi begitu panas; membuatnya tertekan.
“Kau oke?” Dai menanyai Kenneth.
“Hanya capek,” jawab Kenneth. Memijat-mijat kepalanya.
Dai tersenyum kecil. Memandang Kenneth sejenak, sebelum akhinya menepukkan telapak tangannya di kedua pahanya dan bangkit berdiri.
“Istirahatlah,” angguknya. “Aku pulang dulu.”
Kenneth mendongak, heran. “Pulang? Pulang kemana?”
“Ke rumahku,” jawab Dai santai, memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Di sebelah. Aku menyewa rumah pantai di sebelah.”
Kenneth berjengit. “Bukankah kau akan tinggal di sini?”
Dai tak langsung menjawab. Menyempatkan diri memandang berkeliling. “Aku” (dia memandang Kenneth kembali) “tidak mau tinggal di rumah ini,” ujarnya. “Rumah ini rumah orang yang sudah mati... dan tak seharusnya terus-terusan menghantui benak seseorang yang kusayangi.”
Perut Kenneth serasa anjlok mendengar kalimat Dai.
“Aku tak mau dibayangi oleh Shinji atau siapa pun. Kalau bisa... aku akan menciptakan memori sendiri untuk Neela. Memori tentangku.”
Kenneth tak dapat berkata-kata. Termenung menatap Dai.
Good night, Kenneth,” ucap Dai. “Sampai besok.”
Setelah itu Dai berjalan pergi. Langkahnya ringan tanpa beban, dan wajahnya ditengadahkan ke arah langit hitam yang dihiasi sedikit bintang. Tak lama kemudian sosoknya menghilang, tenggelam seiring dia menuruni undakan. Hanya suara langkahnya yang terdengar.
Kenneth membeku di kursinya. Kata ‘seseorang yang kusayangi’ yang beberapa saat lalu terlontar dari bibir Dai menusuk-nusuk telinganya. Menulikannya dari suara-suara lain yang ada di sekitarnya. Apa itu berarti dia mencintainya? Pikirnya resah.
...

DAI kembali ke rumah pantai Shinji pagi-pagi. Mengenakan jumper, kaus putih, celana selutut warna coklat gelap, dan sepatu kets; bermaksud mengajak Neela lari pagi. Menurutnya itu bagus untuk kesehatan Neela, dan suasana pantai pastilah membuatnya akan lebih bersemangat lagi. Dia menyeruak tirai pintu beranda dan masuk ke ruang tengah.
“Selamat pagi.”
Dai hampir loncat karena terkejut saat mendengar suara orang menyapa dari sampingnya. Dia menoleh, melihat Arata sedang berdiri di balik meja dapur, sepertinya sedang menyiapkan sarapan.
“Pagi,” balas Dai dingin. Dia sepertinya merasa terancam melihat Arata. Segera bergeser menjauh untuk memastikan bagian mana pun dari tubuhnya tidak terjangkau tangan laki-laki itu. “Aku mau melihat Neela,” katanya grogi.
“Dai-san—” Arata memanggil, sepertinya hendak memberitahu sesuatu, namun Dai tidak mendengar—atau memang sengaja tidak mendengarkan, berlalu begitu saja, dan menggerakkan kaki ke arah pintu kamar Neela yang setengah membuka, dan mendorongnya hati-hati.
Di ambang pintu dia terpaku. Tampak syok. Neela terbaring di atas tempat tidur dengan Kenneth di sampingnya. Kepalanya di siku Kenneth, dan satu tangannya di dada Kenneth. Badan keduanya merapat, tanpa ada batas. Dan mereka tertidur lelap. Sama sekali tak menyadari kehadirannya.
Seketika wajah Dai menghangat. Perutnya terasa kosong, seiring jantungnya berdegup amat cepat. Perasaannya tak keruan. Sekarang dia benar-benar ingin memukul orang. Memukul Kenneth lebih tepatnya.
Sambil berjalan keluar kamar dia membayangkan menarik Kenneth dari tempat tidur hingga terjerembap di lantai, dan meninjunya habis-habisan. Ayolah, Dai, sebuah suara geli terdengar di benaknya, kenapa kau memusingkan si Kenneth itu? Dia itu Gay kalau kau lupa.
Tapi apa benar Kenneth Gay? Dai membungkam suara tersebut. Lagipula mau Kenneth itu gay atau pun tidak, Neela pernah mengatakan kalau dia mencintainya. Jadi, bagaimana pun, tak ada untungnya sama sekali baginya.
“Nona Neela mimpi buruk semalam,” Arata berkata, sambil menuangkan kopi dari teko ke cangkir di depannya. “Tuan Kenneth terpaksa menemaninya. Kopi?” Dia mendorong salah satu cangkir yang baru saja diisi kopi ke arah depan.
Dai memandang Arata bimbang. “Aku tidak meminta informasi apa pun darimu,” katanya tenang, berjalan mendekat.
“Saya hanya meluruskan, kalau-kalau Anda berpikiran buruk tentang Tuan Kenneth dan Nona Neela,” jelas Arata. Tersenyum. Kembali menuangkan kopi ke cangkir lain yang telah disiapkannya.
Dai duduk di kursi di depan meja dapur, tidak melepas pandang dari Arata. Arata cuek. Meletakkan teko berisi kopi di sisi lain meja, dan sekarang mengaduk kopi di cangkirnya menggunakan sendok kecil yang mendenting-denting. Wajahnya tunduk, tidak memandang Dai.
“Kau sungguh sopan.” Dai menarik cangkir mendekat, dan meraih gagangnya. Mengangkatnya perlahan. “Eiji yang menyuruhmu?” Dia menyeruput kopinya.
“Ya. Saya harus selalu sopan pada teman-teman baik Tuan Eiji,” jelas Arata.
Kening Dai berkerut. “Aku tidak merasa aku ini teman baiknya.”
“Memang. Tapi Anda tamu. Dan tamu, sudah sepatutnya dihormati.” Arata kembali menyunggingkan senyum. Meneguk kopinya sedikit.
Mengerikan, pikir Dai. Arata Noh benar-benar laki-laki berdarah dingin. Dia, dengan kemampuan totoknya yang luar biasa, yang bisa saja dipergunakan untuk mencelakai orang, amat ahli bertutur manis dan bersikap amat sopan. Tiada seorang pun yang menyangka dia punya kemampuan membunuh yang amat besar.
“Pagi...” Suara parau datang bersamaan dengan suara derit pintu di belakang Dai.
Dai cemberut, sementara Arata langsung menyapa Kenneth yang terseok mendekat. “Pagi, Tuan Kenneth.” Arata mengangkat cangkirnya. “Mau kopi?”
“Boleh.” Kenneth mendarat di tepi meja. Duduk di kursi di sebelah Dai. Rambutnya berantakan, begitu pun baju yang dikenakannya. Dia menguap, setelah itu meregangkan tangan kirinya; mengentaknya, lalu mengeluh, “Tanganku pegal.”
“Tentu saja pegal kalau semalaman Neela menggunakan tanganmu sebagai bantal,” sahut Dai, menyesap kopi di cangkirnya.
Jaga sikapmu, Dai. Dia mengingatkan diri sendiri. Jangan tunjukkan rasa cemburumu pada Kenneth.
“Aku... tidak keberatan. Thanks, Arata.” Kenneth tersenyum manis pada Arata yang baru saja menyodorkannya secangkir kopi panas. “Setiap malam... memang seperti itu.”
Api neraka sepertinya menjelajah setiap inci tubuh Dai. Dari ubun-ubunnya sekarang pasti keluar asap saking kesalnya mendengar kata-kata Kenneth. Napasnya mendengus-dengus seperti banteng marah. Wajahnya merah seperti kepiting rebus.
Kenneth tidak menyadarinya. Terlalu sibuk dengan kopi di cangkirnya yang ditenggaknya sampai habis. Cuma Arata yang mengikuti transformasi Dai; bengong memerhatikan wajah Dai berubah dari putih ke merah kemudian ungu.
Dai meletakkan cangkirnya di atas meja. Suara kecil yang waras di benaknya terus-terusan mengingatkannya agar menjaga sikap—Jangan bertindak seperti bocah belasan tahun! Ingat siapa dirimu! Tapi Dai tidak menggubrisnya. Turun dari kursi secepat kilat, dan melangkah cepat menuju kamar Neela. Demi Tuhan, Dai Tanaka! Usiamu tiga puluh tiga tahun! Suara itu berteriak marah.
Kenneth dan Arata saling pandang. Selama beberapa detik berpikir apa yang sebenarnya terjadi. Saat tersadar, Dai sudah masuk ke kamar Neela, mengempas pintu hingga terbanting. Tak ayal keduanya panik. Melesat menyusul ke kamar.
“Hei, Neela. Ayo, bangun,” suruh Dai, mengguncang pundak Neela.
“Kau sedang apa?” Kenneth yang baru datang bertanya gusar “Biarkan dia istirahat.”
“Neela.” Dai mengabaikan Kenneth, membungkukkan badan, masih mengguncang bahu Neela. “Bangun. Sudah pagi.”
Neela memalingkan wajah. Menarik bantalnya ke atas kepala, sambil mendengungkan suara ‘um’ protes, yang kalau diterjemahkan berarti, ‘Jangan ganggu aku’.
“Dai... sudahlah,” kata Kenneth jengkel dengan tangan di saku celana treningnya. “Sebenarnya kau mau apa?”
“Oke.” Dai sekali lagi tak menghiraukan Kenneth. Menegakkan badannya dan berkata, “Aku akan hitung sampai tiga, kalau kau tidak bangun...”
Neela melepas bantal di kepalanya. Matanya mengejap lemah. “Memangnya ada apa?” tanyanya serak.
“Kita lari pagi.”
Oh, God.” Kenneth kelihatan terguncang.
“Aku tidak suka lari,” kata Neela.
“Kau harus mulai suka sejak sekarang.”
“Kenapa tidak kau biarkan saja dia tidur?” kata Kenneth.
“Ya. Kenapa kau tidak biarkan saja aku tidur?”
“Karena lari pagi baik untuk kesehatanmu. Ayo bangun,” kata Dai lagi tak sabar.
Neela menggeleng. “Aku mau tidur saja. Aku ngantuk sekali.” Dia kembali menutup wajahnya dengan bantal.
“Kalau kau tidak mau bangun aku akan...” Dai berdecak, lalu membungkuk. Satu kakinya naik di atas kasur. Kedua tangannya meraih pinggang Neela, kemudian menyeretnya dengan satu tarikan ke tepi tempat tidur, dan dengan mudah mengangkatnya, memanggul Neela di bahunya, dan membawanya menuju pintu. Tak memedulikan pekikan protes Neela.
 “Oh, Tuhan.” Kenneth mengempaskan napas putus asa. Bertolak pinggang. “Kenapa jadi seperti ini?”
Arata mendengus tertawa.
Kenneth memandangnya bingung. “Apa itu tidak termasuk tindakan mengancam bagimu?” tanyanya. “Bukankah seharusnya mencegahnya?”
Arata mengangkat bahu sekilas, masih nyengir.
“Terserahlah,” kata Kenneth. Setengah berlari meninggalkan kamar.

(Bersambung) 
...


"I no longer believed in the idea of soul mates, or love at first sight. But I was beginning to believe that a very few times in your life, if you were lucky, you might meet someone who was exactly right for you. Not because he/she was perfect, or because you were, but because your combined flaws were arranged in a way that allowed two separate being to hinge together."
--Lisa Kleypas--




Read more...

A Lot Like Love (25)

>> Sunday, May 13, 2012


A Lot Like Love (24)

And I See You

SEPERTI yang sudah Kenneth duga sebelumnya, Eiji akan muncul sebelum dia berangkat ke Bali bersama Neela. Berdiri di depan pintu rumah sore hari, dengan tampilannya yang biasa: rapi dan elegan—meskipun kali ini dia hanya mengenakan jins biru gelap dan kemeja kotak-kotak merah, bukan setelan jasnya yang biasa—dan menenteng tas karton berwarna shoking pink dengan tulisan berukir di permukaannya.
Tak ada yang berbeda dengan ekspresinya. Biasa saja. Tidak memperlihatkan gurat kesal atau apa pun.
“Neela... di kamar,” Kenneth memberitahu Eiji, setelah dia mempersilakan Eiji masuk ke dalam. “Aku akan—”
“Sebelum kau memanggilnya,” Eiji menyela. Meletakkan tas karton di tangannya di atas meja tamu. “aku ingin bicara padamu.” Dia duduk di sofa tunggal berlengan terdekat, dan memandang sekeliling. Ini kali pertama Eiji menyambangi rumah Kenneth.
Gontai, Kenneth berjalan ke arah sofa tunggal lain di seberang Eiji. Duduk, dengan badan dicondongkan ke depan, berpikir akan hal-hal yang mungkin saja akan dibahas Eiji. Salah satunya kalau Eiji tidak akan mengijinkannya membawa Neela ke Bali menemui Dai.
“Aku tidak akan melarangmu membawa Neela ke Bali, kalau itu yang kau pikirkan sekarang,” kata Eiji tiba-tiba.
Dahi Kenneth berkerut. Heran.
“Karena aku berpikir... kalau mungkin itu salah satu cara untuk membuat Neela dapat mengingat, setidaknya sedikit, apa pun yang semestinya dia ingat,” ujar Eiji. “Walaupun...” dia bernapas lambat, “aku sebenarnya tidak menyetujuinya.”
Sesaat kelihatannya Kenneth akan membalas ucapan Eiji, tapi kemudian dia menunduk, menyatukan bibirnya rapat. Memilih untuk menunggu kata selanjutnya dari Eiji.
“Arata akan ikut bersama kalian.” Eiji mendorong badannya ke belakang. Bersandar di punggung sofa. “Mengijinkan bukan berarti aku tidak waspada dengan ancaman.”
“Tapi..., Lea mengatakan kalau Dai bukan Yakuza lagi...”
“Aku tahu. Tapi... tidak ada salahnya kita berjaga-jaga kan? Bagaimana pun, Kenneth, Dai pernah menjadi anggota O ushi. Dan O ushi, bukan Yakuza kelas teri di sini. Apalagi dia adalah mantan pimpinannya... aku tidak boleh lengah.”
“Arata... asing untuk Neela. Aku khawatir dia merasa tidak nyaman dengan—”
“Kau bisa memperkenalkan Arata sebagai supir atau apa pun pada Neela,” potong Eiji, seakan saja itu menyelesaikan masalah.
“Dan Dai—”
Eiji menautkan jari-jemarinya. “Aku sudah bicara pada Dai,” dia memberitahu Kenneth dalam suara ringan, “dan dia mengatakan itu bukan masalah untuknya.”
Selama beberapa saat, Kenneth diam. Kehilangan suara. Mengangguk-angguk, kendati dia tak mengerti kenapa dia menganggukkan kepala.
“Mobil telah disiapkan untuk besok pagi,” kata Eiji, yang dibalas Kenneth dengan kerutan di dahi. “Neela tidak boleh naik pesawat dulu untuk sementara waktu kan? Jadi... kalian akan berangkat ke Bali melalui jalur darat.”
“Oh.” Kenneth mendesah. “Ya... Benar.”
“Kau tidak boleh meninggalkan Neela selama kalian berdua ada di Bali.”
“Aku tidak berencana begitu.”
“Bagus,” sahut Eiji cepat. “Dan aku harap kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu mengingat kau adalah manajer dari seorang artis sibuk seperti Marin.”
“Aku sudah menyerahkan Marin pada Malini. Kau tidak perlu khawatir.”
Eiji mendengus tersenyum. Wajahnya yang ramah muncul lagi. “Maaf..., kalau aku bersikap terlalu otoriter atau apa pun menurutmu,” katanya. “Tapi Neela..., adalah amanat Shinji padaku. Aku tidak ingin dia celaka untuk kedua kalinya. Lagipula...” Eiji menunduk sejenak, tersenyum terkulum. “dia sudah seperti adikku sendiri. Sudah sepantasnya aku melindunginya. Memastikan kalau dia aman.”
Kenneth tersenyum simpul. “Aku mengerti. Sangat mengerti. Aku pun akan... berbuat yang sama kalau aku adalah kau.”
Thanks.” Eiji mengempaskan napas perlahan. Wajahnya menyiratkan rasa lega, meskipun hanya sesaat.
Dan kedua pria itu bergeming di sofa yang mereka masing-masing duduki, dalam keheningan sejenak di ruang tamu tersebut. Menunduk, sibuk dengan pikiran masing-masing, sampai akhirnya terdengar suara Neela yang memanggil Kenneth.
“Aku akan memberitahunya kalau kau di sini,” kata Kenneth pada Eiji, setelah dia bangkit berdiri, dan hendak beranjak ke dalam.
“Oke.” Eiji tersenyum.
“Dia pasti akan senang sekali melihatmu.”
Dan setelah itu Kenneth berpaling. Melangkahkan kakinya meninggalkan ruang tamu.
...

Perjalanan ke Bali ditempuh selama dua hari satu malam, dan terbilang lancar tanpa hambatan—kecuali mabuk lautnya Neela saat menyeberang dari Pelabuhan Ketapang ke Pelabuhan Gilimanuk menggunakan kapal Ferry bisa disebut sebagai hambatan, dan menjelang senja mobil Alphard yang dikemudikan Arata telah memasuki kawasan Canggu, Kuta. Dan ketika akhirnya mobil memasuki pekarangan rumah pantai Shinji, arloji di tangan Kenneth telah menunjukkan pukul setengah enam sore.
“Kita sudah sampai,” Kenneth memberitahu Neela yang mengejap-ngejapkan mata di kursi sebelahnya. Dia tertidur sejak meninggalkan Gilimanuk, dan baru membuka mata saat Kenneth membangunkannya.
Neela mendorong punggungnya naik. Duduk tegak di kursinya dengan kedua tangan bertopang di tepian jok. Memandang keluar jendela mobil, ke arah sebuah rumah bercat putih yang sepertinya dikenalinya. Amat... dikenalinya.
Dibantu Kenneth, dia menjejakkan kaki di atas rumput, menerima tongkat bantu jalannya dari Arata yang sebelumnya telah mengambilkannya dari bagasi belakang, dan perlahan menggerakkan kaki ke arah teras rumah yang telah menunggu.
Jantungnya berdebar, begitu kakinya menapak lantai teras rumah pantai tersebut. Perasaannya tak keruan. Rumah ini... Ada sesuatu di rumah ini yang membangkitkan perasaan rindu yang luar biasa di dirinya. Rindu pada sesuatu. Seseorang... Dai. Dai di sini sekarang. Di dalam rumah itu. Ya kan?
Pintu didorong membuka oleh Kenneth, memperlihatkan ruang tamu rumah yang mungil, berisikan jajaran sofa, meja dan perabot lain yang masih diselimuti kain linen putih untuk melindunginya dari debu.
Neela melangkah ke dalam, dan merasakan embusan angin yang datang dari depan. Mendengar suara ombak yang bergemuruh, dan suara burung laut yang mengikik.
Kau pernah di sini. Suara di kepalanya berkata. Tempat ini berarti untukmu.
Tanpa berpikir, tanpa memedulikan Kenneth atau Arata di belakangnya, Neela menggerakkan kakinya pelan, menyusuri lantai rumah. Masuk semakin ke dalam. Menoleh ke kanan dan ke kiri, menjelajahi tiap benda, tiap dinding, tiap ruang, tiap sudut rumah, yang entah kenapa memunculkan sensasi aneh di dirinya. Menimbulkan kilatan-kilatan mirip blitz kamera seiring cuplikan-cuplikan adegan berkelebat seiring kejapan matanya. Adegan-adegan yang memang pernah terjadi, pernah dialaminya, namun begitu kabur; hampir hilang.
Semua kilasan itu membuat dada Neela sesak; membuat matanya panas dan berair. Dia berjalan semakin jauh, menyeberangi ruang tengah, menghampiri pintu ganda kaca yang tertutup tirai putih yang mengembung dan mengempis oleh angin yang meniup melalui celah pintu. Neela menyibak tirai, dan menggeser selot yang menguncinya. Menarik pintu membuka.
Indah. Itu kata pertama yang mampir di benaknya, sama dengan kali pertama dia menapakkan kakinya ke beranda di hadapannya beberapa tahun lalu, yang sepertinya sudah lama sekali. Ombak bergulung ke pesisir mengejar burung-burung yang terbang cepat di atasnya. Dan sama seperti waktu itu, ratusan layang-layang berekor mengangkasa di langit merah, seolah menyambut kehadirannya. Angin hangat bercampur pasir menerpa—sama seperti waktu itu.
Laki-laki itu seharusnya duduk di sana. Neela memandang bangku kayu beranda yang berkumpul mengitari meja di tengahnya. Di salah satu bangku itu. Dai... seharusnya duduk di sana. Dan akan menoleh saat melihatnya datang. Namun sekarang dia tak ada. Beranda itu sunyi. Hanya ditemani desahan angin pantai dan daun-daun kering yang beterbangan beberapa inci dari lantai kayu di bawahnya.
Merana. Itu yang Neela sekarang rasakan, mengetahui orang yang diinginkannya tak ada. Dia seharusnya ada di sini, pikirnya sedih. Kenapa dia tak ada? Dia pasti sudah—
Suara tawa anak-anak terdengar dari depan, bercampur suara tawa laki-laki dewasa yang sepertinya pernah didengarnya. Neela mengernyit, tertatih berjalan menyeberangi beranda, dan hinggap di belakang pagar pembatas.
Lima-enam bocah laki-laki berlarian di tepi pantai, mengejar seorang laki-laki jangkung yang menarik layang-layang berekor yang mengambang jauh di udara. Mereka tampak riang; bocah-bocah itu tertawa lepas dan berteriak-teriak girang menyemangati si laki-laki yang berusaha menerbangkan layang-layang kuning-hitam besar itu lebih tinggi.
Tak sadar air mata Neela menetes ke pipi.
Dai. Dia memanggil nama laki-laki itu dalam hati. “Dai...” gumamnya pelan, sehingga cuma dia yang mendengar suara paraunya. Butiran-butiran bening semakin banyak berjatuhan ke pipinya, membuat matanya panas, membuat pipinya sembap.
Tanpa disuruh kaki Neela bergerak ke arah undakan. Menuruninya pelan, dibantu tongkatnya yang terasa semakin berat di tangannya, dan menapak di permukaan pasir yang tebal. Perlahan, berjalan menuruni bukit pasir menuju pesisir pantai.
Salah satu bocah yang sempat menoleh ke belakang melihat Neela mendekat. Dia buru-buru menarik ujung kemeja putih laki-laki di sebelahnya, yang segera menunduk memandangnya. Memutar kepalanya ke belakang, saat si bocah menunjuk ke arah Neela yang masih berjalan ke arah mereka dalam diam dengan ekspresi kosong seperti menerawang.
Laki-laki itu membeku seketika. Gulungan benang di tangannya terlepas. Jatuh di atas pasir, dan segera direbuti oleh bocah-bocah di sekelilingnya, yang sepertinya tak menyadari pentingnya momen tersebut bagi dua orang dewasa di dekat mereka. Tertawa dan memekik-mekik tanpa beban, sementara Dai maupun Neela dengan susah payah menahan emosi masing-masing yang telah memuncak di ubun-ubun dan siap meledakkannya dalam hitungan detik.
Keduanya berhadapan. Keduanya bertatapan. Keduanya diam tanpa suara. Tak ada kata yang tepat yang bisa mereka lontarkan pada satu sama lain.
“Hei.” Kata itu mengawali semuanya. Dai menyunggingkan senyum yang diingat jelas oleh Neela. Yang meyakinkannya kalau memang dia—Dai, laki-laki yang berdiri di depannya.
“Hei,” balas Neela lirih, memiringkan kepalanya menatap Dai. Bibirnya bergetar, dan air mata tak henti-hentinya mengalir ke pipinya yang kuyup. “Dai...”
Genangan air di mata Dai menandakan kalau dia pun menganggap pertemuan mereka saat ini begitu berarti. Dan saat dia menyentuhkan tangannya ke pipi Neela, mengusap air matanya, menyusuri lehernya dan menariknya ke pelukan, Neela dapat merasakan kalau Dai pun merasakan hal yang sama dengan dirinya; rindu. Kedua tangannya mendekap Neela erat; sangat erat, seolah saja dia tak akan melepaskannya sama sekali.
Neela tak mampu lagi menyembunyikan perasaannya. Dia terisak di pelukan Dai. Pundaknya berguncang-guncang saking kerasnya dia menangis, membuat Dai semakin mengeratkan pelukannya.
Matahari terbenam di belakang mereka. Warna merahnya menyelimuti langit yang keemasan, ditemani siluet hitam burung-burung yang mengepakkan sayap meninggalkan pantai. It’s a lovely sunset.


Kenneth mengembuskan napas perlahan beberapa kali. Memutar badannya dalam gerakan lambat, kemudian melangkah meninggalkan beranda. Masuk ke dalam rumah. Bertemu dengan Arata yang baru meletakkan travel bag milik Neela di sebelah sofa ruang tengah.
“Aku... keluar dulu.” Kenneth bersuara dengan susah payah. “Jalan-jalan...” Dia memaksakan senyum kecil di bibirnya. “Kalau Neela bertanya..., bilang saja aku... akan segera kembali.”
Arata mengangguk sopan.
“Tolong... jaga Neela,” ujar Kenneth lagi. Melangkah menyeberangi ruang tengah.
“Tuan Kenneth,” panggil Arata ketika Kenneth berada beberapa langkah di belakangnya. Kenneth berhenti, berbalik memandang Arata dengan tatapan penuh tanya. “Saya... selalu bersama Nona Neela selama di Jepang,” katanya.
Kenneth mengerutkan dahi. Tak paham maksud perkataannya.
She loves you.”
Mata Kenneth membeliak. “Apa?”
“Tak ada seharipun dia tak memikirkan Anda,” jelas Arata, tersenyum menenangkan. “Cuma Anda yang dia pikirkan selama di Jepang. Jadi... mohon jangan cemas.”
Kenneth menatap bengong Arata beberapa saat. Bingung atas pemberitahuannya yang tiba-tiba, namun juga merasa amat berterima kasih padanya.
“Terima kasih..., Arata,” ucap Kenneth canggung, namun tulus.
Arata membalas dengan anggukan sopan, lalu berbalik, dan berjalan menuju beranda luar, meninggalkan Kenneth sendirian di ruang tengah.

(Bersambung)
...

"Love is a fire. But whether it is going to warm your heart or burn down your house, you can never tell."--Joan Crawford

Read more...
Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP