A Lot Like Love (20)

>> Monday, April 9, 2012






Conscious


SAAT Dai siuman, sudah sehari terlewati. Dan hal pertama yang diingatnya adalah Neela. Neela yang terlempar dari motor ketika kecelakaan itu terjadi; begitu cepat, tanpa bisa dihindari sedikit pun.

“Dia kritis.” Mamoru, sepupunya dan juga orang kepercayaannya, memberitahunya, keesokan pagi, ketika Dai benar-benar sudah cukup fokus untuk bicara. “Kepalanya terbentur aspal jalan, membuatnya tak sadarkan diri seketika. Saat ini Dokter menyatakan dirinya koma.”

Dai syok mendengarnya. Jelas. Karena dialah yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi. Melanggar lampu merah karena berpikir jalan raya begitu lengang, tanpa menyadari kalau dari arah kiri, sebuah mobil boks sedang melaju kencang, dan tanpa ayal, menghantam motor yang dia kendarai. Membuatnya terseret beberapa meter dari titik kecelakaan bersama motornya, sementara Neela terlontar ke udara, dan mendarat dengan kepala lebih dulu di permukaan aspal yang keras.

Dia ngeri membayangkannya.

“Aku segera menelpon Eiji Kodame,” kata Mamoru, beberapa menit setelahnya. Dai segera mendongak, menautkan alisnya. “Aku pikir… aku harus memberitahunya, meskipun… dia tentunya sudah tahu mengenai kecelakaan itu dari berita di televisi.”
“Apa reaksinya?” Dai mengejap lemah.
“Tenang. Khas Eiji,” jawab Mamoru. “Dia bahkan berterima kasih karena aku telah memberitahunya. Sempat menanyakan keadaanmu—” (Dai berjengit)—“dan mengatakan akan secepatnya kemari. Namun…” Mamoru mengedikkan bahu, “sampai sekarang…, dia belum datang.”

Dai mengempaskan punggungnya ke bantal di belakangnya—tempat tidurnya telah disetel sedemikian rupa hingga memudahkannya untuk duduk bersandar tanpa harus susah payah mengangkat punggung—dan bertanya-tanya, kenapa Eiji Kodame bisa begitu tenang menyikapi kejadian ini. Kejadian yang bukan kejadian yang bisa disikapi dengan tenang, karena melibatkan orang yang disayanginya.

“Aku ingin melihat Neela.” Dai bergeser tiba-tiba. Hendak turun dari tempat tidurnya.
“Dia masih di kamar ICU. Belum boleh ditengok oleh siapa pun,” jelas Mamoru. “Jadi sebaiknya, sampai Dokter memperbolehkan, kau istirahat saja dulu. Lagipula, kondisimu masih belum pulih benar.”
Dai menggeleng. Dia sudah setengah jalan turun dari tempat tidurnya, sambil berkata, “Aku harus melihatnya,” dengan tegas, tanpa memandang Mamoru, yang akhirnya, karena tak bisa membantah, membantu Dai berdiri.
Kau harus istirahat,” gelegar suara yang datang dari arah pintu tiba-tiba.
Spontan, baik Dai atau Mamoru mengarahkan mata pada si pemilik suara yang dengan langkah ringannya berjalan mendekat. Dai melengos, sementara Mamoru, segera melepaskan tangannya dari Dai, dan membungkuk penuh hormat pada laki-laki paruh baya yang sekarang berdiri hanya berapa senti di dekatnya.
“Sudahlah, Mamoru,” kata laki-laki itu mengibaskan tangannya. Senyum kecil tersungging di bibirnya. “Tidak perlu formal begitu.”
Mamoru mengangguk, tampak malu, dan buru-buru menegakkan badannya. Setelah itu dia mundur beberapa langkah, memberikan ruang bagi laki-laki tersebut dan Dai untuk bicara.

“Ayah…” sapa Dai enggan. “Ayah di sini?”
Yasuhiro Tanaka, ayah Dai, yang sosoknya penuh kharisma dan mengundang rasa hormat itu, mendengus tersenyum mendengar pertanyaan putranya. “Tentu saja aku harus ada di sini,” katanya. “Kau putraku… Putra tunggalku malah. Kau kecelakaan, tentu saja aku harus berada bersamamu. Bukankah itu kewajibanku?”
“Bukankah biasanya kau mengutus ibu untuk melihat keadaanku?” balas Dai, menyipitkan sebelah mata.
“Kali ini… aku yang datang.” Yasuhiro tersenyum menenangkan. “Ibumu terlalu terguncang untuk datang kemari. Selain itu, aku juga sangat mencemaskanmu.”
“Bukankah sangat terlambat untuk itu?”
“Tidak ada kata terlambat untuk menunjukkan perasaan sayang pada anak sendiri. Bagaimana pun, aku harus berada di sini. Untukmu.”
“Aku tidak perlu dirimu, Ayah. Sejak kau membuatku harus tinggal bersama kakek di Amerika…, aku tidak lagi memerlukanmu.”
Yasuhiro tersenyum lemah. “Kesalahan orang tuakah…, kalau menghindarkan anaknya dari sesuatu yang merusak?”
“Nyatanya… aku kembali ke Indonesia untuk bergabung dalam sesuatu yang merusak itu kan?” Dai menatap ayahnya lekat-lekat. “Apalagi dalihmu? Kenapa kau tidak jujur saja, kalau kau memang tidak ingin aku berada di dekatmu? Tidak usah sok—”
“Apa pun opinimu,” Yasuhiro memotong, “untuk saat ini, simpan untuk dirimu sendiri. Mamoru…” Yasuhiro memutar tubuhnya sedikit, “tolong bantu Dai berkemas. Kita akan pergi.”
Mamoru mengangguk, segera berjalan keluar meninggalkan kamar, mungkin hendak memanggil perawat, tapi Dai yang kelihatan kaget dengan pemberitahun Yasuhiro langsung protes. “Pergi kemana?” tanyanya, panik. “Aku… tidak bisa pergi.”
“Aku sudah bicara dengan dokter, dan beliau menyatakan kalau luka-lukamu tidak terlalu mengkhawatirkan; akan pulih dalam hitungan hari. Jadi… tidak masalah kalau kita meninggalkan rumah sakit secepatnya,” kata Yasuhiro cepat. “Aku akan mempekerjakan perawat untuk merawatmu.”

Mamoru telah kembali bersama dua orang perawat perempuan. Salah satunya mendorong kursi roda.

“Aku ingin melihat Neela. Aku tidak akan pergi sebelum aku melihatnya.” Dai mendorong badannya ke belakang. Duduk di tengah kasur tempat tidurnya.
“Dia akan baik-baik saja,” kata Yasuhiro tenang. “Sudah ada Eiji Kodame yang mengurusnya.” Yasuhiro mengedikkan kepalanya pada Mamoru, sebagai tanda agar Mamoru membantu Dai bangkit dari tempat tidurnya.
“Ayah bertemu Eiji Kodame?” Dai menepis tangan Mamoru, yang berusaha merangkulnya.
“Ya,” angguk Yasuhiro. “Kami berbincang mengenai beberapa hal, dan menyepakati beberapa hal. Salah satunya, kau harus dipindahkan segera dari rumah sakit ini—”
“Memang siapa dia bisa mengaturku?!” teriak Dai murka, membuat kedua perawat yang berada di depan tempat tidurnya terlonjak kaget, dan meringis ketakutan.
“Dia orang nomor dua di Yakuza Kodame tahun ini,” jawab Yasuhiro ringan. “Dia punya kuasa lebih besar dari sebelumnya, dan bersungguh-sungguh saat mengatakan kalau dia tidak akan segan-segan menyakiti ibumu kalau kau masih berusaha mencelakai Neela—”
“Aku tidak berusaha mencelakainya!”
“—atau mendekatinya.” Yasihiro sama sekali tidak menghiraukan kata-kata Dai. “Dia tidak mau, kau berada di dekatnya lagi, apa pun situasi dan kondisinya.”
“Dan Ayah setuju?” Tampang Dai saat memandang ayahnya seolah saja ayahnya telah melakukan sesuatu yang hina.
“Tentu saja Ayah setuju.” Yasuhiro balas memandang Dai seakan saja Dai sinting. “Ibumu dalam bahaya, begitu juga dirimu. Ayah tidak mau kehilangan anak satu lagi hanya karena masalah yang tak jelas awal-mulanya.”

Mulut Dai menganga. Dia tak habis pikir pada ayahnya, yang dipikirnya amat pengecut karena takluk begitu saja dengan gertakan kosong Eiji Kodame. Menurut Dai, Eiji Kodame dengan sikap tenang dan tingkat kesopanannya yang tinggi, tidak mungkin dapat melakukan sesuatu yang dapat membahayakan nyawa orang lain.

“Aku tidak mau pergi.” Dai tetap pada pendiriannya. “Aku harus melihat Neela dulu.”
“Ayah sudah katakan padamu—”
“Meskipun begitu,” sambar Dai, membeliak pada ayahnya, “aku ingin memastikan kalau dia baik-baik saja. Aku bertanggung jawab atasnya. Karena aku…, dia mengalami kecelakaan.”
“Dia akan baik-baik saja,” Yasuhiro menatap putranya penuh keprihatinan. “Mulai detik ini, kau tidak boleh memikirkan gadis itu lagi, Dai, atau kau…, harus berakhir seperti adikmu. Gadis itu… di luar jangkauan tanganmu. Tolong… mengertilah.”

Hati Dai serasa kosong. Kepalanya kosong. Seluruh badannya kosong. Yang ada sekarang, sepertinya hanya udara dingin menusuk yang hendak membekukan dirinya dari dalam. Entah kenapa, untuk pertama kali dalam hidupnya dia merasa ketakutan. Sepertinya saja, ajal telah menunggu hanya beberapa jengkal di depan. Dia merasa terancam, namun bukan terancam oleh sesuatu yang bisa membunuhnya sewaktu-waktu. Dia akan kehilangan Neela, itu membuatnya entah kenapa merasa gamang. Ayahnya dan Eiji akan memisahkannya dari Neela. Dia tidak akan bisa bertemu Neela lagi. Demi Tuhan… dia tak bisa. Dia bisa… mati.

“Aku…” Dai menelan ludah susah payah. “tidak akan pergi.” Matanya seketika memerah. Dia mati-matian mengendalikan diri agar tidak menangis, sebagai puncak luapan emosinya yang perlahan naik ke ubun-ubun kepalanya. “Ayah harus menyeretku… untuk membuatku keluar dari kamar ini.”

Yasuhiro memandang Dai dengan tatapan yang sama seperti sebelumnya. Mengembuskan napas berulang kali, sebelum akhirnya berkata, “Aku tidak perlu repot-repot menyeretmu,” dengan senyum kecil yang dipaksakan. “Pegangi dia Mamoru,” angguknya pada Mamoru, yang tampak bingung pada awalnya, namun segera melakukan perintahnya. Mencengkeram bahu Dai, dan memiting tangannya ke belakang dengan cepat, sebelum Dai sempat mengelak.
“Apa-apaan…?” Dai berusaha berontak. “Mamoru…, lepaskan aku…”

Yosuhiro mundur beberapa langkah ke belakang, menampilkan sosok seseorang yang baru saja muncul dari ambang pintu kamar. Dai melotot. Kaget melihat salah seorang anak buah kepercayaan Eiji Kodame, yang bernama Arata Noh berjalan mendekatinya. Wajahnya tanpa ekspresi, bahkan ketika dia membungkuk hormat di depan Dai dan mengucapkan, “Maafkan saya, Dai San,” dengan suara tenang yang berat.
“Untuk apa dia di sini?” Dai berteriak pada Yasuhiro yang hanya menghela napas. Tak menjawab. “Ayah! Kenapa Ayah diam saja?”

Rasa nyeri seperti tertusuk mendadak terasa di bagian samping leher Dai. Dan seketika, sebelum dia sempat menyadari apa yang sebenarnya terjadi, kepalanya sudah tertunduk lunglai tanpa daya. Dan dia kembali ke alam hitam mimpi yang tak berujung.
...

Konser kolaborasi Neela bersama Kotaro Fukuma dipastikan batal. Sudah hampir satu minggu sejak kecelakaan yang menimpanya terjadi, dan Neela sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan siuman. Dan Kenneth, sebagai mantan manajernya, mewakili Malini yang tak bisa datang ke Jepang mengumumkan pembatalan tersebut secara resmi pada Konferensi Pers yang dihelat untuk kedua kalinya, setelah yang pertama diadakan dua hari setelah kecelakaan terjadi.

Kali ini Kenneth tidak berlama-lama bicara di depan wartawan. Segera berlalu meninggalkan ruangan tempat berlangsungnya konferensi pers, tanpa memedulikan teriakan kecewa para wartawan di balik punggungnya, dan bergegas pergi dengan mobil yang mengantarnya. Dia malas mendengar pertanyaan seputar Neela, seputar kecelakaan, terutama seputar laki-laki misterius yang dikabarkan bersamanya saat kecelakaan. Meskipun dia, dengan saran Eiji, telah mengatakan pada jumpa pers pertama bahwa laki-laki tersebut tak lain adalah pengawal Neela yang selama ini selalu bersamanya saat di Jepang, Pers tampaknya tidak begitu saja percaya. Tetap penasaran dan mengorek informasi dari mana pun mengenai identitas laki-laki tersebut; dari rumah sakit, polisi, yang tetap saja bungkam. Tak buka mulut sama sekali.

Eiji telah menutupinya dengan begitu rapi, Kenneth mengakui. Dia… benar-benar handal menutupi semuanya. Terutama jati dirinya.

Yakuza. Mendengarnya saja Kenneth sudah merasa tak enak hati, apalagi kalau harus dekat-dekat dengan mereka. Tapi nyatanya, selama ini dia telah bergaul cukup dekat dengan salah satunya. Dengan Eiji. Dengan Shinji, yang walaupun dikatakan sama sekali tidak terlibat dengan organisasi kriminal tersebut, tetap saja adalah bagian dari mereka. Shinji bukan sekadar anggota biasa. Dia punya darah mereka. Untuk itu, Kenneth tak bisa memercayainya. Tapi, dia juga tidak bisa menghakimi Eiji atau pun Shinji begitu saja, karena tak bisa dipungkiri, mereka adalah orang-orang baik. Yah setidaknya terhadapnya dan Neela—namun tetap saja, hal itu tidak bisa meredakan kemarahan Kenneth pada Eiji saat Eiji dengan amat terpaksa memberitahu Kenneth, siapa dia sebenarnya, dan alasan, mengapa Neela bisa bersama Dai di pagi hari perayaan Natal. Kenapa Dai sangat berusaha mendekati Neela, dan apa hubungan Dai dengan dirinya.

Neela akan berada dalam posisi yang sulit, kalau kau sampai memberitahukan Pers kalau Dai Tanaka-lah laki-laki yang bersamanya saat kecelakaan tersebut,” kata Eiji beberapa waktu lalu pada Kenneth sebelum dia menggelar jumpa pers yang pertama. “Setahuku, menjadi teman seorang Yakuza, terutama ketahuan bermalam bersamanya, bukanlah sesuatu yang membanggakan,” tambahnya lagi. “Karir Neela akan terancam, begitu pun dirinya, karena jujur saja, banyak orang yang tidak menyukai Dai.”

Bermalam. Kenneth sampai sekarang, sangat sulit menghilangkan kata tersebut dari benaknya. Rasa cemburu, sedih dan marah akan menelusup ke semua pori-porinya kapan pun dia teringat kata tersebut. Bayangan Neela bersama Dai, berkelebatan di depan matanya.

Suara ponsel, memenuhi seisi mobil. Kenneth cepat-cepat menekan salah satu tombol dan menempelkannya di telinga.
Dimana kau sekarang?” Suara Eiji terdengar dari ujung telpon. Separo cemas, separo antusias.
“Aku dalam perjalanan ke rumah sakit.”
Kalau begitu cepatlah,” kata Eiji. “Neela sudah sadar.

Mata Kenneth melebar mendengarnya. Mulutnya membuka menutup tanpa ada satu kata pun terucap. “Ba-baiklah,” semburnya susah payah.
Setelah itu Eiji menutup telpon, dan Kenneth bengong dengan ponsel masih melekat di telinga kanannya. Mengerutkan bibirnya, menggigitnya, membukanya, menutupnya—apa pun yang bisa membuatnya bertahan untuk tidak menangis.

Beberapa hari ini, dia berupaya keras menahan kesedihannya. Menampilkan wajah tanpa emosi pada siapa pun yang memandangnya. Ingin kelihatan tegar dan kokoh, kendati sebenarnya dia merasa hampa. Kendati dia merasa terpukul.

Neela dinyatakan koma, dan kemungkinan takkan tertolong. Itu menurut Dokter yang merawatnya selama di rumah sakit. Benturan di kepalanya terlalu keras, hingga meretakkan tengkorak belakangnya. Andaikan dia hidup, otaknya tak akan berfungsi dengan baik, dan dia bisa saja lumpuh. “Hanya keajaiban dan doa yang mungkin bisa meruntuhkan prediksi itu,” tambah Dokter Han, Dokter yang menangani Neela selama di rumah sakit.
Dan Kenneth pun berdoa. Sebanyak yang dia bisa, selama yang dia mampu. Setiap detik, menit, jam, hari—terus berdoa. Meminta pada Tuhan agar Neela terbangun, dan tetap dalam kondisi normal seperti biasa. Berjanji dalam hati, kalau dia akan menjaga Neela dengan baik bila ia sadarkan diri nanti.
Doanya terkabul. Dan sekarang, dia butuh berdoa satu kali lagi, agar nanti, saat dia melihat Neela, Neela akan baik-baik saja. Tidak lumpuh, tidak cacat mental seperti apa yang dikatakan Dokter Han.

Please, God.

(Bersambung)
...
Gambar dari sini
I do love you. I've just realized it.

8 comments:

-------------- April 9, 2012 at 11:34 PM  

mbak, pada bgyan ini
' Konser kolaborasi Neela bersama Kotaro
Fukuma dipastikan batal. Sudah hampir satu
minggu sejak kecelakaan yang menimpanya
terjadi, dan Neela sama sekali tidak
menunjukkan tanda-tanda akan siuman. Dan
Kenneth, sebagai mantan manajernya, mewakili
Malini yang tak bisa datang ke Jepang
mengumumkan '

gada yg perlu di typo kah? are you sure put malini between those words? O.o

cacat mental..mmm

Rusyda Fauzana April 10, 2012 at 12:20 AM  

Mba, alur ceritanya cepat sekali... Satu kejadian singkat langsung digantikan oleh kejadian yang lainnya. Tampaknya klo bikin cerbung memang begitu ya polanya.

Bener deh, aku nggak bisa nebak mau dibawa kemana cerita ini. Kayaknya otakku belum cekatan berimajinasi 'complicated' untuk urusan alur fiksi.

Apa yang Mba lakukan ketika merancang cerita ini? banyak-banyak mengkhayal? atau baca2 novel dan nonton film?

Yakkk... aku jadi pembaca setia dulu deh :)

dinar April 10, 2012 at 11:07 AM  

mbak,semangat ya bikin lanjutannya,plissss dibanyakin ya,jgn cpt nyambung lg,pembaca setia penasaran dan tidak puas,hehehehehe...ngomong gampang ya mbak aku ini,tp thx ud bikin crita yg menarik n mhibur!ciayo mbak!!!

feby prinadewi,  April 10, 2012 at 2:02 PM  

Mba lit..dulu lea smpe chapter 38 kan, nyayian sendu 21..AL3 jng cpet'' abis yah,hehehe..ending dai'y jng jd galau yah, kasiannn ^_^ happy ending dunkss, gpp nella ma kennet, ntr dai ma aq aj..*huekss.menghayal tingkat dewa,hahaha...

Lita April 10, 2012 at 5:06 PM  

@Gita: i really mean to put 'malini' between, Git.

@Rusyda: gayaku nulis memang gitu, Rus. Singkat, tapi berhubungan satu sama lain. Dan aku gak suka ceritaku bisa ditebak sebelum end, jadi aku selalu cari topik yang lain dari yang lain. mudah2an berhasil ya. Hihihi. Thank you ya, Rus, selalu jadi pembaca setia. Mudah2an sampai AL3 end, ya... Domo, Rusyda chan.

@Dinar: Aduh, si centil ini. Kamu ngikutin juga toh, Dee? Makasih ya. Iya deh, nanti aku cepetin postingannya. Masalah panjangin apa nggaknya... Hehehe... tergantung isi kepala nih *ngetok jidat*

@Feby: Mudah2an AL3 bisa ending dengan manis ya, By. Dai seneng, Kenneth seneng, Neela seneng, semua seneng. Hag hag hag. Masalah chapnya sampe berapa... ya mudah2an gak panjang2 banget, dan gak gantung karena maksain abis. Thanks ya, Feb... Kita lihat, siapa yang bakal jadi 'rumah' Neela nantinya.

outbound malang April 11, 2012 at 10:48 AM  

kunjungan gan .,.
bagi" motivasi
Saat kamu menemui batu sandungan janganlah kamu ptus asa,
karena semua itu pasti akan ada solusinya.,.
si tunggu kunjungan baliknya gan.,

dinar April 11, 2012 at 12:11 PM  

cerita mbak lita itu seru,romantis,n bikin deg2an,tetep ngikutin wlau mgk jrg kasih komen hehehehe...aku beneran nunggu semua ceritanya mbak lita dibukukan lho,dr Lea,Nyanyian Sendu,ma AL3...
Smoga otaknya mbak lita tmbh penuh dikasih ide yg bnyk buat bikin lanjutannya n tiap bkin crita2 yg lainnya ntar biar panjang2 tiap episode.......aminnnnn
btw aku pgemar berat dai ni jadinya,gak suka cristian sugiono c....jd g suka kenneth

Gloria Putri April 11, 2012 at 1:28 PM  

to Dai : i do love u.. i just realized it... whuhuhu.....Dai buat aq aja deh mbaaaaaaaa

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP