A Lot Like Love (22)

>> Sunday, April 22, 2012




(Not) An Old Friend



JAKARTA. Kafe Pagi. 16.00 WIB

Kemarin malam, ponsel pribadi Dai—sangat pribadi karena nomornya hanya diketahui oleh orang-orang tertentu—berbunyi. Mengherankan, karena terakhir telpon itu berdering sekitar sembilan tahun lalu, dan berasal dari seorang teman lama yang tak diduga. Saat dia menjawabnya, dia mendengar suara seseorang. Seseorang yang tak disangkanya akan menghubunginya. Mengajaknya bertemu; untuk bicara.

Apa yang ingin dia bicarakan? Dai bertanya-tanya. Dan kendati sungkan untuk memenuhi permintaannya, namun karena rasa bersalah, serta alasan utang budi pada orang terdekatnya yang besar, Dai memaksakan diri datang.

Pincang, dibantu tongkat lengkungnya, Dai mendekati satu meja yang berada di luar Kafe Pagi yang ramai. Seorang perempuan, berambut hitam lurus sebahu duduk menyamping dengan satu kaki terangkat dan wajah tertunduk ke arah koran di pangkuannya. Satu tangannya mencengkeram gagang cangkir berisi teh yang mengepul dari dalamnya. Mendengar kletak-kletok tongkat Dai, dia menoleh. Tersenyum, meletakkan cangkir dan korannya di atas meja, dan segera berdiri untuk menyambutnya.

“Hei, Dai,” Lea menyapa dengan sedikit canggung. Menjabat tangan Dai erat, kemudian mempersilakannya duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja.

Bukan hanya Lea yang merasa kikuk, Dai pun merasa begitu.

So…” Lea memulai. Duduk kembali di kursinya. “bagaimana keadaanmu? Kakimu…” Lea turut meringis melihat Dai yang bersusah payah menekuk lutut kirinya ketika duduk.
“Masih sakit…” kata Dai, tersenyum mengerutkan keningnya. “Tapi… bukan apa-apa, dia menggeleng buru-buru. “Aku baik-baik saja.”
Good, then,” angguk Lea, memamerkan gigi.

Keduanya diam lagi.

“Juna… dimana?” Dai bertanya setelah lewat beberapa menit, setelah pramusaji yang baru mencatat pesanannya pergi meninggalkan meja. Saat ini menurutnya ‘Juna’ adalah topik terbaik untuk dibahas dengan Lea yang termenung di depannya.
“Dia mengantar Dean.” Lea tampak riang, setidaknya itu membuat hati Dai menjadi lebih ringan. “Dia masuk SD tahun ini.”
“Oh. Selamat kalau begitu,” ucap Dai. “Dean… pasti menjadi anak yang luar biasa nanti—you know…, dengan orang tua seperti kalian berdua.”
Lea tertawa kecil dan mengucapkan “Thanks, Dai,” penuh ketulusan. “Dean… memang lucu. Kau harus lihat dia berdua dengan Juna. They’re so cute.
I believe so,” ujar Dai, tersenyum.

Dan sekali lagi, setelah sebelumnya terkekeh bersamaan, mereka kembali terdiam. Baik Dai atau pun Lea sepertinya benar-benar kebingungan untuk mengadakan percakapan yang lancar tanpa beban satu sama lain.

I’m sorry.” Akhirnya Lea angkat bicara. “Aku lancang menelponmu…”
Dai yang baru menyesap kopi pesanannya dari cangkirnya, menggeleng buru-buru. “Oh, tidak apa,” katanya, meletakkan cangkir di atas meja. Dan meskipun sebenarnya tidak mau mengatakannya pada Lea, dia tidak bisa mencegah mulutnya membuka dan berkata, “Aku lega itu kau…, bukannya Juna.”

Mata Lea sedikit membulat, namun segera kembali ke ukuran normal begitu senyum menenangkan melengkung ringan di wajah cantiknya. “Juna tidak tahu aku menelponmu. Aku melihat nomormu di ponselnya.” Lea mengatakannya cepat-cepat, seakan telah menebak arti kerutan di dahi Dai, tanda kalau dia sedang bertanya-tanya darimana Lea mendapatkan nomor ponselnya. “Nomor ponsel yang… sudah lama sekali ada di ponselnya tapi… tidak pernah sekali pun dia…hubungi.” Lea menundukkan kepala, untuk menyembunyikan sedikit ekspresi muramnya. “Aku sempat ragu… apakah kau masih mempergunakannya.”

Dai mendengus, menyunggingkan senyum simpul yang masam. “Nomor itu… memang dikhususkan untuk orang-orang yang penting bagiku,” katanya. Memberanikan diri bertatap muka dengan Lea. “Orang-orang yang… dekat denganku.”

Tak ada kata lagi dari Lea selain senyumnya. Kelihatannya dia senang, kalau Dai menganggap Juna penting baginya.

“Lea…” Dai menatap Lea lekat-lekat, “maafkan aku. Apa yang terjadi lima tahun lalu…”
“Yang lalu… biarlah berlalu, Dai,” ucap Lea segera.  “Itu sudah lewat… Tidak usah dibahas lagi. Aku hanya ingin—”
“Tapi setidaknya… aku seharusnya… menelpon Juna—atau kau,” sela Dai, mencondongkan badannya ke depan. “Aku seharusnya tidak bersikap begitu pengecut pada sahabatku sendiri. Dan kau…” Dai berhenti sejenak, “kau kehilangan Shinji. Sahabatmu…”
“Aku tidak tahu… apakah kau sungguh-sungguh berduka akan Shinji,” timpal Lea. “Karena menurutmu… karena Shinji adikmu meninggal kan?”

Mulut Dai membuka sedikit, namun tak bersuara.

“Tapi, Dai… kau tidak bisa menyalahkan Shinji begitu saja,” sambung Lea lagi. Menatap Dai sejenak, sampai akhirnya mendengus dan bicara, “Panjang sekali ceritanya… dan aku yakin kau tahu itu… Alasan…, kenapa semua itu terjadi.” Mata coklat Lea menyorot tajam ke arah Dai. “Kau tahu tentang Neela kan?”

Gadis yang diselamatkan oleh Shinji saat di kelab malam lima tahun lalu, yang akhirnya memicu permasalahan yang kembali terjadi antara Shinji dan Kyouta, tak lain adalah Neela—setidaknya itu yang diinformasikan Mamoru, saat Dai berusaha menelusuri penyebab kekacauan yang ditimbulkan Kyouta.

Dia artis baru; pemusik, dan sekaligus penyanyi yang sedang naik daun,” beritahu Mamoru kala itu. “Sama dengan Shinji, dia amat dilindungi oleh Eiji Kodame. Mereka tidak ada hubungan darah, namun setiap bulan, Eiji Kodame mengirimkan sejumlah uang untuk gadis itu. Mempekerjakan Kenneth Altis sebagai manajernya, dan memberikan semacam perlindungan padanya. Terutama setelah kematian Shinji. Gadis itu seolah barang rapuh yang bisa pecah kapan saja. Eiji Kodame selalu memantaunya, kemana pun dia pergi. Gadis itu, tidak diragukan lagi adalah orang yang sangat penting baginya.

“Kenapa dengan Neela?” Dai menanyai Lea, yang masih memandangnya; mengamati ekspresi wajahnya. “Bagaimana keadaannya? Ap—apa dia sudah… bangun?”
“Ya,” senyum Lea. “Dia sudah bangun.”

Seolah semua bebannya terangkat seluruhnya dari badannya, Dai mengembuskan napas panjang yang sangat lega. Memejamkan mata, sambil menggumamkan “Thank you, God” dalam hati. “So… she’s okay?” Dia menatap Lea.
“Dia dalam pemulihan.” Lea tersenyum. “Dia masih… sulit berjalan. masih… menggunakan kursi roda—but she can walk, hanya saja perlu… sedikit waktu untuk benar-benar…” Lea tidak melanjutkan, mengedikkan bahu. “Tapi dia baik. Sangat. Semua badannya tidak ada yang bermasalah.”
Dai mengangguk, tampak senang. “Syukurlah…”

Hening sejenak. Baik Lea maupun Dai sepertinya sedang sibuk dengan pikiran masing-masing. Tapi Lea, dari rona wajahnya, kelihatan amat gundah. Sepertinya saja ada sesuatu yang mengganggunya.

“Dai, aku…” Lea mengangkat wajahnya, kembali bertemu pandang dengan Dai. “Alasanku menelponmu—demi Tuhan seharusnya aku tidak melakukan ini.” Dia mendadak cemas, berbicara pada dirinya sendiri. memijat-mijat bagian samping kepalanya.
“Ada apa, Lea?” Dai kembali meletakkan cangkir kopi yang baru saja diteguknya.
Lea memejamkan mata. Untuk beberapa saat menarik napas dan mengembuskannya, sepertinya sedang menguatkan diri. “Aku tahu kalau kau tidak boleh mendekati Neela,” katanya setelah terlewat beberapa waktu, yang jelas membuat Dai seretak mengentakkan kepalanya ke belakang. “Eiji… tidak ingin kau mendekatinya…, aku tahu itu. Dan aku tahu kalau kau membenci Eiji karena kematian Kyouta—dengarkan aku dulu.” Lea mengangkat kedua tangannya untuk mencegah Dai menyelanya. “Tapi… kau harus tahu, Dai… kalau apa yang dilakukan Eiji…, itu semata-mata hanya karena dia harus melindungi Shinji.”
Dai mendesah. “Kau tidak tahu apa pun, Lea…”
“Aku pernah menjadi korban adikmu kalau kau ingat,” Lea menukas, membuat Dai bungkam. Tajam menatapnya. “Tapi aku tidak ingin membahas apa pun mengenai Kyouta—bukan itu tujuanku memintamu datang hari ini.”

Dai mendorong badannya kembali ke belakang. Menarik cangkir kopinya dan membawanya ke mulutnya.

“Aku di sini… untuk meminta bantuanmu…” sambung Lea. “Demi Neela…”
Kedua alis Dai bertaut. “dan juga janjiku… pada Shinji sebelum dia meninggal.”
“Kenapa dengan Neela? Bukankah katamu dia baik-baik saja?”
“Dari luar dia baik-baik saja.”
“Apa maksudmu?” Dai meletakkan cangkirnya cepat-cepat, membuat isinya menyiprat keluar dan mengotori meja.
“Dai,” Lea memiringkan kepalanya, menyempatkan diri menghela napas dalam-dalam. “Neela kehilangan semua memorinya.”
“A-apa?” Dai kelihatan syok.
“Dia tidak mengingat apa pun, siapa pun; Eiji, Kenneth, aku, Juna atau pun Malini… Dia sama sekali tak mengingatnya.”
“Kenapa? Kenapa dengannya?”
“Benturan keras di kepala belakangnya sewaktu kecelakaan, menyebabkan pembengkakan dan luka memar di pembuluh otaknya, dan itu berpengaruh pada fungsi otaknya… dalam hal ini… ingatannya.”

Suasana sekeliling mereka entah kenapa jadi begitu senyap. Seakan saja, cuma ada mereka berdua di Kafe Pagi itu. Dai terutama, merasa kalau  telinganya telah tuli. Perasaan lega yang tadi dirasakannya, mendadak saja berganti dengan kegundahan lagi, yang dua kali lipat lebih besar dari sebelumnya, ditambah rasa bersalah yang makin menggelembung, dan telah menemaninya selama dua minggu ini.  

“Tapi… sifatnya hanya sementara kan?” tanya Dai. “Ingatannya pasti akan kembali suatu hari.”
“Dokter tidak bilang begitu,” timpal Lea. “Menurut mereka, Neela siuman saja itu sudah keajaiban… dan andaikan Neela tidak mampu mengingat apa pun sampai… jangka waktu yang lama… tidak ada yang bisa mereka lakukan, selain terapi tentunya… dan membuatnya tetap bersemangat untuk menjalani hidup ke depannya, bagaimana pun kondisinya.”

Dai menengadahkan kepalanya ke atas. Memandang kosong langit yang mulai redup.

“Aku memang tidak mengerti… bagaimana perasaanmu pada Neela,” kata Lea tak lama kemudian. “Kau membencinya atau tidak aku hanya—”
“Demi Tuhan, Lea,” Dai mencondongkan tubuhnya ke depan, “aku tidak membenci Neela. Sama sekali tidak.”

Lea mengejapkan mata. Mengamati Dai yang tak memalingkan wajah sedikit pun darinya, seakan berusaha meyakinkannya, kalau apa yang dikatakannya itu sungguh-sungguh.

“Mungkin… aku sempat berpikiran begitu tapi… tidak lagi. Kecelakaan itu… murni kecelakaan. Aku sama sekali tidak berniat mencelakainya,” lanjut Dai. “Aku hancur… begitu terbangun di rumah sakit, dan mengetahui kalau keadaannya lebih parah dariku. Aku rela bertukar tempat dengan Neela kalau memang bisa, Lea. Demi Tuhan aku bersedia melakukannya.”
“Dai…” Lea memanggilnya lirih. Menatapnya dengan sorot mata yang lembut. “aku tidak tahu apakah ini hanya perasaanku…, atau memang… kau menyukai Neela?”
Tak menjawab, Dai bersandar lagi ke punggung kursi. “Apa kau akan melarangku?”
Tak disangka Lea malah tersenyum dan menggeleng pelan. “Tidak. Tentu saja tidak. Itu hakmu…”
“Meskipun aku jelas-jelas seorang Yakuza?”
“Aku tidak bisa berkomentar mengenai itu,” geleng Lea. “Tapi… aku merasa… kau orang baik, di luar siapa dirimu yang sebenarnya.”

Kata-kata Lea membuat Dai sekilas menyunggingkan senyum samar di wajahnya, begitu pun Lea, yang sekarang tersenyum manis kepadanya. Senyum yang menyiratkan kelegaan besar.

 “Jadi… apa yang bisa kubantu?” tanya Dai setelah itu. “Tapi tadi… kau bilang dia tidak ingat siapa pun atau apa pun… bagaimana aku bisa membantunya?”
“Dia tidak mengingat kami semua… itu yang benar,” balas Lea. “Tapi… dia ingat dirimu.”
Dai mengernyit. “Bagaimana bisa?”
“Dia ingat wajahmu…” Lea menjelaskan. “Dia ingat namamu. Dia ingat… hal terakhir yang dia lakukan bersamamu; kecelakaan itu… dia ingat. Tapi sebenarnya… dia tidak ingat sama sekali.”
Dai bengong. Berusaha keras mencerna kalimat yang Lea ucapkan. Namun, mungkin karena kekhawatirannya yang begitu besar akan keadaan Neela, membuatnya kesulitan mengartikan semuanya. “Aku tidak mengerti, Lea,” ujarnya, menuduk sedikit untuk mengamati wajah muram Lea di depannya. “Apa maksudmu?”
“Kau tahu… bagaimana perasaan Neela pada Shinji?”
Dai menggeleng. “Aku… sempat mendengarnya menyebut Shinji; Aku tahu kalau dia… merasa berhutang budi karena Shinji menyelamatkannya dari Kyouta waktu itu…”
“Neela sama sekali tidak ingat mengenai kejadian itu,” Lea meluruskan. “Dia mabuk saat itu, dan dia tidak ingat apa yang Kyouta lakukan padanya, dan bagaimana Shinji menyelamatkannya.”

Dai tercenung. Tetap tidak bisa menangkap kata-kata Lea.

Lea mengempaskan napas tajam, kemudian setelah mencondongkan badannya dan meletakkan kedua siku tangannya di permukaan meja dia berkata lagi, “Aku akan menceritakan seluruhnya padamu… Dan aku harap… setelah kau mendengarnya… kau masih mau membantunya.”
“Aku akan membantunya.” Dai meyakinkan. Memberikan Lea tatapan yang menyampaikan pesan bahwa Lea bisa memercayainya.
“Kalau begitu, dengarkan baik-baik…”

(Bersambung)
...
gambar dari sini
Hey, Ladies. I'm back for Neela. 
Dont worry, I'll be gentle to her. Wish me luck.

...

PS.

Dear All,
Maaf ya, baru bisa posting sekarang. Urusan kerjaan, bener2 nguras energi dan pikiran banget. Sekali lagi sori sekaligus thank you, buat pembaca setianya A Lot Like Love yang terus2an ngingetin saya untuk segera tulis lanjutannya. Dan mohon maaf kalau ada kesalahan kata, setting atau apa pun, karena saya posting AL3 22 ini dengan mata yang udah amat ngantuk. Tolong dimaklumi ya... *nyengir*

So here it is. Semoga... bikin kalian tetap terus ngikutin dan semangat baca sampai akhir, karena energi nulis dan imajinasi saya berasal dari kalian semua...

Jadi sekali lagi... Arigato...
Happy reading! (^^)


Love,

Lita


11 comments:

feby prinadewi,  April 23, 2012 at 11:05 AM  

Horayyy...Lea muncul, drkmrn'' aq tunggu'' neh AL3 akhirnya keluar jg..tetep semangat yah mba Lit..semaangggaattt..^_^

dinar April 23, 2012 at 12:29 PM  

finally....horay...udah bolak balik ngecek blognya mb lita demi membaca lanjutannya,dan hari ini aku baca juga!ups kerjaan sibuk ya mbak,tp tetep semangat yaaaa.....btw mbak Neela itu ingat Dai sbgai Dai kan?bukan dia nganggep Dai itu Shinji kan?cz rada bingung ma kata2 di AL3 21 , yg wktu Eiji bilang ke Kenneth , "dia hanya ingat Dai dalam bentuk dan wajah,namun memorinya yg sebenarnya adalah saat bersama Shinji"
hehehehe...rada bingung jadinya...

ann April 23, 2012 at 2:16 PM  

asyiiikkkk....semangaaaattttt....

go Dai go!

Lita April 23, 2012 at 8:00 PM  

@Feby: Tetap semangatlahhhh. ini salah satu cerbung favoritku soalnya... Hehehhe. Makasih, Feb *peluk*

@Dinar: baca terus Dee... Nanti juga ngerti kok. Emang kompleks, Dai aja gak ngerti. *nah lho* Keep reading ya?

@Ann: Makasih udah nyemangatin Dai, Ann. Seneng deh dimampirin kamu lagi. Welcome backkkk...

-silpe- April 24, 2012 at 11:05 AM  

Akhirnya mba lita kembali :)
akupun bisa membaca di tengah tengah kerjaan yang menumpuk,
hahaha :D

Rusyda Fauzana April 25, 2012 at 10:00 AM  

Aku suka chapter ini. Suka gaya menulis Mba Lita yang mengalir dan tidak kaku walaupun sedang memaparkan tentang kekakuan Dai dan Neela. I think I need to learn how to write well through ur story technique. And also like your backsound music. Dapet banget deh suasananya. Keep writing, keep inspiring! :)

Rusyda Fauzana April 25, 2012 at 10:02 AM  

Uppss... maksudku kekakuan Dai dan Lea. Senang Lea muncul lagi, nanti ajak Juna juga ya Mba :)

Gloria Putri April 25, 2012 at 10:25 PM  

aw aw aw....

semangat kerjaannya mba :)
aniway, glad to see Dai again..hihihi

ann April 27, 2012 at 12:33 PM  

Oh how I just can't wait 2 meet u Dai.. Every day, every time I remember u, I open this blog, but u're as lost in time.. An hour seemed to be a year, one day seemed to be forever.. Dai, I miss u so.. Shall I see u again?

(Ratapan anak tiri..) Qiqiqiqi..

Lita April 30, 2012 at 10:01 PM  

@Silpe: Hei, beb. Apa kabar kamu? Lama tak jumpe...Welcome back yah...

@Rusyda: Hei, Rus. Makasih ya... seperti biasa komentarmu membesarkan hati... Sori baru bales. Aku bener kaya kejepit sama kerjaan dan kantuk... Trim ya...

@Gita; iya deh... yang cinta Dai. Sampe pake deklarasi Bangkok gitu... Wkwkwkwk...

@Glo: Iya... Dainya udah lama ngumpet... Hihihi

@Ann: Cara nyindir yang elegan ya, Ann... pake kata-kata melankoli yang menggugah... Jadi bikin penulisnya gak enak hati dan berusaha keras nulis lanjutannya... Dasar si Ann (:P) Trim ya... *cubit*

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP