A Lot Like Love (18)

>> Sunday, March 25, 2012


Belongs To Me

DAI meletakkan Neela di atas kasur tempat tidur kamar hotel yang disewanya. Gadis itu menutup matanya, namun tidak tidur. Dia mabuk—agak mabuk, menurut Dai, sehingga matanya terlalu berat untuk dibuka. Saat seluruh badannya telah berada sepenuhnya di atas kasur, dia bergeser, memiringkan kepalanya ke sebelah kiri. Sudut bibirnya melengkungkan senyum samar. Cantik.

Tapi Neela memang selalu kelihatan cantik, kapan pun Dai melihatnya. Meskipun dia hampir tak menggunakan make up. Meskipun penampilannya selalu sederhana; tak pernah berlebihan. Apa adanya. Berbeda, dengan banyak perempuan yang dikenal Dai. Padahal, dengan posisi Neela yang adalah selebriti; pemusik berbakat, dia bisa saja berpenampilan semewah apa pun. Dunia bisa berada di bawah kakinya kalau dia mau. Tapi sepertinya, Neela bukan orang seperti itu. Dia jelas bukan orang seperti itu.

Satu per satu, Dai melepas boot yang masih terpasang di kaki Neela, Dengan hati-hati, melepas jaketnya, syal, juga sweater tebalnya, dan meletakkannya di atas sofa kecil di samping tempat tidur. Setelah itu, dia menarik selimut, dan menyelubungi tubuh Neela dengan rapat. Kemudian, setelah yakin Neela dalam posisi ‘aman’, Dai menegakkan badannya pelan-pelan, hendak beranjak ke sofa yang ada di dalam kamar. Namun, saat dia baru saja berpaling, suara Neela terdengar—“Kau mau kemana?”, membuatnya berbalik.
“Kau akan meninggalkanku lagi?” Neela bertanya lagi. Ekspresinya kelihatan cemas. Matanya mengedip lemah.
Dahi Dai berkerut. Dia kembali duduk di tepi kasur. “Tidak,” jawabnya. “Aku tidak akan meninggalkanmu.” Tangan Dai menyentuh rambut Neela. “Aku hanya akan tidur di sofa.”
“Tolong jangan,” pinta Neela, memelas. “Jangan tinggalkan aku lagi.”
Mata Dai melebar, ketika sebutir air mata meluncur ke pipi Neela. “Hei… Aku tidak akan meninggalkanmu,” katanya menegaskan, mengusap air mata tersebut.
“Kau harus mengerti… kalau… aku sangat mencintai Shinji.”—(Dai berjengit)—“tapi itu karena… karena dialah yang membuatku seperti sekarang ini. Merubah diriku yang jelek—”
“Kau cantik,” tukas Dai. “Tidak jelek sama sekali.”
“Jangan… bohong,” Mata Neela mengejap-ngejap, kelihatan sulit untuk membuka. “Kau tahu bagaimana aku dulu.”
“Neela… Aku…”
“Aku jelek, miskin, tak punya apa-apa…” Neela kembali membulatkan matanya pada Dai. “Lalu, Shinji datang… dan dia… memberikan segalanya untukku. Merubahku… menjadi seperti sekarang. Cantik…, terkenal…, dan… tidak lagi memikirkan uang. Dan dia melakukan itu… karena dia sakit keras… Dia memilihku… karena dia ingin berbuat baik, sebelum dia mati… Dan dia mati… akhirnya, karena sakitnya. Jadi… seharusnya kau mengerti… kenapa aku sangat mencintainya.”

Mulut Dai membuka menutup mendengar kata-kata Neela. Cerita ini, tak pernah dia dengar sebelumnya. Dia tidak tahu Shinji sakit. Dia hanya tahu, Shinji mati, karena kepalanya terbentur benda keras yang dipukulkan Kyouta kepadanya.                       

“Shinji sakit?” Dai bertanya, untuk menegaskan kembali.
Neela mengangkat wajahnya sedikit “untuk memandang Dai. “Ya,” angguknya. “dan semua orang…, bahkan Eiji, menyembunyikannya dariku. Juga kau…” Tangis Neela pecah. Dia merampas kerah jaket Dai, dan mencengkeramnya erat. Tapi kemudian, cengkeramannya melonggar, dan tangannya bergerak naik ke wajahnya. “Kau menyakitiku… Oh… Kau tampan sekali.” Kalimat Neela berganti haluan. Jemarinya, menelusuri pipi Dai, dan bibirnya yang sedikit membuka. “Aku tersiksa melihat wajahmu. Aku ingin sekali menyentuhmu…, memelukmu…, tapi kau terasa begitu jauh.”
Dai menangkap tangan Neela, dan menekannya ke pipinya. Menatap matanya lekat-lekat. “Kau bebas menyentuhku.”
Neela tersenyum lemah. Masih terlihat menerawang, kala menatapnya. “Aku ingin kau menciumku lagi. Aku rindu padamu.”

Satu hal yang Dai sangat pasti, adalah Neela ternyata memendam perasaan terhadapnya. Dia mabuk, dan dia berkata menggunakan alam bawah sadarnya yang biasanya terkubur begitu jauh di dalam ribuan ingatan yang melapisinya. Dan meskipun Dai ragu, kalau dia juga merasakan hal yang sama dengan Neela, setidaknya dia tahu, kalau ada seorang perempuan mengharapkannya. Perempuan baik, yang menyukainya tanpa memandang status atau apa yang dimilikinya. Jadi…, dia akan menciumnya. Dan dia akan menumbuhkan perasaan yang seimbang dengan perempuan itu. Untuk pertama kali…, dalam hidupnya.

Saat bibir Dai menyentuh bibir Neela pertama kali, ada sesuatu yang hangat mengalir ke seluruh tubuhnya. Naik, dan berkumpul tepat di pusat otaknya, lalu meletupkan kesejukan yang dihantarkan oleh setiap sel darahnya ke seluruh penjuru. Dan saat akhirnya dia menciumnya, kepalanya mulai berputar; pusing karena hasrat dan ketegangan yang begitu besar. Perutnya serasa anjlok, dan seluruh badannya gemetar, persis seperti ciuman pertamanya, yang sepertinya sudah berabad-abad lalu. Dan ketika dia menarik wajahnya menjauh, wajah cantik di depannya menyunggingkan senyum yang amat menenangkan, yang membuatnya semakin ingin menyentuhnya. Dan dia pun… menyentuhnya. Menyentuh Neela sengan tangannya; jari-jarinya, mengusap rambut Neela yang terjurai di atas bantal yang menopang kepalanya dengan amat perlahan dan penuh kasih sayang. Menelusur tiap inci kulit wajahnya yang halus sambil menatap mata coklatnya yang menatapnya sayu. Mengecup hidungnya, pipinya dan akhirnya, membenamkan kembali bibirnya ke bibirnya yang sedikit membuka. Demi Tuhan… saat ini, Dai merasa kalau dirinya sedang berada di Surga. Dan Surga itu, adalah miliknya sepenuhnya, tak mau dia bagi dengan yang lain.

Dai melepas jaket kulitnya, menarik lepas sweaternya, kemudian, menggamit tangan Neela dan membawanya ke dadanya. “Rasakan jantungku… Berdetak untukmu.” Dia bahkan tak sadar mengatakan kata-kata seperti itu. Sepertinya saja ada yang merasukinya. Dia… bukan dia yang biasanya.

Selama sepersekian detik Neela membiarkan tangannya menempel di dada kiri Dai. Menatap mata Dai dengan sorot yang lembut, dan tersenyum… Senyum yang mengungkapkan kelegaan. Lalu, mendadak dia mengangkat punggungnya sedikit. Melingkarkan tangannya di sekeliling lehernya, dan berkata, “Aku merindukanmu… Sangat merindukanmu… Teganya kau meninggalkanku…”
I’m here…” Dai balas memeluknya. Mengusap rambut Neela untuk menenangkannya. “Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”
“Aku sangat mencintaimu… Aku jatuh cinta padamu. Dan aku tak tahu kapan.”
Dai membeliak. Dia mencintaiku? Benarkah? Sejak kapan? “Neela…”
“Aku sangat mencintaimu… Aku mencintaimu, Kenneth.”

Kenneth? Mata Dai seketika melebar. Rasa panas itu kembali dan sekarang serasa membakar otaknya. Napasnya tak beraturan, terengah-engah seolah habis berlari jauh. Tangannya bergetar, Kepalanya bergetar, seluruh badannya bergetar, dan dia menarik tubuhnya dengan gusar, memandang Neela dengan tajam.

“Aku…” Neela menyentuh wajah Dai lagi, “Aku begitu bodoh, karena menyakitimu. Aku… minta maaf. Kau begitu sayang padaku…, dan aku menyakitimu.” Neela benar-benar mabuk, dan berhalusinasi kalau Kennethlah yang sekarang berada di depan matanya, bukan Dai.
“Aku sayang padamu, Ken,” Neela berkata lemah, sambil mengusap pipi Dai. “Aku sangat kehilangan dirimu. Aku kangen sekali.”
Dia kemudian terisak, dan wajahnya menunjukkan kesedihan yang amat dalam. Terus-menerus mengatakan ‘maafkan aku’ dengan penuh rasa bersalah.

Apa pun yang terjadi antara Neela dan Kenneth, tentunya bukan urusan Dai, namun, dia tak habis pikir kalau Neela mencintai Kenneth. Manajernya yang homoseksual itu. Bagaimana mungkin dia bisa merebut hati Neela? Dan akhirnya, membuat dia—Dai, terkecoh, menganggap semua pengakuan cinta Neela barusan ditujukan padanya. Membuatnya merasa seperti orang bodoh. Tapi, for God sake, apa yang Neela lihat dari laki-laki seperti Kenneth?

Dengan tampang meringis seolah kesakitan Dai memandangi Neela yang masih terbaring di atas kasur, mengerut-ngerutkan wajahnya, dan kelihatan ingin menangis lagi.

Dai mengepalkan tangannya. Menahan kekesalan yang meluap-luap di dalam tubuhnya. Egonya sebagai laki-laki, terlebih lagi sebagai seseorang yang menduduki posisi tertinggi di organisasinya, membuatnya naik pitam begitu cepat dan tak bisa menguasai diri. Dan dia merasa…, sangat dibodohi. Diremehkan, dan diinjak-injak harga dirinya.

Ini kali pertama dia merasa begini: dicampakkan oleh perempuan. Tidak ada satu perempuan pun yang pernah membuatnya merasa seperti ini sebelumnya; membuatnya seolah terpuruk, mencium tanah. Tak ada satu pun perempuan…, seharusnya, yang bisa membuatnya merasakan itu semua. Bahkan Neela. Sebesar apa pun dia menyukainya.

“Kenapa kau harus menyakitiku, ketika aku tidak ingin lagi menyakitimu…?” Dai mengusap rambut Neela, dan memandanginya lekat-lekat, sementara Neela menerawang ke arah langit-langit kamar. “Aku telahmengurungkan niatku untuk membalaskan dendamku pada Eiji melaluimu, asal kau tahu.”
“Dai…” Mendadak Neela menyebut nama Dai. Tersenyum, sambil mengangkat tangannya. “Selamat Natal…”
“Sekarang kau menyebut namaku…”  Dai mendengus sinis. “Tidak cukup menyebut namaku saja, Neela.”
“Hmm…” Neela mengeluarkan desah pelan sebagai  respon atas kata-kata Dai, kemudian, memejamkan matanya. “Aku ngantuk.”

Dai mengembuskan napas. Terdiam sejenak, dengan dahi yang berkerut kuat, baru setelah itu membuka matanya. Lalu, dengan perlahan dia mendekatkan wajahnya ke wajah Neela, menekankan bibirnya kembali ke bibir Neela, dengan tangan mencengkeram wajahnya erat. Saat Neela membuka mata, dan berusaha mendorongnya menjauh, Dai sudah tak peduli lagi. Tetap memaksakan ciuman padanya. Melumat bibir Neela, hanya dengan satu helaan napas.

Neela memekik tertahan, berusaha keras melepaskan diri. Namun, Dai tentu saja terlalu kuat untuk disingkirkan begitu saja. Dia terlalu jangkung, terlalu besar, dan terlalu bertenaga dibandingkan Neela, apalagi saat ini, Neela benar-benar hilang konsentrasi akan dirinya akibat pengaruh Sake yang diminumnya, sehingga memudahkan Dai untuk menaklukkannya. Bibir Neela, tetap tak bisa menutup, karena bagaimana pun Dai akan tetap menjaganya untuk tidak menutup. Tangan Neela, tetap tak bisa mencegah tangan Dai untuk menjelajahi tiap inci tubuhnya, seberapa pun atau bagaimana pun besar upayanya untuk mempertahankan diri.

“Kau milikku, Neela,” gumam Dai, sambil mengusap pipi Neela yang basah oleh air mata. “Hanya milikku.”

Dan tepat saat itu, di tempat lain yang berada berkilo-kilo meter jauhnya, laki-laki bernama Kenneth, terjaga dari mimpi buruk yang menderanya.

“Kita sudah sampai.” Marin yang duduk di sebelah Kenneth di dalam mobil yang menjemput keduanya dari Bandara Narita, memberitahunya. “Aku membangunkanmu karena itu,” katanya lagi. Cemberut. Karena Kenneth hampir saja memukulnya karena terbangun mendadak dari tidur singkatnya.

Kenneth sama sekali tak menanggapi kalimat Marin. Dia sibuk menenangkan diri. Membenamkan wajahnya di kedua tangannya yang membuka. Berusaha keras memudarkan sisa-sisa mimpi yang tadi singgah dalam lelapnya.

Wajah Neela. Rambutnya yang melambai tertiup angin. Senyumnya, suaranya yang memanggil namanya… Semua itu hadir dalam mimpi Kenneth. Tapi kemudian semua itu berubah menjadi amat mengerikan ketika mendadak, Neela berdiri di tepi jurang, dan menjatuhkan diri. Kenneth berusaha menangkapnya, namun keburu terbangun oleh sentakan Marin. Melenyapkan mimpi itu. Walaupun tak sepenuhnya.

“Kita mau turun apa tidak?” tanya Marin, memandang Kenneth dengan cemas. “Maaf…”
Kenneth menarik wajahnya, diam sejenak untuk mengendalikan napasnya, baru kemudian menolehkan wajahnya pada Marin. “Please, Marin…” dia menghela napas sejenak, “bisakah kau bersikap sedikit lebih dewasa, mengingat kau selalu berkata kau bukan ABG lagi padaku?”
“Hanya karena satu ciuman, membuat sikapmu jadi begitu tak menyenangkan padaku,” desis Marin. “Kau menganggapku seolah saja aku ini perempuan gampangan.”
Kenneth memalingkan wajahnya gusar. Menatap Marin dengan mata yang sedikit menyipit. “Kau sendiri yang berpikir seperti itu, berarti kau sendiri tahu, apa yang telah kau lakukan itu ‘tolol’!”

Tatapan Marin pada Kenneth menyiratkan kemarahan. Untuk beberapa saat dia melotot padanya, dan mengedutkan ujung-ujung bibirnya. Baru setelah itu dia mendengus kesal, membuang muka, dan turun dari mobil melalui pintu yang sebelumnya telah dibuka oleh supir.

Butuh beberapa menit untuk Kenneth keluar dari mobil, dan berhadapan dengan teras lobi hotel Shangri La yang megah dan mewah. Langsung menemukan Eiji, yang telah menunggu di puncak undakan dengan wajah yang—tak biasanya—kelihatan merasa bersalah. Setidaknya Kenneth yang berpikiran begitu. Atau mungkin, Eiji hanya lelah, mengingat jam sudah menunjukkan jam tiga pagi, dan dia seharusnya sedang berbaring di atas kasur empuk tempat tidurnya, bukan menyambutnya seperti sekarang.

“Aku bilang kau tidak usah menunggu,” kata Kenneth, setelah dia melepas rangkulannya dari Eiji.
“Kau temanku, mana mungkin aku tidak menyambutmu. Apalagi kita jarang sekali ketemu,” balas Eiji. Tersenyum.

Kedua laki-laki tampan itu bertatapan penuh senyum selama beberapa detik, sampai akhirnya Eiji, menggerakkan wajahnya sedikit ke arah Marin. “Anda pasti Nona Marin?” kata Eiji, mengangguk sopan. “Selamat datang di Shangri La Hotel, Tokyo.”
Marin mengangguk. “Anda… Manager Hotel ini?”
Eiji baru akan menjawab, namun Kenneth sudah duluan menjawab. “Dia pemilik hotel ini.”
Mulut Marin menganga. “Oh? Yang benar saja? Dan Anda menyambut kami di pagi buta begini?”
“Ada masalah dengan itu?” Kenneth tersenyum.
“Tidak.” Marin menggeleng buru-buru. “Hanya saja… Anda baik sekali. Ayahku… atau kakakku… tidak akan pernah melakukan apa yang seperti Anda lakukan sekarang—bahkan untuk keluarga sendiri. Mereka terlalu…” dia mengedikkan bahunya, “ ‘tinggi’.” Dia menunduk. Wajahnya muram.

Kenneth dan Eiji, saling bertukar pandang bingung.

Well,” Eiji berkata lagi, membuat Marin kembali memandangnya. “Sepertinya kalian capek, dan… kamar kalian sudah disiapkan. Jadi…. Kalian bisa beristirahat.”
“Dimana Neela, Eiji?” tanya Kenneth cepat, sebelum Eiji memalingkan tubuhnya. “Dia sudah tidur?”
Eiji diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Kenneth. Ekspresi wajahnya sekilas terlihat bimbang. “Neela… Dia menginap di tempat adikku, Chiyo,” katanya kemudian, tersenyum kecil. “Mereka merayakan malam Natal.”

Kenneth mengangguk. Mendengus tersenyum, walaupun tetap saja tidak bisa seluruhnya menyembunyikan rona kecewa di wajahnya. Sebelumnya Kenneth berharap Neela masih terjaga, mengingat hari ini adalah hari libur, dan turut menyambut kedatangannya dengan bagaimana pun ekspresi wajahnya saat melihatnya.

Marin mendengus kesal.

So… Shall we?” Eiji bertanya. Meminta persetujuan pada Kennneth dan Marin untuk bersedia mengikutinya. Keduanya mengangguk, dan melangkahkan kaki mengikuti Eiji. Berjalan menyeberangi teras, dan masuk ke dalam lobi hotel.

(Bersambung)
...
gambar dari sini
"You think I will stand watching and doing nothing, Dai? You're wrong. I'll make her back. No matter what. I'm not afraid of you. Even if you have to kill me. I swear... I'll get her back."

12 comments:

-------------- March 25, 2012 at 6:49 PM  

sini dai, unyu2 sama tante >3<
*mendadak bitchi*

Rusyda Fauzana March 25, 2012 at 8:58 PM  

Ahh....Sungguh! Aku tak mengerti tentang cinta, Mba Lita.

Ada yang tersakiti, terabaikan, tak kesampaian... semua karena cinta.
#hiks...

Mba, kok hobi banget sih bikin cinta bersegi? Aku suka nggak tahan sama orang2 yang tertolak cintanya, tersakiti hatinya (empati untuk Dai di ALLL dan Shinji di Lea, bahkan untuk Marin dan Kenneth yang terkatung-katung nasibnya gara2 cinta yg ga jelas)

Semoga semua menemukan muaranya yang indah yaaa...

Lita March 25, 2012 at 11:27 PM  

@Gita: 'Unyu-unyu'? Apaan tuh, Tante? Wwkwkwkwk...

@Rusyda: Sengaja, Rus. Biar ceritanya gak ketebak. Hihihi... Tapi, memang... awalnya, Shinji seharusnya sama Neela. Tapi, dari awal, cinta Shinji memang untuk Lea. jadi klise aja, kalo mendadak aku jadiin sama Neela. Lagian di dunia nyata semuanya gak berjalan se'smooth' di cerita fiksi. But, this story, A Lot Like Love, bener2 beda. Memang agak nyakitin, but I know, it'll be beautiful in the end. I love Kenneth and Dai very much. Dua2nya laki2 baik, tapi... beda jiwa. Aku jadi spoiler gini deh jadinya... Demi kamu nih, Rus. Keep reading ya, Non. Tq. (^^)

Gloria Putri March 26, 2012 at 7:06 AM  

awwww.....dai buat akyu ajaaaa drpd patah hati gt :D wkwkwkkk

come on darlinggg, come to mee *senyumnakal

yuli she,  March 26, 2012 at 11:08 AM  

Mba Lita,,kayaknya ada tulisan yang salah deh pas bagian Dai ngelepasin sepatu, baju, dll, mungkin harusnya "samping" tapi mbae nulisnya "damping".
Koreksi n piece kalau aku salah yo...

Ceritanya makin seru, tapi aku gak rela Dai patah hati seperti ini,,rasanya ingin balas dendam sama Neela (lho?)

sarie March 26, 2012 at 3:56 PM  

yaaaah Dai, aku suka tapi sayang dia taksabaran ......

Lita March 26, 2012 at 7:46 PM  

@Yuli: Iya yah... heheheh. makasih ya, Koreksinya. Aku ganti deh. Peace ya, Yuli. Btw, ngapain jadi kamu yang mau bales dendam ma Neela?(^-^) wkwkwkwk...

@sarie: Kok jadi 'gak sabaran'...? Tapi, bagus kan, gak sabaran... *opo seh?*

Rusyda Fauzana March 26, 2012 at 10:58 PM  

Wahh...begitu ya. Rahasia dapur Mba Lita jadi terbongkar deh hahaha... You're good in playing readers' emotion. q^_^p


Aku serahkan sama Mba Lita aja deh gimana baiknya. Benar juga ya Mba, kalau dipikir-pikir realitas kehidupan nyata itu lebih keras dibanding imajinasi fiktif. Kick it!

Btw, Tapi kok aku yakin ya Dai tidak akan sanggup menyakiti Neela. He's a good man, he just has big ego. I'm sure he won't cross the line (You can trust me and choose me Dai, if Neela throws u away. haghaghag...)

yuli she,  March 27, 2012 at 11:42 AM  

Hihi,,lha aku juga salah tulis tuh, harusnya "peace" mba,,,hoho

Karena aku sukaaaaaaaa dan sayaaaaang sama Dai,,jadi takan pernah rela jika ada wanita yang menyakiti dia,,,jadi untuk Neela berhati - hatilah kamu *dengan mata menyipit*..haha

dinar March 30, 2012 at 12:08 PM  

kasian Dai....tapi gimana lagi...cintanya Kenneth yang datang duluan c.....entar bikin cerita cintanya Dai sendiri ya mbak....btw ayolah....ceritanya dibukukan....hehehehe.....pengen ngoleksi karyanya mbak lita...SEMANGAT mbak!!!!

outbound training di malang March 30, 2012 at 3:32 PM  

kunjungan ..
salam sukses selalu ..:)

rezKY p-RA-tama March 31, 2012 at 3:38 PM  

wah,,dai ini bukan kepanjangan do as infinity kan mbak? band kesukaan saya,wakakakak
asek,hahahahah
mbaknya lancar bercerita tok,hohoho

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP