A Lot Like Love (21)

>> Wednesday, April 11, 2012





Sincerity


KETIKA Kenneth tiba di ruang ICU, Chiyo sudah menunggunya. Duduk di salah satu bangku yang memanjang di depan dinding. Begitu melihat Kenneth dia segera berdiri, menunggunya mendekat.
“Bagaimana Neela?” tanya Kenneth segera. “Dia baik-baik saja?”
“Dia sudah dipindahkan ke ruangan lain,” beritahu Chiyo, tersenyum. “Dia baik-baik saja,” tambahnya, kentara sekali senang.
“Dia tidak—kakinya tidak apa-apa? Dia… bisa bergerak?” Kenneth menatap Chiyo penuh harap.
Chiyo mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. “Dia bergerak.”
“Dia… tidak cacat—maksudku, matanya tidak kenapa-kenapa? Dan dia bisa bicara?” Kenneth bertanya lagi.
“Dia normal, Kenneth.” Suara Chiyo kedengaran tercekat. “Matanya melihat. Telinganya mendengar. Tubuhnya…, baik-baik saja, cuma—” Kalimat Chiyo terputus, karena mendadak saja Kenneth mengembuskan napas tajam, seraya memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya, sejak hari pertama dia melihat Neela terbaring di tempat tidur rumah sakit, dia bisa mengembuskan napas lega. Amat lega. Seolah saja oksigen yang selama ini menipis di sekelilingnya telah kembali, dan melimpahinya dengan kesejukan. Neela selamat, sadar tanpa kurang suatu apa pun. Doanya didengar. Keajaiban terjadi. Benar-benar terjadi. Thanks, God.

“Dimana Neela sekarang?” tanya Kenneth, setelah dia membuka matanya.
“Dia masih… diperiksa lebih lanjut oleh Dokter,” jawab Chiyo. “Beberapa jam lagi, dia baru bisa ditengok.”
Kenneth ber-oh pelan. Kelihatan agak kecewa. “Eiji bersamanya?” tanyanya kemudian.
“Kau… ditunggu di ruangan Dokter Han.”
Kenneth mengerutkan dahi. “Untuk?”
“Ada yang hendak dijelaskan oleh Dokter Han. Eiji sudah di sana.” Chiyo berkata buru-buru sebelum Kenneth kembali mengajukan pertanyaan. “Sebaiknya cepat.”

Wajah Chiyo yang sebelumnya sumringah, berganti muram; kikuk. Membuat Kenneth seketika ragu. “Apa ada masalah?” dia bertanya.
Chiyo menggeleng cepat-cepat. “Tidak. Pergilah segera,” suruhnya buru-buru.
Kenneth mengangguk. Tersenyum, walaupun bimbang. “Oke. Aku pergi dulu,” ujarnya. Dan setelah itu berbalik. Pergi meninggalkan koridor luas bangsal ICU rumah sakit.

Eiji sedang berbincang serius dengan Dokter Han ketika Kenneth masuk ke dalam ruangan. Sempat menyuruh Kenneth duduk dikursi di sebelahnya, di depan meja dokter Han.

Sore de, Sensei, watasi-tachi wa dó surubekina ndarou ka?”—Jadi, Dokter, apa yang sebaiknya kami lakukan? Eiji bicara dalam bahasa Jepang pada dokter Han.

Dokter Han memaku matanya sejenak ke permukaan kaca meja kerjanya yang bersih, kemudian berkata, “Dai-san wa, kanojo o yobidashimasu. Kekkyoku, kono toki dake wa kare ga Nira San kioku sa rete iru tamedesu. Dare ga Nira San memori o kaifuku suru koto ga dekimasu kare to no kaidan de, shitte imasu.”—Panggil Tuan Dai. Karena bagaimana pun, saat ini cuma dia yang diingat oleh Nona Neela. Siapa tahu, dengan bertemu dengannya bisa memulihkan ingatan Nona Neela.

Shikashi, nani ga ato ni Níra wa futatabi subete o oboeru koto ga dekirudeshou ka?”—Tapi, apakah nanti Neela dapat mengingat semuanya lagi?

Dokter Han mengembuskan napas lagi. Agak berat. Membuat Kenneth semakin penasaran apa yang sebenarnya sedang mereka bahas. “Iyaa, hontondo no baai,”—Kemungkinan besar, tidak, kata Dokter Han, dengan tampang menyesal. “Like I’ve told you before, there will be some damage in her brain, that—”

Damage?” Kenneth menyambar. “What damage?” Dia panik. “Is something happen to Neela?”
She’s okay, Mr. Altis,” balas Dokter Han. “She’s in a great condition. A great shape… but, still, the crash has injured her brain, in this case, she has lost her memories.
What?” Kenneth memandang dokter Han dengan tatatapan tak percaya.
“Amnesia,” Eiji menjelaskan. “Neela tidak bisa mengingat apa pun. Tidak, selain Dai.”
Kenneth berjengit. “Dai? How come?
Apparently, Mr. Tanaka was the last person she’s been with before and during the accident,” jelas Dokter Han pada Kenneth. “So Miss Neela memories’ revolved around him.”
Kenneth mendengus sinis. “It’s impossible.”
And she has a switch memory.” Dokter Han berkata lagi.
Kenneth mengernyit tak mengerti.
“Maksudnya,” Eiji kembali menjelaskan, “dia hanya mengingat Dai dalam bentuk dan wajah, namun memorinya yang sebenarnya adalah saat dia bersama Shinji.”

Kenneth membuka dan menutup mulutnya tanpa suara. Dia tambah tak mengerti.

It means that,” Dokter Han kembali berujar, “she’s too, doesn’t remember anything about Mr. Tanaka, except his name, his face, and last memory she had with him. Because all her memories now refers to Shinji.”
Your suggestion?” tanya Kenneth lemah.
Ask Mr. Tanaka to see her,” saran dokter Han. “That’s my suggestion. Maybe he can help her regain her memories gradually.”
But… she’ll remember everything, will she?” Kenneth menatap memelas dokter Han, seolah dengan begitu, dokter Han dapat menjawab dengan optimis. “Someday… she’ll remember me…, Eiji, and every memory she has with us…?
I cant tell,” jawab dokter Han, tampak menyesal.
At least Neela’s fine, Ken.” Eiji meremas bahu Kenneth. “We’ll try, okay?

Kenneth tidak menjawab. Dia diam seribu bahasa dan membenamkan wajahnya sejenak ke kedua tangannya, sampai akhirnya dia mengangkat wajahnya lagi, dan bangkit berdiri dari kursi.

“Aku kembali ke hotel,” dia berkata pada Eiji. “I cant do this anymore.
“Ken…,” panggil Eiji, kala Kenneth berbalik pergi. “Kenneth.”

Kenneth tak peduli. Terus berjalan membelakangi Eiji dan dokter Han yang masih duduk di kursi masing-masing, menuju pintu ruangan yang menutup. Gusar, dia meraih gagang pintu dan menariknya membuka, dan membantingnya menutup saat dia sudah berada di luar ruangan.

Di luar Kenneth berteriak keras. Tak menghiraukan orang-orang yang kaget dan memandanginya dengan bingung, baru setelah itu, berjalan cepat melewati koridor, menuju lobi rumah sakit.
Finally.” Marin nyengir, duduk di sofa bean bag di tengah ruang tamu. Travel bagnya teronggok di sebelahnya. “You’re home.”

Kenneth membuka mantelnya. Menyampirkannya di lengan sambil berjalan menghampiri Marin. Satu tangannya di saku celana. “Kau mau kemana?” tanyanya heran.
“Pulang,” jawab Marin, tersenyum lebar. “Sudah lebih dari seminggu aku di sini. Time to go home.”
Kenneth memalingkan wajahnya sejenak dan mendengus pelan. “Kau pasti marah padaku…” ujarnya saat dia menatap Marin lagi. “aku sama sekali tidak memerhatikanmu selama di sini.”
Marin menggeleng buru-buru. “Jangan berkata begitu. Aku sudah cukup terhibur kok ditemani oleh Arata—dia tampan sekali.” Marin terkikik, dan Kenneth mendengus geli. “Lagipula, ayahku mengkhawatirkanku,” lanjut Marin. “juga… kangen padaku. Jadi dia memintaku untuk segera kembali ke Jakarta. Hari ini… aku memutuskan pulang. Tiket sudah dipesan, kau tidak perlu cemas.”
“Kau tidak mengatakan apa pun padaku.” Kenneth mengedikkan bahu. Menunduk sambil menyapu rambutnya ke belakang dengan jemarinya.
“Karena aku pikir… kau sangat sibuk dengan urusan Neela.” Marin berdiri dari sofa bean bag, berdiri tegak di hadapan Kenneth.
“Aku managermu Marin,” timpal Kenneth. “Kau tetap tanggung jawabku.”
“Jangan merasa bersalah…” tandas Marin cepat. “Kau sedang sangat sedih. Dan aku mengerti. Aku menyerah kalah.” Marin menyunggingkan senyum yang kelihatan sedih.
“Marin…” Kenneth tampak merasa bersalah.
“Bagaimana pun…, aku tak bisa bersaing dengan Neela.” Dia mendesah, menatap Kenneth dengan tatapan sayu. “Senang sekali rasanya bisa dicintai begitu besar olehmu.” Dia menunduk dengan kedua pipinya yang merona. Tapi ekspresi itu seketika hilang ketika dia kembali mendongak dan meninju bahu Kenneth keras-keras. “Kau laki-laki menyebalkan,” gerutunya, sementara Kenneth meringis kesakitan.
“Aku tidak mengerti dirimu,” tukas Kenneth, memandangnya ngeri.

Tiba-tiba Marin memeluknya erat. Mengusap-ngusap punggung Kenneth dan menepuk-nepuknya.
“Kau ini apa-apaan?” kata Kenneth bingung. “Lepaskan aku.”
“Aku hanya ingin menghiburmu,” kata Marin, mengeratkan pelukannya. “Aku ingin mengatakan, berjuanglah demi cinta.”—Kenneth membelalakkan mata—“Jangan pernah mundur, karena cinta begitu berharga. Aku yakin… Neela akan menyadari kalau dia sangat mencintaimu.”

Tidak tahu kenapa kata-kata Marin membuat hati Kenneth seketika terasa sejuk. Kepalanya terasa lebih ringan daripada sebelumnya. Kata-kata yang sederhana itu… yang pasti biasa saja kalau didengar oleh orang lain.

“Perempuan mana pun yang menolak cintamu itu bodoh,” tambah Marin lagi, membuat Kenneth terkekeh. “Jadi,” Marin meregangkan pelukannya, menyipitkan mata memandang Kenneth, “andaikan nanti kau gagal mendapatkan Neela, kau tetap lebih pintar daripada dia.”
Kenneth tergelak, sementara Marin mengulum senyum. “Thanks,” kata Kenneth setelah tawanya reda. “Means a lot.”
Marin mengangkat bahu sekilas. “Semangat, oke. Aku doakan Neela pulih seratus persen, agar kau sempat mengatakan perasaanmu padanya.”

Dia sudah pulih, Marin, gumam Kenneth dalam hati. Tapi aku tidak tahu apa aku sempat mengungkapkan perasaanku padanya, kalau dia saja tidak bisa mengingatku.

“Aku pergi dulu,” kata Marin, menepuk bahu Kenneth dua kali. “Baik-baiklah di sini.”
“Aku antar.” Kenneth hendak mengenakan mantelnya lagi.
“Tidak usah,” tolak Marin cepat-cepat. “Kau istirahat saja. Sudah lama kau tidak istirahat. Aku… sudah ada yang antar.” Dia tersenyum genit.
Kenneth memasang tampang heran. “Siapa?”

Tepat saat itu, pintu diketuk dari luar, kemudian didorong membuka. Arata masuk, dan menyunggingkan senyum manis sambil mendekat. Saat dia sampai di depan Kenneth, dia membungkuk hormat. “Tuan Kenneth,” sapanya ramah. “Anda di sini?”
“Ya,” angguk Kenneth. “Saya ingin istirahat sebentar, sebelum kembali ke rumah sakit.”
Arata mengangguk, dan kembali berkata, “Saya akan mengantar Nona Marin ke airport. Tuan Eiji sudah tahu.”
“Oh.” Kenneth mengerling Marin yang menggigit bibirnya, tampak ceria. “Oke. Terima kasih kalau begitu.”
Arata mengangguk lagi, kemudian mengarahkan pandangannya pada Marin. “Anda sudah siap, Nona Marin?” dia bertanya sopan.
“Apa sulit sekali untukmu memanggilku dengan ‘Marin’ saja tanpa embel-embel ‘Nona’?” Marin bersungut-sungut. “Aku bahkan lebih muda darimu.”

Kenneth cepat-cepat merubah dengusnya menjadi deham kecil yang dipaksakan.

“Saya ambil travel bag Anda dulu.” Arata mengabaikan kata-kata Marin sebelumnya, melangkah maju, dan meraih travel bag di samping sofa bean bag, dan kembali lagi. “Saya akan menunggu Anda di luar,” dia berkata pada Marin. Mengangguk pada Kenneth, sebelum akhirnya berlalu dengan travel bag tertenteng di satu tangannya.
“Kau suka Arata?” kekeh Kenneth, menggeleng tak percaya. “You’re hopeless.
Marin cemberut. “Diamlah,” timpalnya sengit.  Namun kemudian senyumnya kembali, dan dia mengucapkan kata perpisahan. “Sampai ketemu di Jakarta, Kenneth. Dan aku berharap secepatnya.”
“Aku harap juga begitu. Aku akan minta tolong Malini untuk menggantikanku sementara.”
Marin menggeleng panik. “Oh, please, jangan dia.”
“Kenapa?”
“Dia galak.”
“Dia galak untuk kebaikan,”—Marin langsung ungu—“Neela juga dimanajeri olehnya. Shinji, Lea… Dan tak satu pun dari mereka yang mempermasalahkan sikap tegasnya. Kau juga sempat bicara dengannya kan?”
“Dia menakutkan,” komentar Marin. “Apa tidak ada yang lain?”
“Hanya Malini yang bisa kupercaya.” Kenneth tersenyum geli. “Tenang saja. Aku yakin… kau bisa bekerja sama dengannya.”
Marin mengempaskan pundaknya yang tegang. “Oke,” ujarnya. “Mau bagaimana lagi?”

Keduanya terdiam sejenak.

Bye, then.” Marin merentangkan tangannya lebar-lebar, memeluk Kenneth beberapa saat. “Be tough.”
Kenneth menempelkan bibirnya di rambut Marin, memberikannya kecupan kecil yang lembut. “Thanks,” ucapnya. “Be careful.”
Marin melepaskan pelukannya, dan mundur satu langkah. Tersenyum manis. “Hari ini… aku melepasmu.” Dia menatap Kenneth dalam-dalam. “Aku relakan dirimu… untuk mencintai orang yang sepantasnya.”
Kenneth menggeleng, seraya melebarkan senyumnya.

“Aku akan kembali ke Jakarta, dengan tangan kosong, dan hati yang remuk. Tapi tak mengapa… selama kau… bahagia.”

Kenneth memandang Marin penuh arti, sementara gadis itu berkaca-kaca di hadapannya.

“Kau… cinta pertamaku,” kata Marin lagi. “Dan aku… akan secepatnya menggantikanmu dengan cinta kedua, ketiga, keempat, dan selanjutnya, sampai aku menemukan cinta yang lebih segalanya darimu.”
“Dan aku berdoa, kau akan menemukannya secepatnya,” timpal Kenneth.
“Itu lirik lagu.” Marin mencibir. “Yang barusan kukatakan padamu itu lirik lagu, bukan jeritan hatiku untukmu,” protesnya, membuat Kenneth menganga. Kemudian dia mendengus. Menatap Kenneth dengan tatapan jengkel, dan berkata keras, “Ge-er!”, lalu menyandangkan tasnya di pundak. Berbalik, dan berjalan cepat-cepat menuju pintu. Menghilang di baliknya seiring pintu menutup di belakangnya, meninggalkan Kenneth yang membeku di tengah ruangan. Kebingungan.

“Aku benar-benar tidak mengerti dirinya,” dengus Kenneth. Geli. 
Tapi Kenneth tetap tak bisa memungkiri, kalau malam ini Marin telah mengajarkan sesuatu padanya: ketulusan.
(Bersambung)
...

9 comments:

-------------- April 12, 2012 at 5:26 AM  

ampun ojaan -____-
makin ruwet .. *penasaran*

feby prinadewi,  April 12, 2012 at 7:34 AM  

wah..wah..wah..tmbah penasaran aj ma neh cerita..semangat mba Lit ^_^

Rona Nauli April 12, 2012 at 12:32 PM  

hohoho...mana lanjutannyaaaa....cepatlah, Lita...:D

Rusyda Fauzana April 12, 2012 at 3:13 PM  

Mbaaaa, aku tergugah dan terharu justru gara-gara efek backsound music-nya blog Mba Lita hahaha...

Gloria Putri April 13, 2012 at 8:18 AM  

apa apaan? mmori nya shinji tp wajah dan fisiknya Dai? awww mbaaaa.... you make it complicated now...

Rusyda Fauzana April 15, 2012 at 11:34 PM  

Hi Mba Lita, I'm waiting ur story. Keep writing yaaa...

Nonanovnov April 16, 2012 at 11:01 AM  

Waaa, uda 21 aja, ketinggalan banyak ni *buru-buru baca*..

Mmm, dari awal udah menarik banget loh Mbak, aku nikmatin bgt gaya berceritanya, jd nebak-nebak endingnya nih (soalnya aku pernah nonton atau baca apa gitu yg kisahnya amnesia begini mbak), wish an unpredictable ending yak, mbak. I know u can. Cause u have the passion on it :)) Ditunggu lanjutannya, mbak..

ann April 22, 2012 at 1:58 PM  

Hi mba, pa kabar? Lama ngga tengok blog mba lita setelah kepergian shinji yg menyayat hati, dan wow.. Produktif banget! Makin mantab deh.. Pinjem istilah juri Idol, Standing aplause buat mba lita, klu novelnya jadi, aku yg pertama beli..

"A lot like love" aku lahap habis, nunggu pesawat delay semalem, hingga posisi udah di atas kasur ampe ketiduran.. Paginya sambil sarapan akhirnya kelar juga baca..

Skr mba lita musti tanggung jawab, aku addicted, lebih dari lita's stories series yg lain.. Can't wait! Hurry up ya mba.. :)

Lita April 22, 2012 at 11:10 PM  

@Ann: terima kasih ya Ann. Sudah mampir dan suka lagi sama 'bebi'ku A Lot Like Love.

Btw, aku udah posting. Semoga kamu tetap baca ya... sampe akhirrrrrr...

Sekali lagi, thank you Ann. Thanks for being addicted to my stories.

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP