A Lot Like Love (19)

>> Saturday, March 31, 2012





The Angel's Visit


RASA hangat ini… Neela  perlahan membuka matanya yang menutup rapat. Sepertinya saja… ada yang memeluknya. Merengkuhnya erat dan memberikannya perlindungan. Siapa?

Sekali lagi, Neela berusaha menyingkap matanya. Mengejap-ngejapkannya, sampai akhirnya kelopak matanya terangkat sepenuhnya, menampilkan langit-langit kamar tinggi berwarna coklat kayu di atas, inding dengan wall-paper coklat pastel polos yang dihiasi beberapa lukisan minimalis, baru kemudian…. Dai.

Dai?

Neela membuka matanya lebar-lebar. Memastikan, kalau memang wajah Dai yang sekarang dilihatnya. Tertidur tenang di hadapannya, dengan dengkur halus yang menghambur dari sela bibirnya yang sedikit membuka. Rambut depannya yang biasanya tertata, sekarang menjuntai, menutupi dahi. Dan dia begitu dekat. Tubuhnya merapat dengan tubuh Neela. Dan kedua tangannya melingkar ketat di bahu dan punggung Neela, seolah memastikannya tidak jauh darinya. Tapi…, Neela mengernyit, kenapa mereka bisa jadi seperti ini?

Neela berupaya mengingat apa yang terjadi semalam. Memeras otaknya untuk memunculkan sedikit memori.
Setidaknya dia ingat mengenai Pohon Cinta—daun itu, masihkah tergantung di sana? Dia ingat masuk ke dalam Tokyo Dome, stadion baseball besar yang disulap menjadi sebuah hutan belantara yang diterangi jutaan lampu biru yang bekerlap-kerlip, dengan pohon Natal raksasa di tengahnya bersama Dai. Dia juga tidak lupa kalau mereka berdua sempat mampir ke sebuah restoran ala Jepang untuk minum sake demi menghangatkan badan, yang malah membuatnya sangat pusing setelahnya. Sampai sana, dia tak dapat mengingatnya lagi. Semuanya buram.

Wajah Eiji mendadak muncul di benaknya.

Ya, Tuhan! Eiji! Neela memekik dalam hati. Mengangkat punggungnya buru-buru. Celingukan mencari-cari sesuatu yang bisa menunjukkan waktu. Selimut yang tadi menyelubunginya merosot turun dari badannya.

“A-ada apa…, Neela…?” Suara Dai terdengar dari belakang. Parau dan enggan. Neela menoleh, melihatnya sedang berusaha keras memfokuskan pandangan. Kedua matanya masih menyipit, dan tampak sulit membuka. Dia bertopang pada salah satu sikunya. “Tidurlah kembali,” katanya lagi.

Neela berbalik, dan menggamit tangan kiri Dai dengan paksa. Melihat arloji yang melingkar di pergelangannya; bertambah panik begitu tahu jam berapa saat ini.

“Bangun, Dai,” suruhnya cemas, bergeser, dan meloncat turun dari tempat tidur. “Aku harus segera kembali ke hotel.”

Tapi Dai bergeming, dan malah mengempaskan kepalanya lagi ke atas bantal. Kelopak matanya berangsur menutup. Tidur.

“Dai!” Neela cemberut di samping tempat tidur. “Dai, please… Eiji bisa membunuhku.”

Mata Dai kembali membuka. Kepalanya miring ke arah Neela. Dia nyengir, kemudian berkata, “Apa Kenneth pernah melihat kau cemberut begitu?” Dia mengangkat badannya, kemudian bersandar di bingkai tempat tidur.
Neela mengerutkan kening, heran. Tapi itu hanya beberapa detik, karena sepertinya dia memilih mengabaikan pertanyaan Dai dan berkata dengan memelas, “Please, Dai. Bangunlah. Aku harus pulang.”
Sekali lagi, Dai mendengus. Tidak menggubris kata-kata Neela. “Apa ada laki-laki yang pernah melihatmu bangun tidur selain aku sekarang?”
“Jangan ngaco.” Neela melotot. Berbalik dan berjalan memutari tempat tidur. Memunguti sweater dan jaketnya yang ada di sofa.
“Kenneth pernah?” cecar Dai lagi. Geli. Tangannya disilangkan di dada.
Neela membelalakan mata. “Kau ini kenapa?” semprotnya gusar, sambil memakai sweater dan jaketnya satu per satu. “Menyebut-nyebut Kenneth…” dia menggerutu yang kedengaran seperti kumur-kumur.

Dai tergelak, dan Neela menatapnya bimbang. Tak lama kemudian dia turun dari tempat tidur. Menyambar jaket dan mantelnya yang tersampir di punggung sofa.

“Kau tidak curiga aku… menyentuhmu tadi malam?” Dai berkata sambil mengenakan jaketnya. “Aku bisa saja… macam-macam padamu kan… kau sangat mabuk.” Dia menyeringai.

Neela tidak menjawab. Selama beberapa saat hanya menatap Dai dengan pandangan yang tak bisa dimengerti, membuat Dai sendiri merasa kikuk. Tapi setelah itu, dengan amat ringan, senyumnya mengembang, dan dia berkata, “Aku percaya padamu,” sambil mengedikkan bahu. “Kau… laki-laki yang baik. Kau tidak akan berbuat begitu… Meskipun sebelumnya aku sempat bingung kau tidur di sampingku dan memelukku.”

Setelah mengatakan itu Neela berbalik, membungkuk sedikit untuk meraih bootnya di depan tempat tidur, lalu berjalan menjauh menuju kursi di sudut. Duduk, dan mulai memasang sepatu boot tersebut di masing-masing kakinya.

Dai tersenyum muram. Teringat semalam.

“Kenapa kau berhenti?” tanya Dai, memutar badannya kembali ke belakang, saat menyadari langkah sepatu Neela tak lagi terdengar.

Mereka sudah meninggalkan hotel, dan sekarang sedang menyusuri areal Tokyo Dome City. Langit masih redup, matahari sepertinya masih malu-malu menunjukkan diri dari balik awan. Lampu-lampu masih menyala, suasana sepi. Hanya ada beberapa petugas kebersihan yang hilir-mudik memunguti dan menyapu sampah yang ada di kawasan luas tersebut.

Neela memandang Pohon Cinta yang berdiri hanya beberapa meter dari tempatnya berdiri. Mengamati helai-helai daun—tidak sebanyak kemarin malam, yang bergoyang-goyang, masih bertahan di beberapa ranting dan dahan tempat mereka digantungkan. Sebagian besar pastinya sudah terempas oleh terpaan angin bulan Desember yang dingin dan menusuk.  Menguapkan banyak perasaan yang tercurah bersama tulisan di permukaan daun-daun kering itu.

Dengan tenang, Dai menghampiri Neela dan berdiri di sebelahnya. Menyenggol lengan Neela dengan sikunya. “Kau mau cek?” dia bertanya.
Neela nyengir, dan itu saja cukup untuk menjawab pertanyaan yang Dai lontarkan padanya.
“Ayo,” ajak Dai, berjalan lebih dulu ke arah Pohon Cinta. Neela menyusul di belakangnya. Tampak riang.

Keduanya menengadahkan wajah. Berusaha menemukan daun yang mereka pasang semalam di salah satu dahan, yang berada paling dekat dengan batang pohon itu. Dan saling melempar pandang takjub, ketika menemukan daun tersebut masih melambai pelan di dahannya.

Baik Neela maupun Dai tak bisa memercayainya.

Well,” Dai menggumam, “sepertinya kita jodoh, Neela.”

Neela mendengus tersenyum. Berpikir kalau itu adalah salah satu lelucon Dai yang biasa. Tapi Dai, sejak apa yang terjadi semalam, pastinya serius dengan apa yang diucapkannya. Dan ketika Neela masih menatap daun tersebut dengan penuh arti, Dai malah sibuk memandanginya. Menjelajahi wajah dan bibirnya yang sempat disentuhnya dengan penuh emosi saat Neela sedang dalam keadaan yang tak sepenuhnya sadar kemarin malam.

Katakan saja. Suara di kepalanya terdengar begitu nyaring. Meskipun dia mencintai orang lain, tapi orang itu tak akan bisa memberikannya kebahagiaan bukan? Jadi… katakan kalau kau suka padanya.

Tidak segampang itu, balas Dai. Entah kenapa merasa tersiksa setelahnya.

“Itu… hanya mitos, kan?” Neela memalingkan wajah. Menatap Dai yang masih termenung menatapnya. Mata coklatnya berbinar cerah, dan senyumnya terlihat begitu menyenangkan. “Tidak sungguhan?”
“Menurutmu?” Dai menyunggingkan senyum simpul.

Neela menyipitkan mata, begitu pun Dai. Tapi kemudian mereka mendengus tertawa.

It’s a myth…” komentar Neela.
“Menurutku bukan,” sanggah Dai.
“Semalam kau bilang itu mitos…”
“Sekarang… menurutku itu benar,” sahut Dai. “Daun itu masih bertahan kan? Butuh perjuangan hebat baginya untuk tetap tinggal di sana.”
Neela menggeleng, mendengus. “Terserah kau saja,” katanya, menyerah. “Sekarang ayo…, kembalikan aku ke hotel.”
“Oke…” angguk Dai. “Tapi aku ambil daun itu dulu.”

Neela tak menyangka kalau Dai serius dengan ucapannya. Dia, dengan secepat kilat, mendekati Pohon Cinta dan memanjatnya sedikit, untuk menggapai daun kering miliknya dan Neela yang tampaknya sudah sedikit lagi diterbangkan angin yang mendadak berembus kencang ke arah mereka. Saat dia kembali, dia berkata, “Kenapa?” pada Neela yang menganga, seraya mengedikkan bahunya. Berlalu santai, setelah sebelumnya memasukkan daun kering itu ke dalam saku mantelnya.

Neela menggeleng takjub, kemudian menggerakkan kaki menyusul Dai dengan setengah berlari.

Saat akhirnya, mereka telah berada di atas motor besar Dai lagi, Neela bertanya pada Dai dengan penuh minat. “Kenapa kau mengambil daun itu?”
“Hanya itu yang bisa kusimpan sebagai kenang-kenangan kan?” jawab Dai, sambil memakai helm.

Neela, tidak bisa berkata-kata mendengarnya. Tersenyum lemah, dan menatap leher belakang Dai dengan tatapan sayu. Namun, ekspresi terenyuh itu seketika berganti dengan tatapan sewot, begitu Dai melanjutkan kalimatnya dengan, “Setidaknya itu yang tersisa dari malam pertama kita,” dan tergelak setelahnya.

“Sori, Neela,” kata Dai, saat motor yang dikendarainya mulai melaju meninggalkan areal parkir Tokyo Dome. “Kau jadi bermalam bersamaku.
“Aku yang seharusnya minta maaf, Dai,” timpal Neela buru-buru, jadi merasa tak enak hati. “Aku senang…, tapi harus menyusahkanmu.”
“Sepertinya kita terlalu banyak basa-basi.”
“Aku pikir juga begitu.”

Keduanya terbahak. Terkikik di atas motor yang sekarang telah melintasi jalan raya yang masih sedikit sepi. Orang-orang pastinya masih berada di dalam rumah masing-masing untuk menyiapkan perayaan Natal bersama keluarga, atau bersiap-siap ke Gereja atau ke Kuil.

“Eiji berjanji akan mengajakku ke Kuil hari ini,” keluh Neela, teringat janji Eiji kemarin. “Mudah-mudahan dia belum tahu aku tidak berada di kamarku.”
“Dia pasti sudah tahu,” sahut Dai, agak keras. “Dia tidak mungkin tidak tahu.”
“Bagaimana kau bisa yakin begitu?”
I have people.”
Mata Neela bergerak memutar ke atas. “Sepertinya aku pernah dengar kalimat itu di suatu tempat,” katanya, menyindir.

Dai terkekeh sejenak, kemudian diam seribu bahasa. Berkonsentrasi mengendarai motornya yang semakin lama melaju semakin kencang.

Neela mengeratkan kedua tangannya di sekeliling pinggang Dai, dan menyembunyikan wajahnya di balik punggungnya untuk menghidari embusan angin yang mengempas dari arah berlawanan. Dia pasrah pada laki-laki tampan di depannya. Tak khawatir lagi, kemana dia akan membawanya. Keraguan yang sempat terbersit di benaknya, tak lagi muncul. Dia percaya kalau Dai, bagaimana pun sikapnya atau cara bicaranya pada orang lain, adalah orang yang baik. Tak ada keraguan lagi di hatinya. Tak perlu lagi berpikiran buruk terhadapnya, Neela meyakinkan dirinya.

Mendadak, sesuatu terjadi. Dan entah bagaimana, dunia terbalik seratus delapan puluh derajat. Dan Neela, merasakan tubuhnya melayang di udara melawan gravitasi. Dan ketika akhirnya semua kembali normal, nyeri yang hebat mendera kepalanya.

Rasa dingin menyelubungi sekujur badannya yang terasa kaku. Dan matanya mengedip lemah, menatap nyalang langit yang mulai membuka. Memberikan ruang untuk sinar matahari yang mulai mengintip dari celahnya.
Neela menutup mata, dan seketika, apa yang pernah dipikirkan dan dirasakannya raib. Menguap begitu saja. Dan semua bebannya, tak lagi ada.

Tapi kemudian, suara itu memanggilnya. Suara orang yang selama ini sangat dirindukannya. Menyebut namanya dengan nada lembut menenangkan, membuatnya kembali membuka mata.

Hei, Neela, kata Shinji, tersenyum manis.
Hei, Shin, balas Neela, juga tersenyum.

(Bersambung)

12 comments:

Rusyda Fauzana March 31, 2012 at 8:31 PM  

Aku deg-degan membaca awal chapter ini. Tapi syukurlah, Dai nggak macam-macam. He knows what love is. Cinta itu melindungi bukan menyakiti. Wow, u got that point in this chapter Mba Lita :)

Aku suka cara Mba Lita membuat monolog suara hati Dai dan Neela. Bikin tambah romantis dan sentimental. Ini hanya pembaca saja yang tahu. Sedangkan mereka berdua enggan mengungkapkannya padahal sama2 nyaman dan tertarik (jadi gemesss...)
Kalau aku bisa aku akan mengatakan pada Neela kalau Dai mencintainya.

Rona Nauli March 31, 2012 at 11:05 PM  

Lita, kok berita update-an ga keliatan di blog roll ya? untunglah tadi sempet online di fb, jadi tau ada update baru :D

-------------- April 1, 2012 at 12:21 AM  

i hate a few part in the end of story
i do really hate it ..

sarie April 1, 2012 at 8:43 AM  

sepertinya Nela lebih seru bersama Dai. lebih banyak tantangannya .... ^_^

Feby Oktarista Andriawan April 1, 2012 at 5:52 PM  

Huaaa,, udah lama bgt gak kesini, udah ngapain aja tuh smalem Dai sama Neela. Akhirnya Shinji muncul lagi sebagai bayang2.. :D

Lita April 1, 2012 at 8:48 PM  

@Rusyda: Actually... versi awal chap 19 ini, agak akan membuat semua yang baca menganga, tapi... setelah dibaca ulang... aku pikir it's better for Dai to be a real gentleman daripada laki2 yang manfaatin kesempatan Rus. He's a good man anyway, I dont want put him at a worst situation... I love him and Kenneth so much..
Thanks Rus.

@Rona: Mbak. Aku gak tahu kenapa bisa begitu, tapi... tahu dirimu masih ngikutin cerbungku..., aku hepi banget. Tq ya. Mudah2an di blog roll mu udah nongol ya...

@Gita: Aku juga... but... it will lead to another lovely chapters. sabar ya Git. *cubittttt*

@Sarie: Masa sih, Rie...? *nyengir*

@Feby: Kamu masih ngefans toh sama Shinji? Seneng deh. Shinji punya penggemar setia... Tq, Dek.

-------------- April 1, 2012 at 9:47 PM  

it makes me remember about something mbak ..

Gloria Putri April 1, 2012 at 10:36 PM  

akhirna knp mba? mreka kcelakaan tuh?

feby prinadewi,  April 2, 2012 at 10:03 AM  

Hahaha..g'bsa diduga neh mba lita..aq pikir dai bkalan jd jahat..ternyata eh ternyata..tmbah cinta deh ma dai,hehehe..^_^

Lita April 2, 2012 at 8:09 PM  

@Gita: Hadeeeeehhh. Kenapa lagi, Git??? Masih galau ya, Non? Sabar ya... Tarik napas, embuskan... Pis ya, Git...

@Glo: Ayoooo, tebak sendiri....

@Feby: Aduhhh, perempuan2 ini... semua seneng sama dai... *geleng2*

Uzay ^,^ April 4, 2012 at 5:19 PM  

yah rada sedikit gantung ya??

Lita April 4, 2012 at 7:57 PM  

@Uzay: Biar penasaran Zay... *nyengir*

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP