A Lot Like Love (23)

>> Sunday, April 29, 2012

A Lot Like Love (23)



Bizarre Love Triangle


RATUSAN blits kamera berkelebatan menyerang Kenneth dan Neela yang baru saja melintasi ambang gerbang kedatangan Internasional Bandara Soekarno-Hatta. Para wartawan dan juga para penggemar adu teriak di sekeliling keduanya. Memanggil-manggil nama Neela atau Kenneth, berharap keduanya mengarahkan pandang sekilas.
Neela kelihatan sekali bingung—juga syok. Dia menunduk dalam-dalam, tak berani mengangkat wajah sama sekali. Mendekap jaket jins hijaunya erat-erat sampai buku-buku jarinya memucat, sementara kursi roda yang didudukinya melaju ke depan, menyongsong kerumunan di depannya. Kenneth, yang menyadari kecemasannya, berusaha mendorong kursi roda tersebut secepat yang ia bisa.
Untungnya pihak keamanan Bandara sangat sigap dalam mengatasi kehebohan itu. Mereka membantu Kenneth dan Neela menembus keramaian menuju mobil yang menjemput tanpa halangan sama sekali; menghalau para wartawan yang berusaha mendekat, ketika keduanya sedang berupaya memasuki mobil van perak di ujung teras lobi, sampai akhirnya kendaraan tersebut berlari pergi.
Malini sudah menghubungi pihak Bandara tentu saja. Juga Kenneth, yang sebelum berangkat ke Jakarta telah mengirimkan surat permohonan dan juga menelpon langsung kepala keamanan Bandara, yang menyanggupi permintaannya dengan senang hati. Dia telah memprediksi keadaan seperti ini pasti akan terjadi, akibat minimnya informasi mengenai kecelakaan Neela serta kondisinya semasa di Jepang hampir satu bulan ini.
Dan sekarang, keduanya kembali ke Jakarta, wartawan pasti telah amat bersiap-siap, begitu pun penggemar Neela, yang sejak hari pertama ia kecelakaan sampai saat ini terus menggaungkan kata penyemangat dan ucapan untuk Neela agar segera sembuh dengan tidak putus-putusnya.
Sayangnya, Neela yang sekarang tidak terlalu peduli dengan perhatian-perhatian semacam itu. Di pikirannya hanya satu, memastikan kalau Dai masih hidup, tanpa kurang suatu apa pun.

“Aku tinggal di sini?” Neela memandang sekeliling ruang tengah rumah Kenneth. “Sejak kapan?” Dia melempar pandang pada Kenneth yang baru kembali dari dapur, membawakannya segelas air putih dingin, lengkap dengan pipet. Saraf tangan Neela agak terganggu akibat kecelakaan sebulan lalu; gemetar apabila memegang benda apapun dalam waktu yang lama.
“Sejak…” Kenneth membantu Neela memegang gelas air putihnya, “lima tahun lalu… Setelah kau pindah ke Jakarta, dan mulai serius di musik.”
“Dai?” tanya Neela, setelah dia menyedot sedikit air putih menggunakan pipetnya. “Apa dia ikut? Atau… dia tetap di Bali?”
Kenneth menghela napas amat perlahan, berusaha keras membesarkan hati. Dia kesal sekali—amat kesal, karena hanya Dai yang terus-terusan disebut oleh Neela semenjak dia siuman sampai dengan sekarang. Ditangisi. Dicemaskan.
Kenneth tahu benar, kalau Neela bingung, dan tidak benar-benar mengingat Dai selain nama dan sosoknya; paham kalau Shinjilah yang sebenarnya diingatnya, namun, tetap saja itu menyakiti hati Kenneth. Karena bagaimana pun, kedua laki-laki itu jelas bukan dirinya. Dirinya, yang mencintai Neela, dan rela berada di sampingnya dalam kondisi sulit seperti sekarang.
“Dai tinggal di Bali.” Kenneth tersenyum menenangkan. Menjauhkan gelas air dari Neela, dan meletakkannya di meja ruang tamu. “Apa kau ingat Eiji sekarang?”
Neela meringis seperti orang yang amat kesakitan, dan menggeleng pelan. “Tidak,” katanya lemah.
“Kalau kau ingat Dai…, kau pasti ingat, kalau Eiji juga tinggal di rumah pantai itu. Bersamanya.”
Dahi Neela mengerut. “Aku tidak ingat kalau ada orang lain di rumah itu. Aku… tidak ingat Eiji ada di sana. Aku… juga tidak ingat tinggal di sini bersamamu.” Neela kembali melihat sekeliling. “Aku…” Neela menundukkan wajah menatap pangkuannya. “tidak ingat apa pun tentangmu.”
Tangan Kenneth mengusap rambut Neela dengan sayang. “Tidak apa-apa. Pelan-pelan saja.”
Neela mendongak menatap Kenneth, memejamkan mata sejenak untuk merasakan sentuhan tangan Kenneth di pipi dan samping lehernya. “Kadang…” bibirnya menggumam, “saat kau mengusap rambut, dan pipiku… aku merasa… aku sangat mengenalmu.”
Kenneth mengembuskan napas seiring senyum terkulumnya. “Kau memang mengenalku,” Kenneth membalas, “kau hanya tidak ingat.”
Setelah itu dia menarik tangannya, berbalik, menyambar gelas air di meja, sambil berjalan menuju dapur. Badannya bergetar, dan wajahnya luar biasa gundah. Semakin hari, semua ini terasa amat berat untuk dijalani. Dan dia sama sekali tidak punya petunjuk sampai kapan ini berlangsung.
Baru satu bulan, Kenneth menyemangati diri sendiri. Be beside her, and she’ll remember you. Dan Kenneth benar-benar berharap Neela bisa mengingatnya lagi.
Neela memutar kedua roda kursinya dengan kedua tangannya. Meluncur menghampiri Kenneth, yang kini sedang mencuci gelas air yang tadi dipergunakan Neela untuk minum. “Di mana kamarku?” dia bertanya, menghentikan kursi rodanya beberapa langkah di sebelah Kenneth.
“Di sana.” Kenneth menunjuk sekilas ke arah pintu kayu tertutup di seberang dapur. “Tapi… semua barangmu berada di apartemen.” Dia meletakkan gelas di atas rak, kemudian melap tangannya di serbet yang menggantung di pinggir meja konter.
“Apartemen?”
“Kau tidak tinggal di sini lagi sejak beberapa bulan lalu,” beritahu Kenneth. “Kau tinggal di apartemen Lea.”
Mulut Neela menganga selama beberapa saat, sampai akhirnya dia berkata, “Lea? Lea yang… menjengukku beberapa waktu lalu di Jepang?” Neela menatap Kenneth minta konfirmasi.
“Ya. Lea yang itu.”
Neela menyipitkan sebelah matanya. “Bagaimana bisa aku tinggal di apartemennya?”
“Karena dia sayang padamu…, jadi dia memberikannya untukmu. Lagipuls kau memang butuh tempat tinggal,” jelas Kenneth.
Neela diam lagi. Memandang Kenneth dengan pandangan penuh arti; berusaha mencerna perkataannya. “Dia temanku… kalau begitu?”
Kenneth mengangguk, menyunggingkan senyum suram yang samar. “Ya… Dia salah satu temanmu.”
Neela tersenyum, tampak senang. “Aku suka Lea,” katanya. “Dia… baik.”
“Dia memang baik.”
Hening setelahnya, karena Kenneth atau pun Neela bungkam, tak lagi berkata-kata. Kenneth menelusupkan kedua tangannya ke saku samping celananya,menjelajah sekitar dapur dan ruang tengah yang menyatu; memandangnya saksama seakan saja dia sedang menginspeksi kebersihannya. Neela menunduk ke celana jinsnya. Asyik dengan pikirannya.
“Jadi…” Kenneth memulai pembicaraan, “apa kau mau tinggal bersamaku?”
Neela menengadahkan wajah. Mengejapkan mata.
“Aku tahu… kalau kau ingin bertemu Dai… Tapi…, dia—aku tak tahu kapan dia akan menemuimu, tapi…”—kalimat Kenneth luar biasa belepotan—“aku dengan senang hati akan merawatmu. Menjagamu.., setidaknya kalau… nanti ada apa-apa.”
“Aku lebih senang bersamamu daripada dengan orang lain,” Neela buru-buru bicara. “Aku merasa… cuma kau satu-satunya orang yang kutahu—yang… membuatku nyaman.”
Mulut Kenneth membuka perlahan, namun tak satu pun kata terucap.
“Jadi… aku yang seharusnya bertanya… apakah aku boleh tinggal bersamamu?” lanjut Neela, meringis tersenyum. “Dengan kondisiku… aku pasti akan sangat menyusah—”
“Jangan ngomong begitu,” tukas Kenneth, tersenyum simpul. “Kau tidak akan menyusahkan. Kau akan segera sembuh… Kau akan main piano lagi. Main biola lagi… Dan aku akan membantu, agar kau kembali pulih dan bermusik seperti dulu.”
Neela menggigit bibirnya. “Tapi, Kenneth, apa aku bisa main biola atau piano lagi?” tanyanya resah. “Aku… sepertinya—”
“Hei,” Kenneth memotong, menatap Neela lekat-lekat, “jangan pesimis dulu. Musik adalah hidupmu. Dan aku yakin, bagaimana pun sulitnya, kau akan mampu mengingatnya. Kau akan bisa menatanya lagi.”
Neela kelihatan terenyuh dengan kalimat yang barusan Kenneth ucapkan. Menggumamkan ‘terima kasih’ yang hampir tanpa suara.
“Dan… tidak usah cemaskan Dai,” kata Kenneth lagi. “Dia… sehat. Dan akan menemuimu…, kalau dia sudah bisa menemuimu.”
Neela mengangguk, tersenyum manis. “Aku tahu,” ujarnya.
Kau tidak tahu, Neela, gumam Kenneth dalam hati. Kau tidak tahu apa pun.

Suara-suara teredam yang menggetarkan terdengar dari balik pintu ganda yang tertutup. Dua orang di dalam ruangan tersebut sedang adu teriak; berdebat, mengenai suatu hal yang hanya mereka yang tahu.
Di luar beberapa orang menunggu. Duduk, dengan pose masing-masing yang mereka anggap nyaman. Dai salah satunya, duduk dengan punggung membungkuk di sofa panjang sendirian, sementara lima orang lainnya duduk di sofa lain mengelilingi. Kedua tangan Dai tercakup, menutupi sebagian wajahnya yang cemas. Bahunya tegang, dahinya berkerut, kakinya mengentak-entak pelan lantai di bawahnya.
Tiba-tiba sebelah pintu ganda di depan ditarik membuka. Ibu Dai, Wina Tanaka, keluar dari ruangan, dengan kepala masih berputar mengarah ke dalam ruangan tersebut. Berteriak, “Kau tidak mengerti bagaimana rasanya menjadi seorang Ibu! Jadi jangan sok tahu!”, kemudian berpaling, membanting pintu menutup, dan dengan langkah tergesa menghampiri Dai. Semua laki-laki yang ada di sana—kecuali Dai, segera bangkit berdiri untuk menghormatinya.
Alis Dai berjingkat melihat wajah ibunya. Pipinya berkilap oleh sisa-sisa air mata. Matanya merah dan sembap, namun tak ada gurat kesedihan sedikit pun di wajahnya. Dia hendak berdiri, namun Wina dengan tegas berkata, “Tidak usah bangun,” padanya. Dan meminta semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut, meninggalkan mereka berdua saja, lalu duduk di samping Dai.
“Kau yakin atas keputusanmu?” Wina bertanya pada Dai, ketika mereka sudah berdua saja di ruang tamu itu. “Kau yakin… mau keluar dari O ushi?”
“Ya,” jawab Dai mantap. “Aku yakin.”
“Kalau begitu, pergi sekarang.”
Dai berjengit. “Ma-maksud Ibu?”
“Pergi sekarang, atau kau tidak akan bisa pergi lagi,” tegas Wina. “Ayahmu… tidak ingin kau keluar dari O ushi. Tidak, setelah dia menganggap Eiji Kodame telah menghinanya sewaktu di Jepang sebulan lalu. Menghinamu… karena telah mencelakai gadis itu; Mengancam akan melukai Ibu kalau kau masih mendekatinya. Baginya… itu adalah penghinaan; penginjakan martabat. Dan ayahmu ingin kau mempersiapkan diri. Merekrut banyak orang; tidak hanya di sini, tapi di mana pun… untuk mengalahkan organisasi milik Kodame. Dia ingin memperbesar O ushi.”
“Apa?” Dai terheran-heran. “Bukankah sebelumnya Ayah yang ingin agar aku keluar dari O ushi?”
“Ibu yang menginginkan,” Wina meralat. “Ibu yang memintanya. Dan saat itu kau tidak mau mundur sama sekali kan?”
Dai mendengus.
“Jadi sekarang… pergilah. Ibu… dengan senang hati akan melepasmu pergi. Kehilanganmu untuk sementara, lebih baik…, daripada kehilangan dirimu untuk selamanya. Ibu tidak mau lagi… melihat mayat anak Ibu terbujur kaku di peti mati…” Ratap tangis yang melolong, menyambung kata-kata Wina Tanaka, yang segera membungkukkan tubuhnya, menutup wajahnya untuk menyembunyikan kesedihannya.
Dai segera bergeser, dan memeluk ibunya erat. Mengusap-usap pundak dan punggungnya untuk menenangkannya. Tak ada kata yang bisa ia ucapkan untuk menghentikan tangisnya, karena dia tahu benar, bahwa ibunya masih amat terpukul dengan kematian Kyouta, dan dengan segenap kemampuannya berusaha keras menjaga agar dia—Dai, tidak mengalami nasib yang sama dengan Kyouta.
Wina menurunkan kedua tangannya, menyentuh pipi Dai dengan penuh kasih sayang. Mengusapnya lembut. “Pergilah, Dai. Demi keselamatanmu…, dan juga kebahagiaanmu. Lebih baik… kau berguna untuk seseorang atas dasar cinta dari pada terus-terusan mendendam yang tak kunjung ada akhirnya. Hanya akan menyakiti dirimu dan banyak orang.”
“Tapi, Ibu… Ayah…”
“Tidak usah khawatirkan ayahmu.” Wina menurunkan tangannya. Menghapus air mata dengan telapak tangannya dalam gerakan anggun. “Kau lakukan apa yang harus kau lakukan,” dia berkata pada Dai, memandangnya tajam. “dan Ibu berharap… kalau gadis itu memang yang terbaik untukmu.”
Dai tersenyum. Menggamit tangan ibunya, menggenggamnya erat, kemudian menciumnya lama. “Thanks, Mom,” ucapnya kemudian. “She is the one. I love her.”
Setelah itu, Dai bangkit berdiri. Mengecup kening ibunya lama, sebelum akhirnya ia berpaling. Pergi meninggalkan ruang tamu, dengan perasaan tak menentu. Sedih karena meninggalkan ibunya, dan gembira karena dia, akhirnya akan kembali bertemu Neela. 

(Bersambung)
.........

"But my love for him still grows, when I see him my heart mourns. I cry when I think of us not to be, but my love for him is not hard to see."--by Stephanie Jacobs

Read more...

A Lot Like Love (22)

>> Sunday, April 22, 2012




(Not) An Old Friend



JAKARTA. Kafe Pagi. 16.00 WIB

Kemarin malam, ponsel pribadi Dai—sangat pribadi karena nomornya hanya diketahui oleh orang-orang tertentu—berbunyi. Mengherankan, karena terakhir telpon itu berdering sekitar sembilan tahun lalu, dan berasal dari seorang teman lama yang tak diduga. Saat dia menjawabnya, dia mendengar suara seseorang. Seseorang yang tak disangkanya akan menghubunginya. Mengajaknya bertemu; untuk bicara.

Apa yang ingin dia bicarakan? Dai bertanya-tanya. Dan kendati sungkan untuk memenuhi permintaannya, namun karena rasa bersalah, serta alasan utang budi pada orang terdekatnya yang besar, Dai memaksakan diri datang.

Pincang, dibantu tongkat lengkungnya, Dai mendekati satu meja yang berada di luar Kafe Pagi yang ramai. Seorang perempuan, berambut hitam lurus sebahu duduk menyamping dengan satu kaki terangkat dan wajah tertunduk ke arah koran di pangkuannya. Satu tangannya mencengkeram gagang cangkir berisi teh yang mengepul dari dalamnya. Mendengar kletak-kletok tongkat Dai, dia menoleh. Tersenyum, meletakkan cangkir dan korannya di atas meja, dan segera berdiri untuk menyambutnya.

“Hei, Dai,” Lea menyapa dengan sedikit canggung. Menjabat tangan Dai erat, kemudian mempersilakannya duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja.

Bukan hanya Lea yang merasa kikuk, Dai pun merasa begitu.

So…” Lea memulai. Duduk kembali di kursinya. “bagaimana keadaanmu? Kakimu…” Lea turut meringis melihat Dai yang bersusah payah menekuk lutut kirinya ketika duduk.
“Masih sakit…” kata Dai, tersenyum mengerutkan keningnya. “Tapi… bukan apa-apa, dia menggeleng buru-buru. “Aku baik-baik saja.”
Good, then,” angguk Lea, memamerkan gigi.

Keduanya diam lagi.

“Juna… dimana?” Dai bertanya setelah lewat beberapa menit, setelah pramusaji yang baru mencatat pesanannya pergi meninggalkan meja. Saat ini menurutnya ‘Juna’ adalah topik terbaik untuk dibahas dengan Lea yang termenung di depannya.
“Dia mengantar Dean.” Lea tampak riang, setidaknya itu membuat hati Dai menjadi lebih ringan. “Dia masuk SD tahun ini.”
“Oh. Selamat kalau begitu,” ucap Dai. “Dean… pasti menjadi anak yang luar biasa nanti—you know…, dengan orang tua seperti kalian berdua.”
Lea tertawa kecil dan mengucapkan “Thanks, Dai,” penuh ketulusan. “Dean… memang lucu. Kau harus lihat dia berdua dengan Juna. They’re so cute.
I believe so,” ujar Dai, tersenyum.

Dan sekali lagi, setelah sebelumnya terkekeh bersamaan, mereka kembali terdiam. Baik Dai atau pun Lea sepertinya benar-benar kebingungan untuk mengadakan percakapan yang lancar tanpa beban satu sama lain.

I’m sorry.” Akhirnya Lea angkat bicara. “Aku lancang menelponmu…”
Dai yang baru menyesap kopi pesanannya dari cangkirnya, menggeleng buru-buru. “Oh, tidak apa,” katanya, meletakkan cangkir di atas meja. Dan meskipun sebenarnya tidak mau mengatakannya pada Lea, dia tidak bisa mencegah mulutnya membuka dan berkata, “Aku lega itu kau…, bukannya Juna.”

Mata Lea sedikit membulat, namun segera kembali ke ukuran normal begitu senyum menenangkan melengkung ringan di wajah cantiknya. “Juna tidak tahu aku menelponmu. Aku melihat nomormu di ponselnya.” Lea mengatakannya cepat-cepat, seakan telah menebak arti kerutan di dahi Dai, tanda kalau dia sedang bertanya-tanya darimana Lea mendapatkan nomor ponselnya. “Nomor ponsel yang… sudah lama sekali ada di ponselnya tapi… tidak pernah sekali pun dia…hubungi.” Lea menundukkan kepala, untuk menyembunyikan sedikit ekspresi muramnya. “Aku sempat ragu… apakah kau masih mempergunakannya.”

Dai mendengus, menyunggingkan senyum simpul yang masam. “Nomor itu… memang dikhususkan untuk orang-orang yang penting bagiku,” katanya. Memberanikan diri bertatap muka dengan Lea. “Orang-orang yang… dekat denganku.”

Tak ada kata lagi dari Lea selain senyumnya. Kelihatannya dia senang, kalau Dai menganggap Juna penting baginya.

“Lea…” Dai menatap Lea lekat-lekat, “maafkan aku. Apa yang terjadi lima tahun lalu…”
“Yang lalu… biarlah berlalu, Dai,” ucap Lea segera.  “Itu sudah lewat… Tidak usah dibahas lagi. Aku hanya ingin—”
“Tapi setidaknya… aku seharusnya… menelpon Juna—atau kau,” sela Dai, mencondongkan badannya ke depan. “Aku seharusnya tidak bersikap begitu pengecut pada sahabatku sendiri. Dan kau…” Dai berhenti sejenak, “kau kehilangan Shinji. Sahabatmu…”
“Aku tidak tahu… apakah kau sungguh-sungguh berduka akan Shinji,” timpal Lea. “Karena menurutmu… karena Shinji adikmu meninggal kan?”

Mulut Dai membuka sedikit, namun tak bersuara.

“Tapi, Dai… kau tidak bisa menyalahkan Shinji begitu saja,” sambung Lea lagi. Menatap Dai sejenak, sampai akhirnya mendengus dan bicara, “Panjang sekali ceritanya… dan aku yakin kau tahu itu… Alasan…, kenapa semua itu terjadi.” Mata coklat Lea menyorot tajam ke arah Dai. “Kau tahu tentang Neela kan?”

Gadis yang diselamatkan oleh Shinji saat di kelab malam lima tahun lalu, yang akhirnya memicu permasalahan yang kembali terjadi antara Shinji dan Kyouta, tak lain adalah Neela—setidaknya itu yang diinformasikan Mamoru, saat Dai berusaha menelusuri penyebab kekacauan yang ditimbulkan Kyouta.

Dia artis baru; pemusik, dan sekaligus penyanyi yang sedang naik daun,” beritahu Mamoru kala itu. “Sama dengan Shinji, dia amat dilindungi oleh Eiji Kodame. Mereka tidak ada hubungan darah, namun setiap bulan, Eiji Kodame mengirimkan sejumlah uang untuk gadis itu. Mempekerjakan Kenneth Altis sebagai manajernya, dan memberikan semacam perlindungan padanya. Terutama setelah kematian Shinji. Gadis itu seolah barang rapuh yang bisa pecah kapan saja. Eiji Kodame selalu memantaunya, kemana pun dia pergi. Gadis itu, tidak diragukan lagi adalah orang yang sangat penting baginya.

“Kenapa dengan Neela?” Dai menanyai Lea, yang masih memandangnya; mengamati ekspresi wajahnya. “Bagaimana keadaannya? Ap—apa dia sudah… bangun?”
“Ya,” senyum Lea. “Dia sudah bangun.”

Seolah semua bebannya terangkat seluruhnya dari badannya, Dai mengembuskan napas panjang yang sangat lega. Memejamkan mata, sambil menggumamkan “Thank you, God” dalam hati. “So… she’s okay?” Dia menatap Lea.
“Dia dalam pemulihan.” Lea tersenyum. “Dia masih… sulit berjalan. masih… menggunakan kursi roda—but she can walk, hanya saja perlu… sedikit waktu untuk benar-benar…” Lea tidak melanjutkan, mengedikkan bahu. “Tapi dia baik. Sangat. Semua badannya tidak ada yang bermasalah.”
Dai mengangguk, tampak senang. “Syukurlah…”

Hening sejenak. Baik Lea maupun Dai sepertinya sedang sibuk dengan pikiran masing-masing. Tapi Lea, dari rona wajahnya, kelihatan amat gundah. Sepertinya saja ada sesuatu yang mengganggunya.

“Dai, aku…” Lea mengangkat wajahnya, kembali bertemu pandang dengan Dai. “Alasanku menelponmu—demi Tuhan seharusnya aku tidak melakukan ini.” Dia mendadak cemas, berbicara pada dirinya sendiri. memijat-mijat bagian samping kepalanya.
“Ada apa, Lea?” Dai kembali meletakkan cangkir kopi yang baru saja diteguknya.
Lea memejamkan mata. Untuk beberapa saat menarik napas dan mengembuskannya, sepertinya sedang menguatkan diri. “Aku tahu kalau kau tidak boleh mendekati Neela,” katanya setelah terlewat beberapa waktu, yang jelas membuat Dai seretak mengentakkan kepalanya ke belakang. “Eiji… tidak ingin kau mendekatinya…, aku tahu itu. Dan aku tahu kalau kau membenci Eiji karena kematian Kyouta—dengarkan aku dulu.” Lea mengangkat kedua tangannya untuk mencegah Dai menyelanya. “Tapi… kau harus tahu, Dai… kalau apa yang dilakukan Eiji…, itu semata-mata hanya karena dia harus melindungi Shinji.”
Dai mendesah. “Kau tidak tahu apa pun, Lea…”
“Aku pernah menjadi korban adikmu kalau kau ingat,” Lea menukas, membuat Dai bungkam. Tajam menatapnya. “Tapi aku tidak ingin membahas apa pun mengenai Kyouta—bukan itu tujuanku memintamu datang hari ini.”

Dai mendorong badannya kembali ke belakang. Menarik cangkir kopinya dan membawanya ke mulutnya.

“Aku di sini… untuk meminta bantuanmu…” sambung Lea. “Demi Neela…”
Kedua alis Dai bertaut. “dan juga janjiku… pada Shinji sebelum dia meninggal.”
“Kenapa dengan Neela? Bukankah katamu dia baik-baik saja?”
“Dari luar dia baik-baik saja.”
“Apa maksudmu?” Dai meletakkan cangkirnya cepat-cepat, membuat isinya menyiprat keluar dan mengotori meja.
“Dai,” Lea memiringkan kepalanya, menyempatkan diri menghela napas dalam-dalam. “Neela kehilangan semua memorinya.”
“A-apa?” Dai kelihatan syok.
“Dia tidak mengingat apa pun, siapa pun; Eiji, Kenneth, aku, Juna atau pun Malini… Dia sama sekali tak mengingatnya.”
“Kenapa? Kenapa dengannya?”
“Benturan keras di kepala belakangnya sewaktu kecelakaan, menyebabkan pembengkakan dan luka memar di pembuluh otaknya, dan itu berpengaruh pada fungsi otaknya… dalam hal ini… ingatannya.”

Suasana sekeliling mereka entah kenapa jadi begitu senyap. Seakan saja, cuma ada mereka berdua di Kafe Pagi itu. Dai terutama, merasa kalau  telinganya telah tuli. Perasaan lega yang tadi dirasakannya, mendadak saja berganti dengan kegundahan lagi, yang dua kali lipat lebih besar dari sebelumnya, ditambah rasa bersalah yang makin menggelembung, dan telah menemaninya selama dua minggu ini.  

“Tapi… sifatnya hanya sementara kan?” tanya Dai. “Ingatannya pasti akan kembali suatu hari.”
“Dokter tidak bilang begitu,” timpal Lea. “Menurut mereka, Neela siuman saja itu sudah keajaiban… dan andaikan Neela tidak mampu mengingat apa pun sampai… jangka waktu yang lama… tidak ada yang bisa mereka lakukan, selain terapi tentunya… dan membuatnya tetap bersemangat untuk menjalani hidup ke depannya, bagaimana pun kondisinya.”

Dai menengadahkan kepalanya ke atas. Memandang kosong langit yang mulai redup.

“Aku memang tidak mengerti… bagaimana perasaanmu pada Neela,” kata Lea tak lama kemudian. “Kau membencinya atau tidak aku hanya—”
“Demi Tuhan, Lea,” Dai mencondongkan tubuhnya ke depan, “aku tidak membenci Neela. Sama sekali tidak.”

Lea mengejapkan mata. Mengamati Dai yang tak memalingkan wajah sedikit pun darinya, seakan berusaha meyakinkannya, kalau apa yang dikatakannya itu sungguh-sungguh.

“Mungkin… aku sempat berpikiran begitu tapi… tidak lagi. Kecelakaan itu… murni kecelakaan. Aku sama sekali tidak berniat mencelakainya,” lanjut Dai. “Aku hancur… begitu terbangun di rumah sakit, dan mengetahui kalau keadaannya lebih parah dariku. Aku rela bertukar tempat dengan Neela kalau memang bisa, Lea. Demi Tuhan aku bersedia melakukannya.”
“Dai…” Lea memanggilnya lirih. Menatapnya dengan sorot mata yang lembut. “aku tidak tahu apakah ini hanya perasaanku…, atau memang… kau menyukai Neela?”
Tak menjawab, Dai bersandar lagi ke punggung kursi. “Apa kau akan melarangku?”
Tak disangka Lea malah tersenyum dan menggeleng pelan. “Tidak. Tentu saja tidak. Itu hakmu…”
“Meskipun aku jelas-jelas seorang Yakuza?”
“Aku tidak bisa berkomentar mengenai itu,” geleng Lea. “Tapi… aku merasa… kau orang baik, di luar siapa dirimu yang sebenarnya.”

Kata-kata Lea membuat Dai sekilas menyunggingkan senyum samar di wajahnya, begitu pun Lea, yang sekarang tersenyum manis kepadanya. Senyum yang menyiratkan kelegaan besar.

 “Jadi… apa yang bisa kubantu?” tanya Dai setelah itu. “Tapi tadi… kau bilang dia tidak ingat siapa pun atau apa pun… bagaimana aku bisa membantunya?”
“Dia tidak mengingat kami semua… itu yang benar,” balas Lea. “Tapi… dia ingat dirimu.”
Dai mengernyit. “Bagaimana bisa?”
“Dia ingat wajahmu…” Lea menjelaskan. “Dia ingat namamu. Dia ingat… hal terakhir yang dia lakukan bersamamu; kecelakaan itu… dia ingat. Tapi sebenarnya… dia tidak ingat sama sekali.”
Dai bengong. Berusaha keras mencerna kalimat yang Lea ucapkan. Namun, mungkin karena kekhawatirannya yang begitu besar akan keadaan Neela, membuatnya kesulitan mengartikan semuanya. “Aku tidak mengerti, Lea,” ujarnya, menuduk sedikit untuk mengamati wajah muram Lea di depannya. “Apa maksudmu?”
“Kau tahu… bagaimana perasaan Neela pada Shinji?”
Dai menggeleng. “Aku… sempat mendengarnya menyebut Shinji; Aku tahu kalau dia… merasa berhutang budi karena Shinji menyelamatkannya dari Kyouta waktu itu…”
“Neela sama sekali tidak ingat mengenai kejadian itu,” Lea meluruskan. “Dia mabuk saat itu, dan dia tidak ingat apa yang Kyouta lakukan padanya, dan bagaimana Shinji menyelamatkannya.”

Dai tercenung. Tetap tidak bisa menangkap kata-kata Lea.

Lea mengempaskan napas tajam, kemudian setelah mencondongkan badannya dan meletakkan kedua siku tangannya di permukaan meja dia berkata lagi, “Aku akan menceritakan seluruhnya padamu… Dan aku harap… setelah kau mendengarnya… kau masih mau membantunya.”
“Aku akan membantunya.” Dai meyakinkan. Memberikan Lea tatapan yang menyampaikan pesan bahwa Lea bisa memercayainya.
“Kalau begitu, dengarkan baik-baik…”

(Bersambung)
...
gambar dari sini
Hey, Ladies. I'm back for Neela. 
Dont worry, I'll be gentle to her. Wish me luck.

...

PS.

Dear All,
Maaf ya, baru bisa posting sekarang. Urusan kerjaan, bener2 nguras energi dan pikiran banget. Sekali lagi sori sekaligus thank you, buat pembaca setianya A Lot Like Love yang terus2an ngingetin saya untuk segera tulis lanjutannya. Dan mohon maaf kalau ada kesalahan kata, setting atau apa pun, karena saya posting AL3 22 ini dengan mata yang udah amat ngantuk. Tolong dimaklumi ya... *nyengir*

So here it is. Semoga... bikin kalian tetap terus ngikutin dan semangat baca sampai akhir, karena energi nulis dan imajinasi saya berasal dari kalian semua...

Jadi sekali lagi... Arigato...
Happy reading! (^^)


Love,

Lita


Read more...

A Lot Like Love (21)

>> Wednesday, April 11, 2012





Sincerity


KETIKA Kenneth tiba di ruang ICU, Chiyo sudah menunggunya. Duduk di salah satu bangku yang memanjang di depan dinding. Begitu melihat Kenneth dia segera berdiri, menunggunya mendekat.
“Bagaimana Neela?” tanya Kenneth segera. “Dia baik-baik saja?”
“Dia sudah dipindahkan ke ruangan lain,” beritahu Chiyo, tersenyum. “Dia baik-baik saja,” tambahnya, kentara sekali senang.
“Dia tidak—kakinya tidak apa-apa? Dia… bisa bergerak?” Kenneth menatap Chiyo penuh harap.
Chiyo mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. “Dia bergerak.”
“Dia… tidak cacat—maksudku, matanya tidak kenapa-kenapa? Dan dia bisa bicara?” Kenneth bertanya lagi.
“Dia normal, Kenneth.” Suara Chiyo kedengaran tercekat. “Matanya melihat. Telinganya mendengar. Tubuhnya…, baik-baik saja, cuma—” Kalimat Chiyo terputus, karena mendadak saja Kenneth mengembuskan napas tajam, seraya memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya, sejak hari pertama dia melihat Neela terbaring di tempat tidur rumah sakit, dia bisa mengembuskan napas lega. Amat lega. Seolah saja oksigen yang selama ini menipis di sekelilingnya telah kembali, dan melimpahinya dengan kesejukan. Neela selamat, sadar tanpa kurang suatu apa pun. Doanya didengar. Keajaiban terjadi. Benar-benar terjadi. Thanks, God.

“Dimana Neela sekarang?” tanya Kenneth, setelah dia membuka matanya.
“Dia masih… diperiksa lebih lanjut oleh Dokter,” jawab Chiyo. “Beberapa jam lagi, dia baru bisa ditengok.”
Kenneth ber-oh pelan. Kelihatan agak kecewa. “Eiji bersamanya?” tanyanya kemudian.
“Kau… ditunggu di ruangan Dokter Han.”
Kenneth mengerutkan dahi. “Untuk?”
“Ada yang hendak dijelaskan oleh Dokter Han. Eiji sudah di sana.” Chiyo berkata buru-buru sebelum Kenneth kembali mengajukan pertanyaan. “Sebaiknya cepat.”

Wajah Chiyo yang sebelumnya sumringah, berganti muram; kikuk. Membuat Kenneth seketika ragu. “Apa ada masalah?” dia bertanya.
Chiyo menggeleng cepat-cepat. “Tidak. Pergilah segera,” suruhnya buru-buru.
Kenneth mengangguk. Tersenyum, walaupun bimbang. “Oke. Aku pergi dulu,” ujarnya. Dan setelah itu berbalik. Pergi meninggalkan koridor luas bangsal ICU rumah sakit.

Eiji sedang berbincang serius dengan Dokter Han ketika Kenneth masuk ke dalam ruangan. Sempat menyuruh Kenneth duduk dikursi di sebelahnya, di depan meja dokter Han.

Sore de, Sensei, watasi-tachi wa dó surubekina ndarou ka?”—Jadi, Dokter, apa yang sebaiknya kami lakukan? Eiji bicara dalam bahasa Jepang pada dokter Han.

Dokter Han memaku matanya sejenak ke permukaan kaca meja kerjanya yang bersih, kemudian berkata, “Dai-san wa, kanojo o yobidashimasu. Kekkyoku, kono toki dake wa kare ga Nira San kioku sa rete iru tamedesu. Dare ga Nira San memori o kaifuku suru koto ga dekimasu kare to no kaidan de, shitte imasu.”—Panggil Tuan Dai. Karena bagaimana pun, saat ini cuma dia yang diingat oleh Nona Neela. Siapa tahu, dengan bertemu dengannya bisa memulihkan ingatan Nona Neela.

Shikashi, nani ga ato ni Níra wa futatabi subete o oboeru koto ga dekirudeshou ka?”—Tapi, apakah nanti Neela dapat mengingat semuanya lagi?

Dokter Han mengembuskan napas lagi. Agak berat. Membuat Kenneth semakin penasaran apa yang sebenarnya sedang mereka bahas. “Iyaa, hontondo no baai,”—Kemungkinan besar, tidak, kata Dokter Han, dengan tampang menyesal. “Like I’ve told you before, there will be some damage in her brain, that—”

Damage?” Kenneth menyambar. “What damage?” Dia panik. “Is something happen to Neela?”
She’s okay, Mr. Altis,” balas Dokter Han. “She’s in a great condition. A great shape… but, still, the crash has injured her brain, in this case, she has lost her memories.
What?” Kenneth memandang dokter Han dengan tatatapan tak percaya.
“Amnesia,” Eiji menjelaskan. “Neela tidak bisa mengingat apa pun. Tidak, selain Dai.”
Kenneth berjengit. “Dai? How come?
Apparently, Mr. Tanaka was the last person she’s been with before and during the accident,” jelas Dokter Han pada Kenneth. “So Miss Neela memories’ revolved around him.”
Kenneth mendengus sinis. “It’s impossible.”
And she has a switch memory.” Dokter Han berkata lagi.
Kenneth mengernyit tak mengerti.
“Maksudnya,” Eiji kembali menjelaskan, “dia hanya mengingat Dai dalam bentuk dan wajah, namun memorinya yang sebenarnya adalah saat dia bersama Shinji.”

Kenneth membuka dan menutup mulutnya tanpa suara. Dia tambah tak mengerti.

It means that,” Dokter Han kembali berujar, “she’s too, doesn’t remember anything about Mr. Tanaka, except his name, his face, and last memory she had with him. Because all her memories now refers to Shinji.”
Your suggestion?” tanya Kenneth lemah.
Ask Mr. Tanaka to see her,” saran dokter Han. “That’s my suggestion. Maybe he can help her regain her memories gradually.”
But… she’ll remember everything, will she?” Kenneth menatap memelas dokter Han, seolah dengan begitu, dokter Han dapat menjawab dengan optimis. “Someday… she’ll remember me…, Eiji, and every memory she has with us…?
I cant tell,” jawab dokter Han, tampak menyesal.
At least Neela’s fine, Ken.” Eiji meremas bahu Kenneth. “We’ll try, okay?

Kenneth tidak menjawab. Dia diam seribu bahasa dan membenamkan wajahnya sejenak ke kedua tangannya, sampai akhirnya dia mengangkat wajahnya lagi, dan bangkit berdiri dari kursi.

“Aku kembali ke hotel,” dia berkata pada Eiji. “I cant do this anymore.
“Ken…,” panggil Eiji, kala Kenneth berbalik pergi. “Kenneth.”

Kenneth tak peduli. Terus berjalan membelakangi Eiji dan dokter Han yang masih duduk di kursi masing-masing, menuju pintu ruangan yang menutup. Gusar, dia meraih gagang pintu dan menariknya membuka, dan membantingnya menutup saat dia sudah berada di luar ruangan.

Di luar Kenneth berteriak keras. Tak menghiraukan orang-orang yang kaget dan memandanginya dengan bingung, baru setelah itu, berjalan cepat melewati koridor, menuju lobi rumah sakit.
Finally.” Marin nyengir, duduk di sofa bean bag di tengah ruang tamu. Travel bagnya teronggok di sebelahnya. “You’re home.”

Kenneth membuka mantelnya. Menyampirkannya di lengan sambil berjalan menghampiri Marin. Satu tangannya di saku celana. “Kau mau kemana?” tanyanya heran.
“Pulang,” jawab Marin, tersenyum lebar. “Sudah lebih dari seminggu aku di sini. Time to go home.”
Kenneth memalingkan wajahnya sejenak dan mendengus pelan. “Kau pasti marah padaku…” ujarnya saat dia menatap Marin lagi. “aku sama sekali tidak memerhatikanmu selama di sini.”
Marin menggeleng buru-buru. “Jangan berkata begitu. Aku sudah cukup terhibur kok ditemani oleh Arata—dia tampan sekali.” Marin terkikik, dan Kenneth mendengus geli. “Lagipula, ayahku mengkhawatirkanku,” lanjut Marin. “juga… kangen padaku. Jadi dia memintaku untuk segera kembali ke Jakarta. Hari ini… aku memutuskan pulang. Tiket sudah dipesan, kau tidak perlu cemas.”
“Kau tidak mengatakan apa pun padaku.” Kenneth mengedikkan bahu. Menunduk sambil menyapu rambutnya ke belakang dengan jemarinya.
“Karena aku pikir… kau sangat sibuk dengan urusan Neela.” Marin berdiri dari sofa bean bag, berdiri tegak di hadapan Kenneth.
“Aku managermu Marin,” timpal Kenneth. “Kau tetap tanggung jawabku.”
“Jangan merasa bersalah…” tandas Marin cepat. “Kau sedang sangat sedih. Dan aku mengerti. Aku menyerah kalah.” Marin menyunggingkan senyum yang kelihatan sedih.
“Marin…” Kenneth tampak merasa bersalah.
“Bagaimana pun…, aku tak bisa bersaing dengan Neela.” Dia mendesah, menatap Kenneth dengan tatapan sayu. “Senang sekali rasanya bisa dicintai begitu besar olehmu.” Dia menunduk dengan kedua pipinya yang merona. Tapi ekspresi itu seketika hilang ketika dia kembali mendongak dan meninju bahu Kenneth keras-keras. “Kau laki-laki menyebalkan,” gerutunya, sementara Kenneth meringis kesakitan.
“Aku tidak mengerti dirimu,” tukas Kenneth, memandangnya ngeri.

Tiba-tiba Marin memeluknya erat. Mengusap-ngusap punggung Kenneth dan menepuk-nepuknya.
“Kau ini apa-apaan?” kata Kenneth bingung. “Lepaskan aku.”
“Aku hanya ingin menghiburmu,” kata Marin, mengeratkan pelukannya. “Aku ingin mengatakan, berjuanglah demi cinta.”—Kenneth membelalakkan mata—“Jangan pernah mundur, karena cinta begitu berharga. Aku yakin… Neela akan menyadari kalau dia sangat mencintaimu.”

Tidak tahu kenapa kata-kata Marin membuat hati Kenneth seketika terasa sejuk. Kepalanya terasa lebih ringan daripada sebelumnya. Kata-kata yang sederhana itu… yang pasti biasa saja kalau didengar oleh orang lain.

“Perempuan mana pun yang menolak cintamu itu bodoh,” tambah Marin lagi, membuat Kenneth terkekeh. “Jadi,” Marin meregangkan pelukannya, menyipitkan mata memandang Kenneth, “andaikan nanti kau gagal mendapatkan Neela, kau tetap lebih pintar daripada dia.”
Kenneth tergelak, sementara Marin mengulum senyum. “Thanks,” kata Kenneth setelah tawanya reda. “Means a lot.”
Marin mengangkat bahu sekilas. “Semangat, oke. Aku doakan Neela pulih seratus persen, agar kau sempat mengatakan perasaanmu padanya.”

Dia sudah pulih, Marin, gumam Kenneth dalam hati. Tapi aku tidak tahu apa aku sempat mengungkapkan perasaanku padanya, kalau dia saja tidak bisa mengingatku.

“Aku pergi dulu,” kata Marin, menepuk bahu Kenneth dua kali. “Baik-baiklah di sini.”
“Aku antar.” Kenneth hendak mengenakan mantelnya lagi.
“Tidak usah,” tolak Marin cepat-cepat. “Kau istirahat saja. Sudah lama kau tidak istirahat. Aku… sudah ada yang antar.” Dia tersenyum genit.
Kenneth memasang tampang heran. “Siapa?”

Tepat saat itu, pintu diketuk dari luar, kemudian didorong membuka. Arata masuk, dan menyunggingkan senyum manis sambil mendekat. Saat dia sampai di depan Kenneth, dia membungkuk hormat. “Tuan Kenneth,” sapanya ramah. “Anda di sini?”
“Ya,” angguk Kenneth. “Saya ingin istirahat sebentar, sebelum kembali ke rumah sakit.”
Arata mengangguk, dan kembali berkata, “Saya akan mengantar Nona Marin ke airport. Tuan Eiji sudah tahu.”
“Oh.” Kenneth mengerling Marin yang menggigit bibirnya, tampak ceria. “Oke. Terima kasih kalau begitu.”
Arata mengangguk lagi, kemudian mengarahkan pandangannya pada Marin. “Anda sudah siap, Nona Marin?” dia bertanya sopan.
“Apa sulit sekali untukmu memanggilku dengan ‘Marin’ saja tanpa embel-embel ‘Nona’?” Marin bersungut-sungut. “Aku bahkan lebih muda darimu.”

Kenneth cepat-cepat merubah dengusnya menjadi deham kecil yang dipaksakan.

“Saya ambil travel bag Anda dulu.” Arata mengabaikan kata-kata Marin sebelumnya, melangkah maju, dan meraih travel bag di samping sofa bean bag, dan kembali lagi. “Saya akan menunggu Anda di luar,” dia berkata pada Marin. Mengangguk pada Kenneth, sebelum akhirnya berlalu dengan travel bag tertenteng di satu tangannya.
“Kau suka Arata?” kekeh Kenneth, menggeleng tak percaya. “You’re hopeless.
Marin cemberut. “Diamlah,” timpalnya sengit.  Namun kemudian senyumnya kembali, dan dia mengucapkan kata perpisahan. “Sampai ketemu di Jakarta, Kenneth. Dan aku berharap secepatnya.”
“Aku harap juga begitu. Aku akan minta tolong Malini untuk menggantikanku sementara.”
Marin menggeleng panik. “Oh, please, jangan dia.”
“Kenapa?”
“Dia galak.”
“Dia galak untuk kebaikan,”—Marin langsung ungu—“Neela juga dimanajeri olehnya. Shinji, Lea… Dan tak satu pun dari mereka yang mempermasalahkan sikap tegasnya. Kau juga sempat bicara dengannya kan?”
“Dia menakutkan,” komentar Marin. “Apa tidak ada yang lain?”
“Hanya Malini yang bisa kupercaya.” Kenneth tersenyum geli. “Tenang saja. Aku yakin… kau bisa bekerja sama dengannya.”
Marin mengempaskan pundaknya yang tegang. “Oke,” ujarnya. “Mau bagaimana lagi?”

Keduanya terdiam sejenak.

Bye, then.” Marin merentangkan tangannya lebar-lebar, memeluk Kenneth beberapa saat. “Be tough.”
Kenneth menempelkan bibirnya di rambut Marin, memberikannya kecupan kecil yang lembut. “Thanks,” ucapnya. “Be careful.”
Marin melepaskan pelukannya, dan mundur satu langkah. Tersenyum manis. “Hari ini… aku melepasmu.” Dia menatap Kenneth dalam-dalam. “Aku relakan dirimu… untuk mencintai orang yang sepantasnya.”
Kenneth menggeleng, seraya melebarkan senyumnya.

“Aku akan kembali ke Jakarta, dengan tangan kosong, dan hati yang remuk. Tapi tak mengapa… selama kau… bahagia.”

Kenneth memandang Marin penuh arti, sementara gadis itu berkaca-kaca di hadapannya.

“Kau… cinta pertamaku,” kata Marin lagi. “Dan aku… akan secepatnya menggantikanmu dengan cinta kedua, ketiga, keempat, dan selanjutnya, sampai aku menemukan cinta yang lebih segalanya darimu.”
“Dan aku berdoa, kau akan menemukannya secepatnya,” timpal Kenneth.
“Itu lirik lagu.” Marin mencibir. “Yang barusan kukatakan padamu itu lirik lagu, bukan jeritan hatiku untukmu,” protesnya, membuat Kenneth menganga. Kemudian dia mendengus. Menatap Kenneth dengan tatapan jengkel, dan berkata keras, “Ge-er!”, lalu menyandangkan tasnya di pundak. Berbalik, dan berjalan cepat-cepat menuju pintu. Menghilang di baliknya seiring pintu menutup di belakangnya, meninggalkan Kenneth yang membeku di tengah ruangan. Kebingungan.

“Aku benar-benar tidak mengerti dirinya,” dengus Kenneth. Geli. 
Tapi Kenneth tetap tak bisa memungkiri, kalau malam ini Marin telah mengajarkan sesuatu padanya: ketulusan.
(Bersambung)
...

Read more...
Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP